UIN (Universitas Islam Negeri) Sunan Kalijaga, Yogyakarta: E-Journal Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam

UIN (Universitas Islam Negeri) Sunan Kalijaga, Yogyakarta: E-Journal Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam
Not a member yet
    1356 research outputs found

    BANI ISRAIL SEBAGAI KUNCI UNTUK MEMAHAMI ERA POST-MODERN

    No full text
    Artikel ini mengusulkan penyelidikan tentang sifat Bani Israil sebagai cara memahami perilaku orang modern di era Paska Kebenaran. Meskipun sejarawan memiliki banyak keraguan mengenai siapa sebenarnya Bani Israil yang berulang kali disebutkan dalam Al-Qur’an karena kurangnya bukti sejarah komunitas Yahudi pada masa-masa awal tudung Nabi Muhammad, nama Bani Isilil cukup banyak berwarna. kisah-kisah dalam Alquran, terutama kisah dialog mereka dengan para nabi yang menyampaikan kebenaran. Artikel ini akan menyelidiki Bani Israil sebagai sebuah komunitas dari sudut pandang psikologis: bagaimana mereka berperilaku dalam menanggapi kebenaran yang dibawa oleh para nabi dan mengeksplorasi faktor-faktor yang mendorong pembentukan perilaku seperti itu sesuai dengan Alquran. Penyelidikan dilakukan dengan mencari kata kunci Bani Israil dalam ayat-ayat Alquran bersama dengan kata kunci terkait lainnya. Data awal dari Al-Qur’an akan dianalisis dalam tabel motif tindakan. Dengan demikian investigasi Bani Israil diharapkan untuk berkontribusi dalam upaya untuk memahami perilaku orang-orang modern di era Paska Kebenaran ketika prasangka memainkan peran yang lebih penting daripada fakta.Kata kunci: bani Israil, psikologi, perilaku, era pasca-kebenaranThis article proposes an investigation of the nature of Bani Israil as a way of understanding the behavior of modern people in the Post-Truth era. Although historians have many doubts as to who exactly is the Bani Israil who are repeatedly mentioned in the Qur’an because of the lack of historical evidence of Jewish community in the early days of Prophet Muhammad’s prophet hood, the name of BaniIsrail colored quite a number of stories in the Qur’an, especially the story of their dialogue with the prophets who convey the truth. This article will investigate Bani Israil as a community from a psychological point of view: how they behave in responding to the truth brought by the Prophets and exploring the factors that encourage the formation of such behavior according to the Qur’an. The investigation is done by searching the keywords of Bani Israil in the verses of the Qur’an along with other related keywords. Preliminary data from the Qur’an will be analyzed in the motive-state of action table. Thus the investigation of Bani Israil is expected to contribute in an attempt to understand the behavior of modern people in the Post-Truth era when prejudice plays a more important role than fact.Keywords : bani Israil, psychology, behavior, post-truth er

    RESEPSI ESTETIS QUR’ANI DALAM MUSIK ROCK SHOLAWAT ROFA BAND DI BANTUL YOGYAKARTA

    Get PDF
    A Muslim’s interaction with the Quran directly both verbally, in writing, and with the form of practice results in different experiences arising in each individual. The process which then gave birth to traditions and various kinds of receptions on understanding the meaning of the verses of the Quran. From this phenomenon the author tries to examine the aesthetic reception of a Kyai in Islamic boarding school Rouḍotul Fatiḥâh on the art of music in a music community called the Rofa Band. To find out the background of the creation of the Rofa Band and the meaning of the songs delivered. Also tried to reveal from the aspect of how scientific transmission and transformation carried out by KH. Fuad Riyadi related it to the reception of the Quran verses in the practice of Rofa Band. As a theoretical basis, researchers use a theory conceived by Peter L. Berger and Thomas Luckmann which states that social construction is inseparable from the historical process that connects traditional spaces. The results of the research by the author show that the reason for the formation of Rofa Band by Gus Fuad was motivated by Gus Fuad’s anxiety about the rise of the influence of Western music for the community, secondly, encouragement from one of his teachers, and third, Gus Fuad’s desire to convey the message of the Prophet’s love through the art of music. The meaning of the Rofa Band songs that Gus Fuad wants to convey the magnitude of the love and love of the Apostle to his people. Keyword: Reception, Tradition, Living Quran, Transmission, Transformatio

