UIN (Universitas Islam Negeri) Sunan Kalijaga, Yogyakarta: E-Journal Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam
UIN (Universitas Islam Negeri) Sunan Kalijaga, Yogyakarta: E-Journal Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran IslamNot a member yet
1356 research outputs found
Sort by
Objektivitas Riwayat dalam Tafsir Jāmi’ al-Bayān: Ekplorasi Formasi Diskursif aṭ-Ṭabarī
The debate surrounding the subjectivity in aṭ-Ṭabarī’s use of history in his work Jāmi\u27 al-Bayān challenges the perception of its popularity as a widely-referenced tafsīr bi ar-riwāyah (interpretation based on narration). The assumption that aṭ-Ṭabari defended tradition in his Quranic interpretation process necessitates an exploration of the contextual factors shaping his discursive formation. This study aims to uncover the interconnections within this formation by employing qualitative methods supported by archaeological analysis. The findings indicate that the intense intellectual debates during the Abbasid caliphate’s knowledge advancements influenced aṭ-Ṭabari’s interpretive model. The rationalistic tendencies that began to permeate Quranic interpretation were countered by aṭ-Ṭabarī’s decision to rely exclusively on well-known narrations from the Companions and Tabi\u27in. This approach is reflected in the interpretation of various verses on a majority scale. The intensity of the debates during aṭ-Ṭabarī’s era not only impacted interpretive methods but also extended to legal rulings and theological beliefs, often using Quranic arguments. Aṭ-Ṭabarī\u27s response to this dynamic involved an interpretive model that emphasized the preeminence (tarjīḥ) of specific traditions, revealing his subjective inclinations. Similarly, his approach to responding to fiqh and theological issues, which often involved syllogism and linguistic analysis, demonstrates a tendency to choose meanings while critiquing the interpretive products of various schools of thought, indicating an inconsistency with the school he ostensibly supported. This aspect reveals aṭ-Ṭabarī’s independence from the prevailing mainstream schools of his time
Ketika al-Qur’an Bertemu Modernitas: Penerimaan Pemikir Kontemporer Islam dalam Konteks Kebebasan Beragama
The renewal concepts offered by contemporary Indonesian thinkers on actual issues involve legitimizing their views through the Quran. The approach of validating these issues, such as religious freedom, using various Quranic verses showcases a range of interpretations that can appear subjective and arbitrary. This research seeks to uncover the dialectical relationship between contemporary Indonesian thinkers, specifically Nurcholis Madjid, Abdurrahman Wahid, and Djohan Effendi, and the Quran, which forms a response of meaning to address current issues. Employing a qualitative methodology, the study utilizes Hans Robert Jauss’reception theory for data analysis. The findings indicate that the tendency to use the Qur\u27an in addressing actual issues is grounded in the compatibility of meaning, using the keywords within the verses that align with the issues being discussed. When suitable keywords are identified in a verse, they are interpreted with a dominance of the initial impression of understanding, primarily based on their linguistic meanings. This uniformity in meaning perception, which emphasizes objective meaning through language, is then applied to the contemporary context. The perception of liberal interpretation arises because the traditional interpretative moment, which mediates various perspectives of past interpreters, is often bypassed. As a result, these interpretative efforts cannot be fully categorized under the concept of contextual interpretation. However, the determination of objective meaning through textual analysis, extended to a new context that incorporates the subjective experiences of each thinker, makes this understanding mechanism not as subjective as commonly assumed
Turaṡ, Geografi, dan Aransemen Kronologis: Studi Tafsir Nuzūlī dan Kesadaran Historis Mufasir
