Scripta - Jurnal Ilmiah Mahasiswa
Not a member yet
60 research outputs found
Sort by
AKSEPTABILITAS MASYARAKAT TERHADAP RENCANA PEMBANGUNAN PLTN (STUDI PADA MASYARAKAT DESA SEBAGIN KABUPATEN BANGKA SELATAN DAN DESA AIR PUTIH KABUPATEN BANGKA BARAT)
Masyarakat merupakan elemen yang akan menerima dampak dari perubahan yang akan terjadi di lingkungannya. Akseptabilitas merupakan penerimaan diri masyarakat terhadap suatu perubahan yang akan terjadi. Kepulauan Bangka Belitung pada beberapa tahun terakhir menjadi wilayah yang dipilih sebagai calon tapak pembangunan PLTN khususnya di Pulau Bangka yaitu Desa Sebagin, Bangka Selatan dan Desa Air Putih, Bangka Barat. Adapun tujuan penelitian ini untuk mengetahui akseptabilitas masyarakat terhadap rencana pembangunan PLTN di Desa Sebagin, Bangka Barat dan Desa Air Putih, Bangka Barat. Penelitian ini menggunakan teori yaitu Teori Ko-Orientasi milik McLeod dan Chaffee yang menjelaskan bahwa ada hubungan yang dinamis dan saling mempengaruhi antara kekuatan politik, publik, dan media massa dalam menanggapi suatu peristiwa tertentu. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif. Sumber data primer dari kuesioner dengan jumlah responden sebanyak 79 orang yang terbagi menjadi 40 orang di Desa Sebagin dan 39 orang di Desa Air Putih. Temuan utama pada penelitian ini yaitu menjelaskan mengenai akseptabilitas masyarakat terhadap rencana pembangunan PLTN. Selain itu juga ditemukan peran elit dan media massa dalam akseptabilitas masyarakat terhadap rencana pembangunan PLTN di Desa Sebagin, Bangka Selatan dan Desa Air Putih, Bangka Barat. Kata Kunci: Masyarakat, Akseptabilitas, Rencana Pembangunan PLTNSociety is an element that will receive the impact of changes that will occur in the environment. Acceptability is public acceptance of a change that will occur. In recent years, Bangka Belitung Archipelago has been selected as potential sites for PLTN Development Plan, especially on Bangka Island, namely Sebagin Village, South Bangka and Air Putih Village, West Bangka. The purpose of this study is to determine the community's acceptability of the PLTN development plan in Sebagin Village, West Bangka and Air Putih Village, West Bangka. This study uses theories, namely McLeod and Chaffee's Co-Orientation Theory which explains that there is a dynamic. This research used descriptive quantitative descriptive approaches. The primary data source is from a questionnaire with a total of 79 respondents, divided into 40 people in Sebagin Village and 39 people in Air Putih Village. The main finding in this study is to explain the community's acceptability of the PLTN development plan. In addition, it was also found the role of the elite and the mass media in the community's acceptance of the PLTN development plan in Sebagin Village, South Bangka and Air Putih Village, West Bangka. Keywords: Society, Acceptability, PLTN Development Pla
PERAN OMBUDSMAN DALAM MENINGKATKAN PELAYANAN DIFABEL DI RUMAH SAKIT BAKTI WARA
Kelompok difabel merupakan akses penting dalam pelayanan publik karna masuk ke dalam sektor peningkatan kesejahteraan sosial untuk menghindari pungli terhadap difabel yang kemudian lahirnya birokrat pelayanan publik menjadi khawatiran tumbuhnya sektor pungli: maladministrasi dalam melayani masyaarkat dan terkhusus difabel. Tujuan penelitian ini unuk menggetahui peran ombudsman dalam meningkatkan pelayanan difabel di rumah sakit bakti wara. Pelayanan merupakan bentuk perhatian untuk mendapatkan hak-hak sebagai masyarakat dan publik sebagai pelangan, maka setiap warga Negara dalam suatu komunitas yang ikut berpatisipasi di dalam pemerintahan disebut sebagai penyelenggaraan pelayanan publik. Adapun penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif kualitatif dengan tujuan untuk mengetahui peran ombudsman dalam meningkatkan pelayanan difabel di rumah sakit bakti wara. Adapun hasil penelitian dalam jurnal ini Berdasarkan data ombudsman RI pada tahun 2017-2018 menerima laporan/pengaduan masyarakat serta kelompok difabel atas dugaan maladministrasi rumah sakit dalam pelayanan publik sebanyak 2.130-9.446 laporan.
