UIN (Universitas Islam Negeri) Sunan Kalijaga, Yogyakarta: E-Journal Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam
UIN (Universitas Islam Negeri) Sunan Kalijaga, Yogyakarta: E-Journal Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran IslamNot a member yet
1356 research outputs found
Sort by
Fenomena Perda Syariah: Institusional Identitas pada Tingkat Local State
KOnseptualisasi demokrasi, pada umumnya hanya menonjolan dua karakteristik, yakni, pertama, Pendefinisian yang menekankan pada dimensi prosedural, yakni demikrasi dipahami sebagai persoalan tata cara memerintah, kedua, Berkaitan dengan peranan "agen" sebagai determinan pokok dalam eksplanasi terhadap keberhasilan demokrasi. Agen di sini lebih ditujukan kepada para aktor politik di tingkat lokal, baik lembaga maupun perorangan. Lahirnya Perda Syariah, dipandang Porter (2002), sebagai wujud agresivitas Islam politik tatala pemerintah Orde Baru gagal menerapkan Corporatism. Jadi, fenomena perda syariah di beberapa kabupaten, ada kecenderungan kuat bahwa institusional identitas merupakan reaksi yang rasional. Setidaknya, bagi para elit local-state, karena mereka mendapatkan capital di balik munculnya perda-perda tersebut
Represi Terhadap Incest (Kajian Mengenai Kasus Incest di Kabupaten Aran Pandang)
The issue of sexuality is always interesting to be discussed,which is very much the language contained in the discourse.Included is incest, which in Indonesian society are consideredand reworded as illness, irregularities, and enter the realm ofcrime. Settlement of the issue of incest in Indonesia curative.The new issue decided upon its completion after it happened inthe middle of them. One is through the imprisonment ofperpetrators of incest, in this case the father intercourse with hisbiological child. In this incest problem is not only to show thatthere is repression against the perpetrators of the body only,but there are mechanisms of repression through languageinherent in the subject (people). This has encouraged the subjectto blame or stigma given to life, as perverts, sinners, and so on.Besides language stating that the discussion of incest inparticular or in general sex is taboo, making this issue difficultto unfold and always hidden. Because such talk is forbidden tothe public, because it was considered unethical. So while thereis repression either through natural language in the subjectunconscious or physically massive and evolving, but theincidence of incest continues to exist.Keywords: Language, Repression, Incest, Subject, Promiscuity,Structur
KEGIATAN DISKUSI “JUMAT MALAM” DI UIN SUNAN KALIJAGA: PERSPEKTIF MUTU PERGURUAN TINGGI
Artikel ini membahas tentang pelaksanaan diskusi ‘jum’at malam’di UIN Sunan Kalijaga. Berangkat dari keprihatinan atas potensi akademik dosen IAIN Sunan Kalijaga penyelenggaraan diskusi diharapkan memberikan kebiasaan tulis-menulis makalah multidisiplin, multijurusan dan multifakultas. keprihatinan tersebut dipecahkan melalui diskusi ‘jum’at malam’. Artikel ini berusaha menjawab apa yang menjadi pendorong tetap diselenggarakannya diskusi ‘jum’at malam’dalam konteks kemanfaatannya, serta masalah apa yang seharusnya dilakukan dalam penyelenggaraannya dalam membantu memecahan problem-problem bangsa.Artikel ini merupakan hasil penelitian lapangan yang didukung dengan data kepustakaan. penelitian lapangan dilakukan di tengah para peserta diskusi yang aktif. Dengan asumsi bahwa para peserta diskusi lah yang mendapatkan kemanfaatan akan jalannya diskusi. Hal-hal yang mendorong diselenggarakannya diskusi jum’at malam terkait dengan adanya kemanfaatanakademis. dalam rangka mendukung ‘integrasi-interoneksi’keilmuan di UIN Sunan Kalijaga.Key words: Diskusi jumat malam, intedisipli
Religion, Radicalism and National Character: In Perspective of South Sulawesi Local Wisdom
It is widely believed that Indonesia is encountering an issue of disharmony due to a number of horizontal conflicts which are based on ethnics, religions, and races. In addition, there are many social issues also happen in recent years that stimulate the conflicts. For example, the rampant of drugs users across the country and the increase of significant number of terrorists in many regions in Indonesia. The writer believes that one of the main reasons of these conflicts is lacking of understanding nation charachter as well as local wisdoms that owned by certain community. In the mean time, Indonesia as country is rich of characters that can unite community under the flag of nation and diminish conflicts among them. In the context of South Sulawesi region, there are, at least, three different characters that can decrease the emergence of radicalism. Firstly, respect to the difference. Secondly, they are open-minded. Thirdly, maintaining tradition of ashame (siri) as a local genius. These characters are social capitals of South Sulawesi communities in tackling radicalism understanding. The writer come to conclude that if every single ethnics in Indonesia make their local genius as their philosophy in daily life, the radicalism movement might be tackled across the country.