Publications of Research Center for Geotechnology, Indonesian Institute of Sciences
Not a member yet
    310 research outputs found

    PENCEMARAN AIR DAN TANAH DI KAWASAN PERTAMBANGAN BATUBARA DI PT. BERAU COAL, KALIMANTAN TIMUR

    Get PDF
    ABSTRAK Studi ini bertujuan untuk mengetahui faktor penyebab pH air sungai sepanjang Sungai Lati mengalami fluktuasi dan cenderung asam. Metode yang digunakan adalah mengambil dan menganalisa sampel air dan tanah di sekitar lokasi studi.  Berdasarkan hasil analisis di hulu Sungai Lati pH air masih menunjukkan nilai yang normal yaitu 6,5. Namun sepanjang perjalanannya, pH mengalami fluktuasi. Nilai pH di hilir Sungai Lati menjadi asam yaitu sebesar 4,6. Hasil analisis tanah menunjukkan bahwa pH tanah disekitar lokasi studi bersifat asam (< 6). Sementara tekstur tanah yang didominasi oleh debu dan curah hujan yang relatif tinggi menyebabkan tanah disekitar lokasi mudah mengalami erosi. Proses run off dengan membawa material sulfida (pirit) hasil erosi, baik dari disposal maupun hutan sekitar, diduga sebagai penyebab pH air sungai sepanjang Sungai Lati dibawah normal. Oleh karena itu berbagai upaya untuk konservasi air dan tanah bekas tambang maupun tanah sekitar penambangan batubara yang umumnya kaya akan mineral sulfida seharusnya menjadi bagian dari aktivtas penambangan

    Similarity of Drainage Basin Morphometry Development on Quarternary and Tertiary Rock Deposits as a Measure of Neotectonic Intensity in Bumiayu Area, Central Java

    Get PDF
    ABSTRAK Batuan Tersier dan endapan volkanik Kuarter yang tidak selaras di atasnya sebagai produk Gunung Slamet, yang terdeformasi, menentukan perkembangan morfometri Daerah  Aliran Sungai Pemali di Kecamatan Bumiayu, Jawa Tengah dan sekitarnya. Dalam riset ini, morfometri  di daerah penyebaran kedua satuan batuan itu dipelajari sebagai gejala morfometri tektonik dalam artian pengaruh neotektonisme, yang mengakibatkan kerusakan infrastruktur.Hasil-hasil uji regresi-korelasi antara azimuth segmen sungai dan kelurusan di kedua satuan batuan yang berlainan usia tersebut adalah signifikan, yang menunjukkan nilai-nilai tinggi dari koefisien korelasi masing-masing r1 = 0.999 dan  r2 = 0.998, yang memberikan kesimpulan kuat bahwa tektonik sangat berperan dalam mengontrol proses perkembangan morfometri.Selanjutnya, uji beda rata-rata terhadap kedua variabel itu dan juga terhadap nisbah percabangan sungai (Rb) dan kerapatan pengaliran (Dd) dari dua DAS yang berkembang pada masing-masing satuan batuan tidak berbeda secara signifikan. Hasil uji ini memberikan kesimpulan bahwa perkembangan DAS tidak dipengaruhi oleh jenis batuan tetapi lebih oleh pengaruh pola deformasi. Fenomena ini menunjukkan bahwa tektonik masa kini aktif sehingga menghasilkan pola-pola kekar yang sama pada Formasi Halang dan Formasi Kumbang,  dengan  pada  endapan  volkanik sama pada Formasi Halang dan FormasiKumbang, dengan pada endapan volkanik Kuarter, yang secara menerus deformasi itu telah memotong bidang ketidakselarasan antara kedua formasi dan endapan Kuarter tersebut

    PORE SIZE DISTRIBUTION AND FLOW CHARACTERISTICS IN A FORESTED HEADWATER CATCHMENT

    Get PDF
    ABSTRACT It is obvious in recent publications that pores and pores size distribution play an important role in flow generation, yet the study of dynamic behavior of the effects of pores and pores size distribution on flow characteristics is somewhat rare. As micro pores, mezzo pores and macro pores are various in the soil, the distribution as well as characteristics of those pores are the major factor of flow characteristics in the soils. Pores size distribution was determined considering the volumetric water content at each matric head defined from soil water characteristics curves. Mathematically, pores size distribution is calculated using formula of r = 0.15/h, where r is radius of the pore and h is matric head. The flux of water was determined by installing tensiometer and piezometer in a transect across the hillslope and riparian zone.  The results showed that the different of those between hillslope and riparian provides insight that the effects of pores and pores size distribution varies with hydrological zone.  In riparian zone, flows are highly affected by micropores (R2 = 0.49), mezopores (R2 = 0.26) and total porosity (R2 = 0.28), while in hillslope side only micropore is dominant. The relationship between pores size distribution and water flow suggested that in hillslope side the flow was dominated by slow flow as micro pores has affected, while in riparian zone the rapid flow was more obvious as mezopores and total porosity have affected

    Aplikasi Sistem Informasi Geografi Untuk Menentukan Daerah Prioritas Rehabilitasi di Cekungan Bandung

    Get PDF
    Sistem pengolahan data spasial dengan memanfaatkan sistem informasi geografi digunakan untuk menentukan daerah prioritas rehabilitasi di cekungan Bandung. Rehabilitasi lahan diperlukan untuk mengurangi degradasi fungsi hidrologi yang sedang terjadi. Peta tingkat kekritisan air dihasilkan melalui analisis spasial (tumpang susun (overlaying),tumpang tindih (intersecting) serta operasi scoring) pada topografi, peta tataguna lahan, peta tanah dan peta distribusi hujan. Daerah prioritas rehabilitasi di cekungan Bandung ditentukan dengan cara menumpang susunkan peta tematik tingkat kekritisan resapan air dengan hasil pemodelan airtanah. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa dengan menggunakan analisis spasial dalam Sistem Informasi Geografi dapat ditentukan daerah prioritas rehabilitasi di cekungan Bandung. Daerah prioritas rehabilitasi di cekungan Bandung adalah hulu Majalaya, hulu Soreang, Lembang, Tanjungsari, Cimahi (Batujajar) dan daerah sekitar Gununghalu. Rehabilitasi yang disarankan untuk mengurangi degradation hidrologi adalah perbaikkan tutupan lahan di hulu daerah problematik

    Annual growth band analysis of Porites corals: case study Seribu Islands corals, Indonesia

    Get PDF
    ABSTRAK Pertumbuhan koral bergantung pada beberapa faktor lingkungan, diantaranya yaitu suhu muka laut, salinitas, sedimentasi dan cahaya. Pada tulisan ini dibahas mengenai analisa parameter pertumbuhan tahunan koral (yaitu kecepatan kalsifikasi, densitas dan pertumbuhan linear) dari koral-koral yang diambil di wilayah Kepulauan Seribu. Hasil analisa beberapa parameter dari beberapa lokasi pengambilan koral di Kepulauan Seribu (yaitu Bidadari, Air dan Jukung) tersebut kemudian dibandingkan untuk lebih mengetahui pengaruh perubahan lingkungan di wilayah daratan terhadap koral di perairan terumbu koral Kepulauan Seribu. Metode Coral XDS digunakan untuk analisa parameter pertumbuhan tahunan koral. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa koral dari Jukung (offshore) memperlihatkan kenaikan kecepatan kalsifikasi, sedangkan koral dari Air dan Bidadari menunjukkan penurunan kecepatan kalsifikasi selama periode 1985-2005. Walau begitu, penyebab penurunan atau kenaikan kecepatan kalsifikasi tersebut masih perlu diteliti lebih lanjut, terutama diperlukan kalibrasi antara parameter pertumbuhan tahunan koral dengan kondisi lingkungan (suhu, salinitas, sedimentasi dll) dimana koral tersebut diambil. Hal tersebut memerlukan monitoring dalam waktu yang lama

    Fasies dan Lingkungan Pengendapan Formasi Campurdarat di Daerah Trenggalek-Tulungagung, Jawa Timur

    Get PDF
    Formasi Campurdarat yang tersebar di bagian selatan daerah Trenggalek-Tulungagung telah diselidiki berkaitan dengan fasies, lingkungan dan model pengendapannya. Empat (4) fasies karbonat dapat dikenali dalam formasi ini. Fasies packstone terdiri dari tiga subfasies yaitu subfasies nodular packstone, subfasies algal foraminifera packstone dan subfasies milliolid packstone berkembang dalam lingkungan terumbu belakang, lagon dan saluran pasang. Fasies floatstone diendapkan pada lingkungan terumbu belakang dan inti terumbu. Fasies rudstone ditafsirkan terbentuk pada dataran terumbu. Fasies boundstone yang membentuk inti terumbu dibagi menjadi dua subfasies yaitu subfasies bafflestone dan subfasies framestone. Fasies boundstone ini diendapkan pada lingkungan puncak terumbu-terumbu depan. Formasi Campurdarat diperkirakan terbentuk sebagai terumbu penghalang pada umur Miosen Awal dalam mana terumbu belakang berada di selatan dan bagian terumbu depan di sebelah utara

    Degradasi Kualitas Airtanah Berdasarkan Kandungan Nitrat di Cekungan Airtanah Jakarta

    Get PDF
    ABSTRACT At the present time, more than 13 millions people live in Jakarta Area and it will increase in the near future. This population pressure increases the groundwater abstraction in the area and can cause groundwater, either quality or quantity, problems. The quality decreasing is marked by the appearance of some pollutants, such as nitrate pollutant which is produced by human activity, i.e. domestic waste, garbage leaching, and fertilizer over used. The analysis result of nitrate (NO3) content in groundwater was varied from 0.00 to 79,737 mg/l. The high content of nitrate were found in dug well of unconfined aquifer, while in the groundwater of confined aquifer the nitrate content is relatively low, < 4 mg/l . It is concluded that the presentation of those pollutant is caused by poor sanitation system and the presentation of nitrate pollutant is very much connected with un-control groundwater abstraction either for domestic or industry use. Keywords : Groundwater, Nitrate, Pollutant, Jakarta Groundwater Basin ABSTRAK Pada saat ini, wilayah DKI Jakarta di huni oleh lebih dari 13 juta penduduk dan cenderung bertambah di tahun-tahun mendatang. Pertambahan penduduk tersebut telah mengakibatkan terjadinya perubahan kondisi airtanah baik kuantitas maupun kualitas. Penurunan kualitas airtanah ditandai dengan terdeteksinya kehadiran beberapa polutan diantaranya polutan nitrat, yang sangat berhubungan dengan kegiatan manusia seperti pembuangan limbah domestik, pelindihan TPA, dan penggunaan pupuk yang berlebihan. Analisis kandungan nitrat (NO3-) pada airtanah memberikan hasil yang sangat beragam mulai 0,00 – 79, 737 mg/l. Nitrat yang cukup tinggi terdapat di sumur gali pada akuifer tidak tertekan, sedangkan pada akuifer tertekan kandungan nitrat masih sangat rendah, < 4 mg/l. Disimpulkan bahwa kehadiran polutan dalam airtanah disebabkan oleh sanitasi atau sistem buangan limbah yang kurang baik dan kehadiran polutan nitrat menunjukkan adanya keterkaitan dengan pemanfaatan airtanah yang tidak terkendali, baik untuk rumah tangga maupun untuk industri. Kata kunci : airtanah, nitrat, polutan, cekungan airtanah Jakart

    Benefit of Channel Availability In An Underground Coal Gasification Laboratory

    Get PDF
    Keunggulan dari keberadaan alur gasifikasi pada percobaan gasifikasi batubara bawah tanah diselidiki di laboratorium. Percobaan dilakukan dengan menggunakan sebuah reaktor simulasi berbentuk persegi panjang yang terbuat dari besi. Dalam studi ini ada dua percobaan yang dilakukan yaitu: percobaan pertama tanpa adanya alur gasifikasi dan percobaan kedua dengan sebuah alur gasifikasi didalam reaktor. Hasil percobaan menunjukkan bahwa jumlah gas CO2 adalah dalam kisaran (4,6-11,4)% dan (11,6-14,4)%; gas CO dalam kisaran (0,3-4,0)% dan (1,2-6,8)%; gas H2 dalam kisaran (0,1-2,5)% dan (1,6-3,2)%; gas C3H8 dalam kisaran (0,0-0,6)% dan (0,2-0,9)%; gas CH4 dalam kisaran (0,0-2,2)% dan (0,4-3,0)%, gas CnHm adalah dalam kisaran  (0,0-0,0)% dan (0,0-0,4)% untuk percobaan pertama dan kedua berturut-turut. Nilai kalori gas adalah dalam kisaran (81-343)kcal/m3 dan (263-516)kcal/m3 berturut-turut. Kisaran dari pengembangan temperatur pada saat proses gasifikasi berjalan menunjukkan bahwa pada percobaan pertama, kisaran temperatur gasifikasi T1 pada adalah (335-565)oC; dan T2 adalah dalam kisaran (110-240)oC. Dilain pihak, T1 untuk percobaan kedua adalah dalam kisaran (550-705)oC dan T2 dalam kisaran (160-628)oC. Selain itu  pada percobaan pertama, pola perubahan temperatur T1 dan T2 mempunyai kecenderungan menurun, sedangkan pada percobaan kedua, pola temperatur T1 dan T2 tersebut mempunyai kecenderungan meninggi seiring dengan jalannya proses gasifikasi. Hal ini dapat disimpulkan bahwa adanya alur gasifikasi pada percobaan kedua memungkinkan reaksi-reaksi gasifikasi berjalan lebih efisien dibandingkan dengan reaksi-reaksi yang terjadi pada percobaan pertama tanpa alur didalamnya.

    Pendeteksian Kerapatan Vegetasi dan Suhu Permukaan Menggunakan Citra Landsat Studi Kasus : Jawa Barat Bagian Selatan dan Sekitarnya

    Get PDF
    ABSTRAK Kerapatan vegetasi dan suhu permukaan merupakan informasi penting yang dibutuhkan kaitannya dengan isu pemanasan global. Informasi spasial ini dapat dihasilkan dengan memanfaatkan citra satelit sumberdaya, khususnya citra Landsat. Kemampuannya perlu dikaji agar tidak memberikan informasi yang tidak representatif, apalagi kalau suatu daerah kajian memiliki jenis penggunaan lahan yang heterogen. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui kemampuan transformasi NDVI (Normalized Difference Vegetation Index) dan kemampuan band thermal di daerah yang bervariasi jenis penggunaan lahannya. Analisis yang digunakan yaitu analisis spasial dengan melakukan perbandingan antara informasi spasial penggunaan lahan dengan data sebaran kelas kerapatan vegetasi dan kelas suhu permukaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa NDVI mampu mempresentasikan kerapatan vegetasi dengan baik untuk berbagai macam jenis penggunaan lahan. Di sisi lain pendeteksian suhu permukaan menggunakan band thermal pada citra Landsat harus memperhatikan aspek penggunaan lahannya, untuk menghindari kesalahan interpretasi

    Identifikasi Potensi Bencana Alam dan Upaya Mitigasi yang Paling Sesuai Diterapkan di Pesisir Indramayu dan Ciamis

    Get PDF
    ABSTRAK Sebagai negara kepulauan terbesar, Indonesia memiliki kekayaan sumber daya alam pesisir melimpah dan potensi bencana alam yang tinggi. Konfigurasi pulau besar dan pulau kecil menempatkan Laut Jawa sebagai perairan dalam yang mengakibatkan pantura Jawa sering diterjang gelombang pasang sehingga mengalami abrasi. Posisi lempeng tektonik di sébelah selatan Pulau Jawa mengakibatkan gempabumi dan tsunami sangat potensial melanda pansela Jawa. Tulisan ilmiah ini bertujuan mengetahui potensi bencana alam dan bentuk mitigasi yang sesuai diterapkan di pesisir Indramayu dan Ciamis. Metode analisis yang digunakan adalah Interpretive Structural Modeling dan hasil analisis data serta pendapat pakar menunjukkan bahwa bencana potensial di Indramayu adalah gelombang pasang diikuti banjir dan abrasi, dan di Ciamis adalah gempabumi, tsunami diikuti oleh gelombang pasang. Bentuk mitigasi yang paling sesuai ditentukan oleh Metode Perbandingan Eksponensial dimana di Indramayu adalah gabungan pemecah ombak, peredam abrasi, dan penahan sedimentasi sejajar pantai serta gabungan penanaman mangrove, terumbu karang buatan dan revitalisasi pasir pantai. Di Ciamis, adalah sistem peringatan dini, penyelamatan diri dan gabungan pemecah ombak, peredam abrasi, dan penahan sedimentasi sejajar pantai

    265

    full texts

    310

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Publications of Research Center for Geotechnology, Indonesian Institute of Sciences
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