Jurnal Sains Farmasi & Klinis
Not a member yet
    364 research outputs found

    Studi Awal Sediaan Gel Ekstrak Etanol Kayu Angin (Usnea Sp) untuk Penyembuhan Luka Bakar

    No full text
    Telah dilakukan studi awal formulasi dari ekstrak etanol kayu angin (Usnea sp) dalam bentuk sediaan gel dan uji efektivitas sediaan gel terhadap penyembuhan luka bakar pada mencit. Sediaan gel dibuat menggunakan hidroksipropil metilselulosa (HPMC) sebagai gelling agent. Gel dibuat dalam dua formula yaitu tanpa mengunakan ekstrak etanol Usnea sp (F1) dan mengunakan ekstrak etanol Usnea sp sebanyak 1% (F2). Evaluasi gel berupa organoleptis, homogenitas, pemeriksaan pH, uji daya sebar dan iritasi kulit. Uji aktivitas luka bakar dilakukan pada tiga kelompok hewan uji dimana masing-masing kelompok terdiri dari lima ekor mencit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak etanol kayu angin dapat dijadikan sebagai gel. Uji organoleptis gel ekstrak etanol kayu angin menunjukkan gel homogen dengan pH 5 - 5,5 dandaya sebar 5,6 – 6 cm2. Uji iritasi pada kulit menunjukkan hasil tidak terjadi iritasi pada kulit. Hasil uji aktivitas penyembuhan luka bakar menunjukkan bahwa kelompok hewan uji yang diberikan sediaan gel yang mengandung ekstrak etanol Usnea sp mampu menyembuhkan luka bakar lebih cepat dibandingkan dengan kelompok hewan uji yang diberikan sediaan gel tanpa ekstrak dan kelompok hewan uji tanpa perlakuan (kontrol). Hasil studi awal ini menunjukkan bahwa ekstak etanol Usnea sp dapat dibuat dalam bentuk gel dan dapat mempercepat proses penyembuhan luka bakar.Â

    Pengaruh Karakteristik Pasien Terhadap Kualitas Hidup Terkait Kesehatan Pada Pasien Kanker Payudara di RSUP Dr.M. Djamil Padang, Indonesia

    No full text
    Kualitas hidup merupakan suatu bagian penting dalam penilaian hasil terapi terutama pada penyakit kronis. Faktor karakteristik individu pada pasien kanker dapat mempengaruhi persepsi kesehatan general dan kualitas hidup keseluruhan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh karakteristik demografis (umur, tingkat pendidikan, lama terdiagnosa, jenis kemoterapi) dan karakteristik klinis (siklus kemoterapi, setting kemoterapi) pasien kanker payudara yang menjalani kemoterapi di RSUP Dr. M. Djamil Padang. Pengukuran dilakukan dengan menggunakan kuesioner EORTC QLQ-C30. Sampel diambil dengan memilih semua pasien kanker payudara di RSUP Dr. M. Djamil Padang yang memenuhi kriteria inklusi selama bulan Maret – Mei 2018. Data yang diperoleh dari pengisian kuwsoner kemudian ditaransformasikan nilainya ke dalam rentang 0-100 menggunakan rumus transformasi linear, kemudian dilakukan analisa statistik menggunakan uji Mann-whitney dan Kruskall-wallis. Dari hasil penelitian didapatkan karakteristik demografi tidak berpengaruh terhadap terhadap nilai kualitas hidup pasien kanker payudara (p>0,05). Sedangkan karakteristik klinis mempunyai pengaruh bermakna terhadap nilai kualitas hidup pasien kanker payudara (p<0,05). Kata kunci: karakteristik pasien;kualitas hidup;kanker payudara;karakteristik demografi;karakteristik klinis;kuesioner EORTC QLQ-C3

    Dispersi Padat Asam Usnat dengan Teknik Freeze Drying menggunakan Poloxamer 188 sebagai Polimer

