Jurnal Mikologi Indonesia (JMI - Perhimpunan Mikologi Indonesia, Mikoina)
Not a member yet
62 research outputs found
Sort by
Karakterisasi dan Klasifikasi Numerik Khamir dari Madu Hutan Sulawesi Tengah
Khamir merupakan fungi uniseluler yang memiliki habitat hidup di hampir semua tempat seperti wilayah akuatik, daratan, dan udara termasuk dalam makanan. Madu merupakan salah satu makanan dengan kandungan gula tinggi dan aktivitas air (aw) yang rendah. Madu hutan Sulawesi Tengah merupakan salah satu jenis madu asal Indonesia yang dihasilkan oleh lebah madu Apis dorsata. Madu mengandung mikroorganisme, terutama khamir, yang berasal dari nektar yang dihisap oleh lebah madu. Penelitian karakterisasi dan klasifikasi khamir dalam madu hutan Sulawesi Tengah dilakukan untuk memperoleh informasi mengenaikeragaman isolat khamir dalam madu hutan dan untuk mengetahui karakteristikisolat khamir dalam madu hutan Sulawesi Tengah. Khamir diisolasi dari sampel madu hutan menggunakan medium Bean Sprouts Extract Agar (BSEA). Isolat dikarakterisasi meliputi uji karakter morfologi koloni, morfologi sel, dan uji karakter fisiologi-biokimia. Masing-masing karakter yang diuji dikodekan dengan1 apabila hasil positif dan 0 apabila negatif dan dibuat matriks n × t. Data dianalisisdengan metode taksonomi numerik dengan tingkat kemiripan ditentukan menggunakan Jaccard coefficient (SJ) dan Simple Matching coefficient (SSM). Sementara pengelompokkan (clustering)digunakan metode UPGMA. Data diolah menggunakan program MVSP dan disajikan dalam bentuk dendrogram. Dari 11sampel madu hutan berhasil diisolasi 27 jenis khamir yang dikelompokkan menjadi 6 genus dan 1 outlier berdasarkan nilai indeks kesamaan ≥ 70% menunjukkan keragaman yang rendah. Karakteristik isolat khamir dalam madu hutan Sulawesi Tengah yaitu merupakan khamir Ascogenous yang bersifat osmofilik, mampu mengasimilasi 8 jenis karbon, tumbuh pada suhu 37°C, memfermentasi glukosa, non-fermentatif terhadap galaktosa, laktosa, dan sukrosa, serta mengasimilasi nitrogen khususnya KNO3
Jenis-Jenis Jamur Makroskopis Anggota Kelas Basidiomycetes Di Hutan Bayur, Kabupaten Landak, Kalimantan Barat
oai:ojs.jmi.mikoina.or.id:article/35Jamur makroskopis dapat dimanfaatkan sebagai bahan makanan dan obat.Pada ekosistem hutan, jamur makroskopis berperan sebagai dekomposer. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis-jenis jamur makroskopis anggota kelas Basidiomycetes yang terdapat di Hutan Bayur, Kabupaten Landak, Kalimantan Barat. Metode yang digunakan dalam penentuan stasiun sampling adalah purposive sampling dengan memilih 3 stasiun berdasarkan perbedaan rona lingkungan. Pengambilan sampel dilakukan dengan metode jelajah (Cruise Method). Identifikasi jamur makroskopis dengan mencocokkan karakteristik morfologis sampel dengan buku identifikasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ditemukan 18 jenis jamur makroskopis yang termasuk ke dalam empat Ordo, yaitu Aphyllophorales, Agaricales, Auriculariales dan Polyporales. Jamur makroskopis yang ditemukan mendominasi