UIN (Universitas Islam Negeri) Sunan Kalijaga, Yogyakarta: E-Journal Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam
UIN (Universitas Islam Negeri) Sunan Kalijaga, Yogyakarta: E-Journal Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran IslamNot a member yet
1356 research outputs found
Sort by
THE AMBIGUITY OF PEACE NARRATIVES IN RELIGIOUS COMMUNITIES OF WEST KALIMANTAN
Abstract
A lot of conflicts have occurred in West Kalimantan, and the latest was the anarchic treatment of the Ahmadiyya and the Gafatar. This study seeks to explain the ambiguity of peace narratives in a plural society in West Kalimantan, and to find out the community\u27s response to such conflicts. This study is qualitative-descriptive research which was conducted through collecting observational data, making documentation, and doing literature studies, analyzing data using data display, reducing data and drawing conclusions. The results of this study showed that West Kalimantan is known for its plural society and for voicing for peace, but there are still various conflicts in the form of anarchy in religious communities. This study concluded that the response of the people of West Kalimantan is relatively different; some see conflict positively especially those who have interests in it, and negatively especially those who feel disadvantaged. The ambiguity of peace narratives can be seen when individual or group interests are the main consideration in peace-building. The advocated peace is merely an empty discourse in a plural society that is unable to manage conflict. The ambiguity of peace narratives, which is still rife with conflicts from religious anarchy, is caused by the religious leaders, the government and the religious communities not working together to build peace.
Keywords: Ambiguity, Peace, Religion.
Abstrak
Berbagai konflik yang terjadi di Kalimantan Barat yang terakhir bentuk perlakukan yang anarkis terhadap kelompok Ahmadiyah dan Gafatar. Penelitian ini menjelaskan tentang keambiguan narasi perdamaian di tengah masyarakat majemuk di Kalimantan Barat. Serta melihat respon masyarakat terhadap konflik-konflik yang terjadi pada masyarakat majemuk di Kalimantan Barat. Penelitian ini termasuk ke dalam klister kualitatif-diskriptif dengan cara pengumpulan data observasi, dokumentasi, serta kajian-kajian pustaka, analisis data menggunakan display data, reduksi data dan menarik kesimpulan. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa Kalimantan Barat terkenal dengan mayarakat yang majemuk dan mensuarakan perdamaian akan tetapi masih ada berbagai konflik yang berbentuk keanarkisan masyarakat beragama. Kesimpulan penelitian ini bahwa respon masyarakat Kalimantan Barat sangat relatif, ada yang melihat konflik secara positif bagi yang mempunyai kepentingan dan berbentuk negatif bagi yang merasa dirugikan. Keambiguan narasi perdamaian nampak ketika kepentingan individu atau kelompok menjadi pertimbangan utama dalam merajut perdamaian. Perdamaian yang dijunjung tinggi hanya isu belaka dalam masyarakat majemuk yang tidak mampu mengelola konflik. Kembiguan narasi perdamain yang masih maraknya terjadi konflik dari keanarkisan umat beragama, hal ini disebabkan oleh para tokoh agama, pemerintah dan umat beragama tidak bergandengan untuk merajut perdamaian.
Kata Kunci: Ambiguitas, Perdamaian, Agama
QUALITY OF YOGYAKARTA CITY RELIGIOUS MODERATION INDEX IN 2022: Study of Community Understanding After the Covid-19 Pandemic
The covid-19 pandemic has changed many of the fabric of people\u27s lives in terms of carrying out worship and also traditions that are usually routinely carried out by the people of Yogyakarta. This impacts the lack of enthusiasm for one\u27s participation in worship according to the beliefs of each religious follower. The pandemic changed a person\u27s religious attitude as evidenced by people who were initially diligent in praying in mosques or Sunday worship becoming unable to anymore due to limitations by government regulations to prevent the transmission of covid-19. As an area that has various religious characteristics due to a large number of immigrants from outside Java, the city of Yogyakarta amateurs will be in a prolonged conflict that can cause division. Therefore, it is essential to understand religious moderation and mutual respect. This study uses a field survey method (field research) with a combination approach between quantitative and qualitative methods (Mixed method Research) in 8 districts in the city of Yogyakarta. This study aims to investigate how far the understanding and awareness of the community in moderating and tolerating religious diversity in the social environment affects the quality of community piety after covid-19. The results showed differences in the National moderation index in Indonesia with the moderation index in the city of Yogyakarta. Four indices are used as a measure in viewing Religious Harmony (KUB) in Yogyakarta showing the principle of diversity is quite high in the local community.
