UIN (Universitas Islam Negeri) Sunan Kalijaga, Yogyakarta: E-Journal Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam

UIN (Universitas Islam Negeri) Sunan Kalijaga, Yogyakarta: E-Journal Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam
Not a member yet
    1356 research outputs found

    A Comparative Discourse on Istidlāl Hadīṡ for the Recitation of Basmalah in Prayer: Perspectives of Nahdlatul Ulama and Muhammadiyah: Kajian Komparatif mengenai Istidlāl Hadīṡ Bacaan Basmalah dalam Shalat: Perspektif Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah

    No full text
    The discourse surrounding the recitation of Basmalah in Al-Fatihah during prayer has consistently been a contentious issue within society, particularly between members of Nahdlatul Ulama (NU) and Muhammadiyah. This divergence arises from differences in perspectives and variations in the interpretation of istidlāl (legal reasoning) derived from hadith used by both groups. This study examines the methods and approaches employed by NU and Muhammadiyah in understanding, interpreting, and formulating legal rulings based on hadith. The research focuses on two primary questions: First, what methods are implemented by NU and Muhammadiyah in istidlāl hadith? Second, what narrations serve as their foundational basis for legal rulings? These questions are explored through a descriptive-analytical method grounded in literature review. The findings reveal that; first, NU and Muhammadiyah each have dedicated institutions tasked with understanding Islamic legal sources and issuing fatwas—namely, the Lembaga Bahtsul Masail for NU and the Majelis Tarjih for Muhammadiyah; second, Nahdlatul Ulama employs the qauly, ilhaqy, and manhajy methods in interpreting Islamic legal sources, whereas Muhammadiyah utilizes the bayani, ta\u27lili, and istishlahi methods; and third, Regarding the recitation of Basmalah in prayer, NU considers it obligatory and recommends its recitation aloud (jahr), based on istidlāl qauli referring to Imam Shafi\u27i\u27s opinion in Al-Umm. In contrast, Muhammadiyah allows for Basmalah to be recited either silently (sirr) or aloud (jahr), using the bayani method, which draws on hadith narrated by Imam Malik in Al-Muwatta’, offering a more flexible interpretation of the recitation of Basmalah

    MELIHAT JIN PERPSEKTIF AT-TAHRIR WA AT-TANWIR DAN RUH AL-BAYAN FI TAFSIR AL-QUR\u27AN : Studi Atas Penafsiran Ibn Asyur dan Ismail Haqqi terhadap al-A\u27raf ayat ayat 27

    Get PDF
    Abstract This article tries to discuss the views of two contemporary mufassirs, Muhammad Thahir Ibn Ashur and Ismail Haqqi through two different manhaj (adaby and isyari) in their major works, at-Tahrir wa at-Tanwir and Ruh al-Bayan as a form of response to the phenomenon of indigo children who are considered capable of seeing invisible creatures (jinn). The conclusion that results from both interpretations is the same, namely that humans cannot see jinn or subtle beings with the naked eye although there are differences in illat or reasons for the inability of human vision to achieve it. Keywords: Indigo, Jinn, Ibnu Ashur, Ismail Haqq

    Status Ontologis Tuhan dalam Teologi Pembebasan Hassan Hanafi

    Get PDF
    Abstract This article attempts to analyze Hassan Hanafi\u27s theology of liberation. Belief in God has a great influence on human life. The direction of human life in the world is determined by his belief and understanding of God. In his theology of liberation, Hanafi positions God not as "distant" and "inaccessible", but God exists in human life in the world. Broadly speaking, Hanafi\u27s theology of liberation is boosted by the theory of existence which believes in the absolute "Existence" of God as the "Real" which does not erase the "Existence" of Humans in the world as well as "the real". Through this view, Hanafi criticizes the thinking of classical scholars, both theologians and Sufis, who think that "Nothing is Real" except God. Hanafi gives a different view of the ontological status of God in Islamic theological thought. Hanafi\u27s thinking encourages human life in the world to be more real and in accordance with the proposition that God created humans seriously as khalifah fi al-ard. With this in mind, Hanafi proposes and tries to shift civilization from the classical divine frame to neo-humanism. Keywords: God, Liberation Theology, The Real   Absrak Artikel ini berusaha menganalisis pemikiran teologi pembebasan Hassan Hanafi. Keyakinan kepada Tuhan memiliki pengaruh besar bagi kehidupan manusia. Arah hidup manusia di dunia ditentukan oleh keyakinan dan pemahamannya tentang Tuhan. Dalam teologi pembebasannya, Hanafi memposisikan Tuhan bukan sebagai “yang jauh” dan “tak terjangkau”, tapi Tuhan itu Ada dalam kehidupan manusia di dunia. Secara garis besar, teologi pembebasan Hanafi didongkrak oleh teori metafisika wujud yang meyakini “Ada-Nya” Tuhan sebagai “Yang Nyata” secara mutlak yang tidak menghapus “Ada-nya” Manusia di dunia juga sebagai “yang nyata”. Melalui pandangan ini Hanafi mengkritik pemikiran ulama klasik, baik kalangan teolog maupun sufi, yang beranggapan bahwa “Tidak Ada Yang Nyata” selain Tuhan. Hanafi memberi pandangan yang berbeda tentang status ontologis Tuhan dalam pemikiran teologi Islam. Pemikiran Hanafi mendorong hidup manusia di dunia semakin nyata dan sesuai dengan dalil bahwa Tuhan menciptakan manusia dengan sungguh-sungguh sebagai khalifah fi al-ard. Dengan pemikiran ini juga Hanafi mengusulkan dan berusaha untuk menggeser peradaban dari bingkai ketuhanan klasik ke neo-humanisme. Keywords: Teologi Pembebasan, Tuhan, Yang Nyat

