Universitas Diponegoro: Undip E-Journal System (UEJS) Portal
Not a member yet
9349 research outputs found
Sort by
Perancangan Resort Bintang 5 dengan Pendekatan Arsitektur Tradisional Sunda di Kabupaten Sukabumi
Jawa barat memiliki banyak sekali potensi pariwisata yang menarik untuk dikunjungi, salah satunya adalah yang ada di kawasan Pantai Pelabuhan Ratu, Kabupaten Sukabumi. Seiring meningkatnya minat para wisatawan lokal dan mancanegara dalam berkunjung ke kawasan tersebut, maka dibutuhkan fasilitas penginapan yang layak dan memadai agar dapat memberikan kenyamanan juga menyokong kebutuhan rekreasi bagi para pengunjung selama berada di kawasan tersebut. Resort dapat menjadi solusi mengenai hal tersebut karena resort menyediakan fasilitas yang lengkap dan terintegerasi dengan lingkungan sekitarnya, sehingga akan memberikan pengalaman berlibur atau berekreasi yang berkesan. Pada perencanaan kali ini, akan difokuskan pada perancangan resort di kawasan pantai Pelabuhan Ratu, Kabupaten Sukabumi. Resort ini disertai dengan pendekatan arsitektur tradisional sunda sebagai upaya untuk meningkatkan kelestarian kebudayaan tradisional sunda dan langgam arsitektur nusantara yang tiap waktunya semakin tergeser oleh langgam arsitektur luar negeri. Tujuan dari perencanaan ini adalah untuk merancang sebuah resort dengan pendekatan arsitektur tradisional sunda yang diharapkan akan menjadi salah satu tempat pariwisata unggulan di daerah Kabupaten Sukabumi, serta dapat menjadi media dalam upaya mempertahankan dan mengembangkan budaya tradisional sunda juga langgam arsitektur nusantara. Metode pembahasan dilakukan melalui landasan studi literatur tentang konsep resort dan pendekatan arsitektur tradisional sunda serta, survey lokasi untuk menganalisis karakteristik lingkungan sekitar. Hasil perencanaan menunjukan bahwa pendekatan arsitektur tradisional sunda dapat diterapkan pada desain resort tepi pantai di kawasan Kabupaten Sukabumi ini. Desain resort yang sesuai dengan karakteristik lingkungan dan budaya setempat akan memberikan pengalaman liburan yang sangat berkesan bagi para pengunjung serta meningkatkan daya tarik pariwisata di daerah Kabupaten Sukabumi dengan penyediaan fasilitas penginapan yang sangat memadai. Kesimpulan dari perencanaan ini adalah bahwa pembangunan resort di kawasan pantai Pelabuhan Ratu Kabupaten Sukabumi dengan pendekatan arsitektur tradisional sunda merupakan sebuah solusi untuk menghadirkan fasilitas akomodasi yang lengkap serta terintegerasi dengan lingkungan sekitarnya. Diharapkan hasil dari perencanaan ini dapat menjadi referensi untuk perancangan bangunan serupa pada kawasan wisata agar lebih memperhatikan nilai-nilai lokalitas dalam merancang sebuah bangunan pariwisata. Kata Kunci: Resort, Arsitektur Tradisional Sunda, Pantai Pelabuhan Ratu, Pariwisat
Tea Edu-Tourism Industry
Integrasi antara pariwisata berbasis edukasi dalam konteks industri teh dalam perencanaan dan perancangan arsitektur untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terharap pentingnya keberlanjutan industri teh yang mengalami penurunan dalam beberapa dekade terakhir, khususnya di Indonesia. Bagaimana arsitektur dapat menjadi sebuah solusi dalam menjawab tantangan industri teh melalui pendekatan desain yang mempertimbangkan lokalitas dan keberlanjutan, tetapi juga mendukung pelestarian budaya the sekaligus mendorong revitalisasi ekonomi lokal melalui pengalaman wisata edukasi. Pemanfaatan elemen kontekstual kawasan, seperti lanskap perkebunan teh dan praktik pengolahan teh, menjadi dasar dalam menciptakan ruang yang relevan. Pendekatan atmosphere oleh Peter Zumthor, yang menekankan pengalaman multisensori dan penciptaan suasana untuk membangun konektivitas antara manusia dan ruang menjadi pertimbangan untuk menghasilkan arsitektur yang tidak hanya berfungsi sebagai ruang fisik tetapi juga bermakna secara pengalaman. Kata Kunci: Wisata Edukasi, Teh, Industri, Atmosphere
Kawasan Ekowisata Mangrove di Desa Tapak, Semarang
