Publications of Research Center for Geotechnology, Indonesian Institute of Sciences
Not a member yet
    310 research outputs found

    HIDROGEOLOGI DAN POTENSI CADANGAN AIRTANAH DI DATARAN RENDAH INDRAMAYU

    Get PDF
    Potensi airtanah pada suatu cekungan tidak terlepas dari kondisi hidrogeologi di wilayah itu sendiri. Cekungan airtanah Indramayu, yang berada di pesisir utara Jawa Barat, hingga kini belum diketahui secara pasti potensi cadangannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi cadangan  air tanah berdasarkan rekonstruksi hidrogeologi data bor. Hasil interpretasi hidrogeologi menunjukkan bahwa litologi akuifer didominasi oleh endapan lempung dengan sisipan lanau, sedikit pasir halus di bagian atas, endapan lempung marin dengan sisipan lanau, dan pasir halus di bagian bawah. Hasil perhitungan menunjukkan prediksi cadangan airtanah yang cukup potensial. Nilai rata – rata potensi airtanah bebas adalah 65.213,8 m3/hari atau 0,754 m3/det. Nilai rata – rata potensi airtanah tertekan adalah 79.557,1 m3/hari atau 0,920 m3/det. Tetapi kualitas airtanah di wilayah Losarang – Lobener – Pasekan – Sindang sebagian besar payau dan memiliki nilai DHL yang tinggi, berkisar antara 4710 – 11400 µs/cm.The groundwater potential of a basin depends on the hydrogeology of the area. Indramayu groundwater basin is located at the north coast of Java Island. Its reserves potential was not identified despite its importance. The objective of this research was to understand the potential of groundwater reserves based on hydrogeological reconstruction from drilling data analysis. The results of the hydrogeology interpretation had indicated that the aquifers lithology are dominated by clay deposits with silt layering, slightly fine sand at the top, marine clay deposits with silt inserts, and fine sand at the bottom. The calculation results had indicated a good potential of groundwater reserves. The mean value of the unconfined groundwater is 65,213.8 m3/day or 0.754 m3/sec. The mean value of the confined groundwater is 79,557.1 m3/day or 0.920 m3/sec. However, groundwater supply potential is not supported by the quality. The groundwater in Losarang - Lobener – Pasekan-Sindang area is brackish and has a high DHL value (4710 – 11400 µs/cm)

    SEBARAN ALTERASI BATUAN BERDASARKAN RASIO Th/U DI TAPALANG, MAMUJU, SULAWESI BARAT

    Get PDF
    Kecamatan Tapalang, Mamuju, menjadi tujuan eksplorasi uranium dengan adanya radiasi tinggi terdeteksi pada batuan basaltik Formasi Adang. Diperlukan lokalisasi daerah-daerah dengan tingkat potensi kandungan uranium yang tinggi. Proses alterasi meningkatkan tingkat kelarutan uranium, sehingga kadar uranium berkurang dan terjadi pengkonsentrasian torium serta logam tanah jarang (REE) yang signifikan. Dengan asumsi bahwa alterasi berasosiasi dengan rasio Th/U, maka dilakukan penelitian untuk mengetahui sebaran alterasi batuan berdasarkan korelasinya terhadap rasio Th/U. Penelitian dilakukan dengan pengukuran radioaktivitas dan pengamatan alterasi di lapangan, kemudian dilengkapi  dengan analisis XRF dan analisis mineragrafi untuk mengetahui tingkat alterasi. Rasio Th/U pada batuan lava Tapalang yang masih relatif segar memiliki nilai 3-30, dan batuan yang telah teralterasi memiliki nilai 30 - >3000. Pengembangan eksplorasi torium dapat difokuskan pada daerah dengan alterasi lanjut, sedangkan eksplorasi uranium harus difokuskan pada daerah yang bersifat reduktif, yang memungkinkan terbentuknya cebakan uranium.Tapalang, Mamuju, is a destination for uranium exploration due to the high radiation detected in basaltic rocks of Adang Formation. Uranium potentials localization is required since uranium is not distributed evenly. An alteration process increases the level of uranium solubility, so that the uranium content is depleted and the concentration of thorium and rare earth elements (REE) are significantly high. This study objective was to find the distribution of rock alterations and their correlation to the ratio of Th/U in Tapalang Region. Research methods were combination of radioactivity measurement and alteration observation in the field, completed by XRF and mineragraphy analysis to measure the grade of alteration. The alteration product indicated that this area has been affected by hydrothermal alteration in the potassic zone. Th/U ratio of fresh Tapalang lava rocks has a value of 3-30, and alterated rocks have 30 - 3000 value. These values can be used to delineating alteration areas, which have high Th/U ratio (30 - >3000). The development of thorium exploration can be focused on advanced alteration areas, whereas uranium exploration should focus on reductive areas that allow for uranium deposited.