Keywords: religious moderation, post covid-19, religious moderation inde
Taubat sebagai Sarana untuk Mewujudkan Manusia Humanis, Liberasi, dan Transendensi Perspektif Islam-Kristen
Artikel ini memaparkan terkait konsep taubat sebagai media pengampunan dosa yang dapat memberikan nilai-nilai kemanusiaan, kebebasan, dan spiritualitas. Manusia dengan segala bentuk perbuatan yang dinilai telah melanggar aturan agama ditetapkan sebagai dosa yang akan dihisab dan dipertanggungjawabkan di hadapan Tuhan pada hari akhir. Dalam perspektif Islam, Allah telah memberikan petunjuk ajaran bagi hamba-Nya yang ingin bertaubat sebagai bentuk penembusan atas segala perbuatan dan perilakunya yang telah menyimpang dari ketetapan agama. Tidak hanya dalam teologi Islam, pada agama Kristen juga dikenal konsep penembusan dosa yang dilakukan oleh Tuhan Bapa dengan mengorbankan putra tunggalnya yaitu Yesus Kristus dengan cara disalib. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis-deskriptif dengan menerapkan pendekatan kepustakaan (library research). Secara khusus, penelitian ini beranjak dari dua model data yakni data primer dan data sekunder. Beranjak dari permasalahan tersebut, pertama, bagaimana konsep dosa dalam kacamata agama, kedua, pengampunan dosa yang dilakukan oleh pemeluk agama Islam dan Kristen kepada Tuhannya, ketiga, seperti apa sistem untuk meneguhkan nilai-nilai taubat agar dapat mewujudkan sikap humanisasi, liberasi, dan transendensi. Penerapan konsep taubat yang dilakukan dengan sempurna pada setiap manusia yang beragama, tidak hanya memberikan dampak bagi diri pribadi. Namun, hal ini juga mencakup hubungan manusia dengan Tuhannya dan hubungan manusia dengan manusia lainnya. Kesempurnaan taubat yang diterapkan pada manusia untuk kembali ke jalan yang diridhoi Tuhan, melahirkan nilai-nilai humanisasi, liberasi, dan transendensi yang mampu menyongsong kembali harkat martabat manusia. Dengan demikian, manusia yang berdosa dapat kembali suci seperti awal mula dilahirkan di muka bumi
Konsep Monoteisme Agama: Personifikasi dan Simbolisasi Tuhan dalam Kitab Suci Agama-Agama
Penelitian ini bertujuan untuk melihat bagaimana simbol atau personifikasi dapat menjembatani hal-hal yang profan dari Tuhan ke dalam realitas manusia. Simbol-simbol agama sebagai perwujudan Tuhan memiliki nilai sakralitas yang tertinggi karena terbangun oleh struktur-struktur ajaran agama yang berasal dari teks kitab suci. Penelitian ini dibatasi pada tiga agama karena memiliki konsep teologis yang sama yaitu monoteisme dan pendekatan yang digunakan adalah kualitatif dengan berbasis library research dengam sumber yang terkait terutama sebagai data primer adalah kitab suci masing-masing agama yaitu Veda, Tipitaka dan Al-Qur’an. Sebagai alat analisis bantu membandingkan simbolisasi Tuhan dalam kitab suci, teori semiotik digunakan untuk menganalisis simbol dari masing-masing agama. Hasil penelitian ini ditemukan, konsep teologis monoteisme dalam simbol agama Hindu, Budha dan Islam memiliki persamaan dan terdapat perbedaan pada agama Islam yang tidak menyimbolkan Tuhan ke dalam bentuk simbol atau bentuk. Pada hal perbedaan tersebut disebabkan karena faktor pola struktur keyakinan, peribadahan, dan komunal dalam ajaran kitab suci dari masing-masing agama
The Connectivity of Hadith and Modern Sains: Case Study on Hadith about Pomegranate: Konektifitas Hadis dan Sains Modern: Studi Kasus pada Hadis tentang Delima
