Jurnal Sains Farmasi & Klinis
Not a member yet
364 research outputs found
Sort by
Waktu Kultivasi Optimal dan Aktivitas Antibakteri dari Ekstrak Etil Asetat Jamur Simbion Aspergillus unguis (WR8) dengan Haliclona fascigera
The optimal cultivation time of symbiont fungi Aspergillus unguis (WR8) with marine sponge Haliclona fascigera and antibacterial activity assay from the ethyl acetate extracts symbiont fungi A. unguis (WR8) have been determined. The fungi was cultivated on Sabaoraud Dextrose Broth medium in both static condition and using shaker incubator at 120 RPM at 25-28oC. Optimal cultivation time was determined by the amount of dry biomass mycelium fungi per unit of time. Liquid medium was extracted with ethyl acetate and used for antibacterial activity assay using agar diffusion method against Staphylococcus aureus. The study showed that the optimal cultivation time of symbiont fungi A. unguis (WR8) in static condition was achieved on day 21 while the extract (5 % w/v) inhibited bacterial growth of S. aureus with an inhibition zone of 21 mm. Meanwhile, The optimal cultivation time in the shaker was achieved on day 14 and the inhibition zone of the extract was 11 mm. The study concludes that the optimal cultivation time for production of antibacterial compounds by symbiont fungi A. unguis (WR8) was obtained at 21 days in static condition.Penelitian tentang penentuan waktu optimal pertumbuhan jamur simbion Aspergillus unguis (WR8) dan pengujian aktivitas antibakteri telah dilakukan. Kultivasi jamur dilakukan dengan menggunakan media Sabaoraud Dextrose Broth (SDB) dalam keadaan statis dan di-shaker (120 rpm) pada suhu 25-28oC. Pertumbuhan jamur secara optimal ditentukan berdasarkan jumlah biomassa kering miselia jamur per satuan waktu. Media cair diekstraksi dengan pelarut etil asetat, ekstrak etil asetat selanjutnya digunakan untuk pengujian aktivitas antibakteri menggunakan metode difusi agar terhadap bakteri Staphylococcus aureus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa waktu optimal pertumbuhan jamur simbion tersebut dalam keadaan statis adalah pada hari ke-21 dan diameter hambat ekstrak (5 %b/v) adalah 21 mm. Sedangkan waktu optimal pertumbuhan jamur yang di shaker adalah pada hari ke-14 dan diameter hambat ekstrak sebesar 11 mm. Dapat disimpulkan waktu kultivasi optimal untuk menghasilkan senyawa antibakteri dari jamur A. unguis (WR8) adalah selama 21 hari secara statis menggunakan media cair. Â
ARTIKEL DITARIK: [Pengaruh Konseling Farmasis Terhadap Pengetahuan dan Kepatuhan Pasien HIV/AIDS di Poliklinik VCT RSUP Dr. M. Djamil Padang]
Adherence to antiretroviral therapy is key to sustained HIV suppression, reduced risk of drug resistance, improved quality of life, and survival of HIV/AIDS patients. A pharmacist is in charge in optimizing the result of the therapy by providing counseling to increase the patients’ knowledge which finally increases the quality of life. The objective of this study was to explore the impact of pharmacist counseling toward knowledge and adherence of patients with HIV/AIDS. The study was conducted in quasi-experiment with a design of one group pretest-posttest. The setting of this study was conducted in VCT RSUP DR. M. Djamil Padang. Data were collected through questionnaires and medical records. Patients’ knowledge and adherence were scored by using knowledge aspect questionnaire and MMAS-8 questionnaire. All questionnaires had been tested for validity and reliability. The data were analyzed by Wilcoxon test and paired t-test. A number of 124 patients completed all follow-ups of study. The result of this study showed that there was a significant increase of patients’ knowledge (p=0,00) and adherence (p=0,00) after the counseling. The study concluded that pharmacist