    Cover Belakang

    No full text

    EKSPLORASI GAYABERAT UNTUK AIRTANAH DAN TOPOGRAFI BATUAN DASAR DI DAERAH SERANG, BANTEN

    Get PDF
    Pemetaan bawah permukaan diperlukan sebagai acuan dasar dalam kajian sumberdaya alam di daerah Serang, yang merupakan salah satu daerah dengan pertumbuhan industri dan populasi yang sangat pesat. Sebagai tahap awal dalam kajian regional, survey gayaberat dilakukan untuk memetakan anomali gayaberat di Kota Serang dan sekitarnya. Gayaberat diukur pada 204 titik pengamatan di Kota dan Kabupaten Serang dengan jarak antara titik kurang lebih sejauh 1 km. Dari hasil pengukuran diperoleh peta anomali gayaberat Bouguer yang menunjukkan setidaknya tiga kelompok anomali. Sisi barat (Kota Serang ke selatan) memiliki anomali gayaberat tinggi, sisi timur (Ciruas) memiliki anomali gayaberat rendah, dan sisi utara (hingga kepantai utara) memiliki anomali gayaberat sedang. Pemodelan bawah permukaan berdasarkan data anomali gayaberat tersebut menunjukkan adanya cekungan pada batuan dasar di sekitar Serang dan Tanara, yang diapit oleh  tinggian batuan dasar di sisi barat dan timurnya. Kondisi batuan dasar demikian akan mempengaruhi keberadaan akuifer dan kemungkinan arah aliran airtanah. Subsurface mapping is required as a basic reference in the study of natural resources in Serang area. The Serang City and County are one of the areas with rapid industrial and population growth. In this preliminary study, a gravity survey was executed to map gravity anomaly of the area. The gravity field was measured at 204 stations in Serang City and County, with approximately 1 km distance between two stations. The result is a Bouguer anomaly gravity map that classified the region into 3 (three) units.  The western part of study area, which includes Serang City to south, has a high gravity anomaly. The eastern part (Ciruas region) has a low gravity anomaly. And the northern part (to the north coast) has a moderate gravity anomaly. Subsurface modeling indicated a presence of shallow basin at the bedrock beneath the east part of Serang, flanked by ridges on the west and the east sides. Such bedrock topography condition would affect the origin of aquifers and possible flow of groundwaters

