Jurnal Sains Farmasi & Klinis
Not a member yet
    364 research outputs found

    Evaluasi Penggunaan Insulin pada Pasien Diabetes Melitus Tipe 2 Rawat Jalan di Rumah Sakit X di Jakarta Periode 2016-2017

    Get PDF
    Type 2 Diabetes Mellitus (DMT2) is a metabolic disease with the characteristics of hyperglycemia that occurs due to abnormal insulin secretion. One of the treatments of DM is insulin therapy. Based on its provenance, insulin consists of human insulin and analogue insulin. This study was conducted to identify profiles of insulin used in DMT2 patients at RSUP X hospital in Jakarta. This was an observational study conducted retrospectively on data from 2016 to 2017. The total sample numbers of DMT2 outpatients using insulin were 218 in 2016, and 225 in 2017. Data on insulin therapy regimens were obtained from medical records and drug use reports. The results obtained from this study indicated that the type of insulin that was widely used by DMT2 outpatients was analogue insulin with a percentage of 99%. The human insulin was rarely used in outpatients. The highest use of analogue insulin was analog premixed insulin (35%).Diabetes Melitus Tipe 2 (DMT2) merupakan suatu penyakit metabolik dengan karakteristik hiperglikemia yang terjadi karena kelainan sekresi insulin. Salah satu terapi DMT2 adalah dengan menggunakan insulin. Berdasarkan asalnya insulin terdiri dari insulin manusia dan insulin analog. Penelitian ini dilakukan untuk mengidentifikasi profil penggunaan insulin pasien DMT2 rawat jalan di rumah sakit X di Jakarta. Studi ini merupakan penelitian observasional yang dilakukan secara retrospektif pada data periode Januari 2016 - Desember 2017. Data regimen terapi insulin diperoleh dari rekam medis dan laporan penggunaan obat. Jumlah sampel penelitian pasien DMT2 rawat jalan pengguna insulin sebanyak 218 orang pada tahun 2016, dan 225 orang pada tahun 2017. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis insulin yang banyak digunakan oleh pasien DMT2 rawat jalan adalah insulin analog dengan persentase 99%, jauh lebih tinggi dibandingkan insulin manusia. Penggunaan insulin manusia sudah sangat jarang ditemukan pada pasien rawat jalan. Penggunaan insulin analog tertinggi yakni analogue premixed insulin sebesar 35%

    Efektivitas Ekstrak Etanol Kulit Buah Terung Ungu (Solanum melongena L.) sebagai Antimalaria terhadap Jumlah Eosinofil pada Mencit (Mus musculus) yang Diinduksi Plasmodium berghei