    No full text
    This study aimed to improve the solution of usnic acid, a poorly soluble drug using solid dispersions (SDs). The SDs were prepared by a freeze-drying technique with poloxamer 188 as a polymer. The physicochemical properties of the SDs were characterized using X-ray diffractometry (XRD) and Fourier transform-infrared (FT-IR) spectroscopy, Scanning Electron Microscopy (SEM),. In addition, drug content, solution test and dissolution profile  was evaluated by using usnic acid (pure drug) and physical mixture as a reference. The results from  XRD and SEM showed that usnic acid was molecularly dispersed in the SDs as an amorphous form. The FT-IR results suggested that intermolecular hydrogen bonding had formed between usnic acid and its carriers. The result of solubility test showed that solubility of solid dispersions 1:1; 1:2; 2:1 (5.80 µg/ml; 6.94 µg/ml ; 4.88 µg/ml) were higher than the physical mixture 1:1 ( 0.39 µg/mL) and pure asam usnat have the lowest solubility (0.34 µg/mL). In conclusion, SDs prepared by a freeze-drying technique used poloxamer as a polymer can be used to enhance solubility of usnic acidTujuan dari penelitian ini adalah untuk meningkatkan kelarutan dari asam usnat yang memiliki kelarutan rendah di dalam air dengan menggunakan metode solid dispersi. Metode solid dispersi yang digunakan adalah teknik freeze drying dengan menggunakan poloxamer 188 sebagai polimer. Karakteristik dispersi padat yang terbentuk dilakukan dengan analisis difraksi sinar-X (XRD), Fourier Transform Infra Red (FTIR), Scanning Electron Microscopy (SEM). Lebih lanjut, penetapan kadar, uji kelarutan dan profil disolusi dilakukan dengan menggunakan asam usnat murni dan campuran fisik sebagai pembanding. Dari hasil XRD dan SEM menunjukkan bahwa asam usnat terdispersi dalam poloxamer dalam bentuk amorf.  Hasil FTIR menunjukkan asam usnat membentuk ikatan hidrogen dengan poloxamer 188. Hasil uji kelarutan menunjukkan kelarutan dispersi padat 1:1; 1:2; 2:1 (5,80 µg/ml; 6,94 µg/ml; 4,88 µg/ml) lebih tinggi dibandingkan campuran fisik 1:1 (0,39 µg/ml) dan asam usnat murni memiliki kelarutan yang paling rendah (0,34 µg/ml). Kesimpulannya dispersi padat dengan menggunakan poloxamer 188 dengan menggunakan teknik freeze drying dapat meningkatkan kelarutan dari asam usnat

    Optimasi Formula Submikro Partikel Poly (Lactic-co-Glycolic Acid) Pembawa Betametason Valerat dengan Variasi Konsentrasi Poly (Vinyl Alcohol) dan Waktu Sonikasi