    INTRUSI AIR LAUT PADA SISTEM AKUIFER TERTEKAN CEKUNGAN AIR TANAH JAKARTA BERDASARKAN ANALISIS HIDROKIMIA DAN HIDROISOTOP

    Get PDF
     The seawater intrusion phenomenon in the Jakarta groundwater basin is still on going debate, in terms of the scale, mechanism, and its existence. This paper elaborates the characteristics of hydrochemistry and hydroisotopes (18O dan 2H) as well as the piezometric hydrograph to identify seawater intrusion in the Jakarta groundwater basin. Analyses show that saline groundwater is originated from upper confined aquifer with distance of less than 3 km from coastline, while the slightly saline groundwater is originated from both upper confined aquifer and middle confined aquifer with distances of less than 9 km from coastline. The indicated groundwater intruded by seawater with TDS > 1000 mg/L, Na/Cl 0,55 is showed by sample from areas of Kapuk, Tongkol, and Sunter for the upper confined aquifer, and areas from Daan Mogot, Cakung, and Tongkol for the middle confined aquifer. Only in Kapuk the seawater intrusión associated with the piezometric drop that continuely occur up to present. Quantitatively, seawater intrusión in this area have reached mixing scales of up to c.a. 11 – 21 %, based on the composition of 18O dan 2H. Abstrak Fenomena intrusi air laut di Cekungan Air Tanah (CAT) Jakarta sampai saat ini masih menjadi perdebatan baik dari segi skala, mekanisme, maupun ada atau tidaknya fenomena tersebut. Tulisan ini mengelaborasi karakter hidrokimia dan hidroisotop (18O dan 2H), serta hidrograf pisometrik untuk mengidentifikasi fenomena intrusi air laut pada CAT Jakarta. Hasil analisis menunjukkan air tanah yang bersifat asin berasal dari sistem akuifer tertekan atas dengan jarak kurang dari 3 km dari pantai, sedangkan air tanah yang bersifat sedikit asin berasal baik dari akuifer tertekan atas maupun akuifer tertekan tengah dengan jarak kurang dari 9 km dari pantai. Air tanah yang terindikasi intrusi air laut dengan TDS > 1000 mg/L, Na/Cl 0,55 ditunjukkan oleh conto dari daerah Kapuk, Tongkol, dan Sunter untuk akuifer tertekan atas, serta daerah Daan Mogot, Cakung, dan Tongkol untuk akuifer tertekan tengah. Hanya di daerah Kapuk proses intrusi air laut tersebut berhubungan dengan penurunan pisometrik yang masih berlangsung hingga saat ini. Secara kuantitatif, intrusi air laut di daerah ini telah mencapai tingkat pencampuran sekitar 11 – 21 % berdasarkan komposisi isotop 18O dan 2H

    KARAKTERISTIK ENDAPAN TSUNAMI KRAKATAU 1883 DI DAERAH TARAHAN, LAMPUNG

    Get PDF
    Our research location is situated at the south of Tarahan city, Lampung. This area has been drowned by tsunami waves that were generated by the eruption of Krakatau Volcano in 1883. This study is to understand the characteristics of the 1883 Krakatau tsunami deposit by observing the stratigraphic profile of 12 outcrops in the river overbanks and trenches, in 3 (three) transects. Laboratory analysis include grain size, microfauna (foraminifera and mollusk), and heavy mineral analysis. The identified tsunami deposit is a sand layer that mixed with shell and coral fragments. This sand layer is associated with pumice and volcanic ash layer, product of the 1883 Krakatau volcano eruption. The benthic foraminifera and mollusk content in the tsunami deposits show that the tsunami waves erode the sea floor sediments up to 30 to 40 meters depth. According to the outcrop observation and grain size analysis, there are four fining upward patterns can be observed in the tsunami deposit layer. This is indicates that at least four tsunami waves inundated the studied area. The vertical variation of heavy mineral shows the similar trend with the grain sizes. AbstrakLokasi penelitian terletak di sebelah selatan Kota Tarahan, Lampung merupakandaerah yang terkena dampak gelombang tsunami letusan Gunung Krakatau 1883. Penelitian inidilakukan untuk mengetahui karakteristik endapan tsunami Krakatau 1883 dengan mengamati profil stratigrafi pada dinding sungai dan parit uji pada 12 lokasi di 3 (tiga) transek. Analisis laboratorium meliputi analisis besar butir, mikrofauna (foraminifera dan moluska) dan mineral berat. Endapan tsunami yang teridentifikasi berupa lapisan pasir dengan pecahan cangkang dan fragmen karang. Lapisan pasir ini berasosiasi dengan lapisan abu vulkanik dan lapisan batuapung yang merupakan material hasil letusan Krakatau 1883. Kandungan foraminifera bentik dan moluska memperlihatkan bahwa gelombang tsunami menggerus dasar laut hingga kedalaman 30 - 40 m. Berdasarkan pengamatan singkapan dan analisis besar butir, terdapat empat pola perulangan struktur penghalusan besar butir ke arah atas dalam satu lapisan endapan tsunami. Hal itu menunjukkan bahwa kemungkinan ada empat gelombang tsunami yang terjadi pada saat itu. Hasil analisis mineral berat cenderung memperlihatkan pola perubahan komposisi ke arah atas mengikutiperubahan besar butir

