Jurnal Sains Farmasi & Klinis
Not a member yet
    364 research outputs found

    Pengaruh Interaksi Ekstrak Etanol Meniran (Phyllanthus niruri L.) dengan Glibenklamid Terhadap Ekspresi gen CYP3A4 pada kultur sel HepG2

    No full text
    Diabetes Melitus (DM) merupakan suatu sindrom metabolik yang ditandai dengan peningkatan kadar gula (glukosa) darah atau hiperglikemia. Berbagai terapi dilakukan untuk menurunkan hiperglikemia menggunakan obat antidiabetes maupun tanaman herbal. Pada beberapa kasus penggunaan bersamaan obat diabetes oral dan herbal antidiabetes dapat menyebabkan interaksi antara kedua obat tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh interaksi ekstrak etanol meniran dengan glibenklamid terhadap ekspresi gen CYP3A4 pada kultur sel HepG2. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental kuantitatif dengan beberapa variabel, baik variabel independen (kombinasi ekstrak dan glibenklamid), dependen (ekspresi gen CYP3A4). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pada pemberian glibenklamid tunggal terjadi penurunan ekspresi gen CYP3A4, yaitu pada konsentrasi 100, 50, dan 25 µg/mL sebesar 0,74;0,74;0,94. Selanjutnya pada ekstrak meniran tunggal terjadi peningkatan ekspresi gen CYP3A4 seiring peningkatan konsentrasi ekstrak. Pada kombinasi ekstrak meniran dan glibenklamid terjadi penurunan ekspresi gen seiring dengan peningkatan konsentrasi pengujian. Pemberian kombinasi ekstrak meniran dan glibenklamid menurunkan ekspresi gen CYP3A4 seiring dengan peningkatan konsentrasi pengujian. Penurunan ekspresi gen CYP3A4 berimplikasi pada penurunan metabolisme oba

    Karakterisasi dan Uji Disolusi Aspirin Hasil Rekristalisasi Penguap Pelarut

    No full text
    Aspirin merupakan obat analgetik dan antipiretik yang termasuk dalam kelompok Biopharmaceutical Classification System (BCS) kelas II dengan kelarutan rendah dan absorpsi tinggi. Pada penelitian ini telah dilakukan modifikasi kristal aspirin untuk meningkatkan laju disolusi dengan menggunakan metode rekristaliasi penguapan 3 jenis pelarut yaitu methanol (AMP), tetrahidrofuran (ATP) dan kloroform (AKP). Karakteristik sifat fisikokimia hasil rekristalisasi aspirin dilakukan menggunakan mikroskop polarisasi, X-Ray difraktometer serbuk, Spektrofotometer IR, differential scanning calorimeter (DSC) dan thermogravimetric analysis (TGA) dan evaluasi terakhir dilakukan pengujian kelarutan dan disolusi. Kristal aspirin yang dihasilkan dari metode penguapan pelarut methanol (AMP), tetrahidrofuran (ATP), dan kloroform (AKP) menghasilkan bentuk kristal jarum dengan ujung yang runcing. Kristal aspirin murni (AS) memiliki bentuk yang sama yaitu prismatik. Hasil pengamatan pada spectrum IR dan termogram DSC menunjukkan tidak terjadinya perubahan yang signifikan dibandingkan dengan kristal murni (AS). Hasil analisis pola difraktogram PXRD untuk Kristal AMP memperlihatkan adanya perbedaan pola puncak pada posisi 2θ yang berbeda. Berdasarkan hasil ini dapat diketahui bahwa rekristaliasi aspirin dengan methanol (AMP) merupakan senyawa kimia yang sama dengan internal struktur kristal yang berbeda (polimorf). Hasil uji disolusi menggunakan tipe dayung dengan medium disolusi HCl 0,1 N diketahui bahwa kristal AMP, ATP, dan AKP memiliki laju disolusi yang lebih baik dibandingkan kristal AS

    Kekerabatan Genetik dan Indeks Resistensi Antibiotika Escherichia coli dari Air DAS Siak Provinsi Riau