counseling could increase patients’ knowledge and adherence to the therapy.Permasalahan dalam pengobatan HIV/AIDS sangat kompleks, hal ini dikarenakan perjalanan penyakit yang cukup panjang dengan sistem imunitas yang menurun secara progresif dan munculnya beberapa penyakit infeksi oportunitis secara bersamaan. Terapi ARV adalah salah satu cara untuk meningkatkan sistem kekebalan tubuh. Terapi ARV membutuhkan kepatuhan yang tinggi agar tujuan dari terapi tercapai dan mampu meningkatkan kualitas hidup Farmasis berada pada posisi yang sangat baik untuk membantu pasien mengatasi masalah terkait kepatuhan melalui konseling dengan meningkatkan pengetahuan pasien terkait pengobatan dan penyakitnya. Telah dilakukan penelitian quasi-eksperimental dengan konsep single pretest-postets design untuk menilai pengaruh konseling farmasis terhadap pengetahuan dan kepatuhan pasien HIV/AIDS di Poliklinik VCT RSUP Dr. M. Djamil Padang. Pengetahuan dan kepatuhan dinilai dengan menggunakan kuesioner pada pertemuan pertama dan kedua. Sebanyak 124 pasien menjadi responden pada penelitian ini. Analisa data menggunakan Wilcoxon test. Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan pengetahuan yang signifikan (p=0,00) dan kepatuhan (p=0,00) responden sebelum dan setelah konseling farmasis. Penelitian menunjukkan bahwa adanya pengaruh positif konseling farmasis terhadap pengetahuan dan kepatuhan pasien HIV/AIDS
Optimasi Tablet Levofloksasin yang Mengandung Bahan Pengikat PVP K-30 dan Disintegran Vivasol
The aim of this research was to get optimal formula of levofloxacin tablet prepared with variation of PVP K-30 as binder and vivasol as disintegrant. The making of levofloxacin tablets was done by wet granulation. Tablet was prepared with various levels of PVP K-30 and disintegrant vivasol, compressed using a hydraulic press with 12 mm punch diameter, for 3 seconds. Physical quality (hardness, friability, and disintegration time) and dissolution rate of tablet was evaluated. The optimization of the formula was done by factorial design of 22 factorial experiments with 2 factors (PVP K-30 and vivasol) and 2 levels (2% and 4%). Optimization results showed that elevated levels of PVP K-30 increased tablet hardness, reduced friability of tablet, decreased disintegrating time, and increased dissolution rate of levofloxacin tablets. Meanwhile, elevated levels of vivasol increased the hardness of tablets, decreased the disintegrating time of tablets, decreased the dissolution rate of levofloxacin tablets, but did not affect the friability of tablets. In conclusion, the optimal tablet that meet the specifications of physical quality (hardness, friability, and disintegrating time) and dissolution rate was made by 2.4 to 3.7% of PVP K-30 and 2.0 to 3.2% vivasol as shown in the feasible area of design space.Penelitian ini bertujuan mendapatkan formula yang optimal tablet levofloksasin yang dibuat dengan variasi PVP K-30 sebagai pengikat dan vivasol sebagai disintegran. Metode pembuatan tablet levofloksasin dilakukan secara granulasi basah. Formula tablet dibuat dengan variasi PVP K-30 dan disintegran vivasol, dikempa menggunakan alat hidrolik press dengan puch diameter 12 mm, selama 3 detik. Evaluasi mutu fisik (kekerasan, kerapuhan, dan waktu hancur) dan laju disolusi tablet. Optimasi formula dilakukan dengan desain faktorial 22 yaitu eksperimen faktorial dengan 2 faktor (PVP K-30 dan vivasol) dan 2 level (2% dan 4%). Hasil optimasi menunjukkan bahwa peningkatan kadar PVP K-30 meningkatkan kekerasan tablet, menurunkan kerapuhan tablet, dan menurunkan waktu hancur tablet, serta meningkatkan laju disolusi dari tablet levofloksasin. Peningkatan kadar vivasol meningkatkan kekerasan tablet, tidak mempengaruhi kerapuhan tablet, dan menurunkan waktu hancur tablet, serta menurunkan laju disolusi tablet levofloksasin. Kesimpulan penelitian ini menunjukkan bahwa tablet yang optimal serta memenuhi spesifikasi dari mutu fisik (kekerasan, kerapuhan, dan waktu hancur) dan laju disolusi ditunjukkan pada daerah feasible dari design space yaitu kadar PVP K-30 antara 2,4 sampai 3,7 % dan kadar vivasol 2,0 sampai 3,2%
