Universitas Diponegoro: Undip E-Journal System (UEJS) Portal
Not a member yet
    9349 research outputs found

    The effect of supplementary feeding with cabbage (Brassica oleracea L.) at different time intervals on the growth of gourami fish (Osphronemus goramy)

    Get PDF
    Ikan gurami (Osphronemus goramy) merupakan ikan asli perairan Indonesia yang sudah menyebar ke seluruh perairan Asia Tenggara dan Cina. Pertumbuhan produksi ikan gurami yang meningkat berbanding lurus dengan biaya pakan yang tinggi, oleh karena itu upaya untuk menekan biaya produksi pakan ikan gurami (Osphronemus goramy) dapat dilakukan melalui perbaikan kombinasi pakan yang mampu menghasilkan pertumbuhan ikan secara optimal dengan cara pemberian pakan tambahan kubis yang mudah didapatkan dan berharga murah dengan interval waktu yang berbeda terhadap pembesaran ikan gurami (Osphronemus goramy). Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui pengaruh pemberian pakan tambahan kubis dengan interval waktu pemberian pakan yang berbeda terhadap pertumbuhan ikan gurami dan mengetahui  interval waktu pemberian terbaik pakan tambahan kubis. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen, rancangan acak lengkap (RAL) yang terdiri atas 4 perlakuan 3 kali ulangan dengan pemberian pakan dengan interval waktu yaitu A (interval waktu 0 hari), B (1 hari), C (2 hari) dan D (3 hari). Ikan uji yang digunakan yaitu ikan gurami ukuran rata-rata 8,9±0,1 cm dengan bobot rata-rata 10,5±0,24 gram/ekor. Wadah pemeliharan ikan gurami menggunakan hapa berukuran (1x1x1 m). Padat tebar per hapa 30 ekor/m2 dengan lama pemeliharaan 42 hari. Hasil penelitian menunjukan bahwa pemberian pakan tambahan kubis dengan interval waktu yang berbeda terhadap pembesaran ikan gurami hanya berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap total konsumsi pakan (TKP) pada perlakuan A (0 hari) yang menghasilkan TKP (511,6±37,8gr), namun tidak berpengaruh nyata terhadap rasio konversi pakan (FCR), laju pertumbuhan relatif (RGR), pertumbuhan bobot dan panjang mutlak serta kelulushidupan (SR). Kualitas air menunjukan cukup optimal dengan hasil suhu 21-28,4℃, pH 7-8,5 dan DO 2,6-9 mg/L

    Evaluasi Ketersediaan Prasarana Permukiman Di Kelurahan Wulung

    Get PDF
    Peningkatan jumlah penduduk berpengaruh terhadap peningkatan aktivitas masyarakat. Peningkatan aktivitas masyarakat perlu diimbangi dengan penyediaan prasarana penunjang yang memadai mengacu pada SNI 03-1733-2004. Sebagai pusat kegiatan lokal di Kecamatan Randublatung, kelurahan wulung dilengkapi prasarana yang cukup lengkap. Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah mengevaluasi ketersediaan prasarana permukiman di Kelurahan Wulung berdasarkan SNI dan persepsi masyarakat. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan analisis deskriptif kuantitatif dan komparatif. Analisis deskriptif kuantitatif digunakan untuk identifikasi hasil survei ketersediaan dan kondisi prasarana di lapangan serta hasil kuesioner. Analisis deskriptif komparatif digunakan untuk membandingkan hasil temuan dengan SNI dan persepsi masyarakat. Hasil yang didapat dalam penelitian ini yaitu ketersediaan prasarana permukiman di Kelurahan Wulung telah memenuhi standar dengan kondisi baik, permasalahan terjadi pada jaringan drainase yang mengalami penyumbatan akibat tanaman liar dan sampah, serta pada jaringan persampahan yang masih ditemukan sampah di pinggir jalan dan tepian sungai akibat kurangnya jangkauan pelayanan