berasal dari Ordo Aphyllophorales, seperti Pycnoporus sanguineus, Polyporus versicolor, Polyporus varius, Schizophyllum commune, Thelephora palmata, Earliella scabrosa, Lignosus rhinocerus, Trametes versicolor, Heterobasidion annosum dan Ganoderma applanatum. Beberapa jenis jamur makroskopis yang dimanfaatkan sebagai bahan makanan oleh masyarakat setempat adalah spesies Auricularia polytricha, Hygrocybe conica, Pleurotus ostreatus dan Schizophyllum commune
Medium Tapioka untuk Preservasi Kapang yang Bermanfaat untuk Veteriner
Preservasi mempunyai arti penting bagi kelestarian jamur khususnya kapang. Pemilihan media preservasi umumnya bergantung kepada tujuannya. Tujuan dari percobaan ini untuk menguji tapioka sebagai komponen utama preservasi kapang yang bermanfaat, khususnya untuk veteriner. Kapang yang digunakan dalam penelitian ini adalah Duddingtonia flagrans dan Purpureocillium lilacinum. Percobaan dilakukan selama 15 bulan, di Laboratorium Mikologi Balai Besar Penelitian Veteriner Bogor. Disiapkan 72 tabung, diisi dengan 4 gram tapioka dan 2 mL air, lalu diinokulasikan kapang yang berisi 1 × 105 spora. Setiap bulan secara berurutan satu tabung dibuka hingga tabung ke-12. Uji ini dilakukan sebanyak 3 ulangan, dengan 2 isolat kapang di atas. Hasil percobaan menunjukkan bahwa D.flagrans dapat dipreservasi hingga 12 bulan, dan P.lilacinus selama 8 bulan
Uji Aktivitas Antimikroba Kombucha Teh Hitam dan Kombucha Teh Kulit Manggis Berdasarkan Lama Fermentasi
Kombucha merupakan minuman hasil fermentasi dengan bantuan simbiosis antara bakteri dan beberapa jenis khamir yang memiliki manfaat sebagai antimikrob. Substrat umum kombucha adalah teh hitam yang mengandung polifenol dan memiliki efek antimikrob.Tanaman dan ramuan herbal lain dapat digunakan sebagai substrat kombucha salah satunya kulit manggis. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan waktu optimal pada fermentasi kombucha teh hitam dan kombucha teh kulit manggis dalam menghambat pertumbuhan Staphylococcus epidermidis, Salmonella typhi, dan Microsporum canis. Metode penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL). Uji aktivitas antimikrob kombucha dengan metode sumuran. Hasil penelitian menunjukkan semakin lama waktu fermentasi maka nilai pH akan semakin menurun dan zona hambat yang terbentuk akan semakin besar. Zona hambat kombucha teh hitam dan kombucha teh kulit manggis dengan lama fermentasi 14 hari berbeda nyata dan merupakan fermentasi yang optimal serta memiliki potensi kategori daya hambat kuat. Zona hambat paling besar terhadap S.epidermidis dihasilkan pada kombucha teh kulit manggis fermentasi 14 hari dengan luas zona hambat14,84 mm dibandingkan S.typhi dengan luas zona hambat 13,81 mm. Kombucha teh hitam dan kombucha teh kulit manggis berpotensi menghambat pertumbuhan S.epidermidis dan S.typhi namun tidak mampu menghambat pertumbuhan M.canis
Efektivitas Ekstrak Daun Pepaya (Carica papaya L.) untuk Mengendalikan Penyakit Antraknosa yang Disebabkan oleh Jamur Colletotrichum sp.pada Cabai (Capsicum annuum L.)
Cabai merupakan salah satu komoditas tanaman yang sangat penting dan banyak dibutuhkan oleh masyarakat. Namun produksi buah cabai menurun karena serangan penyakit yang disebabkan oleh jamurColletotrichum sp.. Salah satu cara untuk mengendalikan penyakit ini yaitu dengan menggunakan ekstrak daun tumbuhan seperti Carica papaya L. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh getah papaya yang berasal dari daun dalam mengendalikan penyakit antraknosa yang disebabkan oleh jamur Colletotrichum sp.dan menentukan konsentrasi yang optimum dari daun papaya dalam menekan pertumbuhan dan perkembangan jamur Colletotrichum sp. Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 6 perlakuan yaitu konsentrasi ekstrak daun pepaya : 0%, 1%, 2%, 3%, 4%, dan 5%. Selanjutnya dilakukan analisis ragam dan dilanjutkan dengan Uji BNT 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi ekstrak daun pepaya 5% mampu memperlambat munculnya gejala serta mampu menurunkan intensitas serangan dan susutnya bobot buah caba
Uji Simbiosis Kapang Endofit pada Tanaman Chinese cabbage (Brassica rapa) dan Cabai (Capsicum annuum)
Kapang endofit berperan membantu tanaman inang beradaptasi pada lingkungan yang kurang mendukung, dan membantu penyerapan nutrisi sehingga memperbaiki pertumbuhan inang melalui berbagai mekanisme.Penelitian ini bertujuan untuk menguji potensi simbiosis lima kapang endofit akar koleksi IPBCC (IYT11, IYT23, IYT42, IYT72, dan IYT84) dengan tanaman chinese cabbage dan cabai. Simbiosis diuji pada media Oat Meal Agar (OMA) dan zeolit selama 3 minggu. Potensi simbiosis diamati melalui kolonisasi akar dan respon tumbuh tanaman (tinggi tajuk, panjang akar, jumlah daun, dan bobot kering biomassa tanaman). Kolonisasi akar diamati menggunakan teknik pewarnaan biru tripan 0,005%. Hasil uji menunjukkan bahwa kelima isolat tidak mengkolonisasi akar chinese cabbage, namun mampu mengkolonisasi akar cabai pada medium OMA. Hasil uji pada medium zeolit menunjukkan bahwa isolat Leohumicola sp. IYT23 and Hortea sp. IYT42 mampu mengkolonisasi akar tanaman cabai, tetapi tidak meningkatkan pertumbuhan tanaman
Keanekaragaman Makrofungi di Arboretum Inamberi
Jamur makro merupakan salah satu keanekaragaman hayati yang penting di hutan tropis Indonesia. Jamur makro memiliki peran penting dalam siklus biogeokimia tanah, siklus hara, pendekomposer sehingga membantu proses dekomposisi bahan organik dalam ekosistem hutan. Penelitian ini bertujuan untuk identifikasi jamur makro yang tumbuh di kawasan Arboretum Inamberi dan dapat memberikan informasi tentang potensi keanekaragaman yang ada di kawasan tersebut yang diharapkan dapat dimanfaatkan sebagai sumber pangan, obat, dan pendekomposer. Metode pengumpulan jamur makro yang dilakukan adalah dengan menggunakan metode jelajah (Cruise Method) pada bulan Agustus-September 2016.
Identifikasi jenis makrofungi dilakukan dengan menggunakan ciri morfologi. Hasil survey menunjukkan terdapat 34 jenis dari 17 famili yang termasuk kedalam 2 divisi makrofungi. cendawan yang banyak ditemukan berasal dari divisi Basidiomikota dengan jumlah spesies sebanyak 31 spesies dan yang paling sedikit dari divisi Askomikota dengan jumlah 3 spesies. Sebagian besar cendawan Basidiomikota yang ditemukan berada pada pohon mati/kayu lapuk dan serasah daun/tanah
Penapisan Isolat Khamir Oleaginous dari Nektar Bunga dan Madu Hutan
Khamir oleaginous mampu mengakumulasi lipid lebih dari 15% dari berat kering selnya. Pada kondisi nitrogen yang terbatas, khamir tersebut mampu mengakumulasi lipid hingga 70%. Lipid yang dihasilkan mengandung asam lemak seperti palmitat, oleat, dan linoleat, sehingga berpotensi untuk dimanfaatkan sebagai bahan baku produksi biodiesel. Khamir oleaginous umumnya hidup dilingkungan dengan konsentrasi karbon yang tinggi, antara lain nektar bunga dan madu. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan penapisankhamiroleaginous yang diisolasi darinektar bunga dan madu hutan. Sampel nektar bunga diambil dari Kebun Raya Baturraden, Purwokerto,dan tempat pembibitan bunga di Kaliurang, Yogyakarta. Sedangkan sampel madu hutan diambil dari 11 kabupaten di Sulawesi. Uji kualitatif dilakukan dengan teknik pewarnaan sudan III dan uji kuantitatif dilakukan dengan mengukur berat lipid per berat kering biomassanya. Penelitian menghasilkan 6 isolat khamir oleaginous dari 47 isolat: PG12.2 (17,88%), PG12.3 (17,13%), PG5.4 (18,25%), AP1 (19,07%), PM2.1 (17,55%), dan PM3.2 (18,56%).Profil pertumbuhan isolat AP 1 menunjukkan bahwa kandungan lipid yang diproduksi masih menunjukkan peningkatan setelah penumbuhan selama 70 jam
Jamur Makro Di Pulau Saktu Kepulauan Seribu Jakarta Utara dan Potensinya
Pulau Saktu merupakan salah satu pulau yang berada dalam gugusan Kepulauan Seribu, terletak di desa Pulau Kelapa, Kepulauan Seribu, DKI Jakarta. Luas pulau berdasarkan analisis citra satelit adalah 0,172 km2, dan hampir ¾ dari luas pulau tersebut berupa hutan konservasi. Pulau ini sebelumnya dijadikan tempat wisata, dan sekarang hanya dihuni oleh penjaga rumah peristirahatan. Kondisi lingkungan basah dan lembab, serta banyak naungan sangat cocok bagi pertumbuhan banyak organisme, termasuk jamur makro. Penelitian dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui spesies jamur makro yang ditemukan dari kawasan Pulau Saktu serta potensinya. Metode dalam penelitian ini adalah metode jalur dan plot, dengan mencatat karakter morfologi tubuh buah jamur makro disepanjang jalur penelitian. Diperoleh sebanyak 71 spesimen dari kawasan penelitian ini, 14 spesimen merupakan jamur yang termasuk sebagai bahan pangan, diantaranya Auricularia auricula, Volvariella volvacea, Lentinus sajor-cajo, Schizophyllum commune, 32 spesimen sebagai bahan obat, diantaranya Ganoderma applanatum, Daldinia concentrica, Stereum sp., Xylaria sp., Microporus xantophus
Enzim Selulase Kasar Aspergillus niger FNCC 6018 untuk Produksi Bioetanol melalui Proses Sakarifikasi dan Fermentasi Serentak
Penelitian ini bertujuan mendapatkan kondisi pertumbuhan optimum pH, suhu, dan waktu inkubasi dari Aspergillus niger FNCC 6018 untuk produksi enzim selulase kasar dengan aktivitas spesifik maksimum pada substrat bagas tebu. Aktivitas spesifik maksimum A. niger FNCC 6018 dioptimasi dengan perlakuan variasi pH 5, 6, 7; suhu 27, 37, 50°C dan waktu inkubasi 5, 7, 9 hari. Kondisi optimum yang diperoleh digunakan untuk memproduksi enzim selulase kasar dan selanjutnya digunakan dalam proses produksi bioetanol. Produksi bioetanol dilakukan dengan metode Simultaneous Saccharification and Fermentation (SSF) pada suhu ruang, pH 5, selama 5 hari menggunakan substrat bagas tebu, enzim selulase kasar A. niger FNCC 6018, khamir Saccharomyces cerevisiae FNCC 3012, dan medium SSF. Pada akhir tahap SSF, kadar glukosa diukur dengan metode DNS (Dinitro Salisilat) sedangkan kadar etanol diukur dengan metode Gas Chromatography.Hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi optimum untuk produksi enzim selulase kasar A. niger FNCC 6018 berada pada pH 5, suhu 37oC, waktu inkubasi 9 hari dengan aktivitas spesifik selulase kasar sebesar 0.107 U/mg. Kadar glukosa dan etanol maksimal dengan metode SSF adalah 0.59 mg/mL dan 1.217%. Metode ini cukup potensial untuk produksi bioetanol dari bagas tebu