Publications of Research Center for Geotechnology, Indonesian Institute of Sciences
Not a member yet
    310 research outputs found

    Karakteristik Marmer Daerah Mata Wawatu dan Sanggula, Kecamatan Moramo Utara, Kabupaten Konawe Selatan, Provinsi Sulawesi Tenggara

    Full text link
    Sulawesi Tenggara memiliki potensi marmer terbesar di Indonesia. Salah satu daerah potensi marmer di Sulawesi Tenggara adalah Mata Wawatu dan Sanggula, Kecamatan Moramo Utara Kabupaten Konawe Selatan. Namun belum ada penelitian rinci mengenai karakteristik marmer yang ada di daerah ini. Karakteristik marmer di daerah penelitian yaitu berwarna abu – abu dengan struktur non foliasi dan tekstur lensa atau augen texture. Secara petrografi, mineral penyusun marmer didominasi dengan ukuran kristal ≤ 0.1 – 1 mm, yaitu mineral kalsit, dolomit, kuarsa, hematit, dan mineral opak. Marmer daerah penelitian memberikan kenampakan tekstur yang bervariasi, yaitu tekstur subidioblastik dan xenoblastik (berdasarkan bentuk individu Kristal), tekstur kristaloblastik (berdasarkan ketahanan terhadap metamorfismenya), tekstur nematoblastik dan granuloblastik (berdasarkan bentuk mineralnya), dan saccaroidal texture dan mortar texture (berdasarkan tekstur khususnya). Sifat keteknikan marmer memberikan nilai yang bervariasi, di mana nilai kuat tekan sebesar 235.718 kg/cm2 – 389.338 kg/cm2, nilai ketahanan aus sebesar 0,0414 mm/menit – 0,0498 mm/menit, dan nilai serapan air sebesar 0,275 % - 0,763 %.  CaO merupakan senyawa yang paling melimpah pada marmer dengan kelimpahan 50,44 % - 55,90 %. Berdasarkan sifat keteknikannya, marmer di daerah penelitian dapat direkomendasikan sebagai batu hias / batu tempel. Berdasarkan spesifikasi senyawa oksida utamanya, marmer bagian timur laut daerah penelitian direkomendasikan untuk industri kertas, pewarna tekstil, penyaringan gula, dan produksi semen sedangkan marmer bagian barat daya daerah penelitian kurang dapat dimanfaatkan. Southeast Sulawesi has the greatest marble potential in Indonesia. One of the marble potential areas in the Southeast Sulawesi is Mata Wawatu and Sanggula, North Moramo District of the South Konawe Regency. However, there is no detailed research on marble characteristics in this area. The marble characteristics in the study area are grey with non-foliation structures and lens texture or augen texture. Petrographically, constituent minerals of the marble are dominated by crystal size ≤ 0.1 - 1 mm which are calcite, dolomite, quartz, hematite, and opaque minerals. The research area's marble provides varied texture features, namely subidobobastic and xenoblastic textures (based on individual form crystals), crystalloblastic textures (based on resistance to metamorphism), nematoblastic and granuloblastic textures (based on their mineral form), and saccharoidal texture and mortar texture (based on texture in particular). The properties of marble engineering give varying values, where the compressive strength value is 235.718 kg / cm2 – 389.338 kg / cm2, the wear resistance value is 0.0414 mm / min - 0.0498 mm / min, and the water absorption value is 0.275% - 0.763%. CaO is the most abundant compound on marble with an abundance of 50.44 - 55.90 wt. %. Based on its engineering properties, marble in the research area can be recommended as an ornamental stone. Based on the specification of the main oxide compound, the northeastern marble of the research area are recommended for the paper industry, textile dyes, sugar screening, and cement production whereas the southwestern marble of the research area is less utilizable

    Penentuan Zona Konservasi dan Pemanfaatan Airtanah Akuifer Bebas pada Cekungan Airtanah Pati-Rembang, Provinsi Jawa Tengah