This study is driven by the variations in the chronological arrangement of the Qur\u27an among different nuzūlī tafsirs, reflecting the reasoning systems of interpreters in engaging with the turaṡ tradition. The aim of this research is to explore how geographical contexts shape the reasoning and awareness of mufasirs regarding the discourse on Qur\u27anic historicity. Utilizing a literature review method, the study examines five nuzūlī tafsirs as primary sources, complemented by relevant secondary research. Foucault\u27s theoretical framework and comparative media analysis are employed to investigate the interactions among nuzūlī tafsirs concerning the Qur\u27an\u27s chronological arrangement, aiming to uncover the underlying factors behind these differences. The findings reveal that historical awareness and the concept of tartīb al-nuzūl in the modern era have led interpreters to reexamine the chronological debates of the Qur\u27an. Interpreters from the Arab-Syrian context tend to adopt the turaṡ reasoning system to uphold Islamic identity within the global intellectual landscape, while Al-Jābirī, drawing from the French philosophical tradition, critiques this historical reliance through a deconstructive lens. This epistemic confrontation indicates that discussions on the Qur\u27an\u27s chronological arrangement remain pertinent for reconstruction, with geographical knowledge significantly influencing the diverse reasoning of interpreters
MODERASI KEBERAGAMAAN MUHAMMADIYAH DALAM MENJAWAB ETIKA GLOBAL, ETIKA SOSIAL, DAN PERSAUDARAAN UMAT MANUSIA
Fenomena global telah membawa perubahan besar terutama bagi keberagamaan. Agama menjadi sasaran empuk bagi beragam kekacauan yang timbul dari serangan dunia global. Seorang teolog yang juga pegiat kritik modernitas, Hans Kung menggagas kesatuan ide etis yang dianggap menjadi konsep ideal untuk menjawab kekacauan dunia saat ini dengan landasan dari nilai agama. Penulis berusaha mendudukan kembali gagasan ini melalui sudut pandang Muhammadiyah sebagai organisasi yang kerap menyuarakan moderatisme sebagai jawaban atas problematika keumatan global, sekaligus menjawab sumbangan ideology Hans Kung dalam diskursus keilmuan keagamaan. Penulisan ini menggunakan metode kajian pustaka yang bersifat deskkriptif-analitis dengan hasil penelitian bahwa konsep etika global oleh Hans Kung telah menyumbang respon bagi kalangan agamawan untuk kembali mengaktifkan nilai-nilai toleransi dalam beragama. Namun, beberapa kajian pokok dalam etika global dinilai tidak cocok bagi idealisme Muhammadiyah karena perbedaan tolak ukur kebenaran yang berorientasi pada penilaian manusia, yang menurut Muhammadiyah tidak bersifat mutlak. Rumusan etika global maupun social yang digagas oleh Kung telah membuka celah plural dan sikap pesimistik dalam beragama yang jauh dengan cita-cita Muhammadiyah
From Qitāl to Moral Transformation: A Genealogy of War Verse Interpretations in Qur’anic Exegetical History
This study explores the transformation of the concept of qitāl within the historical discourse of Qur’anic exegesis, particularly in relation to verses often associated with warfare. The issue has gained increasing relevance in the context of Islamophobia and widespread misconceptions that frequently link Islam to violence. By employing a genealogical approach to Qur’anic exegesis, this research aims to trace the transformation of the meaning of qitāl from the pre-Qur’anic era to contemporary exegesis. The findings reveal that while qitāl initially referred to physical combat with a brutal connotation, it evolved into a concept imbued with moral and spiritual dimensions within Islamic teachings. This shift continued across the exegetical discourse from the classical to contemporary periods, where qitāl no longer solely emphasizes physical warfare but encompasses non-physical struggles that contribute to discussions on social justice and global peace. This transformation has been shaped by various social and political contexts, as well as by the agents involved. These influences indicate an ongoing dynamism in Qur’anic interpretation, reflecting its adaptation to global developments, particularly in response to Islamophobia and the narratives that associate Islam with violence.
Optimalisasi Strategi Kolaborasi Influencer dalam Dakwah Digital: Studi Kasus Ustadz Hanan Attaki dalam Meningkatkan Kesadaran Keagamaan
Penelitian ini mengangkat problem akademik yang signifikan terkait efektivitas strategi kolaborasi influencer dalam konteks dakwah digital, dengan fokus pada upaya untuk meningkatkan kesadaran keagamaan di kalangan audiens yang beragam. Menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan digital religion dan desain studi kasus, penelitian ini melakukan analisis konten terhadap kolaborasi yang dilakukan oleh Ustadz Hanan Attaki dengan berbagai influencer. Penelitian ini melibatkan audiens dari berbagai latar belakang, baik yang berpengaruh di kalangan masyarakat agamis maupun non-agamis, sehingga memberikan perspektif yang komprehensif mengenai pengaruh kolaborasi tersebut. Hasil temuan