Institut Teknologi Nasional: Jurnal Itenas Online
Not a member yet
1717 research outputs found
Sort by
Optimasi Kinerja Fuel Cell pada Sistem Kereta Hibrida menggunakan Metode External Energy Maximization Strategy
ABSTRAKDalam sistem sumber daya hibrida, strategi manajemen energi (EMS) pada dasarnya hanya mengatur pembagian daya tanpa mempertimbangkan optimalisasi kinerja sistem. Oleh karena itu pada penelitian ini dirancang EMS berbasis optimasi pada kereta hibrida dengan sumber daya fuel cell (FC), baterai dan superkapasitor dengan metode External Energy Maximization Strategy (EEMS). Strategi ini dirancang untuk memaksimalkan energi yang disuplai oleh baterai dan superkapasitor melalui state of charge (SOC) baterai dan tegangan DC bus sehingga dapat meminimalisasi konsumsi hidrogen dan meningkatkan efisiensi keseluruhan sistem. Hasil simulasi memperlihatkan bahwa strategi ini mampu memaksimalkan kinerja baterai dan superkapasitor. Efisiensi sistem berhasil ditingkatkan menjadi 86,37% dan konsumsi hidrogen berhasil dikurangi 10% dari strategi pembandingnya. State of charge (SOC) baterai juga mampu dipertahankan untuk tetap dalam rentang batas yang telah ditentukan.Kata kunci: EMS, kereta hibrida, fuel cell, baterai, superkapasitor, optimasi ABSTRACTThe energy management strategy (EMS) in a hybrid system essentially only regulates power sharing without considering system performance optimization. This study developed an EMS based on the optimization of hybrid train with fuel cell (FC), battery, and supercapacitor power sources using the External Energy Maximization Strategy (EEMS). This strategy is intended to maximize the energy supplied by battery and supercapacitor through the SOC of the battery and DC bus voltage, thereby reducing hydrogen consumption and increasing overall system efficiency. The simulation results show that this strategy can maximize battery and supercapacitor. The system efficiency was successfully increased to 86.37%, and the hydrogen consumption was reduced by 10% when compared to the comparison strategy. The SOC of the battery can also be kept within a certain range.Keywords: EMS, hybrid train, fuel cell, battery, supercapasitor, optimizatio
Analisis Desain PLTS Atap Tipe Gable Roof menggunakan Metode Weight Score
ABSTRAKPLTS merupakan salah satu pembangkit yang dapat diterapkan di lingkungan perkotaan dengan memanfaatkan atap gedung sebagai lokasi pemasangannya. Salah satu lokasi yang berpotensi untuk dilakukan pemasangan PLTS adalah pada atap gedung perkantoran PT. PLN (Persero) UPT Cirebon yang memiliki luas total atap sebesar 3.150,65 m2. Desain PLTS pada lokasi penelitian dibuat menggunakan software PVSOL dengan menguji tiga skenario yaitu: penggunaan 13 inverter, 9 inverter dan optimalisasi sudut dengan 9 inverter. Dari hasil simulasi pemasangan PLTS atap pada lokasi penelitian menggunakan PVSOL didapatkan hasil produksi energi sebesar 376.354,87-386.934,28 kWh per tahun, persentase IRR sebesar 13,94%-14,35% dan penurunan emisi sebesar 272,828-280,498Â kgCO2 per tahun, yang selanjutnya akan diolah menggunakan metode weight score untuk menentukan skenario terbaik yang dapat diterapkan di lokasi penelitian. Dari hasil pengolahan data menggunakan metode weight score didapatkan skenario tiga merupakan skenario terbaik (dengan nilai 0,335) yang dapat diterapkan di lokasi penelitian.Kata kunci: PLTS atap, gable roof, weight score, PVSOLÂ ABSTRACTA solar power plant is one of the power generators in an urban environment which does not need large land assets by utilizing a building roof as the installation place. One of the potential installation places is the roof of the PT. PLN (Persero) UPT Cirebon office building which has a total roof area of 3,150.65 m2. The design of the solar power plant was made using PVSOL software using 3 scenarios, which are: 9 inverters, 13 inverters, and optimizing angles with 9 inverters. From the simulation results, it is observed that the energy production results are 376,354.87-386,934.28 kWh per year, the IRR percentage is 13.94%-14.35% and the emission reduction is 272,828-280,498 kgCO2 per year. To define the best scenario from the above results, weight score method were employed whereby scenario three is the best scenario (with a score of 0.335) that can be applied at the location.Keywords: Rooftop solar power plant, gable roof, weight score, PVSO