    Get PDF
    Malaria is a disease caused by Plasmodium that is transmitted to humans through female Anopheles mosquito bite. Many cases of antimalarial drug resistance such as chloroquine led to the need for new antimalarial discoveries. Eggplant contains many secondary metabolites that are potential as antimalarial. This study aimed to determine the effectivity of ethanol extract of eggplant peels as antimalarial towards eosinophil in mice induced by Plasmodium berghei. Eggplant peels were extracted by maceration method using 70% ethanol. The analysis of secondary metabolites from the ethanol extract of eggplant peels was conducted using tube test and thin layer chromatography. The percentage of parasitemia and eosinophil were calculated from peripheral blood smear of mice which were treated with extracts at the doses of 0.075, 0.15, and 0.30 mg/20 g of body weight. Dihydroartemisinin-piperaquin (3.744 mg/20 g of body weight) was used as positive control, while distilled water was used as negative control. The study showed that ethanolic extract of the eggplant peels contained alkaloids, flavonoids, terpenoids, steroids, phenolic, and saponins. The extract effectively reduced parasitemia at a dose of 0.075 mg/20 g, but it was not effective in increasing the number of eosinophil in mice. There was no correlation between the number of parasitemia and eosinophil. The study concludes that ethanolic extract of the eggplant peels exhibits antimalarial activity, but does not show immunomodulatory activity in increasing eosinophil.Malaria adalah penyakit yang disebabkan oleh parasit Plasmodium yang ditularkan ke manusia melalui gigitan nyamuk Anopheles betina. Banyaknya kasus resistensi obat antimalaria seperti klorokuin menyebabkan perlunya dilakukan penemuan antimalaria baru. Terung ungu (Solanum melongena L.) memiliki banyak senyawa metabolit sekunder yang berpotensi sebagai antimalaria. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas ekstrak etanol kulit buah terung ungu sebagai antimalaria terhadap jumlah eosinofil pada mencit yang diinduksi Plasmodium berghei. Kulit buah terung ungu diekstraksi dengan metode maserasi menggunakan pelarut etanol 70%. Metabolit sekunder ekstrak etanol kulit buah terung ungu dianalisis menggunakan uji tabung dan kromatografi lapis tipis. Jumlah parasitemia dan eosinofil dihitung dari sediaan apus darah tepi mencit yang diberi perlakuan ekstrak dengan dosis 0,075; 0,15; dan 0,30 mg/20 gBB. Kontrol positif diberi 3,744 mg/20 gBB dihydroartemisinin-piperaquin, sedangkan kontrol negatif diberi air suling. Penelitian ini menunjukkan bahwa ekstrak etanol kulit buah terung ungu mengandung golongan senyawa alkaloid, flavonoid, terpenoid, steroid, fenolik dan saponin. Ekstrak paling efektif menurunkan jumlah parasitemia pada dosis 0,075 mg/20 gBB, namun tidak efektif meningkatkan jumlah eosinofil pada mencit. Tidak terdapat hubungan antara jumlah parasitemia dan jumlah eosinofil. Penelitian ini menyimpulkan bahwa ekstrak etanol kulit buah terung ungu memiliki aktivitas antimalaria tetapi tidak bersifat imunomodulator pada peningkatan eosinofil

    Evaluasi Penggunaan Antibiotik menggunakan Indeks ATC/DDD dan DU90% pada Pasien Operasi TAH BSO dengan Infeksi Daerah Operasi: Studi Retrospektif di RSUD Dr. Soetomo

    Get PDF
    TAH BSO adalah salah satu tindakan bedah ginekologi untuk menghilangkan uterus, serviks, kedua tabung tuba, dan ovarium. Tindakan bedah TAH BSO dapat meningkatkan risiko terjadinya Infeksi Daerah Operasi (IDO). IDO menjadi penyebab utama dari morbiditas, rawat inap yang berkepanjangan, dan kematian sehingga penggunaan antibiotik diperlukan pada pasien yang mengalami IDO. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi penggunaan antibiotik dengan metode ATC/DDD dan DU 90% pada pasien operasi TAH BSO dengan kasus IDO di Ruang Merak RSUD Dr. Soetomo. Metode penelitian dilakukan secara observasional dan pengambilan data secara retrospektif berdasarkan rekam medik dengan mengambil waktu selama bulan Januari 2015 sampai Desember 2018. Hasil penelitian menunjukkan bahwa antibiotik metronidazol memiliki nilai DDD tertinggi yaitu sebesar 25,00 DDD/100 pasien-hari artinya diestimasikan dari 100 pasien TAH BSO dengan IDO ada 25 pasien yang menerima metronidazol 1,5 gram per hari. Sedangkan antibiotik yang termasuk dalam DU 90% yaitu metronidazol (47%), seftriakson (18,16%), amikasin (8,87%), levofloksasin (8,01%), dan gentamisin (6,41%). Untuk selanjutnya, evaluasi penggunaan antibiotik dengan metode Gyssens dapat dilakukan untuk mengetahui ketepatan penggunaan antibiotik

