Publications of Research Center for Geotechnology, Indonesian Institute of Sciences
Not a member yet
310 research outputs found
Sort by
Penentuan Kadar Emas (Au) Dan Perak (Ag) Metoda Fire Assay: Perbandingan Hasil Analisis Peleburan Tungku Gas Terhadap Tungku Solar
ABSTRAK Metoda penentuan kadar emas dan perak secara fire assay, dikerjakan dalam kaitanya dengan pengujian dua buah tungku peleburan. Kedua buah tungku tersebut masing-masing menggunakan bahan bakar gas dan bahan bakar solar. Tujuannya, untuk membandingkan hasil analisis yang diperoleh. Sebanyak 5.400 gram sampel mengandung emas berukuran butir 150 mesh, dibagi menjadi dua dan masing-masing ditimbang 50 gram sebanyak 28 sampel. Sebanyak 28 sampel bagian dilebur dan dikupelasi pada tungku gas, kemudian 28 sampel bagian dilebur dan dikupelasi pada tungku solar sebagai kalibrasi. Hasil analisis menunjukkan, peleburan dan kupelasi pada tungku gas mencapai kadar emas rata-rata sebesar 57,88 gr/ton dan perak rata-rata sebesar 4,76 gr/ton. Sementara itu, peleburan dan kupelasi pada tungku solar mencapai kadar emas rata-rata sebesar 59,62 gr/ton dan perak rata-rata sebesar 8,77 gr/ton. Selisih rata-rata kadar emas sebesar 1,74 gr/ton dan perak sebesar 4,20 gr/ton.
Sifat Fisik Lempung Tanjung Morawa Dalam Transformasi Fasa Mineral Berdasarkan Investigasi Difraksi Sinar X
ABSTRAK Investigasi transformasi fasa mineral terhadap sifat fisik lempung Tanjung Morawa sebelum dan setelah proses pembakaran telah dilaksanakan dengan metode Difraksi Sinar X. Sebelum proses pembakaran, dilakukan uji pendahuluan terhadap lempung Tanjung Morawa seperti analisis kimia dan analisis keplastisan untuk mendukung hasil XRD; serta uji termal benda coba setelah dibakar pada suhu 11000C dan 12000C seperti susut bakar, kuat lentur bakar dan peresapan air. Adapun besar butir lempung yang digunakan dalam penelitian ini adalah lolos 80 mesh. Hasil uji pendahuluan menunjukkan; bahwa berdasarkan investigasi XRD, lempung Tanjung Morawa sebelum dibakar mengandung mineral felspar, haloysit, montmorillonit, kuarsa dan mika. Sedangkan pada pembakaran suhu 11000C dan 12000C, lempung Tanjung Morawa mengalami perubahan fasa mineral utama terhadap mullit, kristobalit dan α-kuarsa; dengan perbandingan intensitas peak/puncak yang berbeda. Perubahan ini pula akan mempengaruhi sifat fisis terhadap produk hasil bakar, antara lain: kuat lentur akan meningkat sebanding dengan peningkatan jumlah mullit dan kristobalit. Harga susut bakar akan meningkat disertai dengan penurunan peresapan air. Kuat lentur bakar, susut bakar dan peresapan air pada suhu bakar 11000C secara berturut-turut 435,91 kg/cm2; 10,29 %; dan 2,12 %. Sedangkan kuat lentur bakar, susut bakar dan peresapan air pada suhu bakar 12000C secara berturutturut 635,92 kg/cm2; 10,80 %; dan 0,37 %
Sekuen Pengendapan Sedimen Miosen Tengah Kawasan Selat Madura