 
English
Karakter merupakan salah satu elemen penting dalam cerita dan pada setiap karakter memiliki psikologis yang berbeda. Penelitian ini tertarik untuk mengemukakan teori dari Abraham Maslow kepada karakter Will dengan teori psikologi yang dinamakan hierarki kebutuhan manusia dari Abraham Maslow. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hierarki kebutuhan dan karakter manusia yang terdapat pada tokoh utama bernama Will Traynor dalam film Me Before You yang disutradarai oleh Thea Sharrock. Mengenai metodologi, penelitian ini menggunakan deskriptif kualitatif untuk memberikan penjelasan tentang analisis yang dijumpai dalam satu karakter. Penelitian ini menemukan karakter kesebelas, yaitu: berhati dingin, temperamental, sensitif, individual, berpikiran terbuka,sabar, ramah, baik hati, percaya diri, rendah hati, dan keras kepala. Penelitian ini menemukan hierarki yang terdapat pada karakteristik Will hanya memiliki tiga hierarki. Pertama adalah kebutuhan rasa aman, kebutuhan ini muncul karena kondisi keinginan yang cacat, yang membuatnya sangat tidak nyaman dan takut akan gangguan yang akan dihadapinya jika tidak melindungi dirinya dengan baik dan benar. Kebutuhan kedua adalah kebutuhan cinta dan kepemilikan , kebutuhan ini banyak terjadi karena sudah paling dekat dengan Louisa dan juga karena genre yang romantis, oleh karena itu kebutuhan ini muncul sangat banyak. Kebutuhan dominan terakhir adalah harga diri, kebutuhan ini muncul karena kasta atau status yang sangat terlihat dalam film ini dan juga karena peran utamanya.karakter Will sebagai tuan dan Louisa yang hanya seorang pelayan dan tidak memiliki hak atau keunggulan dalam hidupnya untuk Will. Kata Kunci: Will Traynor, Karakter, Hierarki Kebutuhan Manusia, FilmKarakter merupakan satu elemen yang penting yang terdapat didalam suatu cerita dan dialam setiap karakter memiliki psikologi yang berbeda beda, riset ini memiliki keterkaitan untuk mengaitkan antara karakter dari Will dengan teori psikologi yang bernama tingkatan kebutuhan kehidupan manusia dari Abraham Maslow. Studi yang bertujuan untuk menganalisis tingkat kebutuhan hidup manusia dan karakter yang terdapat dalam karakter utama bernama Will Traynor pada film Me Before You yang disutradarai oleh Thea Sharrock. Studi ini memakai kualitatif deskriptif metodologi untuk memberikanpenjelasan analisis yang ditemui didalam satu karakter. Penelitian ini menemukan sebelas karakter, yaitu: cold-hearted, temperamental, sensitive, individual, open-minded, patience, friendly, kindness, confident, humble, and stubborn. Studi ini menemukan tiga tingkatan kebutuhan hidup manusia yang terdapat didalam karakter Will. Pertama adalah safety needs, kebutuhan ini muncul karena kondisi cacat Will, yang membuatnya sangat tidak nyaman dan takut akan gangguan yang akan diahadapi jika dia tidak melindungi dirinya dengan baik dan benar. Kebutuhan kedua adalah love and belongingness needs, kebutuhan ini banyak terjadi karena Will sudah jatuh cinta pada Louisa dan juga karena genre film ini romantis, oleh karena itu kebutuhan ini sangat banyak muncul. Kebutuhan dominan terakhir adalah esteem needs, kebutuhan ini muncul karena kasta atau status yang sangat terlihat dalam film ini dan juga karena karakter utama Will Traynor sebagai majikan dan Louisa yang hanya seorang pembantu dan tidak memiliki hak atau keunggulan dalam dirinya terhadap Will Traynor.Kata Kunci : Will Traynor, Karakter, Hierarchy of Human Needs, Fil
KONSEP POLITIK MELAYU DI PULAU BANGKA (STUDI ANALISIS UNDANG-UNDANG SINDANG MARDIKA)