    Kritik Matan Hadis atas Hukuman bagi Orang Murtadin: Kontekstualitas Hermeneutika Fazlur Rahman

    No full text
    There is a notable difference between the consequences for apostates as stated in the Qur’an and the Hadith. The Qur’an mentions that apostates will be replaced by people who are better and will face eternal punishment in the afterlife. In contrast, the Hadith prescribes the death penalty for apostates in this world. For Muslims, it is essential to study the application of apostasy laws in the current context. This study employs a descriptive analysis using Fazlur Rahman’s hermeneutic approach to Hadith. Rahman’s principle emphasizes that Islamic law should be understood according to the context of the times. His approach applies a situational interpretation of Hadith, encouraging Muslims to reevaluate the elements of Hadith and their relevance today. Rahman suggests several strategic steps: first, understanding the literal meaning of the Prophet’s Hadith; second, examining the historical and social context during the Prophet’s time, including the reasons for the Hadith’s revelation (asbab al-wurud); and third, considering relevant instructions in the Qur’an. This approach allows scholars to distinguish the underlying legal objectives (ratio legis) from specific legal rulings and to formulate the ideal moral principles of the Hadith. The study finds two main points. First, while the wording in the Qur’an and Hadith differs, Qur’anic consequences apply when apostates do not cause harm, whereas Hadith consequences apply when apostates create disorder or damage. Second, the Hadith prescribing the death penalty is authentic, but its application is not universal; it is context-dependent and relevant only under certain circumstances.   Abstrak Terdapat perbedaan antara konsekuensi bagi orang murtad antara redaksi Al-Quran dan redaksi hadis. Dalam Al-Quran disebutkan bahwasanya orang yang murtad akan digantikan dengan kaum yang jauh lebih baik dan orang yang murtad dimasukkan ke dalam neraka dan kekal di dalamnya (hukuman akhirat). Sementara hadis menyebutkan bahwa bagi pelaku murtad akan dikenai hukuman mati (hukuman duniawi). Sebagai seorang muslim, perlu untuk mengkaji lebih dalam terhadap pemberlakuan hukuman bagi pelaku murtad pada konteks saat ini. Penelian ini menggunakan  analisis deskriptifdengan pendekatan hermeneutika  Fazlur Rahman terhadap hadis. Hermeneutika Fazlur Rahman menerapkan penafsiran situasional terhadap hadis dan menegaskan bahwa umat Islam perlu untuk melakukan revaluasi terhadap unsur yang terkandung dalam hadis dan penafsirannya sesuai dengan kondisi saat ini. Ia mengisyaratkan adanya beberapa langkah strategis. Pertama, memahami makna teks hadis Nabi, kemudian memahami latar belakang situasionalnya, yakni menyangkut situasi Nabi dan masyarakat pada periode Nabi secara umum, termasuk dalam ini adalah asbab al-wurud. Di samping itu juga memahami petunjuk-petunjuk Al-Qur’an yang relevan. Dari sini akan dapat dipahami dan dibedakan nilai-nilai nyata atau sasaran hukumnya dari ketetapan legal spesifiknya, dan dapat dirumuskan prinsip ideal moral dari hadis tersebut. Hasil dari penelitian ini menunjukkan dua point utama yakni : pertama, Redaksi yang disebutkan dalam Al-Quran dan redaksi dalam hadis memang berbeda. Namun pada penggunaannya, konsekuensi bagi orang murtad sebagaimana yang tertulis dalam Al-Quran diberlakukan apabila orang yang murtad tersebut tidak membuat kerusakan ataupun kekacauan bagi kelompok lainnya. Sementara konsekuensi yang disebutkan dalam hadis diberlakukan apabila orang yang murtad tersebut menimbulkan kekacauan dan kerusakan. Kedua, hadis hukuman mati bagi pelaku murtad dibuktikan shahih. Namun dalam penggunaannya redaksi hadis ini tidak bisa digunakan pada semua zaman, melainkan hanya pada konteks-konteks tertentu saja

