Jurnal Mikologi Indonesia (JMI - Perhimpunan Mikologi Indonesia, Mikoina)
Not a member yet
    62 research outputs found

    Uji Antagonisme Kapang Endofit Tanaman Galam (Melaleuca cajuputi) terhadap Colletotrichum truncatum

    Full text link
    Galam (Melaleuca cajuputi) adalah spesies asli dari lahan gambut yang secara alami hidup berasosiasi dengan kapang endofit. Kapang endofit dikenal karena kemampuannya sebagai biofungisida. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan kapang endofit yang diisolasi dari pohon Galam untuk menghambat pertumbuhan kapang pathogen Colletotrichum truncatum (Schwein.) Andrus & W.D. Moore dan menganalisis mekanisme penghambatannya. Tahapan penelitian ini meliputi (a) isolasi kapang endofit; (b) seleksi kapang endofit; (c) uji patogenisitas dan antagonis kapang endofit; (d) uji kemampuan metabolit volatil dan non-volatil dan (e) uji mikoparasitisme. Hasil penelitian menunjukkan persentase penghambatan tertinggi pada uji antagonisme secara in-vitro dalam menghambat C. truncatum ditunjukkan oleh isolat Neurospora sp. DG 27 dengan rata-rata persentase hambatan sebesar 71,98%, diikuti oleh isolat Neurospora sp. DG 17, 53,74% dan isolat Syncephalastrum sp. AG 15, 48,28%. Uji kemampuan metabolit volatil dan non-volatil isolat Neurospora sp. DG 27 menunjukkan persentase penghambatan tertinggi terhadap kapang C. truncatum. Mekanisme penghambatan isolat Neurospora sp. DG 27 terjadi secara antibiosis sehingga terbentuk zona bening, sedangkan isolat DG 17 terjadi secara kompetisi dan isolat Syncephalastrum sp. AG 15 secara mikoparasit

    Diversitas Jamur Makro di Hutan Rubatn, Kalimantan Barat

    Full text link
    Jamur makro diketahui memiliki peran penting bagi kehidupan manusia dan kelestarian lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui diversitas jenis-jenis jamur makro yang terdapat di Hutan Rubatn, Kecamatan Sompak, Kabupaten Landak, Provinsi Kalimantan Barat. Penelitian ini dilaksanakan selama 4 bulan dari bulan Mei sampai dengan Agustus 2018 menggunakan metode jelajah. Identifikasi jamur makro dilakukan berdasarkan ciri morfologi. Sebanyak 21 spesimen dari 15 marga jamur makro ditemukan di Hutan Rubatn, yaitu Earliella, Lignosus, Cerioporus, Pycnoporus, Trametes, Fomes, Lentinus, Ganoderma, Rigidoporus, Schizophyllum, Marasmius, Pleurotus, Mycena dan Stereum (Basidiomycetes), dan Daldinia (Ascomycetes). Jamur-jamur tersebut ditemukan di berbagai substrat, yaitu tanah, serasah dan pohon mati

    Isolasi dan Identifikasi Jamur Makro Asal Taman Nasional Gunung Halimun Salak

    Full text link
    Isolasi dan identifikasi dilakukan pada jamur makro yang diperoleh dari Taman Nasional Gunung Halimun Salak. Penelitian ini dilakukan untuk memperoleh isolat murni dari jamur makro yang diperoleh dan mengetahui identitasnya. Isolat murni jamur makro diperoleh dari isolasi jaringan tubuh buah pada media PDA+ antibiotik. Identifikasi dilakukan secara morfologi dan molekuler pada isolat yang diperoleh. Sebanyak 14 isolat jamur makro anggota filum Basidiomycota dan Ascomycota telah berhasil diisolasi dari 38 spesimen jamur makro dari Taman Nasional Gunung Halimun Salak. Namun, hanya sebanyak 8 dari 14 isolat yang dapat diidentifikasi molekuler dengan baik. Kedelapan spesimen jamur makro tersebut tergolong ke dalam 2 filum, 2 kelas, 4 marga, dan 7 suku. Sebanyak 3 isolat dapat diidentifikasi molekuler dengan baik hingga tingkat spesies yakni Xylaria schweinitzii, Agaricus flocculosipes, dan Fomitopsis feei. Kelima isolat lainnya hanya dapat diidentifikasi hingga level genus yakni Ganoderma sp., Pleurotus sp., Rigidoporus sp., Gymnopus sp., dan Agaricus sp. Isolat yang diperoleh selanjutnya dapat dilakukan penapisan untuk mendapatkan isolat yang potensial dan dapat dimanfaatkan dalam bioprospeksi