    Studi Waveform Retracking Jason-2 di Pesisir Barat Daya Sumatera

    Get PDF
    Monitoring sea level changes in coastal areas is critical to understand ocean dynamics and their impact on the environment and human activities. Satellite altimetry has been the main tool in these studies, but its use in coastal areas still faces obstacles, especially due to variations in waveforms reflected from the sea surface. This study evaluates the accuracy of several altimetry waveform retracking methods (OCOG, Threshold 10%, and Threshold 30% ) on the southwest coast of Sumatra. The analysis was conducted using Jason-2 data on two passes, namely pass 077 and pass 153, with validation against two tide gauge stations nearby. Results showed that the Threshold 30% method provided a more accurate estimation of the Leading Edge Point (LEP) position than the other methods, with an average difference of only 0.1 gates (0.32%) from the reference value. Meanwhile, the OCOG method has the worst performance with a difference of 6.27 gates (20.22%), indicating its inability to handle coastal waveform variations on the location. Validation of the tide gauge data shows that retracking with a 10% Threshold improves the precision of Sea Surface Height (SSH) data with the highest IMP improvement value of 65.2% and the smallest standard deviation on the Threshold 30%. This finding confirms that choosing the right retracking method plays a crucial role in improving the accuracy of satellite altimetry in coastal areas. Therefore, the Threshold method is recommended for further analysis to improve the quality of altimetry data in coastal Indonesia.   Pemantauan perubahan muka air laut di wilayah pesisir sangat penting untuk memahami dinamika laut dan dampaknya terhadap lingkungan serta aktivitas manusia. Satelit Altimetri telah menjadi alat utama dalam studi ini, tetapi penggunaannya di wilayah pesisir masih menghadapi tantangan, terutama akibat variasi bentuk waveform yang dipantulkan dari permukaan laut. Studi ini mengevaluasi keakuratan metode waveform retracking altimetri OCOG, Threshold 10%, dan Threshold 30% di pesisir barat daya Sumatra. Analisis dilakukan menggunakan data Jason-2 pada dua jalur lintasan, yaitu pass 077 dan pass 153, dengan validasi terhadap data pasang surut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode Threshold 30% memberikan estimasi posisi Leading Edge Point (LEP) yang lebih akurat dibandingkan metode lainnya, dengan selisih rata-rata hanya 0,1 gate (0,32%) dari nilai referensi. Sementara itu, metode OCOG memiliki performa paling tidak akurat dengan selisih sebesar 6,27 gate (20,22%), yang mengindikasikan ketidakmampuannya dalam menangani variasi waveform di pesisir. Validasi terhadap data pasang surut menunjukkan bahwa retracking dengan Threshold 10% meningkatkan presisi data Sea Surface Height (SSH) dengan nilai peningkatan IMP tertinggi sebesar 65,2% dan standar deviasi terkecil pada metode Threshold 30%. Temuan ini menegaskan bahwa pemilihan metode retracking yang tepat berperan krusial dalam meningkatkan akurasi satelit altimetri di wilayah pesisir. Oleh karena itu, metode Threshold direkomendasikan untuk analisis lebih lanjut guna meningkatkan kualitas data altimetri di kawasan pesisir Indonesia

    Histomorfometri Jantung dan Aorta Itik Hibrida yang Diberi Pakan Imbuhan Tepung Daun Kelor (Moringa oleifera Lam.)

    Get PDF
    Jantung dan aorta merupakan organ penting dalam sistem sirkulasi. Penelitian ini dirancang dengan tujuan menganalisis histomorfometri jantung dan aorta itik hibrida yang diberi imbuhan pakan tepung daun kelor. Itik yang digunakan adalah itik hibrida jantan berjumlah tiga puluh dua ekor dibagi ke dalam empat jenis perlakuan, yaitu K0: Pakan standar (pakan tanpa imbuhan tepung daun kelor), K1: pakan dengan imbuhan tepung daun kelor 2,5%, K2: pakan dengan imbuhan tepung daun kelor 5%, dan K3: pakan dengan imbuhan tepung daun kelor 7,5%. Masing-masing perlakuan terdiri atas delapan ekor itik. Imbuhan pakan diberikan selama enam minggu. Histomorfometri jantung dan aorta diperoleh dengan pembuatan preparat histologi metode parafin dan pewarnaan hematoksilin eosin. Data penelitian dianalisis menggunakan analisis sidik ragam dengan software SPSS versi 26. Hasil penelitian memperlihatkan imbuhan pakan tepung daun kelor tidak berpengaruh (P>0,05) terhadap bobot jantung, tebal epikardium, miokardium, endokardium, tebal tunika adventisia, tunika media, dan tunika intima. Kesimpulan dari penelitian bahwa pemberian imbuhan tepung daun kelor konsentrasi 2,5%, 5%, dan 7,5% tidak mengubah struktur histologi jantung maupun aorta sehingga aman dipergunakan sebagai aditif pakan itik. The heart and aorta are important organs in the circulatory system. This study was designed to analyze the histomorphometry of the heart and aorta of hybrid ducks given feed supplemented with moringa leaf powder. The research used a Completely Randomized Design (CRD) with four types of treatments, i.e., K0: standard feed (without the addition of moringa leaf meal), K1: feed with the addition of 2.5% moringa leaf meal, K2: feed with the addition of 5% moringa leaf meal, and K3: feed with the addition of 7.5% moringa leaf meal. Data were analyzed using analysis of variance. The results indicated that the addition of moringa leaf meal to the feed had no effect (P > 0.05) on heart weight, epicardium thickness, myocardium, endocardium, adventitia tunica, media tunica, and intima tunica. The conclusion of the study is that the addition of moringa leaf powder at concentrations of 2.5%, 5%, and 7.5% did not alter the histological structure of the heart or aorta, making it applicable as a duck feed additive. Additionally, the findings suggest that moringa leaf powder is a safe option for enhancing the nutritional profile of duck feed without compromising cardiovascular health