    No full text
    Preparation of betamethasone valerate (BMV) into submicro particle aims to resolve the solubility problem (Biopharmaceutics Classification System II) and to increase penetration through the skin. The method of emulsion solvent evaporation is used in preparing BMV encapsulated by PLGA (Poly (Lactic-co-Glycolic Acid) as polymer and PVA Poly (Vinyl Alcohol) as stabilizer. The proportion of optimum formula components obtained were 50 mg PVA and 10 minutes sonication time with the response values which resulted %EE of 73.000%, pH of 4.800, and %weight of BMV on stability test of 62.057%.The resulting diameter, PDI (poly dispersity ndex), and zeta potential analysis of the optimum formula were 342.700 nm, 0.104, and -12.200 mV respectively. Result from the particle morphology using Transmission Electron Microscopy showed spheric shape particle. The diffusion test showed the highest diffusion percent value on submicro particles of PLGA-BMV (23.067% ± 0.055) compared with pure BMV (18.007% ± 0.002) and comercial BMV cream (19.506%± 0,071). Analysis of the dissolution rate showed that submicro particles of PLGA-BMV (84.211% ± 1.943) increased the amount of drug released compared to pure BMV (10.912% ± 0.246). The release rate and mechanism of PLGA-BMV followed zero order.Preparasi betametason valerat (BMV) ke dalam submikro partikel bertujuan untuk mengatasi permasalahan kelarutan (Biopharmaceutics Classification System II) dan meningkatkan kemampuan penetrasi pada kulit. Metode emulsion solvent evaporation digunakan dalam mempreparasi BMV yang terenkapsulasi oleh polimer PLGA (Poly Lactic-co-Glycolic Acid) dan stabilizer PVA (Poly Vynil Alcohol). Proporsi komponen formula optimum yang didapatkan yaitu konsentrasi PVA 50 mg dan waktu sonikasi 10 menit dengan nilai respon %EE 73,000%, pH 4,800, dan %kadar BMV pada uji stabilitas 62,057%. Hasil analisis diameter, PDI (Poly Dispersity Index), dan zeta potensial formula optimum yang dihasilkan masing-masing sebesar 342,700 nm, 0,104, dan -12,200 mV. Penentuan morfologi partikel menggunakan alat Transmission Electron Microscopy menunjukkan bentuk hampir sferis. Pengujian penetrasi partikel dilakukan melalui uji difusi secara in vitro, menggunakan alat Franz Diffusion Cell. Hasil uji difusi menunjukkan nilai persen terdifusi tertinggi pada submikro partikel PLGA-BMV (23,067% ± 0,055) dibandingkan dengan zat aktif murni (18,007% ± 0,002), dan sediaan BMV yang berada di pasaran (19,506 ± 0,071). Analisis laju disolusi menunjukkan submikro partikel PLGA-BMV (84,211% ± 1,943) meningkatkan proses pelepasan obat dibandingkan BMV murni (10,912% ± 0,246). Laju pelepasan dan mekanisme pelepasan PLGA-BMV mengikut orde nol.Â

    Karakterisasi dan Studi Aktivitas Antioksidan dari Ekstrak Etanol Secang (Caesalpinia sappan L.)

    No full text
    Sappan wood (Caesalpinia sappan L.) is traditionally used to treat various diseases. Sappan wood contains phenolic compounds such as gallic acid, brazilin and brazilein. The purposes of this study were to characterize the Sappan wood simplecia and ethanol extract, evaluate the total phenolic content and determine the antioxidant activity of Sappan wood ethanol extract. Characterization of Sappan wood simplicia obtained by loss of drying equal to 10.349 %, water soluble compounds was 3.293 %, ethanol soluble compounds was  6.026 %, total ash content was 0.6509% and ash content insoluble in acid was 0.480 %. Characterization of Sappan wood ethanol extract obtained total ash content was 1.26 %, ash content insoluble in acid was 0.059 % and water content yielded 8.63 %. The total phenolic content of Sappan wood ethanol extract was 71.144 g / 100g.  The higher of the total phenolic content, the higher the antioxidant activity. The antioxidant activity of ethanol extract of wood secang was determined by FRAP (Ferric Reducing Antioxidant Power) method and the result was 13.99 mmol Fe (II) / 100g.Secang (Caesalpinia sappan L.) secara tradisional digunakan untuk mengobati berbagai penyakit. Secang mengandung senyawa fenolik seperti asam gallat, brazilin dan brazilein. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengkarakterisasi simplisia dan ekstrak etanol secang, mengevaluasi kandungan fenolik total dan menentukan aktivitas antioksidan ekstrak etanol secang. Karakterisasi simplisia secang diperoleh susut pengeringan sebesar 10,349 %, kadar sari larut air sebesar 3,293 %, kadar sari larut etanol sebesar 6,026 %, kadar abu total sebesar 0,6509 % dan kadar abu tidak larut asam simplisia adalah sebesar 0,480 %. Karakterisasi ekstrak etanol secang diperoleh kadar abu total sebesar 1,26 %, kadar abu tidak larut asam ekstrak sebesar 0,059 %, kadar air ekstrak didapatkan hasil 8,63 %. Kadar fenolik total ekstrak etanol secang adalah 71,144 g/100g. Semakin tinggi kadar fenolik total, maka semakin tinggi pula aktivitas antioksidannya. Aktivitas antioksidan ekstrak etanol secang ditentukan dengan metode FRAP (Ferric Reducing Antioxidant Power) dan hasilnya adalah 13,99 mmol Fe(II)/100g