Uji Toksisitas Subkronis Fraksi Etil Asetat Kulit Buah Asam Kandis (Garcinia cowa Roxb.) terhadap Fungsi Hati dan Ginjal Mencit Putih Betina
The sub-chronic toxicity testing of ethyl acetate fraction of fruit rind of “asam kandis†(Garcinia cowa Roxb.) to the liver and kidney function has been carried out to female white mice. A total of 18 female white mice aged 2-3 months weighing 20-30 grams are used as test animals. Animals were divided into three groups: one control group and two treatment groups. Groups were given daily ethyl acetate fraction at the doses of 500 and 1000 mg/kg orally for 60 days. Parameters observed were the activity of SGPT and liver weight ratio to observe the liver function; serum creatinine level and kidney weight ratio to determine kidney function. Data of SGPT, serum creatinine and the weight ratio of liver and kidney were analyzed by two-way ANOVA. Results show that the activity of SGPT and serum creatinine level were directly affected by the dose (p<0.05), while the organ weight ratio of liver and kidney were not affected by the dose and duration of administration (p>0.05). The study concluded that the dosage of ethyl acetate fraction of the fruit rind of G. cowa had a significant effect on the activity of SGPT and serum creatinine level of female white mice. The duration of administration did not give a significant effect on the increase of serum creatine level as well as the organ weight ratio of liver and kidney of mice.Pengujian toksisitas subkronis fraksi etil asetat kulit buah asam kandis (Garcinia cowa Roxb.) terhadap fungsi hati dan ginjal mencit putih betina telah dilakukan. Sebanyak 18 ekor mencit putih betina berusia 2-3 bulan dengan berat badan 20-30 gram digunakan sebagai hewan uji. Hewan dibagi menjadi 3 kelompok yaitu 1 kelompok kontrol dan 2 kelompoj perlakuan yang diberi fraksi etil asetat kulit buah asam kandis dengan dosis 500 dan 1000mg/kgBB sekali sehari secara oral selama 60 hari. Parameter yang diamati yaitu aktivitas SGPT dan rasio berat hati untuk fungsi hati dan aktivitas kreatinin serum dan rasio berat ginjal untuk aktivitas ginjal. Data aktivitas SGPT, kreatinin serum dan rasio berat organ hati dan ginjal dianalisis dengan ANOVA dua arah. Hasil penelitian menunjukan bahwa aktivitas SGPT, Kreatinin serum dipengaruhi secara langsung oleh dosis (p<0,05) dan untuk rasio berat hati dan ginjal tidak dipengaruhi secara langsung oleh dosis dan lama pemberian (p>0,05). Dapat disimpulkan bahwa dosis pemberian fraksi etil asetat kulit buah asam kandis memberikan pengaruh yang bermakna terhadap aktivitas SGPT dan kadar kreatinin serum mencit putih betina. Lama pemberian tidak memberikan pengaruh yang bermakna terhadap peningkatan kadar kreatinin serum mencit putih betina dan rasio berat hati dan ginjal mencit putih betina
Formulasi Gel Sarang Burung Walet Putih (Aerodramus fushipagus) dan Uji Penyembuhan Luka Bakar Derajat II pada Mencit
The gel formulation from Edible Bird’s Nest (Aerodramus fushipagus) and evaluation of wound healing activity in mice (Mus musculus) has been done. This study aimed to determine the effectiveness of gel formulation from Edible Bird’s Nest with concentrations of 10%, 20% and 30% for second-degree burns in mice. A number of 15 mice were grouped into 5: negative control (base gel), positive control (B), and groups receiving gel formulation in concentrations of 10%, 20%, and 30%. Burns was induced on the back of the mice with 2 cm diameter by using hot metal. The diameter of burns was measured every day for 21 days. Data were analyzed by using two-way ANOVA. The evaluation results show all formulas were homogeneous, stable to temperature and not irritating to the skin. The results showed that the percentage of burn healing between formulations and control were significantly different. The study concludes that all formulas exhibit a wound healing activity as compared with control.Formulasi gel sarang burung walet putih (Aerodramus fushipagus) dan uji penyembuhan luka bakar derajat II pada mencit putih (Mus musculus) jantan telah dilakukan. Penelitian ini bertujuan untuk memformulasikan sediaan gel dari bahan aktif sarang burung walet putih dengan konsentrasi 10%, 20% dan 30% dan melihat efek penyembuhan luka bakar pada kulit mencit. Uji penyembuhan luka bakar dilakukan terhadap 15 ekor mencit putih jantan yang dibagi menjadi 5 kelompok perlakuan yaitu, kontrol negatif (basis gel), kontrol positif dan kelompok perlakuan formula 10%, 20% dan 30%. Luka bakar diinduksi pada bagian punggung dengan diameter 2 cm dengan menggunakan logam panas. Hewan diberi perlakuan dan diameter luka diukur setiap hari selama 21 hari. Hasil evaluasi terhadap gel menunjukkan semua formula homogen, stabil terhadap suhu dan tidak mengiritasi kulit. Uji statistik ANOVA dua arah terhadap persentase penyembuhan luka bakar menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara penyembuhan luka bakar pada kelompok perlakuan dengan kelompok kontrol. Penelitian ini menyimpulkan bahwa ketiga formula memberikan efek penyembuhan luka bakar yang lebih baik dibandingkan kontrol
Interaksi Ekstrak Sambiloto (Andrographis paniculata (Burm.F.)Ness) dengan Glibenklamid terhadap Ekspresi Gen CYP3A4 pada Kultur Sel HepG2
ABSTRACT: Diabetes mellitus is one of the chronic metabolic diseases characterized by hyperglycemia. Various therapies are done to overcome hyperglycemia, either with oral antidiabetic drugs or plants that have antidiabetic properties. Sambiloto (Andrographis paniculata (Burm.F.)Ness) is one of antidiabetic plants that is widely used by Indonesian people. However, in many cases, the combination of herbs with synthesis drugs causes interaction when used at the same time. This study was aimed to obtain interaction data of the sambiloto extract with glibenclamide towards CYP3A4 gene expression in HepG2 cell line. The results of this study showed a decreased in the expression of CYP3A4 gene in a single sample test as well as a combination sample at concentrations of 50 and 100 μg/mL for green chiretta extract, glibenclamide and its combination decreased CYP3A4 gene expression respectively 0,82, 0,70; 0,89, 0,53; 0,84, 0,72. It can be concluded there is a decreased in the expression of CYP3A4 gene along with the increase of sample concentration.Diabetes melitus (DM) merupakan salah satu penyakit metabolik kronis yang ditandai dengan hiperglikemia. Berbagai terapi dilakukan untuk mengatasi hiperglikemia, baik dengan menggunakan obat antidiabetes oral maupun tanaman herbal berkhasiat antidiabetes. Sambiloto (Andrographis paniculata (Burm.F.)Nees) merupakan salah satu herbal antidiabetes yang banyak dikonsumsi masyarakat Indonesia. Andrografolida merupakan zat aktif yang terdapat dalam sambiloto yang berperan sebagai agen antidiabetes. Namun, dalam banyak kasus kombinasi antara herbal dan obat sintesis menyebabkan interaksi jika digunakan pada waktu bersamaan. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh data interaksi ekstrak etanol herba sambiloto dengan glibenklamid terhadap ekspresi gen CYP3A4 pada kultur sel HepG2. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terjadi penurunan ekspresi gen CYP3A4 pada pengujian sampel tunggal maupun kombinasi antara ekstrak etanol herba sambiloto dan glibenklamid dengan bertambahnya konsentrasi. Pada konsentrasi 50 dan 100 μg/mL sambiloto, glibenklamid, dan kombinasinya menyebabkan penurunan ekspresi gen CYP3A4 sekitar 0,82, 0,70; 0,89, 0,53; 0,84, 0,72. Berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan terjadi penurunan ekspresi gen CYP3A4 dengan bertambahnya konsentrasi sampel
