e-Journal IAIN Bukittinggi (Institut Agama Islam Negeri)
Not a member yet
    784 research outputs found

    Understanding the Problem of Islamic Women’s Leadership in Indonesia: An Ecofeminism Analysis

    No full text
    This paper describes the problems of Muslim women’s leadership in Indonesia from an ecofeminist perspective. the issue changed preceded by a gender discourse that advanced in Indonesia, then discussing the connection between men and women, to research about the emergence of the issues of Muslim women's leadership in Indonesia through an ecofeminist approach. Consequently, troubles related to leadership for women need to be addressed and minimized with a purpose to recognize the standards of justice and equality as an excellent way to get the same opportunities to develop up to become leaders for Muslim women in Indonesia. This paper makes use of the kind of literature research. Thus, content analysis, critical discourse analysis, and deductive and inductive are used with the ecofeminist approach to reply to the problems experienced by using Muslim women in Indonesia.Tulisan ini memaparkan permasalahan kepemimpinan perempuan Muslim di Indonesia dari perspektif ekofeminis. Perubahan isu tersebut diawali dengan wacana gender yang berkembang di Indonesia, kemudian membahas keterkaitan antara laki-laki dan perempuan, hingga penelitian tentang munculnya isu-isu kepemimpinan perempuan Muslim di Indonesia melalui pendekatan ekofeminis. Oleh karena itu, permasalahan yang terkait dengan kepemimpinan bagi perempuan perlu ditanggulangi dan diminimalisir dengan tujuan untuk mengakui standar keadilan dan kesetaraan sebagai cara terbaik untuk mendapatkan kesempatan yang sama untuk berkembang menjadi pemimpin bagi perempuan Muslim di Indonesia. Makalah ini menggunakan jenis penelitian kepustakaan. Dengan demikian, analisis isi, analisis wacana kritis, dan deduktif dan induktif digunakan dengan pendekatan ekofeminis untuk menjawab permasalahan yang dialami perempuan muslim di Indonesia.

    Designing An E-Teacher Application as A Method of Digitizing Learning in SMKN 1 Ampek Angkek

    No full text
    ABSTRACTAn electronic teacher is an alternative form that teachers and students can use to conduct online learning. The focus of this research is to build a valid, practical, and effective research product in the form of an e-teacher application that can be used to digitize learning in the midst of the COVID-19 pandemic in SMKN 1 Ampek Angkek. This research uses research and development (RnD) methods. System development in this research refers to the waterfall model with five stages: requirements definition, system and software design, implementation and unit testing, integration and system testing, operation and maintenance. Furthermore, the product is tested with three types of product testing: validity, practicability, and effectiveness. The research results from the design of an e-teacher application to assist teachers and students in the learning process in the form of a website where teachers can add learning materials, learning tools, and exam questions. Students can also use the internet to access learning materials and take tests. The results of the validity test on 5 experts were 0.79, which was declared valid; the practicality test on 4 practitioners was 93, which was declared very practical; and the effectiveness test on 8 students was 0.79, which was declared effective. Based on the product test results, it is possible to conclude that the product of this research is worth to use in the learning process by teachers and students.Tujuan perancangan aplikasi e-guru ini adalah untuk membantu guru dan siswa dalam melakukan proses pembelajaran apabila tidak bertatap muka langsuang agar pembelajaran dapat berjalan sesuai dengan yang diharapkan. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian dan pengembangan (Reseacrh and Development) versi ADDIE (Analyze-Design-Develop- Impelentation-Evaluation). Model pengembangan sistem yang digunakan adalah model pengembangan sistem Waterfall dengan lima tahap, yaitu Definisi persyaratan, Perancangan sistem dan perangkat lunak, Implentasi dan pengujian unit, Integrasi dan pengujian sistem, Operasi dan pemeliharaan. Uji produk yang digunakan adalah Uji Validitas, Uji Praktikalitas, dan Uji Efektifitas. Hasil penelitian dari perancangan aplikasi e-guru untuk membantu guru dan siswa dalam melakukan proses pembelajaran yang berupa website yang mana guru dapat menambahkan materi pembelajaran, perangkat pembelajaran dan soal-soal pembelajaran. Sedangkan siswa dapat mengakses materi pembelajaran dan mengerjakan soal-soal secara online. Sedangkan, uji validitas yang terdiri dari 5 orang ahli diperoleh nilai0,79 dinyatakan valid (berdasarkan perhitungan validitas dengan formula aiken’s), uji praktikalitas yang terdiri dari 4 orang praktisi di peroleh nilai 93 yang dinyatakan sangat praktis dan untuk uji efektifitas yang terdiri dari 8 orang siswa di peroleh nilai 0,79 yang dinyatakan efektif

