Publications of Research Center for Geotechnology, Indonesian Institute of Sciences
Not a member yet
    310 research outputs found

    Pengaruh Perlakuan Amalgamasi Terhadap Tingkat Perolehan Emas dan Kehilangan Merkuri

    Get PDF
    Sampel bijih emas hasil dari penambangan secara selektif “pertambangan rakyat” di Waluran, Sukabumi telah digunakan sebagai bahan percobaan amalgamasi. Tujuan percobaan untuk memperoleh pola kecenderungan (trend) pengaruh dari faktor kadar umpan dan perlakuan amalgamasi terhadap tingkat perolehan (recovery) logam emas dan kehilangan merkuri (Hg). Percobaan dilaksanakan berdasarkan disain faktorial 2 level dari 2 faktor. Perlakuan amalgamasi hanya ditekankan pada faktor kadar umpan proses (bijih emas berkadar rendah dan bijih emas berkadar tinggi) dan faktor waktu proses amalgamasi (cara langsung dan cara tidak langsung) sehubungan dengan waktu memasukkan merkuri ke dalam amalgamator. Kedua faktor tersebut ditetapkan sebagai variabel independent, sedangkan tingkat perolehan logam emas dan kehilangan merkuri selama proses amalgamasi ditetapkan sebagai variabel dependent. Hasil percobaan mengindikasikan bahwa faktor perlakuan amalgamasi sehubungan dengan waktu memasukkan merkuri ke dalam amalgamator cara tidak langsung lebih dominan berpengaruh dibandingkan faktor kadar umpan proses. Dengan cara tersebut, baik untuk bijih emas berkadar rendah maupun yang berkadar tinggi memberikan pola kecenderungan meningkatkan perolehan logam emas dan pola kecenderungan menekan tingkat kehilangan merkuri. Proses amalgamasi dengan cara tidak langsung lebih baik dibandingkan dengan cara langsung, dan mampu meningkatkan perolehan logam emas hingga 14,580 % dan menekan tingkat kehilangan merkuri hingga 3,933 %. Hasil percobaan amalgamasi ini, diharapkan dapat digunakan sebagai bahan acuan dalam perencanaan percobaan amalgamasi maupun penerapannya dalam industri pertambangan emas

    Geotechnical Investigation of Land Movement on Roadway at KM 23, Citatah Area, West Java Province

    Get PDF
    Gerakan tanah di daerah Citatah terjadi di km 23 jalan raya dari Bandung ke Jakarta, Jawa Barat, Indonesia. Dimensi lereng yang longsor diperkirakan sepanjang 200 meter yang terletak di daerah dengan morfologi sedang sampai tinggi. Aktifitas gerakan tanah diatas memberikan dampak terhadap jalan tersebut yang melintasi badan lereng yang longsor. Penelitian geologi teknik dan geofisik dilakukan untuk mempelajari mekanisme dan karakter dari tanah dan batuan pada longsoran/rayapan diatas. Analisis tahanan jenis  menunjukkan bahwa lapisan tanah yang tidak stabil mempunyai nilai antara 23-25 Ωm, lapisan antara batulempung berupa silt dan batupasir,  mempunyai nilai tahanan jenis antara 7-17 Ωm, tahanan jenis batulempung antara 2-7 Ωm, and batuan andesit sebagai sill antara 40-85 Ωm. Analisis conto inti batuan yang diambil dari pemboran dangkal  memperlihatkan hubungan antara nilai tahanan jenis dan jenis batuan.  Lapisan batulempung pada lubang bor 1 dengan kedalaman 9 m, memberikan indikasi nilai tahanan jenis antara 3-7 Ωm.  Sedangkan pada lubang bor 2, batulempung pada kedalaman 14 m. Kedua lapisan batulempung diatas diperkirakan merupakan bidang lincir dari gerakan tanah.  Hasil dari penyelidikan yang telah dilakukan dapat dijadikan pertimbangan dalam melakukan teknik mitigasi longsoran didaerah  ini. Untuk itu lintasan jalan yang diusulkan disarankan untuk melintasi diatas batuan andesit yang terletak diantara batulempung diatas, yang merupakan formasi Batuasih

    Hidrogeologi dan Potensi Resapan Air Tanah Sub Das Cikapundung Bagian Tengah

    Get PDF
    ABSTRAK DAS Cikapundung adalah salah satu bagian dari sub DAS Citarum dan  merupakan sungai yang  berfungsi sebagai drainase utama di pusat kota Bandung. Hingga saat ini sub DAS Cikapundung masih sangat potensial bagi penyediaan air baku untuk kebutuhan penduduk, namun kini debit bulanannya telah menurun hingga 20-30% dari debit normal. Kondisi Hidrogeologi di daerah penelitian menunjukkan sistem air tanah di daerah penelitian merupakan sitem air tanah bebas dan sebagian kecil sistem air tanah setengah tertekan. Litologi penyusun akuifer pada daerah penelitian berupa breksi vulkanik dan batu pasir tufaan. Akuifer yang terdapat pada daerah penelitian diduga bukan merupakan aquifer yang potensial. Berdasarkan hasil penelitian maka daerah resapan alamiah ditinjau dari kondisi tanah, kemiringan lereng, litologi, dan daerah luahan memiliki luas 6 juta m2, atau 36% dari total luas daerah penelitian. Jumlah air yang menjadi cadangan air tanah berdasarkan perhitungan neraca air adalah sebesar 4,3 juta m3/tahun atau 12% dari total curah hujan yang masuk, dan sebesar 6,2 juta m3/tahun jika di asumsikan daerah penelitan berada pada kondisi alamiahnya. Hal ini menunjukkan luas daerah resapan air tanah yang ada sekarang sudah mengalami perubahan. Jumlah air yang meresap dan menjadi cadangan air tanah pada daerah penelitian hanya memberikan kontribusi sebesar 2% dari total kebutuhan  cadangan air tanah di cekungan Bandung

    Perkembangan Tektonik Daerah Busur Muka Selat Sunda dan Hubungannya dengan Zona Sesar Sumatera

    Get PDF
    The subduction of the Indian-Australian Plate beneath the Eurasian Plate is oblique (~45o) along Sumatra. A major zone of dextral strike slip displacement along Sumatra Island, called the Sumatra Fault, partially accommodates the oblique convergence off Sumatra. On the contrary, the subduction is normal along Java; therefore, no major fault zone can be found along the Java Island. The transition zone of the Sunda Strait fore arc, which is located between Java and Sumatra fore arc, is subject to northwest-southeast extension related to the motion of the Sumatra Fault and north-south compression because of subduction. Geophysical studies show that continuous extension dominated the Sunda Strait fore arc region. The results are interpreted as showing ongoing separation of the Sunda Strait fore arc region as the Sumatra fore arc plate has moved northwest, bounded by the Sumatra Fault. Therefore, the Sumatra Fault can also be interpreted to extend across the fore arc to the trench in the form of several graben systems. Key words: Sunda Strait, Sumatra Fault Zone, fore arc tectoni

    KANDUNGAN SENYAWA PENCEMAR PADA AIR TANAH DANGKAL DI PROPINSI NANGROE ACEH DARUSSALAM PASCA TSUNAMI 2004

    Get PDF
    Air merupakan sumberdaya alam yang tak tergantikan keberadaannya. Pencemaranair dapat menyebabkan berkurang bahkan hilangnya fungsi air sebagai salah satu sumber kehidupan. Masuknya air laut ke daratan dapat menjadi salah satu penyebab pencemaran air. Hal ini seperti yang terjadi di propinsi Nanggroe Aceh Darussalam setelah gempa bumi dan gelombang tsunami melanda daerah tersebut pada tanggal 26 Desember 2004. Penelitian ini dilakukan untuk memantau kualitas air tanah dangkal yang dilakukan dengan cara pengambilan conto-conto air dibeberapa lokasi yang terkena tsunami, kemudian dilakukan analisis kimia dari conto-conto air tersebut. Hasil penelitian yang dilakukan oleh LIPI pada Juli 2006 dibandingkan dengan hasil penelitian yang telah dilakukan oleh Kementerian Lingkungan Hidup pada Januari 2005 untuk melihat sejauh mana perubahan kualitas air yang terjadi pasca tsunami. Hasil penelitian Kementerian Lingkungan Hidup dan LIPI menunjukkan kandungan senyawa seperti fosfat, sulfida, ammoniak, fenol, COD, DO dan kadmium dihampir seluruh lokasi penelitian yang melebihi ambang batas untuk air minum berdasarkan PP No.82/2001 dan Keputusan Menteri Kesehatan RI No. 907/Menkes/SK/VII/2002, yaitu kandungan fosfat lebih dari 0,2 mg/L, sulfida lebih dari 0,002 mg/L, ammoniak lebih dari 0,15 mg/L, fenol lebih dari 0,001 mg/L, COD lebih dari 10 mg/L, DO kurang dari 6mg/L dan cadmium lebih dari 0,003 mg/L, sedangkan kandungan nitrat umumnya tidak melebihi ambang batas (kurang dari 10 mg/L). Tetapi secara keseluruhan, hasil penelitian yang dilakukan LIPI pada Juli 2006 menunjukkan kandungan senyawa-senyawa tersebut kecuali fosfat telah mengalami penurunan jika dibandingkan dengan hasil penelitian Kementerian Lingkungan Hidup pada Januari 2005. 

    Petrogenesa Basalt Sungai Medana Karangsambung, Berdasarkan Analisis Geokimia

    Get PDF
    ABSTRAK Pada komplek melange di kawasan Karangsambung, terdapat sebaran batuan beku volkanik yang luas. Batuan tersebut diidentifikasi sebagai batuan beku yang terbentuk pada dasar samudera dan berasosiasi dengan pembentukan ofiolit. Basalt di K. Muncar berasosiasi dengan rijang, basalt S. Lokidang terlihat nyata berasosiasi dengan gabro dan peridotit yang mengindikasikan batuan tersebut terbentuk sebagai ofiolit hasil pemekaran tengah samudera. Basalt S. Medana pelamparannya luas, namun asosiasi dengan gabro, peridotit dan rijang tidak dijumpai, untuk itulah penelitian ini dilakukan. Analisis kimia unsur utama dan unsur jarang dengan metode ICP dan ICPMS telah di lakukan pada 1(satu) buah conto basalt S. Medana, serta menggunakan 3(tiga) buah data pembanding basalt dari kelompok ofiolit di Karangsambung Utara. Program aplikasi Newped digunakan untuk penghitungan mineral normatif serta pengeplotan pada diagram trilinear maupun biner. Berdasarkan analisis tersebut ternyata basalt S. Medana termasuk basalt tholeit yang sangat jenuh silika, terbentuk pada daerah punggungan tengah samudera (NMORB) pada saat fraksinasi mantel bumi (mantle fractionates) hingga sebelum terjadinya tumbukan (pre plate collision).

    BATUAN PERLIT KARANGNUNGGAL SEBAGAI BAHAN SINTESA ATAPULGIT

    Get PDF
    Empat buah sampel batuan perlit yang diambil dari daerah Karangnunggal Tasikmalaya digunakan dalam usaha peningkatan nilai tambah sumberdaya mineral melalui sintesa atapulgit. Walaupun Indonesia merupakan daerah volkanik, informasi mengenai batuan perlit masih relatif sedikit. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh kejelasan tentang pola sebaran, kuantitas dan kualitas batuan perlit di daerah Karangnunggal serta mengkaji potensi batuan itu baik sebagai bahan eksperimentasi maupun prospek pemanfaatannya pada masa mendatang. Metoda penelitian dilakukan melalui survei lapangan dan pengambilan sampel batuan serta dilanjutkan dengan analisis di laboratorium dengan melibatkan analisis kimia, mineral dan sifat-sifat fisik batuan. Dari hasil penelitian diketahui bahwa sebaran batuan perlit di Karangnunggal berpola random dan merupakan komponen kecil dari satuan batuan tuf breksi, sebagian tercampur pada masa dasar bersama-sama gelas vulkanik, gelas obsidian dan gelas batuapung. Luas sebaran batuan perlite ± 2 Ha atau ± 26.700 m2, dengan jumlah cadangan terindikasi sekitar 8.000 m3 atau sekitar 15.700 ton. Karakteristik batuan berdasarkan analisis mikroskopis memperlihatkan tekstur gelas masif dan retakan konkoidal (mengulit bawang) yang merupakan ciri khas perlit. Komposisi mineral sebagian besar terdiri dari gelas perlit (90-97%) serta mineral opak dan plagioklas (masing-masing kurang dari 1%). Validitas data tersebut dipertegas baik oleh hasil analisis X-RD maupun SEM yang menunjukkan mikrografi jenis dan bentuk struktur gelas. Komposisi kimia terdiri dari SiO2 (68,97%), Al2O3 (13,06%), Na2O (2,51%), K2O (4,10%), Fe2O3 dan TiO2 (kurang dari 1 %). Dengan formulasi ratio perlit/MgO 9:1, ratio bahan/NaOH 1:2, serta penambahan sekitar 2 ml H2SO4 1:1 dapat dibentuk gel yang dapat digunakan sebagai bahan eksperimentasi. Potensi batuan perlit di daerah Karangnunggal ditinjau baik dari segi kuantitas maupun kualitas cukup memadai sebagai bahan eksperimentasi, tetapi untuk pengembangan pemanfaatan perlit di daerah Karangnunggal pada masa mendatang perlu dicari lokasi alternatif yang lebih baik. 

    Peranan Daun Babadotan (Ageratum conizoides), Nampong (Eupatorium molifolium) Dan Asipatiheur (Lantana camara) Sebagai Bahan Aditif Dalam Amalgamasi Bijih Emas Pada Pertambangan Rakyat

    Get PDF
    Pengetahuan penambang emas tentang penggunaan daun dalam proses amalgamasi bijih emas pada pertambangan rakyat diperoleh secara turun temurun. Walaupun daun telah lama digunakan sebagai bahan aditif dan diyakini dapat meningkatkan perolehan emas dan perak dalam proses amalgamasi, namun hingga kini informasi tentang peranannya masih simpang siur. Guna mengetahui sejauhmana peranan daun sebagai bahan aditif, tiga (3) jenis daun yaitu babadotan (Ageratum conizoides), nampong (Eupatorium molifolium) dan asipatiheur (Lantana camara) diteliti di Laboratorium Kimia Mineral, Pusat Penelitian Geoteknologi - LIPI. Tujuan penelitian adalah untuk memperoleh kejelasan tentang peranan daun tersebut sebagai bahan aditif dalam proses amalgamasi bijih emas. Metoda penelitian dilakukan melalui eksperimentasi laboratorium dengan melibatkan parameter kimia dan fisika. Tahapan penelitian terdiri dari proses ekstraksi daun tersebut menjadi bentuk cairan dengan nisbah antara aquades/daun 1:1 hingga 1:4, serta karakterisasi melalui analisis gas chromatografi dan pengujian konsentrasi keasaman larutan (pH), baik pada kondisi normal maupun dalam lingkungan suasana asam dan basa. Hasil pengujian gas chromatografi menunjukkan bahwa ketiga jenis ekstrak daun tersebut didominasi (> 80 %) oleh asam asetat (C2H4O2). Asam ini termasuk jenis asam lemah, pada kondisi normal mempunyai tingkat keasaman berkisar antara pH (5-6). Pengujian dalam lingkungan suasana asam (pH 4) atau basa (pH 8), asam ini secara signifikan berperan sebagai larutan penyangga (buffer) yang berfungsi sebagai bahan penstabil pH, ditunjukkan oleh grafik fungsi garis lurus mendatar. Tetapi asam ini kurang berperan baik sebagai bahan untuk meningkatkan pH maupun bahan yang berfungsi untuk menjaga agar permukaan logam emas dan perak tetap bersih. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi bagi pemangku kepentingan (stakeholder) khususnya industri “pertambangan rakyat”.  

    Pemetaan Pola Terjadinya Gempa Bumi Di Indonesia Dengan Metode Fraktal

    Get PDF
    Earthquake pattern mapping in Indonesia was done. This mapping conducted for the use of earthquake hazard area zonation, considering Indonesia located in very active tectonic area. Although in general Indonesia is a region with high risk earthquake disaster, the risk at each region is different one from the other. This mapping are done by grouping and differentiating each region in the region by the level of its earthquake hazard risk using fractal analysis. Seismic activities analysis using this theory show that the region of Maluku, Banda and its surroundings are place at the highest for earthquake risk disaster and Kalimantan place at the lowest part.  

    Evaluasi Indeks Urban Pada Citra Landsat Multitemporal Dalam Ekstraksi Kepadatan Bangunan

    Get PDF
    ABSTRACT The information of building density is so necessary in city planning. Monitoring ofthe dynamic city changing can be helped by the remote sensing data, one of them is Landsat image. Supposed to Kawamura (1997), urban index (UI) transformation on Landsat can be used to extract the building density. Application of a transformation is not enough to be adopted only, but it has to be evaluated, in order to increase the transformation accuracy. This research is done to evaluate the UI transformation on Landsat TM (Thematic Mapper) and ETM+ (Enhanced Thematic Mapper plus) images in extracting the density building. The digital image processing of multitemporal images has been done to reach the goal. We used ‘inner ringroad Yogyakarta’ as a research area. This research has got a summary that the UI transformation will be effective if it be applied in built up area only. If the area is a mixture of built up and non built up area, it has to be filtered by land cover layer (built up and non built up area).

    265

    full texts

    310

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Publications of Research Center for Geotechnology, Indonesian Institute of Sciences
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