Studi Penggunaan Antipsikotik dan Efek Samping pada Pasien Skizofrenia di Rumah Sakit Jiwa Sambang Lihum Kalimantan Selatan
Based on RISKESDAS 2013, schizophrenia prevalence in South Kalimantan is 1.4 per one thousand population. The main therapy for schizophrenia is anti-psychotic medication. A variety of side effects arise from the use of antipsychotic drugs including extrapyramidal syndrome and metabolic syndrome. The aim of the study was to evaluate the prescription pattern and side effects of antipsychotic drugs in patients with schizophrenia at Sambang Lihum Psychiatric Hospital, South Kalimantan, Indonesia. The type of this study was non-experimental observation with prospective data collection. Population in this study was all of the schizophrenia inpatients in February 2016 who met the inclusion criteria. The data were collected from 59 patients. The results showed that anti-psychotics combination therapy was the most widely used medications (90.6%), in which the combination of haloperidol-clozapine was the most frequent one (26.04%). The side effects commonly observed were extrapyramidal syndrome (98.3%); orthostatic hypotension (86,4%); anticholinergic effect (76.3%); sedation (44.1%); nausea / vomiting (27.1%); diarrhea (27.1%); insomnia (16.9%); loss of appetite (10.2%); red-itchy rashes (6.8%); anorexia (5.1%); frequent urination (5.1%); decreased consciousness (1.7%), shortness of breath and cough (1.7%); impairment of Hb (1.7%); increase in AST (1.7%); increase in ALT (1.7%); and foaming from nose (1.7%).Berdasarkan data RISKESDAS 2013, prevalensi skizofrenia di Kalimantan Selatan adalah 1,4 per seribu penduduk. Terapi utama skizofrenia menggunakan antipsikotik. Beberapa penelitian menyebutkan bahwa efek samping utama penggunaan antipsikotik adalah sindrom ekstrapiramidal dan sindrom metabolik. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pola penggunaan antipsikotik dan berbagai kejadiaan efek samping yang terjadi selama terapi pengobatan antipsikotik pada pasien rawat inap skizofrenia di Rumah Sakit Jiwa Sambang Lihum Kalimantan Selatan. Jenis penelitian adalah non eksperimental observasional dengan pengambilan data secara prospektif. Populasi sampel adalah seluruh pasien skizofrenia rawat inap yang masuk pada bulan Februari 2016 di RSJ Sambang Lihum yang memenuhi kriteria inklusi. Jumlah subyek penelitian sebanyak 59 pasien. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terapi kombinasi antipsikotik adalah terapi yang paling banyak digunakan (90,6%), dengan obat yang paling banyak digunakan adalah haloperidol-clozapin (26,06%). Efek samping yang terjadi pada 59 pasien adalah sindrom ekstrapiramidal (98,3%), hipotensi orthostatik (86,4%), efek antikolinergik (76,3%); sedasi (44,1%); mual/muntah (27,1%); diare (27,1%); insomnia (16,9%); tidak nafsu makan (10,2%); gatal kemerahan (6,8%); anoreksia (5,1%); sering buang air kecil (5,1%); kesadaran menurun (1,7%), sesak nafas dan batuk (1,7%); penurunan nilai Hb (1,7%); kenaikan AST (1,7%); kenaikan ALT (1,7%); Keluar busa di hidung (1,7%)
Kajian Deskriptif Retrospektif Regimen Dosis Antibiotik Pasien Pneumonia Anak di RSUP. Dr. M. Djamil Padang