Penelitian ini bertujuan untuk mengangkat sejarah konsep politik Melayu berdasarkan hukum adat masyarakat etnis Melayu yang ada di Pulau Bangka. Dilihat dari berlakunya hukum adat di Pulau Bangka dipersatukan oleh kesatuan wilayah masyarakat hukum adat terestrial, yaitu hukum adat berdasarkan pertalian tempat tinggal yang kental sekali dengan etnis Melayu dalam kehidupan masyarakatnya. Konsep Politik etnis Melayu dalam bahasan ini akan lebih ditonjolkan mengenai kekuatan reputasi politik dalam mengatur wilayah Bangka serta menjaga kestabilan sosial, ekonomi dan politik pada masa itu. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif dokumentasi historis. Hasil penelitian ini akan dibahas mulai dari masa Kesultanan Palembang sebagai periode lahirnya struktur kekuasaan yang membentuk Undang Undang Sindang Mardika sehingga muncul kebijakan ekonomi politik, ekologi politik, sosial budaya dan politik Islam dalam eksistensinya. Di dalam konsep politik Melayu ini akan melihat perkembangan dari awal abad ke-18, sehingga dapat dibedakan perubahan yang terjadi dari masa pra kolonial hingga masa kini (kemerdekaan). Penelitian ini menggunakan teori rekonstruksi hukum menurut Lawrence M. Friedman berdasarkan pembangunan masyarakat Melayu menuju kedaulatan kearifan lokal, yaitu: substansi hukum, struktur hukum dan budaya hukum. Hal tersebut penting untuk meninjau kembali sebagai literasi dan direalisasikan.Kata kunci: Konsep, Politik Melayu, Rekonstruksi Politik huku
POLEMIK EKSTRAKSI LOGAM TANAH JARANG (STUDI TERHADAP PERENCANAAN POLITIK PEMERINTAH PROVINSI BANGKA BELITUNG)
Pulau Bangka dan Pulau Belitung merupakan penyumbang hasil pertambangan timah terbesar bagi Indonesia. Dalam aktivitas penambangan timah yang dilakukan di Kepulauan Bangka Belitung ternyata timah menghasilkan mineral ikutan atau disebut sebagai produk sampingan timah berupa kandungan mineral seperti zircon, monasit, dan xenotim, yang dinamakan sebagai logam tanah jarang (LTJ). Hasil mineral ikutan tersebut ternyata mempunyai ragam polemik dalam tahap perencanaan serta pengelolaannya yang disebut sebagai “konflik mineral LTJ”. Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk menggambarkan perencanaan pemerintah Provinsi Bangka Belitung dalam pengelolaan logam tanah jarang (LTJ) dan mengidentifikasi tantangan dalam pengelolaan logam tanah jarang (LTJ) di Provinsi Bangka Belitung. Penelitian ini menggunakan teori James E. Anderson tentang proses kebijakan publik. Teori ini menjelaskan ada tiga tahapan dalam perumusan kebijakan yaitu formulasi masalah, formulasi kebijakan, dan penentuan kebijakan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif. Adapun data primernya diperoleh dari hasil wawancara dengan informan yang berjumlah 8 orang yang berasal dari Distamben, BAPPEDA, Dinas Lingkungan Hidup, Wakil Gubernur, WALHI, Dosen, serta pengusaha tambang. Hasil penelitian ini menjelaskan bahwa perencanaan kebijakan terkait pengelolaan LTJ sudah mulai dilakukan, namun akan memerlukan beberapa tahapan lainnya serta kerja sama dari stakeholder yang berkaitan dengan pertambangan. Tantangan dalam pengelolaan LTJ juga menjadi hal yang harus dihadapi seperti dampak lingkungan yang akan ditimbulkan dari zat radioaktif yang terkandung dalam mineral LTJ, keterbatasan sumber daya manusia (SDM) dalam pengelolaan proses pemisahan mineral LTJ, serta keterbatasan teknologi juga menjadi tantangan dalam pengelolaan LTJ di Provinsi Bangka Belitung.Bangka Island and Belitung Island are the biggest tin mining product contributors to Indonesia. In the tin mining activities carried out in the Bangka Belitung Islands, it turns out that tin produces associated minerals or is referred to as a by-product of tin in the form of mineral content such as zircon, monazite, and xenotime, which are known as rare earth elements (REE). The associated mineral products have various polemics in terms of planning and management, which are referred to as “REE mineral conflicts”. The purpose of this study is to describe the planning of the Bangka Belitung Province government in the management of rare earth metals (LTJ) and