E-Jurnal Universitas Kebangsaan
Not a member yet
861 research outputs found
Sort by
ANALISA APLIKASI KONSEP ARSITEKTUR BIOKLIMATIK PADA SASANA KRIDA RAGA SATRIA PURWOKERTO
Abstract: Sasana Krida Raga Satria is a sports building located in the GOR in Purwokerto. The building is a multifunctional building, because apart from being functioned as a building that accommodates sports activities, this building is also used as a place for art activities and various other major events. In this study, an analysis of the principles and integrated design strategies of the bioclimatic design will be carried out which is applied to the Sasana Krida Raga Satria building. Based on the results of the analysis, it was found that Sasana Krida Raga Satria has fulfilled the principles and strategies of integrated bioclimatic design as evidenced by the green design approach in the tropics by utilizing solar energy as natural light for the room through skylights, the design of a room with many openings near the roof that functions as a dust filter, sunscreen and natural air circulation. The method used in this research is descriptive qualitative analysis method by collecting data from literature review and field review. The porpuse of this study is to find out the implementation of bioclimatic principles and bioclimatic design strategies in the Sasana Krida building and it can be used as design inspiration that is more aware of the welfare and health of users, integrates with the environment and creates energy-efficient designs.Abstrak: Sasana Krida Raga Satria merupakan gedung olahraga yang terdapat di dalam GOR Kota Purwokerto. Gedung termasuk gedung yang multifungsi, karena selain difungsikan sebagai bangunan yang mewadahi kegiatan olahraga, gedung ini juga dimanfaatkan sebagai tempat kegiatan kesenian dan berbagai acara besar lainnya. Dalam penelitian ini akan dilakukan analisis mengenai prinsip-prinsip beserta strategi desain terpadu dari desain bioklimatik yang diaplikasikan ke dalam bangunan Sasana Krida Raga Satria. Berdasarkan hasil analisis didapatkan bahwa Sasana Krida Raga Satria telah memenuhi prinsip dan strategi desain terpadu bioklimatik yang dibuktikan dengan pendekatan desain hijau di daerah tropis dengan memanfaatkan energi matahari sebagai cahaya alami ruangan melalui skylight, desain ruangan yang banyak bukaan didekat atap yang berfungsi sebagai filter debu, sunscreen dan tempat sirkulasi udara alami. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode analisis diskriptif secara kualitatif dengan melakukan pengumpulan data dari kajian pustaka literatur serta tinjauan lapangan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sejauh mana prinsip dan desain terpadu bioklimatik diterapkan dan diharapkan dapat dijadikan inspirasi desain yang lebih memperhatikan kesejahteraan dan kesehatan pengguna, terintegrasi dengan ligkungan dan menciptakan desain hemat energi
TINJAUAN 3 TIPE SHADING FASADE BANGUNAN GEDUNG WIDYA PURAYA UNIVERSITAS DIPONEGORO
Abstract: Indonesia has a humid tropical climate, building design must pay attention to climate conditions when planning and implementing it. This condition has a very big influence on an architectural design, one of which is to provide building shading in order to adapt to climatic conditions. In the world of architecture, a building façade shading is very important for the buioding itself, and has an influence on the users of the room. Shading on the facade of the building as a protector of the building from direct sunlight, shading also has an aesthetic to a building (Purnama, 2020). There are different types of facades that will become a reference for research in a building to find out which type is effective on the climate. The method used in this study uses descriptive quantitative methods, where research make direct observations and make measurements of the object under study and then analyzed to archieve the objective of the study on the different types of building facades.Abstrak: Indonesia memiliki iklim tropis lembab, desain bangunan harus memperhatikan kondisi iklim saat dalam perencanaan dan pelaksanaannya. Kondisi ini sangat mempunyai pengaruh yang sangat besar pada sebuah desain arsitektur, yang salah satunya adalah memberikan shading bangunan guna untuk menyesuaikan terhadap kondisi iklim. Pada dunia arsitektur sebuah shading fasad bangunan sangatlah penting bagi bangunan itu sendiri, dan memiliki pengaruh terhadap pengguna ruangan. Shading pada fasad bangunan sebagai pelindung bangunan dari sinar matahari secara langsung, shading juga memiliki estetika terhadap sebuah bangunan (Purnama, 2020). Terdapat perbedaan tipe fasad yang akan menjadi acuan penelitian dalam sebuah bangunan untuk mengetahui jenis manakah yang efektif terhadap iklim. Metode yang digunakan dalam penelitian dengan menggunakan metode kuantitatif deskriptif, dimana peneliti melakukan observasi langsung dan melakukan pengukurang ke obyek yang diteliti kemudian dianalisa untuk mencapai tujuan dari penelitian terhadap berbedaan 3 jenis fasad bangunan
EKSPLORASI GAYA ARSITEKTUR MODERN: Studi Kasus Masjid Islamic Center Tulang Bawang Barat
Abstract: Abstract: Architecture as a marker of civilization brings its characteristics in each era. The West Tulang Bawang (Tubaba) Islamic Center Mosque is a mosque with a center for Islamic activities in it. Designed with unique architecture and is different from other general mosque. In the application of architecture, the Tubaba Islamic Center Mosque has a theoretical value in terms of function, form, and meaning that cannot be separated from the Islamic religious elements in it. The function is applied as a center for Islamic activities, a different form from mosques in general but with Islamic ornaments that do not eliminate the mosque's signature, and also the meaning that is applied from construction, and elements to the concept of the building. The modern architectural style at the Tubaba Islamic Center Mosque follows the characteristics of the modern architectural version of the International Style.Keyword::Architecture, Mosque, ModernAbstrak: Arsitektur sebagai penanda peradaban membawa suatu ciri khas sendiri dalam setiap zamannya. Masjid Islamic Center Tulang Bawang Barat (Tubaba) adalah sebuah masjid dengan pusat kegiatan kegiatan islami didalamnya. Dirancang dengan arsitektur unik dan berbeda dengan masjid pada umumnya. Untuk penerapan di bidang arsitektur, Masjid Islamic Center Tubaba memiliki nilai teori secara fungsi, bentuk dan makna yang tidak terlepas dari unsur keagamaan Islam didalamnya. Fungsi diterapkan sebagai pusat kegiatan islami, bentuk yang berbeda dari masjid pada umumnya namun dengan ornamen Islam yang tidak menghilangkan signature masjid, dan juga makna yang diterapkan dari kontruksi, elemen sampai dengan konsep bangunan. Gaya arsitektur modern pada Masjid Islamic Center Tubaba mengikuti ciri dari arsitektur modern versi International Style.Kata Kunci: Arsitektur, Masjid, Moder
PENGARUH MATERIAL FASADE TERHADAP KONDISI RUANG TERHADAP PSIKOLOGI HUMANISTIK PENDIDIKAN PONDOK PESANTREN
Abstract: Islamic Boarding School buildings in general have closed characteristics and are also not conditioned in architectural terms. The layout of the Islamic boarding school can be said to be unorganized, because its development was not accommodated by careful planning. This is reasonable, limited land and also limited ability in land acquisition due to self-financing from cottage managers who are also limited. From this condition, the cottage building will naturally grow and develop according to the limitations of the topographical conditions and limited land as well as the level of students in the annual student admission period. The lack of predictability related to the development of buildings among Islamic boarding schools is able to have an impact on behavior and psychology as well as an impact on the quality of education. Instability in the development of buildings or infrastructure facilities is a driving force for uncontrolled behavior in the Islamic boarding school environment. Bullying, immoral acts to criminality which are now increasingly prevalent among Islamic boarding schools have become a frightening specter for students and the bad image of Islamic boarding schools has become the public's spotlight on the quality of non-formal education, Islamic boarding schools. In order to reduce the negative tendencies that occur as a result of the spatial layout, application is given to building materials with a dense and limited layout according to the characteristics of Islamic boarding schools. Changes through materials on building facades and new nuances in Islamic boarding school buildingsKeyword: Bullying, Psychology Humanistic, Islamic Boarding School.                                       