Publications of Research Center for Geotechnology, Indonesian Institute of Sciences
Not a member yet
    310 research outputs found

    IDENTIFIKASI AKUIFER AIR ASIN DAN AIR TAWAR BERDASARKAN MODEL TAHANANJENIS DAN DATA BOR DI SIDOARJO, JAWA TIMUR

    Full text link
    Penelitian ini bertujuan untuk melakukan identifikasi akuifer air asin dan air tawar di daerah Sidoarjo. Penentuan akuifer dilakukan berdasarkan model tahananjenis 2D dan data bor. Interpretasi data tahananjenis menunjukkan bahwa prospek akuifer air tawar ada pada kedalaman 10 hingga 50 meter yang menyebar luas, dan akuifer air tawar dalam berada pada kedalaman 140 sampai 170 meter. Akuifer- akuifer tersebut memiliki nilai tahananjenis antara 14,7 sampai 46,2 ohm-meter. Akuifer air asin teridentifikasi pada kedalaman 51 sampai 110 meter dengan nilai tahananjenis 0,48 sampai 3,1 ohm-meter, dan air payau pada kedalaman 20 hingga 40 meter. ABSTRACT Identification of Salt and Fresh Water Aquifers Based on Resistivity Model and Logging Data in Sidoarjo, East Java. The purpose of this study is to identify saltwater and freshwater aquifers in Sidoarjo region. The aquifers were identified based on a 2D resistivity modeling from geoelectrical survey and data interpretation from resistivity logging. Analyzes from both data show that the freshwater aquifer is at the depth of 10 to 50 meters, which are widespread. A deep freshwater aquifer is in a depth of 140 to 170 meters. These aquifers has a resistivity value between 14.7 to 46.2 ohm-meters. Saltwater aquifers are identified in the depth of 51 to 110 meters with resistivity values of 0.48 to 3.1 ohms-meters. And brackish water is at the depth of 20 to 40 meters

    MIKROZONASI SEISMIK DI WILAYAH ANCAMAN SESAR LEMBANG ANTARA SEKSI CIHIDEUNG DAN GUNUNG BATU BERDASARKAN PENGUKURAN MIKROTREMOR

    Full text link
    Sesar Lembang merupakan salah satu sesar aktif yang mengancam wilayah Jawa Barat. Upaya pengurangan risiko dari ancaman sesar ini memerlukan pengetahuan mengenai tingkat kerentanan seismik di wilayah yang berada di zona sesar. Makalah ini menyajikan hasil analisis rasio spektral H/V dari data pengukuran mikrotremor di sepanjang zona Sesar Lembang, antara Seksi Cihideung dan Gunung Batu, untuk menghasilkan mikrozonasi kerentanan seismik di wilayah Kecamatan Lembang dan Parongpong. Hasil analisis menunjukkan bahwa wilayah Kecamatan Lembang dan Parongpong yang tersusun oleh lapisan endapan danau dan pasir tufan, umumnya dicirikan oleh nilai frekuensi dominan yang rendah dan faktor amplifikasi sedang hingga tinggi. Berdasarkan indeks kerentanan seismik, kedua kecamatan ini secara umum dapat diklasifikasikan sebagai daerah dengan kerentanan seismik yang tinggi. Akan tetapi, daerah yang terbentuk dari lapisan breksi tua di Kecamatan Lembang memiliki kerentanan seismik yang rendah, sedangkan daerah-daerah di wilayah Kecamatan Parongpong di sepanjang Seksi Cihideung yang tersusun oleh lapisan pasir tufan merupakan daerah dengan kerentanan seismik sedang. Dengan demikian, kerentanan seismik wilayah ancaman Sesar Lembang sangat spesifik di setiap daerah dan dipengaruhi oleh jenis satuan litologi.ABSTRACT - Seismic microzonation of Lembang Fault hazard area along Cihideung and Gunung Batu sections using microtremor measurements Lembang Fault is amongst the active faults that pose a significant threat to the West Java region. Mitigation efforts in reducing seismic risks associated with this fault require knowledge of seismic vulnerability in the area along the fault zone. This paper presents the results of horizontal to vertical (H/V) spectral ratio analysis of microtremor data across the Lembang Fault zone, measured along the Cihideung and Gunung Batu Sections, to establish a seismic vulnerability microzonation of Lembang and Parongpong Subdistricts. The study shows that the Lembang and Parongpong Sub-district areas composed of lake sediments and tuffaceous sand units are generally characterized by low dominant frequencies and medium to high amplification factors. According to their seismic vulnerability indices, in general, these two subdistricts can be classified as areas with high seismic vulnerability. However, the areas covered by the old breccia unit in the Lembang Sub-district have low seismic susceptibility, while the areas covered by the tuffaceous sand unit along the Cihideung Section in Parongpong Subdistrict have the medium seismic vulnerability. Thus, this study indicates that the seismic vulnerabilities of Lembang Fault hazard area are considerably site-specific and influenced by the lithology

    KARAKTERISTIK ISOTOP 18O DAN 2H DARI BEBERAPA MATAAIR PANAS DI JAWA BARAT

    Full text link
    Mataair panas di Jawa Barat tersebar hampir merata dari selatan hingga utara dan umumnya berada di daerah gunung api, baik yang masih aktif maupun yang sudah tidak aktif. Pada tahap eksplorasi panas bumi, keberadaan mataair panas ini sangat menarik untuk diteliti, khususnya terkait komposisi isotopnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik sumber air panas di Jawa Barat dengan menggunakan pendekatan isotop stabil 2H dan 18O dari sejumlah sampel air panas yang diambil dari beberapa lokasi, yang meliputi Gunung Pancar dan Ciseeng, Bogor; Gunung Gede, Cianjur; Santa, Sukabumi; serta Palimanan, Cirebon. Hasil analisis isotop 18O dan 2H sampel air dari beberapa mataair panas di Jawa Barat menunjukkan bahwa karakteristik mataair panas Gunung Pancar dan Sukabumi lebih dominan berasal dari air meteorik. Sementara mataair panas daerah Ciseeng dan Palimanan merupakan hasil interaksi dengan batuan karbonat (CaCO3). Sedangkan mataair panas area Gunung Gede berasal dari hasil interaksi dengan batuan andesitik dengan fraksi air andesitik antara 0,03 hingga 0,21. ABSTRACT – Stable Isotopes (18O and 2H) Characteristics of Several Hot Springs in West Java. Hot springs locations in West Java are distributed from south to north and are generally associated with active or inactive volcanoes. During the exploration stage, hot springs become a point of interest for geothermal investigation, especially regarding the water isotope compositions. This study aimed to obtain the hot springs' characteristics in West Java based on the 18O and 2H isotope compositions. Water samples were collected from several hot springs in West Java, i.e., Gunung Pancar and Ciseeng, Bogor; Gunung Gede, Cianjur; Santa, Sukabumi; and Palimanan, Cirebon. The result shows that the characteristics of Gunung Pancar and Sukabumi hot springs are dominated by meteoric water. Meanwhile, interactions with carbonate rocks occur in Ciseeng and Palimaman hot springs. While, hot springs in Gunung Gede are the product of water interaction with andesitic rocks, with the fraction of andesitic waters between 0.003 to 0.21

    IMAGING TREE ROOT ZONE GEOMETRY USING ELECTRICAL RESISTIVITY TOMOGRAPHY

    Full text link
    Root zone geometry research is usually done in a conventional way which is destructive, time-consuming, and requires a considerable cost. Several non-destructive measurements used geophysical methods have been developed, one of which is the Electrical Resistivity Tomography (ERT) method. Tree root zone determination using ERT has been carried out in Kiara Payung area, Sumedang, West Java, with Maesopsis eminii tree as the object study. A total of 29 ERT lines were measured using dipoledipole configuration with electrodes spacing of 50 cm. The results of two-dimensional (2D) and three-dimensional (3D) inversion modeling show that the ERT method has been successfully imaging the tree root zone. The root zone is characterized as 100-700 Ωm with an elliptical shape geometry of the root plate. The root radius is estimated to be 4-5 m from the stem, the root zone diameter reaches 8-9 m at the shallow soil surface and the root zone depth is approximately 2-2.5 m. ABSTRAK Pencitraan geometri zona perakaran pohon menggunakan electrical resistivity tomography. Penelitian geometri zona perakaran biasa dilakukan dengan cara konvensional yang destruktif, memakan waktu, dan membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Beberapa pengukuran non-destruktif menggunakan metode geofisika telah dikembangkan, salah satunya adalah metode Electrical Resistivity Tomography (ERT). Penentuan zona perakaran pohon menggunakan metode ERT telah dilakukan di daerah Kiara Payung, Sumedang, Jawa Barat, dengan pohon Maesopsis eminii sebagai objek studi. Sebanyak 29 lintasan ERT diukur menggunakan konfigurasi dipole-dipole pada dengan jarak antar elektroda 50 cm. Hasil pemodelan inversi dua dimensi (2D) dan tiga dimensi (3D) menunjukkan bahwa metode ERT telah berhasil mencitrakan zona perakaran pohon. Zona perakaran teridentifikasi berada pada nilai resistivitas 100-700 Ωm dengan root plate dan root cross-sections berbentuk elips. Radius akar diperkirakan sejauh 4-5 m dari pangkal batang, sedangkan diameter zona perakaran mencapai sekitar 8-9 m di permukaan tanah dangkal dan kedalaman zona perakaran diperkirakan antara ~2-2.5 m.

    Cover Depan Volume 29 No 2

    No full text

    MIKROZONASI SEISMIK WILAYAH PADALARANG, KABUPATEN BANDUNG BARAT MENGGUNAKAN METODE HORIZONTAL TO VERTICAL SPECTRAL RATIO (HVSR)

    Full text link
    Dalam kurun waktu lima tahun terakhir terjadi peningkatan aktivitas tektonik di wilayah selatan Pulau Jawa. Salah satu sesar aktif di wilayah Jawa Barat yaitu Sesar Cimandiri dan Sesar Lembang. Sesar Cimandiri berarah barat daya-timur laut, sedangkan Sesar Lembang berarah timur-barat. Melalui citra satelit DEM (Digital Elevation Model) pertemuan kedua sesar diduga berada di wilayah Padalarang, Kabupaten Bandung Barat. Keberadaan infrastruktur penghubung kota seperti jalan tol, rel kereta api serta permukiman penduduk yang padat menjadikan daerah tersebut merupakan daerah yang berpotensi mengalami kerusakaan saat terjadi gempa bumi. Dalam upaya mitigasi diperlukan studi mikrozonasi untuk mengetahui karakteristik  tanah. Metode Horizontal to Vertical Spectral Ratio (HViSR) digunakan untuk mengestimasi nilai frekuensi dominan (f0) dan faktor amplifikasi (A0) daerah setempat dari data pengukuran mikrotremor. Dari 42 titik pengukuran didapatkan nilai frekuensi dominan (f0) yang terbagi kedalam dua zona yaitu 1,4–3,5 Hz dan 3,5–6 Hz. Sedangkan nilai faktor amplifikasi (A0) berkisar antara 2–8. Nilai indeks kerentanan seismik (Kg) berkisar antara 1–30, daerah dengan indeks kerentanan seismik (Kg) sedang hingga tinggi berada di Kecamatan Ngamprah dan Kecamatan Cisarua, sedangkan indeks kerentanan seismik (Kg) pada daerah Kecamatan Padalarang relatif rendah hingga sedang.ABSTRACT – Seismic Microzonation of Padalarang District, West Bandung Regency Using Horizontal to Vertical Spectral Ratio (HVSR) Method.  In the last five years, tectonic activity has increased in the southern region of Java Island. One of the active faults in the West Java region is Cimandiri Fault and Lembang Fault. The Cimandiri Fault is southwest-northeast, while the Lembang Fault is east-west. Through DEM (Digital Elevation Model) satellite imagery, the intersection of the faults is probably located in Padalarang, West Bandung Regency. The existence of urban infrastructures such as toll roads, railways, and dense settlements makes this area have the potential to experience damage during an earthquake. Therefore, in mitigation efforts, microzonation studies are needed to determine the dynamic characteristics of soils in the area. Horizontal to Vertical Spectral Ratio (HVSR) method is used to estimate the value of dominant frequency (f0) and the amplification factor (A0) from microtremor measurement data. From 42 measurement points, the dominant frequency value (f0) is divided into two zones, 1.4–3.5 Hz and 3.5–6 Hz. The amplification factor (A0) ranges from 2–8. The value of the seismic vulnerability index (Kg) ranges from 1–30; areas with moderate to high seismic vulnerability indexes are in Ngamprah and Cisarua Districts, while the seismic vulnerability index in the Padalarang District is relatively low to moderate.

    Cover Belakang Volume 29 No 2

    No full text

    STRUCTURAL AND EARTHQUAKE EVALUATIONS ALONG JAVA SUBDUCTION ZONE, INDONESIA

    Full text link
    Java Subduction is a zone of trench perpendicular convergence of Australian Plate and Southeast Asia in the south of Java. It is characterized by an almost E-W trending trench with an eastward increase of convergence velocity. Three major earthquakes with tsunamis have been caused by deformation along this subduction zone. Although many studies have undertaken to understand the nature of the subduction system, a clear relationship between structures and earthquake activities remains poorly explained. In this study, we used bathymetry, residual bathymetry, and published seismic reflection profiles to evaluate structural and morphological elements, then link the observations to earthquake activity along Java Subduction Zone. Based on seafloor morphology, characteristics of the accretionary wedge and forearc basin varies along the trench in response to the variation of seafloor morphology. Features such as seamounts and ridges which were observed in the oceanic basin may be subducted beneath accretionary wedge and disrupt the morphology of accretionary wedge, forearc basin, and trench. Earthquake activities are generally dominated by normal fault solutions in the trench, which is attributed to plate bending faults while thrust fault solution is observed in the forearc basin area. Thrust fault activities in accretionary wedge are decreased to the east, where there is no thrust fault solution observed in the eastern end of the subduction zone. Few strike-slip focal mechanisms are observed and mainly located within the subducting oceanic plate. Structures and subducting oceanic features may control the earthquake activity where deformation occurred at the edge of these features. The two largest thrust fault earthquakes in 1994 and 2006 are interpreted as a result of deformation along with plate interface on soft or unconsolidated sediment above the incoming plate. The largest normal fault earthquake with a magnitude 8.3 is possibly caused by a crustal scale-fault that breaks the entire oceanic crust.ABSTRAK - Evaluasi struktur dan gempa bumi di sepanjang zona subduksi Jawa, Indonesia. Subduksi Jawa adalah zona konvergensi yang tegak lurus palung antara Lempeng Australia dan Asia Tenggara di selatan Jawa. Hal ini ditandai dengan palung berarah hampir barat–timur dengan peningkatan kecepatan konvergensi ke arah timur. Tiga gempa bumi besar dengan tsunami disebabkan oleh deformasi di sepanjang zona subduksi ini. Meskipun banyak penelitian telah dilakukan untuk memahami sifat sistem subduksi, hubungan antara struktur dan kegiatan gempa bumi masih kurang jelas. Dalam studi ini, kami menggunakan batimetri, batimetri residual, dan profil refleksi seismik untuk mengevaluasi elemen struktur dan morfologi, kemudian menghubungkan pengamatan dengan aktivitas gempa bumi di sepanjang zona subduksi Jawa. Berdasarkan morfologi dasar laut, karakteristik prisma akresi dan cekungan busur muka bervariasi di sepanjang palung sebagai respon terhadap variasi morfologi dasar laut. Fitur seperti seamount dan punggungan yang diamati di cekungan samudera menunjam di bawah prisma akresi dan mengganggu morfologi prisma akresi, cekungan busur muka, dan palung. Aktivitas gempa bumi umumnya didominasi oleh patahan normal di palung, yang dikaitkan dengan patahan tekukan lempeng sedangkan patahan naik diamati di daerah cekungan busur muka. Aktivitas sesar naik di dalam prisma akresi berkurang ke arah timur, di mana tidak ada patahan naik yang teramati di ujung timur zona subduksi. Beberapa mekanisme patahan mendatar diamati dan terutama terletak di dalam lempeng samudera yang menunjam. Struktur dan fitur di kerak samudra yang menunjam dapat mengontrol aktivitas gempa bumi di mana deformasi terjadi di tepian fitur ini. Dua gempa bumi besar dengan sifat patahan naik pada tahun 1994 dan 2006 ditafsirkan sebagai hasil dari deformasi di sepanjang antarmuka lempeng pada sedimen lunak atau tidak terkonsolidasi di atas lempeng yang masuk. Gempa bumi besar dengan sifat sesar normal magnitude 8,3 mungkin disebabkan oleh patahan skala-kerak yang menghancurkan seluruh kerak samudera

    Cover Depan

    No full text
    Cover Depa

    Distribusi Polen pada Sedimen Permukaan Bawah Laut di Perairan Sumba, Nusa Tenggara Timur

    Full text link
    Sumba merupakan salah satu pulau terluar Indonesia yang terletak di bumi bagian selatan dan berbatasan dengan Samudra Indonesia. Distribusi polen pada sedimen permukaan di Perairan Sumba dilakukan untuk membantu interpretasi efek sedimentasi yang terjadi di daerah fluvial dan laut serta perubahan tumbuhan terestrial. Penelitian ini merupakan bagian dari Ekspedisi Widya Nusantara 2016 yang dilaksanakan pada tanggal 4 – 26 Agustus 2016 menggunakan Kapal Riset Baruna Jaya VIII. Tiga belas sampel sedimen permukaan dianalisis menggunakan metode asetolisis dan swirling. Spektrum polen menunjukkan hubungan antara distribusi polen yang mengendap di sedimen laut dan transportasinya dari daratan. Sebaran polen yang banyak terakumulasi di bagian barat Pulau Sumba menunjukkan adanya pengaruh fluvial dan jarak dari pantai dan kedalaman air. Hasil uji korelasi antara distribusi polen dengan kedalaman dan besar butir (rata-rata dan persentase mud) menunjukkan hubungan yang cukup kuat (r=0,465; r=0,374 dan r=0,443). Meskipun dengan rata-rata tingkat keanekaragaman tumbuhan termasuk dalam kategori rendah (indeks 1,07), distribusi polen dalam sedimen permukaan laut merefleksikan vegetasi lokal di daratan Pulau Sumba. Polen yang paling mendominasi berasal dari Famili Poaceae. Studi ini menjelaskan bahwa rekaman polen dari inti sedimen laut Perairan Sumba mempunyai potensi menjadi alat rekonstruksi perubahan vegetasi di daratan sekitarnya dalam studi variabilitas iklim masa lalu dan masa yang akan datang. Sumba, one of the outer Indonesian island,  is located in the southern hemisphere and bordered by the Indonesian Ocean. The distribution of pollen in marine sediments offshore the Sumba Waters has been investigated to help interpret the sedimentation effect on fluvial inputs, marine and terrestrial vegetation changes. The research is a part of Expedition of Widya Nusantara 2016 which was conducted on 4 - 26 August 2016 using Baruna Jaya VIII research vessel. Thirteen surface sediment samples were analyzed by acetolyisis method and swirling. Pollen spectra illustrate the relationships between pollen distribution in the sampled marine sediments and their transport from the vegetation onshore. The pollen distribution that accumulated a lot in western part of Sumba island were linked to fluvial inputs and controlled by the distance from the coast and water depth. Correlation test between the distribution of pollen and water depth as well as grain size (mean and mud percentage) showed moderate correlation (r=0.465; r=0.374 and r=0.443, respectively). Although the average of vegetation diversity index is  in low category (index of  1.07), the pollen distribution  percentage in these marine surface sediment samples reflects the local vegetation from the nearby onshore of Sumba island.  The most dominant pollen comes from Family Poaceae. This study demonstrates that pollen records from marine surface sediment in the Sumba Waters have the potential tool to reconstruct palaeovegetation on the adjacent continent for the past and future climate variability study at these area

    265

    full texts

    310

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Publications of Research Center for Geotechnology, Indonesian Institute of Sciences
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