    No full text
    Waterborne-disease masih memberikan angka prevalensi yang tinggi terutama di negara sedang berkembang. Keberadaan E. coli di perairan memberikan indikasi adanya cemaran pathogen dari feses hewan ataupun manusia. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa kekerabatan dan indeks resistensi antimikroba dari E.coli yang telah diisolasi dari DAS Siak, sungai terbesar yang melewati Provinsi Riau, yang masih digunakan oleh sebagian warga untuk aktivitas sehari-hari. Dendrogram yang dihasilkan dari gabungan 3 primer RAPD-PCR mampu membedakan tiap isolate uji. Intensitas penggunaan air sungai oleh warga dan kuatnya arus mempengaruhi distribusi mikroba indicator sanitasi tersebut dari Tapung hingga Perawang. Sifat resistensi antibiotika masih tergolong rendah (MAR index 0,142), namun eritromisin bukan merupakan antibiotika pilihan untuk diare akibat E.coli disebabkan seluruh isolate resisten terhadap antibiotika ini

    Perubahan Parameter Biokimia, Histopatologi Ginjal Tikus Spraque Dawley Pascahipoksia Oleh Ekstrak Akar Acalypha indica dan Herba Centella asiatica

    No full text
    Hipoksia kronik merupakan salah satu penyebab penyakit ginjal akibat peningkatan pembentukan Reactive Oxygen Species (ROS)  dalam sel. Kombinasi ekstrak akar Acalypha indica 250 mg/KgBB (AI250) dan Centella asiatica 150 mg/kgBB (CA150) memiliki efek neuroterapi pada tikus Spraque Dawley pascahipoksia. Penelitian dilakukan untuk membuktikan manfaat kombinasi ekstrak etanol dan/atau ekstrak tunggalnya dapat memperbaiki kerusakan ginjal tikus pascahipoksia melalui mekanisme antioksidan. 28 tikus jantan dikelompokkan dalam 7 kelompok: kontrol normal; kontrol hipoksia+air; hipoksia+(AI200+CA150); hipoksia+(AI250+CA100); hipoksia+AI250; hipoksia+CA150; hipoksia+vitamin C. Hipoksia selama 7 hari dalam hypoxic chamber berisi O2 10% dan N2 90%, 1 atm. Setiap kelompok diberi perlakuan selama 7 hari. Pada akhir studi hewan diterminasi. Darah dan organ ginjal diambil untuk pemeriksaan biokimia dan histopatologi.Kombinasi  (AI250+CA100) menurunkan kadar MDA ginjal dan plasma secara bermakna dibandingkan kontrol hipoksia (p=0,001 dan p=0,021) dan AI250 (p=0,003 dan 0,043). Kombinasi AI250+CA100 terjadi penurunan ekspresi relatif mRNA HIF-1α (p=0,014), kadar urea plasma (p=0,001) dan perbaikan lesi intra-glomerulus p=0,013.Kesimpulan: Kombinasi (AI250+CA100) dan tunggal AI250 memiliki aktivitas antioksidan terbaik dalam mencegah kerusakan ginjal pascahipoksia, secara biokimiawi dan histopatologinya

    Formulasi Emulgel Ekstrak Bawang Putih (Allium sativum L.)

    No full text
    Garlic have an activity as antifungal. Garlic extract need to be non spesific standarized to get consistent quality. Emulgel have hydrophobic or hidrophilic active substances because emulgel is a combination of emulsion and gel. This study aims to obtain the garlic extract emulgel formula which has good quality and good physical properties.The garlic extraction method maceration method with ethanol 96% as a solvent (1:7.5). Non spesific parameter of extract standardization were powder lost on drying, water content, ash content, acid-insoluble ash content, mass of extract spesification. Extract were standardized and then formulated in emulgel dosage form with 25% concentration of extract, then emulgel evaluated for physical properties include organoleptic test, homogeneity, pH, temperature stability, spreadability, stickiness, type of emulsion, and viscosity. The results showed rendemen of extract (8.90 ± 0.12)%,  lost on drying (6.85 ± 0.11)%, water content of extract (4.16 ± 1.4)%, ash content of powder (3.24 ± 0.02)% and extract (1.14  ±  0.03)%, acid-insoluble ash content powder (0.96 ± 0.02)% and extract (0.61 ±  0.07)%, the mass of extract spesification 1.028, and for the physical properties test of emulgel preparations obtained homogeneous emulgel, semisolid form, light brown color, smell of extract garlic, stable at 5ºC and 25ºC for 24 hours, pH 7, spreadability (2.49±0.12) g.cm.s-1, stickiness (61.99±5.81)seconds, type of emulsion o/w, viscosity(2.63±0.22) Pa.s. Based on the study was obtained garlic extract that fulfill the requirements of non spesific parameter standardization from Farmakope Herbal Indonesia and emulgel formulation of garlic extract has good physical properties

