Universitas Diponegoro: Undip E-Journal System (UEJS) Portal
Not a member yet
9349 research outputs found
Sort by
Implikasi Hukum Terhadap Pencantuman Klausula Rebus Sic Stantibus Dalam Kontrak Privat Ditinjau Dari Kitab Undang-Undang Hukum Perdata Indonesia
Sejatinya para pihak memiliki kebebasan dalam menentukan bentuk, isi, dan jenis klausula yang akan diatur dalam sebuah kontrak. Hal ini sebagaimana ketentuan dalam Pasal 1338 KUHPerdata tentang kebebasan berkontrak atau freedom of contract. Namun para pihak seringkali menemui keraguan dalam mencantumkan suatu klausula yang belum memiliki dasar hukum spesifik di Indonesia. Misalnya keinginan para pihak untuk mencantumkan Klausula Rebus Sic Stantibus ,di samping adanya Kalusula Force Majeure. Yang mana Rebus Sic Stantibus ini belum memiliki dasar hukum spesifik dalam KUHPerdata, berbeda dengan Force Majeure yang telah diatur dalam Pasal 1244 dan 1245 KUHPerdata. Tujuan dari penulisan artikel ini ialah untuk mengetahui implikasi hukum dari pencantuman Klausula Rebus Sic Stantibus dalam suatu kontrak privat di Indonesia dengan menggunakan metode penelitian Yuridis Empiris dan teknik pengumpulan data yang dilakukan melalui studi kepustakaan (literature research). Hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa meskipun dalam KUHPerdata belum mengatur secara spesifik tentang Rebus Sic Stantibus, namun para pihak tetap boleh mencantuman Klausula Rebus Sic Stantibusdalam sebuah kontrak dengan dasar Pasal 1338 KUHPerdata sebagai basis kebebasan berkontrak dan tetap memiliki implikasi hukum yang mengikat sepanjang para pihak menyepakatinya dalam kontrak.Kata Kunci: Kebebasan Berkontrak, Force Majeure, Rebus Sic Stantibus
Masjid Raya Baiturrahman Semarang Jawa Tengah
Masjid Raya Baiturrahman Semarang dibangun pada tahun 1986 dan selesai pada tahun 1974. Masjid ini merupakan simbol penting yang menggabungkan urban dan spiritualitas dengan dinamika perkotaan. Masjid ini dapat menampung hingga 10.000 jemaah dan menghadapi tantangan peningkatan jumlah pengunjung, terutama pada hari-hari besar, kebutuhan akan aksesibilitas yang baik pun semakin mendesak karena keterbatasan lahan parkir sehingga dapat mengurangi kenyamanan ibadah. Oleh karena itu, penambahan pembangunan parkir bawah tanah di kawasan simpang lima dapat menjadi solusi dan membuat jalur konektivitas yang langsung menuju masjid untuk memudahkan aksesibilitas pengunjung. Aktivitas SD Hj. Isriati Baiturrahman 1 seringkali menciptakan gangguan untuk pengalaman spiritual jemaah. Oleh karena itu penting untuk merancang konektivitas yang tidak hanya memperhatikan aspek fisik tetapi juga mendukung kegiatan ibadah di tengah hiruk-piruk kota
Perancangan Convention And Exhibition Center Dengan Pendekatan Arsitektur Regionalisme Di Kota Semarang
Wisata MICE (Meeting, Incentive, Conference, Exhibition) merupakan salah satu sektor pariwisata dengan potensi besar, terutama di Kota Semarang. Berdasarkan data yang ada, jumlah wisatawan MICE mengalami peningkatan signifikan, terutama pasca pandemi COVID-19, dengan partisipasi yang datang baik dari dalam negeri maupun luar negeri. Kenaikan permintaan terhadap fasilitas yang mendukung industri MICE dan pariwisata bisnis ini mendorong perlunya pembangunan infrastruktur yang memadai. Dalam hal ini, pembangunan Convention and Exhibition Center (CEC) di Semarang diharapkan dapat memenuhi kebutuhan tersebut. Pembangunan CEC dirancang dengan pendekatan arsitektur regionalisme, yang bertujuan untuk mengintegrasikan nilai-nilai budaya lokal serta memperkaya aspek pariwisata dan identitas Kota Semarang. Dengan adanya CEC, diharapkan kota ini dapat menjadi salah satu destinasi utama bagi penyelenggaraan acara MICE di Indonesia
Redesain Dan Pengembangan Taman Budaya Raden Saleh Semarang
Kota Semarang mempunyai beragam kesenian serta kebudayaan yang ialah bagian penting dari identitas masyarakat setempat. Sebagai langkah untuk melestarikan serta mengembangkan kesenian, Pemerintah Kota Semarang menyediakan Taman Budaya Raden Saleh (TBRS) menjadi ruang kreatif untuk seniman serta masyarakat, serta menjadi markas untuk grup wayang orang Ngesti Pandowo. Tetapi pada saat ini fasilitas di kawasan Taman Budaya Raden Saleh sudah dalam keadaan yang kurang memadai, dengan gedung-gedung yang usang serta fasilitas pementasan yang ketinggalan zaman, bahkan beberapa fasilitas yang seharusnya ada malah tak tersedia. Oleh sebab itu, diperlukan perancangan ulang Taman Budaya Raden Saleh dengan tujuan untuk menghidupkan kembali aktivitas seni serta budaya di kota ini. Perancangan ini harus mempertimbangkan keperluan ruang yang mendukung aktivitas seni serta budaya, serta memperhatikan kenyamanan audio serta visual di setiap bangunan, untuk memberi lingkungan yang bisa mendukung perkembangan kesenian secara optimal. Kata Kunci : Kesenian serta Kebudayaan, Taman Budaya Raden Saleh, Fasilitas
Redesain Stasiun Kediri Dengan Mixed-Use Transit Hotel Berbasis Urban Catalyst Di Kota Kediri
Kota Kediri, sebagai kota terbesar ketiga di Jawa Timur, memiliki peran strategis dalam mendukung pertumbuhan ekonomi dan transportasi regional. Stasiun Kediri menjadi infrastruktur vital, namun menghadapi sejumlah tantangan seperti kapasitas ruang yang kurang, fasilitas yang tidak sesuai pedoman, kemacetan, pengaturan parkir yang kurang optimal, aksesibilitas yang tidak inklusif, serta minimnya integrasi antar moda transportasi. Masalah ini diperburuk oleh tingginya penggunaan kendaraan pribadi dan kurangnya peran angkutan umum massal, sebagaimana ditekankan dalam RPJPD Kota Kediri Tahun 2005 2025 dan Rencana Detail Tata Ruang Kota Kediri Tahun 2021–2041. Di sisi lain, meningkatnya jumlah penumpang kereta api, potensi ekonomi kawasan sekitar stasiun, serta tidak adanya akomodasi penginapan per jam yang dekat dengan stasiun menjadi peluang yang harus dimanfaatkan. Dalam menghadapi permasalahan tersebut, pendekatan Urban Catalyst menjadi solusi strategis untuk mengintegrasikan potensi kawasan stasiun dan mendukung pengembangan ruang publik yang inklusif dan berkualitas. Redesain Stasiun Kediri dengan konsep Mixed-Use transit hotel diusulkan sebagai upaya optimalisasi fungsi stasiun. Desain ini juga berfokus pada pengembangan vertikal untuk mengatasi keterbatasan lahan, sesuai dengan konsep Transit-Oriented Development (TOD). Transit hotel ini dirancang untuk memenuhi kebutuhan penumpang yang membutuhkan akomodasi singkat, serta mendukung mobilitas masyarakat dengan fasilitas yang terintegrasi. Redesain ini diharapkan mampu mengatasi permasalahan transportasi, meningkatkan konektivitas antar moda, dan menciptakan kawasan stasiun sebagai pusat pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan. Dengan fungsi katalis yang mendorong perkembangan kawasan, proyek ini menawarkan solusi yang relevan dalam meningkatkan kualitas mobilitas, ekonomi, serta ruang publik di Kota Kediri secara menyeluruh
Pusat Olahraga dan Kebugaran Dengan Pendekatan Wellness Architecture Sebagai Solusi Ruang Sehat Di Tangerang Selatan
Olahraga menjadi suatu bagian penting dalam kehidupan setiap manusia, termasuk masyarakat urban di Indonesia. Hal ini ditunjukkan oleh laporan yang diterbitkan oleh Kementrian Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia yang mencatat bahwa pada tahun 2021, partisipasi masyarakat melakukan aktivitas olahraga sebesar 81.2% dengan partisipasi aktif sebesar 32.83%. Olahraga merupakan suatu kegiatan yang tidak bisa berdiri sendiri. Oleh karena itu, penting untuk mengetahui bagaimana mengintegrasikan suatu bangunan atau fasilitas olahraga dengan lingkungan urban di sekitarnya. Tangerang Selatan merupakan daerah suburban dengan fokus pembangunan yang tinggi, hal ini disebabkan oleh lokasi yang cukup strategis untuk merancang kota yang dapat mengakomodasi kegiatan masyarakat di dalamnya. Perancangan bangunan olahraga ini akan didasari menurut Undang Undang Kementrian Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia nomor 8 tahun 2018 yang mengatur segala kebutuhan dan kriteria yang tepat untuk membuat bangunan olahraga. Arsitektur yang ditawarkan pada rancangan ini berbasis Wellness, yang mengacu pada kesehatan fisik dan mental, kenyamanan di dalam ruangan, serta bagaimana material yang digunakan mendukung keberlanjutan dan kualitas ruang dalam pada bangunan olahraga tersebut. Material yang diajukan merupakan inovasi baru dalam mendukung bangunan sehat yang memiliki visi yang sama dengan bangunan olahraga itu sendiri. Diharapkan nantinya pembangunan gedung olahraga bisa menjadi inovasi dan pendukung bangunan yang sehat di Indonesia.
Perancangan Wellness Resort di Gunungkidul
Konsep Healing Environment berperan penting dalam desain wellness resort dengan menekankan terciptanya lingkungan yang mendukung kesejahteraan fisik, mental, dan emosional. Prinsip-prinsip ini menjadi acuan utama dalam menciptakan ruang yang tidak hanya berfungsi sebagai tempat relaksasi, tetapi juga sebagai sarana penyembuhan holistik. Elemen-elemen seperti vegetasi, fitur air, kualitas udara, pencahayaan alami, serta pengaturan akustik dan ergonomi berkontribusi besar dalam menciptakan suasana restoratif yang mendukung proses pemulihan. Selain itu, penggunaan material ramah lingkungan dan tidak beracun memperkuat komitmen terhadap kesehatan dan keberlanjutan. Desain juga memperhatikan keseimbangan antara ruang komunal dan privat untuk memenuhi kebutuhan sosial maupun reflektif tamu. Ruang untuk meditasi, praktik mindfulness, dan pengalaman sensorik menjadi bagian penting dalam meningkatkan kepuasan dan kenyamanan pengunjung. Studi ini menegaskan bahwa penerapan konsep Healing Environment secara menyeluruh mampu meningkatkan efektivitas wellness resort sekaligus memberikan pengalaman yang bermakna dan menyembuhkan
Analisis Co Tidal Chart dan Perambatan Pasang Surut di Perairan Indonesia Bagian Barat
Pembuatan co-tidal chart konstanta harmonik pasang surut ini dilakukan dengan tujuan mengetahui karakteristik pasang surut di wilayah Indonesia bagian barat. Co-Tidal chart memetakan sebaran nilai fase pasang surut di suatu wilayah. Wilayah yang dipetakan adalah perairan Indonesia bagian barat. Wilayah ini dipilih guna melihat pengaruh Samudera Hindia dan Samudera Pasifik terhadap karakteristik dan kondisi pasang surut di wilayah Indonesia bagian barat. Pembuatan peta pasang surut menggunakan data model FES2014. Pada penelitian ini mengolah 9 konstanta pasang surut yaitu K1, O1, P1, K2, M2, S2, N2, M4 dan MS4, dalam pembuatan peta pasang surut. Hasil analisis penelitian ini menunjukkan bahwa konstanta harian tunggal yang terdiri atas K1, O1, P1 memiliki gelombang pasut yang menjalar dari wilayah Samudera Pasifik khususnya Laut China Selatan dan Teluk Thailand. Untuk konstanta harian ganda yaitu K2, M2, S2, N2 menjalar dari wilayah Samudera Hindia. Sedangkan konstanta M4 dan MS4, terlihat menjalar dari wilayah perairan dangkal dengan sebaran nilai yang rendah.
Analisis Penggunaan Switch Layer 3 Untuk Keandalan Perangkat Telekomunikasi Gardu Induk
Keandalan perangkat telekomunikasi pada gardu induk merupakan faktor krusial dalam menjaga kontinuitas operasi sistem kelistrikan. Dalam konteks ini, penggunaan switch layer 3 menjadi solusi yang efektif untuk meningkatkan kualitas jaringan dan mengoptimalkan performa sistem telekomunikasi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penerapan switch layer 3 dalam meningkatkan keandalan perangkat telekomunikasi di gardu induk, yang meliputi aspek pemilihan perangkat, konfigurasi jaringan, serta kemampuan routing dan manajemen trafik data. Penelitian ini menggunakan metode studi kasus pada beberapa gardu induk dengan implementasi switch layer 3, di mana dilakukan evaluasi terhadap kinerja, kestabilan jaringan, serta deteksi dan pemulihan dari gangguan. Hasil analisis menunjukkan bahwa switch layer 3 dapat meningkatkan efisiensi komunikasi antar perangkat, mengurangi downtime dan meningkatkan toleransi terhadap kesalahan pada jaringan telekomunikasi gardu induk. Dengan demikian, penerapan teknologi ini terbukti efektif dalam mendukung keandalan dan kinerja perangkat telekomunikasi di lingkungan industri kelistrikan. Kata kunci: switch layer 3, keandalan, perangkat telekomunikasi, gardu induk, jaringan, routin
Carbon Capture Potential of Mangrove Ecosystem in Randuboto, Gresik Regency and Its Role in Overcoming Climate Change
This study examines the carbon capture potential of mangrove ecosystems, focusing on the Randuboto mangrove conservation area. The total biomass in the area amounts to 172.031 tons/ha, with a carbon storage capacity of 80.855 tons/ha and CO2 capture of 296.738 tons/ha. The sapling stratum, characterized by greater mangrove density, produces higher biomass and accommodates more carbon reserves compared to the mature tree stratum. Avicennia marina is identified as the most significant contributor to biomass, carbon storage, and CO2 absorption. Mangroves, through their dense root systems and photosynthetic processes, trap and store carbon both in their biomass and in waterlogged sediments, where decomposition is slowed. Additionally, tidal exchanges enhance carbon capture by promoting the deposition of organic material, further increasing carbon storage in coastal areas. These ecosystems play a crucial role in mitigating climate change by sequestering large amounts of carbon, protecting coastal habitats, and supporting biodiversity, emphasizing the need for their conservation in climate action strategies