    POLIGAMI DALAM PERSPEKTIF FAKHR AL-DÎN AL-RÂZÎ DAN FAQIHUDDIN ABDUL KODIR

    Get PDF
    One of the religious and social issues that is intriguing and interesting to discuss is polygamy with various differences of opinion in it. This article will compare polygamy in the view of two classical and contemporary scholars, Fakhrudin Ar-Rozi and Faqihuddin Abdul Kodir. The background to the selection of these two figures is due to their opinions in the interpretation of the polygamy verse which is different from most commentators. In this verse we will discuss classical polygamy verse interpretation, verse background, and contemporary polygamy interpretation and then examine the contextualisation in this modern era and can see a more moderate interpretation by comparing them. This study concludes that the problem of polygamy is no longer focused on the underlying motives, but rather on the impact experienced by his wife and children. The interpretation of al-Râzî and Faqihuddin Abdul Kodir has been able to represent the voicing of women\u27s rights in polygamy. This does not get the agreement of all parties, in the sense that there will still be parties that allow it for different reasons. However, the existence of this analysis can help each party to be more sensitive to the reality experienced by women. al-Râzî and Abdul Kodir are on a linear line that has severe conditions for permitting polygamy and encouraging other worship. Although both of them use different approaches and perspectives, they produce thoughts which in the author’s view are almost the same. Keyword: Polygamy; Contextualization; Moderatio

    The Study of Living Hadith of the Ancak Tradition in Wedoroklurak Village, Candi, Sidoarjo

    Get PDF
    This article is a study of the Ancak tradition in the Wedoroklurak village community of Candi District in Sidoarjo. The study conducted with the theory of Living Hadith. The results of the study concluded that the Ancak Tradition is an activity that arises out of gratitude to God for agricultural products harvested by the community. The thanks were then expressed in the form of alms-giving and sending prayers to the village’s founding figures. The activity was carried out at the grave of Mbah Nursinah Kik Graji Kendil Wesi as the leader of the six figures who opened the village at that time. The series of events began with Khatmil Qur’an, followed by spiritual sparks, prayers, and shared meals. Seeing from the perspective of the Hadith, motivational aspects supported by the Hadith associated with alms from the results of efforts, as narrated by al-Darimi, al- Nasa’i, Muslims, al-Tirmidhi, Ibn Majah and al-Bukhari. From the form of its activities, the Ancak tradition can return to the general nature of the propositions relating to the virtue of reading the Qur’an, graves pilgrimage, praying for ancestors, and blessings to eat together. Judging from the series of traditional activities, it seems that nothing violates religious law, so the claims of local people who call Ancak as a religious tradition can be accepted. Its sustainability needs to be maintained and preserved as local wisdom that can foster harmony and the spirit of cooperation, also to instill the value of religiosity that is rooted in society, especially the value of gratitude and alms-giving.[Artikel ini adalah studi tentang tradisi Ancak di komunitas desa Wedoroklurak, Kabupaten Candi, Sidoarjo. Penelitian dilakukan melalui perspektif Living Hadith. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa Tradisi Ancak adalah kegiatan yang muncul sebagai rasa terima kasih kepada Tuhan untuk produk pertanian yang dipanen oleh masyarakat. Rasa terima kasih kemudian diungkapkan dalam bentuk pemberian sedekah dan mengirimkan doa kepada para tokoh pendiri desa. Kegiatan tersebut dilakukan di makam Mbah Nursinah Kik Graji Kendil Wesi sebagai pemimpin dari enam tokoh yang membuka desa pada saat itu. Rangkaian acara dimulai dengan Khatmil Qur\u27an, diikuti oleh siraman rohani, doa, dan makan bersama. Dilihat dari perspektif Hadis, aspek motivasi didukung oleh Hadis terkait dengan sedekah dari hasil usaha, seperti yang diriwayatkan oleh al-Darimi, al- Nasa\u27i, Muslim, al-Tirmidzi, Ibn Majah dan al-Bukhari. Dari bentuk kegiatannya, tradisi Ancak dapat dikembalikan kepada karakteristik umum yang berkaitan dengan keutamaan membaca Al-Qur\u27an, ziarah kuburan, berdoa untuk leluhur, dan berkah untuk makan bersama. Menilik dari rangkaian kegiatan  tradisionalnya,  tampaknya  tidak  ada  yang  sesuatu  yang  terlihat  melanggar  hukum agama, sehingga klaim masyarakat setempat yang menyebut Ancak sebagai tradisi agama dapat diterima. Keberlanjutannya perlu dipertahankan dan dilestarikan sebagai kearifan lokal yang dapat menumbuhkan kerukunan dan semangat kerja sama, juga menanamkan nilai relijius yang mengakar dalam masyarakat, terutama nilai syukur dan pemberian sedekah.