ABSTRACT Penelitian sekuen pengendapan sedimen telah dilakukan di kawasan Selat Madura.Daerah penelitian termasuk dalam Cekungan belakang busur Jawa Timur Utara. Penelitian difokuskan pada sedimen Miosen Tengah yang merupakan reservoar utama di cekungan ini. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui runtunan stratigrafi sikuen dan penyebaran system tract-nya yang selanjutnya diaplikasikan untuk mengetahui daerah yang potensial menjadi pemerangkap hidrokarbon. Berdasarkan hasil analisis stratigrafi sikuen dengan menggunakan 18 lintasan seismik dan 2 data sumuran, daerah penelitian terbagi menjadi lima runtunan pengendapan yaitu Sikuen Miosen Tengah – 1 (Sikuen MT – 1) yang terdiri dari Lowstand System Tract Miosen Tengah – 1 (LST MT – 1), Transgressive System Tract Miosen Tengah – 1 (TST MT -1) dan Highstand System Tract Miosen Tengah – 1 (HST MT – 1); Sikuen Miosen Tengah – 2 (Sikuen MT – 2) yang terdiri dari TST MT –2 dan HST MT – 2; Sikuen Miosen Tengah – 3 (Sikuen MT – 3) yang terdiri dari LST MT – 3, TST MT –3 HST MT – 3; Sikuen Miosen Tengah – 4 (Sikuen MT – 4) yang terdiri dari LST MT – 4, TST MT – 4 dan HST MT – 4; dan Sikuen Miosen Tengah – 5 (Sikuen MT – 5) yang terdiri dari TST MT – 5 dan HST MT – 5. Prospek pemerangkapan hidrokarbon di daerah penelitian dijumpai di beberapa bagian. Prospek pemerangkapan hidrokarbon pada endapan LST MT – 3 berupa perangkap antiklin. Prospek pemerangkapan hidrokarbon pada endapan LST MT – 4 yaitu perangkap struktur berupa antiklin dan perangkap stratigrafi berupa pembajian endapan LST MT – 4 sebagai reservoar pada tinggian Miosen Awal. Prospek pemerangkapan hidrokabon pada HST MT – 2 berupa perangkap antiklin. Prospek pemerangkapan hidrokarbon pada HST MT – 3 dan HST MT – 4 berupa perangkap antiklin di dua daerah dan pada endapan HST MT – 5 prospek pemerangkapan hidrokaron juga berupa struktur antiklin.
Kualitas Air Tanah Bebas Kota Karimunjawa, Pulau Karimunjawa
Studi pendahuluan mengenai sifat kerentanan sumberdaya air pada pulau kecil,telah dilakukan dengan mengambil contoh kasus Kota Kecamatan Karimunjawa yang terletak di Pulau Karimunjawa-Kemujan, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah. Hasil pemetaan detail menunjukkan bahwa litologi daerah ini terdiri dari sedimen pasir lepas, endapan rawa dan Formasi Karimunjawa yang didominasi oleh batupasir masif dan keras serta pelapukannya. Berdasarkan nilai tahanan jenis hasil geolistrik dan kondisi geologi permukaan dapat dilakukan pengelompokan lapisan batuan yang terletak di bawah permukaan menjadi satuan endapan kuarter yang diwakili oleh nilai 0,8 – 27,3 ohm-m dan Satuan batuan Pra-Tersier yang dinyatakan oleh nilai 44 – 1997,5 ohm-m. Informasi hidrokimia menunjukkan adanya kelompok airtanah yang berbeda berdasarkan besaran pH dan DHL. Kelompok dengan pH bersifat asam (4,5 – 5,5) umumnya memiliki nilai DHL yang rendah (53,8 μS/cm – 509 μS/cm), sedang kelompok airtanah dengan pH netral-cenderung basa (7,0 – 8,0) umumnya memiliki nilai DHL berkisar 606 μS/cm – 21300 μS/cm. Selain itu hasil analisa kimia air menunjukkan bahwa terdapat besaran amonium yang melebihi batas ambang yang diijinkan. Pola penyebaran DHL dan hasil penafsiran geolistrik dapat diperkirakan bahwa proses penyusupan air laut selain terjadi arah tegak lurus pantai juga terjadi pada arah barat daya. Hal ini diperkuat oleh data hidrokimia yang menunjukkan bahwa air tanah bebas di daerah kota sudah terpengaruh oleh air laut yang mempunyai nilai DHL dan pH yang tinggi. Proses penyusupan air laut lebih banyakdipengaruhi oleh kondisi genesa dari endapan pantai daerah studi. Hasil studi sementara menunjukkan bahwa telah terjadi proses degradasi kualitas air tanah di daerah studi. Walaupun terjadi peristiwa penyusupan air laut, proses degradasi tersebut lebih banyak dipengaruhi oleh limbah domestik.