[Dipercaya secara luas bahwa Indonesia menghadapi masalah ketidakharmonisan karena sejumlah konflik horizontal yang didasarkan pada etnis, agama, dan ras. Selain itu, ada banyak masalah sosial juga terjadi dalam beberapa tahun terakhir yang merangsang konflik. Misalnya, merajalela pengguna narkoba di seluruh negeri dan meningkatnya jumlah teroris yang signifikan di banyak wilayah di Indonesia. Penulis percaya bahwa salah satu alasan utama dari konflik ini adalah kurangnya pemahaman tentang karakter bangsa dan juga kearifan lokal yang dimiliki oleh masyarakat tertentu. Sementara itu, Indonesia sebagai negara kaya akan karakter yang bisa menyatukan masyarakat di bawah bendera negara dan mengurangi konflik di antara mereka. Dalam konteks wilayah Sulawesi Selatan, setidaknya ada tiga karakter berbeda yang dapat menurunkan kemunculan radikalisme. Pertama, hargai perbedaannya. Kedua, mereka berpikiran terbuka. Ketiga, menjaga tradisi ashame (siri) sebagai jenius lokal. Karakter ini adalah ibu kota sosial masyarakat Sulawesi Selatan dalam mengatasi pemahaman radikalisme. Penulis kemudian menyimpulkan bahwa jika setiap etnis di Indonesia membuat jenius lokal mereka sebagai filosofi mereka dalam kehidupan sehari-hari, gerakan radikalisme dapat ditangani di seluruh negeri.
Understanding Hadith of The Prophet: The Image and Variety of Muslims’ Awareness in the Region of Gowa
This paper presents an extensive examination about understanding Hadith (the Prophetic Tradition); the image and the range of Muslim society awareness in the region of Gowa. The study focuses on the village of Paccinongang in Gowa regency. Data collection techniques implemented include questionnaires, observation sheets, interview records, and direct observation in the field, and the analysis method applied is that of the qualitative-descriptive analysis. The level of the Muslim society’s knowledge of the Prophet’s Hadith in the village of Paccinongang is relatively low, to the extent that, broadly put, they can barely distinguish between the Qur’an and Hadith. The situation similarly applies in their level of understanding of the Prophet’s Hadith. However, there is a correlation between the level of understanding of Hadith and the level of its implementation. The better one’s awareness is, the higher the level of his implementation. In addition, the interest of the Muslim society in the Village of Paccinongang in studying the Prophet’s Hadith is relatively high. They wish for specific Hadith instructions and assessments in both formal and non-formal conducts. Additionally, the perception of Muslim society in the Village of Paccinongang about the position of the Department of Tafsir Hadith of UIN Alauddin as a learning institution for the Prophet’s Hadith is amazingly positive. The proof is that about 71% of respondents chose formal education as a fitting set for Hadith learnings.[Artikel ini mengkaji secara mendalam tentang pemahaman hadis Nabi saw, yakni potret dan ragam pengetahuan masyarakat Muslim Kabupaten Gowa. Fokus penelitian ini adalah kelurahan paccinongang Kab. Gowa. Tingkat pengetahuan masyarakat muslim kelurahan Paccinongang tentang hadis Nabi tergolong masih rendah kecuali bahwa pada umumnya mereka dapat membedakan al-Qur’an dan Hadis Nabi. Demikian pula tingkat Pemahaman masyarakat Muslim di Kelurahan Paccinongang Kecamatan Somba Opu, Kabupaten Gowa tentang hadis Nabi pada umumnya juga masih rendah. Namun, ada korelasi antara tingkat pemahaman hadis dan tingkat pengamalannya. Semakin tinggi pemahaman seseorang tentang hadis Nabi, maka semakin tinggi pula tingkat pengamalannya. Di samping itu,Minat masyarakat Muslim di Kelurahan Paccinongang, Kecamatan Somba Opu Kabupaten Gowa mempelajari hadis Nabi tergolong tinggi. Mereka menginginkan agar ada pengajian khusus hadis dan pengkajian hadis, baik secara formal maupun non formal. Selain itu, persepsi masyarakat Muslim Kelurahan Paccinongang kecamatan Somba Opu Kabupaten Gowa tentang posisi dan kedudukan Jurusan Tafsir-Hadis UIN Alauddin sebagai institusi pembelajaran hadis Nabi sangat positif. Terbukti bahwa sekitar 71% responden memilih jalur pendidikan formal sebagai tempat belajar hadis.