    مكانة المرأة في الديانة الهندوسية والإسلام

    No full text
    Wanita merupakan sebuah pembahasan yang tidak pernah jauh dari perdebatan ketika masalah ini diangkat kepada sebuah  pembahasan. Hampir setiap agama memiliki pemandangan yang berbeda pada pendapatnya tentang wanita baik itu agama sama>wiy ataupu wadh’iy, masing-masing memiliki penilaian yang berbeda akan kedudukan wanita. Untuk itu, dalam makalah yang sederhana ini akan dipaparkan pandangan beberapa agama tentang kedudukan wanita khususnya agama Hindu. Dari kajiannya tentang kedudukan wanita dalam agama Hindu, penulis menemukan adanya kesenjangan dari apa yang diterangkan oleh agama dengan kenyataannya di lingkungan. Dalam agama Hindu, wanita mendapatkan kedudukan yang mulia, karena diawal kejadiannya wanita tercipta dari sakti Brahma dan juga mereka lah ibu yang telah melahirkan anak-anak, mengasuhnya serta mereka lah kunci dari kehidupan di masa mendatang. Akan tetapi untuk segi sosial, kedudukan mereka tetap didominasi oleh pria karena mereka meyakini bahwasanya pria lah pewaris ajaran-ajaran agama, dan kemulian yang dimiliki wanita hanya berupa kemampuan mereka yang dapat melahirkan anak laki-laki. Adapun bagi mereka yang tidak bisa melahirkan anak laki-laki, maka tidak ada kemulian yang diberikan kepada mereka. Mereka hanyalah sebagai makhluk yang tak bernilai. Pandangan ini sangat berbeda jauh dengan kenyataannya yang terdapat pada agama Islam setelah Islam datang maka wanita mendapatkan haknya. Tidak ada siapa yang lebih tinggi dan siapa yang lebih rendah mereka semua sama hanya ketakwaan yang membedakan mereka

    Takhrij dan Fahm al Hads "Khuffat al Jannah bi al Makaarih” dalam Kitab Adab al-\u27Aalim wa al Muta\u27allim