    Pelatihan Membuat Video Pembelajaran dengan Smartphone untuk Meningkatkan Kompetensi Guru-Guru SD di Pesisir Selatan

    No full text
    Pada situasi pandemi covid-19, pembelajaran di sekolah dilakukan secara online. Ini merupakan tantangan bagi guru untuk bisa beradaptasi dengan cepat dan menemukan solusi untuk mengatasi permasalahan yang muncul pada pembelajaran. Pembelajaran secara online memerlukan kecakapan dalam pemanfaatan IPTEK, misalnya dalam menyiapkan media. Penggunaan media video animasi untuk peserta didik di Sekolah Dasar sangat efektif untuk mencapai tujuan pembelajaran. Selain itu dapat meningkatkan motivasi belajar siswa mengikuti pembelajaran secara daring. Permasalahan yang muncul pada pembelajaran daring adalah guru-guru kesulitan dalam membuat video pembelajaran animasi. Tujuan pelatihan ini adalah membantu guru-guru membuat media berupa video beranimasi dengan smartphone dengan memanfaatkan aplikasi Kindmaster. Metode yang digunakan adalah presentasi, demonstrasi, praktek dan penugasan. Kegiatannya meliputi penjelasan tentang media, alat yang dibutuhkan, proses perekaman dan edit video. Hasil dari pelatihan ini adalah guru-guru mampu membuat video pembelajaran yang menarik dengan baik

    The Effect of Covert Rehearsal Model Towards Students’ Pronunciation Ability

    No full text
    This research aims to find the effect of Covert Rehearsal Model  on students’ pronunciation at second grade IPS of MAN 3 Pasaman Barat. The research was conducted at MAN 3 Pasaman Barat because most of the students still experience obstacles in mastering English, especially in pronunciation. Most students find it difficult to pronounce and distinguish the same sounds with different meaning, and the strategies used by the teacher are always the same. In teaching pronunciation, the teacher only asks the students to repeat the spoken word after her. The fact is the students were not provided with the right model. This research uses experimental research. It is a quasi-experimental design by using the  non-equivalent control group. The population of this reseach is 73 students. To  determine the sample, the researcher uses purposive sampling technique. The researcher chose the class XI IPS 1 and XI IPS 3 as the sample of this research. Class XI IPS 1 was treated as Experiment class which was taught by using Covert Rehearsal Model  and XI IPS 3 was treated as Control class which was taught by using conventional techniques. The data get  through pre-test and post-test to experimental and control classes. To analyze the data, the researcher used the normality and homogeneity tests by using SPSS 22 application. To test the hypothesis, the researcher uses t-test formula and consulted the result into a t - table with level of significant α= 0.05. From the result of the pre-test and post-test scores of the experimental class, the results of the t-test (5.283) are higher than the t-table (2.093).  So the alternative Hypothesis  (Ha) was accepted which means that there was a significant effect of using the effect of Covert Rehearsal Model Strategy towards students’ Pronunciation. Then, the final calculation of the two classes: experimental and control classes obtained that the t-count is greater than the t-table (50.75>49.86) so that the alternative hypothesis (Ha) is accepted which means that there is a significant difference between the use of the Covert Rehearsal Model with conventional techniques. Finally, it can be concluded that the Covert Rehearsal Model strategy have a significant effect on students' pronunciation abilities.Peneliti ini bertujuan untuk menemukan pengaruh penggunaan Covert Rehearsal Model terhadap pronunciation siswa kelas XI IPS MAN 3 Pasaman Barat. Penelitian ini dilakukan di MAN 3 Pasaman Barat karena sebagian besar siswa masih mengalami kendala dalam penguasaan Bahasa Inggris terutama pada pronunciation. Sebagian besar  siswa sulit melafalkan dan membedakan bunyi yang sama, dengan perbedaan makna yang sama, dan strategy yang di gunakan guru dalam mengajar selalu sama. Dalam mengajarkan pronunciation, guru hanya meminta siswa mengulang kata yang diucapkan setelahnya. Faktanya siswa tidak diberikan model yang tepat untuk meningkatkan kemampuan pronunciation. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian eksperimen. Peneliti menggunakan penelitian quasi eksperimen dengan menggunakan model non-equivalent. Populasi dari penelitian ini adalah 73 siswa. Peneliti menggunakan teknik purposive sampel untuk menentukan sampel penelitian ini. Peneliti memilih kelas kelas XI.IPS 1 dan kelas XI.IPS 3 di MAN 3 Pasaman Barat sebagai sample dari penelitian ini. Untuk kelas XI.IPS 3 diperlakukan sebagai kelas eksperimen yang di ajar dengan menggunakan strategi Covert Rehearsal Model. Sedangkan kelas XI. IPS 1 diperlakukan sebagai kelas kontrol yang di ajarkan dengan menggunakan teknik yang biasa. Data diperoleh melalui pre-tes dan post-tes untuk kelas control dan kelas eksperimen. Untuk menganalisis data, peneliti menggunakan tes normalitas dan homogenitas dengan menggunakan aplikasi SPSS 22. Sedangkan untuk menguji hypothesis, peneliti menggunakan uji-t dan mengkonsultasikan hasilnya dengan tabel t untuk hipotesis pertama kedua.Dari hasil perhitungan pre-tes dan post-tes dari kelas eksperimen terdapat hasil uji t-hitung (5,283) lebih tinggi dari pada t-tabel (2,093). Jadi hipotesis alternatif (Ha) diterima yang maknanya bahwa ada pengaruh yang signifikan dengan menggunakan strategi Covert Rehearsal Model. Kemudian, perhitungan akhir dari kedua kelas: kelas eksperimen dan kontrol diperoleh t-hitung lebih besar  dari pada t-tabel (50,75>49,86) sehingga hipotesis alternatif (Ha) diterima yang maknanya bahwa ada perbedaan yang signifikan antara penggunaan strategi Covert Rehearsal Model dengan teknik konvensional. Akhirnya dapat disimpulkan bahwa strategi Covert Rehearsal Model dapat memberikan efek yang signifikan terhadap kemampuan Pronunciation siswa

    The Effect of Using Story Pyramid Strategy Toward Students’ Reading Comprehension

    No full text
    This study aims to find out whether using story pyramid strategy can give the significant effect toward students reading comprehension in the eighth grade of MtsS TI Koto Tinggi. This research used experimental research. The total sample was 36 students of VIII A-VIII B classes. The researcher used the purposive sampling in determining the sample because there are only two classes and both are taught by the same teacher.  Reading comprehension test is a tool to collected the data.  The findings show that three hypotheses (Ha) were accepted. The first, the result of the pre-test and post-test of the experimental class indicated that the tobtained more than the ttable (3.004 > 1.960). Thus, the alternative hypothesis (Ha) was accepted that there was a significant effect of using story pyramid strategy toward students reading comprehension. The second, the result of the post-test experimental class and control class indicated that tobtained (4.820) more than ttable (1.960). Thus, the alternative hypothesis (Ha) was accepted that there was a significant difference between students who are taught b y using  story pyramid strategy and without using story pyramid strategy. The last, the result of the post-test of experimental and control indicated that the tobtained more than ttable ( 4.820 >  1.645). It was also found that the students reading comprehension by using story pyramid strategy were better than the students who are not taught by using story pyramid strategy.  So, it is proved that using story pyramid strategy can help students to increase their reading comprehension.Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah penggunaan story pyramid strategy ini dapat memberikan pengaruh yang significant terhadap pemahaman membaca siswa di kelas delapan MTsS TI Koto Tinggi. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian eksperimen. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas delapan di Mts S TI Koto Tinggi. Total sampel dari penelitian adalah 36 siswa yang mana 18 siswa kelas VIII A dan 18 siswa kelas VIII B. Tehnik pengambilan sampelnya menggunakan purposive sampling.  Temuan dari penelitian ini menunjukan bahwa, ketiga hipotesis (Ha)nya di terima. Pertama, hasil hitung (tobtained) dari pre-test dan  postest kelas eksperimen lebih besar dari ttable, (3,004 > 1960). Jadi, alternatif hipotesis (Ha) diterima yang artinya ada pengaruh penggunaan story pyramid strategy terhadap pemahaman siswa. Kedua, hasil post-test dari kelas eksperimen dan kelas kontrol didaptkan hasil hitung (tobtained) lebih tinggi daripada ttable , (4,820 > 1,960). Maka alternatif hipotesis (Ha) di terima yang mana terdapat perbedaan yang signifikan dari siswa yang diajar menggukan story pyramid strategy dengan yang tidak menggunakan strategi tersebut. Kemudian yang terakhir, hasil dari post-test kedua kelas didapatkan hasil hitung (tobtained) lebih tinggi daripada ttable, ( 4,820 > 1,645). Juga ditemukan bahwa pemahaman siswa yang diajarkan menggunakan story pyramid strategy lebih baik dari  siswa yang tidak menggunakan strategi tersebut. Jadi, ini bisa dibuktikan bahwa penggunaan story pyramid strategy ini dapat membantu siswa dalam meningkatkan pemahaman mereka dalam membac

    Pelatihan Penerapan Pendekatan Kontekstual dalam Pembelajaran Tematik bagi Guru MIN Korong Gadang Kota Padang

    No full text
    The goal is to have meaningful learning for MIN Korong Gadang students through the application of a contextual approach in thematic learning and learning plan documents that have thematic contextual nuances by incorporating three national education agendas, namely strengthening character education, strengthening literacy, and 21st century learning. quality learning outcomes in schools. The method of this community service activity uses the lecture, demonstration, and discussion methods. The results of this training can be declared successful. This can be seen from: (1) The attendance of participants is in accordance with the target of 95% (23 out of 25 teachers) (2) the results of the training are stated to be very good according to the analysis of the performance appraisal rubric. (3) Participants are very enthusiastic about participating in the training, which can be seen from the seriousness of participating in the training, the many questions that arise in the mentoring process and the willingness of the teacher to apply a contextual approach in thematic learning as well as create curriculum documents in the form of contextual and thematic syllabus and lesson plans that are integrative.Keywords:  approach, contextual, thematic, integrativ

    Kemampuan Literasi Matematika Siswa Berdasarkan Gender

    No full text
    Literacy is an ability that must be possessed by every individual (student). Literacy plays an important role for students. One of the literacy that must be mastered by students is mathematical literacy. Regarding mathematical literacy, many previous researchers have conducted research and even recent research related to this literacy ability is associated with gender. This study aims to map and describe students' literacy skills and differentiate students' literacy skills based on gender. This research is a literature study research by referring to eight article documents. The article documents used as sources were taken randomly from the internet. The results of the analysis of this article document are as follows: 1. Research related to literacy and gender is mostly carried out at the high school level than at the junior high school level, 2. The indicators used in assessing students' literacy abilities are indicators modified from indicators used by the Quasar General Rubric , indicators used by PISA and indicators referring to problem solving steps, and 3. male students' mathematical literacy skills are better than female students' mathematical literacy skills. Literasi merupakan kemampuan yang harus dimiliki oleh setiap individu (siswa). Literasi memegang peranan penting bagi siswa. Salah satu literasi yang harus dikuasai oleh siswa adalah literasi matematika. Terkait literasi matematika, sudah banyak peneliti terdahulu melakukan penelitian bahkan penelitian terkini terkait kemampuan literasi ini dikaitkan dengan gender. Penelitian ini bertujuan untuk memetakan dan mendeskripsikan kemampuan literasi siswa dan membedakan kemampuan literasi siswa berdasarkan gender. Penelitian ini adalah penelitian studi literatur dengan merujuk kepada delapan dokumen artikel. Dokumen-dokumen artikel yang digunakan sebagai sumber diambil secara acak dari internet. Hasil dari analisis terhadap dokumen artikel ini adalah sebagai berikut: 1. Penelitian terkait literasi dan gender lebih banyak dilakukan di tingkat SMA daripada tingkat SMP, 2. Indikator yang digunakan dalam menilai kemampuan literasi siswa yaitu indikator yang dimodifikasi dari indikator yang digunakan oleh Quasar General Rubric, indikator yang digunakan PISA dan indikator yang mengacu pada langkah-langkah penyelesaian masalah, dan 3. kemampuan literasi matematika siswa laki-laki lebih baik daripada kemampuan litetarasi matematika siswa perempuan

    Philosophical Dimensions of Punishment in Islamic Criminal Law

    No full text
    This study discusses the philosophical dimensions of punishment in terms of Islamic criminal law. Islamic criminal law has a goal that everyone does not want to commit a crime. So that Islamic criminal law is both preventive (prevention) and curative (their crimes deter the perpetrators of crimes). The formulation of the problem in this study is why people who commit crimes must be punished according to Islamic criminal law? The method used is a type of normative legal research; normative legal research is research conducted to collect and analyze secondary data. This study concludes that the provisions of the punishment contained in the Qur'an and al-Sunnah are Shari'ah that must be carried out. With this punishment, it aims to make people aware of the wickedness of evil so that it is embedded in their souls that all misdeed must be avoided whether seen by others or not, because Allah is always watching him wherever he is. When this thought is embedded in everyone, it will repress the misdeed in daily life or reduce crime in society.Penelitian ini membahas tentang dimensi filosofis pemidanaan dilihat dari segi hukum pidana Islam. Hukum pidana Islam memiliki tujuan agar setiap orang tidak mau melakukan tindakan kejahatan. Sehingga hukum pidana Islam ini bersifat preventif (pencegahan) maupun bersifat kuratif (agar berpelaku kejahatan merasa jera dengan Tindakan kejahatannya). Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah kenapa orang yang melakukan Tindakan kejahatan harus mendapatkan hukuman dilihat dari hukum pidana Islam? Metode yang digunakan adalah jenis penelitian hukum normatif. Penelitian hukum normatif adalah penelitian yang dilakukan untuk mengumpulkan dan menganalisis data sekunder. Kesimpulan dari penelitian ini adalah ketentuan hukuman yang terdapat dalam al-Qur’an dan al-Sunnah merupakan Syari’at yang harus dijalankan. Dengan hukuman itu bertujuan untuk menyadarkan masyarakat dari keburukan-keburukan kejahatan, sehingga tertanam di dalam jiwa bahwa semua kejahatan harus dihindari, baik dilihat oleh orang lain ataupun tidak, sebab Allah selalu mengawasinya di manapun dia berada. Apabila hal ini telah tertanam dalam diri semua orang, secara otomatis kejahatan tidak akan ada dipermukaan bumi, atau paling tidak bisa mengurangi kejahatan di tengah-tengah masyarakat.

    Women's Stereotypes in the Implementation of Reproductive and Productive Roles in Women Farmers' Households