    Deteksi Cepat Gen InvA pada Salmonella spp. Dengan Metode PCR

    No full text
    Salmonella spp. merupakan penyebab infeksi utama pada manusia melalui rute oral dengan cara mengkontaminasi makanan dan minuman. Penyakit yang disebabkan oleh Salmonella spp. disebut salmonellosis. Salmonella spp. memiliki gen invA yang menyebabkan patogen pada manusia. Deteksi gen InvA dapat dilakukan dengan metode PCR. Tujuan penelitian ini adalah untuk pengembangan metode deteksi cepat Gen InvA pada Salmonella spp. dengan metode PCR. Tahapan metode penelitian dimulai dari kultur Salmonella ATCC, Isolasi DNA Salmonella ATCC, Analisis Kuantitatif DNA Salmonella ATCC, Desain primer spesifik untuk deteksi gen InvA, Karakterisasi primer, Optimasi komponen PCR. Hasil isolasi DNA Salmonella ATCC yang didapat dengan konsentrasi DNA sebesar 4,5 ng/ul dengan kemurnian DNA 1,66. Primer PCR yang telah didesain untuk deteksi gen InvA terdiri dari satu pasang primer, yaitu InvA-F: 5’ TCGTCATTCCATTACCTACC 3’dan InvA-R: 5’ AAACGTTGAAAAACTGAGGA 3’ yang menghasilkan produk PCR gen InvA sepanjang 119 bp. Gen InvA dapat dideteksi dengan cepat menggunakan metode PCR yang telah dioptimasi komponen PCR

    Studi Prospektif Adverse Drug Reactions (ADRS) Obat Hipoglikemik Oral Terhadap Pasien Diabetes Mellitus Tipe 2 di Suatu Rumah Sakit, Padang

    No full text
    Diabetes melitus tipe 2 merupakan penyakit gangguan metabolisme lemak, protein dan karbohidrat yang banyak dijumpai pada masyarakat. Terapi farmakologi diabetes melitus tipe 2 salah satunya dilakukan dengan pemberian obat hipoglikemik oral (OHO) yang dapat menyebabkan kemungkinan terjadinya Adverse Drug Reactions (ADRs). Jenis ADRs yang umum terjadi adalah reaksi tipe A (Augmented) yaitu reaksi yang diperkirakan sebelumnya dan bergantung pada dosis obat. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui karakteristik sosiodemografis pasien dan mengevaluasi angka kejadian serta jenis ADRs yang ditimbulkan oleh obat hipoglikemik oral pada pasien diabetes melitus tipe 2 di poliklinik penyakit dalam RSUP Dr. M. Djamil Padang periode Juli – September  2018. Metode yang digunakan adalah observasional dengan pengumpulan data secara prospektif. Setiap ADRs aktual yang terjadi dihitung probabilitasnya dengan menggunakan algoritma Naranjo scale.  Hasil penelitian ini menunjukkan sebanyak 37 sampel yang memenuhi kriteria inklusi, dimana 51,35% berjenis kelamin wanita dan berusia >56 tahun sebanyak 59,46%. Pola penggunaan obat hipoglikemik oral yang paling banyak digunakan adalah kombinasi metformin dengan glimepirid sekitar 32,43 %. Penelitian ini dapat disimpulkan bahwa 8,1 % pasien mengalami kasus ADRs. Obat hipoglikemik oral yang diduga menjadi penyebab timbulnya ADRs tersebut adalah metformin dan metformin-glimepirid dapat menyebabkan mual dengan kategori possible ADRs serta metformin-glimepirid-acarbose yang menyebabkan terjadinya flatulensi dengan kategori probable ADRs. Â

    Analisis Logam Kromium (Cr) Pada Sediaan Perona Pipi (Blush On) Secara Spektrofotometri Serapan Atom

    No full text
    ABSTRAKKromium merupakan logam berat yang dilarang penggunaannya dalam sediaan kosmetik. Efek logam kromium apabila terpapar pada kulit dapat menyebabkan dermatitis, oedema dan borok yang dapat meluas pada kulit. Analisis logam kromium (Cr) pada sediaan perona pipi (Blush On) secara Spektrofotometri Serapan Atom telah dilakukan. Masing-masing sampel didestruksi terlebih dahulu dengan cara destruksi kering, kemudian sampel dilarutkan dengan asam nitrat 6 N, larutan sampel diukur serapannya dengan alat Spektrofotometer Serapan Atom menggunakan lampu katoda berongga kromium pada panjang gelombang 357,9 nm. Hasil dari penelitian ini adalah sampel merek IZ, VV, KS, MC terdeteksi mengandung logam kromium dengan kadar berturut-turut adalah 10,05 ± 0,05 µg/g; 6,74 ± 0,02 µg/g; 28,95 ± 0,19 µg/g; 13,52 ± 0,63 µg/g. Data menunjukan bahwa adanya kromium pada semua sampel.Kata kunci: logam; kromium; perona pipi; spektrofotometri serapan atom ABSTRACTChromium is a heavy metal which is prohibited from using it in cosmetic preparations. Effects of chromium metal, when exposed to the skin, can cause dermatitis, oedema and ulcers that can extend to the skin. Analysis of chromium (Cr) metal in blush preparations by Atomic Absorption Spectrophotometry was carried out. Each sample was first destructed by dry destruction, then the sample was dissolved with 6 N nitric acid, the absorption of the sample solution was measured by an atomic absorption spectrophotometer using a chromium hollow cathode lamp at a wavelength of 357.9 nm. The results showed that all samples under the IZ, VV, KS and MC brands were detected containing chromium metal with levels of 10.05 ± 0.05 μg/g respectively; 6.74 ± 0.02 µg/g; 28.95 ± 0.19 µg/g; 13.52 ± 0.63 µg/g. Data shows that the presence of chromium in all samples.Keywords: metal; chromium; blush; atomic absorption spectrophotometry.Â