menunjukkan bahwa strategi kolaborasi yang diterapkan berhasil meningkatkan partisipasi audiens dalam konten dakwah yang disajikan. Temuan ini juga memperlihatkan bagaimana teknologi digital membentuk praktik dan pemikiran agama. Diskusi yang dicapai dalam penelitian ini menegaskan pentingnya pemilihan influencer yang tepat, yang tidak hanya memahami konten yang disampaikan, tetapi juga mampu beradaptasi dengan kebutuhan dan preferensi audiens untuk mencapai tujuan dakwah yang lebih luas dan efektif. Dengan demikian, penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi signifikan bagi perkembangan keilmuan dalam Studi Agama-Agama, serta membuka ruang untuk penelitian lebih lanjut mengenai dinamika dakwah digital di era media sosial yang terus berkembang, serta tantangan dan peluang yang dihadapi oleh para praktisi dakwah dalam memanfaatkan teknologi untuk menyebarkan pesan keagamaan
Religiusitas dalam Genre Horor: Eksorsisme dan Kekuatan Spiritual di Film “Kuasa Gelap”
Penelitian ini menganalisis representasi religiusitas dalam film horor Indonesia Kuasa Gelap, yang mengangkat tema eksorsisme Katolik, suatu tema yang jarang diangkat dalam sinema horor Indonesia. Berbeda dengan mayoritas film horor lokal yang berfokus pada ruqyah Islam atau cerita rakyat, Kuasa Gelap mengeksplorasi eksorsisme Katolik yang kaya akan simbolisme religius dan spiritualitas. Tujuan penelitian ini adalah memahami bagaimana film ini mengartikulasikan simbol-simbol religius seperti salib, air suci, dan doa eksorsisme sebagai elemen penting dalam menggambarkan konflik antara kekuatan baik dan jahat. Metode yang digunakan adalah analisis kualitatif dengan pendekatan semiotika untuk menggali makna di balik simbol-simbol tersebut. Kerangka teori Paul Tillich tentang simbol religius digunakan untuk menguraikan bagaimana simbol-simbol tersebut menyampaikan makna yang lebih dalam tentang iman, spiritualitas, dan keberanian eksistensial. Film ini menawarkan perspektif menarik dalam konteks masyarakat Indonesia yang mayoritas Muslim, di mana perpaduan simbol-simbol religius Katolik menciptakan dialog antara tradisi keyakinan yang berbeda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa film ini bukan sekadar horor, tetapi juga sarana untuk mengeksplorasi dan mengartikulasikan pengalaman spiritual dan konflik eksistensial. Kesimpulannya, sinema horor dapat menjadi medium yang efektif untuk menggambarkan berbagai aspek religiusitas dan spiritualitas dalam konteks budaya multikultural
Penafsiran Konsep Kehadiran Tubuh dalam “Fenomenologi Persepsi” karya Merleau-Ponty : Sebuah Studi Literer tentang Signifikansinya dalam Pemahaman Pengalaman Manusia
Artikel ini membahas penafsiran konsep kehadiran tubuh dalam salah satu karya utama fenomenologi, yaitu "Phenomenology of Perception" oleh Merleau-Ponty, serta mengulas signifikansi pentingnya dalam memahami pengalaman manusia. Dengan menggunakan pendekatan studi literatur, artikel ini mengeksplorasi latar belakang dan konteks historis konsep kehadiran tubuh dalam pemikiran filosofis. Kerangka pemikiran Merleau-Ponty tentang peran sentral konsep kehadiran tubuh, yang memberikan wawasan mendalam tentang pengalaman manusia, termasuk hubungan antara tubuh, pikiran, dan lingkungan, menjadi sorotan utama. Dengan menganalisis teks utama dan pemikiran sekunder yang relevan, penelitian ini menyimpulkan bahwa dalam "Phenomenology of Perception," Merleau-Ponty menyoroti konsep kehadiran tubuh yang memengaruhi pandangan kita terhadap pengalaman manusia. Tubuh dianggap sebagai medium yang memfasilitasi pengalaman langsung terhadap dunia, berperan sebagai jembatan antara subjek dan objek. Penafsiran Merleau-Ponty menunjukkan bahwa tubuh tidak hanya menerima stimulus, tetapi juga bertindak sebagai subjek aktif dalam interaksi dengan lingkungan. Kompleksitas hubungan tubuh dengan ruang, waktu, dan kesadaran ditekankan, dan kehadiran tubuh tak terpisahkan dari norma-norma sosial dan budaya yang membentuk identitas dan persepsi manusia. Konsep kehadiran tubuh memiliki signifikansi filosofis yang mendalam dan dampak pada pemahaman manusia secara menyeluruh. Fokus pada peran penting tubuh dalam pengalaman manusia membantu memperluas wawasan kita terhadap manusia sebagai entitas holistik yang melibatkan dimensi fisik, mental, emosional, dan sosial. Penelitian ini tidak hanya menyoroti kompleksitas manusia sebagai makhluk yang merasakan dunia melalui berbagai dimensi terkait, tetapi juga menekankan pentingnya memahami bagaimana tubuh menjadi pusat dalam membentuk persepsi, emosi, dan identitas