    Full text link
    Wilayah Cekungan Airtanah (CAT) Pati-Rembang berada di daerah Kabupaten Pati, Jepara, dan Rembang, Provinsi Jawa Tengah. Pertumbuhan jumlah penduduk akan menyebabkan peningkatan kebutuhan air bersih. Salah satu sumber air bersih berasal dari airtanah dari akuifer bebas. Airtanah dimanfaatkan secara intensif untuk memenuhi kebutuhan air bersih. Pengambilan airtanah yang berlebihan berdampak menurunnya kuantitas dan kualitas dari airtanah. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kondisi hidrogeologi, mengetahui kualitas airtanah, mengetahui persebaran zona konservasi dan kesesuaian perencanaan tata ruang wilayah dengan peta zona konservasi daerah penelitian. Metode yang digunakan adalah metode observasi dan metode analisis. Pemetaan hidrogeologi dan analisis hidrogeokimia digunakan untuk menentukan zona konservasi dan pemanfaatan airtanah akuifer bebas di daerah penelitian. Hasil penelitian menunjukkan muka airtanah akuifer bebas memiliki pola aliran airtanah dari arah barat menuju utara dan timur daerah penelitian. Terdapat sampel airtanah yang tidak memenuhi syarat untuk keperluan air minum. Hasil penyusunan zona konservasi airtanah pada CAT Pati-Rembang menunjukkan adanya dua zona yaitu zona perlindungan airtanah (sub zona imbuhan dan perlindungan mataair) dan zona pemanfaatan (sub zona aman, rawan, kritis dan rusak). Juga terdapat ketidaksesuaian antara zona konservasi airtanah dengan rencana tata ruang wilayah.Pati-Rembang Groundwater basin area is located in Pati Regency, Jepara Regency, and Rembang Regency, Central Java Province. Population growth will cause an increase in the need for clean water. One of the of clean water sources is the groundwater from the unconfined aquifers via dug wells. Excessive groundwater extraction would result in a decrease in both the quantity and quality of groundwater. The purpose of this study was to determine the hydrogeological conditions as well as its quality, to delineate the distribution of conservation zone and the suitability of regional spatial planning related to the groundwater conservation. Hydrogeological mapping and hydrogeochemical analysis were applied to determine the conservation zone and groundwater utilisation of the unconfined aquifer. The results showed that groundwater flows from the west to the north and the east of the study area. There are groundwater samples that unsuitable for consumption. We established 2 groundwater conservation zones: the groundwater protection zones (sub-zone of recharge zone and protection of springs) and the utilisation zones (secured, vulnerable, critical, and damaged). Moreover, we also found some inconsistency between the groundwater conservation zones and the regional spatial plans