    Formulasi Liposom Ekstrak Terpurifikasi Centella asiatica Menggunakan Fosfatidilkolin dan Kolesterol

    No full text
    Penelitian mengenai pembuatan liposom ekstrak terpurifikasi Centella asiatica menggunakan fosfatidilkolin dan kolesterol telah dilakukan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui komposisi atau perbandingan yang ideal antara ekstrak terpurifikasi Centella asiatica dengan fosfatidilkolin dan pengaruh penambahan kolesterol terhadap liposom yang dihasilkan. Metoda pembuatan liposom yang digunakan adalah hidrasi lapis tipis. Rasio ekstrak dengan fosfatidilkolin dibuat tiga variasi formula: F1 (1:40 b/b), F2 (1:60 b/b), F3 (1:100 b/b). Lapis tipis lipid F2 paling mudah dihidrasi. Hasil hidrasi ketiga formula menunjukkan suspensi liposom yang bewarna putih susu. Kemudian dibuat tiga formula dengan penambahan kolesterol yaitu FK1 (1:30:30 b/b), FK2 (1:20:40 b/b), FK3 (1:10:50 b/b). Hasil pengamatan suspensi liposom menggunakan SEM (scanning electron microscope) menunjukkan morfologi vesikel berbentuk sferis. Lapis tipis lipid FK1 mudah dihidrasi dan tidak menggumpal. FK1 memiliki daya penjerapan terbesar. Vesikel liposom yang mengandung kolesterol tidak mengalami perubahan warna setelah disimpan selama 6 bulan, sedangkan yang tidak mengandung kolesterol, warnanya menjadi kekuningan

    Hubungan Depresi Terhadap Tingkat Kepatuhan dan Kualitas Hidup Pasien Sindrom Dispepsia di RSUP Dr. M. Djamil Padang

    No full text
    The objective of this study was to examine the correlation of depression, adherence, and quality of life in dyspepsia patient. Cross-sectional data were collected from 61 outpatient with dyspepsia at a special clinic in M. Djamil Hospital Padang. Patients were interviewed based on BDI II (Back Depression Inventory II) to assess depression, Morisky scale to assess adherence. Patient with BDI scores more than 12 was consulted to a special clinic of psychosomatic to diagnose for depression. Correlation between depression, adherence, and quality of life was analyzed with Spearman correlation. Coefficient correlation of depression and adherence was 0.272, while the correlation between depression and quality of life was 0.655. This finding demonstrates that there is a high correlation between depression and quality of life, while there is a low correlation between depression and adherence. Keywords: Depression, adherence, quality of life, dyspepsia.Tujuan penelitian ini adalah untuk melihat hubungan depresi terhadap kepatuhan dan kualitas hidup. Metode penelitian yang digunakan adalah cross sectional yang dilakukan terhadap 61 pasien sindrom dispepsia yang berobat jalan di poliklinik khusus penyakit dalam di RSUP DR. M. Djamil Padang pada Januari - Maret tahun 2015. Pasien diwawancarai dengan menggunakan kuisioner BDI II (untuk menilai depresi), kuisioner skala morisky (untuk menilai kepatuhan) dan kuisioner SF-36 (untuk menilai kualitas hidup). Pasien dengan nilai skor BDI II lebih dari 13 di konsultasikan ke poliklinik khusus psikosomatik untuk menegakkan diagnosa depresi. Hubungan antara depresi dengan kepatuhan dan kualitas hidup dianalisa dengan menggunakan SPSS 22 dengan uji korelasi bivariat spearman. Persentase depresi pada pasien sindrom dispepsia adalah 67.2%. Koefisien korelasi untuk depresi dan kepatuhan adalah 0.272, depresi dan kualitas hidup 0.655. Penelitian ini menunjukkan ada korelasi yang tinggi antara depresi dengan kualitas hidup, dan korelasi yang rendah antara depresi dengan kepatuhan

    Pembentukan Sistem Dispersi Padat Amorf Azitromisin Dihidrat dengan Hikroksipropil Metilselulosa (HPMC)