identify challenges in the management of rare earth metals (LTJ) in Bangka Belitung Province. This study uses James E. Anderson's theory of the public policy process. This theory explains that there are three stages in policy formulation, namely problem formulation, policy formulation, and policy determination. This research uses descriptive qualitative approach. The primary data was obtained from interviews with 8 informants from Distamben, BAPPEDA, the Environmental Services, Deputy Governor, WALHI, lecturers, and mining entrepreneurs. The results of this study explain that policy planning related to the management of LTJ has begun, but it will require several other stages as well as cooperation from stakeholders related to mining. Challenges in managing LTJ are also things that must be faced such as the environmental impacts that will be caused by radioactive substances contained in LTJ minerals, limited human resources (HR) in managing the LTJ mineral separation process, and technological limitations are also challenges in managing LTJ in the Province Bangka Belitun
EKSISTENSI KEARIFAN LOKAL PADA TRADISI PISAU KUAI DAN NGIREC PADEI DI DESA MANCUNG BANGKA BARAT
Kearifan lokal terdiri dari berbagai macam tradisi dan budaya yang ada didalamnya. Lahirnya sebuah tradisi menjadi salah satu ciri khas yang di bentuk oleh masyarakat dalam suatu daerah. Tradisi juga dilahirkan sebagai wujud nilai lokal yang akan di turunkan secara turun temurun kepada generasi selanjutnya. Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi eksistensi tradisi berladang yang berbasis kearifan lokal, terutama pada tradisi pisau kuai dan ngirec padei di Desa Mancung, Bangka Barat. Penelitian ini menggunakan Teori Small is Beautiful milik E.F. Schumacher yang menggagas bahwa masyarakat lokal bisa maju dengan memanfaatkan hal kecil salah satunya nilai lokal yang dimiliki oleh suatu masyarakat. Ada satu konsep besar dalam teori ini yaitu Ekosialisme, dimana dalam ekososialisme terdapat enam komponen diantaranya: ekololasisme/kelestarian, kesederhanaan, keuntungan, kerukunan, kebebasan, dan pertanggungjawaban. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif yang sumber data primernya dari wawancara tidak terstruktur dengan informan. Jumlah infoman dalam penelitian ini adalah 18 orang terdiri dari masyarakat yang masih melaksanakan tradisi pisau kuai dan ngirec padei, tokoh adat, kepala desa, tokoh agama, dan PPL di Kecamatan. Temuan utama penelitian ini yaitu menjelaskan mengenai sejarah munculnya tradisi pisau kuai dan ngirec padei, penggunaan tradisi pisau kuai dan ngirec padei. Selain itu juga ditemukan faktor yang mendorong masih bertahannya tradisi pisau kuai dan ngirec padei yaitu: sebagai motivasi masyarakat dalam menjaga kelestarian lingkungan, masih tingginya kepercayaan masyarakat, pengetahuan masyarakat tentang tradisi, dan sebagai orientasi meningkatnya ekonomi masyarakat
IMPLEMENTASI DAN EVALUASI PROGRAM KEMITRAAN DAN BINA LINGKUNGAN PT TIMAH TBK DI KABUPATEN BANGKA TAHUN 2019
The Partnership and Community Development Program (PKBL) is one of the implications ofpublic policy which aims to realize the three main pillars of development that have been announcedby the government and constitute a political promise to the community to reduce the number ofunemployed (pro-jobs), reduce the number of poor people (pro-poor), and increase economicgrowth (pro-growth) around the area of mining operations. The purpose of this research is todescribe the implementation and identify the results of the evaluation of the implementation of thePartnership and Community Development Program (PKBL) of PT Timah Tbk in Bangka Regencyin 2019. The Theory used in this field is Merilee S. Grindle's Public Policy Implementation Theory,which initiates the implementation of public policies that can be measured