    Palinologi Laut di Selat Sumba, Nusa Tenggara Timur

    Full text link
    Penelitian ini merupakan bagian dari Ekspedisi Widya Nusantara 2016 yang bertujuan untuk merekonstruksi dinamika iklim dengan memperhatikan kondisi keanekaragaman morfologi polen, spora dan keanekaragaman flora sekitar perairan Selat Sumba pada Kala Holosen. Sedimen diambil menggunakan penginti gravitasi pada Kapal Riset Baruna Jaya VIII pada kedalaman kolom air 1283 m dengan panjang inti 243 cm. Kedalaman yang diamati yakni 0-102 cm dengan interval penyamplingan adalah 5 cm, sehingga diperoleh 22 sub-sampel. Jenis sedimen yang dominan adalah lanau sedangkan pasir hanya mendominasi bagian permukaan. Berdasarkan hasil analisis kuantitatif palinologi, lapisan dibagi menjadi empat zona dan untuk mengetahui umur dari tiap lapisan sedimen digunakan datum Foraminifera Globigerinella calida calida. Zona I dengan perkiraan umur  5662-7550 tahun yang lalu memiliki karakteristik, jenis Arboreal Pollen (AP) yang lebih dominan yakni Cupressaceae, sedangkan jenis spora yang dominan adalah Polypodiaceae dan Acrostichum aureum. Zona ini diintepretasikan beriklim panas dan basah, dengan nilai Pollen Marine Index (PMI) 100 dan indeks keanekaragaman adalah 0,35. Zona II berumur 4530-5662 tahun yang lalu dengan kehadiran Arboreal Pollen (AP) yang lebih dominan adalah Casuarinaceae dan spora Polypodiaceae, sehingga diintepretasikan iklimnya adalah panas dan basah, PMI = 105 dan Indeks keanekaragaman 1,56.  Zona III berumur  2265-4530 tahun terdapat Arboreal Pollen (AP) yakni Anonaceae 43,75 % dan Spora yakni Polypodiaceae 33 %, sehingga diintepretasikan beriklim panas dan basah, PMI= 118 serta Indeks keanekaragaman 2. Zona IV adalah lapisan paling muda berumur 2265-sekarang memiliki persentase Arboreal Pollen (AP) yang lebih dominan yakni Anonaceae sebanyak 44% dan adanya peningkatan kehadiran spora yakni taksa Acrostichum aureum sebanyak 41,2 %, PMI = 128,25 dan memiliki Indeks keanekaragaman 1. This research is part of Widya Nusantara Expedition 2016 aiming to reconstruct the dynamics of the climate by considering the condition of morphology of pollen, spore and the diversity of flora around the waters of the Sumba Strait in the time of Holocene. The sediment was taken using gravity corer on Research Vessel of Baruna Jaya VIII at a water column depth of 1283 m with a core length of 243 cm. The depth was observed at 0-102 cm and the sampling interval of 5 cm, so 22 sub-samples were obtained. The dominant type of sediment was silt and sand dominates on the surface. Foraminifera Globigerinella calida calida is used as a datum to determine relative age. Based on the results of the analysis, the layers are divided into four zones. Zone I with an estimated age of 5662-7550 years ago has a more dominant Arboreal Pollen (AP) type characteristic, namely Cupressaceae, while the dominant spores are Polypodiaceae and Acrostichum aureum. This zone is interpreted as a hot and wet climate, with a Pollen Marine Index (PMI) 100 and a diversity index of 0.35. Zone II was 4530-5662 years ago with the more dominant Arboreal Pollen (AP) presence being Casuarinaceae and Polypodiaceae spores, so the interpreted climate was hot and wet, PMI = 105 and the Diversity Index 1.56. Zone III aged 2265-4530 years. There are Arboreal Pollen (AP) i.e. Anonaceae 43.75% and Spores i.e. Polypodiaceae 33%, so it is interpreted as hot and wet climate, PMI = 118 and Diversity Index 2. Zone IV is the youngest layer of 2265 – now. It has the most dominant percentage of Arboreal Pollen (AP), Anonaceae as much as 44% and an increase in the presence of spores i.e. Acrostichum aureum taxes as much as 41.2%, PMI = 128.25 and has a Diversity Index of 1

    Struktur Kecepatan Seismik di Bawah Gunung Merapi dan Sekitarnya Berdasarkan Studi Tomografi Seismik Waktu Tempuh