    Aktivitas Antagonisme Khamir Asal Daun Jati (Tectona grandis) terhadap Aspergillus sp. Asal Pakan Ayam

    Full text link
    Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi isolat-isolat khamir phylloplane yang berasal dari permukaan daun jati (Tectona grandis) sebagai agen pengendali hayati kapang pathogen Aspergillus sp. yang diisolasi dari pakan ternak ayam di daerah Bogor. Sebanyak 14 isolat khamir dan kapang Aspergillus sp. yang diuji merupakan koleksi UNJ Culture Collection. Metode co-culture dengan medium Potato Dextrose Broth (PDB) digunakan untuk uji antagonis khamir terhadap kapang. Pengamatan pertumbuhan khamir dilakukan dengan melihat adanya endapan, warna endapan, terbentuknya pelikel, dan perubahan pH medium. Adapun kapang diamati dengan melihat adanya hifa atau miselium, sporulasi, warna koloni dan pH medium. Hasil menunjukkan terdapat Sembilan isolat khamir yang paling berpotensi dalam menekan pertumbuhan Aspergillus sp., yaitu isolat-isolat khamir dengan kode T1D1 WU 2.2a; T3D2 DU 1.7; T4D2 WU2J2; T4P2-DU 2.1; T4D2 DU 2.1; T5D2 WU 1.5; T5D2 DU 1.1; CL1 PW1; dan T5D1 DU 2.2

    Potensi Inokulasi Jamur Trichoderma viride dan Glomus sp. Terhadap Produktivitas Capsicum annuum L

    Full text link
    Cabai rawit (Capsicum annuum) merupakan komoditi pertanian yang digunakan dalam berbagai jenis produk makanan. Pemanfaatan pupuk anorganik berdampak buruk terhadap lingkungan sehingga diperlukan agen hayati, seperti Trichoderma viride dan fungi mikoriza arbuskula (FMA) untuk memperbaiki kondisi tanah. Tujuan penelitian ini mengobservasi pemberian kombinasi T. viride dan FMA Glomus sp. Terhadap produksi cabai rawit serta mengetahui dosis kombinasi optimum dalam meningkatkan produktivitas cabai rawit. Penelitian dilakukan di laboratorium Taksonomi Tumbuhan/Mikologi dan green house Program Studi Biologi, Fakultas MIPA, Universitas Udayana. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok dengan lima perlakuan yaitu (A) tanah steril (Kontrol negatif); (B) tanah steril dan 50 spora Glomus sp.; (C) tanah steril dan 2 g pupuk anorganik CPN15-0-14 KNO3 Merah; (D) tanah steril, 5 mL T. viride dan 50 spora Glomus sp.; (E) tanah steril, 10 mL T. viride dan 50 spora Glomus sp. Setiap perlakuan memiliki lima ulangan yang terdiri dari tiga unit tanaman. Pengamatan dilakukan terhadap tinggi tanaman, jumlah buah, berat basah dan berat kering buah, berat kering tajuk, berat kering akar dan infeksi FMA. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan pupuk anorganik menghasilkan nilai tertinggi pada hampir seluruh parameter yang diamati kecuali pada persentase kolonisasi FMA. Perlakuan E menunjukkan hasil yang lebih optimum dalam produksi cabai rawit meski belum mampu menandingi pupuk anorganik.Cabai rawit (Capsicum annuum) merupakan komoditi pertanian yang digunakan dalam berbagai jenis produk makanan. Pemanfaatan pupuk anorganik berdampak buruk terhadap lingkungan sehingga diperlukan agen hayati, seperti Trichoderma viride dan fungi mikoriza arbuskula (FMA) untuk memperbaiki kondisi tanah. Tujuan penelitian ini mengobservasi pemberian kombinasi T. viride dan FMA Glomus sp. Terhadap produksi cabai rawit serta mengetahui dosis kombinasi optimum dalam meningkatkan produktivitas cabai rawit. Penelitian dilakukan di laboratorium Taksonomi Tumbuhan/Mikologi dan green house Program Studi Biologi, Fakultas MIPA, Universitas Udayana. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok dengan lima perlakuan yaitu (A) tanah steril (Kontrol negatif); (B) tanah steril dan 50 spora Glomus sp.; (C) tanah steril dan 2 g pupuk anorganik CPN15-0-14 KNO3 Merah; (D) tanah steril, 5 mL T. viride dan 50 spora Glomus sp.; (E) tanah steril, 10 mL T. viride dan 50 spora Glomus sp. Setiap perlakuan memiliki lima ulangan yang terdiri dari tiga unit tanaman. Pengamatan dilakukan terhadap tinggi tanaman, jumlah buah, berat basah dan berat kering buah, berat kering tajuk, berat kering akar dan infeksi FMA. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan pupuk anorganik menghasilkan nilai tertinggi pada hampir seluruh parameter yang diamati kecuali pada persentase kolonisasi FMA. Perlakuan E menunjukkan hasil yang lebih optimum dalam produksi cabai rawit meski belum mampu menandingi pupuk anorganik

    Phylogenetic Study of Curvularia on Sorghum from Indonesia Based on ITS rDNA Sequence

    Full text link
    Seven species of Curvularia were recorded from Indonesia, including species that pathogen to sorghum (Sorghum bicolor). The present study aims to determine four isolates of Curvularia isolated from sorghum in Indonesia using a combination of molecular phylogenetic analysis based on internal transcribed spacer (ITS) rDNA sequence and morphological examination. The results showed that the four isolates were genetically closed to C. lunata and C. dactyloctenicola. The morphological examination also insufficient to determine the identity of the four Curvularia isolates from sorghum until species level. Therefore, additional sequences from the partial fragments of the glyceraldehyde-3-phosphate dehydrogenase and the translation elongation factor 1-a genes are necessary to determine the identity of the Curvularia sequences isolated from sorghum in Indonesia until species level

    Nomenklatur Jamur, Review

    No full text
    Kongres internasional botani pada tahun 2011 di Melbourne telah merubah nama Code, dari The International Code of Botanical Nomenclature (ICBN) menjadi The International Code of Nomenclature for algae, fungi, and plants (ICN). ICN mencakup aturan-aturan dan rekomendasi yang berkaitan dengan penamaan dan sistematika jamur. Poin penting dari perubahan sejak Melbourne Code (2011) sampai Shenzhen Code (2017) adalah (1) disahkannya jurnal elektronik sebagai media untuk publikasi nama baru atau taksa baru, (2) memperbolehkan penggunaan bahasa Inggris atau Latin untuk publikasi nama baru atau taksa baru, (3) penghilangan konsep anamorph (anamorf) dan teleomorph (teleomorf) (untuk jamur) serta morphotaxa (morfotaksa) (untuk fosil) dari Code, (4) pengakuan Index Fungorum dan Mycobank sebagai tempat repositori specimen jamur yang diakui oleh Code, (5) penghapusan Art. 14.13 dan 57.2 dari Code

    Perbandingan Efektivitas Antifungi Ekstrak Etanol Bawang Putih (Allium sativum) dan Nistatin dengan Metode Difusi Cakram terhadap Candida albicans

    No full text
    Bawang putih (Allium sativum) merupakan obat yang sudah dimanfaatkan sejak zaman dahulu oleh Hippocrates, Pliny, dan Aristotle untuk kegunaan terapi. Bawang putih mempunyai efek sebagai antivirus, antibakteri, antifungi, dan antioksidan. Selain itu, bawang putih dapat digunakan sebagai anti-atherosklerosis dan anti-kanker (Bongiorno, 2008). Di sisi lain, nistatin merupakan antibiotik yang sangat efisien dalam pengobatan mikosis. Dalam sehari-hari, nistatin digunakan sebagai obat untuk mengatasi infeksi yang disebabkan oleh jamur genus Candida. Penyebab utama penyakit tersebut adalah sistem imun tubuh yang melemah akibat penyakit sistemik. Penyebab lainnya yaitu akibat adanya infeksi nosokomial yang ditularkan melalui tenaga medis mau pun alat-alat kesehatan yang telah terkontaminasi. Sejauh ini penelitian yang dilakukan sebelumnya untuk menentukan aktivitas antifungi yang dihasilkan oleh bawang putih saja, tanpa mengetahui perbandingan efektivitasnya dengan obat-obatan lain, sehinga perlu diadakan penelitian lebih lanjut mengenai hal tersebut. Tujuan penelitian ini adalah membandingkan efektivitas ekstrak etanol bawang putih (Allium sativum) dan nistatin sebagai antifungi yang dapat menghambat pertumbuhan jamur Candida albicans. Metode yang digunakan dalam penelitian adalah uji difusi menggunakan kertas cakram dengan 6 perlakuan. Konsentrasi ekstrak yang dipilih adalah 4g/ml (100%), 3g/ml (75%), 2g/ml (50%), dan 1g/ml (25%). Replikasi yang dilakukan dalam penelitian ini sebanyak 5 kali. Hasil data diperoleh dari pengukuran besar diameter zona hambat yang terbentuk di sekitar media perbenihan jamur Candida albicans yang sudah diinkubasikan pada suhu 37ºC selama 24 jam, dalam satuan milimeter. Kemudian, hasil tersebut akan dibandingkan dengan besar diameter zona hambat yang dihasilkan oleh obat nistatin untuk dinilai efektivitas keduanya. Hasil dari penelitian ini didapatkan bahwa besar diameter zona hambat yang dihasilkan oleh nistatin jauh lebih besar dibandingkan ekstrak etanol bawang putih (Allium sativum). Perlu dilakukan evaluasi baik dari segi tanaman, jamur, obat, cara ekstraksi mau pun metode penelitian agar dapat memberikan hasil yang lebih akurat

    Analisis Numerik Khamir dari Nektar Bunga Kebun Raya Baturraden dan Panggeran Hargobinangun

    Full text link
    Khamir pada nektar bunga masih belum banyak diteliti di Indonesia. Padahal keragaman tanaman di Indonesia sangat tinggi karena letak geografis dan iklimnya. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mempelajari hubungan kekerabatan khamir pada nektar bunga melalui pendekatan taksonomi numerik. Metode yang dilakukan adalah mengisolasi khamir dari nektar bunga di Kebun Raya Baturraden dan Padukuhan Panggeran, Hargobinangun. Hasil isolasi kemudian dipurifikasi hingga menjadi isolat murni, kemudian diamati karakter morfologi, fisiologis, dan biokimia. Data dianalisis dengan koefisien Jaccard, dikelompokkan dengan metode UPGMA, dan disajikan dalam bentuk dendogram. Hasil analisis menunjukkan bahwa pada dendogram Jaccard’sCoefficient dengan menggunakan cut-off 70%, didapatkan 3 kluster dan 1 outlier. Kluster I dan outlier IV yang berasal dari Padukuhan Panggeran diduga merupakan khamir Basidiomycetes, memiliki indeks kesamaan 63%. Sementara kluster II dan III yang berasal dari Kebun Raya Baturraden, diduga merupakan khamir Ascomycetes dan memiliki indeks kesamaan 62%

    KARAKTERISASI MORFOLOGI JAMUR ENTOMOPATOGEN DI HUTAN MANDIANGIN BANJARBARU, KALIMANTAN SELATAN

    Full text link
    Jamur entomopatogen merupakan jamur yang hidup sebagai patogen pada serangga. Jamur ini menginfeksi serangga dengan cara masuk kedalam tubuh serangga inang melalui kutikula, saluran pencernaan dan spirakel. Selain itu mampu menginfeksi hampir semua ordo serangga. Keragaman jamur ini di Indonesia belum banyak diketahui, khususnya di kawasan hutan Mandiangin, Banjarbaru, Kalimantan Selatan. Penelitian ini bertujuan mengeksplorasi dan mengkarakterisasi genus jamur entomopaten di hutan Mandiangin. Sampel diambil sebanyak enam kali pada bulan Mei-Juli 2017. Sampel yang diambil berupa jamur yang berasosiasi dengan serangga serta menunjukkan struktur reproduksi jamur dengan ciri morfologi makroskopis memiliki bentuk stroma maupun sinema. Sampel yang berhasil diperoleh kemudian diidentifikasi secara morfologi. Sebanyak empat genera jamur entomopatogen diperoleh dari hutan Mandiangin Banjarbaru,yaitu Ophiocordyceps, Hypocrella dan Cordyceps yang ditemukan pada fase seksual serta Aschersonia ditemukan pada fase aseksual

    54

    full texts

    62

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Mikologi Indonesia (JMI - Perhimpunan Mikologi Indonesia, Mikoina)
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