Evaluasi Struktur Atas Jembatan Kereta Api WTT dengan Modifikasi Lebar Jalan Rel Standard Gauge
ABSTRAKPenelitian ini mengevaluasi kapasitas struktur atas Jembatan KA WTT (Welded Through Truss) Tipikal bentang 42 meter dengan modifikasi pada bagian lebar jalan rel atau lebar sepur. Desain Jembatan yang ada saat ini diperuntukkan untuk lebar sepur 1067 mm, sedangkan untuk lebar sepur 1435 mm terjadi perubahan lebar jembatan dari 4,9 meter menjadi 5,5 meter. Evaluasi ditinjau berdasarkan analisis pada nilai defleksi jembatan dan rasio kapasitas. Hasil analisis menunjukkan defleksi maksimum jembatan sebasar 30,7 mm tidak melebihi defleksi izinnya yakni 42 mm sehingga masih memenuhi persyaratan. Namun berdasarkan hasil pengecekan rasio kapasitas, terjadi overstress pada beberapa batang seperti pada rangka/tiang ujung, gelagar memanjang dan gelagar melintang jembatan, sehingga dilakukan perencanaan struktur baru melalui modifikasi pada dimensi profil penampang guna menghasilkan desain jembatan yang memenuhi kriteria kekuatan dan kekakuan.Kata kunci: jembatan KA, rangka baja, WTT, sepur 1435 mm ABSTRACTThis study evaluated the capacity of the upper structure of the WTT (Welded Through Truss) Railway Bridge typical for 42 meters span with railway track gauge modification. The current bridge design is intended for a narrow gauge (1067 mm), while for a standar gauge (1435 mm) there is a change of the bridge width from 4,9 meters to 5,5 meters. The evaluation is reviewed based on the analysis on the bridge deflection value and capacity ratio. The results show that the maximum deflection of the bridge is 30,7 mm which does not exceed the allowable deflection (L/1000) so that adequate. However, based on the results of the capacity ratio, there is overstress on several beams such as the end post, stringers and floor beams. Therefore, a new or modified structure is required to get a bridge design with full strength and stiffness criteria.Keywords: railway bridges, steel truss, WTT, 1435 mm track gaug
Perbandingan Sensor Incremental Rotary Encoder dan Potensiometer pada Simulasi Kemudi Kapal Berbasis Arduino
ABSTRAKSuatu kemudi kapal menurut Safety Of Life At Sea (SOLAS 74) aturan 29 Bab II yang diharuskan untuk kepentingan dan keselamatan serta sesuai yang diisyaratkan pada perangkat kemudi utama pada saat kapal melaju dengan kecepatan ekonomis maksimum, harus dapat disimpangkan sebesar 35 derajat ke kiri dan ke kanan dalam waktu 28 detik. Pengujian dilakukan dengan memutar kemudi dari tengah/midship ke kanan/starboard side 35 derajat dilanjutkan ke midship dilanjutkan ke kiri/port side 35 derajat dilanjutkan ke midship. Hasil pengujian kedua sensor tersebut memiliki respons yang cepat sehingga bisa digunakan sebagai sensor dalam simulasi kemudi kapal ini. Hasil pembacaan sensor potensiometer melalui pembacaan di serial monitor arduino pada tingkat ketelitian potensiometer tersebut didapatkan dengan membagi 1023 dengan 300 sehingga dalam 1 derajat hasilnya 3,41, sedangkan tingkat ketelitian sensor incremental rotary encoder adala 4,571 didapatkan dari 160 dibagi dengan 35.Kata kunci: Kemudi kapal, arduino, incremental rotary encoder, potensiometer. ABSTRACTA ship's rudder according to Safety Of Life At Sea (SOLAS 74) rule 29 Chapter II which is required for the sake of safety and as required by the main steering gear when the ship is traveling at