    Kajian Farmakognosi dan Penetapan Kadar Flavonoid Total Herba Nanas Kerang (Tradescantia spathacea Sw.)

    Get PDF
    Herba nanas kerang (Tradescantia spathacea Sw.) termasuk famili Commelinacea, secara tradisional digunakan untuk mengobati beberapa penyakit. Keamanan dan kualitas simplesia sangat penting sebagai bahan baku obat tradisional. Kajian farmakognosi diperlukan untuk karakteristik simplisia dan melengkapi data monografi ekstrak dengan mengevaluasi parameter kualitatif meliputi pengamatan organoleptik, makroskopik, mikroskopik, skrining fitokimia, pola kromatogram, fluoresensi dan pengukuran parameter kuantitatif yang meliputi penentuan kadar abu total, kadar abu tidak larut asam, kadar sari larut air, kadar sari larut etanol, kadar air dan kadar flavonoid total. Herba nanas kerang memiliki warna serbuk hijau kecoklatan, bau  khas, tidak memiliki rasa, makroskopik herba memiliki tipe daun lanset, ujung runcing, warna permukaan hijau, permukaan bawah ungu tua. Batang bulat, herbaceous dengan akar utama tunggang. Mikroskopik herba terdapat fragmen pengenal seperti antosianin, epidermis bawah, stomata tipe parasitik, akar tipe poliark, berkas pengangkut dengan penebalan noktah dan spiral serta kristal jarum. Skrining fitokimia  menunjukkan  adanya senyawa alkaloid, flavonoid, saponin, tanin dan terpenoid. Hasil  uji kuantitatif didapatkan kadar abu total 9,31%, kadar abu tidak larut asam 1,86%, kadar sari larut air 16,94%, kadar sari larut etanol 11,96%, kadar air 9,64% dan kadar flavonoid total 1,2426%/1 gram ekstrak. Penelitian ini menunjukkan hasil yang signifikan terhadap karakteristik herba nanas kerang yang bisa melengkapi data monografi ekstrak

    Karakterisasi Nanoemulsi Ekstrak Daun Kelor (Moringa oleifera Lamk.)

    No full text
    Kelor dikenal di seluruh dunia sebagai tanaman bergizi dan WHO telah memperkenalkan kelor sebagai salah satu pangan alternatif untuk mengatasi masalah gizi (malnutrisi) (Broin, 2010). Di Afrika dan Asia daun kelor direkomendasikan sebagai suplemen yang kaya zat gizi untuk ibu menyusui dan anak pada masa pertumbuhan. Semua bagian dari tanaman kelor memiliki nilai gizi, berkhasiat untuk kesehatan dan manfaat dibidang industri. Kelor (Moringa oliefera Lamk) merupakan tanaman perdu  yang mengandung flavonoid, saponin sitokinin, asam-caffeolylquinat dan mengandung asam lemak tak jenuh seperti linoleat (omega 6) dan alfalinolenat (omega 3). Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis karakterisasi nanoemulsi ekstrakdaun kelor dan menguji efektivitas sediaan nanoemulsi ekstrak daun kelor (Moringa oleifera LAMK.) yang mengandung konsentrasi ekstrak daun kelor. Penelitian ini terdiri dari 3 tahap, yaitu pembuatan ekstrak, pembuatan nanoemulsi dengan menggunakan metode homogenisasi dengan kecepatan 24.000 rpm selama 20 menit dan karakterisasi nanoemulsi yang dihasilkan. Perlakuan dalam penelitian ini adalah konsentrasi ekstrak daun kelor dengan dua taraf yaitu 20 dan 30%. Hasil dari penelitian adalah nanoemulsi dengan rata-rata ukuran butiran 44 dan 28.5 nm dengan viskositas 2 cP dan 2,5 cP. Nanoemulsi ekstrak daun kelor memiliki kelarutan yang lebih baik dibandingkan dengan ekstrak daun kelor. Nanoemulsi memiliki bioavailabilitas yang lebih tinggi (61.33 %) dibandingkan dengan emulsi ekstrak daun kelor (15.83 %)

    Penggunaan DNA Mitokondria Sebagai Penanda Sumber Gelatin Sediaan Gummy dengan Teknik Polymerase Chain Reaction dan Sekuensing DNA

    No full text
    Chewable lozenges atau gummy merupakan sediaan berbentuk kenyal yang dapat melepaskan zat aktifnya langsung di dalam mulut atau tenggorokan. Bahan yang berpengaruh dalam konsistensi gummy tersebut berasal dari basis. Dalam sediaan gummy, gelatin digunakan sebagai basis yang sebagian besar bersumber dari babi dan sapi. Identifikasi sumber bahan dapat dilakukan dengan teknik PCR dan sekuensing DNA. Penelitian ini bertujuan mengetahui sumber gelatin sediaan gummy impor tanpa logo halal. Isolasi DNA genom daging babi dan sediaan gummy dilakukan dengan GeneJet Kit. Isolat DNA kemudian diamplifikasi menggunakan primer spesifik DNA mitokondria sitokrom b. Selanjutnya, amplikon dianalisis dengan elektroforesis dan dilakukan sekuensing DNA. Hasil elektroforesis amplikon daging babi dan sediaan gummy A menghasilkan pita DNA dengan ukuran 553 bp. Analisis sekuensing DNA menunjukkan homologi dengan Sus scrofa breed long lin. Berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan gelatin yang digunakan pada sediaan gummy A mengandung gelatin yang berasal dari babi Sus scrofa breed long lin

    Potensi Aktivitas Antiketombe dari Daun Jambu Air [Eugenia aqueum (Burm. F) Alston]

    No full text
    Daun jambu air telah banyak dikenal di masyarakat Indonesia sebagai pembungkus makanan sehingga makanan dapat disimpan lebih lama.  Hal ini menunjukkan  daun jambu air memiliki aktivitas antimikroba.  Jambu air telah diketahui  mengandung flavonoid and tanin yang memiliki khasiat anti jamur.  Penyakit infeksi karena jamur, merupakan penyakit dengan tingkat penderita yang tinggi di Indonesia, salah satu diantaranya adalah ketombe.  Ketombe disebabkan oleh Pityropsorum ovale.  Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan  secara ilmiah mengenai potensi aktivitas daun jambu air pada jamur penyebab ketombe. Evaluasi  dilakukan secara in vitro dengan metode  difusi agar menggunakan teknik sumur pada jamur penyebab ketombe yaitu Pityrosporum ovale dengan indikator capaian adalah terbentuknya zona hambatan pertumbuhan.  Hasil menunjukkan bahwa bahan uji berupa ekstrak etanol dan  fraksi ekstrak yaitu  fraksi n-heksan, etil asetat maupun air memiliki khasiat menghambat pertumbuhan Pityrosporum ovale masing-masing pada konsentrasi hambat minimum (KHM) : 1, 1, 0,5 dan 4% b/v. Aktivitas pada Pityrosporum ovale yang tertinggi ditunjukkan oleh fraksi etil asetat karena memiliki nilai KHM terendah. Berdasarkan hasil di atas dapat disimpulkan bahwa daun jambu air berpotensi untuk dikembangkan menjadi sediaan yang berkhasiat anti ketombe. Â

    180

    full texts

    364

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Sains Farmasi & Klinis
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