Jurnal Sains Farmasi & Klinis
Not a member yet
364 research outputs found
Sort by
Pengaruh Jumlah Polimer terhadap Karakteristik Fisik dan Pelepasan Nanopartikel Fraksi Diterpen Lakton Sambiloto - Kitosan
The diterpene lactone fraction of Andrographis paniculata Nees (sambiloto) (FDTLS) main compound is andrographolide. Andrographolide has poor bioavailability, high lipophilicity, and low solubility. Entrapping poorly soluble substances into a hydrophilic polymer, such as chitosan, could improve their dissolution, bioavailability, and activity. The purposes of this study were to improve the FDTLS dissolution and to compare the effect of different amounts of chitosan on physical characteristics, entrapment efficiency, and FDTLS release from nanoparticles, which was made by the ionic gelation-spray drying method using tripolyphosphate as a crosslinker. The nanoparticles were prepared with different FDTLS-chitosan ratios = 1:2 (FK1), 1:2.5 (FK2) and 1:3 (FK3). The nanoparticles were evaluated for its morphology, physical state using differential thermal analysis (DTA), Fourier-transform infrared spectroscopy (FTIR), X-ray powder diffraction (XRD), entrapment efficiency, and drug release. All the nanoparticles' formulas had a spherical shape and FK2 showed the smoothest surface with the highest enthalpy. FDTLS-chitosan nanoparticles diffractogram showed a more amorphous form. The FDTLS-chitosan nanoparticles entrapment efficiency was 29.01-32.69%. The FDTLS-chitosan nanoparticles showed an increased dissolution rate by 1.6 times compared to the FDTLS substance. The study concludes that the formation of nanoparticles using chitosan by ionic gelation-spray dry method could improve the dissolution of FDTLS.Fraksi diterpen lakton dari Andrographis paniculata Nees (sambiloto) (FDTLS) memiliki kandungan utama andrografolid. andrografolid diketahui memiliki bioavailabilitas buruk, bersifat sangat lipofilik, dan memiliki kelarutan yang rendah di dalam air. Penjebakan bahan sukar larut ke dalam polimer hidrofilik seperti kitosan dapat memperbaiki disolusi yang selanjutnya akan meningkatkan bioavailabilitas dan efektivitasnya. Tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan disolusi serta mengetahui pengaruh jumlah kitosan terhadap karakteristik fisik, efisiensi penjebakan dan pelepasan FDTLS dari nanopartikel FDTLS-kitosan. Nanopartikel dibuat dengan metode gelasi ionik-semprot kering menggunakan tripolifosfat sebagai penyambung silang. Nanopartikel dibuat dengan rasio FDTLS-kitosan yang berbeda, yaitu 1:2 (FK1), 1:2,5 (FK2) dan 1:3 (FK3). Evaluasi yang dilakukan meliputi morfologi, pemeriksaan differential thermal analysis (DTA), Fourier-transform infrared spectroscopy (FTIR), X-ray powder diffraction (XRD), efisiensi penjebakan, dan uji pelepasan. Nanopartikel yang dihasilkan berbentuk sferis dan FK2 mempunyai permukaan paling halus dengan entalpi paling tinggi. Difraktogram nanopartikel FDTLS-kitosan menunjukkan perubahan kristalinitas menjadi lebih amorf. Efisiensi penjerapan FDTLS dalam nanopartikel kitosan sebesar 29,01-32,69%. Hasil uji pelepasan nanopartikel menunjukkan peningkatan kecepatan FDTLS terlarut sebesar 1,6 kali dibandingkan dengan substansi FDTLS. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa pembentukan nanopartikel dengan polimer kitosan dengan metode gelasi ionik-semprot kering dapat meningkatkan jumlah FDTLS terlarut
Penggunaan D-Optimal Mixture Design untuk Optimasi dan Formulasi Self-Nano Emulsifying Drug Delivery System (SNEEDS) Asam Mefenamat
This study aimed to optimize and formulate the poorly water-soluble mefenamic acid in the self-nano emulsifying drug delivery system (SNEDDS) using D-optimal mixture design. The initial screening was carried out to determine phases of the oil, surfactants, and co-surfactants used to prepare the ternary phase diagram. D-optimal mixture design was used to optimize SNEDDS loading mefenamic acid by selecting SNEDDS composition as an independent factor and SNEDDS characterization as a response. SNEDDS in the optimal formula were characterized, including transmittance, particle size, polydispersity index (PDI), and zeta potential. Oleic acid, Tween 80, and polyethylene glycol (PEG) 400 were the selected oil, surfactant, and co-surfactant phases for their greatest ability to dissolve mefenamic acid. The optimization results showed that the optimal formula was that using 10% oleic acid, 80% of Tween 80, and 10% of PEG 400. SNEDDS loading mefenamic acid produced nanoemulsion with 88.5% of transmittance, 190.03 ± 1.18 nm of particle size, 0.469 ± 0.03 of PDI, and -44.1 ± 1.69 mV of zeta potential. This study concludes that the D-optimal mixture design can be used to optimize and prepare the SNEDDS loading poorly-water soluble mefenamic acid.Penelitian ini bertujuan untuk melakukan optimasi formulasi asam mefenamat yang sukar larut dalam air dalam bentuk sediaan Self-Nano Emulsifying Drug Delivery System (SNEDDS) menggunakan D-optimal mixture design. Skrining awal dilakukan untuk menentukan fase minyak, surfaktan dan ko-surfaktan yang akan digunakan untuk pembuatan diagram fase terner. D-optimal mixture design digunakan untuk mengoptimasi SNEDDS asam mefenamat dengan memilih komposisi SNEDDS sebagai faktor independent dan karakterisasi SNEDDS sebagai respons. Karakterisasi SNEDDS pada formula optimal meliputi transmitan, ukuran partikel, polidispersity index (PDI) dan zeta potensial. Asam oleat, Tween 80, dan polietilenglikol (PEG) 400 merupakan fase minyak, surfaktan, dan ko-surfaktan yang terpilih karena memiliki kemampuan paling tinggi dalam melarutkan asam mefenamat. Hasil optimasi menunjukkan bahwa formula optimal diperoleh pada komposisi 10% asam oleat, 80% Tween 80 dan 10% PEG 400. SNEDDS asam mefenamat tersebut menghasilkan nanoemulsi dengan transmitan 88,5%, ukuran partikel 190,03 ± 1,18 nm, PDI 0,469 ± 0,03, dan zeta potensial -44,1 ± 1,69 mV. Studi ini menyimpulkan bahwa D-optimal mixture design dapat digunakan untuk mengoptimasi dan formulasi SNEDDS asam mefenamat yang sukar larut dalam air
Formulasi dan Uji Sifat Fisik Sediaan Lulur Krim dari Ekstrak Etanol Daun Sirsak (Annona muricata L.) serta Penentuan Aktivitas Antioksidannya
The ethanolic extract of soursop leaves (Annona muricata L.) is reported as an antioxidant agent with an IC50 value of 14.48 µg/mL. This research aimed to examine physical characteristics and investigate the antioxidant activity of the ethanolic extract of soursop leaves in a scrub cream. Soursop leaves powder was extracted with 70% ethanol and formulated as scrub cream at the concentration of 1.4%, 2.8%, and 4.2%, then evaluated for physical characteristics. The antioxidant activity was evaluated using DPPH (1.1-diphenyl-2 picrylhydrazyl) method. The result showed that the scrub cream at all concentrations tested fulfilled all physical characteristics required for good topical preparations. These included organoleptic, homogeneity, viscosity, pH, spreadability, and adhesion. The IC50 value of the scrub cream at the concentration of 1.4%, 2.8 %, and 4.2% were 30.72, 26.82, and 24.03 µg/mL, respectively. The IC50 values indicated that the scrub creams exhibit radical scavenging activities which categorized as strong activity antioxidants.Ekstrak etanol daun sirsak (Annona muricata L.) dilaporkan memiliki aktivitas antioksidan dengan nilai konsentrasi hambat 50 (IC50) sebesar 14,48 µg/mL. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sifat fisik dan aktivitas antioksidan dari lulur krim ekstrak etanol daun sirsak. Serbuk kering daun sirsak diekstraksi dengan etanol 70% kemudian dibuat formula lulur krim dengan konsentrasi 1,4%, 2,8%, dan 4,2% lalu dilakukan uji sifat fisiknya. Aktivitas antioksidan ditentukan dengan metode DPPH (1,1-difenil-2-pikrilhidrazil). Hasil penelitian menunjukkan bahwa lulur krim ekstrak daun sirsak pada semua konsentrasi memenuhi semua persyaratan uji sifat fisik sediaan topikal yang baik. Hal ini meliputi organoleptis, homogenitas, viskositas, pH, daya sebar dan daya lekat. Nilai IC50 lulur krim ekstrak etanol daun sirsak dengan konsentrasi 1,4%; 2,8%; dan 4,2% adalah 30,72; 26,82; dan 24,03 µg/mL. Hal ini menunjukkan bahwa sediaan lulur krim ekstrak daun sirsak memiliki aktivitas antioksidan atau penangkapan radikal bebas dengan kategori sangat aktif