    Al-Iklīl Fī Istinbāṭ Al-Tanzīl: an Analysis of Al-Suyūṭī’s Interpretation Of Criminal Verses

    No full text
    This study explores Al-Iklil fi Istinbat al-Tanzil by Jalaluddin al-Suyuti, focusing on his interpretation of criminal verses in the Qur\u27an. Using a qualitative method based on literature review with content analysis, this study identifies al-Suyuti\u27s textual-normative approach in deriving legal provisions (istinbat) from verses on adultery, theft, false accusations, murder, and armed robbery. His concise interpretation reflects classical Islamic legal principles such as justice, crime prevention, and social protection, but lacks social-historical context. This study argues that although Al-Iklil provides a fundamental normative framework, its application in modern Islamic criminal law requires contextual reinterpretation in line with contemporary legal systems and human rights standards. This work remains relevant as a legal-ethical reference in the corpus of Islamic jurisprudence

    Analisis Wacana Dakwah Habib Ja\u27far tentang Moderasi Beragama: : Pembentukan Narasi Keberagaman di Platform YouTube

    Get PDF
    Artikel ini menganalisis konten dakwah yang disampaikan oleh Habib Ja\u27far di YouTube, dengan fokus pada moderasi beragama dan dampaknya terhadap pemahaman keberagaman di kalangan penonton. Di Indonesia, yang dikenal dengan keberagamannya, sering muncul masalah intoleransi di mana perbedaan dianggap negatif dan kebenaran subjektif dipaksakan. Untuk mengatasi hal ini, diperlukan upaya untuk meningkatkan kesadaran tentang pentingnya menghargai perbedaan. Salah satu metode yang terbukti efektif adalah dakwah melalui media sosial, seperti yang dilakukan oleh Habib Ja\u27far, yang menekankan pentingnya moderasi dalam beragama di negara dengan keragaman tinggi. Permasalahan utama dalam penelitian ini: Pertama, bagaimana pesan moderasi beragama yang disampaikan oleh Habib Ja\u27far di YouTube? Kedua, bagaimana reaksi penonton terhadap dakwah tersebut? Ketiga, seberapa besar kontribusi konten dakwah Habib Ja\u27far dalam membentuk pemahaman tentang keberagaman di kalangan penonton? Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan analisis konten, yang memungkinkan peneliti untuk menilai konten video dan tanggapan penonton melalui komentar di YouTube secara sistematis. Teori yang diterapkan mencakup moderasi beragama dan komunikasi digital, yang menjadi dasar untuk menganalisis penyebaran pesan moderasi dalam konteks platform digital. Hasil penelitian menunjukkan bahwa reaksi positif penonton terhadap dakwah Habib Ja\u27far dapat berperan signifikan dalam meningkatkan pemahaman keberagaman dan menanamkan sikap toleransi. Banyak komentar penonton yang mengungkapkan apresiasi terhadap dakwah moderasi ini, yang membantu mereka menyadari pentingnya menghargai perbedaan. Dakwah Habib Ja\u27far telah berhasil menciptakan ruang diskusi yang inklusif di mana keberagaman agama dihargai, sekaligus menunjukkan potensi media sosial dalam menyebarluaskan pesan-pesan keberagaman dan toleransi secara efektif di era digital. Kata Kunci : Moderasi Beragama, Keberagaman, Penonton YouTub

    Unpacking Soft Radicalism among Indonesian State Islamic University Students

    Get PDF
    Radicalism remains a significant threat to global security, manifesting in various forms, including violent and non-violent approaches. In Indonesia, soft-radicalism—a non-violent form of radicalism that subtly spreads extremist ideologies through digital platforms—poses a growing threat, particularly among Muslim students at State Islamic Universities (PTKIN). This study examines the experiences, views, and attitudes of Muslim students toward soft radicalism, focusing on their exposure to radical content on social media. Through interviews and focus group discussions, the study reveals that students frequently encounter provocative content that challenges state legitimacy and promotes alternative socio-political systems like the caliphate. While students display critical awareness of these narratives, the persistent exposure facilitated by social media algorithms underscores the need for “inclusive digital navigation skills” for them. The skills to wisely and critically navigate the digital world, filter out potentially damaging information and interact in positive, inclusive, and respectful ways of diversity.

    Pemetaan Jejak Pengetahuan: Sebuah Catatan Kronologis Epistemologi Islam perspektif al-Jabiri

    Get PDF
    Tulisan ini bertujuan untuk melakukan pemetaan yang cermat terhadap perjalanan dan perkembangan jejak pengetahuan yang telah menjadi bagian integral dari budaya penalaran dalam masyarakat Arab, yang pada gilirannya menjadi pondasi yang kuat dalam pembentukan penalaran dalam Islam secara menyeluruh. Seorang pemikir Islam yang terkenal dari wilayah Maghrib, yaitu al-Jabiri, telah mengembangkan sebuah kerangka pemikiran yang terdiri dari tiga tipologi sistem penalaran yang memengaruhi dan membentuk pengetahuan di kalangan masyarakat Arab tersebut; yakni bayan, ‘irfān, dan burḥān. Penelitian yang disajikan dalam artikel ini merupakan sebuah penelitian kualitatif yang berlandaskan pada sumber data dari penelitian kepustakaan. Hasil dari penelitian ini menguraikan bahwa keberadaan ketiga sistem penalaran ini adalah hasil dari dinamika pergulatan ideologis-politis yang saling berkompetisi untuk mendominasi, daripada sekadar menjadi sesuatu yang bersifat transformatif. Epistemologi bayan dan ‘irfān hadir dalam keberagaman unsur pra-Islam yang telah meresap dan semakin berakar kuat pada masa kodifikasi dan gerakan penerjemahan. Sementara itu, epistemologi burḥān muncul pada masa kekuasaan Daulah Abbasiyah di bawah kepemimpinan al-Ma’mun, yang diinisiasi dengan tujuan untuk menekan kelompok-kelompok yang menentang negara, khususnya mereka yang berpegang teguh pada pemikiran \u27irfān. Historisitas dari ketiga epistemologi ini saling bersilangan dan membentuk pola penalaran yang khas bagi bangsa Arab

    The Interdisciplinary Approach and It’s Contribution to the Study of Living Hadith : Pendekatan Interdisipliner dan Kontribusinya dalam Studi Living Hadis

    No full text
    The term "Living Hadith" represents a new variant in Hadith studies. The author will elucidate the interdisciplinary approach that has been employed in Living Hadith studies and its contributions. This research applies literature review methodology. Data is collected from Google Scholar research within the timeframe of 2017-2023. Subsequently, the data is classified and analyzed. This study identifies three interdisciplinary approaches most commonly utilized by Living Hadith researchers: phenomenology, sociology of knowledge, and ethnography. The study also demonstrates the contributions of interdisciplinary approaches in Living Hadith studies, including preventing Living Hadith researchers from falling into subjective judgment and unilateral justifications, as well as avoiding the limitation of Living Hadith studies to the mere description of a tradition subsequently grounded in Hadith. Instead, these approaches make the study more intriguing by drawing diverse conclusions in line with the interdisciplinary approach employed

    Konsep Ittiḥād dalam Fabel Mantiq at-Ṭair: Pemikiran Tasawuf Falsafi Farīduddīn ‘Aṭār (1145-1221 M)

    Get PDF
    This article focuses on Farīduddīn ‘Aṭār \u27s philosophy of Sufism, namely the concept of ittihad. His thoughts on ittihad can be explored through his work in the form of a fable entitled Mantiq at-Ṭair (The Deliberation of Birds). The fable tells the story of birds that gather and deliberate to find their King named Simurgh. Everything contained in the work is a reflection of ‘Aṭār  \u27s own Sufistic experience in seeking God which is retold through fables. In general, the concept of ittihad was initiated by Abu Yazid al-Bustami, ‘Aṭār   developed the concept through his work. Regarding the process of ittihad, in his work ‘Aṭār   tells the story of the seven valleys that birds must pass through in search of Simurgh; ṭalab (search), ‘isyq (love), ma\u27rifat (knowledge), istighnā (the absurdity of things around), tawhīd (unity), hīraṭ (confusion), and fana. The valleys are described as challenges that must be overcome by a Sufi who wants to find his God. The journey ends with the transience of the birds (Sufis) towards other than the Simurgh (God) to cause devotion to Him. This research uses descriptive-analytic method with data obtained from relevant literature sources to build structured and systematic findings. The findings in this article show that the concept of ittihad developed by ‘Aṭār   emphasizes the aspects of ‘isyq and fana to find God

    1,021

    full texts

    1,356

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    UIN (Universitas Islam Negeri) Sunan Kalijaga, Yogyakarta: E-Journal Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam is based in Indonesia
    Access Repository Dashboard
    Do you manage UIN (Universitas Islam Negeri) Sunan Kalijaga, Yogyakarta: E-Journal Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam? Access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard!