Journal Universitas PGRI Semarang
Not a member yet
6019 research outputs found
Sort by
HUBUNGAN PENGGUNAAN GADGET DENGAN INTERAKSI SOSIAL SISWA KELAS IX SMP ATTHOHIRIYYAH SEMARANG
Penelitian ini dilatar belakangi masalah kehadiran gadget menjadikan perubahan perilaku siswa sehingga mempengaruhi interaksi sosial pada kelompok belajar, tidak jarang mereka akan lebih asik dengan gadgetnya daripada dengan orang lain atau temannya. Adapun tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan penggunaan Gadget dengan interaksi sosial peserta didik kelas IX SMP Atthohiriyyah Semarang.Metode penelitian ini adalah kuantitatif teknik korelasi. Populasi penelitian adalah siswa kelas IX SMP Atthohiriyyah Semarang, dengan jumlah 74 siswa. Sebanyak 20 siswa menjadi kelompok try out. Sampel diambil dengan Teknik sampel jenuh sehingga sampel penelitian ini berjumlah 54 siswa. Data penelitian ini diperoleh melalui skala penggunaan gadget dan interaksi sosial siswa.Berdasarkan hasil penelitian ada hubungan Penggunaan Gadget dengan interaksi sosial peserta didik kelas IX SMP Atthohiriyyah Semarang, terlihat dari hasil uji hipotesis terlihat angka koefiseien korelasi antara variabel X dan Variabel Y diperoleh nilai -0,284 dengan taraf negatif dan diperoleh hasil nilai sig (2-tailed) sebesar 0,004 0,05 yang berarti Hal ini menunjukan adanya hubungan antara Penggunaan Gadget dengan interaksi sosial peserta didik kelas IX SMP Atthohiriyyah Semarang pada kategori sangat rendah dengan taraf negatif artinya penggunaan gadget yang tinggi maka interaksi sosial rendah. hubungan variabel X terhadap Y yaitu sebesar 8%. Sementara sisanya 92% terdapat hubungan dengan faktor lain. Kata kunci: Penggunaan Gadget, Interaksi sosialThis research is motivated by the problem of the presence of gadgets causing changes in student behavior that affect social interactions in study groups, not infrequently they will be more engrossed in their gadgets than with other people or friends. The objective to be achieved in this study is to determine the relationship between gadget use and social interactions of class IX students of SMP Atthohiriyyah Semarang. This research method is quantitative correlation technique. The research population was class IX students of SMP Atthohiriyyah Semarang, with a total of 74 students. A total of 20 students became the try out group. The sample was taken using the saturated sample technique so that the sample of this study amounted to 54 students. The research data was obtained through the scale of gadget use and student social interactions. Based on the results of the study, there is a relationship between Gadget Use and social interaction of class IX students of SMP Atthohiriyyah Semarang, seen from the results of the hypothesis test, the correlation coefficient between variable X and variable Y obtained a value of -0.284 with a negative level and the sig value (2-tailed) was obtained at 0.004 0.05, which means This shows a relationship between Gadget Use and social interaction of class IX students of SMP Atthohiriyyah Semarang in the very low category with a negative level, meaning that high gadget use means low social interaction. the relationship between variable X and Y is 8%. While the remaining 92% is related to other factors. Keywords: Gadget Usage, Social Interactio
THE RELATIONSHIP BETWEEN INTENSITY OF SOCIAL MEDIA USE AND SOCIAL INTERACTION OF GRADE VIII STUDENTS AT SMP NEGERI 17 SEMARANG
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara intensitas penggunaanmedia sosial dengan interaksi sosial siswa kelas VIII di SMP Negeri 17 Semarang.Latar belakang penelitian ini didasari oleh fenomena meningkatnya penggunaan media sosial di kalangan remaja yag diduga dapat mempengaruhi cara mereka berinteraksi secara langsung dengan lingkungan sosialnya. Dalam penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif korelasional dengan Teknik pengumpulan data melalui angket yang disusun dalam bentuk skala likert, yang terdiri dari 2 variabel yaitu intensitas penggunaan media sosial sebagai variabel bebas (x) dan interaksi sosial sebagai variabel terikat (y). Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas VIII SMP Negeri 17 Semarang, dan sebanyak 60 siswa dipilih sebagai sampel menggunakan Teknik random sampling. Uji validitas dan reliabelitas dilakukan terhadap instrument penelitian , dan seluruh butir dinyatakan valid reliabel. Analisis data menggunakan uji korelasi Perason Product Moment melalui bantuan perangkat lunak SPSS ver 16.Hasil analisis menunjukan nilai koefisien korelasi sebesar r = -0,147 dengan nilai signifikansi (sig.2- tailed) sebesar 0,261. Karena nilai signifikansi lebih besar dari taraf signifikansi 0,05 dan nilai r hitung lebih kecil dari pada r tabel (0,254). Maka dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara intensitas penggunaan media sosial dengan interaksi sosial siswa kelas VIII di SMP Negeri 17 Semarang. Hasil ini menunjukan bahwa penggunaan media sosial belum tentu mempengaruhi kemampuan siswa dalam berinteraksi secara sosial. Kata Kunci : Intensitas Medis Sosial, Interaksi Sosial, Siswa SMP AbstractThis study aims to determine the relationship between the intensity of social media use and the social interaction of eighth-grade students at SMP Negeri 17 Semarang. The background of this study stems from the growing phenomenon of social media use among adolescents, which is suspected to influence how they interact directly within their social environments. This research uses a quantitative approach with a correlational method. Data were collected using a Likert-scale questionnaire consisting of two variables: the intensity of social media use as the independent variable (X) and social interaction as the dependent variable (Y). The population in this study includes all eighth-grade students at SMP Negeri 17 Semarang, and a total of 60 students were selected as the sample using simple random sampling. The instruments were tested for validity and reliability, and all items were declared valid and reliable. Data analysis was conducted using the Pearson Product Moment correlation test with the assistance of SPSS version 16. The results of the analysis showed a correlation coefficient (r) of -0.147 with a significance value (Sig. 2-tailed) of 0.261. Since the significance value is greater than the alpha level of 0.05 and the calculated r value is less than the r table (0.254), it can be concluded that there is no significant relationship between the intensity of social media use and students' social interaction. These findings indicate that the frequency of social media usage does not necessarily impact students' ability to engage in social interactions. Keywords: Social Media Intensity, Social Interaction, Junior High School Student
ANALISIS PEMBELAJARAN BERDIFERENSIASI PROGRAM SEKOLAH PENGGERAK PADA MATA PELAJARAN SENI RUPA KELAS 1 SD NEGERI BATURSARI 5
Penelitian ini bertujuan untuk: 1) mendeskripsikan tahapan pembelajaran berdiferensiasi program sekolah penggerak pada mata pelajaran seni rupa di kelas I SD Negeri Batursari 5, 2) mendeskripsikan pelaksanaan pembelajaran berdiferensiasi program sekolah penggerak pada mata pelajaran seni rupa di kelas I SD Negeri Batursari 5, 3) mengetahui faktor pendukung dan penghambat dalam pembelajaran berdiferensiasi program sekolah penggerak pada mata pelajaran seni rupa di kelas I SD Negeri Batursari 5. Jenis penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Subjek penelitian ini adalah guru kelas I dan peserta didik kelas I. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan observasi, wawancara, angket, dan dokumentasi. Penelitian kualitatif ini menggunakan data berupa data deskriptif seperti tulisan, perkataan, dan perilaku yang diamati. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: 1) tahapan pembelajaran berdiferensiasi pada mata pelajaran seni rupa dilakukan dengan asesmen awal, perencanaan pembelajaran, dan pembuatan media pembelajaran, 2) pelaksanaan pembelajaran berdiferensiasi pada mata pelajaran seni rupa berjalan dengan baik, guru dan peserta didik dalam pembelajaran menerapkan pembelajaran berdiferensiasi untuk mencapai tujuan pembelajaran seni rupa, 3) faktor pendukung dan penghambat dalam pembelajaran berdiferensiasi pada mata pelajaran seni rupa yaitu minat belajar peserta didik dan lingkungan sekolah menjadi salah satu faktor pendukung, untuk faktor penghambat adalah sarana dan prasarana yang masih kurang memadai.Kata Kunci: Pembelajaran Berdiferensiasi, Sekolah Penggerak, Seni Rup
PERAN EKSTRAKURIKULER SENI LUKIS TERHADAP KREATIVITAS SISWA SD N SUNGGINGWARNO 02 PATI
Konteks penelitian yang mendorong penelitian ini adalah optimalnya siswa dalam mengikuti kegiatan ektrakurikuler seni lukis dikarenakan terjadi situasi di mana siswa sangat antusias mengikuti kegiatan ekstrakurikuler seni lukis. Ekstrakurikuler seni lukis menjadi ekstrakurikuler favorite mereka, sehingga ekstrakurikuler menjadi sarana atau wadah untuk mengekspresikan kreativitas mereka. Fokus penelitian dalam penelitian ini adalah 1. Bagaimana peran ekstrakurikuler seni lukis di SD N Sunggingwarno 02 Pati?2. Bagaimana peran ekstrakurikuler seni lukis terhadap kreativitas siswa SD N Sunggingwarno 02 Pati?3. Bagaimana pelaksanaan kegiatan ekstrakurikuler seni lukis terhadap kreativitas siswa SD N Sunggingwarno 02 Pati? Tujuan penelitian ini adalah Untuk mengetahui dan mendeskripsikan peran ekstrakurikuler seni lukis di SD N Sunggingwarno 02 Pati, Untuk mengetahui peran ekstrakurikuler seni lukis terhadap kreativitas siswa SD N Sunggingwarno 02 Pati dan Untuk mengetahui bagaimana pelaksanaan kegiatan ekstrakurukuler seni lukis terhadap kreativitas siswa SD N Sunggingwarno 02 Pati. Jenis penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Subjek penelitian pada penelitian ini yaitu siswa yang mengikuti ekstrakurikuler seni lukis. Sampel yang digunakan pada penelitian ini berjumlah 15 siswa. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan observasi, wawancara, angket dan dokumentasi.Hasil Penelitian yang diperoleh yaitu Ekstrakurikuler seni lukis di sekolah dasar mempunyai peran yang sangat penting dalam mengembangkan kreativitas siswa. Melalui kegiatan ini, siswa diberikan kesempatan untuk mengekspresikan diri, mengasah bakat seni, dan mengeksplorasi ide- ide baru. Berdasarkan penelitian tersebut saran yang dapat diberikan adalah Sekolah dapat mengadakan pameran karya seni siswa secara berkala untuk memberikan apresiasi dan pengakuan atas hasil karya siswa, serta meningkatkan motivasi dan kepercayaan diri mereka
ANALISIS KECANDUAN GAME ONLINE TERHADAP PERILAKU SOSIAL KELAS IV SD NEGERI TELUK 1 DEMAK
Anita Firdaus. NPM 17120396. Analisis kecanduan game online terhadap perilaku sosial siswa kelas iv SD Negeri Teluk 1 Demak. Pogram Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas PGRI Semarang. 2024.Game online yang mudah diakses semua orang menjadikan anak juga ikut menikmati adanya perkembangan game online. Anak setiap harinya bermain game online baik sendiri maupun bersama-sama dengan temannya. Salah satu dampak akibat adanya game online adalah anak akab ketaghan atau kecanduan dalam bermain game online. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis game online terhadap perilaku sosial anak.Metode penelitian menggunakan penelitian kualitatif. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas IV SDN Teluk 1 Demak. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan angket, wawancara dan dokumentasi. Teknik analisis data menggunakan analisis deskriptif kualitatif.Hasil penelitian menunjukkan bahwa kecanduan game online pada siswa kelas IV di SDN Teluk 1 Demak anak bermain game setiap hari. Hasil klasifikasi diperolah ada siswa dengan kecanduan rendah, sedang, dan tinggi. Dampak game online terhadap perilaku sosial diperoleh informasi bahwa subjek dengan kecanduan tinggi menyebabkan peralaku sosial terutama hubungan dengan orang lain kurang baik. Selain itu anak menjadi suka lalai tidak dapat mengontrol waktu akibatnya sering melangar aturan tata tertib yang ada.Berdasarkan hasil penelitian maka saran yang diberikan bahwa guru dan orang tua harus bekerja sama untuk mengontrol anak dalam bermain game sehingga dampak perilaku sosial yang negative dapat diminimalisir
MISKONSEPSI SISWA PADA LUAS JAJARGENJANG KELAS V SEKOLAH DASAR MENGGUNAKAN METODE CRI
Abstrak Penelitian dilatarbelakangi kurangnya motivasi siswa dalam mengikuti pelajaran Matematika. Selain itu, beberapa siswa kesulitan memahami materi jajargenjang di sekolah dasar. Tujuan penelitian adalah: (1) untuk mengidentifikasi miskonsepsi yang dialami pada materi luas jajargenjang siswa kelas V; dan (2) untuk menganalisis penyebab terjadinya miskonsepsi pada materi luas jajargenjang siswa kelas V. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode fenomenologi, yaitu mendeskripsikan pengalaman atau fenomena yang dialami oleh seseorang. Teknik pengumpulan data menggunakan teknik tes, observasi, wawancara, dan dokumentasi. Uji keabsahan data menggunakan kredibilitas data dengan trianggulasi teknik. Teknik analisis data menggunakan deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) siswa teridentifikasi memiliki mikonsepsi sistematis sebanyak 17 kali, miskonsepsi hitung sebanyak 43 kali, miskonsepsi konsep sebanyak 6 kali, dan miskonsepsi terjemahan sebanyak 2 kali. Hasil metode CRI, diketahui siswa tidak paham konsep sebesar 19%, mengalami miskonsepsi sebesar 23%, dan paham konsep sebesar 58%; dan (2) penyebab terjadinya miskonsepsi, yaitu pada siswa dan konteks. Pada siswa terjadi karena siswa masih mengalami kesulitan pemahaman awal materi luas jajargenjang. Beberapa kesulitan dalam memahami materi tersebut. Pada konteks, siswa kesulitan dalam melakukan perkalian. Saran penelitian adalah siswa hendaknya lebih giat dalam latihan menghitung menggunakan perkalian, sehingga dapat mengerjakan soal luas jajargenjang dengan benar.Kata Kunci: miskonsepsi, metode CRI, luas jajargenjan
Emotion in Language: An Appraisal Analysis on Harry Maguire's Instagram Comments
Many people used Instagram massively as a convenient way to express their feelings and emotions through the comment sections. This phenomenon led to a variety of linguistic expressions of emotions, making it an interesting subject to study. After Harry Maguire scored an own goal while defending England against Scotland, he became a controversial figure. As a consequence, netizens were critical of him on his personal Instagram account. Using Martin and White's (2005) appraisal theory and Izard's (2009) emotion types, this study aimed to reveal how netizens' appraisal systems were expressed and how emotions were reflected in these appraisal types towards Harry Maguire. This research used a descriptive qualitative method with a discourse analysis approach. The data of this study consisted of some comments from actual accounts with high levels of insight and emotions that were relevant to the theory of appraisal and emotions. As a result, of the 35 comments, there are 42 appraisal types used by netizens. The details are that all appraisal types (attitude, engagement, and graduation) are used, except for the focus on graduation. Engagement was most dominantly used with a total of 12 monogloss subsystems. This represents netizens on the supportive side of Harry Maguire. In this case, netizens express emotions in language through the appraisal system, typically utilizing positive basic emotions. Netizens tend to express positive emotions and their appraisals based on the worth of a significant object that is important and able to represent the country, notwithstanding the controversy surrounding this situation
Media Representation of Indonesian Presidential Candidates in The Jakarta Post: A Corpus-Based Critical Discourse Analysis
Media is said to have a big role in society since it provides the readers with the latest information and simultaneously attains a particular purpose by using specific words to shape an ideology. Therefore, this research attempted to investigate the lemma candidate used in news articles, published by The Jakarta Post in February 2024, using Sketch Engine as the corpus tool to uncover how the media portrays the presidential candidate. Collocation and concordance feature was utilized, and it employed Halliday's (2004) transitivity analysis to examine how presidential candidates are described and Fairclough's (1995) Critical Discourse Analysis as the approach to interpreting how the discourse presents such a representation. The result shows that the media portrayed the candidate's general profile by labelling the candidates and their political agenda, as seen through the nouns and adjectives that modified the lemma candidate and the role of the lemma candidate as an actor in the clause. The candidate is also put as a recipient which exposes the political issue, which was informed by the circumstances, such as political polling and electability surveys. In addition, The Jakarta Post appears to contest presidential candidates by labeling the candidate and reporting the issues
