Publications of Research Center for Geotechnology, Indonesian Institute of Sciences
Not a member yet
310 research outputs found
Sort by
MIKROZONASI SEISMIK WILAYAH KOTA PADANG BERDASARKAN PENGUKURAN MIKROTREMOR
Peristiwa gempa bumi pada tanggal 30 September 2009, dengan skala intensitas VII-VIII, mengindikasikan bahwa wilayah Kota Padang rentan terhadap amplifikasi tanah. Makalah ini menyajikan hasil analisis rasio spektra H/V untuk menghasilkan mikrozonasi kerentanan amplifikasi berdasarkan pengukuran mikrotremor. Hasil analisis menunjukkan variasi nilai periode predominan dan faktor amplifikasi yang dipengaruhi oleh jenis lapisan tanah dan struktur bawah permukaan. Berdasarkan variasi nilai faktor amplifikasi, wilayah Kota Padang dapat diklasifikasikan menjadi 5 (lima) zonasi kerentanan amplifikasi. Kawasan perumahan kepadatan tinggi, perdagangan dan perkantoran di wilayah kecamatan Nanggalo, Padang Utara, Padang Barat dan Padang Selatan berada di zona kerentanan tinggi hingga sangat tinggi terhadap bahaya amplifikasi. Hasil zonasi ini sesuai dengan fakta-fakta kerusakan bangunan akibat fenomena amplifikasi yang terjadi pada gempa bumi 30 September 2009.The 30 September 2009 earthquake event with intensity VII to VIII (MMI scale) indicated that Padang City region is prone to soil amplification. This paper presents the results of H/V spectral ratio analysis to produce a microzonation map of amplification for Padang City based on microtremor measurement. The analysis of microtremor data shows that the predominant period and amplification factor of the soils are spatially varied and influenced by soil types and subsurface structure. On the basis of amplification factor, Padang City is classified into 5 (five) zones. High and very high susceptible zones are mainly concentrated in the very dense residential areas, trade and office areas, including the districts of Nanggalo, Padang Utara, Padang Barat, and Padang Selatan. The predicted amplification susceptibility zones are in a good agreement with the phenomena of building damages due to amplification during the 2009 earthquake
APLIKASI ANALITIK HIRARKI PROSES UNTUK ANCAMAN BAHAYA GEMPA DI DAERAH TANJUNG LESUNG-PANIMBANG, PANDEGLANG
Wilayah Tanjung lesung-Panimbang Kabupaten Pandeglang merupakan wilayah pengembangan pariwisata yang tumbuh pesat. Daerah tersebut menempati dataran aluvial dan material hasil proses vulkanik yang berpotensi terhadap bahaya seismik. Dengan demikian diperlukan informasi bahaya seismik dalam menunjang pengembangan daerah tersebut. Tulisan ini bertujuan menguraikan aplikasi Sistem Informasi Geografi dalam pemetaan ancaman bahaya seismik di Tanjung Lesung-Panimbang. Analisis spasial yang dilakukan atas dasar bobot dan peringkat dengan menggunakan pendekatan AHP (Analytical Hierarchy Process). Berdasarkan penilaian dan pembobotan terhadap parameter percepatan tanah puncak, likuifaksi, litologi, morfologi dan ketinggian, dihitung dengan metode intersection untuk menghasilkan peta potensi ancaman bahaya seismik yang diklasifikasikan menjadi ancaman bahaya tinggi, sedang dan rendah. Diharapkan hasil penelitian ini menjadi perhatian, khususnya untuk kepentingan pembangunan fisik dan penyusunan rencana tata ruang wilayah di Tanjung lesung-Panimbang Kabupaten Pandeglang.Tanjung Lesung-Panimbang region Pandeglang Regency has a rapid development in tourism. The area occupies an alluvial plain and volcanic product materials that potentially prone to seismic hazard. Therefore, seismic hazard information is required in supporting the development of the area. This paper describes the application of Geography Information System for seismic hazards mapping in the Tanjung Lesung-Panimbang area. Spatial analysis was conducted on the basis of the weighting and ranking using the AHP (Analytical Hierarchy Process) approach. Based on the assessment and weighting of Peak Ground Acceleration, liquefaction, lithology, morphology and altitude parameters, we calculated using intersection method to obtain the seismic potential hazard map, which classified into high, medium and low. This hazard map will be very useful, particularly for the physical development and spatial planning of Panimbang - Tanjung Lesung Pandeglang
MINERALOGI BENTONIT TASIKMALAYA SEBAGAI MEDIA PENYERAP CO2 MELALUI KARBONASI HIDROTERMAL
Kristalinitas mineral kalsit yang terpresipitasi pada proses karbonasi hidrotermal dianalisis menggunakan metode XRD (X-ray diffraction) semi-kuantitatif dengan bantuan piranti lunak komersial PeakFit® serta SEM (scanning electrone microscope) untuk memperoleh ukuran kristalit dan bentuk morfologinya. Bentonit Tasikmalaya mengandung mineral-mineral potassium, kalsium, magnesium silikat berupa montmorilonit, klinoptilolit, dan anortit serta mampu menyerap CO2 dan menyimpannya dalam bentuk mineral kalsit. Hasil analisis menunjukkan bahwa ukuran kristalit kalsit yang terbentuk mempunyai korelasi dengan prosentase gas CO2 yang terserap. Penyerapan CO2 tertinggi tercapai pada bentonit CaBK dan NaBK dengan penambahan Ca(OH)2 pada suhu rendah masing-masing sebesar 9,9% dari massa percontoh. Adapun kristalinitas mineral kalsit terbesar tercapai pada bentonit CaBK yang menghasilkan kristalit kalsit berukuran 463,36Ǻ. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bentonit Tasikmalaya mampu menyerap CO2 dan menyimpannya dalam bentuk kalsit. Calcite precipitated during hydrothermal carbonation process was analyzed using semi-quantitative XRD (X-ray diffraction) method, supported with commercial software PeakFit®, and SEM (scanning electrone microscope) method to study its crystallite size and morphology. Tasikmalaya bentonite consist of potassium, calcium, magnesium silicate minerals as montmorillonite, clinoptilolite, and anorthite. The result indicates that crystallite sizes correlate with absorbed CO2 percentage. The highest CO2 absorption was obtained from CaBK and NaBK bentonite with addition of 9.9% Ca(OH)2 for each sample at low temperature. Largest calcite crystallinity obtained from CaBK bentonite that resulted 463.36Ǻ crystallites size. The result indicates that Tasikmalaya bentonite has an ability to absorb and store CO2 as calcite.
PENERAPAN MODEL NRECA PADA DAERAH RESAPAN LAPANGAN PANASBUMI WAYANG WINDU, JAWA BARAT
Panasbumi dikenal sebagai sumber energi yang dapat diperbaharui dan proses pembaruan terjadi di daerah resapan. Makalah ini membahas tentang daerah resapan air meteorik untuk reservoir panasbumi dan rasio debit aliran dasar terhadap debit limpasan permukaan berdasarkan neraca air, yaitu dengan melakukan simulasi hujan-limpasan model NRECA pada Daerah Aliran Sungai (DAS) yang terletak pada kisaran elevasi daerah resapan. Interpretasi berdasarkan peta densitas sesar dan rekahan (FFD) dan peta daerah resapan hasil analisis isotop stabil menunjukkan terdapat tiga zona dengan nilai FFD tinggi yang diperkirakan sebagai daerah resapan untuk reservoir panasbumi Wayang Windu. Untuk mengetahui besarnya debit aliran dasar dan debit limpasan permukaan pada daerah resapan tersebut, maka dilakukan perhitungan berdasarkan neraca air dan pembuatan data debit sintetis untuk zona FFD tinggi. Hasil simulasi hujan-limpasan dengan model NRECA adalah untuk mendapatkan nilai koefisien resapan untuk setiap DAS. Hasil perhitungan rasio antara debit aliran dasar terhadap debit limpasan permukaan pada zona FFD tinggi yang terletak pada DAS Cisangkuy terlihat lebih tinggi (98%) jika dibandingkan dengan dua DAS lainnya, yaitu DAS Cilaki (66%) dan DAS Citarum (43%). Hal ini menunjukkan bahwa zona FFD tinggi yang terletak pada DAS Cisangkuy memiliki debit aliran dasar yang lebih