Ekosistem mangrove memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan wilayah pesisir, seperti melindungi dari abrasi, penyedia tempat tinggal bagi biota-biota laut, serta berkontribusi pada mitigasi perubahan iklim. Namun, keberadaan mangrove sering kali terancam oleh aktivitas manusia yang tidak berkelanjutan, seperti alih fungsi lahan untuk keperluan industri. Kerusakan ekosistem mangrove tidak hanya berdampak pada perubahan fisik lingkungan pesisir tetapi juga berdampak pada kehidupan ekonomi dan sosial masyarakat pesisir. Tindakan perusakan mangrove dapat terjadi akibat kurangnya kesadaran lingkungan dan adanya anggapan bahwa mangrove tidak dapat meningkatkan taraf hidup dari kemiskinan serta pemahaman yang masih rendah terkait cara melestarikannya. Padahal selain berperan terhadap lingkungan ekosistem mangrove memiliki manfaat ekonomis, seperti dikelola menjadi sebuah ekowisata dan juga pengolahan buah mangrove sebagai bahan makanan. Oleh karena itu, diperlukan suatu fasilitas yang dapat mengedukasi masyarakat mengenai pentingnya pelestarian ekosistem mangrove melalui rekreasi alam yang menarik dan ramah lingkungan, yaitu dengan merancang suatu kawasan ekowisata mangrove dengan pendekatan arsitektur ekologi. Melalui rancangan kawasan ekowisata mangrove ini diharapkan dapat memberikan manfaat ganda berupa kesadaran lingkungan dan partisipasi aktif masyarakat dalam pelestarian mangrove sekaligus peningkatan kesejahteraan masyarakat lokal melalui pengelolaan ekowisata
Rusunawa Pekerja Industri Di Kawasan Industri Terboyo Semarang Dengan Pendekatan Arsitektur Ekologia
Pertumbuhan sektor industri di Kota Semarang, khususnya di Kawasan Industri Terboyo, meningkat pesat seiring dengan bertambahnya jumlah tenaga kerja. Namun, peningkatan ini menghadirkan risiko lingkungan, terutama munculnya permukiman kumuh akibat tingginya kepadatan penduduk. Masalah ini semakin diperburuk oleh banjir rob yang kerap melanda kawasan tersebut. Untuk mengatasi tantangan ini, diperlukan perancangan rumah susun sederhana sewa (rusunawa) yang efektif dan berkelanjutan sebagai solusi untuk mengurangi perkembangan permukiman kumuh. Pembahasan ini bertujuan merumuskan landasan konseptual perancangan rusunawa di Kawasan Industri Terboyo. Metode yang digunakan mencakup pengumpulan data melalui studi pustaka, observasi lapangan, serta dokumentasi berupa gambar dan foto dari lokasi. Pendekatan arsitektur ekologi dipilih karena mampu merespons tantangan lingkungan sekaligus memanfaatkan potensi alam secara optimal. Konsep ini menekankan pada penggunaan elemen alam dalam desain hunian, seperti pencahayaan alami, ventilasi yang baik, serta ruang hijau. Elemen-elemen ini tidak hanya meningkatkan kenyamanan penghuni tetapi juga berdampak pada produktivitas dan kualitas hidup pekerja. Desain rusunawa harus mencerminkan biaya sewa yang terjangkau bagi pekerja industri sekaligus responsif terhadap potensi dan permasalahan lingkungan, seperti banjir rob. Selain itu, penting untuk menyediakan ruang komunal yang memadai sebagai tempat interaksi sosial, mengingat mayoritas pekerja di kawasan ini berstatus lajang. Dengan pendekatan ini, rusunawa tidak hanya menjadi solusi permasalahan permukiman kumuh tetapi juga mendukung kehidupan yang lebih baik bagi para pekerja industri
Public Library And Communal Space Dengan Pendekatan Wayfinding Di Semarang
Seiring dengan perkembangan teknologi, buku fisik kini tidak lagi menjadi satu satunya sumber bacaan yang dominan karena masyarakat mulai beralih ke e-book. E book memiliki ukuran yang lebih compact dibandingkan dengan buku fisik sehingga dapat dibaca di mana saja dan kapan saja. Fenomena ini menyebabkan perpustakaan menghadapi tantangan dalam mempertahankan eksistensinya sebagai sumber informasi. Di Kota Semarang, Tingkat Gemar Membaca memiliki skor sebesar 69,17 yang termasuk dalam kategori tinggi. Namun, jumlah perpustakaan umum di Kota Semarang masih terbatas serta perpustakaan yang ada belum sepenuhnya mampu memenuhi kebutuhan manusia saat ini. Seiring dengan perkembangan zaman, perpustakaan juga terus berkembang dengan mencakup tiga aspek penting yakni pengetahuan, konektivitas, dan komunitas. Sehingga perpustakaan kini tidak hanya sebagai sumber ilmu pengetahuan saja tetapi juga sebagai ruang interaksi sosial yang mendukung kolaborasi dan pertukaran gagasan antar individu. Oleh karena itu, perlu adanya penambahan fasilitas berupa ruang komunal pada perpustakaan sebagai wadah interaksi sosial masyarakat. Pendekatan wayfinding diterapkan sebagai respon dari adanya dua fungsi bangunan yang berbeda. Sehingga bangunan ini diharapkan dapat menjadi suatu bangunan publik yang dapat mengakomodasi kebutuhan manusia sesuai dengan perkembangan zaman, serta baik perpustakaan dan ruang komunal dapat diakses dengan mudah oleh masyarakat
Pemetaan Bibliometrik (2020-2024) Senyawa Bioaktif Makroalga Laut sebagai Agen Antioksidan Terhadap Toksisitas Lingkungan
Makroalga laut adalah sumber metabolit sekunder dengan potensi sebagai antioksidan alami dan agen protektif terhadap toksisitas lingkungan. Studi ini bertujuan untuk memetakan tren dan fokus riset global mengenai senyawa bioaktif dari makroalga laut melalui pendekatan bibliometrik. Data publikasi dikumpulkan dari basis data Scopus untuk periode 2020–2024 menggunakan kombinasi kata kunci yang relevan dan dianalisis menggunakan perangkat lunak VOSviewer dan Publish or Perish. Sebanyak 81 artikel terpilih dianalisis untuk mengidentifikasi tren publikasi, distribusi negara dan institusi, jurnal yang paling berkontribusi, serta visualisasi kata kunci dan klaster tematik. Hasil menunjukkan peningkatan tren publikasi dalam lima tahun terakhir, dengan fokus utama pada aktivitas antioksidan, stres oksidatif, dan toksisitas lingkungan. Kata kunci seperti seaweed, antioxidant activity, dan oxidative stress merupakan istilah yang paling dominan. Senyawa seperti alginate, phloroglucinol, phlorotannins, asam lemak, serta fenolik diidentifikasi sebagai komponen bioaktif utama yang menunjukkan potensi tinggi dalam melindungi sel dari stres oksidatif akibat paparan polutan lingkungan. Selain itu, metode analisis seperti 2,2-diphenyl-1-picrylhydrazyl (DPPH) dan parameter enzimatik seperti superoxide dismutase (SOD) juga sering digunakan untuk mengevaluasi aktivitas biologis senyawa bioaktif makroalga laut. Pemetaan ini tidak hanya menegaskan relevansi makroalga dalam bidang kimia lingkungan, tetapi juga membuka peluang riset lanjutan seperti pengembangan sistem biosensor, aplikasi bioremediasi, serta eksplorasi senyawa baru dari makroalga lokal. Hasil studi ini diharapkan menjadi dasar ilmiah bagi pengembangan riset berkelanjutan berbasis sumber daya laut
Media Influences Determination of Tourist Destinations: Tourism Imaginaries Generated by Social Media Advertising
Technological developments have changed social aspects and influenced communication and marketing patterns in society. Social media has emerged as a bridge to the communication gaps that arise due to technology, especially in tourism marketing. Previously, tourism marketing was carried out through traditional methods such as print media, radio, and television advertisements. Social media offers a more efficient, modern, and accurate data-based method for analyzing consumer needs. Based on a survey of 16 informants aged 18-22 years, it was found that 80% of respondents preferred social media, such as Instagram and TikTok, as a source of tourism information compared to traditional media. This research also shows that non-commercial advertising, such as content shared by social media users, is more trustworthy because it presents more objective and detailed information about tourist destinations. Influencers, as part of the social media phenomenon, also play a big role in directing public interest in tourist destinations, although there is a risk of distrust regarding their credibility. Therefore, tourism managers need to work with highly integrity influencers to ensure the information's quality and authenticity. Additionally, comments and reviews from social media users are also an additional source of information that helps people make more informed travel decisions. This phenomenon also shows changes in modern tourism marketing, where community involvement through social media creates a space for interaction that enriches the tourist experience and increases public trust
The Association Between Intake of Saturated, Monounsaturated, and Polyunsaturated Fatty Acids with Bifidobacterium Abundance Among Obese Adults Without Metabolic Syndrome
Background: Bifidobacterium is a key gut microbe that contributes to host metabolism, immunity, and intestinal integrity through SCFA production. Dietary fats are known to modulate gut microbiota, but evidence on the effects of specific fat types—SFA, MUFA, PUFA—on Bifidobacterium in obese adults without metabolic syndrome remains limited.Objectives: To examine the association between intake of dietary fat types and the abundance of Bifidobacterium among obese adults without metabolic syndrome.Methods: A cross-sectional study was conducted in Semarang, Indonesia, involving 60 obese adults (BMI ≥ 25 kg/m²) without metabolic syndrome. Dietary intake was assessed using a validated SQ-FFQ, and Bifidobacterium abundance was quantified using qPCR from fecal samples. Correlation and multivariate linear regression - adjusted for age, sex, and energy intake - were used to assess associations between variables.Results: Saturated fat intake was moderately and negatively correlated with Bifidobacterium levels (r = –0.464; p < 0.001), while total fat intake also showed a statistically significant, but weaker, negative correlation (r = –0.346; p = 0.007). PUFA intake showed a weak but statistically significant positive correlation (r = 0.269; p = 0.037), whereas MUFA intake was not significantly associated. Multivariate analysis identified SFA as an independent negative predictor of Bifidobacterium abundance.Conclusion: High intake of saturated fat is associated with decreased Bifidobacterium levels even in obese adults without metabolic syndrome, whereas PUFA may exert modest protective effects. These findings suggest that the type of dietary fat, rather than its quantity, plays a key role in modulating gut microbiota composition
Tinjauan Implikasi Pusat Pertumbuhan terhadap Penggunaan Air Bersih
Kesenjangan dalam pembangunan menjadi tantangan yang tak terhindarkan karena perbedaan sumber daya alam dan kondisi demografi. Konsep pusat pertumbuhan diterapkan untuk mengatasi kesenjangan ini, namun peningkatan populasi dan konsentrasi kegiatan mendorong tingginya penggunaan air bersih yang seringkali tidak selaras dengan ketersediaan air. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi hubungan antara pusat pertumbuhan dan penggunaan air bersih di sektor-sektor seperti pariwisata, industri, pertanian dan peternakan. Menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif melalui studi literatur, penelitian ini mengidentifikasi karakteristik penggunaan air yang berbeda di masing-masing sektor. Temuan menunjukkan bahwa pertimbangan perencanaan kebutuhan air tidak hanya berdasarkan jumlah penduduk tetapi juga karakteristik spesifik dari setiap sektor kegiatan. Hasil temuan memberikan kontribusi penting terhadap pengetahuan tentang pengelolaan sumber daya air yang efektif dan berkelanjutan dalam konteks pembangunan pusat pertumbuhan, serta menawarkan rekomendasi untuk penyediaan air yang lebih responsif terhadap kebutuhan multisektor
Perbandingan Kondisi Terumbu Karang dan Hubungannya dengan Ikan Karang di Perairan Karimunjawa dan Bali
This study aims to compare the ecological conditions of coral reefs and reef fish communities between the shallow waters of Karimunjawa, Jepara (Java Sea) and North Bali waters (Buleleng Regency). The research was conducted at 6 stations (2 stations in Karimunjawa and 4 stations in Bali) with different depths. The coral reef observation method used Underwater Photo Transect (UPT), while reef fish observation was conducted using the Underwater Visual Census (UVC) method. Results showed that coral reef conditions in general were not significantly different between locations. However, the abundance, biomass and biodiversity of reef fishes were significantly different between Karimunjawa and Bali. Further analysis showed that coral growth form (lifeform) was a strong predictor of reef fish community structure, and related to reef fish trophic groups (corallivores, herbivores and carnivores). The abundance and diversity of reef fish species were not only influenced by live coral cover, but also by the complexity of habitat structure. These findings highlight the importance of local oceanographic and topographic factors in supporting reef fish abundance and diversity. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan kondisi ekologi terumbu karang dan komunitas ikan karang antara perairan dangkal Karimunjawa, Jepara (Laut Jawa) dan perairan Bali Utara (Kabupaten Buleleng). Penelitian dilakukan pada 6 stasiun (2 stasiun di Karimunjawa dan 4 stasiun di Bali) dengan kedalaman yang berbeda. Metode pengamatan terumbu karang menggunakan Underwater Photo Transect (UPT), sementara pengamatan ikan karang dilakukan dengan metode Underwater Visual Census (UVC). Hasil menunjukkan bahwa kondisi terumbu karang secara umum tidak berbeda nyata antar lokasi. Namun, kelimpahan, biomassa dan biodiversitas ikan karang berbeda nyata antara Karimunjawa dan Bali. Analisis lebih lanjut menunjukkan bahwa bentuk pertumbuhan karang (lifeform) adalah prediktor kuat struktur komunitas ikan karang, dan berhubungan dengan kelompok trofik ikan karang (koralivora, herbivora dan karnivora) Kelimpahan dan keragaman jenis ikan karang tidak hanya dipengaruhi oleh tutupan karang hidup, tetapi juga oleh kompleksitas struktur habitat. Temuan ini menyoroti pentingnya faktor oseanografi lokal dan topografi dalam mendukung kelimpahan dan keanekaragaman jenis ikan karang