    Pengetahuan dan Sikap tentang Obat pada Orangtua Siswa SD di Kota Padang

    No full text
    Masalah keamanan obat pada anak seringkali diabaikan oleh orang tua. Anak masih dianggap sebagai pengguna pasif padahal anak sesuai dengan perkembangannya telah memiliki otonomi dalam penggunaan obat-obatannya sendiri. Untuk itu, anak perlu diberdayakan sesuai dengan pengetahuannya dibawah pengawasan orang tua. Penelitian ini bertujuan untuk melihat gambaran pengetahuan dan sikap orangtua tentang obat pada anak. Disain penelitian yang digunakan menggunakan disain studi kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Dari peneitian ini didapatkan bahwa pengetahuan orang tua siswa SD di kota Padang tentang obat dikategorikan sedang(69,20 %). Sedangkan sikap orang tua menunjukan sikap positif dengan persentase sikap positif (97,4%). Tidak adanya hubungan yang bermakna antara tingkat pengetahuan dan sikap  orang tua siswa SD di kota Padang. (P>0,05). Faktor yang mempengaruhi pengetahuan yaitu uhuamur, tempat tinggal, pekerjaan, pendidikan terakhir, dan tempat penyimpanan obat responden. Tidak adanya hubungan yang bermakna antara semua karakteristik terhadap sikap responden. Dapat disimpulkan bahwa perlu edukasi kepada orangtua agar dapat memberikan informasi tentang keamanan obat pada anak.  Â

    Studi In Silico, Sintesis, dan Uji Sitotoksik Senyawa P-Metoksi Kalkon terhadap Sel Kanker Payudara MCF-7

    Get PDF
    Kalkon (1,3-difenil-2-propene-1-on) adalah salah satu senyawa golongan flavonoid yang memiliki beragam aktivitas biologis diantaranya sebagai antikanker. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui  efek sitotoksik analog kalkon (E)-3-(4-metoksifenil)-1-fenilprop-2-en-1-on dengan menggunakan teknik komputerisasi (docking), senyawa analog kalkon tersebut disintesis menggunakan reaksi kondensasi Claisen-Schmidt dengan katalis basa secara metode iradiasi gelombang mikro. Studi in silico ini dilakukan antara senyawa kalkon dengan  protein dengan kode PDB ID P521 dengan menggunakan program AutoDock Vina, sedangkan uji aktivitas sitotoksik senyawa kalkon dilakukan terhadap sel kanker payudara MCF-7 menggunakan metode WST-8. Berdasarkan hasil docking, senyawa kalkon (E)-3-(4-metoksifenil)-1-fenilprop-2-en-1-on memiliki potensi sebagai penghambat aktif terhadap sel kanker payudara MCF-7 ditandai dengan senyawa ini memiliki nilai energi bebas ikatan yang lebih kecil dibandingkan doxorubicin sebagai pembanding; memiliki 4 persamaan asam amino dengan doxorubicin dimana interaksi yang terbentuk terdiri dari 4 jenis ikatan yaitu ikatan hidrogen, ikatan van der Waals, ikatan pi-sigma dan ikatan pi –alkil.  Dari hasil uji sitotoksik antara sel kanker MCF-7 dan senyawa kalkon diperoleh nilai IC50 sebesar 48,18 µg/mL. Dari penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa senyawa analog kalkon (E)-3-(4-metoksifenil)-1-fenilprop-2-en-1-on dapat berpotensi sebagai inhibitor terhadap sel kanker payudara MCF-

    Evaluasi Terapi  Adjuvant Hormonal  Dan Hubungannya Terhadap Outcome  Klinis  Pasien Kanker Payudara Stadium  Dini Di Kota Padang

    No full text
    Terapi adjuvant hormonal merupakan pilihan terapi yang efektif bagi pasien kanker payudara stadium dini dengan hormonal responsif dan Her-2 negatif. Outcome klinis dari terapi kanker payudara adalah Disease Free Survival (DFS), Overall Survival (OS). Penelitian ini bertujuan mengevaluasi terapi adjuvant hormonal dan pengaruhnya terhadap outcome klinis pasien. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan desain cross sectional study menggunakan data retrospektif registrasi kanker payudara Persatuan Ahli Bedah Onkologi Indonesia (PERABOI) Kota Padang selama periode 2008-2017. Analisis data menggunakan Kaplan Meier Analysis dengan Log rank. Diperoleh sebanyak 58 orang pasien yang memenuhi kriteri inklusi, dengan rerata umur yaitu 49,41 ± 8,69 tahun, kejadian relaps 22,4% dan sebanyak 6,9% pasien mengalami kematian. Terapi terbanyak pada pasien premenopause adalah tamoxifen (58,3%), pada pasien pascamenopause adalah Aromatase Inhibitor (54,5%). Secara statistik pada pasien premenopause tidak ada pengaruh terapi adjuvant hormonal yang berbeda terhadap DFS (P log rank test 0,243 dan HR = 0.513) dan OS (P log rank test 0,545 dan HR = 0.314). Pada pasien pascamenopause tidak ada pengaruh terapi yang berbeda terhadap DFS (P log rank test 0,586 dan HR = 0,10) dan OS (P log rank test 0,594 dan HR = 0,12)

