Jurnal Mikologi Indonesia (JMI - Perhimpunan Mikologi Indonesia, Mikoina)
Not a member yet
62 research outputs found
Sort by
Review: Eksplorasi Pemanfaatan Jamur Endofit pada Tanaman Curcuma dan Zingiber sebagai Penghasil Senyawa Antibakteri
Jamur endofit merupakan jamur yang hidup bersimbiosis mutualisme dengan jaringan tanaman yang mampu memproduksi senyawa metabolit sekunder menyerupai metabolit tanaman inangnya. Curcuma dan Zingiber memiliki keberagaman senyawa metabolit sekunder yang dapat berperan sebagai agen antibakteri. Artikel ini bertujuan untuk mengetahui senyawa metabolit sekunder berupa antibakteri yang dihasilkan oleh jamur endofit dari tanaman Curcuma dan Zingiber. Pemanfaatan jamur endofit sebagai penghasil antibakteri dapat dilakukan melalui tahap isolasi jamur endofit, penapisan dengan penentuan diameter zona hambat, produksi senyawa antibakteri melalui proses fermentasi, pemisahan dan ekstraksi, serta identifikasi menggunakan kromatografi lapis tipis (KLT) dan gas chromatography and mass spectrometry atau GC-MS. Hasil eksplorasi menunjukkan bahwa senyawa metabolit sekunder yang diproduksi oleh jamur endofit pada tanaman marga Curcuma mampu menghambat pertumbuhan bakteri pada kisaran 0,9–20 mm, sedangkan jamur endofit pada tanaman marga Zingiber menghambat pertumbuhan bakteri pada kisaran 8,1–32 mm. Senyawa antibakteri yang dihasilkan oleh jamur endofit yang diisolasi dari kedua marga tanaman tersebut dapat menghambat bakteri gram-positif seperti Staphylococcus aureus, Bacillus subtilis, Streptococcus agalactiae, serta gram-negatif seperti Escherichia coli dan Shigella dysenterieae
Upaya Kultivasi Jamur Morel (Morchella esculenta (L.) Pers.) dari Kawasan Lembang, Jawa Barat dan Optimasi Pertumbuhannya dengan Menggunakan Media Pati
Jamur morel (Morchella esculenta (L.) Pers.) memiliki nilai gizi yang baik dan bernilai jual tinggi dari segi industri kuliner. Di Indonesia, jamur ini telah ditemukan di kawasan Gunung Rinjani, Nusa Tenggara Barat, dan di kawasan Lembang, Jawa Barat, yang menjadi spesimen dalam penelitian ini. Penelitian ini bertujuan untuk mencoba menginokulasi jamur morel pada media kultur murni, media bibit induk, dan media tanam. Kemudian pertumbuhan miselia dan laju tumbuhnya diamati pada media karbohidrat yang dibuat dari tepung terigu, beras, maizena, dan tapioka pada cawan Petri. Kultur murni dengan menggunakan media agar dekstrosa kentang di cawan Petri telah membuahkan hasil, sebagaimana jamur morel telah membentuk miselia dan sklerotia pada media kultur. Hasil positif juga ditemukan pada tahap lanjutan, yaitu kultur bibit induk dengan media buah kapuk dan dedak. Akan tetapi, upaya kultur di baglog berisi media tanah kompos belum membuahkan hasil, sehingga perlu diteliti lebih lanjut dan dilakukan optimasi. Pada percobaan optimasi media karbohidrat, miselia jamur morel tumbuh paling baik pada media tepung terigu, kemudian tepung beras, dan paling sedikit pada tepung maizena. Miselia tidak tumbuh pada media tepung tapioka
Jenis-jenis Jamur Makroskopis di Pulau Kemujan, Taman Nasional Karimunjawa
Taman Nasional Karimunjawa merupakan kawasan konservasi yang terletak di utara Laut Jawa dengan luas kawasan mencapai 111.625 ha. Kawasan ini memiliki tipe ekosistem hutan hujan tropis dataran rendah, pantai, mangrove, terumbu karang, dan lamun. Kepulauan Karimunjawa terdiri dari 27 pulau, dengan lima pulau utama yang dihuni oleh 9784 penduduk. Dikenal sebagai kawasan konservasi perairan, Taman Nasional Karimunjawa memiliki keaneragaman jamur yang patut diperhitungkan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi jenis jamur makroskopis yang ada di Pulau Kemujan, Taman Nasional Karimunjawa. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah survei. Survei melalui eksplorasi dilakukan di Pulau Kemujan yaitu di Legon Jelamun, Legon Gede, Legon Pinggir, Mrican, dan Telogo. Area tersebut merupakan hutan mangrove, vegetasi pantai dan kebun penduduk. Hasil eksplorasi di Pulau Kemujan menemukan 65 jenis dari 24 suku. Jenis dari suku Polyporaceae merupakan jenis yang paling sering dijumpai, dari suku ini teridentifikasi 24 jenis. Jenis dari suku Polyporaceae yang teridentifikasi diantaranya adalah Daedaloleopsis confragosa, Lentinus arcularius, Microporus sp. Dari suku Tricholomataceae teridentifikasi empat jenis antara lain Pleurotus ostreatus, dan Colybia cf. cookei. Dari suku Agaricaceae ditemukan lima jenis, suku Ganodermaceae ditemukan tiga jenis, suku Cortinariaceae ditemukan tiga jenis. Jamur ditemukan pada bermacam-macam substrat yaitu tanah, tanah berpasir, serasah, batang pohon mati dan serbuk bekas penggergajian
