Institut Teknologi Nasional: Jurnal Itenas Online
Not a member yet
1717 research outputs found
Sort by
Pelontar Ball Bullet Otomatis dengan Variasi Tekanan
ABSTRAK Ball bullet adalah peluru dengan diameter 6 mm yang biasa digunakan untuk air soft gun. Airsoft gun memanfaatkan gas CO2, green gas atau udara yang dimampatkan dalam tabung/chamber. Kapasitas gas atau udara yang dihasilkan untuk mendorong ball bullet sudah tertentu. Hal ini akibat konstruksi sistem pelepasan gas atau udara mampat tersebut. Pada penelitian ini dibuat alat pelontar ball bullet 6 mm yang dapat di variasikan tekanannya. Variasi tekanan ini berdampak terhadap peningkatan kecepatan ball bullet (dalam fps) yang keluar dari barel. Tipe pelontar ball bullet yang dibuat adalah single pump, sehingga seluruh udara bertekanan di dalam chamber dikeluarkan semua dalam satu kali tembak. Udara bertekanan dihasilkan dari mini kompresor yang ditampung dalam chamber. Bahan chamber yang digunakan adalah pipa PVC schedule 40 ukuran 1 inch dan panjang 10 cm, agar mudah dibuat dan mampu menahan tekanan pengujian. Tekanan pada chamber divariasikan 1 hingga 5 bar melalui yang diukur menggunakan piezoresistive pressure sensor. Pengukuran kecepatan lontaran ball bullet pada ujung barel diukur menggunakan chronometer. Perangkat kontrol yang digunakan adalah Arduino UNO yang mengendalikan solenoid valve untuk melepaskan udara bertekanan dari chamber. Pengujian dilakukan dengan jarak tembak 5 meter menggunakan target standar Perbakin. Hasil pengujian diperoleh rata-rata peningkatan kecepatan terhadap kenaikan tekanan adalah 28% dari 1 bar hingga 3 bar. Namun pada tekanan 4 dan 5 bar hanya meningkat 15% dan 20%. Kecepatan rata-rata ball bullet minimal pada tekanan 1 bar yaitu 111,2 fps dan maksimal pada tekanan 5 bar yaitu 252,4 fps. Tingkat kepresisian terendah adalah pada tekanan 3 bar yaitu 53 mm dan tertinggi pada tekanan 5 bar yaitu 28 mm. Kata-kata kunci: Airsoft Gun, Single Pump, PVC pipe, chronometer, solenoid valve. ABSTRACT Ball bullet is a bullet with a diameter of 6 mm which is commonly used for air soft guns. Airsoft guns use CO2 gas, green gas or compressed air in a tube/chamber. The capacity of the gas or air produced to push the ball bullet is certain. This is due to the construction of the gas or compressed air release system. In this study, a 6 mm ball bullet launcher was made which can be varied in pressure. This pressure variation has an impact on increasing the speed of the ball bullet (in fps) that comes out of the barrel. The type of ball bullet launcher that is made is a single pump, so that all the pressurized air in the chamber is removed all in single shot. Pressurized air is produced from a mini compressor which is accommodated in the chamber. The chamber material used is schedule 40 PVC pipe with a size of 1 inch and a length of 10 cm, so that it is easy to make and strong enough with testing pressure. The pressure in the chamber is varied from 1 to 5 bar through which it is measured using a piezoresistive pressure sensor. Measurement of the speed of the ball bullet at the end of the barrel is measured using a chronometer. The control device used is Arduino UNO which controls the solenoid valve to release compressed air from the chamber. The test was carried out to shoot Perbakin's standard targets with 5 meters shooting range. The test results the average speed to pressure increase 28% from 1 bar to 3 bar. But at 4 and 5 bar it only increased 15% and 20%. The minimum average speed of the ball bullet is at 1 bar pressure 111.2 fps and the maximum is at 5 bar 252.4 fps. The lowest level of precision is at 3 bar which is 53 mm and the highest is at 5 bar which is 28 mm. Keywords: Airsoft Gun, Single Pump, PVC pipe, chronometer, solenoid valve
Analisis Kegagalan Proses Pengelasan Standar Motor menggunakan Metoda FMEA dan FTA serta Pemodelan menggunakan Solidworks
Melakukan analisis kegagalan pada kasus standar motor samping dengan bantuan pemodelan pada Solidwork
Pengaruh Subtitusi Parsial Variasi Tepung Kaca Terhadap Kuat Tekan Beton Geopolimer
ABSTRAKSalah satu masalah utama yang dihadapi adalah tingginya emisi karbon dioksida (CO2) yang dihasilkan semen selama proses pembangunan dan penggunaan gedung. Penelitian ini dilakukan dengan membuat perbandingan agregat dan binder-nya sebesar 70%:30%, sebagai pengganti material pengikat yang digunakan yaitu fly ash dan tepung kaca, yang direaksikan dengan alkali aktivator untuk menghasilkan binder pada beton geopolimer. Alkali aktivator yang digunakan yaitu larutan NaOH konsentrasi 10M dan Na2SiO3 dengan perbandingan 1:3. Pada penelitian ini dilakukan 4 variasi benda uji berbentuk silinder ukuran 10 cm x 20 cm sebanyak 48 buah dengan perbandingan tepung kaca dan fly ash yaitu 0%:100% (variasi A), 10%:90% (variasi B), 15%:85% (variasi C), dan 25%:75% (variasi D). Metode membran diaplikasikan untuk perawatan benda uji, selanjutnya dilakukan pengujian kuat tekan beton pada umur 7, 14, dan 28 hari. Berdasarkan hasil pengujian kuat tekan beton geopolimer tertinggi yaitu pada variasi B halmana 10% tepung kaca dengan 90% fly ash, dengan nilai masing-masing sebesar 21,12 MPa; 26,80 MPa; dan 28,65 MPa pada pengujian umur beton geopolimer 7 hari, 14 hari, dan 28 hari.Kata kunci: beton geopolimer, tepung kaca, fly ash, alkali kktivator, kuat tekan beton ABSTRACTOne of the main problems faced is the high emission of carbon dioxide (CO2) produced by cement during the process of building and using the building. This research was conducted by making a ratio of aggregate and binder of 70%:30%, as a substitute for the binding material used, namely fly ash and glass powder, which were reacted with an alkaline activator to produce binder in geopolymer concrete. The alkaline activator used was a 10M concentration of NaOH and Na2SiO3 with a ratio of 1:3. In this study, 4 variations of cylindrical specimens measuring 10 cm x 20 cm were carried out with 48 pieces with a ratio of glass powder and fly ash, namely 0%:100% (variation A), 10%:90% (variation B), 15%: 85% (variation C), and 25%:75% (variation D). The membrane method was applied for the treatment of the specimens, then the compressive strength of the concrete was tested at the age of 7, 14 and 28 days. Based on the results of the geopolymer concrete compressive strength test, the highest was variation B, which was 10% glass flour and 90% fly ash, with each value of 21.12 MPa; 26.80 MPa; and 28.65 MPa on the geopolymer concrete age test of 7 days, 14 days and 28 days.Keywords: geopolymer concrete, Glass powder, fly ash, alkaline activator, concrete compressive strengthÂ
PERENCANAAN INSTALASI PENGOLAHAN LUMPUR IPA PARIT MAYOR PERUMDA AIR MINUM TIRTA KHATULISTIWA KOTA PONTIANAK
Peraturan Pemerintah Nomor 112 Tahun 2015 tentang Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM), menyatakan bahwa sistem penyediaan air minum bertujuan untuk menyediakan pelayanan air minum untuk memenuhi hak rakyat atas air minum dapat diselenggarakan oleh BUMN, BUMD, maupun badan usaha lainya. Perumda Air Minum Tirta Khatulistiwa merupakan Penyedia air minum yang berada di Kota Pontianak yang memiliki Instalasi Pengolahan Air (IPA) Parit Mayor yang melayani masyarakat Pontianak Timur dengan air baku sungai kapuas. Jenis residu yang akan dihasilkan dari IPA dengan menggunakan air sungai akan menghasilkan lumpur sebagai sisa dari pengolahan. Residu lumpur akan berdampak ke lingkungan apabila di buang secara langsung sehingga diperlukan rancangan untuk mendesain unit pengolahan lumpur. Perancangan pengolahan dapat menggunakan SNI 7510 tahun 2011, menggunakan data pada tahun 2020. Dirancang bangunan berjumlah empat bak yang terdiri dari bak penampung,bak sludge drying bed, bak supernatan, dan bak dry cake. luas area perencanaan yang dibutuhkan sebesar 345,902 m2 , sehingga luas lahan yang tersedia masih mencukupi untuk dibangunnya pengolahan lumpur. Oleh karena itu, dilakukan perencanaan pengolahan lumpur untuk mengolah lumpur residu
Studi Kelayakan Pembangkit Listrik Tenaga Hybrid Surya Bayu di Kota Bandung
ABSTRAKPada penelitian ini dilakukan analisis studi kelayakan potensi pembangkit listrik tenaga hybrid dengan sumber energi terbarukan surya dan bayu untuk skala rumah tangga di daerah kota Bandung. Beban yang digunakan sebesar 4896Wh setiap harinya. Analisis dilakukan dengan menggunakan aplikasi HOMER untuk menentukan nilai investasi dari PLTH yang dirancang serta produksi energi listrik yang dihasilkannya. Hasil dari penelitian ini adalah sistem pembangkit listrik hybrid mampu menghasilkan daya sebesar 2.313 kWh/tahun dengan perbandingan 48,7% dari sumber energi angin, 20,8% dari sumber energi surya, serta 9,7% sumber PLN. Nilai investasi dari sistem tersebut adalah Rp 32.910.770 untuk NPC, dengan IRR yang dihasilkan adalah 13%. Berdasarkan hasil analisis studi kelayakan tersebut, maka investasi yang digunakan pada sistem hybrid ini tidak rugi dan layak untuk direalisasikan.Kata kunci: PLTH, studi kelayakan, HOMER, surya, bayu. ABSTRACTIn this research, an analysis of the feasibility study of potential hybrid power plants with solar and wind renewable energy was carried out for household scale in Bandung city. The load used is 4896Wh every day. The analysis was carried out using the HOMER application to determine the investment value of the designed PLTH and the production of the electrical energy it produces. The result of this research is that the hybrid power generation system is capable of producing a power of 2313 kWh/year with a ratio of 48.7% from wind energy sources, 20.8% from solar energy sources, and 9.7% from PLN sources. The investment value of the system is IDR 32,910,770 for NPC, with the resulting IRR of 13%. Based on the results of the feasibility study analysis, the investment used in this hybrid system is lossless and feasible to realize.Keywords: hybrid power plant, feasibility study, HOMER, solar, wind
Workshop For Civil Servants Desa Duyung And Desa Grogol To Realize Digital Archive Management System
The objectives of this study are to analyze and examine the governance of village digital archives in the modernization era. The community service team from UBHARA has conducted digital archive development in Duyung Village and Grogol Village, aiming at facilitating easy public access to the existing government services. The community service methodwas in form of offline activities starting from preparation, coordination, implementation and evaluation. The results of the activity showed that the UBHARA community service team has successfully developed Google Form and Bit.ly for the Application for Making Letters in Duyung Village and Grogol Village Population Data. Thus, this demonstrates the importance ofgood understanding of digital archive management by utilizing the appropriate tools to enhance the efficiency of village archive management
Implementing Swakelola III Framework of Open Data 1.0 at Diskominfo Bengkayang Regency and IT Department of Shanti Bhuana Institute
The implementation of information systems and technology within the scope of Governmentis now mandatory to adhere to a framework known as Swakelola. The framework necessitates that every system and technology project involving local community organizations or regencies should develop the existing human resources potential within the city. This also applies to the procurement of open data systems managed by the Department of Communications and Informatics of Bengkayang Regency, involving the IT Department of Shanti Bhuana Institute through direct appointment based on Type III (Swakelola). The creation of the Open Data system is named Open Data 1.0, aiming at facilitating the Regent in accessing data from the Regional Work Units in Bengkayang Regency for easier future monitoring. The Swakelola implementation involves various documents that are expected to assist other universities in establishing official collaborations with the Local Government for system development. The feedback from the collaboration on creating Open Data 1.0 obtained a satisfaction rating of 4.6 out of 5 from the Head of the IT Division and the Users of Diskominfo Bengkayang Regency
Makna Motif Batik Kawung Sebagai Ide Dalam Perancangan Interior
Batik merupakan salah satu mahakarya Indonesia dan keberadaan batik telah diakui oleh seluruh dunia. Batik juga memiliki banyak corak dan makna didalamnya dan motif Kawung akan menjadi fokus pada artikel ini. Motif batik ini bentuknya berupa bulatan mirip buah kawung (sejenis kelapa atau kadang juga dianggap sebagai aren atau kolang-kaling) yang ditata rapi secara geometris. Kadang, motif ini juga ditafsirkan sebagai gambar bunga lotus (teratai) dengan empat lembar mahkota bunga yang merekah dengan makna yang terkandung didalamnya menjadikan motif ini sebagai inspirasi untuk diterapkan dalam perancangan interior. Penelitian ini memiliki kontribusi dalam memberikan ide dalam penerapan berbagai makna motif Kawung ke dalam elemen ruang, selain itu memberikan pandangan bahwa batik bukan saja memiliki unsur dekoratif, namun juga memiliki berbagai makna didalamnya. Kata Kunci : Batik Kawung, Makna, Perancangan Interio
SIMULATION OF PRESSURE REDUCING VALVE (PRV) INSTALLATION IN THE DISTRIBUTION NETWORK (CASE STUDY: NORTHERN REGION OF SUMBER IPA PALUKAHAN PDAM PADANG CITY)
ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mensimulasikan lokasi pemasangan Pressure Reducing Valve (PRV) yang tepat pada jaringan perpipaan di Wilayah utara Perumda Air Minum (PDAM) Kota Padang menggunakan satu sumber air. Simulasi hidrolis menggunakan aplikasi EPANET serta data sekunder dari PDAM Padang. Data yang dibutuhkan untuk simulasi terdiri dari data debit reservoir, pelanggan wilayah utara, serta perpipaan. Hasil simulai EPANET kemudian dibandingkan dengan hasil pengukuran lapangan. Terdapat perbedaan tekanan yang cukup signifikan antara simulasi EPANET dengan hasil pengukuran lapangan. Tingginya tekanan hasil simulasi, karena sumber air IPA Palukahan yang memiliki perbedaan elevasi yang besar dengan daerah pelayanan. Pemasangan Pressure Reducing Valve (PRV) merupakan pilihan untuk mengurangi tekanan pada jaringan pipa sampai batas tertentu. Dalam simulasi lokasi pemasangan PRV yang tepat di jaringan distribusi ditentukan agar tekanan di daerah pelayanan yang diperoleh memenuhi persyaratan. Rekomendasi penempatan PRV antara Node 119 dan Node 120 pada ketinggian 30 mdpl. PRV dapat menurunkan tekanan dari 1,9 atm – 10,7 atm menjadi 1,2 atm – 6,9 atm. Pemasangan PRV dapat menjadi langkah awal dalam persiapan pembentukan DMA (District metered Area) di wilayah utara kota Padang dalam rangka menurunkan tingkat kebocoran air.Kata kunci: EPANET, Instalasi Pengolahan Air (IPA) Palukahan, Jaringan distribusi, Pressure Reducing Valve (PRV), TekananABSTRACTThis study aims to simulate the exact location of the Pressure Reducing Valve (PRV) installation in the pipeline network in the northern area of the Municipal Water Supply Company (PDAM) of Padang City using one water source. The water source used is Palukahan Water Treatment Plant (WTP) which has a relatively high elevation to the service area. The hydraulic simulation used the EPANET and secondary data from PDAM Padang. The data needed for the simulation consists of reservoir discharge data, northern customers, and piping. The results of the EPANET simulations were then compared with the results of field measurements. There is a significant difference in pressure between the EPANET simulation and the field measurement results. The high pressure from the simulation results is due to the Palukahan WTP water source which has a large elevation difference from the service area. Installation of a Pressure Reducing Valve (PRV) is an option to reduce the pressure in the pipe network to a certain extent. In the simulation, the appropriate PRV installation location in the distribution network is determined so that the pressure in the service area obtained meets the requirements. Recommended PRV placement between Node 119 and Node 120 at an altitude of 30 meters above sea level. PRV can reduce pressure from 1.9 atm – 10.7 atm to 1.2 atm – 6.9 atm. Installing PRV can be the first step in preparing for the formation of a DMA in the northern area of Padang City in order to reduce the level of water leakage.Keywords: EPANET, Palukahan Water Treatment Plant (WTP), Distribution Network, Pressure Reducing Valve (PRV), Padang Water Utility (PDAM Padang), Pressur