ANALISIS VARIASI WEDGE PADA TREATMENT PLANNING SYSTEM TEKNIK 3DCRT TERHADAP DOSE VOLUME HISTOGRAM UNTUK KASUS KANKER PAYUDARA
Abstract— Wedge is one of the beam modifiers used in the Treatment Planning System (TPS) to homogenize the dose distribution on the target volume on a sloping surface in breast cancer patients. By using the Dose Volume Histogram (DVH) curve, it can be seen the dose distribution (Dmax) received by the Planning Target Volume (PTV) and the Dmean at Organ at Risk (OAR). The method used is to compare the Homogenity Index (HI) values of PTV and Dmean OAR of the right lung for four differentwedge angles, namely 15°, 30°, 45°, and 60°. The results showed that the larger the wedge angle used, the higher the dose received by PTV. Based on statistical analysis using One-Way ANOVA test, that there is a significant effect on wedge variation on the Homogenity Index (HI) value (P = 0.024). Meanwhile, in the right lung OAR, the lowest dose distribution was obtained in planning using a wedge angle of 60°. From the statistical analysis of the use of One-Way ANOVA, it can be said that there was no significant effect of wedge variation on the dose received by right lung OAR (P = 0.806). OAR The lungs of the four wedge angles are still within the tolerance limits according to QUANTEC standards, namely Dmean 20 Gy.Keyword— Wedge, Treatment Planning System, Homogenity Index, Planning Target Volume, Organ At RiskAbstrak— Wedge merupakan salah satu alat pemodifikasi berkas yang digunakan dalam Treatment Planning System (TPS) untuk menghomogenkan distribusi dosis pada target volume pada permukaan yang miring pada pasien kanker payudara. Dengan menggunakan kurva Dose Volume Histogram (DVH) maka dapat diketahui distribusi dosis (Dmax) yang diterima oleh Planning Target Volume (PTV) maupun Dmean pada Organ at Risk (OAR). Metode yang dilakukan adalah membandingkan nilai Homogenity Index (HI) pada PTV dan Dmean OAR paru-paru kanan untuk empat sudut wedge yang berbeda yaitu 15°, 30°,45°, dan 60°. Hasil penelitian menunjukkan semakin besar sudut wedge yang digunakan maka dosis yang diterima oleh PTV semakin besar. Berdasarkan analisis statistik menggunakan uji One-Way ANOVA disimpulkan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan pada variasi wedge terhadap nilai Homogenity Index (HI) (P = 0,024). Sedangkan pada OAR paru-paru kanan diperoleh distribusi dosis terendah pada perencanaan dengan menggunakan sudut wedge 60°. Dari analisis statistik menggunakan uji One-Way ANOVA dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat pengaruh yang signifikan pada variasi wedge terhadap dosis yang diterima OAR paru-paru kanan (P = 0,806). OAR Paru-paru keempat sudut wedge masih dalam batas toleransi menurut standar QUANTEC yaitu Dmean 20 Gy.Kata Kunci : Wedge, Treatment Planning System, Homogenity Index, Planning Target Volume, Organ At Ris
Analisis Kemampuan Pemahaman Konsep Siswa Kelas VII SMP Swasta Al Manar Materi Gerak Dan Gaya
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kemampuan pemahaman konsep siswa kelas VIII SMP Swasta Al-Manar pada materi gerak dan gaya. Subjek penelitian terdiri dari 23 siswa. Metode yang digunakan adalah deskriptif kuantitatif dengan instrumen tes yang mencakup soal essay, yang dirancang untuk mengukur indikator pemahaman seperti menyatakan ulang konsep, mengklasifikasikan objek, menerapkan konsep dalam pemecahan masalah. Hasil analisis menunjukkan bahwa rata-rata kemampuan pemahaman konsep siswa berada pada kategori cukup dengan nilai rata-rata 80. Indikator dengan penguasaan tertinggi adalah mengklasifikasikan objek dan menerapkan konsep dalam pemecahan masalah, sedangkan menyatakan ulang konsep memiliki persentase terendah. Temuan ini menunjukkan perlunya pengembangan strategi pembelajaran yang lebih efektif untuk meningkatkan pemahaman siswa terhadap konsep gerak dan gaya