KONSTRUKSI SOSIAL PEREMPUAN DALAM KEKERASAN RUMAH TANGGA DI BANJARNEGARA, JAWA TENGAH
Marriage is something wishful many people to be found happiness inside, life together with loveliness and make a contract. Unfortunately, not forever a domestic trip to be present in space happiness. Fact in societal, occurred a domestic violence. Domestic violence occurred by husband to wife. The subject or doer of violence is not people without religion or not understand with the doctrine in religion. Unfortunately, although in religion measure domestic violence is not legal but it’s always present.Sokanandi RT 05 RW III Banjarnegara it’s one of territory with quantity domestic violence exactly tall, however attention at this case rarely finished. Consequently, this research purpose to understand how about social construction wife in family, cause occur domestic violence, and shape domestic violence happened.This research is qualitative research with analytic-descriptive approach. Accumulation data used observation method, interview, and documentation. The primary source from result observation and result interview it’s from official Religious Courts of Banjarnegara, village head’s office of Sokanandi, RT, ustadz, and respondent domestic violence. The secondary source included from document, website, and competent books. The analysis data use three phases, which is reductions data, display data, and verification data. Researcher use gender theory and feminism as instrument to analyze.Keywords: Social Construction, Domestic Violence, Femal
Kerukunan Umat Beragama sebagai Cita-cita Etis (Tinjauan Perspektif Etika Filosofis-Religius)
This paper is a philosophical reflection and analysis by the writer, who is doing research on religious radicalism in Indonesia. The main idea is the principle of religious harmony as a social norm and ethical idealism. From the perspective of philosophical and religious ethics, the condition of harmonious diversity represents the social-good that should be manifested in ways that justified ethically as well. Theoritically, the norm of harmony contains etiquettes, rational consideration, and can be justified in terms of obligations and responsibilities, and in line with the principles of moderation.Keywords: Religious harmony, Ethics, Religion
GELIAT ORGANISASI PEMUDA LINGKUNGAN (OPL) DALAM RANAH GERAKAN LINGKUNGAN DI YOGYAKARTA
Gerakan sosial telah bertransformasi menjadi Gerakan Sosial Baru (GSB), salah satunya adalah gerakan lingkungan. Gerakan lingkungan merupakan salah satu bentuk kegelisahan umat manusia atas berbagai permasalahan lingkungan. Salah satu aktor penggerak dalam upaya gerakan lingkungan adalah Organisasi Pemuda Lingkungan (OPL). OPL tumbuh dan berkembang di Indonesia untuk turut berperanserta aktif dalam kepedulian terhadap lingkungan. Berbagai kharakteristik unik dimiliki oleh OPL membedakannya dengan organisasi pemuda ataupun organisasi lingkungan lain.Yogyakarta menjadi salah satu kota di Indonesia yang memiliki populasi OPL terbesar. Tercatat ada 21 OPL aktif berkegiatan di kota ini, dengan segala keterbatasan sekaligus kelebihannya. Berbagai cara dilakukan OPL di Yogyakartauntuk dapat ikut berkontribusi dalam gerakan lingkungan, mulai dari sekedar pengkreator konsep, agen perubahan, ataupun pelaksana aksi di lapangan. Target grup dari aksi lingkungan OPL di Yogyakarta beragam dari anak-anak, kaum muda, komunitas, hingga publik.Kata Kunci: Gerakan Lingkungan, Organisasi Pemuda Lingkungan (OPL), Yogyakart