    Analisis Ketepatan Pemilihan dan Penentuan Regimen Obat pada Pasien Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK)

    No full text
    Penyakit paru obstruktif kronik (PPOK) adalah penyakit kronis paru-paru dengan karakteristik resistensi aliran udara yang benar-benar tidak dapat dipulihkan atau pulih sebagian dan progresif. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah memperkirakan bahwa jumlah kasus COPD akan meningkat dari peringkat 6 pada tahun 1990 menjadi peringkat 3 pada tahun 2020 sebagai penyebab kematian paling umum di dunia, termasuk di Indonesia. Pentingnya menginformasikan keakuratan pemilihan obat dan penentuan regimen adalah untuk meningkatkan rasionalitas obat-obatan. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh gambaran ketepatan pemilihan obat dan penentuan regimen PPOK pada pasien dengan rawat inap COPD Mayor Jenderal H.A Thalib Kab.Kerinci. Jenis penelitian adalah deskriptif, pengambilan data dilakukan secara prospektif melalui rekam medis pasien untuk periode Maret-Mei 2018 dan dengan teknik pengumpulan data dalam bentuk total sampling. Sampel yang sesuai dengan kriteria inklusi penelitian diperoleh 30 sampel. Pada hasil penyajian data deskriptif, penilaian akurat berdasarkan pemberian obat COPD pada pasien ada pemilihan obat yang tepat yaitu 74,83%, penentuan regimen obat 100% dan evaluasi pemantauan pasien yang diobati COPD sembuh 100

    Perbandingan Kejadian Reaksi Obat yang Tidak Dikehendaki Antara Kontrasepsi Suntik Tunggal dan Kombinasi di Kota Bengkulu

    No full text
    Reaksi obat yang tidak dikehendaki (ROTD) adalah salah satu penyebab akseptor menghentikan penggunaan kontrasepsi. Penghentian kontrasepsi dapat meningkatkan kejadian kehamilan yang tidak dikehendaki. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan kejadian ROTD dari penggunaan kontrasepsi suntik tunggal (Depo Medroksi Progesteron Asetat) dan kontrasepsi suntik kombinasi (MPA/Estradiol Sipionat). Desain penelitian adalah cross sectional uji dua populasi. Jumlah sampel sebanyak 65 akseptor kontrasepsi suntik tunggal dan 62 akseptor kontrasepsi suntik kombinasi. Kejadian ROTD dianalisis menggunakan Chi-Square dan uji regresi logistik multivariat. Hasil penelitian menunjukkan kejadian ROTD gangguan menstruasi lebih banyak terjadi pada akseptor kontrasepsi suntik tunggal (89.2%) dibanding akseptor kontrasepsi suntik kombinasi (38.7%) dengan P-value <0.001. Kejadian ROTD mudah marah lebih banyak terjadi pada akseptor kontrasepsi suntik tunggal (67.7%) dibanding akseptor kontrasepsi suntik kombinasi (46.8%) dengan P-value 0.017. Kejadian ROTD kurang gairah seksual lebih banyak terjadi pada akseptor kontrasepsi suntik tunggal (56.9%) dibanding akseptor kontrasepsi suntik kombinasi (37.1%) dengan P-value 0.025. Kejadian ROTD sakit kepala lebih banyak terjadi pada akseptor kontrasepsi suntik tunggal (56.9%) dibanding akseptor kontrasepsi suntik kombinasi (50.0%), akan tetapi perbandingannya tidak signifikan (P-value 0.434). Kejadian ROTD gangguan menstruasi 13 kali lebih banyak terjadi pada akseptor kontrasepsi suntik tunggal dibanding kombinasi

    180

    full texts

    364

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Sains Farmasi & Klinis
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