Gambaran Perilaku Keluarga dalam Menyimpan dan Membuang Obat Antibiotik di Kecamatan Pariangan, Kabupaten Tanah Datar
Risk factors for drug-related incidents can begins from problems in getting, using, storing and disposing of inappropriate drugs including antibiotics. The problem of antibiotic drugs has become a global problem that needs serious attention, including in Indonesia. The purpose of this study was to describe the behavior of families in storing and disposing of antibiotic drugs in Pariangan Subdistrict, Tanah Datar, Indonesia. The study used a cross sectional design with a purposive sampling technique. Based on the calculation of the number of samples by using Slovin formula, there were 100 families in Pariangan Subdistrict, Tanah Datar District that met the inclusion and exclusion criteria. This study used an instrument in the form of a questionnaire that met the validity and reliability test requirements. The data were analyzed by SPSS. The results showed that the family’s behavior in storing and disposing of antibiotics was sufficient with mean values of 6.07 and 6.90, respectively. Based on the correlation test, it can be concluded that there is no relationship between knowledge of families regarding of pharmacist profession and antibiotic drugs with family behavior in storing and disposing of antibiotics as indicated by a value of r = 0.163.Faktor resiko terjadinya insiden obat dapat berawal dari masalah cara mendapatkan, menggunakan, menyimpan dan membuang obat yang tidak tepat termasuk obat antibiotik. Masalah obat antibiotik telah menjadi persoalan global yang harus mendapatkan perhatian serius termasuk di Indonesia. Tujuan penelitian untuk melihat gambaran perilaku keluarga dalam menyimpan dan membuang obat antibiotik di Kecamatan Pariangan, Kabupaten Tanah Datar. Penelitian deskriptif ini menggunakan desain cross sectional dengan teknik pengambilan sampel secara purposive sampling. Berdasarkan perhitungan jumlah sampel dengan menggunakan rumus Slovin, diperoleh sebanyak 100 keluarga di Kecamatan Pariangan, Kabupaten Tanah Datar yang memenuhi kriteria inklusi dan ekslusi. Penelitian ini menggunakan instrument berupa kuesioner yang telah memenuhi syarat uji validitas dan reliabelitas. Analisis data dilakukan dengan menggunakan SPSS. Hasil penelitian menunjukan bahwa perilaku keluarga dalam menyimpan dan membuang obat antibiotik termasuk dalam kategori cukup dengan nilai mean masing-masing 6,07 dan 6,90. Berdasarkan hasil uji korelasi dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat hubungan antara pengetahuan keluarga terhadap profesi apoteker dan obat antibiotik dengan perilaku keluarga dalam menyimpan dan membuang obat antibiotik yang ditunjukan dengan nilai r = 0,163
Formulation of Eel (Monopterus albus) extract membranes for wound dressing using plasticizers
The types of wound dressing will affect wound healing processes. The membrane is one of the potential wound dressing that can maintain the moisture of the wound surface. The eel extract as an active ingredient could be added to the membrane formula to accelerate wound healing. This study aimed to formulate eel (Monopterus albus) extract membranes for wound dressing using some plasticizers. Polyvinyl alcohol (PVA) 146,000 was used as the polymer, while glycerol, propylene glycol,and polyethylene glycol (PEG) 400 were used as the plasticizers. Methylparaben and propylparaben were added as preservatives. Evaluations included thickness, water vapor permeability, and mechanical properties of the membranes that consisted oftensile strength, elongation at break, and Young's modulus were performed. The result showed that the use of different types of plasticizers affected the mechanical properties of the eel extract membrane. The formula that used glycerol as the plasticizer produced membranes with the best water vapor permeability and mechanical properties
Identifikasi Mekanisme Molekuler Senyawa Bioaktif Peptida Laut sebagai Kandidat Inhibitor Angiotensin-I Converting Enzyme (ACE)
Senyawa bioaktif peptida laut saat ini menjadi fokus penelitian karena memiliki sifat yang unik. Salah satu peran biologis penting dari senyawa peptida tersebut adalah sebagai agen antihipertensi terhadap aktivitas Angiotensin-I Converting Enzyme (ACE). Terdapat beberapa senyawa peptida yang telah terbukti mampu menghambat reseptor ACE, seperti senyawa peptida yang dihasilkan oleh teripang (Acaudina molpadioides), kerang biru (Mytilus edulis), dan ikan tuna (Thunnini). Dalam penelitian ini dilakukan identifikasi dan evaluasi terhadap interaksi yang terjadi antara senyawa peptida dengan reseptor ACE menggunakan motode penambatan molekuler berbasis protein-peptida. Sequencing senyawa peptida dimodelkan terlebih dahulu menggunakan server PEP-FOLD. Konformasi terbaik dipilih untuk dilakukan studi interaksi terhadap makromolekul reseptor ACE menggunakan software PatchDock. Interaksi yang terjadi diamati lebih lanjut menggunakan software BIOVIA Discovery Studio 2020. Berdasarkan hasil dari penambatan molekuler berbasis protein-peptida, senyawa peptida kerang biru dan ikan tuna memiliki afinitas yang baik terhadap reseptor ACE, yaitu dengan ACE score masing-masing adalah −391,62 kJ/mol dan −516,56 kJ/mol. Dengan demikian, senyawa bioaktif peptida laut tersebut diprediksi dapat dipilih sebagai kandidat inhibitor reseptor ACE berbasis peptid
Pengembangan dan Validasi Kuesioner untuk Menilai Miskonsepsi tentang Pengobatan pada Hipertensi dan Diabetes Melitus dengan Kejadian Gagal Ginjal
Miskonsepsi tentang pengobatan menjadi salah satu faktor tingginya ketidakpatuhan pengobatan. Masyarakat beranggapan bahwa penggunaan obat rutin pada hipertensi dan diabetes mellitus (DM) dapat menyebabkan gagal ginjal. Penelitian ini bertujuan untuk menyediakan kuesioner valid dan reliabel yang dapat digunakan untuk mengukur miskonsepsi masyarakat tentang pengobatan jangka panjang pada hipertensi dan DM dengan kejadian gagal ginjal. Pengembangan kuesioner dilakukan dalam 5 tahap yakni konseptualisasi, konstruksi alat ukur, uji coba melalui studi 1 pada 240 mahasiswa/i medis dan non-medis, dan studi 2 pada 300 masyarakat di wilayah Kabupaten Sleman, tes revisi dan selanjutnya tahap analisis melalui uji reliabilitas alpha cronbach. Sementara itu, uji validitas dilakukan dengan membandingkan kuesioner ini dengan kuesioner terpercaya lainnya. Hasil skala pengetahuan tentang terapi hipertensi dan DM terkait kejadian gagal ginjal pada studi 1 dan studi 2 tersusun atas 4 variabel pengetahuan meliputi: pengetahuan terapi hipertensi dan DMT (α 0.742, α 823), miskonsepsi penggunaan obat rutin (α 0.835, α 0.805), pengetahuan obat penyebab gagal ginjal (α 0.582), (α 0.581), serta pengetahuan faktor risiko gagal ginjal (α 0.721, α 0.698). Hasil analisis ini menunjukkan bukti awal dan menyediakan instumen valid dan relevan untuk mengukur tingkat miskonsepsi masyarakat tentang pengobatan jangka panjang pada hipertensi dan DM terkait dengan gagal ginjal
Penentuan Kadar Fenolat Total, Uji Aktivitas Antioksidan dan Antibakteri dari Ekstrak dan Fraksi Kulit Batang Bintangor (Calophyllum soulattri Burm. F)
Bintangor (Calophyllum soulatri Burm. F) merupakan tumbuhan dari familia Clusiaceae. Beberapa bagian dari tumbuhan ini seperti kulit batangnya telah lama digunakan sebagai obat tradisional. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kadar fenolat total, aktivitas antioksidan dan antibakteri dari kulit batang bintangor dalam bentuk ekstrak dan fraksi. Ekstrak kulit batang bintangor dibuat dengan teknik maserasi dengna pelarut etanol, sedangkan fraksinasi dilakukan dengan pelarut n-heksan, etil asetat dan butanol. Kadar fenolat total dari ekstrak dan fraksi ditentukan menggunakan metode Folin-Ciaocalteau. Aktivitas antioksidan ditentukan dengan metode Ferric Reducing Antioxidan Power, sedangkan aktivitas antibakteri dievaluasi dengan metode difusi agar terhadap bakteri patogen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar fenolat total tertinggi diperoleh dari ekstrak etanol (60,481 g/100 g), demikian juga dengan aktivitas antioksidan tertinggi (4,29 mmol Fe(II)/100 g). Aktivitas antibakteri paling baik diperlihatkan oleh ekstrak etanol dengan konsentrasi hambat minimum 0,8%, menghasilkan diameter hambat 6,96 mm, diikuti oleh fraksi n-heksan (konsentrasi 0,9%, menghasilkan diameter hambat 6,63 mm), fraksi etil asetat (konsentrasi 0,625%, menghasilkan diameter hambat 6,28 mm), dan fraksi butanol (konsentrasi 0,5%, menghasilkan diameter hambat 6,03 mm)
Formulasi dan Karakterisasi SNEDDS (Self Nanoemulsifying Drug Delivery System) Mengandung Minyak Jintan Hitam dan Minyak Zaitun
Self Nanoemulsifying Drug Delivery System (SNEDDS) diketahui mampu meningkatkan absorbsi oral dari senyawa senyawa hidrofob. Penelitian ini bertujuan untuk memformulasi dan mengkarakterisasi sediaan SNEDDS mengandung kombinasi minyak jintan hitam dan minyak zaitun. Penelitian diawali dengan analisis kandungan senyawa pada minyak jintan hitam dan minyak zaitun dengan metode Gas Chromatography Mass Spectrophotometry (GC-MS). Optimasi formula dilakukan dengan variasi konsentrasi minyak, surfaktan, dan kosurfaktan. Sediaan SNEDDS selanjutnya dikarakterisasi dengan pengujian persen transmitan, dispersibilitas, robustness, termodinamika (sentrifugasi, heating cooling cycle, freeze thaw cycle), penentuan ukuran serta morfologi globul nanoemulsi. Formula SNEDDS terbaik mengandung surfaktan cremophor RH 40 dan kosurfaktan PEG 400 (3:2) dengan perbandingan fase minyak dan campuran surfaktan kosurfaktan 1:7. Sediaan tersebut memenuhi persyaratan persen transmitan (97,27 ± 0,06%), uji dispersibilitas (grade A), stabil pada pengujian robustness dan termodinamika. Sediaan SNEDDS mampu membentuk nanoemulsi secara spontan dengan rata-rata ukuran globul 99 nm dengan globul berbentuk sferis. Studi ini menyimpulkan bahwa sediaan SNEDDS yang mengandung minyak jintan hitam dan minyak zaitun pada formula optimum memiliki karakteristik fisik yang baik
Formulasi Granul Effervescent Herba Meniran (Phyllanthus niruri L.) dengan Variasi Suspending Agent Xanthan Gum, CMC-Na, dan Kombinasi CMC-Na-Mikrokristalin Selulosa RC- 591
Herba meniran (Phyllanthus niruri L.) merupakan simplisia tanaman obat yang selama ini digunakan masyarakat dalam bentuk air rebusan. Formulasi herba meniran dalam bentuk granul effervescent dengan penambahan suspending agent merupakan salah satu bentuk inovasi minuman fungsional. Jenis suspending agent yang digunakan dalam formula memiliki pengaruh terhadap karakteristik granul. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh perbedaan jenis suspending agent xanthan gum (formula 1), CMC-Na (formula 2), dan kombinasi CMC-Na-mikroskristalin selulosa RC-591 (formula 3) dengan konsentrasi 1% terhadap karakteristik fisika dan kimia granul effervescent sebelum dan sesudah direkonstitusi. Formulasi granul effervescent herba meniran dilakukan dengan metode granulasi basah. Komponen asam dan basa digranulasi secara terpisah kemudian kedua komponen dicampur menggunakan tumbling mixer. Hasil penelitian menunjukkan bahwa granul effervescent yang dihasilkan memenuhi persyaratan dengan persentase fines sebesar 1,02-2,02%; kandungan lembap 3,76±0,13%-3,82±0,30%; kecepatan alir 7,85±0,10-10,92±0,04 g/detik; sudut istirahat 31,12±0,75-34,12±0,75°; waktu dispersi 66,95±5,50-70,26±0,03 detik; tinggi buih 3,01±0,12-3,22±0,25 cm; viskositas 222,0-242 cps; pH 6,73±0,10-6,91±0,01. Formula 1 merupakan formula terbaik karena menghasilkan waktu dispersi yang cepat, dispersi yang halus, dan viskositas yang lebih tinggi. Hasil evaluasi organoleptis dan sensori menunjukkan bahwa formula granul effervescent dalam penelitian ini dapat diterima oleh panelis.Â