    DISTRIBUTION OF SULFATE WATER IN GRASBERG BLOCK CAVE (GBC) MINE, PAPUA, INDONESIA

    Get PDF
    Grasberg Block Cave (GBC) underground mine, which is operated by PT Freeport Indonesia, located at High Land of Papua which has intensity of rainfall (average 4000 mm/year) and causing water inflow through the fractured rock, and flowing inside the underground mine. The water occurrence inside the underground mine could be in seepage form and water flow from diamond drilling hole. Water seepage inside underground mine contain many chemical compounds such as sulfate (SO42-). Sulfate has ability to cause acid water and sulfate attack, which can be a problem for ground support existing. Water from seepages of existing drift during development were collected and sent to laboratory to obtain detail chemical information. By correlating with geological data (formation and its content), distribution of water sulfate can be known. In the ore body of GBC, sulfate water content is higher than other lithologies. These data can be used for long term ground support planning in the future.AbstrakTambang bawah tanah Grasberg Block Cave (GBC) yang dioperasikan oleh PT Freeport Indonesia, berlokasi di dataran tinggi Papua mempunyai curah hujan yang tinggi (rata-rata 4000 mm/tahun) dan menyebabkan adanya aliran air melewati rekahan batuan dan mengalir menuju ke dalam tambang bawah tanah. Keberadaan air di dalam tambang bawah tanah dapat berupa rembesan dan aliran air yang mengalir dari dalam lubang pengeboran. Rembesan air di dalam tambang bawah tanah mengandung banyak senyawa kimia seperti senyawa yang memiliki sulfat (SO42-). Sulfat mempunyai kemampuan untuk menyebabkan air asam dan sulfate attack, yang notabene bisa menjadi masalah terhadap ground support yang ada. Air yang terdapat di terowongan tambang bawah tanah, diambil dan dikirim menuju laboratorium untuk mendapatkan informasi kimia secara rinci. Dengan melakukan korelasi terhadap data geologi (formasi dan kandungan mineralnya), distribusi dari air sulfat bisa diketahui. Di dalam tubuh bijih utama GBC, air mengandung sulfat lebih tinggi dibandingkan dengan di area litologi lainnya. Data-data ini bisa digunakan untuk perencanaan pemasangan penyangga batuan di masa yang akan datang