The Prophet through his hadiths taught goodness to his people, both in the realm of attitude, character, worship, and even greater things. In practice, Muslims only implement the prophet\u27s commands to the extent of religious doctrine which considers the prophet to be ma\u27shum, but they forget the conceptual dimensions that actually support the truth of what the prophet conveyed. This article discusses the connectivity between the hadith of the Prophet SAW and sains through two fundamental questions; first, what is the methodological conceptual relationship between hadith and sains?, and second, to what extent is the truth of hadith seen from a scientific perspective? Both questions are analyzed using descriptive-analytical research methods which will then be compared to find the meeting point. The results found a very close relationship between hadith and sains, where both are built on methodology and are objective. The truth is not just a claim, but the truth is proven through data and facts
Teologi Modernitas : Muhammad Syahrur dan Gagasan-gagasan Fundamental Ketuhanan Untuk Rekonstruksi Islam: Modern Theology: Muhammad Syahrur and Fundamental Concepts of Divinity for Islamic Reconstruction
Secara historis, teologi dibangun dari konsepsi pembacaan Kitab Suci agama. Maka, produksi pemahaman mengenai teologi tidak pernah tunggal dan final, sebaliknya akan ada pembacaan dan reinterpretasi yang berkelanjutan. Atas dasar itu, melalui karyanya, al-Iman wa al-Islam Mandzumah al Qiyam, Muhammad Syahrur bermaksud mengkritik teologi klasik yang terlalu disakralkan dan melahirkan ortodoksi, sembari melakukan pembacaan ulang atas teologi Islam hari ini yang dibasiskan pada kesadaran akan adanya realitas kehidupan yang obyektif. Artikel ini bertujuan untuk menganalisis dan membangun argumen pada apa yang penulis sebut sebagai teologi modernitas. Artikel ini menjadikan karya Syahrur, al-Iman wa al-Islam Mandzumah al Qiyam sebagai data utama dengan menggunakan pendekatan filsafat dan teori analisis hermeneutika menggunakan model analisis interpretatif-filosofis. Temuan dalam artikel ini menunjukkan gagasan dalam membangun teologi Islam modern yang lebih bersahabat dengan kehidupan kontemporer serta menjadikannnya sebagai spirit perubahan kehidupan ummat Islam. Syahrur memiliki gagasan fundamental mengenai teologi: 1) Tuhan sebagai dasar bagi kehidupan dunia: 2) Teologi berarti pembacaan dengan menjuktaposisikan wahyu, akal dan kehidupan: 3) Rukun dan syarat Islam ada tiga: meyakini adanya Tuhan, hari akhir dan beramal shaleh, amal soleh adalah manifestasi dari kehadiran Tuhan dalam kehidupan di dunia: dan 4) ketuhanan memainkan peran pada kehidupan ruhiyyah (al-hayat al-ruhiyyah) dan kehidupan material (al-hayat al-madiyyah), maka doktrin ketuhanan mesti dianalisis dengan nalar modernitas yang objektif.
Kata Kunci: Teologi Modernitas, Muhammad Syahrur, al-Iman wa al-Islam Mandzumah al-Qiyam, Realitas Obyektif
WAWASAN ISLAM TENTANG KEMAJEMUKAN: Kajian atas Konsep Pluralisme dalam Khazanah Islam
Konflik kekerasan yang terjadi pada dunia Islam menimbulkan persepsi yang buruk terhadap umat Islam. pada dasarnya Islam tidak mengajarkan tentang kekerasan, baik dengan sesama muslim maupun dengan pemeluk agama lain. Selain itu, Islam mengajarkan untuk saling menghormati terhadap sesama dan mencintai seluruh makhluk (rahmatan lil alamin). Namun, pada realitasnya masih banyak terjadi kekerasan antar sesama yang disebabkan banyak hal, termasuk pemahaman terhadap ajaran agama yang diyakini. Kehidupan Islam yang berkembang pesat membuat kekuasaan atau jangkauan Islam semakin luas. Hal itu berimplikasi kepada heterogenitas dalam masyarakat Islam, utamanya dalam masyarakat Arab. Islam yang semakin banyak pengikutnya dan banyak penaklukkan daerah lain menimbulkan pemahaman-pemahaman berbeda dalam beragama. Perbedaan-perbedaan yang ada dapat menyulut konflik dalam masyarakat. Nabi Muhammad memberikan teladan dalam menjalankan kehidupan yang berdasarkan ajaran Islam dan dalam konteks masyarakat Madinah yang kompleks atau plural. Oleh sebab itu, menarik untuk dikaji kembali tentang pluralisme dalam Islam.
Kata kunci: Islam, Pluralisme, Konfli
Against Christianization: Socio-Religious Movements in Magelang after the Java War
This paper explores the aftermath of the Java War on the socio-religious climate in Magelang. The rate of Christianization in that landscape accelerated following the war between the colonial regime and local residents. The discussion reconsiders the strategies of two leading figures of Nahdlatul Ulama (NU) and Muhammadiyah in stemming Christianization in the 19th-century Magelang. The Christian missionary agenda in Magelang was accomplished by eliciting the community’s sympathy. The missionaries built public hospitals and churches for local residents and hence held the congress of Catholic political associations and De Gereformeerde zending in Midden-Java in Magelang. The Dutch government also issued various policies to suppress Islamic movements. This paper finds that Dalhar Abdurrahman and Ahmad Dahlan responded to the missionary agenda in Magelang with non-confrontational strategies. Dalhar divided the socio-religious landscape of Magelang into two regions, the South and the North, based on the situation of Christian development. Dalhar also build a pesantren in Watucongkol and initiated the foundation of the Magelang Branch of NU to coordinate Muslim reformists. Dahlan halted Christianization by establishing a modern educational institution called Kweekschool Islam in an effort to compete with Dutch schools in Magelang. Dahlan also frequently engaged in dialogues and debates with the Christian missionaries
Exploring The Gradual Islamization of Tana Toraja in South Sulawesi: History, Development, and Challenges
The profound journey of Islam\u27s expansion in South Sulawesi during the 15th century resulted in a gradual uptake of Islam within the Toraja region. This delayed acceptance, compared to other areas in South Sulawesi, is frequently attributed to the use of force during Islam\u27s expansion. This perception highlights the challenge of promoting tolerance between the Muslim minority and Christian majority in the region. To understand the complexities of this phenomenon, this study seeks to explore factors beyond violence that contributed to the slow pace of Islamization. Employing a qualitative approach based in anthropology, the research delves into historical and cultural contexts. It finds that forceful Islamization efforts by figures like the Bone Kingdom, Kahar Muzakkar, and Andi Sose, actually hampered the spread of Islam due to the negative cultural impacts they created. Instead, it was the migration of Muslims to Toraja for trade that played a key role in introducing Islam to the region. Intermarriages further altered the dynamics, shifting Islamization from a conversion-focused approach to one based on family connections. This had consequences for how Islamic communities developed, depending on the choices of second-generation Muslims. The slow pace of Islamization also influenced various aspects of social and religious life, leading the Toraja people to develop nuanced responses. They managed change by emphasizing positive aspects of Islam while minimizing negative ones, aiming to maintain peace within their religiously diverse society. Thus, the Toraja actively engaged in managing the evolving religious landscape, adapting their practices to maintain communal harmony
Subjective Tendencies in Ibn Kaṡīr’s Exegesis: A Study of Narrative Selection and Interpretation in QS. al-Baqarah [2]: 21-22
Ibn Kaṡīr’s approach to simplifying and expanding meaning through the citation of various riwayat suggests a subjective tendency in his interpretation. This study aims to uncover Ibn Kaṡīr’s subjective narratives by analyzing his selection and organization of riwāyah, comparing them to the interpretations of earlier scholars who followed similar criteria. The research employs a qualitative methodology, utilizing Julia Kristeva\u27s intertextual analysis model, and focuses on the exegesis of QS. al-Baqarah [2]: 21-22. The study reveals that Ibn Kaṡīr utilized mechanisms of transformation, transposition, and opposition in relation to previous interpretations when explaining these verses. He appears to have distorted the meanings of existing narrations to support his own views, which can be observed in the way he adjusted certain narrations for use in his interpretative process. The variety of narrations provided by earlier scholars is summarized by Ibn Kaṡīr to align with his intended meaning. His selective presentation of certain narrations over others that have equal interpretative potential results in an identity of meaning consistent with his inclination towards Ibn Taymīyah’s interpretative approach. However, unlike Ibn Taymīyah, Ibn Kaṡīr tends to rely on favored narrations to establish a singular meaning. This subjective tendency influences the formation of an interpretative model that emphasizes a subject-object relationship, wherein the Qur\u27an\u27s own context is overshadowed by the interpreter\u27s will as a subject