Universitas Diponegoro: Undip E-Journal System (UEJS) Portal
Not a member yet
9349 research outputs found
Sort by
Konsep Tasawuf Dalam Naskah Tepa Salira: Analisis Tematik
AbstrakObjek penelitian ini yaitu teks Mura>qabah Muh}a>sabah dalam naskah Tepa Salira . Naskah Tepa Salira merupakan naskah koleksi Perpusnas RI dengan kode panggilan NB 1565. Terdapat tiga teks piwulang yaitu Mura>qabah Muh{a>sabah , Tepa Salira , dan Gesanging Tiyang Upaminipun Kados Dene Urubing Dilah . Namun, dalam penelitian ini fokus terhadap teks Mura>qabah Muh{a>sabah . Teks tersebut jelas merupakan teks keagamaan namun ditulis dengan bahasa dan aksara Jawa. Hal ini bertolak belakang dengan tradisi pesantren yang menggunakan aksara Arab dan Pegon. Adanya jarak aksara dan bahasa perlu dijembatani agar teks tersebut dapat dipahami oleh pembaca masa kini. Dalam penelitian ini, penulis menggunakan analisis tematik dengan perspektif tasawuf akhlaqi. Analisis tematik digunakan untuk menganalisis tema-tema dengan perspektif tasawuf akhlaqi pada teks Mura>qabah Muh{a>sabah . Berdasarkan penelitian ini, penulis dapat menyimpulkan bahwa dalam teks Mura>qabah Muh{a>sabah mengandung lima subtema, yaitu pengertian mura>qabah dan muh{a>sabah ; penaklukan hawa nafsu; makna kalimat h{auqalah ; hubungan Tuhan dengan alam semesta; serta urgensi mura>qabah dan muh{a>sabah . Teks MM sangat relevan dengan kehidupan spiritual manusia di masa kini. Mura>qabah dan muh{a>sabah dapat menjadi perilaku yang membantu manusia untuk tetap berada di jalan yang benar dan mencapai ketenangan jiwa. Kata kunci : Mura>qabah Muh{a>sabah , analisis tematik, tasawuf akhlaqi.
Identifikasi Dan Kelimpahan Famili Acartiidae (Copepoda) Di Perairan Banggai, Sulawesi Tengah
Perairan Banggai merupakan salah satu laut yang memiliki upwelling atau fenomena kenaikan massa air pada periode tertentu. Peristiwa ini menyebabkan meningkatnya kandungan nutrien pada perairan disebabkan adanya proses pengadukkan massa air menuju kolom atas perairan yang mempengaruhi kelimpahan produsen primer dan produsen sekunder, salah satunya zooplankton dari Famili Acartiidae. Penelitian mengenai keberadaan dan kelimpahan spesies zooplankton belum banyak dilakukan di perairan bagian timur, terutama studi mengenai spesies-spesies dari Famili Acartiidae. Berdasarkan keterangan di atas, perlu adanya pengkajian keberadaan dan kelimpahan Acartiidae. Sampel zooplankton diperoleh dari proses pengambilan di 35 stasiun secara aktif vertikal menggunakan plankton net. Pengamatan dan pengambilan foto spesies plankon dilakukan di bawah Mikroskop Stereo Olympus SZ61 yang disesuaikan dengan ukuran zooplankton dengan perbesaran 30x sampai 45x. Hasil pencacahan diolah menggunakan Ms. Office Excel 2016 (Excel 16) untuk mengetahui jumlah keberadaan dan kelimpahan Famili Acartiidae. Terdapat 7 spesies famili Acartiidae dari genus Acartia dan Acartiella yang didapatkan di Perairan Banggai, Sulawesi Tengah, yaitu Acartia clausi, Acartia longiremis, Acartiella faoensis, Acartiella gravelyi, Acartiella minor, Acartiella natalensis, dan Acartiella tortaniformis. Spesies dengan sebaran distribusi terbesar atau memiliki kemunculan terbanyak adalah dari genus Acartia dengan Acartia clausi muncul di 14 stasiun. Total keberadaan famili Acartiidae di Perairan Banggai sebanyak 41 individu, meliputi 35 betina dan 6 jantan dengan rata-rata di semua stasiun penelitian sebanyak 2 individu
Pemetaan Tata Kelola Interaktif Jasa Provisioning Ekosistem Skala Kecil: Pendekatan Sistem Sosial-Ekologi Di Teluk Jor, Lombok Timur
The utilization of coastal and marine resources in Teluk Jor, East Lombok, faces significant pressures that threaten the sustainability of small-scale ecosystem provisioning services, such as mangroves, seagrass beds, and coral reefs. This study aims to map the social-ecological system (SES) network using the Social-Ecological Network Analysis (SENA) approach based on the Russian Doll Framework. Primary data were obtained through field observations and in-depth interviews with 68 respondents, including fishers, community leaders, fisheries extension officers, and relevant institutions. Secondary data were collected from previous literature reviews. The analysis results indicate that the Local Rule (customary regulations) holds the highest degree centrality (10), followed by ResThreat (ecosystem threats) such as mangrove conversion and destructive fishing practices (9), and HumConFac (human-made infrastructures) including floating net cages, salt ponds, and shrimp ponds (8). Regarding betweenness centrality, the Local Rule occupies the most central position (59.67), followed by HumConFac (49.83), ResThreat (32.67), and EcoQual (ecosystem quality) (24.50). These findings demonstrate that customary institutions play a crucial role in connecting governance actors, while economic activities and ecological threats significantly shape SES network dynamics. This study underscores the need for adaptive governance strategies that integrate collaboration among communities, government, and stakeholders to ensure ecosystem sustainability while supporting the well-being of coastal communities. Pemanfaatan sumber daya pesisir dan laut di Teluk Jor, Lombok Timur, menghadapi tekanan signifikan yang mengancam keberlanjutan jasa provisioning ekosistem skala kecil, seperti mangrove, lamun, dan terumbu karang. Penelitian ini bertujuan untuk memetakan jejaring social-ecological system (SES) menggunakan pendekatan social-ecological network analysis (SENA) berbasis Russian Doll Framework. Data primer diperoleh melalui observasi lapangan dan wawancara mendalam dengan 68 responden, mencakup nelayan, tokoh masyarakat, penyuluh perikanan, serta instansi terkait. Data sekunder dikumpulkan dari kajian literatur sebelumnya. Hasil analisis menunjukkan bahwa Local Rule (aturan lokal) memiliki nilai degree centrality tertinggi (10), diikuti oleh ResThreat (ancaman ekosistem) seperti konversi mangrove dan praktik perikanan destruktif (9), serta HumConFac (infrastruktur buatan) seperti KJA, tambak garam, dan tambak udang (8). Pada indikator betweenness centrality, Local Rule menempati posisi sentral (59,67), diikuti HumConFac (49,83), ResThreat (32,67), dan EcoQual (kualitas ekosistem) (24,50). Temuan ini menunjukkan bahwa kelembagaan adat memainkan peran penting dalam menghubungkan aktor-aktor tata kelola, sementara aktivitas ekonomi dan ancaman ekologis berperan besar dalam membentuk dinamika jaringan SES. Penelitian ini menegaskan perlunya strategi tata kelola adaptif yang mengintegrasikan kolaborasi antara masyarakat, pemerintah, dan pemangku kepentingan, guna menjaga keberlanjutan ekosistem sekaligus mendukung kesejahteraan masyarakat pesisir.
Epidemiology of Chikungunya Outbreak at Pelem Village, Boyolali, 2024
Introduction: There was no reported case of Chikungunya, during the last five years in Pelem Village, Boyolali, but on September 21, 2024, the Simo Health Center found a suspected case of chikungunya in Pelem Village. This study aimed to describe the chikungunya outbreak in Pelem Village, Boyolali Regency in 2024. Methods: A descriptive observational study was conducted based on epidemiological data according to the characteristics of people, places, and time. Data were collected through active case-finding, interviews using questionnaires, environmental observations, and confirmation cases using a Rapid Diagnostic Test (RDT). Results: A total of 54 cases were identified from June to September and were distributed across four hamlets. To confirm the outbreak, RDT was performed in 11 cases, and seven cases were positive for chikungunya. Common symptoms included fever and joint pain (100.0%), rashes (66.7%), muscle pain (57.4%), headache (42.6%), and nausea (38.9%). The cases mainly occurred in female (51.9%), those aged 27-46 years (37.0%), and those with a medical history (63.0%). Wonokerti hamlets had the highest attack rate (9%). Of the 26 houses observed in the environmental observations, 11 houses were positive for larvae (42.3%) with a container index of 22.2% and a Density Figure indicating the potential for chikungunya transmission. Conclusion: The Chikungunya outbreak in Pelem Village occurred from June to September 2024. The 3M+ method (Burying, Draining, and Recycling) should be implemented to increase mosquito nest eradication and conduct periodic larval monitoring
Analisis Epidemiologi dan Penyebab Kejadian Luar Biasa (KLB) Keracunan Makanan di Puskesmas Ngombol: Studi Kasus Keracunan Makanan Akibat Staphylococcus aureus
Background : On Saturday, July 12, 2024, there was an Extraordinary Event (KLB) of food poisoning at a mini workshop event at Ngombol Community Health Center, Purworejo Regency. A total of 57 people experienced symptoms of poisoning after consuming the food provided. An investigation was conducted to identify the source of the outbreak and associated risk factors.Methods : The investigation was conducted using a cross-sectional study design. Data were collected through a questionnaire containing information on risk factors and clinical signs and symptoms. A total of 65 event participants were sampled in this investigation. Analysis was descriptive, and attack rates were calculated for each factor. Samples of food waste (rice, chicken rica-rica, pickles, noodles and crackers) were collected for laboratory examination.Result : Of the 65 people, 57 experienced symptoms of diarrhea (100%), abdominal cramps (100%), fever (52.1%), vomiting (72.4%), and nausea (68.4%). %). Most cases were detected in women (92.6%) with an age range of 26-56 years (average 28 years). The incubation period was between 6-10 hours (mean 8 hours). The investigation showed that people who ate rica-rica chicken were sick (57/65; Attack Rate 87.6%). Laboratory tests of feces showed positive Staphylococcus aureus.Conclusion : The cause of the food poisoning was chicken rica-rica contaminated with Staphylococcus aureus. The contamination may have occurred due to prolonged storage of the food, from processing on Thursday afternoon (6 p.m.) to serving on Friday afternoon (1 p.m.)
Konstruksi Kinerja 100 Hari Pertama Pemerintah Daerah: Implementasi Kebijakan Revitalisasi Pasar di Kota Bengkulu
Penelitian ini bertujuan menganalisis bagaimana implementasi kebijakan revitalisasi pasar dalam periode 100 hari pertama kepemimpinan Walikota dan Wakil Walikota Kota Bengkulu terpilih, yang berfungsi sebagai instrumen konstruksi kinerja pemerintahan daerah di Kota Bengkulu. Kerangka teoritis mengintegrasikan teori konstruksi kinerja dari Hood, teori implementasi kebijakan Sabatier-Mazmanian, dan konsep legitimasi Weber. Metode penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan studi kasus, mengumpulkan data melalui wawancara mendalam dengan stakeholder kunci, observasi lapangan, dan analisis dokumen. Temuan menunjukkan bahwa implementasi revitalisasi empat pasar utama mencerminkan strategi konstruksi kinerja yang mengintegrasikan dimensi teknis, simbolik, dan komunikatif. Konfigurasi aktor yang heterogen dengan kepentingan berbeda memerlukan manajemen koalisi multistakeholder yang kompleks. Penetapan target 100 hari berfungsi sebagai instrumen komunikasi politik yang menciptakan ekspektasi publik dan mengukur komitmen pemerintahan baru. Konstruksi kinerja berhasil membangun legitimasi berbasis performa melalui pencapaian target teknis yang visible, namun menghadapi tantangan keberlanjutan karena keterbatasan waktu implementasi dan kompleksitas koordinasi stakeholder. Penelitianmenyimpulkan bahwa konstruksi kinerja pemerintahan daerah memerlukan keseimbangan antara pencapaian cepat untuk legitimasi dan investasi strategis untuk transformasi sistemik jangka panjang
Changes in Indonesian Export Commodities from Oil and Gas to Non-Oil and Gas, 1979-1987
Through four stages in the historical methods, this article examines the problem regarding the relationship between the oil and gas crisis in 1981 and government’s effort in developing non-oil and gas export using an economics approach method. Indonesia's economic condition in 1979-1980 was marked by the triumph of oil revenues due to the increase in international oil prices, which reached US3.928 million to US9.502 million in 1987, or an increase of 41% from 1986. Remarkably, in 1987, the value of non-oil and gas exports for the first time exceeded oil and gas exports, with US$661 million deviation
Kuta, Bali: From Port City to Surf City
Kuta’s port, once the center of Bali’s maritime trade, was gradually replaced by Buleleng’s port around the 1860s. The once-bustling Kuta dwindled into a small, impoverished village. However, by 1937, Kuta began attracting surf tourists, spurred by the opening of the Kuta Beach Hotel, which also offered surfing lessons to its guests. In 1942, the hotel was burned down by Japanese occupying forces, halting surfing activities until the late 1960s, when American hippie tourists revived the scene. They were followed by Australian hippies in 1973, leading to the spread of surfing across Bali’s white-sand, high-wave beaches. Unintentionally, this became the foundation of Kuta’s beach tourism. The evolution of Kuta from a harbor to a surfing port represents a compelling maritime historical phenomenon that merits further scholarly investigation. Data was gathered from surfers’ memoirs on websites and the collective memory of Denpasar youth active in Kuta during the 1960s–1970s, supplemented by humanities research on Kuta. This study reveals Kuta’s transformation into a Surf City, along with its accompanying socio-economic and cultural effects
Can Indonesian Palm Sugar Compete? An Analysis Of Comparative Advantage, Influencing Factors, And Competitive Position
Indonesian palm sugar commodities still face challenges such as household-scale production industries, lack of farmers’ knowledge, and quality standard compliance. There is a need to improve the processing industry and quality to meet national and international standards. This study analyzes and evaluates the competitiveness of Indonesian palm sugar in the international market using secondary data from 1998-2022 with quantitative descriptive statistics methods. Revealed Comparative Advantage (RCA) analysis shows that Indonesian palm sugar was not competitive from 1998 to 2010, with a value of 1. Error Correction Model (ECM) analysis reveals that factors affecting the competitiveness of palm sugar were export volume and export price, while the exchange rate of Rupiah to US Dollar and Indonesia’s Gross Domestic Product (GDP) per capita had no impact. The competitive position of Indonesian palm sugar using Export Product Dynamic (EPD) shows an average position of falling star, followed by rising star, retreat, and lost opportunity
Mikrofasies Batugamping Formasi Sentolo, Daerah Karangsari, Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta
Penelitian mikrofasies batugamping Formasi Sentolo dilakukan di daerah Karangsari, Kulon Progo, Yogyakarta. Formasi Sentolo terdiri dari batugamping dan perselingan napal-batugamping. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui variasi mikrofasies dan lingkungan pengendapanpada batugamping di Formasi Sentolo menggunakan analisis petrografi. Analisis dilakukan terhadap sepuluh sampel batugamping menggunakan metode petrografi untuk menginterpretasikan tipe mikrofasies dan lingkungan pengendapan, dengan delapan sampel di antaranya juga dianalisis foraminifera bentik besar untuk menentukan umur relatif. Karakteristik yang paling menonjol pada hasil analisis komposisi batuan adalah melimpahnya fragmen fosil foraminifera bentik besar dan alga. Analisis foraminifera bentik besar pada lokasi penelitian menunjukan umur Miosen (Te5–Tf), berdasarkan kehadiran asosiasi spesies Operculinoides panamensis, Amphistegina bowdenensis, Amphistegina lessonii, Operculina sp., dan Elphidium sp. Dua mikrofasies utama berhasil diidentifikasi, yaitu fasies foraminiferal wackestone yang mewakili lingkungan laut dalam toe-of-slope (FZ3), dan fasies amphistegina grainstone/ packstone yang mencerminkan lingkungan open marine (FZ7) pada bagian backreef. Perubahan lingkungan pengendapan dari laut dalam menuju laut dangkal mengindikasikan adanya pengaruh fluktuasi muka air laut serta kontrol morfologi sisa gunungapi purba terhadap sistem pengendapan karbonat di Pegunungan Kulon Progo