Pneumonia is one of acute respiratory tract infection which a major causes mortality in children and infant. The role of antibiotics in reducing morbidity and mortality this infectious disease is still dominant. Improper use of antibiotics can lead to the development of bacteria resistant to antibiotics and the occurrence of toxicity/side effects of drugs. The objective of this study was to determine the appropriateness of dosage regimen of antibiotics in children with pneumonia compared to standard literature. The study was conducted by retrospective descriptive analysis, using medical records of children with pneumonia during 2013. The results showed inappropriateness in several dosage regimen of antibiotics, such as chloramphenicol (5%), meropenem (50%), erythromycin (100%), azithromycin (100%), ceftazidime (100%), clindamycin (100%), ampicillin (100%) and gentamicin (100%). The inappropriateness of frequency of administration (administration interval) was also found in ampicillin (50%), gentamicin (20%), and cefotaxime (100%). The inappropriateness of dosage duration was found in amoxicillin (44.45%), chloramphenicol (45%), gentamicin (70%), meropenem (33.34%), ceftriaxone (66.67%), ampicillin (50%), cefotaxime (100%). While the route of administration of antibiotics was 100% appropriate.Pneumonia merupakan salah satu penyakit infeksi saluran pernafasan akut yang menduduki peringkat atas sebagai penyebab kematian pada anak dan balita. Peranan antibiotik dalam menurunkan morbilitas dan mortilitas penyakit infeksi ini masih sangat dominan. Penggunaan antibiotik yang tidak tepat dapat mengakibatkan berkembangnya bakteri yang resisten terhadap antibiotik serta timbulnya toksisitas/efek samping obat. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji regimen dosis antibiotik yang diberikan pada pasien pneumonia anak dibandingkan dengan regimen dosis pada literatur resmi. Penelitian dilakukan dengan metode observasi deskriptif retrospektif menggunakan data rekam medik pasien pneumonia anak selama tahun 2013. Hasil penelitian menunjukkan adanya ketidaktepatan pada beberapa regimen dosis antibiotik, seperti ketidaktepatan dosis kloramfenikol (5%), meropenem (50%), eritromisin (100%), azitromisin (100%), seftazidim (100%) klindamisin (100%), ampisilin (100%) dan gentamisin (100%). Ketidaktepatan frekuensi pemberian (interval pemberian) ampisilin (50%), gentamisin (20%) sefotaksim (100%). Ketidaktepatan lama pemberian amoksisilin (44.45%), kloramfenikol (45%), gentamisin (70%), meropenem (33,34%), seftriakson (66,67%), ampisilin (50%), sefotaksim (100%). Sedangkan rute pemberian antibiotik sudah tepat 100%.Â
Analisis Kromatografi Lapis Tipis (KLT) dan Aktivitas Antihiperurisemia Ekstrak Rebung Schizostachyum brachycladum Kurz (Kurz) pada Mencit Putih Jantan
Thin-layer chromatography (TLC) analysis of bamboo shoot extract (Schizostachyum brachycladum) and its antihyperuricemic activity evaluation on male mice have been conducted. The extraction was processed by the maceration method, while the determination of the compound was carried out by using various color reagents of TLC plate. To evaluate the antihyperuricemic activity of the extract, a total of 25 male mice were hyperuricemic-induced with daily chicken liver homogenates along with extract suspension at doses of 25, 50 and 100 mg/kg, allopurinol 10 mg/kg, and control group. Another group consisted of 5 mice was treated as the normal group. Serum uric acid level of mice was measured by using the spectrophotometer at the 8th day and analyzed with one-way ANOVA. The TLC analysis showed that the extract contained phenolic compounds and triterpenoids. The measurement of serum uric acid levels revealed that the extract at doses of 25, 50 and 100 mg/kg significantly decreased the uric acid levels of male white mice as compared with control (p<0.05). However, all doses did not show any significant difference in reducing the uric acid