    Full text link
    The role of the wife has an essential contribution in the household as the smallest unit in household life. Stereotypes are specific labels attached to women in their roles as wives, mothers, and in society. The research aims to analyze stereotypes among women who work as processed food producers to implement household gender roles. The method in this research uses descriptive qualitative. The study results show that the pattern of household gender relations for Ngudi Rejeki Women Farmer Group members is equal. Household problems may resolve on their own or require discussion. Ngudi Rejeki Women Farmer Group members work as a processed food producer with a processed product entity made from Moringa leaves. The stereotype of responsibility is held husband as the family head and the housewife as the wife's prominent role, in the household function the husband as the primary breadwinner and the wife as the additional breadwinner. In implementing the reproductive role, the wife has a more prominent role and the husband only a helping hand. Peranan istri memiliki berkontribusi penting dalam rumah tangga sebagai unit terkecil dalam kehidupan rumah tangga. Stereotip merupakan pelabelan tertentu yang melekat pada perempuan dalam perannya sebagai istri, ibu, dan pada masyarakat. Penelitian bertujuan untuk menganalisis stereotip pada perempuan produsen makanan olahan dalam pelaksanaan peran gender rumah tangga. Metode dalam penelitian ini menggunakan deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pola relasi gender rumah tangga anggota KWT Ngudi Rejeki ke arah setara. Permasalahan rumah tangga dapat selesai dengan sendirinya atau memerlukan pembahasan. Anggota KWT Ngudi Rejeki bekerja sebagai produsen makanan olahan dengan entitas produk olahan berbahan dasar daun kelor. Stereotip dalam hal tanggung jawab yaitu kepala keluarga dikonstruksikan sebagai tanggung jawab suami dan ibu rumah tangga menjadi tanggung jawab istri, pada fungsi rumah tangga dikonstruksikan suami sebagai pencari nafkah utama dan istri sebagai pencari nafkah tambahan, dan pada pelaksanaan peran reproduktif mengonstruksikan istri memiliki peran yang lebih utama dan suami sekedar membantu

    The Problem of Da'wah and Islamization in the Mentawai Islands

    No full text
    Islamization in Mentawai islands is amidst the majority of non-Muslim Protestant Christians and Catholic Christians. Not to mention the local beliefs held by the Mentawai people who are against Islam. The characteristics of the localities of the Mentawai people who are friendly, kind, and highly appreciative of guests are one of the reasons for Islamization in Mentawai. This research is a research library with a qualitative analysis approach—the data collection work through observation and interviews with preachers concerned with Islamization in the Mentawai. Data analysis techniques use data analysis techniques Miles and Huberman, data reduction, presentation, and conclusions. The process of accepting Islam in Mentawai was peaceful, but due to a lack of guidance, the Mentawai people became apostates again. The Mentawai people convert to Islam by negotiating, such as education, marriage, self-sufficiency, and poverty. Some Mentawi people have started to study tauhid, and many Muslim women have veiled a lot. However, there are still some who choose pigs, done in secret. The government urgently needs to pay attention to Islamization in the Mentawai. Islamisasi di Mentawai terjadi di tengah-tengah mayoritas nonmuslim, dimana lebih dominan masyarakat beragama Kristen Protestan dan Kristen Katolik. Belum lagi kepercayaan lokal yang dianut oleh masyarakat Mentawai yang bertentang dengan agama Islam. Karakteristik lokalitas masyarakat Mentawai yang ramah, baik dan sangat menghargai tamu menjadi salah satu alasan terjadinya Islamisasi di Mentawai. Penelitian ini merupakan kualitatif analisis. Data dikumpulkan melalui observasi dan wawancara dengan pendakwah yang peduli dengan Islamisasi di Mentawai. Untuk teknik analisis data menggunakan teknik analisis data Miles dan Huberman, yang terdiri dari reduksi data, penyajian dan kesimpulan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa proses Islamisasi yang terjadi di Mentawai berjalan damai, tetapi karena kurangnya pembinaan masyarakat Mentawai kembali menjadi murtad. Masyarakat Mentawai masuk Islam dengan melakukan negosiasi, seperti pendidikan, perkawinan, adanya kesadaran diri sendiri dan karena faktor kemiskinan. Sebagian masyarakat Mentawai sudah mulai belajar tauhid dan perempuan Muslim telah banyak berjilbab. Walaupun masih ada yang memelihara babi, tapi dilakukan secara sembunyi-sembunyi. Sangat diperlukan kepedulian dari pemerintah untuk memperhatikan Islamisasi di Mentawai

    293

    full texts

    784

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    e-Journal IAIN Bukittinggi (Institut Agama Islam Negeri)
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