KARAKTERISTIK DISTRIBUSI MINERAL UBAHAN: JEJAK EPISODE KEGIATAN HIDROTERMAL DI DAERAH CUPUNAGARA, SUBANG, JAWA BARAT
Cupunagara Area, lies in the North-Northeastern of the Sunda Volcanic Complex, occupied by rough mountainous area consisting of two calderas and surrounded by several volcanic cones. The lithology of the studied area consists of intrusive rocks unit, andesitic – basaltic lava and pyroclastic, mostly had been altered into prophylitic and argillic zones. The prophylitic zone is distributed widely in the central part of the calderas, whilst the argillic zone is distributed confined to the Northwest-Southeast trending fault zones overprints the prophylitic zone and contains the remnants of quartz veins. Structural geology pattern of the studied area is affected by its position as the meeting area of the Cimandiri and the Baribis Fault Systems. Two main strike slip faults are recognized consist of the Northeast-Southwest trending sinistral fault and the Northwest-Southeast trending dextral fault. Two episodes of hydrothermal activities occurred in the studied area, in the first episode the hydrothermal fluid was relatively hot (temperature between >100 to 250oC) and neutral (pH 5-6), whilst in the second its temperature was <100oC and acid. The first episode was triggered by the Oligo-Miocene tectonic activity (the formation of the Northeast-Southwest fault zone), the controlling factor of the hydrothermal alteration distribution were the permeability of the host rocks and fault zones, altered the mineralogy of the host rocks into the prophylitic alteration assemblage and formed quartz veins. The second episode was triggered by the Plio-Pleistocene tectonic activity (the formation of the Northwest-Southeast fault zone), altered (overprinted) the wall rocks into the argillic alteration assemblage, the controlling factor was the fault zones
STUDI BATUAN VOLKANIK DAN BATUAN UBAHAN PADA LAPANGAN PANASBUMI GEDONGSONGO KOMPLEKS GUNUNGAPI UNGARAN JAWA TENGAH
Gedongsongo terletak di bagian lereng selatan Gunungapi Ungaran, yang termasuk kawasan Kompleks Gunungapi Depresi Ungaran Jawa Tengah. Indikasi kegiatan panasbumi Gedongsongo dicirikan oleh adanya fumarola yang didominasi oleh uap, mataair panas, serta batuan ubahan. Data yang diperoleh dari lapangan dan laboratorium terdiri dari : (i). Selang-seling breksi laharik berfragmen andesit basaltik dengan aliran lava, intrusi andesit piroksen, batuan ubahan, dan bom (berkomposisi andesit-basaltik). (ii). Sesar normal yang berarah baratdaya – timurlaut di sepanjang tebing gunung bagian utara yang diduga berkaitan erat dengan munculnya intrusi andesit piroksen sebagai sumber panas bawah permukaan. (iii). Sesar geser yang mempunyai arah utara – selatan melalui sungai Item ditandai dengan munculnya mataair panas, uap panas dan fumarola ke permukaan. (iv). Batuan ubahan yang terbentuk ditunjukkan oleh munculnya mineral – mineral haloisit, kaolinit, silika amorf, kristobalit, ilit, markasit, dan pirit. Batuan ubahan tersebut terjadi dekat dengan sumber fumarola dan mataair panas di sepanjang sungai Item. Asosiasi kelompok mineral ubahan yang terbentuk, dapat menyarankan suhu batuan reservoir bawah permukaan lapangan panasbumi Gedongsongo berkisar dari 70oC - 200oC dan bersifat asam. Gedongsongo is located at the south flank of the Ungaran Mountain within theUngaran Depression Volcanic Complex, Central Java. Geothermal activities arecharacterized by vapour dominated fumaroles, hotsprings, and hydrothermally alteredrocks. Geological data obtained from field and laboratory works, consist of : (i)interlayering laharic breccia with basaltic andesite fragments and lava flow, alterationrocks, and bombs (basaltic andesite in composition), (ii). The southwest-northeast normalfault along northern part of mountain which is triggered the pyroxene andesite intrussion,assumed as a heatsource and have been controlled to the altered rock formation at thearea, (iii). The north-south strike slip fault through the Item River triggered hotspring andhot vapour dominated fumaroles to the surface, (iv). Altered rocks, which arecharacterized by halloysite, kaolinite, amorphous silica, crystobalite, illite, marcasite, andpyrite. Those alteration mineral assemblages located close to the fumarole and hotspringalong the Item River. The alteration mineral assemblages suggest that the temperature ofreservoir rock beneath the Gedongsongo geothermal field ranges from 70oC - 200oC andacidic environment.