SPIRITUALITAS ISLAM DALAM BUDAYA WAYANG KULIT MASYARAKAT JAWA DAN SUNDA
Wayang kulit merupakan bentuk seni dan kebudayaan tertua di pulau Jawa khususnya, dan Indonesia pada umumnya. Seni wayang kulit pada mulanya merupakan pemujaan agama lokal yang memiliki dimensi spiritualitas yang bertemu dengan estetika budaya. Dimensi spiritualitas wayang kulit terkait dengan pelaku dari kesenian itu, terutama masyarakat yang melahirkan kebudayaan wayang, yaitu seniman dan penikmat wayang. Kedudukan sosial keagamaan seniman dan penikmat wayang sangat berpengaruh dalam corak pertunjukan wayang kulit. Di Jawa, wayang kulit memiliki spiritualitas Islam yang bertemu dengan budaya Kejawen, sehingga keislaman yang diekspresikannya masuk ke dalam kebudayaan “asli” Jawa, melahirkan spiritualitas keislaman yang heterodok. Berbeda dengan wayang kulit di masyarakat Sunda, yang menonjolkan nuansa keislamannya dalam mengeskpresikan spiritualitas wayang kulit baik dalam simbol maupun isi.Hal ini ditunjukkan dari model-model wayang kulit yang dibuatnya yang mengalami improvisasi dan kombinasi dengan budaya Arab dimana tempat agama Islam itu berasal, seperti pakaian sorban Arab pada tokoh wayang, dan munculnya kelompok Punokawanan yang terdiri dari sembilan wali yang mencerminkan sembilan tokoh penyebar agama Islam. Selain itu, ekspresi spiritualitas wayang kulit di Sunda lebih kepada filosofi dan spiritualitas Islam yang berbasis pada ortodoksi agama yang membawa pesan etika dan sosialita secara simbolis. Kata Kuci : Wayang Kulit, Spiritualitas Islam, Simbol Etika dan Estetika
تفسير الشيخ توان سؤوانساس "القرآن ترجمة وتفسير باللغة التايلاندية" وتأثيره على مفهوم الجهاد عند مجلس شيخ الإسلام فى تايلاند
حاول هذا البحث التعرف عن منهجية التفسير للشيخ توان سؤوانساس فى تفسيره القرآنترجمة وتفسير باللغة التايلاندية، ومدى تأثيره على مجلس شيخ الإسلام حول قضية الجهاد. هذاالبحث مهم للتعرف على ارتباط هذا التفسير بمجلس شيخ الإسلام. وكشف هذا البحث أنتفسير توان سؤوانساس يحتوى على اتجاهين فى التفسير وهما اتجاه التفسير بالرواية واتجاه التفسيربالرأي، وأن أفكار الشيخ توان سؤواساس حول قضية الجهاد فى هذا التفسير قد تؤثر كثيرا علىمفهوم الجهاد عند مجلس شيخ الإسلام. واستخلص هذا البحث فى النهاية أنه لا يجوز الجهادالقتالى باستعمال الأسلحة فى هذا البلد، لأن من شروط جواز الجهاد المسلح هو منع إظهار شعارالإسلام أو أمر بترك الشهادة، وبالنظر فى المجتمع التايلاندى الآن كل هذا لا يقع حيث يعطىالقانون التايلاندى لمعتنقى كل الديانات حرية فى الاعتقاد والعبادة، فلا يُمنع المسلمون من.الاعتقاد بالمعتقدات الإسلامية ولا يمنع العبادة والعمل بما شرع به دينهالكلمات المفتاحية: تفسير توان سؤوانساس، مفهوم الجهاد، مجلس شيخ الإسلام، الخلاف فى.جنوب تايلان