    ANALISIS KESTABILAN LERENG BATU DI JALAN RAYA LHOKNGA KM 17,8 KABUPATEN ACEH BESAR

    Get PDF
    Penelitian kestabilan lereng batuan menggunakan metode analisis kinematik lereng dan klasifikasi massa batuan dilakukan di lereng pinggir jalan Banda Aceh – Calang di Km 17,8 di Kecamatan Lhoknga Kabupaten Aceh Besar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis longsoran yang akan terjadi di masa yang akan datang, menilai kualitas massa batuan pembentuk lereng, dan tingkat kestabilannya berdasarkan klasifikasi SMR. Akuisisi data struktur massa batuan dilakukan di sepanjang lereng menggunakan metode scanline. Data yang diambil berupa arah kemiringan bidang diskontinuitas, arah bidang, dan kondisi bidang diskontinuitas bidang berupa kemenerusan, kekasaran, bukaan, isian, luahan air dan tingkat perlapukan. Analisis kinematik lereng didapatkan berdasarkan hasil proyeksi stereografi dan analisis kualitas serta kestabilan lereng batuan berdasarkan parameter RMR dan SMR. Hasil analisis kinematik lereng menunjukkan jenis longsoran yang akan terjadi di lereng 1 berupa longsoran  baji dan planar. Di lereng 2 dimungkinkan terjadinya longsoran gulingan/toppling karena bidang joint set yang berlawanan dengan arah lereng. Nilai RMR di lereng 1 sebesar 63 dengan kategori batuan Bagus dan RMR lereng 2 sebesar 57 kategori batuan sedang. Nilai SMR terendah di lereng 1 sebesar 29 (kategori Buruk) untuk longsoran planar dan 53 (kategori Sedang) di lereng 2 longsoran gulingan. Lereng 1 memiliki probabilitas kejadian longsor planar sebesar 60%.Rock slope stability was assessed using the slope kinematic analysis method and rock mass classification on the roadside slope of Banda Aceh - Calang at 17.8 Km in Lhoknga Sub-district, Aceh Besar District. This study aims to determine the types of landslides that will occur in the future by determining the Rock Mass Rating (RMR) and analyzing stability based on the Slope Mass Rating (SMR). The data acquisition of rock mass structures performed the scan line method along the slope. The data taken are the dip and the strike of the discontinuity plane, and the conditions of discontinuity in the form of persistence, aperture, roughness, infilling, weathering and Groundwater conditions. Slope kinematic analysis was conducted based on stereographic projection and analyses of both rock slope quality and stability were based on RMR and SMR parameters. The result of the slope kinematic analysis shows that landslides that occur in slope 1 will be in wedge and planar forms. On slope 2, possible failure is in the form of toppling due to the joint set positioned opposite to the slope direction. The RMR value in slope 1 is 63, categorized as Good rock and the RMR in slope 2 is 57, which is in the medium rock category. The lowest SMR value in slope 1 was 29 as a Bad class for planar failure, and 53 as a Normal category in slope 2 is toppling failure. Slope 1 has a 60 % probability of a planar failure event

    CARBONATE BIOFACIES AND PALEOECOLOGY ANALYSIS BASED ON ACROPORA CORAL IN UJUNGGENTENG AREA, WEST JAVA PROVINCE, INDONESIA