maximum economic speed, must be able to deviate 35 degrees to the left and to the left. right in 28 seconds. The test was carried out by turning the rudder from the middle/midship to the right/starboard side 35 degrees, then midship, continuing to the left/port side 35 degrees, then midship. The test results of the two sensors have a fast response so they can be used as sensors in this ship steering simulation. The potentiometer sensor reading results through readings on the Arduino serial monitor at the potentiometer accuracy level are obtained by dividing 1023 by 300 so that in 1 degree the result is 3.41, while the incremental rotary encoder sensor accuracy level is 4.571 obtained from 160 divided by 35.Keywords: Ship rudder, arduino, incremental rotary encoder, potentiometer
Pembelajaran Berbasis Masalah: Penerapan Teknologi Rumah Instan Sederhana Sehat (RISHA) di Indonesia
ABSTRAKGuna mengatasi permasalahan backlog hunian di Indonesia, salah satu alternatif yang ditawarkan oleh Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) adalah teknologi modular beton pracetak Rumah Instan Sederhana Sehat (RISHA). Beberapa keunggulan yang ditawarkan meliputi peningkatan efisiensi waktu, peningkatan keamanan konstruksi, pengurangan sampah konstruksi, kebutuhan pekerja yang minimum, desain yang sederhana, dan ramah lingkungan. Sampai saat ini, teknologi ini lebih banyak diterapkan untuk konstruksi rumah darurat bencana dan bukan untuk hunian swadaya. Untuk memenuhi tuntutan kebutuhan hunian yang semakin menantang di masa mendatang, pembelajaran melalui permasalahan-permasalahan yang dihadapi di lapangan perlu dikaji dan dievaluasi lebih lanjut. Penelitian awal ini bertujuan untuk mengidentifikasi permasalahan yang timbul selama penerapan teknologi RISHA baik pada tahap perencanaan, produksi, konstruksi, maupun pemeliharaan. Kajian literatur, bimbingan teknis, dan wawancara dilakukan terhadap beberapa aplikator yang tersebar di seluruh Indonesia dilakukan untuk menjawab tujuan tersebut. Hasil penelitian menunjukkan berbagai permasalahan yang dapat diklasifikasikan ke dalam empat aspek, yaitu sistem manajerial dan prosedural, arsitektural dan struktural, finansial dan ekonomi, serta sosial dan stakeholders. Setelah itu, beberapa strategi yang dapat bermanfaat bagi upaya pengembangan teknologi RISHA juga dihasilkan berdasarkan analisis SWOT.Kata kunci: RISHA, beton pracetak, teknologi modular, permasalahan penerapan RISHA ABSTRACTTo overcome the housing backlog problem in Indonesia, The Ministry of Public Works, and Public Housing (PUPR) has offered a precast concrete modular technology, Rumah Instan Sederhana Sehat (RISHA). Its advantages include increased time efficiency, enhanced construction safety, reduced wastage, minimal labor requirements, simple design, and eco-friendly. Until now, RISHA is mostly used for disaster emergency housing, and not for self-support houses. To meet the housing demands that will be increasingly challenging in the future, learning through the problems encountered in its application needs to be studied and evaluated further. This initial research aims to identify problems that arise during the application of RISHA technology at various stages, i.e., planning, production, construction, and maintenance. A literature review, technical guidance, and interviews with several applicators spread throughout Indonesia were conducted to answer the objective. The results indicate various problems that can be classified into four aspects, namely managerial system and procedural; architectural, and structural; financial, and economic; and social and stakeholders. Furthermore, several strategies that can be useful for RISHA development efforts are also generated based on a SWOT analysis.Keywords: RISHA, precast concrete, modular technology, RISHA’s implementation issue
Photocell Sensor Implementation as an Automatic Lighting System for Public Street Lighting
Nowadays, the demand for electrical energy has experienced exponential growth due to the need for energy sustainability and economic growth in society. However, this increase of electrical energy consumption leads to the high cost of electricity bills. To address the issue, this PKM (Community Service Program) aimed at reducing electricity costs through the re-structurization of the PJU (Public Street Lighting) systems. The method used in this activity included planning and implementing the installation of PJU lighting and automatic systems involving local youth to provide them with hands-on knowledge and practical experiences in installing automatic systems directly on 11 units of PJU lights utilizing eight (8) photocells as the main components. The result of this community service activity showed the feasibility and effectiveness of the electrical installation and automatic system for PJU lights using 8 pcs of LDR on 11 electric poles along the roads in the area
Evaluasi Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (LB3) di Tempat Penyimpanan Sementara LB3 (TPS LB3) di PT Z Regional Office 3 (RO3)
ABSTRAKLimbah Bahan Berbahaya dan Beracun (LB3) dapat menyebabkan dampak negatif bagi lingkungan dan manusia. PT Z merupakan salah satu perusahaan berfokus pada transmisi gas menggunakan sistem perpipaan. LB3 dihasilkan dari kegiatan operasional seperti perawatan pipa dan mesin-mesin yang digunakan di setiap area operasional. TPS LB3 yang ada di PT Z Regional Office 3 (RO3) merupakan muara dari penyimpanan LB3 dari seluruh area operasional lain di RO3 yang terdapat di salah satu metering station (MS), yaitu MS Duri 1. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengevaluasi dan memberikan saran untuk optimasi pengelolaan LB3 yang dilakukan di TPS LB3. Evaluasi dilakukan berdasarkan peraturan yang berlaku di Indonesia dengan bantuan sistem skoring Skala Guttman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persentase skor pengemasan, kegiatan penyimpanan, pemberian simbol dan label, dan kelengkapan sistem tanggap darurat di TPS LB3 di PT Z RO3 berturut-turut adalah 66,67%, 85,71%, 50%, dan 100% dengan rata-rata 75,56% atau tergolong “Baik†secara keseluruhan.Kata kunci: LB3, pengelolaan LB3, penyaluran gas, guttman, minyak dan gasABSTRACTHazardous and Toxic Waste (LB3 in Indonesian abbreviation) can have negative impacts on the environment and humans. PT Z is a company that focuses on gas transmission using a piping system. LB3 is generated from operational activities such as pipe maintenance and machines used in each operational area. TPS LB3 in PT Z Regional Office 3 (RO3) is the estuary of LB3 storage from all other operational areas in RO3 which is located at one of the metering stations (MS), namely MS Duri 1. The purpose of this study is to evaluate and provide suggestions to optimize the management of LB3 which is carried out at TPS LB3. Evaluation is carried out based on regulations in force in Indonesia with the help of the Guttman Scale scoring system. The results showed that the percentage scores for packaging, storage activities, symbolizing and labeling, and the completeness of the emergency response system at TPS LB3 at PT Z RO3 were 66.67%, 85.71%, 50%, and 100%, respectively, with an average 75.56% or classified as "Good" overall.Keywords: LB3, Hazardous and Toxic Waste Management, Gas Transmission, Guttman, Oil and Ga
Pengaruh Desain Overhang Terhadap Efisiensi Energi Dan Kenyamanan Termal Pada Bangunan Seni Di Kota Medan