besar dibandingkan pada DAS Cilaki dan DAS Citarum.Geothermal is known as a renewable energy resource and the renewing process occurs in the recharge area. This paper discusses about the meteoric water recharge area for geothermal reservoir and the ratio of baseflow discharge compared with surface runoff discharge based on water balance, i.e. conducting rainfall-runoff of NRECA model simulation in the Drainage River Area (DRA) which is located in the elevation range of recharge area. The interpretation of FFD map and recharge area map resulting from stable isotope analysis shows that there are three high FFD zones interpreted as recharge areas for Wayang Windu geothermal reservoir. To know the ratio of baseflow discharge and surface runoff discharge in that recharge area, infiltration analysis has been carried out based on water balance and synthetic discharge data for high FFD zone. The result of rainfall-runoff simulation by using NRECA model is used to get infiltration coefficient for each DRA. The ratio between baseflow discharge to surface runoff discharge in high FFD zone located in Cisangkuy DRA is higher (98%) than Cilaki DRA (66%) and Citarum DRA (43%).It shows that high FFD zone located in Cisangkuy DRA has higher baseflow discharge than Cilaki DRA and Citarum DRA
PALEOBATIMETRI FORMASI JATILUHUR BERDASARKAN KUMPULAN FORAMINIFERA KECIL PADA LINTASAN SUNGAI CILEUNGSI, KABUPATEN BOGOR, JAWA BARAT
Formasi Jatiluhur di sekitar Sungai Cileungsi merupakan lingkungan laut dangkal (zona neritik) berdasarkan dominasi foraminifera yang dikandungnya. Namun beberapa penelitian terdahulu menyatakan umur Formasi Jatiluhur yang bervariasi. Penelitian paleobatimetri berdasarkan kumpulan foraminifera kecil diharapkan dapat melengkapi kajian detil yang terkait dengan evolusi daerah ini selama Miosen. Pengambilan 30 sampel sedimen dilakukan secara sistematik pada satu lintasan di sepanjang Sungai Cileungsi. Hasil preparasi sampel sedimen dengan metode hidrogen peroksida menghasilkan 57301 individu foraminifera kecil yang terdiri dari 23276 individu foraminifera plangtonik dan 34025 foraminifera bentonik. Untuk mengetahui paleobatimetri, digunakan rasio foraminifera plangtonik dan foraminifera bentonik kecil. Hasil Rasio P/B berkisar antara 4,4 % - 74,0 % menunjukkan paleobatimetri Formasi Jatiluhur berkisar antara zona neritik dalam – zona batial atas.Jatiluhur Formation in the area of Cileungsi River was a shallow marine environment based on the foraminiferas domination. Several previous published papers had suggested age variation of the Jatiluhur Formation. Paleobatimetry study based on small foraminiferas was expected to complete the Miocene evolution analysis of the region. Thirty sediment samples were picked systematically in a section line along Cileungsi River. The hydrogen peroxide preparation of sediment samples produced 57301 small foraminifera. There were 23276 planktonic foraminiferas and 34025 benthic foraminiferas. To understand the paleobathimetry of this research area, we calculated the ratio of planktonic foraminifera and benthic foraminifera (P/B ratio). The P/B ratio is betweeen 4,4% and 74,0%. The ratio suggests that the paleobathimetry of Jatiluhur Formation is Inner Neritic Zone - Upper Bathyal Zone
FORAMINIFERA ASSEMBLAGES AS A MARKER OF MUD ERUPTION SOURCE IN CIUYAH, CINIRU – KUNINGAN, WEST JAVA