Identifikasi Jenis Kapang Kontaminan Kedelai (Glycine max (L.) Merr.) di Pasar Tradisional Kota Malang
Biji kedelai dapat mengalami kerusakan, antara lain: karena pemanenan yang kurang cermat, serangan serangga hama di lahan pertanian, gigitan serangga di tempat penyimpanan biji sebelum dijual, serta terkontaminasi oleh kapang penghasil mikotoksin di pasar. Fokus dari penelitian ini ialah: 1) mengisolasi dan mengidentifikasi semua jenis kapang kontaminan pada biji kedelai yang dijual di beberapa pasar di Kota Malang, 2) menentukan jenis kapang kontaminan yang paling dominan dalam biji kedelai yang diteliti, dan 3) mengkaji dampak cemaran kapang kontaminan terhadap penurunan kualitas biji kedelai berdasarkan kajian pustaka. Data diperoleh melalui metode observasi, deskripsi, dan identifikasi semua jenis kapang kontaminan yang ditemukan pada biji kedelai yang diteliti. Selanjutnya dilakukan identifikasi dengan deskripsi morfologi koloni dan mikroskopis kapang. Hasil yang diperoleh yaitu tujuh isolat jenis kapang kontaminan, yakni Scopulariopsis brevicaulis, Penicillium frequentans, Aspergillus tamarii, mycelia sterilia I, Aspergillus oryzae, Aspergillus ochraceus, dan mycelia sterilia II; 2) jenis kapang kontaminan yang paling dominan yaitu Aspergillus ochraceus; 3) cemaran kapang berdampak terhadap penurunan kualitas biji kedelai, yaitu: tekstur biji berserbuk, hancur, keriput, berbau apak, dan berpotensi tercemar oleh mikotoksin yang dihasilkan kapang kontaminan
Perbandingan Pertumbuhan Aspergillus fumigatus pada Media Instan Modifikasi Carrot Sucrose Agar dan Potato Dextrose Agar
Telah dilakukan penelitian mengenai perbandingan pertumbuhan Aspergillus fumigatus pada media instan modifikasi carrot sucrose agar (CSA) dan potato dextrose agar (PDA). Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui apakah cendawan dapat tumbuh pada media modifikasi CSA yang dijadikan media instan dengan menggunakan cendawan uji A. fumigatus, memperoleh media alternatif yang efisien waktu pada saat proses pembuatannya, dan untuk mengetahui morfologi cendawan A. fumigatus pada media instan CSA dan PDA. Metode penelitian yang digunakan adalah eksperimen laboratorium dengan menanam cendawan uji pada media instan modifikasi CSA, media modifikasi CSA, dan media PDA kemudian hasil disajikan dalam bentuk tabel, narasi, dan gambar. Hasil penelitian menunjukan tumbuhnya koloni A. fumigatus pada media instan modifikasi CSA, sehingga media modifikasi ini mampu digunakan sebagai media pertumbuhan cendawan. Dengan adanya media hasil modifikasi ini diharapkan dapat mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap media impor dan dapat digunakan di laboratorium sehingga mampu menekan biaya pemeriksaan
Sphaerobolus stellatus: Cannonball Mushroom from West Java
Cannonball mushroom is known as the unique genera in Basidiomycetes. This micro-mushroom is the first recorded in Indonesia. The specimen was deposited into Herbarium Bogoriense with code BO 24422. The Sphaerobolus was found on the rotten wood in Landscape Arboretum of IPB University. The fruiting body has similar morphology between Geastrum and Pilobolus. The mushroom has an exoperidium (like Geastrum outer) and endoperidium (like Pilobolus head). The basidiospore is hyaline, globose to elongate, and having circular gradation on the surface. Sphaerobolus is known as lignicolous, phototrophic, and sometimes as coprophilous fungus. Sphaerobolus was classified into Geastrales and Sphaerobolaceae. BO 24422 specimen is classified as S. stellatus
Teknik Memanen Makrokonidia dari Dermatofita Microsporum gypseum dan Trichophyton mentagrophytes