Moderasi Beragama sebagai Pilar Persatuan Bangsa: Studi Komparatif Kitab Suci Islam dan Hindu
Keragaman dapat menjadi pengikat dalam masyarakat, namun dapat pula menimbulkan percikan yang bermuara pada konflik sosial. Besarnya prasangka dan stigma serta kurangnya toleransi terhadap kelompok yang berbeda, ditengarai dapat berakibat pada kekerasan antarkelompok, sehingga narasi moderasi beragama penting kiranya untuk terus disebarluaskan dan diaktualisasikan dalam kehidupan bermasyarakat. Penelitian ini mengupas konsep moderasi dari sudut pandang agama Islam dan Hindu berdasarkan kitab sucinya. Penelitian ini merupakan penelitian pustaka (library research) dengan metode penelitian kualitatif. Sumber primer dari penelitian ini adalah kitab suci umat Islam, yaitu Al-Qur\u27an dan kitab suci umat Hindu, yakni Weda. Sedangkan sumber sekunder yang digunakan adalah berbagai literatur lain yang relevan dengan penelitian, baik dan bentuk buku maupun artikel jurnal. Penelitian dilakukan dengan menganalisis konsep-konsep moderasi beragama secara umum, beranjak ke moderasi beragama yang dikonseptualisasikan dalam Islam dan Hindu, dengan merujuk kembali kepada kitab suci masing-masing agama, yang kemudian konsep-konsep dari ajaran kedua agama tersebut dikomparasikan untuk mencari titik temu antara keduanya. Prinsip moderasi beragama dalam Al-Qur\u27an sebagaimana yang dirumuskan oleh Kementerian Agama terdiri dari prinsip keadilan (‘adalah), keseimbangan (tawāzun), dan toleransi (tasāmuh). Sedangkan dalam ajaran Hindu, moderasi beragama diterapkan dalam konsep Tri Hita Kirana, Tat Twam Asi, Wasudewam Kutumbhakam, dan Ahimsa. Narasi moderasi beragama penting untuk terus digaungkan oleh pihak-pihak otoritatif seperti pemerintah, lembaga, dan tokoh-tokoh agama.
Diversity can be a bond in society, but it can also cause sparks that lead to social conflict. The amount of prejudice and lack of tolerance towards different groups can result in violence between groups, hence it is important for the narrative of religious moderation to continue to be disseminated and actualized in social life. This research examines the concept of moderation from the perspective of Islam and Hinduism based on their holy books. This research is library research with qualitative research methods. The primary sources for this research are the Muslim holy book (Al-Qur\u27an) and the Hindu holy book (Veda). Meanwhile, the secondary sources used are various other literature that is relevant to the research, both in the form of books and journal articles. The research was conducted by analyzing the concepts of religious moderation in general, moving on to religious moderation conceptualized in Islam and Hinduism, by referring back to the holy books of each religion, which then compared to find common ground between the two. The principles of religious moderation in the Qur\u27an consist of the principles of justice (\u27’adalah), balance (tawāzun), and tolerance (tasāmuh). Meanwhile, in Hinduism, religious moderation is applied in the concepts of Tri Hita Kirana, Tat Twam Asi, Wasudewam Kutumbhakam, and Ahimsa. The narrative of religious moderation is important to be echoed by authoritative parties such as the government, institutions, and religious leaders
The Shifting Use of Isrā’īlīyāt in Qur’anic Exegesis and Its Implications on The Comprehension of the Verses on Jālūt and Ṭālūt Story: A Critical Study of Indonesian Qur’anic Exegesis
This study focuses on the use of isrā’īlīyāt narratives in three pesantren-related Qur’anic exegesis in Indonesia. There have been many recent studies to explore the use of isrā\u27īlīyāt in exegesis, but the analysis on the use of isrā\u27īlīyāt narratives, its underlying factors, and its impact on exegesis has not been widely discussed. By limiting to examining the use of isrā\u27īlīyāt narratives in the stories of Jālūt and Ṭālūt, this study revealed a shift in the use of isrāīlīyāt from the validity aspect to the functional aspect. It also disclosed two functions of isrā\u27īlīyāt: the descriptive and medical functions. The descriptive function represents the moral content in the story of the Qur\u27an, which has an impact on the purpose of mentioning stories in the Qur’an as i\u27tibār (something to learning). The medical function, refers to the internal tendency of the interpreter to choose the story, and this function determines the pattern in the exegesis of narrative verses. The exegesis pattern in methodological studies is directed only at verses with legal and theological nuances, by excluding narrative verses.