from the process ofachieving outcomes, namely whether or not the policy objectives to be achieved. Beside usingGrindle's Theory of Public Policy Implementation, this study also uses William Dunn's Theory ofPublic Policy Evaluation. Dunn illustrates that evaluation is concerned with the production ofinformation about the benefits of the results of wisdom. This research uses a descriptivequalitative approach, whose primary data sources are from unstructured interviews withinformants. The number of informants in this study was 18 people consisting of 10 people asrecipients of partnership program assistance or fostered partners and 6 recipients of communitydevelopment program assistance and 2 members of the unit CSR of the PKBL in PT Timah Tbk.The main findings that of the research are unequal distribution of guidance to fostered partners,the weakness of the monitoring mechanisms and dysfunction of laws and regulation.Program Kemitraan dan Bina Lingkungan (PKBL) merupakan salah satu implikasi kebijakanpublik yang bertujuan untuk mewujudkan tiga pilar utama pembangunan yang telah dicanangkanoleh pemerintah dan merupakan janji politik kepada masyarakat guna mengurangi jumlahpengangguran (pro-job), mengurangi jumlah penduduk miskin (pro-poor) dan meningatkanpertumbuhan ekonomi (pro-growth) di sekitar wilayah kegiatan operasional pertambangan. Adapuntujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan implementasi dan mengidentifikasi hasilevaluasi dari pelaksanaan Program Kemitraan dan Bina Lingkungan (PKBL) PT Timah Tbk diKabupaten Bangka pada tahun 2019. Penelitian ini menggunakan Teori Implementasi KebijakanPublik milik Merilee S. Grindle yang menggagas implementasi kebijakan publik dapat diukur dariproses pencapaian hasil akhir (outcomes) yaitu tercapai atau tidaknya tujuan kebijakan yang ingindiraih. Selain menggunakan Teori Implementasi Kebijakan Publik milik Grindle, penelitian ini jugamenggunakan Teori Evaluasi Kebijakan Publik milik William Dunn. Dunn menggambarkan bahwaevaluasi berkaitan dengan produksi informasi mengenai manfaat hasil kebijaksanaan. Penelitian inimenggunakan pendekatan kualitatif deskriptif yang sumber data primernya berasal dari wawancaratidak terstruktur dengan informan. Jumlah informan dalam penelitian ini adalah 18 orang terdiridari 10 orang sebagai penerima bantuan program kemitraan atau mitra binaan dan 6 orangpenerima bantuan program bina lingkungan serta 2 anggota pada unit kerja Divisi CSR SatuanKerja PKBL PT Timah Tbk. Temuan penting dalam penelitian ini antara lain distribusi pembinaanyang tidak merata terhadap mitra binaan, lemahnya mekanisme monitoring serta disfungsiperaturan perundang-undangan yang berlaku
BANGKA BARAT DAN
Political identity refers to a group or individual whose existence is seen through the symbols that indicate the existence of a particular group or individual. These symbols are in the forms of ethnic group, ethnicity, religion, language, culture, custom, habit, and party color. Political identity is a construction that determines the position of the subject's interest within the ties of the political community. This study aims to describe the characteristics and to find out the attempts conducted by Jerieng Malay ethnic group in order to strengthen their existence as a political identity unit. This study applied the theory of political identity proposed by T. K. Oommen who uses the term ethnification in the study of ethnic group and its dynamics. According to him, ethnification is a process that attempts to connect territory and culture. The method used in this study wasdescriptive qualitative. Further, the result of this study shows that in the process of characteristic development and the strengthening attempt conducted by Jerieng Malay ethnic group, there has been a re-ethnification in which the ethnification