    Full text link
    Periode erupsi Gunung Merapi yang relatif pendek menjadi penyebab banyaknya ahli ilmu kebumian meneliti proses yang terjadi, baik di bawah permukaan maupun di bagian puncak gunung api tersebut. Jaringan seismik DOMERAPI yang terdiri dari 53 stasiun seismik digunakan  untuk memahami karakteristik reservoir magma utama di bawah Gunung Merapi  dengan periode perekaman data dari bulan Oktober 2013 sampai pertengahan bulan April 2015. Sejumlah 464 gempa berhasil dideteksi oleh jaringan seismik DOMERAPI dengan mayoritas gempanya berada di luar jaringan seismik tersebut karena Gunung Merapi pada saat itu  berada dalam keadaan tidak aktif. Gempa-gempa yang berada di luar jaringan seimik tersebut digunakan untuk mendeliniasi reservoir magma utama di bawah Gunung Merapi. Reservoir magma utama di bawah Gunung Merapi teridentifikasi pada kedalaman sekitar 15 km di bawah permukaan laut (MSL) yang dicirikan dengan Vp dan rasio Vp/Vs yang tinggi serta Vs yang rendah. Keberadaan reservoir magma dangkal yang berkaitan dengan fluid percolation juga teridentifikasi dengan jelas pada studi ini yang berada pada kedalaman kurang dari 5 km di bawah MSL yang dicirikan dengan Vp yang rendah, rasio Vp/Vs yang tinggi dan Vs yang rendah. Adapun keberadaan reservoir magma dalam Gunung Merapi tidak berhasil diidentifikasi pada studi ini karena keterbatasan resolusi data seismik.The relatively short eruption period of Merapi volcano is the reason for many earth scientists to investigate the processes that occur both beneath the surface and at the top of the volcano. The DOMERAPI seismic network consisting of 53 seismic stations was installed to understand the characteristics of the main magma reservoir under the volcano with a period of data recording from October 2013 to mid-April 2015. A total of 464 earthquakes were detected by DOMERAPI seismic network with the majority of the earthquake occured outside the seismic network because the volcano was inactive at that time. The earthquakes are used to delineate the main magma reservoir beneath the volcano. The main magma reservoir was identified at a depth of 15 km below mean sea level (MSL,) which is characterized by high Vp, a high Vp/Vs ratio and low Vs. The existence of shallow magma reservoirs related to fluid percolation was also clearly identified in this study which was at a depth of less than 5 km below MSL which was characterized by low Vp, a high Vp/Vs ratio and low Vs. The existence of deep magma reservoir was not identified in this study because of the limited resolution of seismic data

    Hidrokimia dan Indikasi Kontaminasi pada Air Tanah di Lereng Selatan Gunung Merapi, Mlati dan Sekitarnya, Sleman, D.I.Yogyakarta

    Full text link
    Daerah Mlati - Sleman di Daerah Istimewa Yogyakarta secara hidrogeologi regional terletak pada sistem Cekungan Air Tanah (CAT) Yogyakarta-Sleman, yang secara stratigrafi terdiri dari Formasi Sleman dan Formasi Yogyakarta. Kedua formasi batuan ini membentuk sistem akuifer multilayer. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik hidrokimia serta indikasi kontaminasi di Daerah Mlati. Penelitian dilakukan dalam beberapa tahapan yaitu observasi hidrogeologi lapangan, penentuan titik pengambilan sampel, pengambilan sampel air tanah dan analisis laboratorium. Hasil analisis laboratorium menunjukkan tipe air tanah pada sumur gali yang mewakili akuifer bebas didominasi oleh tipe Ca2+-Na+-HCO3- . Pada air tanah dari sumur bor dalam, tipe air didominasi oleh tipe Ca2+-Na+-HCO3--Cl-. Selain itu, diketahui bahwa kandungan besi dan mangan pada sumur bor dalam umumnya lebih tinggi daripada sumur dangkal. Indikasi kontaminasi ditunjukkan dengan adanya kandungan  nitrat pada sumur gali dengan kadar nitrat rata-rata 15 mg/l, sedangkan pada sumur bor dalam tidak dijumpai unsur nitrat. Dapat disimpulkan bahwa kedua akuifer memiliki karakteristik kimia air yang didominasi oleh unsur Ca2+-Na+-HCO3-, hanya saja pada akuifer dalam terdapat  ion klorida turut mendominasi. Adanya nitrat pada sumur gali dengan kadar nitrat rata-rata diatas 10 mg/l, menandakan bahwa sumur gali atau akuifer bebas dangkal rentan terhadap pencemaran yang bersumber dari aktivitas manusia di permukaan.The area of Mlati - Sleman is hydrogeologically located in the Yogyakarta-Sleman Groundwater Basin (GB) system, which stratigraphically consists of the Sleman Formation and the Yogyakarta Formation. The purpose of this study is to determine the hydrochemical characteristics and indications of contamination in the Mlati Region. The research was started with the field hydrogeological observation, determination of sampling points, groundwater sampling and laboratory analysis. Based on laboratory analysis, the groundwater types in the dug wells (unconfined aquifers) were dominated by type Ca2+-Na+-HCO3- . The groundwater from deep wells was dominated by type Ca2+-Na+-HCO3--Cl-. In addition, it is known that the iron and manganese content in deep bore wells is generally higher than shallow wells. The contamination is indicated by the presence of nitrate in the dug wells with an average nitrate level of 15 mg/l, while in the deep well bore there is no element of nitrate. Therefore, we concluded that the two aquifers are dominated by the elements Ca2+-Na+-HCO3-. In the deep aquifer, the chloride ion is also dominating. The presence of nitrates in dug wells with an average nitrate level above 10 mg/l indicates that shallow wells or shallow unconfined aquifers are susceptible to pollution from human activities