    No full text
    The aim of present study is to develop solid dispersion system of azithromycin dihydrate with hydroxypropyl methylcellulose E5 LV (HPMC) for improving the dissolution rate of azithromycin dihydrate. Amorphous solid dispersions were prepared by solvent method at 1:1; 1:2 and 2:1 (w/w) drug to polymer ratios. Solid state properties of amorphous solid dispersion were evaluated by X-ray powder diffraction (XRPD), scanning electron microscopy and spectroscopy FT-IR. Furthermore, the dissolution rate profile was investigated by type II USP dissolution apparatus. Based on X-ray powder diffractometry analysis, azithromycin dihydrate was transformed partially from the crystalline phase to the amorphous state as confirmed by significant reduction of the crystalline peaks intensity. FT-IR spectroscopy analysis revealed the absence of chemical interaction between azithromycin dihydrate and HPMC. The dissolution rate of azithromycin dihydrate from amorphous solid dispersion was substantially higher than azithromycin dihydrate intact and its physical mixture. The dissolution rate of azithromycin dihydrate increased with an increasing drug to polymer ratio.Tujuan penelitian ini untuk mengembangkan sistem dispersi padat azitromisin dihidrat dengan pembawa hidroksipropil metilselulosa E5 LV agar laju disolusi azitromisin dihidrat meningkat. Dispersi padat amorf dibuat dengan metode pelarutan pada perbandingan obat : polimer 1:1; 1:2 and 2:1. Sifat padatan dispersi padat amorf dievaluasi dengan analisa difraksi sinar-X, mikroskopik SEM dan spekroskopi FT-IR. Lebih lanjut, profil laju disolusi dilakukan dengan alat uji disolusi tipe II USP. Menurut analisa difraksi sinar-X, azitromisin dihidrat mengalami transformasi sebagian dari fase kristalin ke fase amorf, yang diindikasikan dengan penururan secara signifikan puncak-puncak difraksi pada difraktogram. Analisis spektroskopi FT-IR membuktikan tidak terjadi interaksi secara kimiawi antara obat dan pembawa. Laju disolusi azitromisin dihidrat dari sistem dispersi padat amorf lebih tinggi dibandingkan azitromisin dihidrat murni dan campuran fisika. Laju disolusi azitromisin dihidrat meningkat dengan peningkatan rasio obat : polimer.Â

    Formulasi dan Karakterisasi SNE (Self Nanoemulsion) Astaxanthin dari Haematococcus pluvialis sebagai Super Antioksidan Alami

    No full text
    Astaxanthin is a group of fat-soluble xanthophyll carotenoid found in many microorganisms and marine animals. The problem that exists in its use as active compound of antioxidants is due to lipophilicity and poor stability in the gastrointestinal tract thereby making low bioavailability. In this research offers the nanotechnology to develop astaxanthin nanoemulsion which is intended to improve the stability in the dosage form and also further developing new delivery paths in the use of antioxidants through transdermal delivery route so it has the optimal deliveries. In this research will be made nanoemulsion astaxanthin formulation to produce good physical and chemical characteristics. Nanoemulsion were prepared by using the self-nanoemulsifying (SNE) method. Optimizations of formula were performed ranging from oil phase screening, surfactant type screening, and optimization of ratio of oil phase : surfactant : co-surfactant. Characterization of nanoemulsion were carried out by physical characterizations including globul size and polydispersity index, zeta potential, visual appearance, and globul morphology. Chemical Characterization included the entrapment efficiency test. The results showed that the nanoemulsion Astaxanthin has a 10-20 nm globul size (with normal size distribution curve), the polydispersity index value is less than 0.5, the zeta potential is greater than (-20) mV, the entrapment efficiency is between 80-87%, and has spherical globules form.Astaxanthin merupakan kelompok karotenoid xantofil larut lemak yang banyak ditemukan pada berbagai mikroorganisme dan hewan laut. Permasalahan yang terdapat di dalam pengunaannya sebagai bahan aktif sumber antioksidan adalah karena lipofilisitasnya dan stabilitas astaxanthin yang rendah di dalam saluran cerna sehingga membuat ketersediaan hayati yang rendah. Di dalam penelitian ini menawarkan teknologi nano untuk mengembangkan nanoemulsi astaxanthin yang ditujukan untuk meningkatkan stabilitas astaxanthin di dalam sediaan dan juga kedepannya untuk mengembangkan jalur penghantaran baru dalam pemakaian antioksidan yakni melalui rute transdermal sehingga ditujukan agar penggunaan astaxanthin dapat optimal. Di dalam penelitian ini akan dibuat formulasi nanoemulsi astaxanthin untuk menghasilkan karakteristik fisik dan kimia yang baik. Nanoemulsi dibuat dengan menggunakan metode Nanoemulsi spontan (SNE). Dilakukan optimasi formula mulai dari skrining fase minyak, skrining jenis surfaktan, dan optimasi rasio fase minyak:surfaktan:kosurfaktan. Karakterisasi nanoemulsi berupa karakterisasi secara fisik meliputi ukuran globul dan indeks polidispersitas, potensial zeta, tampilan visual, dan morfologi globul. Karakterisasi secara kimia meliputi uji efisiensi penjeratan. Hasil penelitian menunjukkan nanoemulsi Astaxanthin yang dikembangkan memiliki ukuran globul 10-20 nm (dengan kurva distribusi ukuran globul normal), nilai indeks polidispersitas kurang dari 0.5, potensial zeta lebih besar dari (-20) mV, dan efisiensi penjeratan berkisar antara 80-87% serta morfologi globul yang berbentuk sferis

    Kajian Drug Related Problems Pasien Otitis Media Supuratif Kronis di Bangsal THT RSUP. Dr. M. Djamil Padang

    No full text
    A study of drug related problems in patients with chronic suppurative otitis media has been done in the ENT ward of Dr. M. Djamil Hospital Padang. The study was conducted retrospectively and prospectively by tracking the patient’s condition, medical record, Drug Instruction Card (KIO) and nursing care records in patients with chronic suppurative otitis media. The data obtained is then analyzed descriptively. The results showed that the most prevalent DRPs category was drug interactions. There were 10 cases of drug interactions of 11 DRPs incidents from retrospective data and 5 cases of drug interaction of 10 DRPs incidents from prospective data in chronic suppurative otitis media in the ENT ward of Dr. M. Djamil Hospital Padang. The other DRPs categories were from dose retrospective data of less than 1 case (3.84%) and from prospective data of adverse drug reactions of 5 cases (45.45%). From the results of this study, it can be concluded that the category of drug related problems found in patients suppurative chronic otitis media in the ENT ward of Dr. M. Djamil Hospital Padang is drug interaction, less dosage, and adverse drug reactions.Telah dilakukan penelitian kajian drug related problems pada pasien otitis media supuratif kronik rawat inap di bangsal THT RSUP Dr. M. Djamil Padang. Penelitian ini dilakukan secara retrospektif dan prospektif melalui penelusuran terhadap kondisi pasien, catatan rekam medik, Kartu Instruksi Obat (KIO) dan catatan asuhan keperawatan pada pasien otitis media supuratif kronik. Data yang diperoleh selanjutnya di analisis secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kategori DRPs yang paling banyak terjadi adalah interaksi obat. Dari data retrospektif terdapat 10 kasus interaksi obat dari 11 kejadian DRPs dan data prospektif terdapat 5 kasus interaksi obat dari 10 kejadian DRPs pada pasien otitis media supuratif kronik rawat inap dibangsal THT RSUP Dr. M. Djamil padang. Kategori DRPs yang lain adalah dari data retrospektif dosis kurang 1 kasus (3,84%), Dan dari data prospektif reaksi obat yang merugikan 5 kasus (45,45%). Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa kategori drug related problems yang ditemukan pada pasien otitis media supuratif kronik rawat inap di bangsal THT RSUP Dr. M. Djamil Padang adalah interaksi obat, dosis kurang dan reaksi obat yang merugikan

    180

    full texts

    364

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Sains Farmasi & Klinis
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