    Strategi pemasaran hasil panen akuakultur pada berbagai level pokdakan di Kabupaten Banyumas

    Get PDF
    Kelompok pembudidaya ikan (Pokdakan) adalah kumpulan pembudidaya ikan yang terorganisir, mempunyai pengurus, aturan – aturan serta tumbuh dan berkembang atas dasar perasaan saling tertarik, karena kebutuhan akan tukar menukar informasi untuk saling melengkapi dan kesamaan kepentingan dan kesamaan kondisi lingkungan (sosial, ekonomi dan sumberdaya) untuk mengembangkan usaha perikanan anggotanya. Pokdakan terbagi menjadi 3 level, yaitu level pemula, madya dan utama. Pemasaran merupakan bagian tak terpisahkan dari budidaya ikan karena dengan pemasaran produk yang diproduksi dapat sampai ke tangan kosumen. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui perbedaan strategi pemasaran antara level pemula, madya dan utama. Penelitian yang dilakukan merupakan penelitian kualitatif. Responden merupakan anggota pokdakan di Kabupaten Banyumas sejumlah 8 orang dan 1 informan sebagai penguji keabsahan sumber data penelitian. Hasil temuan penelitian menunjukkan perbedaan strategi pemasaran antar pokdakan lebih disebabkan karena kebijakan tiap-tiap pokdakan dalam mengenali dan menyelesaikan masalah yang mereka hadapi bukan disebabkan karena perbedaan level pokdakan. Tidak banyak perbedaan antara pokdakan level pemula dan madya dalam aspek pemasaran

    ANALYSIS OF INCOME AND FEASIBILITY OF RICE-FISH ORGANIC FARMING (CASE STUDY IN JABUNG VILLAGE, TALUN DISTRICT)

    Get PDF
    In order to increase agricultural production, especially food crops, it can be done by diversification. Where one form of diversification is by trying to combine food farming with other farming businesses, fish or more precisely called an integrated farming system. An integrated farming system is a method of fish cultivation combined with rice farming in the same land which must lead to increased efficiency of land use, because various types of businesses are applied. This integrated farming system or rice-fish farming is a novelty that is being tried at the research site. The purpose of this study is to analyze the level of production costs, income and profits in this organic rice-fish farming business. This research was conducted in Jabung Village, Talun District, Blitar Regency and used farming business analysis (costs, income and efficiency). The results of the study showed that   the total production cost of pattern I was Rp 11,346,982 per ha and pattern II was Rp 9,313,160 per ha. The average total income of pattern I was Rp 32,440,000 per ha and pattern II was Rp 27,700,000 per ha. The average income of pattern I was Rp 20,233,018 per ha and pattern II was Rp 17,526,840 per ha. The R/C Ratio results obtained values in pattern I (2.96)> 1 and pattern II (2.97)> 1. Thus, this organic fish and rice farming business is efficient and profitable, so it is worth continuing the farming business

    Industri Kreatif Kerajinan Rotan dan Pemberdayaan Munculnya Desa Wisata Trangsan Kec. Gatak Kab. Sukoharjo (2009-2022)

    Get PDF
    Artikel ini berjudul “ Industri Kreatif Kerajinan Rotan dan Pemberdayaan Munculnya Desa Wisata Trangsan Kec. Gatak Kab. Sukoharjo (2009-2022). Permasalahan yang menjadi fokus tulisan adalah pengaruh  perkembangan industry kreatif rotan dan keberadaan desa wisata di desa Trangsan Kec. Gatak Kab. Sukoharjo. Tulisan ini menggunakan , metode sejarah kritis yang mencakup empat langkah, yaitu heuristik atau mencari dan mengumpulkan sumber sejarah, kemudian melakukan kritik intern dan ekstern agar sumber yang sudah diperoleh menjadi kredibel dan otentik, sintesis terhadap fakta yang ada, dan historiografi berupa penulisan sejarah ke dalam bentuk sejarah kritis. Artikel ini menguraikan hal-hal yang berkaitan dengan industri kerajinan rotan, usaha-usaha pengembangan industri kerajinan rotan, faktor pendorong eksistensi kerajinan rotan berupa dukungan dari pemerintah dan komunitas pengrajin rotan. Melalui upaya-upaya pengembangan industri kreatif rotan tersebut mampu mengangkat desa Trangsan sebagai desa wisata yang memberdayakan sebagaian besar masyarakatnya untuk mengambil peran dalam pekerjaan sebagai pengarajin dan pengusaha rotan

    Pelaksanaan Information Sharing Mengenai Pelayanan Mahasiswa Melalui Pemanfaatan Media Sosial di Universitas Terbuka Bandung

    Get PDF
    Information sharing merupakan kegiatan yang perlu dilakukan oleh perguruan tinggi dalam membagikan informasi yang dimiliki untuk civitas akademik terutama mahasiswanya. Hal ini dikarenakan saat ini mahasiswa di UT Bandung didominasi kalangan generasi mulenial dan generasi Z. Agar kebutuhan akan informasi ini dapat terpenuhi maka perlu adanya media sosial sebagai platform untuk berbagi informasi. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pelaksanaan kegiatan information sharing, kategori media sosial yang digunakan, dan tantangan yang dihadapi oleh Universitas Terbuka (UT) Bandung dalam melaksanakan information sharing pelayanan mahasiswa melalui media sosial yang dilihat dari dimensi people, purpose/goal, content, level of proactiveness, mode. Metode dalam penelitian ini melalui pendekatan kualitatif. Teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Informan dalam penelitian ini terdiri dari manajer pembelajaran, pengelola media sosial dan mahasiswa UT Bandung. Adapun teknik yang digunakan dalam menganalisis data dalam penelitian ini adalah analisis model Miles and Huberman, yaitu reduksi data, penyajian data, dan simpulan. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan September hingga November 2024. Hasil penelitian menunjukkan, bahwa UT Bandung telah melaksanakan information sharing dengan sasaran utama mahasiswa dan calon mahasiswa. Media sosial yang digunakan adalah Instagram, TikTok, YouTube, dan Facebook. Adapun tantangan dalam information sharing melaui media sosial adalah adanya tuntutan konten yang menaik, sesuai trend dan kurangnya sumber daya manusia

    ANALYZING CODE-SWITCHING AND CODE-MIXING USED BY JERRY BAYNARD AND DIANA BARRY IN THE TV SERIES ANNE WITH AN E

    Get PDF
    This article focuses on analyzing code-switching and code-mixing in English-French-speaking characters utilized by Jerry Baynard and Diana Barry. Jerry and Diana acquired different second languages and they have different backgrounds. Jerry's second language is English and he comes from a lower class family. Meanwhile, Diana's second language is French and she comes from a wealthy and well-mannered family. A descriptive qualitative method is used to explain the phenomenon of code-switching and code-mixing used by Jerry Baynard and Diana Barry in the TV series Anne with an E. The researcher used theory from Wardhaugh (1986), Muysken (2000), and Holmes (2001: 41). According to the findings there are two types of code-switching found and one type of code-mixing found. Most of the data was influenced by function factor

    Perancangan Beach Resort di Kabupaten Gunung Kidul dengan Pendekatan Biofilik

    No full text
    Tingkat stres masyarakat Indonesia pascapandemi meningkat, terutama stres berat. Rekreasi berbasis alam terbukti mampu meredakan stres dan memberikan efek relaksasi. Gunung Kidul memiliki potensi alam karst seperti pantai, goa, dan sungai bawah tanah. Wilayah ini cocok untuk pengembangan wisata yang menghubungkan manusia dengan alam. Perancangan berupa beach resort dipilih karena sesuai dengan garis pantai Gunung Kidul. Resort menyediakan hunian sekaligus fasilitas rekreasi yang kontekstual dengan alam. Pendekatan desain biofilik digunakan untuk menciptakan ruang yang sehat dan alami. Biofilik menghadirkan unsur alam ke dalam desain untuk meningkatkan kesejahteraan. Diperlukan riset kondisi ekosistem karst sebelum penerapan desain. Resort ini diharapkan memberi dampak positif bagi pengguna, masyarakat, dan alam sekitar

    8,613

    full texts

    9,349

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Universitas Diponegoro: Undip E-Journal System (UEJS) Portal
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