    Lumpur Hitam Tanah Rawa Hutan Mangrove Karangsong (Kabupaten Indramayu): Komposisi Kimia dan Transformasi Fasa Mineral yang Dihasilkan melalui Penanganan secara Termal

    Full text link
    Penelitian ini dilakukan untuk menyelidiki kandungan unsur dan transformasi mineral-mineral utama lumpur hitam dari tanah rawa hutan mangrove Karangsong, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat. Sampel lumpur hitam kering diberi perlakuan secara termal dan bertahap pada kisaran suhu 120 - 1000 °C. Kandungan mineral dan transformasinya kemudian dianalisis dengan metode difraksi serbuk sinar-X. Kandungan unsur-unsur berat sebelum dan sesudah perlakuan ditentukan dengan menggunakan metode fluoresensi sinar-X, sedangkan unsur-unsur yang lebih ringannya ditentukan berdasarkan interpretasi pola pergeseran spektrum FTIR. Berdasarkan tiga analisis dan karakterisasi, sampel lumpur mengandung unsur utama O, Si, Al, Fe, Cl, Na, S, dan Mg, dan sisanya masing-masing kurang dari 1% adalah K, Ca, Ti, P , Mn, V, Zn, Cr, Br, Rb, Cu, Ni, Ga, Y, dan Sc. Kehadiran unsur C dan N dideteksi secara kualitatif melalui pola spektrum inframerah. Fase yang terdeteksi pada sampel awal terutama meliputi kuarsa, hastingsit, halloisit, dan albit. Dua fase lainnya yang terdeteksi adalah pirit dan sfalerit. Dengan memperhatikan kandungan kimia dan transformasi mineral-mineralnya, lingkungan abiotik hutan mangrove menyimpan banyak informasi kimia yang berharga dalam memahami kemungkinan reaksi-reaksi katalisis di dalamnya sepanjang waktu geologi. This research was to investigate the content of elements and transformation of the minerals of black mud samples from mangrove forest masrshland, Karangsong, Indramayu Regency, West Java. The dried black mud sample was treated gradually in the temperature ranges of 120 - 1000 °C. The mineral contents and their transformations were then examined by the X-ray powder diffraction method. The content of heavy elements before and after the treatment was determined using the X-ray fluorescence method, while the light elements was determined based on the interpretation of the FTIR spectrum shift patterns. The three analyses and characterizations indicate that the mud samples contained the main elements of O, Si, Al, Fe, Cl, Na, S, and Mg. The remaining of less than 1% contained K, Ca, Ti, P , Mn, V, Zn, Cr, Br, Rb, Cu, Ni, Ga, Y, and Sc. The presence of C and N elements were detected qualitatively through the infrared spectrum patterns. The phases detected in the initial sample mainly include quartz, hastingsite, halloysite, and albite. The other two phases detected were pyrite and sphalerite. Given the elements and transformation of such minerals, the abiotic environment of mangrove forests holds much valuable chemical information in understanding the possibility of catalysis reactions in them over geologic time.

    Profil Endapan Nikel Laterit di Daerah Palangga, Provinsi Sulawesi Tenggara

    Full text link
    Nikel laterit adalah mineral logam hasil dari proses pelapukan dan pengkayaan mineral pada batuan ultramafik. Geologi di daerah Palangga, Provinsi Sulawesi Tenggara, disusun oleh batugamping dari Formasi Eimoko dan Formasi Langkolawa yang memiliki hubungan ketidakselarasan dengan batuan ultramafik di bawahnya sebagai pembawa endapan nikel laterit. Proses pelapukan pada batuan ultramafik menghasilkan karakter dan profil nikel laterit yang berbeda. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi karakterisasi nikel laterit berdasarkan pada mineralogi dan profil dari Zona lateritisasi. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa jenis batuan pembawa nikel laterit di Daerah Palangga adalah harsburgit. Nikel laterit memiliki ketebalan sekitar 15 meter. Zona Limonit memiliki komposisi mineral lempung berupa kaolinit, mineral oksida berupa mineral magnetit, hematit, kromit dan mineral hidroksida berupa gutit. Kedalaman Zona Limonit yaitu sekitar 0 - 3 meter dengan kandungan Ni sekitar 0,76 – 1,78%, Fe sekitar 34,10 – 48,31%, dan SiO2 sekitar 9,42 – 18,02%. Zona Saprolit memiliki komposisi mineral silikat berupa kuarsa, garnierit, antigorit, enstatit, dan lisardit. Kedalaman Zona Saprolit sekitar 3 – 9 meter dengan kandungan Ni sekitar 1,79 – 2,98%, Fe sekitar 10,27 – 34,52%, SiO2 sekitar 22,0 – 49,63%. Batuan dasar (Bedrock) memiliki komposisi mineral silikat, antigorit, enstatit, olivin, augit dan lisardit. Kedalaman batuan dasar (bedrock) sekitar 9 – 10 meter dengan kandungan Ni sekitar 0,95 – 1,28%, Fe sekitar 7,62 – 8,29%, SiO2 sekitar 42,81 – 45,85%. Zona Saprolit merupakan Zona yang kaya akan nikel, dengan mineral penyusun berupa kuarsa, garnierit, antigorit, enstatit, dan lisardit. Nickel laterite is metal mineral formed by weathering and mineral enrichment of ultramafic rocks. Geology of Palangga area, Southeast Sulawesi Province arranged by limestone of Eimoko Formation and Langkowala Formation that have unconformity relation with ultramafic rocks as source of nickel laterite. Weathering process underwent ultramafic rocks resulted in different nickel laterite characters and their profile. The study aims to identify characterization of nickel laterite based on mineralogy and lateritization profile zones. Based on the result of study, source of nickel laterite in Palangga area is harzburgite. Nickel laterite profile has around 15 meters thick. Mineral composition of Limonite Zone is clay mineral as kaolinit, oxide mineral consisted of magnetite, hematite, chromite, and hidroksida mineral as goetite. Depth of Limonite Zone around 0 - 3 meters with Ni grade around 0,76 – 1,78%, Fe around 34,10 – 48,31%, and SiO2 around 9,42 – 18,02%. Mineral composition of Saprolite Zone is silicate mineral consist of quartz, garnierite, antigorite, enstatite, and lizardite minerals. Depth of Saprolite Zone around 3 – 9 meters with Ni grade around 1,79 – 2,98%, Fe around 10,27 – 34,52%, and SiO2 around 22,0 – 49,63%. Mineral composition of bedrock is silikat minerals consits of antigorite, enstatite, olivine, augit, and lizardite minerals. Depth of Bedrock ar ound 9 – 10 meters with grade Ni 1,28%, Fe around 7,62 – 8,29%, and SiO2 around 42,81 – 45,85%. The Saprolit Zone is a Zone that rich in nickel, with mineral composition is quartz, garnierite, antigorite, enstatite, and lizardite minerals

    Kerentanan Air Tanah di Kawasan Pertanian Garam Pesisir Pademawu, Madura berdasarkan Karakteristik Hidrogeokimia dan Indeks Kualitas Air