Mud eruptions that rise claystone to sandstone-size fragments, liquid, gas, and heat to the surface have been identified in Ciuyah, Ciniru District, Kuningan. Field observation and sampling were conducted on host rock as well as mud in Ciuyah. Forty-two planktic and forty-two benthic foraminiferal species were identified in rock samples; while 89.28% of them are recorded in mud samples. Foraminifera contained in claystone and sandstone of Pemali and Halang Formations reveals the age of Middle to Late Miocene. Based on their stratigraphic ranges, planktic foraminifera assemblages in mud represent four age-marker groups, there are: older than Zone N.10 / Middle Miocene (indicated by the appearance of Globorotalia archeomenardii), ranges of Zone N.11 – N.12 / Middle Miocene (marked by the appearance of Globorotalia fohsi lobata and Globorotalia praemenardii), ranges of Zone N.13–N.14 / Middle Miocene (Globorotalia siakensis and Globorotalia mayeri), and ranges of Zone N.15–N.17 / Late Miocene (Globorotalia acostaensis acostaensis and Neogloboquadrina dutertrei dutertrei). Benthic foraminifera can be grouped into outer neritic and bathyal typical assemblages. That several age-marker planktic foraminifera groups mixing and deep marine typical benthic occurrence in mud samples is produced by reworking process during turbidity sedimentation, as well as erosion and elution of base- and side-rock composed by Pemali and Halang Formations.Semburan lumpur yang membawa fragmen-fragmen berukuran batulempung hingga batupasir, cairan, gas dan panas ke permukaan telah teridentifikasi di Ciuyah, Kecamatan Ciniru, Kuningan. Observasi lapangan dan pengambilan sampel dilakukan terhadap batuan induk serta lumpur di Ciuyah dan sekitarnya. Empat puluh dua spesies foraminifera planktik dan empat puluh dua spesies bentik teridentifikasi dalam sampel batuan; dengan 89,28% di antaranya terekam dalam sampel lumpur. Foraminifera yang terkandung dalam batulempung dan batupasir Formasi Pemali dan Halang menunjukkan umur Miosen Tengah hingga Akhir. Berdasarkan rentang stratigrafinya, kumpulan foraminifera planktik dalam lumpur menunjukkan empat kelompok penanda umur, yaitu: lebih tua dari Zona N.10 / Miosen Tengah (ditunjukkan oleh kehadiran Globorotalia archeomenardii), rentang Zona N.11 - N.12 / Miosen Tengah (ditandai oleh kehadiran Globorotalia fohsi lobata dan Globorotalia praemenardii), rentang Zona N.13 -N.14 / Miosen Tengah (Globorotalia siakensis dan Globorotalia mayeri), dan rentang Zona N.15 - N.17 / Miosen Akhir (Globorotalia acostaensis acostaensis dan Neogloboquadrina dutertrei dutertrei). Foraminifera bentik dapat dikelompokkan dalam kumpulan neritik luar dan batial. Beberapa kelompok penanda umur foraminifera planktik dan kehadiran bentik laut dalam pada lumpur dihasilkan oleh pengerjaan ulang selama sedimentasi turbidit, serta erosi dan elusi batuan dasar dan batuan samping yang tersusun oleh Formasi Pemali dan Halang
NUMERICAL MODELLING APPLICATIONS ON FRACTURE PREDICTIONS: AN EXAMPLE FROM THE BLUE LIAS FORMATION IN KILVE, UK
Numerical modeling using Comsol Multiphysics, with Finite Element Method, has been carried out to study fracture initiation, linkage, and deflection of the Blue Lias Formation. Data were from outcrop observation where hydrofractures were well observed. Three models were set up to understand how fractures initiated, linked and arrested. The Young’s modulus of shales (Esh) was set with the value of 1 GPa, 5 GPa, and 10 GPa. The fluid excess pressure was applied with the value of 5 MPa, 10 MPa, and 15 MPa. The Young’s modulus of the limestone (Elst) was a constant at 10 GPa. The first model showed how the overburden induces fracture initiation. The results indicated that tensile stress concentrated only within limestone and favour to form fractures. The second model was about linking of fractures. The result explained that shear stress was dominantly concentrated in limestone layers. Previous hydrofractures possibly linked up forming shear fractures and en-echelon fractures. The third model was run to understand fracture propagation and deflection. The result was that tensile stress concentrated at the hydrofracture tips close to the contacts between limestone and shale. Hydrofractures were deflected, and in some places, hydrofractures were likely started to propagate through shale.Permodelan numerik dengan Comsol Multiphysics berdasarkan metode Elemen Terbatas dilakukan untuk mempelajari inisiasi, hubungan, dan defleksi rekahan Formasi Blue Lias. Data berasal dari observasi singkapan dimana hydrofracture teramati. Tiga model dibuat untuk memahami bagaimana rekahan terinisiasi, terhubung, terambatkan dan terhenti. Modulus Young’s batulempung (Esh) diatur dengan nilai 1 GPa, 5GPa, dan 10 GPa. Tekanan kelebihan cairan (fluid excess pressure) yang diterapkan sebesar 5 MPa, 10 MPa, dan 15 MPa. Modulus Young’s batugamping (Elst) konstan sebesar 10 GPa. Model pertama menunjukkan bagaimana pembebanan mempengaruhi inisiasi rekahan. Hasil perhitungan menunjukkan bahwa tekanan tarik terkonsentrasi hanya pada lapisan batugamping dan memungkinkan terbentuknya rekahan. Model kedua mengenai hubungan rekahan. Model menunjukkan bahwa tekanan geser terkonsentrasi pada lapisan batugamping secara dominan. Hydrofracture yang telah ada akan terhubung membentuk rekahan geser and rekahan en-echelon. Model ketiga dihitung untuk memahami perambatan dan defleksi rekahan. Hasilnya menunjukkan bahwa tekanan tarik terkonsentrasi pada ujung hydrofracture dekat kontak lapisan batugamping dan batulempung. Hydrofracture terdefleksi dan pada beberapa titik mulai merambat menembus batulempung
PALEONTOLOGY OF ACROPORA CORALS AND STANDARD FACIES BELT FROM UJUNGGENTENG AREA, WEST JAVA
The detail taxonomy analysis was performed to classify Acropora corals in Ujunggenteng Area. The research area was selected because the continuously exposed Quaternary coralline limestones, indicated the high variation and wide distribution of coral fossils. Moreover, the facies changes and contacts with shoreface sediments were clearly observed in this area. Detail taxonomy based on morphological description can classify Acropora corals in Ujunggenteng area into four species: Acropora cervicornis, Acropora palifera, Acropora gemmifera, and Acropora humilis. The study of coral paleontology and the application of the presence of corals as a standard facies belt were still rarely performed in Indonesia. Previous studies classified the coralline limestone into one standard facies belt, which was the organic build- up standard facies belt. Another approach was required to capture many conditions of coral fossil occurrences; not only in build-up condition but also in transported condition. Therefore, another purpose of this study is to modify the standard facies belt with a different approach using coral taphonomy and sediment association.Analisis taksonomi secara detil dilakukan untuk mengklasifikasikan koral Acropora di daerah Ujunggenteng. Daerah penelitian dipilih karena tersingkapnya batugamping terumbu berumur Kuarter yang menerus, yang menunjukkan tingginya jumlah spesies dan distribusi fosil koral yang luas. Selain itu, perubahan fasies dan kontak dengan batupasir pantai dapat jelas diamati pada daerah ini. Taksonomi detil berdasarkan deskripsi morfologi dapat mengelompokkan koral Acropora di daerah Ujunggenteng menjadi empat spesies: Acropora cervicornis, Acropora palifera, Acropora gemmifera, dan Acropora humilis. Selain itu, studi mengenai paleontologi dan penggunaan kehadiran koral sebagai dasar pembagian sabuk standar fasies batugamping masih jarang dilakukan di Indonesia. Studi sebelumnya mengelompokkan batugamping terumbu menjadi satu sabuk standar fasies, yaitu organic build up. Pendekatan yang lain diperlukan untuk menjelaskan kondisi koral lainnya pada batugamping, tidak hanya dalam kondisi tumbuh, tetapi juga dalam kondisi tertransportasi. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk memodifikasi sabuk standar fasies dengan pendekatan berbeda menggunakan tafonomi koral dan asosiasi sedimen.