is not fully developed. Ethnification within the Jerieng Malay ethnic group is still fragmented in which a particular group has attempted to re-ethnize the local identity. However, this generates a fragmentation in society as the consequence of the deprivation of the historical division of local identity.Identitas politik dimaknai sebagai sebuah kelompok atau individu yang eksistensinya terlihat melalui simbol-simbol yang menandakan keberadaan kelompok maupun individu tertentu. Simbol-simbol tersebut berupa etnis, etnisitas, agama, bahasa, budaya, adat-istiadat, kebiasaan dan warna partai. Identitas politik merupakan sebuah konstuksi yang menentukan posisi kepentingan subyek di dalam ikatan komunitas politik. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan karakteristik dan mengetahui upaya yang dilakukan Etnis Melayu Jerieng dalam menguatkan eksistensinya sebagai kesatuan identitas politik. Penelitian ini menggunakan teori identitas politik milik T.K. Oommen yang menggunakan istilah etnifikansi dalam pembahasan mengenai etnis dan dinamikanya menurutnya, etnifikansi adalah sebuah proses yang berusaha untuk menghubungkan antara teritori dan budaya. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam proses pembentukan karakteristik dan upaya penguatan yang dilakukan oleh Etnis Melayu Jerieng telah terjadi re-etnifikansi dimana etnifikansi belum seutuhnya. Etnifikansi ditengah Etnis Melayu Jerieng masih terfragmentasi dimana kelompok tertentu telah mencoba mengetnikkan kembali identitas lokal tetapi menimbulkan fragmentasi di masyarakat akibat perebutan terhadap pembagian sejarah identitas lokal
PEMBERDAYAAN PEREMPUAN PADA KELOMPOK WANITA TANI (KWT) NURJANAH DI DESA KIMAK KECAMATAN MERAWANG KABUPATEN BANGKA
Women’s empowerment is an effort to increase family income so that there is an increase in the quality of life and independence for women.one of the empowerment carried out o women is though agriculture such as the women farmer group Nurjanah Kimak village Merawang district Bangka regency. The purpose of this study was to analyze the empowerment model and identify empowerment strategies for women by the women farmers group Nurjanah Kimak village Merawang district Bangka regency. This study was analyzed using the Jim Ife empowerment strategy. The method used in this research is descriptive qualitative method. The results of this study found that the group of women farmers Nurjanah in carrying out their activities using the button-up empowerment model, from the community by the community and back to the community. As for the strategy used in the group of women farmers Nurjanah is (1) planning and policies carried out through socialization. (2)social action carried out through various activities of the women farmer group Nurjanah, and (3) raising awarenessand education through training or teaching
ANALISIS YURIDIS TERHADAP TINDAK PIDANA PENCABULAN YANG DILAKUKAN AYAH TIRI KEPADA ANAK TIRI
Kejahatan pencabulan terhadap anak merupakan bagian dari kejahatan terhadap kesusilaan bagi seorang anak. Dimana perbuatan cabul tersebut tidak saja terjadi pada orang dewasa tetapi juga terjadi pada anak dibawah umur. Baik secara langsung maupun tidak langsung anak-anak yang menjadi korban kejahatan pencabulan mengalami berbagai gangguan terhadap dirinya baik itu fisik maupun non-fisik yang ditimbulkan dari peristiwa tersebut. Dalam penulisan skripsi ini (penulis membahas permasalahan tentang perlindungan hukum terhadap korban tindak pidana pencabulan yang dilakukan ayah tiri kepada anak tiri. Pelaku kejahatan pencabulan terhadap anak dibawah umur dalam melakukan suatu kejahatannya dilakukan dengan berbagai macam cara untuk pemenuhan atau pencapaian hasrat seksualnya, tidak hanya anak-anak yang menjadi korban akan tetapi anak terkadang dapat menjadi seorang pelaku pencabulan