    Full text link
    Kawasan pesisir Pademawu yang beralih fungsi menjadi pusat pertanian garam menimbulkan beberapa dampak negatif yang salah satunya adalah permasalahan kerentanan sumber daya air tanah. Beberapa sumur gali milik penduduk sudah berubah menjadi payau hingga asin. Evaluasi terhadap kualitas air tanah di kawasan tersebut sangat dibutuhkan untuk mengetahui kerentanan air tanah. Penilaian kerentanan air tanah dilakukan berdasarkan parameter hidrogeokimia dan indeks kualitas air Water Quality Index (WQI). Fasies hidrokimia air tanah didominasi oleh fasies CaHCO3 kemudian NaHCO3 dan NaCl. Nilai rasio Na/Cl dan Cl/HCO3 menunjukkan bahwa dalam air tanah daerah penelitian telah terjadi proses pencampuran air laut ke dalam akuifer dengan kategori penyusupan air laut sedikit hingga agak tinggi. Diinterpretasikan kondisi tersebut didominasi oleh proses infiltrasi air tambak garam ke dalam akuifer. Nilai Water Quality Index (WQI) berkisar 46,69-736,42, kategori WQI good water mendominasi wilayah penelitian sebanyak 45,45%, excellent 27,28%, poor water 18,18% dan satu sampel air masuk kategori 9,09%. Lokasi dengan kategori poor water dan very poor water berada di sumur gali penduduk yang berdekatan dengan garis pantai dan tambak garam. Pengaturan tataguna lahan antara kawasan pemukiman dan tambak garam sangat dibutuhkan sehingga tidak memperluas area kerentanan air tanah di pesisir Pademawu. Pademawu coastal area has changed  into a center for salt farmin that caused some  negative impacts to groundwater resources. Some dug wells in this area has been reported to produce brackish and salty. Groundwater vulnerability assessment based on hydrogeochemical parameters and Water Quality Index (WQI) have been conducted to identify the vulnerability index. Hydrochemical facies of groundwater is dominated by CaHCO3, NaHCO3, and NaCl. Ratios of Na / Cl and Cl / HCO3 show that the in the study area a mixture of sea water within aquifers has bene occurred and categorized as low and slightly high seawater intrusion. This may have been caused by the process of salt-pond water infiltration within aquifers. The WQI is ranged from 46.69-736.42, the category of good water WQI dominates the study area as much as 45.45%, excellent 27.28%, poor water 18.18% and one of water samples reached 9.09%. Categories of poor and very poor water are observed in the wells of residents around the coastline and salt ponds. Land-use reorganizing between residential areas and salt ponds is urgently essential to minimalize the vulnerable area of groundwater in the Pademawu coast

    Petrologi dan Geokimia Batuan Dasit Komplek Mélange Luk Ulo

    Full text link
    Kompleks Mélange Luk Ulo (KMLU) disusun berbagai macam bongkah batuan yang tercampur secara tektonik dalam masa dasar lempung hitam, salah satu bongkah batuannya adalah dasit. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik petrologi dan geokimia batuan dasit KMLU untuk mengetahui lingkungan tektonik dan sejarah pembentukannya. Metode yang digunakan antara lain adalah analisis petrografi, analisis unsur utama menggunakan fusion inductively coupled plasma, analisis unsur jejak dan unsur tanah jarang menggunakan inductively coupled plasma mass spectrometry, serta analisis umur absolut menggunakan metode K-Ar. Dasit KMLU memiliki tesktur porfiritik, disusun fenokris kuarsa, plagioklas, dan feldspar alkali tertanam dalam masa dasar mikrokristalin kuarsa dan mikrokristalin biotit. Kandungan unsur SiO2 yang tinggi (66,56-71,64%) dan K2O yang rendah (0,41-1,27%) menunjukkan batuan memiliki afinitas magma toleit. Unsur low ionic potential pada Dasit KMLU mengalami pengkayaan relatif terhadap MORB sebanyak 2-8 kali sedangkan unsur-unsur high ionic potential lebih rendah dibandingkan MORB, mengindikasikan batuan terbentuk pada tatanan tektonik busur kepulauan. Pengkayaan unsur tanah jarang ringan sebesar 3 - 9 kali dibandingkan kondrit yang disertai pola pengurangan (depletion) berangsur-angsur dari unsur La hingga Eu juga mengindikasikan tatanan tektonik busur kepulauan. Pengukuran umur absolut menunjukkan kisaran 65-48 juta tahun lalu, menunjukkan bahwa Dasit KMLU terbentuk dari magmatisme busur kepulauan pada masa Kapur akhir–Eosen Awal.The Luk Ulo Mélange Complex (KMLU) is an assemblage of various blocks of rock that are mixed tectonically and blanked by scaly clay matrix, in which one of blocks is dacite. This research aims to determine petrological and geochemical characteristics of dacite in order to define its tectonic environments and formation history. The methods used in this research were petrography analysis, geochemical analysis including major elements using fusion inductively coupled plasma (fus ICP), trace and rare earth elements using inductively coupled plasma mass spectrometry (ICP-MS) and K-Ar dating method.  The dacite has a porphyritic texture composed of quartz, plagioclase, and alkali fledspar phenocrysts in microcrystaline biotite and quartz matrix. The high SiO2 content (66.56 - 71.64%) and low K2O content (0.41 - 1.27%) indicating tholeiitic magma affinity source. The low ionic potential elements such as Sr, K, Rb, Ba dan Th in this rock have been enriched 2 - 8 times compared to MORB, whereas the high ionic potential elements of Ta, Nb, Ce, P, Zr, Hf, Sm, Ti, Y dan Yb are lower compared MORB suggest an island arc character. Enrichment of light rare earth elements  (La, Ce, Pr, Nd, Pm, Sm and Eu) is 3 - 9 times compared to chondrit accompanied by gradual depletion pattern of La to Eu elements also indicating an island arc environment.  K-Ar dating analysis shows a range of 65 - 48 Mya or during the Late Cretaceous – Early Eocene. It is concluded that the dacite of the Luk Ulo Complex was formed in an island arc tectonic setting during the Late Cretaceous – Early Eocene