KUALITAS AIR TANAH BEBAS KOTA KARIMUNJAWA, PULAU KARIMUNJAWA
Studi pendahuluan mengenai sifat kerentanan sumberdaya air pada pulau kecil,telah dilakukan dengan mengambil contoh kasus Kota Kecamatan Karimunjawa yang terletak di Pulau Karimunjawa-Kemujan, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah. Hasil pemetaan detail menunjukkan bahwa litologi daerah ini terdiri dari sedimen pasir lepas, endapan rawa dan Formasi Karimunjawa yang didominasi oleh batupasir masif dan keras serta pelapukannya.Berdasarkan nilai tahanan jenis hasil geolistrik, dengan mengaitkan kondisi geologi permukaan, dapat dilakukan pengelompokan lapisan batuan yang terletak d bawah permukaan dapat dikelompokkan menjadi satuan endapan kuarter yang diwakili oleh nilai 0,8 – 27,3 Ohm-m dan Satuan batuan Pra-Tersier yang dinyatakan oleh nilai 44 – 1997,5 Ohm-m.Informasi hidrokimia menunjukkan adanya kelompok airtanah yang berbeda berdasarkan besaran pH dan DHL. Kelompok dengan pH bersifat asam (4,5 – 5,5) umumnya memiliki nilai DHL yang rendah (53,8 µS/cm – 509 µS/cm), sedang kelompok airtanah dengan pH netral-cenderung basa (7,0 – 8,0) umumnya memiliki nilai DHL : 606 µS/cm – 21300 µS/cm. Selain itu hasil analisa kimia air menunjukkan bahwa terdapat besaran amonium yang melebihi batas ambang yang diijinkanPola penyebaran DHL dan hasil penafsiran geolistrik dapat diperkirakan bahwa proses penyusupan air laut, selain terjadi arah tegak lurus pantai, juga terjadi pada arah barat daya. Hal ini diperkuat oleh data hidrokimia yang menunjukkan bahwa air tanah bebas di daerah kota sudah terpengaruh oleh air laut yang mempunyai nilai DHL dan pH yang tinggi. Proses penyusupan air laut dalam hal ini ini tampaknya lebih banyak dipengaruhi oleh kondisi genesa dari endapan pantai daerah studi.Hasil studi sementara menunjukkan bahwa telah terjadi proses degradasi kualitas air tanah di daerah studi. Walaupun terjadi peristiwa penyusupan air laut, proses degradasi tersebut lebih banyak dipengaruhi oleh limbah domestik
TEKNO EKONOMI PRODUKSI GLASIR BERBAHAN BAKU TUFA ANDESITIK PALIMANAN
Serangkaian percobaan pembuatan glasir telah dilakukan dengan mengacu pada formula Seger (lime glaze system). Hasil percobaan menunjukkan bahwa dengan menambahkan sejumlah kapur dan bahan adetif tufa andesitik Palimanan dapat diperoleh sebagai bahan baku glasir industri keramik dan genteng. Untuk mengimplementasikan hasil penelitian tersebut kepada masyarakat telah dilakukan kajian tekno ekonomi dengan asumsi mendirikan pabrik glasir di Palimanan berkapasitas produksi 6 ton/hari. Kajian tekno ekonomi ini bertujuan untuk memberikan gambaran aspek teknis, ekonomis maupun aspek lingkungan akan kelayakan pabrik tersebut untuk di implementasikan kepada masyarakat industri keramik. Hasil kajian menunjukkan bahwa secara teknis mendirikan pabrik glasir relatif mudah direalisasikan mengingat teknologi proses relatif sederhana karena dapat mengadopsi teknologi yang sudah ada. Evaluasi ekonomi dilakukan dengan mengggunakan discount factor sebesar 20 %, 2 (dua) model struktur pendanaan, dan 3 (tiga) metoda analisis kelayakan, yaitu metoda Pay Back Period (PBP), Net Present Value (NPV) dan Profitability Index(PI). Berdasarkan hasil evaluasi ekonomi tersebut kedua