Dermatofitosis adalah penyakit kulit yang disebabkan oleh kapang dermatofita. Penelitian ini bertujuan menentukan teknik yang sesuai untuk memanen makrokonidia dan waktu fase eksponensial Microsporum gypseum dan Tricophyton mentagrophytes. Media 1 dan 2 digunakan untuk pembiakan isolat Microsporum gypseum dan Trichophyton mentagrophytes. Media 1 mengandung pepton, dekstrosa, dan kloramfenikol dan pada media 2 memiliki komposisi yang sama dengan media 1 dengan tambahan sikloheksamida. Teknik penggoresan pada permukaan koloni dan penggoyangan tabung dengan vortex digunakan untuk memanen makrokonidia. Makrokonidia dipanen pada hari ke 10, 12, 14, 16, 18, dan 20. Hasil yang didapatkan menunjukkan jumlah rata-rata makrokonidia kapang yang dipanen dengan penggoresan pada permukaan koloni lebih tinggi daripada penggoyangan tabung menggunakan vortex selama masa pertumbuhan hingga hari ke-20. Hasil yang didapatkan juga menunjukkan fase eksponensial telah dimulai pada hari ke-14
Potensi Cendawan Pelapuk Putih Indonesia Sebagai Agen Biodekolorisasi Limbah Pewarna Sintetik: Artikel Ulasan
Limbah pewarna sintetik yang dihasilkan oleh industri tekstil dapat membahayakan ekosistem perairan dan organismenya pada konsentrasi tertentu. Proses dekolorisasi secara biologis menjadi fokus penelitian dalam beberapa tahun terakhir karena prosesnya yang relatif murah dan ramah lingkungan. Cendawan pelapuk putih merupakan salah satu mikroorganisme yang dimanfaatkan untuk memproses limbah pewarna melalui proses enzimatik maupun adsorpsi. Fokus dari review ini adalah untuk membahas cendawan pelapuk putih asal indonesia yang berpotensi sebagai agen biodekolorisasi limbah pewarna industri tekstil. Beberapa spesies cendawan pelapuk putih asal indonesia dari genus Ganoderma, Trametes, Pleurotus, dan Leiotrametes telah dilaporkan memiliki kemampuan mendekolorisasi beberapa jenis pewarna sintetik golongan antrakuinon dan azo. Faktor-faktor seperti jenis cendawan, pH, mediator, aktivitas dan jenis enzim, konsentrasi dan jenis pewarna yang diujikan, waktu inkubasi, dan teknik imobilisasi miselia atau ekstrak enzim ligninolitik berpengaruh terhadap proses dekolorisasi secara biologis
Trichaleurina javanica from West Java
Trichaleurina is a fleshy mushroom with goblet-shaped within Pezizales. Many genera have a morphology similar to Trichaleurina, such as Bulgaria and Galiella. Some previous reports had been described fungi like Trichaleurina as Sarcosoma. Indonesia has been reported that has Trichaleurina specimen (the new name of Sarcosoma) by Boedijn. This research aimed to obtain, characterize, and determine the Trichaleurina around IPB University. Field exploration for fungal samples was used in the Landscape Arboretum of IPB University. Ascomata of Trichaleurina were collected, observed, and preserved using FAA. The specimen was deposited into Herbarium Bogoriense with collection code BO 24420. The molecular phylogenetic tree using RAxML was used to identify the species of the specimen.
Morphological data were used to support the species name of the specimen. Specimen BO 24420 was identified as Tricahleurina javanica with 81% bootstrap value. Molecular identification was supported by the morphological data, such as the two oil globules and the size of mature ascospores
Ectomycorrhizal Fungi on South Kalimantan Serpentine Soil
Serpentine soil contains highly heavy metals, such as manganese, chromium, cobalt, and nickel,which could bean inappropriate growthmediaofmostplants. Someplants thatfound able to grow optimally on South Kalimantan serpentine soil have been known to do association with ectomycorrhizal fungi. This research aimed to obtain and characterize mushrooms assumed as ectomycorrhizal fungi indigenous South Kalimantan serpentine soil. This study used field exploration of fungal fruiting bodies and identified the genus based on morphological characters of fruiting bodies such as shape, size, and ornamentation, which are unique for the genus identification, then compared the characteristics on mushroomexpert.com. The mushrooms were also confirmed of genera assumed as ectomycorrhizal fungi based on mycorrhizas.info. Seven fruiting bodies were obtained and classified as Cantharellus (Ct), Chlorophyllum (Ch1 and Ch2), Lycoperdon (Ly), Ramaria (Rm1 and Rm2), and Thelephora (Tp). The results showed that all of those fruiting bodies belong to Basidiomycetes. There were 4 genera of Cantharellus, Lycoperdon, Ramaria, and Thelephora, assumed as ectomycorrhizal fungi. But Chlorophyllum genus was never reported as ectomycorrhizal fungu