Fenomena beberapa tahun terakhir akibat adanya penipisan lapisan ozon dan reaksi gas rumah kaca menimbulkan kesadaran akan keberlanjutan dan efisiensi energi dalam arsitektur. Hal yang terjadi meningkatnya biaya energi dan kebutuhan untuk mengurangi dampak lingkungan dari bangunan. Bangunan-bangunan yang semakin berkembang merupakan yang paling banyak mengkonsumsi energi. Perlu adanya upaya untuk meningkatkan efisiensi energi dalam bangunan. Tujuan Penelitian melakukan analisis terhadap pengaruh overhang atap pada bangunan terhadap pembayangan dan kenyamanan thermal pada bangunan seni di kota Medan. Metode penelitian menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan mengumpulkan data dan analisis terhadap hasil perancangan bangunan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa orientasi bangunan yang memanjang ke arah utara selatan dapat mengurangi pemaparan panas matahari pada dinding bangunan yang tinggi. Pola massa bangunan yang disesuaikan dengan fungsi masing-masing bangunan dapat menciptakan sebuah ruang terbuka (open space) ditengah bangunan sekaligus comunal space tempat bersosialisasi dan pertumbuhan pada bangunan. Penggunaan tanaman sebagai buffer udara pada outdoor bangunan dan penggunaan overhang atap serta skylight pada bangunan dapat meningkatkan kenyamanan thermal pada bangunan seni
’Arsitektur Monumental Sebagai Representasi Kultural’ Kasus Studi: Gedung Sate
Jika melihat fenomena mengenai perkembangan arsitektur yang ada terutama di Indonesia, dapat dilihat bahwa seiring berjalannya waktu, arsitektur di Indonesia mulai kehilangan identitas lokal terutama dalam konteks kultural. Studi ini membahas mengenai pentingnya sebuah arsitektur terutama arsitektur monumental yang memiliki representasi kultural di tempat didirikannya. Studi ini bertujuan untuk mempelajari arsitektur di Indonesia yang dapat merepresentasikan kultur setempat. Kasus studi berupa arsitektur Gedung Sate yang terletak di Bandung sebagai pusat pemerintahan Jawa Barat sebagai arsitektur monumental skala regional. Studi mengenai arsitektur monumental sebagai representasi kultural diharapkan dapat memberikan suatu citra atau identitas yang merepresentasikan budaya setempat.Teori yang digunakan dalam studi ini adalah teori mengenai citra kota oleh Kevin Lynch, teori citra kota Budihardjo, serta teori fungsi, bentuk, dan makna Salura untuk menelaah akulturasi konteks budaya pada bangunan Gedung Sate. Metode yang digunakan dalam menelusuri kasus studi ini adalah kualitatif dengan jenis studi deskriptif, analitik, dan interpretatif. Data diperoleh dari studi literatur jurnal dan beberapa buku yang berkaitan dengan kasus studi. Hasil studi menunjukkan bahwa Gedung Sate memberikan representasi kultur budaya Indonesia yang diambil dari konsep-konsep arsitektur nusantara khususnya Candi Jawa dengan ekspresi ragam akulturasi arsitektur yang menunjukkan bentuk pelingkup dengan ekspresi kultur/budaya lokal dapat merepresentasikan arsitektur nusantar
Citra Perdagangan Informal di Simpang Tujuh Ulee Kareng Banda Aceh
Simpang Tujuh Ulee Kareng merupakan salah satu persimpangan yang cukup ramai di Kota Banda Aceh. Persimpangan ini memiliki aktifitas perdagangan informal yaitu street vendors di ketujuh ruas jalan yang bertemu, Jalan T. Iskandar – Cot Iri, Jalan Jurong Dagang, Jalan T. Iskandar – Simpang BPKP, Jalan Kebun Raja, Jalan Masjid Tuha, Jalan Lamreung, dan Jalan Lamgapang. Penelitian arsitektural ini bertujuan untuk menganalisis tipe dan tipologi street vendors yang hadir pada ketujuh ruas jalan dan merumuskan konsep citra visual perdagangan informal yang hadir di kawasan tersebut. Untuk menemukan citra visual, penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif melalui analisis visual hasil dokumentasi fotografi survey lapangan. Hasil analisis visual perdagangan informal pada ketujuh ruas jalan menunjukkan adanya tujuh citra yang berbeda. Citra tersebut dipengaruhi oleh tipe dan tipologi street vendors, seperti detached/unfixed, detached/semi-fixed, detached/fixed, adjacent/unfixed, adjacent/semi-fixed, dan adjacent/fixed. Citra perdagangan informal yang berbeda juga dipengaruhi oleh konteks kawasan seperti keberadaan pasar dan sentra kedai kopi