    No full text
    ABSTRACTThis paper aims to discuss one of the Hadith in the book "Adab al-‘Aalim wa al-Muta’allim" by KH. Hasyim As\u27ariy, i.e. "Khuffat al-Jannah bi al-Makaarih". The approach used is the takhrij hadith bi al-lafdzi, which is to use few words and first words in the hadith. This paper is a study of literature based on relevant literature sources and seeks to answer the question of the status of authenticity of the hadith and how to understand the hadith. The quality of the hadith is worth Saheeh as a logical consequence of the connection of the Sanad and its famous tsiqah narrators, besides the matn hadith, it also does not conflict with such hadith as narrated by other narrators who are more religious. Therefore, the hadith can be used as a shara’ proposition, where in this case KH. Hasyim As\u27ariy explained that among the obligations of a teacher is always to encourage himself to; 1) always increase knowledge and do good deeds in sincerity of power and effort, 2) continuous worship, 3) read, 4) study, 5) discuss, 6) make notes, 7) memorize, 8) do not waste time and his age on something that is not related to science and good deeds, except when it is primary, including; eat-drink, rest-sleep, fulfill the rights of his wife or guest, make a living according to the level of need, illness, and so on. ABSTRAKTulisan ini bertujuan untuk membahas salah satu hadis yang yang tertera di dalam kitab “Adab al-‘Aalim wa al-Muta’allim” karya  KH. Hasyim As’ariy, yakni “Khuffat al-Jannah bi al-Makaarih”. Pendekatan yang digunakan adalah takhrij hadis bi al-lafdzi, yakni menggunakan sebagaian kata dan kata pertama dalam matan hadis. Tulisan ini merupakan kajian kepustakaan berdasarkan sumber-sumber literatur yang relevan dan berusaha menjawab persoalan mengenai status keotentikan hadis dan bagaimana pemahaman hadis tersebut. Kualitas hadits tersebut adalah bernilai shahih sebagai konsekuensi logis dari adanya persambungan sanad dan para perawinya terkenal tsiqah, disamping matan haditsnya juga tidak bertentangan dengan hadits semisal yang diriwayatkan oleh perawi lainnya yang lebih tsiqah. Oleh sebab itu, hadis tersebut dapat digunakan sebagai dalil syara’, dimana dalam hal ini KH. Hasyim As’ariy menjelaskan bahwa diantara kewajiban seorang guru adalah senantiasa mendorong dirinya sendiri untuk; 1) selalu menambah pengetahuan dan beramal saleh dalam kesungguhan daya dan upaya, 2) kontinyu dalam beribadah, 3) membaca, 4) belajar, 5) berdiskusi, 6) membuat catatan-catatan, 7) mengahafal, 8) tidak menyia-nyiakan waktu dan umurnya pada sesuatu yang tidak berkaitan dengan keilmuan dan amal saleh, kecuali bila hal itu bersifat primer, diantaranya; makan-minum, istirahat-tidur, memenuhi hak istri atau tamunya, mencari nafkah sesuai kadar kebutuhan, sakit, dan sebagainya

    TOLERANSI SEBAGAI IDIOLOGI BERAGAMA (KAJIAN FUNGSIONAL ATAS KERAGAMAN AGAMA)

    No full text
    Realitas yang plural mengantarkan masyarakat pada perbedaan yang seringkali menimbulkan konflik, ketidak siapan masyarakat atas perbedaan agama, idiologi, keyakinan dan ritual pada lingkungan sosial menjadikan agama keluar dari fungsinya sebagai penuntun pada perdamaian. Agama merupakan sistem yaitu sebagai kontrol sosial yang pada dasarnya mengontrol manusia agar manusia dapat senantiasa menjadi insan yang ihsan. Melihat realitas idiologi dan keyakinan yang berbeda menjdikan fungsional bagi sebagian segmen dan menjadi tidak fungsional bagi sebagian segmen yang lain, dalam hal tersebut perlu kiranya memunculkan kembali sub sistem yang memang pada dasarnya merupakan bagian dari  sistem agama yaitu toleransi, toleransi dibutuhkan sebagai upaya menjembatani perbedaan tersebut dengan menekan rasa egoisitas dan kepentingan untuk kemaslahatan bersama dalam hidup berdampingan

    PERAN KOMISI HUBUNGAN ANTAR UMAT BERAGAMA GEREJA KATOLIK DALAM MEMBANGUN DIALOG

    Get PDF
    Dialog merupakan suatu tindakan yang mendasar dalam sebuah interaksi yaitu dengan cara berkomunikasi antara yang satu dengan yang lain bertemu dengan sesama. Dialog juga inti dasar dalam keutuhan NKRI, dasar dari keimanan, dari cerita ke cerita bahkan dapat terbentuk dalam kitab suci. Dalam hubungan antaragama tidak lepas dari dialog, karena sangatlah penting agar kita bisa saling membuka diri bahkan dialog adalah hal yang sangat wajib, sebab tanpa dialog kita tidak akan menemukan jalan keluar. Menurut orang katolik dialog ada dua inter religion yaitu non doktrin dan kebudayaan supaya dapat mengerti inti dari budaya. Perjumpaan dialog juga adanya hambatan hambatan yang terjadi, masih adanya pemikiran yang sangat sempit dan susah untuk terbuka dan solusi menghadapi hambatan-hambatan tersebut menggunakan hati. Tulisan memrupakan hasil riset lapangan atau riset kualitatif dengan menggunakan metode wawancara sebagai cara untuk memperoleh data di lapangan, focus objek kajian adalah komisi hubungan antar agama gereja Katolik. Dalam dialog adanya tiga tipe dalam beragam ekskulisf, inklusif, dan pluralis. Adapun dalam bentuk dalam membangun hubungan dialog antaragama terbentuklah sebuah komisi dalam gereja yang terdapat dalam dokumen konsili vatikan II sebagai landasan atau dasar dalam suatu komisi dan dipimpin oleh paus yang sebagai orang paling tinggi diturunkan kepada keuskupan. Keuskupan sendiri terbagi menjadi dua uskup lokal dan uskup metropolitan. Adapun beberapa kegiatan dalam komisi antara lain hubungan antar keagamaan, kerasulan awam, dan sosial.Kata Kunci: Komisi Hubungan Antar Umat Beragama, Dialo