    Imbuhan Airtanah Buatan untuk Konservasi Cekungan Airtanah Bandung-Soreang

    Full text link
    Airtanah saat ini telah menjadi isu di dunia dan Indonesia akibat terjadinya degradasi airtanah. Tingginya pertumbuhan penduduk dan industri di wilayah kota telah meningkatkan eksploitasi airtanah, sementara laju pengisian airtanah (infiltrasi) terus menurun. Penurunan laju infiltrasi diakibatkan oleh adanya perubahan tutupan lahan. Berdasarkan permasalahan ini maka konservasi airtanah harus dilakukan untuk menjaga ketahanan air. Cekungan Bandung-Soreang sebagai wilayah perkotaan telah mengalami penurunan muka airtanah sebagai akibat adanya pengambilan airtanah yang berlebih. Tulisan ini adalah telaah dari berbagai metode teknis yang telah diterapkan untuk mengatasi masalah tersebut di atas khususnya metode imbuhan buatan untuk konservasi airtanah di Cekungan Bandung. Berbagai teknik telah diterapkan baik oleh masyarakat, industri maupun pemerintah dengan sumber utama adalah air hujan. Namun penurunan muka airtanah masih terus terjadi meskipun upaya-upaya tersebut telah dilakukan. Hasil penelitian terakhir menunjukkan bahwa metode imbuhan buatan hanya mampu mengurangi penurunan muka airtanah. Jika hasil yang diharapkan adalah kembalinya muka airtanah ke kondisi awal maka diperlukan pengembangan metode dan atau penambahan jumlah imbuhan buatan yang sangat banyak. Groundwater becomes an issue globally due to groundwater degradation. The high population and industry growth in the cities had increased the exploitation of groundwater. On the other hand, the rate of infiltration is lower due to city development. Therefore, groundwater conservation is required to maintain water resistance. The Bandung-Soreang Basin, as an urban area, has experienced a decline in groundwater as a result of excessive groundwater extraction. This paper presented a review of various technical methods that have been applied to overcome the problem. Artificial recharge method for groundwater conservation in the Bandung-Soreang Basin has been used by the community, industry, and government, with rainwater as the main source. The most recent condition indicated that the groundwater level has been still decreasing despite these efforts. The results of the latest research suggested that artificial recharge has only  reduced the groundwater depletion. To restore the groundwater to its initial condition, we need to develop a new method or simply add a lot more artificial recharges

    265

    full texts

    310

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Publications of Research Center for Geotechnology, Indonesian Institute of Sciences
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