    Get PDF
    Biofacies concept was proposed to approach the carbonate facies determination by using coral species description and ecology reconstruction. Ujunggenteng area was selected for this study because it has modern carbonate rocks with continues distribution and contains many well-preserved coral fossils. Ujunggenteng area can be distinguished into three biofacies: Acropora cervicornis – Acropora palifera biofacies, Acropora gemmifera – Acropora humilis biofacies, and Acropora cervicornis – Acropora palmata biofacies. The paleobathymetry analysis had indicated that Acropora cervicornis – Acropora palifera biofacies grew in the deepest environment, between 8 – 13 meters depth. Acropora gemmifera – Acropora humilis biofacies lived in a shallower environment between 3 – 8 meters depth, and Acropora cervicornis – Acropora palmata biofacies was deposited between 0 – 3 meters. The Mg/Ca trend showed a negative correlation with the paleobathymetry result. Decreasing Mg/Ca ratio was related to increasing paleobathymetry. Acropora cervicornis – Acropora palifera biofacies has the smallest Mg/Ca ratio, between 14 – 15 mmol. Acropora gemmifera – Acropora humilis biofacies has Mg/Ca ratio between 17 – 21 mmol.  Acropora cervicornis – Acropora palmata biofacies has the highest Mg/Ca ratio, between 23 – 24 mmol. Mg/Ca ratio value was related to paleotemperature, in which the decreasing of Mg/Ca ratio associated to decreasing paleotemperature.Konsep biofasies dipilih dan diajukan sebagai salah satu pendekatan untuk penentuan fasies karbonat. Daerah Ujunggenteng dipilih untuk studi ini karena daerah ini menunjukkan perkembangan batuan karbonat yang menerus dan fosil koral yang terawetkan dengan baik. Daerah Ujunggenteng dapat dibagi menjadi tiga biofasies, yaitu biofasies Acropora cervicornis – Acropora palifera, biofasies Acropora gemmifera – Acropora humilis biofacies, dan biofasies Acropora cervicornis – Acropora palmata. Analisis paleobatimetri menunjukkan bahwa biofasies Acropora cervicornis – Acropora palifera tumbuh di lingkungan yang paling dalam, yaitu 8 – 13 meter. Biofasies Acropora gemmifera – Acropora humilis hidup di lingkungan yang lebih dangkal, yaitu 3 – 8 meter, dan biofasies Acropora cervicornis – Acropora palmata terendapkan di lingkungan yang lebih dangkal, yaitu 0 – 3 meter. Analisis kadar Mg/Ca menunjukkan nilai yang berlawanan dengan paleobatimetri. Penurunan kadar Mg/Ca memiliki hubungan dengan peningkatan paleobatimetri. Biofasies Acropora cervicornis – Acropora palifera memiliki nilai kadar Mg/Ca paling rendah, yaitu 14 – 15 mmol. Biofasies Acropora gemmifera – Acropora humilis memiliki kadar Mg/Ca yang lebih tinggi dibandingkan dengan biofasies Acropora cervicornis – Acropora palifera, yaitu 17 – 21 mmol. Biofasies Acropora cervicornis – Acropora palmata menunjukkan nilai kadar Mg/Ca yang paling tinggi, yaitu 23 – 24 mmol. Kadar Mg/Ca memiliki hubungan dengan perubahan paleotemperatur. Penurunan kadar Mg/Ca berasosiasi dengan penurunan paleotemperatur

    HIDROGEOKIMIA AIRTANAH TIDAK TERTEKAN DI PESISIR BARAT KABUPATEN SERANG DAN PANDEGLANG, PROVINSI BANTEN

    Get PDF
    Proses hidrogeokimia terjadi karena interaksi antara airtanah dengan air laut. Proses tersebut akan mempengaruhi komposisi kimia di lingkungan pesisir. Untuk mengetahui seberapa jauh interaksi tersebut telah terjadi, dilakukan analisis tipe air berdasarkan jumlah anion dan kation yang paling dominan, dan analisis nisbah ion-ion utama. Pengambilan conto dilakukan di 38 lokasi conto air di pesisir barat Kabupaten Serang dan Pandeglang. Hasil penelitian menunjukkan tipe air didominasi oleh Ca(HCO3)2 55,26%, NaHCO3 39,47%, Ca(SO4)2 2,63% and NaMix 2,63%. Sementara hasil analisis nisbah ion utama Na+/Cl-, Ca2+/Mg2+, dan Ca2+/SO42- mengindikasikan bahwa telah terjadi pencemaran air laut di beberapa dataran alluvial pesisir Pandeglang. Pada sebagian besar pesisir barat Serang dan Pandeglang sedang terjadi proses pencemaran atau intrusi air laut. Occurrence of hydrogeochemical process is due to the interaction between groundwater and sea water. The process will affect the chemical composition in the coastal environment. To find out how far the interaction has taken place, the water type was analysed based on the amount of most dominant anion and cation, and also the major ions ratios. The samplings were conducted in 38 locations on the west coast of Serang and Pandeglang Regencies. Results showed that the water type was dominated by Ca(HCO3)2 55,26%, NaHCO3 39,47%, Ca(SO4)2 2,63% and NaMix 2,63%. While the results of major ion analysis of Na+/Cl-, Ca2+/Mg2+, and Ca2+/SO42- indicated that there has been the sea water pollution in some coastal alluvial plains of Pandeglang. In addition, the process of pollution or sea water intrusion has been occurring on most of the west coast of Serang and Pandeglang

    265

    full texts

    310

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Publications of Research Center for Geotechnology, Indonesian Institute of Sciences
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