level (p>0.05). The study concluded that bamboo shoot extract exhibited antihyperuricemic activity. The effect was seen even at the lowest dose evaluated. Ekstraksi dan analisis KLT dari ekstrak rebung Schizostachyum brachycladum Kurz (Kurz), serta uji aktivitas antihiperurisemia pada mencit putih jantan telah dilakukan. Proses ekstraksi dilakukan dengan cara maserasi. Penentuan golongan senyawa dilakukan dengan berbagai reagen warna pada plat KLT. Pengukuran kadar asam urat dilakukan pada hari ke-8 setelah pemberian dosis harian homogenat hati ayam sebagai penginduksi asam urat bersamaan dengan suspensi ekstrak pada dosis 25, 50 dan 100 mg/kg dan allopurinol sebagai pembanding. Kadar asam urat serum mencit putih jantan diukur dengan menggunakan spektrofotometer. Hasil pengukuran memperlihatkan pemberian ekstrak rebung dengan dosis 25, 50 dan 100 mg/kgBB dapat menurunkan kadar asam urat mencit putih jantan dan berbeda secara signifkan dibandingkan dengan kontrol (p<0,05). Ketiga dosis ekstrak tidak memperlihatkan perbedaan yang nyata dalam menurunkan kadar asam urat (p>0,05). Penelitian ini menyimpulkan bahwa ekstrak rebung memiliki aktivitas antihiperurisemia.Â
Efektifitas Antibiotik pada Pasien Ulkus Kaki Diabetik
Patients with diabetic foot infection require antibiotics. Generally, antibiotics may have low sensitivity and some bacteria have been resistance to antibiotics. Currently, evaluating the effectiveness of antibiotics is necessary to avoid antibiotic resistance. This study has been conducted using the longitudinal method and prospective sampling technique. Observed parameters were leukocyte, signs of infection and fever after using antibiotics. The data collected were then analyzed to determine the effectiveness of antibiotics based on supporting literature. A number of 19 out of 28 samples of patients with diabetic foot ulcer met the criteria, consisting of 63.16% and 36.84% of male and female patients, respectively. Most of the patients (68,42%) were aged 45-60 years old living with diabetes for more than 10 years. The antimicrobial therapy were given empirically in 8 patients (42,10%) and based on microbial sensitivity (definitive) in 11 patients (57,89%). The use of antibiotics was effective in 15 patients (78,94%) marked by the leukocyte count, signs of infection and fever parameters after 2-3 days using antibiotics. The optimum therapeutic outcome was achieved in 7 to 21 days.Pasien Infeksi ulkus kaki diabetik memerlukan penggunaan antibiotik, antibiotik yang sering digunakan mempunyai sensitifitas rendah dan beberapa pasien pada penggunaannya dalam keadaan resistensi, evaluasi efektifitas antibiotik perlu dilakukan untuk mengatasi masalah penggunaan antibiotik saat ini. Penelitian ini dilakukan dengan studi longitudinal dan teknik pengambilan sampel secara prospektif. Paramater yang diamati adalah keadaan leukosit, tanda infeksi dan demam seteleh pemberian antibiotik. Data yang terkumpul kemudian dianalisis secara deskriptif untuk menentukan efektifitas antibiotik berdasarkan literatur yang mendukung. Hasil perolehan sampel pada penelitian ini adalah sebanyak 19 sampel pasien infeksi ulkus kaki diabetik yang memenuhi kriteria dari 28 orang populasi terdiri dari 63,16% pasien laki-laki dan 36,84% pasien perempuan, 68,42 % usia 45-60 tahun dan lama diabetes terbanyak adalah > 10 tahun. Hasil evaluasi efektifitas antibiotik yaitu ditemukan 8 orang pasien yang menggunakan antibiotik secara dugaan (empiris) dan 11 orang pasien menggunakan antibiotik berdasarkan sensitifitas (definitif). Antibiotik efektif pada 15 orang subjek penelitian yaitu dapat memberikan respon pada leukosit, tanda infeksi dan parameter demam seteleh pemberian antibiotik 2-3 hari dan hasil terapi maksimal pada hari ke 7 sampai 21