model menunjukkan bahwa nilai PBP lebih kecil dari umur proyek, nilai NPV positip dan nilai PI >1. Nilai tersebut memberikan gambaran bahwa secara ekonomi memproduksi glasir 6 ton/hari cukup layak untuk dilaksanakan, apalagi didukung oleh ketersediaan bahan baku melimpah dan segmen pasar yang cukup jelas. Dari aspek lingkungan, pabrik galsir ini sekaligus dapat memberikan solusi penanganan limbah penambangan maupun limbah pengolahan industri batutempel tufa andesitik di daerah Palimanan
PENGARUH PANJANG ZONA GASIFIKASI BATUBARA BAWAH TANAH TERHADAP KOMPOSISI GAS HASIL (EFFECT OF ZONA LENGTH OF AN UNDERGROUND COAL GASIFICATION TO THE GAS PRODUCT COMPOSITION)
Eksperimen gasifikasi batubara bawah yanah telah disimulasikan dilaboratorium. Eksperimen dilakukan dengan tujuan untuk menyelidiki pengaruh perbedaan panjang zona gasifikasi terhadap komposisi gas hasil. Untuk tujuan itu dua buah reaktor yang berbentuk silinder dengan panjang yang berbeda dipergunakan. Panjang reaktor pertama adalah 80 cm dan reaktor kedua adalah 200 cm; kedua reaktor mempunyai diameter yang sama yaitu 30 cm. Gasifikasi dilakukan selama 24 jam dengan volume udara yang ditiupkan masuk kedalam reaktor diatur sebesar 70 liter per menit. Hasil percobaan menunjukkan bahwa komposisi gas-gas yang dihasilkan dari reaktor pertama adalah sebagai berikut: CO2 = (11,6-14,4)%; CnHm = (0,0-0,4)%; CO = (1,2-6,8)%; O2 = (3,2-7,2)%; H2 = (0,8-3,2)%; C3H8 = (0,0-0,9)%; CH4 = (0,2-3,0)%. Dilain pihak, reaktor kedua menghasilkan gas dengan komposisi: CO2 = (5,0-15,0)%; CnHm = (0,0-0,3)%; CO = (1,8-4,0)%; O2 = (4,0-13,8)%; H2 = (0,2-4,0)%; C3H8 = (0,0-1,2)%; CH4 = (0,1-1,7)%. Hasil ini memperlihatkan bahwa prosentase gas CO2; CO; H2 dan CH4 dari reaktor pertama lebih tinggi dibandingkan dengan reaktor kedua. Hasil tersebut mengindikasikan bahwa reaksi-reaksi gasifikasi yang terjadi pada reaktor pertama berjalan lebih baik baik dibandingkan dengan reaksi yang terjadi pada reaktor kedua. Hal ini juga didukung oleh nilai kalori gas yaitu berada dalam kisaran antara(127-517) kcal/m3 untuk gas yang dihasilkan dari reaktor pertama dibandingkan dengan (118-460) kcal/m3 untuk gas yang berasal dari reaktor kedua. Perbedaan pola temperatur T1 dan T2 dari masing-masing reaktor juga mendukung hal tersebut
VARIASI SUHU MUKA LAUT REGIONAL BERDASARKAN KANDUNGAN 18O KORAL DARI WILAYAH INDONESIA
Pada studi ini dilakukan analisi statistik kandungan 18O dalam koral dari contoh koral di wilayah Indonesia (yaitu Bunaken, Bali dan Sumba). Data pengukuran 18O diperoleh dari Charles et al. (2003) dan Cahyarini et al. (2003). Pada hasil penelitian terdahulu disebutkan rendahnya korelasi bulanan antara 18O dalam koral dengan suhu lokal. Untuk itu dalam studi ini dilakukan analisis statistik korelasi spasial antara 18O -suhu untuk skala regional dalam resolusi tahunan. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa korelasi tinggi antara 18O dan suhu dijumpai dibeberapa wilayah Indonesia. 18O koral dari wilayah Bunaken mewakili variasi suhu muka laut di wilayah Indonesia timur (utara propinsi Papua), sedangkan 18O koral dari wilayah Bali menunjukkan korelasi tinggi dengan suhu muka laut di wilayah Indonesia tengah-timur (laut Banda dan sebagian laut Jawa).