Abstrak: Bangunan Pondok Pesantren pada umumnya memiliki sifat yang tertutup dan juga tidak terkondisikan secara tata ruang arsitektur. Tata ruang pondok pesantren yang dapat dibilang kurang tertata, dikarenakan pembangunannya tidak diwadahi oleh perencanaan yang matang. Hal ini wajar, keterbatasan lahan dan juga keterbatasan kemampuan dalam pembebasan lahan dikarenakan pembiayaan mandiri dari pengelola pondok yang juga terbatas. Dari kondisi ini, maka bangunan pondok secara alami akan tumbuh dan berkembang sesuai keterbatasan dengan kondisi topografi dan keterbatasan lahan serta tingkat santri dalam periode penerimaan peserta didik pertahunnya. Kurang mampunya diprediksi terkait perkembangan bangunan dikalangan pondok pesantren ini mampu memberikan dampak pada perilaku dan psikologi serta dampak pada kualitas Pendidikan. Ketidakstabilan perkembangan bangunan atau sarana prasrana menjadi pendorong perilaku yang tidak terkontrol dalam lingkungan pesantren. Tindak Bullying, tindak asusila hingga kriminalitas yang kini makin marak terjadi dikalangan pondok pesantren menjadi momok menyeramkan bagi para santri serta buruknya image pondok pesantren menjadi sorotan masyarakat luas terhadap kualitas Pendidikan non formal, pondok pesantren. Guna mengurangi kecenderungan negative yang terjadi akibat tatanan ruang diberikan aplikasi terhadap material bangunan dengan tata ruang yang padat dan terbatas sesuai dengan karakteristik bangunan pondok pesantren. Perubahan melalui material pada fasade bangunan serta nuansa baru dalam bangunan pondok pesantren.Kata Kunci: Perundungan, Psikologi Humanistik, Pondok Pesantren
KONSEP HARMONI SEBAGAI INOVASI DESAIN BANGUNAN GEREJA GMIT IMANUEL OEMORO, KABUPATEN KUPANG
Abstract: The design of the Church Building needs to be done correctly and can accommodate the needs and potential according to the local context. The problem experienced by the community at GMIT Imanuel Oemoro is that there is an image of a church design that is not in accordance with community values and the local context. The aim of this research is to present a church design concept that is in accordance with the values and context of the Oemoro people. The research method was carried out in a qualitative descriptive manner by prioritizing inductive data. The author plays a direct role as the Planning Team and records all the potential and problems of the community or congregation to be accommodated in the design concept of the GMIT Imanuel Oemoro church building. The results of the study show that Harmony is the right concept as an innovative step in designing today's church buildings that can combine the values of people's lives in relation to others, nature and God. Harmony with nature in the use of local materials, namely river stone on building facades and fringes on ceiling materials and acoustic settings. Harmony with others in the interior arrangement of the church which prioritizes the principle of equality in the arrangement of furniture. Harmony with God is by applying the meaning of the word Immanuel which means "God with us" in the form of buildings with exterior and interior elements.Keyword: Harmony, Church Innovation, Immanuel, OemoroAbstrak: Desain Gedung Gereja perlu dilakukan secara tepat dan dapat mengakomodir kebutuhan serta potensi sesuai konteks setempat. Masalah yang dialami oleh Masyarakat pada GMIT Imanuel Oemoro yakni adanya gambar desain gereja yang tidak sesuai dengan nilai-nilai masyarakat dan konteks setempat. Tujuan dari penelitian ini yakni hadirnya konsep desain gereja yang sesuai dengan nilai- nilai dan konteks masyarakat Oemoro. Metode penelitian dilakukan secara deskriptif kualitatif dengan mengedepankan data induktif. Penulis berperan langsung sebagai Tim Perencana dan mendata semua potensi dan permasalahan masyarakat atau jemaat untuk diakomodir dalam konsep desain bangunan gereja GMIT Imanuel Oemoro. Hasil penelitian menunjukan bahwa Harmoni merupakan konsep yang tepat sebagai sebuah langkah inovasi dalam mendesain gedung gereja masa kini yang dapat mengkombinasikan nilai-nilai kehidupan masyarakat dalam hubungannya dengan sesama, alam dan Tuhan. Harmoni dengan alam pada penggunaan material lokal yakni batu kali pada fasad bangunan dan bebak pada material plafond serta seting akustik. Harmoni dengan sesama pada tatanan interior gereja yang mengedepankan prinsip kesetaraan pada penataan perabot. Harmoni dengan Tuhan yakni dengan menerapkan arti kata Imanuel yang berarti “Allah beserta kita†pada bentuk bangunan dengan elemen eksterior dan interior.Kata Kunci: Harmoni, Inovasi Gereja, Imanuel, Oemor
IDENTIFIKASI MODEL SPASIAL HUNIAN BERKONSEP CO LIVING
Abstract: Users who live in urban areas find it increasingly difficult to find affordable housing and places to work. The absence of integrated infrastructure facilities in one area has resulted in an additional commuting duration which has an impact on its users. Urban communities do not have much time for social interaction because they spend much time on the road. The impact is that urban communities become lonely in the real world because they rarely interact physically. Most social interactions are carried out through cyberspace, not through spaces for real interaction. Therefore, co living exists to build an integrated ecosystem between spaces for its users. Co living is thought to be suitable for the millennial generation because of the flexibility of its rooms and still having areas of privacy. However, there are no standard co living model criteria so research is needed to identify co living spatial models. This study aims to identify spatial patterns of co living dwellings. The research method was carried out using a qualitative method through precedent studies to obtain indicator criteria for co living. The co living spatial model has spatial patterns that focus on seven variables. From these variables, it is obtained that all ages can use co-living users, private spaces are connected to shared areas or public areas, other supporting concepts support co living concepts, materials adapt to supporting concepts, can be in the form of new buildings or adaptive reuse as well as spatial views placing openings in frequently used rooms.Keyword: Co-Living, Affordability, Social interactionsAbstrak: Pengguna yang tinggal di perkotaan semakin sulit mendapatkan hunian dan tempat bekerja yang terjangkau. Belum adanya sarana prasarana yang terintegrasi dalam satu kawasan mengakibatkan penambahan durasi commuting yang berdampak pada penggunanya. Masyarakat perkotaan tidak memiliki banyak waktu untuk berinteraksi sosial karena menghabiskan banyak waktu di jalan. Dampaknya masyarakat perkotaan menjadi kesepian di dunia nyata sebab jarang berinteraksi secara fisik. Kebanyakan interaksi sosial dilakukan melalui dunia maya bukan melalui ruang-ruang untuk berinterksi secara nyata. Oleh sebab itu, co living hadir untuk membangun ekosistem yang terintegrasi antar ruang untuk penggunanya. Co living diperkirakan cocok untuk generasi milenial karena kefleksibilitasan ruang-ruangnya dan tetap memiliki area privasi. Namun, saat ini belum ada standar kriteria model co living sehingga dibutuhkan penelitian untuk mengidentifikasi model spasial co living. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi pola spasial hunian co living. Metode penelitian dilakukan dengan metode kualitatatif melalui studi preseden untuk mendapatkan indikator kriteria dari co living. Model spasial co living memiliki pola ruang yang berfokus pada tujuh variabel. Dari variabel tersebut didapatkan pengguna co living dapat digunakan segala umur, ruang privat terhubung dengan area bersama atau area publik, konsep co living  didukung oleh konsep penunjang lainnya, material menyesuaikan konsep penunjang, dapat berupa bangunan baru maupun adaptive reuse serta view spasial meletakkan bukaan pada ruangan yang sering digunakan.Kata Kunci: Co living, Keterjangkauan, Interaksi sosia
KAJIAN MATERIAL REFLEKSI DALAM PADA DINDING TERHADAP INTENSITAS PENCAHAYAAN ALAMI
Abstract: Natural lighting has been widely studied by measurement and simulation methods. Aperture is the factor under study associated with the intensity of light in the room. Reflective materials in their kind are walls and furniture. It also plays a role in determining the intensity of light in a room. This study aims to examine the various materials commonly used for walls and their effect on the intensity of light in a room. The research method used in this study is a quantitative method with a simulation using dialux Evo 8.6 software. Research begins by creating a model. The room model is made of 7 pieces in a row. After the model is finished, a window with a size of 1 x 1.3 m is created. Each room will be given a different wall material. The result is a room with wooden walls has the highest light intensity. The lowest intensity is in a room with walls of glass block material. The order from lowest to highest after red brick is rough plaster, followed by concrete, vinyl and then ceramic. This has to do with the condition of the surface of the material. The conclusion is that a room that has walls with a rough surface will experience a decrease in light intensity due to light diffraction. Color plays a role as an absorber of light. Even though the surface is smooth, if the color of the field is dark, the room will have low light intensity.Keyword: natural lighting, walls, inner reflection, light intensityAbstrak: Pencahayaan alami sudah banyak diteliti dengan metode pengukuran dan simulasi. Bukaan menjadi faktor yang diteliti dikaitkan dengan intesitas cahaya dalam ruangan. Material refleksi dalam jenisnya adalah dinding dan furnitur. Hal ini juga memainkan peran dalam menentukan intensitas cahaya dalam sebuah ruangan. Penelitian ini bertujuan mengkaji beragam material yang biasa digunakan untuk dinding dan pengaruhnya terhadap intensitas cahaya dalam sebuah ruang. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kuantitatif dengan simulasi menggunakan software dialux Evo 8.6. Penelitian dimulai dengan membuat sebuah model. Model ruang dibuat sebanyak 7 buah berjejer. Setelah model selesai maka dibuat jendela dengan ukuran 1 x 1.3 m. Setiap ruang akan diberikan material dinding yang berbeda. Hasilnya adalah ruang dengan dinding kayu mempunyai intesitas cahaya yang paling tinggi. Intensitas paling rendah ada pada ruangan dengan dinding material blok kaca. Urutan dari paling rendah ke lebih tinggi setelah bata merah ada pelster kasar disusul beton, vinyl lalu keramik. Hal ini ada hubungannya dengan kondisi permukaan material tersebut. Kesimpulanya adalah ruang yang memiliki dinding dengan permukaan yang kasar akan mengalami penurunan intensitas cahaya disebabkan terjadinya difraksi cahaya.Warna memainkan peran sebagai penyerap cahaya. Walau permukaannya halus bila warna bidang gelap maka ruang akan punya intensitas cahaya rendah. Kata Kunci: pencahayan alami, dinding, refleksi dalam, intensitas cahay
HUBUNGAN PLACE IDENTITY DENGAN IDENTITY OF COMMUNITY PADA CO-WORKING SPACE
Abstract: The continuous development of technology pursues the emergence of co-working, mainly in Surabaya with many enthusiasts, especially startups. Place identity is represented by Koridor Co-working Space. While identity of community by startups is dominated by Z and millennial. It is said that place and user can influence each other. In its application, co-working can accommodate many startups in one location. Co-working needs to express place identity and identity of community as user. Meanwhile startups, in their effort to express identity of community, need more space control. Only a little research has discussed place identity and identity of community that are specific to co-working. Thus this correlational research aims to identify the relationship of place identity and identity of community in co-working. Through post-positivism paradigm and the collected data through observation, documentation, archive and likert-scale questionnaire, data from 67 respondents were analyzed using descriptive statistical analysis. The results show that most startup members consider place identity of Koridor Co-working Space to be unique and very unique. From all aspects identity of community and place identity, two pairs of interconnected were found; education with shape and form of building and income with materials. Thus in this position, the hypothesis can be accepted.Keyword: Co-working space, identity of community, place identity Abstrak: Berkembangnya teknologi berkesinambungan dengan munculnya co-working space terutama di Kota Surabaya dengan banyak peminat, yaitu kelompok startup. Place identity diwakili oleh Koridor Co-working Space. Sementara identity of community diwakili oleh kelompok startup yang didominasi generasi Z dan Y. Diketahui bahwa tempat dan pengguna saling berhubungan. Dalam aplikasinya, co-working space dapat menampung banyak startup dalam satu lokasi. Co-working space perlu memunculkan place identity sekaligus identity of community sebagai penggunanya. Sementara kelompok startup dalam upaya memunculkan identity of community terhalang oleh kendali ruang yang terbatas. Belum banyak penelitian yang membahas tentang konsep place identity dan identity of community yang spesifik pada objek co-working space. Dengan begitu, penelitian correlational research ini memiliki tujuan untuk mengidentifikasi hubungan place identity dengan identity of community pada co-working space. Melalui paradigma post-positivism dan teknik pengumpulan data melalui observasi, dokumentasi, arsip dan kuesioner berskala likert, data dari 67 responden dianalisis menggunakan analisa statistik deskriptif. Hasilnya menunjukkan bahwa mayoritas anggota startup menilai place identity Koridor Co-working Space tergolong unik dan sangat unik. Selain itu, dari seluruh sub-variabel identity of community dan place identity yang dihubungan, ditemukan dua pasang yang terbukti berhubungan, yaitu pendidikan dengan bentuk bangunan serta pendapatan dengan material. Dengan demikian, pada posisi ini hipotesis dapat diterimaKata Kunci: Co-working space, identity of community, place identit
EKSPLORASI POLA ADAPTASI PENGUNGSI WANITA MADURA DI PENAMPUNGAN SEMENTARA RUSUNAWA JEMUNDO, SIDOARJO
Abstract: Refugees are usually accommodated in temporary shelters with limited conditions. Shelters are usually set up as a temporary solution, which UNHCR says their conditions are like living in limbo (uncertainty). However, unlike the usual shelters, the Sampang refugees, who are included in the category of internally displaced people, are being temporarily accommodated in the Jemundo Rusunawa. Moreover, they have been in the residence for almost 11 years. In addition to getting access to basic needs, the condition of the shelter is in the form of a permanent building that is suitable for renting out to the surrounding community. Do these conditions make it easier for Sampang refugees to adapt? While many theories say that refugees, especially women, experience difficulties when they are in a new environment, for example related to their domestic and social activities. This research explores the adaptation pattern of Sampang women refugees who have a strong culture and spirituality in getting used to new housing, which not only has a different pattern, but also has levels. The qualitative method was chosen to make it easier to explore the natural settings of these women. Data were obtained through observation and interviews, which were then analyzed using thematic analysis. The results show that they create the atmosphere of their home by expanding domestic space into spaces that have opportunities and are agreed upon by the community.Keyword: Adaptation Pattern, Female Refugees, Rusun Abstrak: Pengungsi biasanya ditampung pada hunian sementara dengan kondisi yang terbatas. Tempat penampungan biasa didirikan sebagai solusi sementara, dimana UNHCR menyebut kondisi mereka seperti hidup didalam limbo (ketidakpastian). Namun berbeda dengan penampungan biasanya, pengungsi Sampang, yang termasuk dalam ketegori internally displaced people ini, ditampung sementara di Rusunawa Jemundo. Apalagi mereka sudah berada pada hunian tersebut selama hampir 11 tahun. Selain mendapat akses kebutuhan dasar, kondisi penampungan berupa gedung permanen yang layak disewakan bagi masyarakat sekitar. Apakah kondisi yang demikian membuat pengungsi Sampang lebih mudah beradaptasi?. Sementara banyak teori yang mengatakan bahwa pengungsi, khususnya wanita, mengalami kesulitan saat berada di lingkungan baru, misalnya  terkait dengan kegiatan domestik maupun kegiatan sosial mereka. Penelitian ini menggali pola adaptasi pengungsi wanita Sampang yang memiliki kebudayaan dan spiritualitas yang kental melakukan pembiasaan pada hunian baru, yang tidak hanya memiliki pola yang berbeda, tetapi juga bertingkat. Metode kualitatif yang dipilih untuk mempermudah menggali natural setting dari para wanita tersebut. Data didapatkan melalui observasi dan wawancara, yang kemudian dianalisis menggunakan analisis tematik. Hasil menunjukkan mereka menciptakan suasana rumahnya dengan memperluas ruang domestik pada ruang-ruang yang berpeluang dan disepakati bersama komunitas.Kata Kunci: Pola Adaptasi, Pengungsi Wanita, Rusu
KINERJA BUKAAN DAN ORIENTASI TERHADAP KENYAMANAN TERMAL PADA PERUMAHAN SIRANDA VIEW SEMARANG
Abstract: Siranda View Housing is a housing complex in Semarang that comprises three different styles of residences with minimalist facades. The thermal comfort conditions within a house are affected by residential house facades with variable apertures and orientations for each type of house. The issue in this study is the performance of residential house openings and orientation that are not in accordance with regulations for each different type of housing, resulting in negative thermal comfort conditions. The air temperature and humidity in the research object were measured using a quantitative descriptive method. Psychometric and Effective Temperature diagrams were used to examine measurements taken at two different types of residential dwellings. Data collection through respondents is also done to know the sensations respondents feel while inside the home.This study shows that although the thermal comfort conditions in a one-story house are still below the optimal requirements, the thermal comfort conditions in a second-story house are normal.Keyword: Thermal Comfort, Building Aperture, Building OrientationAbstrak: Perumahan Siranda View merupakan salah satu perumahan di Kota Semarang yang memiliki 3 tipe rumah berbeda dengan fasad minimalis. Fasad rumah tinggal dengan beragam bukaan dan perbedaan orientasi pada setiap tipe rumah ini berpengaruh terhadap kondisi kenyamanan termal di dalam rumah. Permasalahan dalam penelitian ini adalah kinerja bukaan dan orientasi rumah tinggal yang tidak sesuai standar pada setiap tipe rumah yang berbeda sehingga tercipta kondisi kenyamanan termal yang kurang baik. Penelitian yang dilakukan ini dengan metode deskriptif kuantitatif dengan pengukuran suhu udara dan kelembaban pada objek penelitian. Pengukuran dilakukan pada 2 tipe rumah tinggal yang berbeda dianalisis menggunakan diagram Psikometrik dan Temperatur Efektif. Pengambilan data melalui responden juga dilakukan untuk mengetahui sensasi yang dirasakan responden saat berada di dalam rumah. Penelitian ini menunjukkan bahwa kondisi kenyamanan termal pada rumah satu lantai masih dibawah standar kenyamanan termal yang ideal, namun kondisi kenyamanan termal pada rumah dua lantai sudah sesuai dengan standar yang baik.Kata Kunci: Kenyamanan Termal, Bukaan Bangunan, Orientasi Banguna