    KHABARUL WAHID DALAM PANDANGAN ASY-SYAFI\u27I DALAM KITAB AR-RISALAH

    Get PDF
    Pada akhir abad kedua hijriah, ketika dunia Islam diramaikan dengan golongan yang menolak sunnah, baik keseluruhan ataupun yang wahid saja, Imam Syafi’i tampil sebagai seorang yang membela dan mempertahankan khabar al-wahid. Adapun yang dimaksud dengan khabar al-wahid dalam kitab al-Risalah adalah khabar yang berasal dari seseorang kepada seseorang yang lain hingga berakhir kepada Nabi saw atau berakhir kepada selain Nabi saw. Meski memiliki istilah yang hampir sama, khabar al-wahid memiliki titik perbedaan dengan khabar al- ahad atau dalam kajian `ulumul hadis lebih dikenal dengan istilah hadis ahad. Titik perbedaan tersebut terletak pada jumlah periwayat yang dimaksud pada masing-masing istilah. Ahad diartikan dengan jumlah yang lebih dari tiga tetapi tidak sampai derajat mutawattir, sementara Imam Syafi`i mengartikan wahid hanya diriwayatkan oleh satu orang perawi. Walaupun demikian, keduanya mempunyai kesamaan bahwasanya khabarul wahid dan khabarul ahad tidaklah mencapai derajat mutawatir. Dalam kaitannya dengan penetapan khabar al-wahid sebagai hujjah, kriteria kehujjahan yang ditetapkan al-Syafi’ merupakan kriteria yang cukup ketat dan lengkap. Para ulama fikih dan hadis sebelumnya, hanya mensyaratkan perawi yang tsiqah dalam penerimaan khabar al-wahid tanpa ada syarat yang lain, sementara syarat yang ditetapkan oleh sl-Syafi’i ini tampaknya merupakan syarat digunakan oleh para ahli hadis dewasa ini dengan berbagai pengembangan

    Dialog Lintas Agama dalam Perspektif Hans Kung

    Get PDF
    This article discusses religious imperative in contributing to humanitarian problems, and is responsible for bringing about world peace. To make religion a source or principle to bring about peace, then it takes efort to dialog a religion with reality. In the case it will be discussed with a interreligious dialogue in the perspective of Hans Kung. According to Hans Kung, there is no world peace without the peace of religions. No peace of religions without a interreligious dialogue, and no interreligious dialogue without dives for the foundation of religions. The purpose of the interreligious dialogue according to Hans Kung is to reinvent religious souls so that it can be donated to various humanitarian problems. Hans Kung offered a constructive dialogue to built a consensus together with the purpose to create world peace. In the transition from the modern era to the postmodern era, Kung suggested a modern theological model called a critical ecumenical theology. Hans Kung also offers the importance of seeking a global ethic. Kung effort to set up a global ethic has a dual purpose, that is, to promote peace between religions and to “cure” the world that have a crisis of meaning, value, and norm. In addition, Kung also invited the religious people to make changes in the culture of the ko-existence to pro-existence. Kung also seeks to build a culture without violence. According to Hans Kung, the true religion is not only that does not conflict with humanity but also perfect humanity

    1,021

    full texts

    1,356

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    UIN (Universitas Islam Negeri) Sunan Kalijaga, Yogyakarta: E-Journal Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam is based in Indonesia
    Access Repository Dashboard
    Do you manage UIN (Universitas Islam Negeri) Sunan Kalijaga, Yogyakarta: E-Journal Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam? Access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard!