UIN (Universitas Islam Negeri) Sunan Kalijaga, Yogyakarta: E-Journal Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam
UIN (Universitas Islam Negeri) Sunan Kalijaga, Yogyakarta: E-Journal Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran IslamNot a member yet
1356 research outputs found
Sort by
Claiming Abrogation of Pre-Islamic Religions; Contesting the Idea of Islam’s Abrogation to Previous Religions
This paper discusses surah Āli ‘Imrān [3]: 85 that is believed is not the abrogator of surah al-Baqarah [2]: 62. Surah al-Baqarah [2]: 62 is an inclusive ayah that informs the evidence of acknowledgement of the al-Qur’an upon the safety of adherents of religions. All ayahs of the al-Qur’an are the selected revelations that are operative in its nature. In the case of contradiction, they should be contextually understood based on their socio-historical background, as it is stated in its criteria that the abrogation is only enforced upon ayahs on law, and not for informative ayahs (ikhbāriyyah). This research employs a research method mapping the pros and the cons of interpretation using qualitative analysis. In collecting data, this research applies library research of the commentary books from classic to modern-contemporary periods as primary sources with socio-historical approaches. It also incorporates uṣūl fiqh and hermeneutics theories to analyse the text. This research finds out that Islam which is prescribed to the prophet Muhammad cannot abrogate the existence of pre-Islamic religions. The abrogation of religions is conflicted with the reality of the continuity of the Prophet Muhammad’s revelation. Islam is a religion of all prophets, and Islam that is prescribed to the prophet Muhammad is a continuation and a complementary to the legacies from previous religions. The idea of abrogating religions means to ignore part of the rules of an abrogation theory itself. Surah al-Baqarah [2]: 106 is not a base for the abrogation of previous religions. This ayah suggests a supposition, not a necessity of the abrogation.[Artikel ini mendiskusikan surat Āli ‘Imrān [3]: 85 yang diyakini sebagai ayat yang tidak me-nasakh surat al-Baqarah [2]: 62. Surah al-Baqarah [2]: 62 adalah ayat inklusif yang menginformasikan bukti pengakuan dari al-Qur’an atas keselamatan penganut agama-agama. Semua ayat al-Qur ’an adalah wahyu yang dipilih yang beroperasi sesuai sifatnya. Dalam kasus kontradiksi, mereka harus dipahami secara kontekstual berdasarkan latar belakang sosio-historisnya, seperti yang dinyatakan dalam kriterianya bahwa abrogasi (nasakh) hanya diberlakukan pada ayat-ayat hukum, dan bukan untuk ayat-ayat informatif (ikhbāriyyah). Penelitian ini menggunakan metode penelitian pemetaan pro dan kontra penafsiran dengan menggunakan analisis kualitatif. Dalam mengumpulkan data, ia menggunakan penelitian kepustakaan dari beberapa kitab tafsir dari masa klasik hingga periode modern kontemporer, sebagai sumber utama dengan pendekatan sosio-historis. Ini juga menggabungkan teori ushul fiqh dan hermeneutika untuk menganalisis teks. Penelitian ini menemukan bahwa Islam yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad tidak dapat me-nasakh/membatalkan keberadaan agama pra-Islam. Pembatalan agama bertentangan dengan realitas kontinuitas wahyu Nabi Muhammad SAW. Islam adalah agama semua nabi, dan Islam yang diturunkan kepada Nabi Muhammad adalah kelanjutan dan pelengkap warisan dari agama-agama sebelumnya. Gagasan untuk membatalkan agama berarti mengabaikan sebagian dari aturan dari teori abrogasi/nasakh itu sendiri. Surah al-Baqarah [2]: 106 bukanlah dasar untuk pembatalan agama- agama sebelumnya. Ia menunjukkan sebuah dugaan, bukan keniscayaan pembatalan.
Nasyr Da‘watu al-Tasawwuf sl-Ijtimā‘ī li Mukāfahati sl-Irhāb wa al-Tatarruf
Terrorism and radicalism are arguably against religion, law, and human nature. None of the religions on this earth encourage both actions. Whenever those doctrines are found and spread, it must be coming from a corrupt source. Terrorism and extremism are necessary and urgent issues. Both have become the enemy of all government in the world. The governments have tried to resist and fight against it in several ways and methods, but this case is still continued until our time now but grew and prospered. Based on this recent situation, this research reveals an issue, i.e. how Social Mysticism (al-Tasawuf al-Ijtima’i) and its characteristics became an approach to fighting terrorism and radicalism. Social Mysticism is an applicative formula for the teachings of mysticism and Sufism. This kind of mysticism teaches humanism value that elevates the dignity of human being. Social mysticism teaches tolerance and compassion among people, whatever their religion and their beliefs. It is in contrary to the thought of the terrorist and takfiri group that called to rigorism, violence, and bombing in the name of religion. Social mysticism gives an example through practical ways, e.g. moral of being noble, altruism and friendship. These morals are key in establishing a proper civil society
KERENGGANGAN SOSIAL JAMAAH MAJELIS TAFSIR AL-QUR’AN (MTA) DENGAN WARGA DUSUN KUNANG, BAYAT, KLATEN
This paper would like to lift the social phenomenon in a society that has a different understanding of related social movements that based on the teachings of the Islamic religion. The rise of the Islamic movement-gerkan certainly has the characteristic of each though their main goal is the same to improve the situation of the Muslims, this difference can undoubtedly gave rise to conflict between groups. Assembly Tafir Qur\u27an (MTA) is one of the Islamic movement that aims to restore the Muslims in accordance with the Qur\u27an and Hadith. The birth of the MTA with all his teachings amongst the people had given the huge impact, the religious doctrine that does not comply with the Community poses a variety of problems. The social tension among worshipers MTA hamlet with Village communities in addition to the Glow caused by different religious doctrine there is also social jealousy because of the proximity of the Government apparatus with MTA Worshipers Village which is considered more powerful than the village officials so that more free in the conduct. However there are positive influences arising out of such kerenggangan good for the MTA nor the people themselves and present the relationships established between the MTA and the general nature of the symbiosis komensalisme.Keywords: Social Tensions, The Tafsir Al-Qur\u27an, Social Movement
Pelaksanaan Siyāsah Syar‘iyyah di Aceh
Siyāsah Syar’iyyah merupakan sistem politik yang mengelola urusan pemerintahan dan rakyat Islam dalam setiap aspek. Kaedah pengelolaan tersebut berdasarkan dalil-dalil syari’ah yang terdiri dari alQur’an dan SunnahNabi yang ditafsirkan oleh para ulama. Jika kaedah pengelolaan tersebut tidak disebut dalam dalil al-Qur’an dan Sunnah Nabi, maka ia diambil dari pendapat imam mujtahid dengan syarat tidak bertentangan dengan ketetapan-ketetapan umum dan kaedah-kaedah yang ditetapkan oleh syari’at Islam.Tujuan utama dari pelaksanaan Siyāsah Syar‘iyyah adalah memastikan kepentingan umum masyarakat agar terciptanya kemaslahatan dan terhindarnya masyarakat dari kemudharatan.Tulisan ini mengkajipraktek Siyāsah Syar‘iyyah di Provinsi Aceh yang dibahas melalui dua kebijakanyakni:(1)penerapan syari’at Islam; dan (2) institusionalisasi Wilāyat al-Ĥisbah (WĤ).Kata kunci:Siyāsah Syar‘iyyah, Syari’at Islam, Wilāyat al-Ĥisbah (WĤ)
SOSIALISASI NILAI-NILAI AGAMA DI KALANGAN MAHASISWA PROGRAM STUDI SOSIOLOGI AGAMA UIN SUNAN KALIJAGA
Tulisan ini bertujuan untuk membahas problematika sosialisasi nilai-nilai agama di kalangan mahasiswa, terutama di kalangan mahasiswa Prodi Sosiologi Agama Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Kalijaga. Tulisan yang merupakan hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan dalam merancang format sosialisasi nilai-nilai agama yang tepat di kalangan generasi muda untuk mewujudkan nilai-nilai yang lebih baik di kalangan generasi muda Indonesia, mengingat bahwa dalam kehidupan sehari-hari tidak jarang ditemukan kesenjangan yang cukup tajam antara nilai-nilai agama dengan perilaku umat sehari-hari.Sosialisasi nilai-nilai agama di kalangan mahasiswa masih perlu peningkatan. Untuk sosialisasi nilai-nilai agama itu dibutuhkan keteladanan yang baik. Di samping itu, sosialisasi nilai-nilai di kalangan mahasiswa selayaknya melalui kegiatan yang menarik dan interaktif, Untuk menghindari pendidikan nilai yang bersifat indoktrinatif, para mahasiswa perlu didorong untuk dapat menemukan alasan-alasan yang mendasari keputusan moral yang diambilnya. Kata kunci: sosialisasi, nilai-nilai, mahasisw
Perilaku Keagamaan Komunitas Muslim (Pemahaman Hadis dalam NU dan Salafi Wahabi di Indonesia)
Perbedaan dalam memahami hadis sudah terjadi sejak masa Nabi. Namun demikian perbedaan pemahaman ini tidak sampai memunculkan perpecahan. Seiring dengan berjalannya waktu dan jarak yang semakin jauh dengan Rasulullah. Perbedaan-perbedaan dalam pemahaman hadis dirasakan semakin tajam, hingga pada masa selanjutnya perbedaan pemahaman tersebut membentuk dua aliran yang secara radikal membentuk kelompok yang berseberangan dan tidak jarang bahkan berujung pada konflik dan kekerasan. Secara garis besar, ada dua tipologi kelompok dalam memahami hadis. Tipologi ini didasarkan pada pendekatan yang digunakan. Pertama, kelompok tekstualis, kelompok ini lebih menekankan pemahaman terhadap hadis Nabi tanpa memperdulikan proses sejarah yang melahirkannya. Kelompok ini lebih mementingkan makna lahiriyah teks, dalam hal ini penekanan teks hadis terfokus hanya pada aspek bahasa. Sedangkan kedua adalah kelompok kontekstualis. Kelompok ini melakukan pemahaman hadis dengan mempertimbangkan asal-usul (asbab al-wurud) hadis, atau konteks yang berada dibalik teks. Kelompok pertama selanjutnya disebut dengan ahl al-ra’yi, sedangkan kelompok kedua disebut dengan ahl al-hadis. Penyebutan kedua istilah tersebut mulai terlihat pada masa sahabat, dan semakin menguat khususnya pada masa perkembangan mu’tazilah sebagai reaksi atas spekulasi teologis kelompok mu’tazilah dan pada masa timbulnya reaksi Asy’ariyah.Dalam konteks Indonesia, perbedaan pemahaman terhadap hadis tentu saja terjadi pada berbagai komunitas muslim di Indonesia. Komunitas yang berbeda-beda ini secara tidak langsung memperlihatkan perbedaan pandangan dan penafsiran terhadap ajaran agama dan hal ini terutama cukup jelas terlihat dalam praktik keagamaan sehari-hari. Salah satu penyebab dari perbedaan dalam praktik keagamaan ini adalah pemahaman mereka yang berbeda terhadap hadis Nabi. Meski mayoritas umat muslim sepakat bahwa hadis merupakan sumber ajaran kedua setelah al-Qur’an, namun demikian tidak ada pemahaman yang sama terhadap sumber ajaran tersebut. Dari sini kemudian, penulis berusaha mengungkap bagaimana pemahaman hadis di NU dan komunitas Salafi Wahabi, sejauh mana perbedaan pemahaman terhadap hadis diantara keduanya dan apa yang melatarbelakangi perbedaan pemahaman terhadap hadis, kitab-kitab apa saya yang dipelajari sebagai pemandu dalam memamahi hadis serta bagaimana implikasi dari pemahaman hadis tersebut terhadap praktek keagamaan mereka. Lebih jauh, penulis ingin memperlihatkan bagaimana keragaman Islam Indonesia serta bagaimana perbedaan ini agar bisa dikelalola secara baik sehingga meminimalisir konflik yang terjadi akibat perbedaan penafsiran terhadap ajaran agama.
The Role of Traditional Islamic Boarding School-Based Islamic Studies as Radicalism and Intolerance Flow’s Blocking Agent
In Indonesia, the attitude of radicalism and intolerance within Islam has flourished over the last few decades. There are several factors that encourage the emergence of it. One of them is the waning of Islamic Studies in various educational institutions today. As a result, Islam is only understood to be a matter of aqeedah and worship. Basically, many studies have been conducted to tackle radical and intolerant behavior with various approaches: social, political, economic, etc. In this paper, one offer of solutions through Islamic Studies in traditional Islamic Boarding School education institutions will be discussed. The findings in the field stated that the curriculum applied in Islamic Boarding School became one of the significant factors in the efforts of deradicalization. It can not be separated from the open-minded learning method and various teaching materials of Islamic Boarding School that made students to be familiar with diversity.[Di Indonesia, sikap radikalisme dan intoleranisme dalam Islam tumbuh subur selama beberapa dekade terakhir. Ada beberapa macam faktor yang mendorong munculnya hal tersebut. Salah satu di antaranya adalah memudarnya kajian Islamic Studies dalam berbagai lembaga pendidikan dewasa ini. Akibatnya, Islam hanya dipahami sebatas persoalan akidah dan ibadah saja. Pada dasarnya telah banyak studi dilakukan guna menanggulangi perilaku radikal dan intoleran dengan berbagai pendekatan: sosial, politik, ekonomi, dll. Dalam tulisan ini akan dibahas salah satu tawaran solusi melalui Studi Islam dalam lembaga pendidikan pesantren tradisional. Temuan di lapangan menyatakan bahwa kurikulum yang diterapkan di pesantren menjadi salah satu faktor signifikan dalam upaya deradikalisasi. Hal ini tak lepas dari metode pembelajaran pesantren yang terbuka serta bahan ajar yang beragam sehingga menyebabkan santri terbiasa dengan perbedaan.
The Doctrine of Logos Within Ibn ‘Arabi Mystical Philosophy
There are no less than twenty-two terms which Ibn ‘Arabi uses to designate what one might call a Mohammedan Logos. References to these terms, with explanations, will be given later. The reason, why we find Ibn‘Arabi using such a large collection of terms for one thing, is twofold. In the first place, it is due to the fact that he derived his material from so many divergent sources, preserving, so far as possible, the terminology of each source. Here, e.g., he is using terms borrowed from Sufis, scholastic theologians, Neo-platonists, the Qur’an and so on. Secondly, his pantheism enables him to use the name of anything for the One Reality which is the ultimate ground of all things. The terms to below refer to different aspects of the One Reality which is now regarded as the Logos.[Tidak kurang dari sekitar 22 istilah yang digunakan oleh Ibn ‘Arabi untuk merujuk apa yang disebut sebagai “logos Muhammad”. Beberapa referensi bagi istilah tersebut dengan penjelasannya akan dijelaskan berikutnya. Terdapat dua alasan utama yang menjadikan Ibn ‘Araby menggunakan puluhan istilah untuk menyebut hal yang sama. Pertama, dikarenakan adanya fakta bahwa ia mengambil seluruh material dari berbagai macam sumber dan sebisa mungkin mempertahankan istilah dari masing-masing sumber. Dalam hal ini, ia meminjam istilah dari kelompok sufi, teolog skolastik, neo-platonis, al-Qur ’an dan yang lainnya. Kedua, panteisme-nya memungkinkan untuk memakai beragam nama sesuatu bagi satu realitas yang menjadi pusat dari segala sesuatu. Istilah-istilah yang begitu banyak merupakan aspek-aspek yang berbeda dari Realitas Yang Satu yang kini dipandang sebagai Logos.
Tantangan Agama dalam Abad Modern
Hegemoni sains dan teknologi dari negara-negara maju [industrial] merupakan kenyataan dalam peradaban modern, yang telah dimanfaatkan ideologi kaptalisme untuk menerapkan model-model pembangunan di negara-negara di Dunia Ketiga [developmentalisme] dengan secara konsisten menerapkan paradigma dari filsafat positivisme. Dengan berpijak dari positivisme dalam ilmu pengetahuan sosial pada khususnya maka pengaruhnya sangat kuat dalam pembentukan teori-teori, analisa yang dibuat dan dalam mengambil kebijaksanaan dan keputusan terhadap masalah-masalah sosial dan kemanusiaan.Kata Kunci: Hegemoni, kapitali
POKOK-POKOK PIKIRAN DALAM MANIFESTO HUMANISME RELIGIUS (KAJIAN DARI PERSPEKTIF SOSIOLOGI AGAMA)
Artikel ini membahas tentang pemikiran manifestohumanisme, dan humanisme religius dalam perspeektifsosiologi agama. Salah satu bentuk keragaman humanismeapa yang disebut religius humanisme. religius humanismetelah mengeluarkan manifesto humanisme religius I danII. Tulisan ini mencoba memberikan analisis tentangreligius humanisme dalam perspektif sosiologi agama danmanifesto I dan II. Semoga tulisan ini ada manfaatnya.Pikiran-pikiran yang terkandung dalam manifestoHumanisme tidak hanya terdapat di bidang teoritis, akantetapi juga di bidang praktis terutama dalam perspektifsosiologi agama yang berkaitan dengan pseudo-agama(agama semu). Pseudo-agama memperlihatkan segi-segiagama murni, tetapi didalamnya manusia menghubungkandiri tidak dengan sesuatu yang bersifat mutlak melainkankepada realitas yang terbatas. Disinilah kita perlu lebihsadar, bahwa salah satu gejala sosial yang menonjol dewasaini muncullah pluralisme. Pluralisme sebagai “situasidimana tersedia lebih dari satu pandangan hidup yangmasing-masing menawarkan visinya termasuk didalamnyapseudo-agama. Dari lima pseudo-agama, Marxime,biologisme, rasisme, sekularisme dan humanisme masingmasing mempunyai value yang mereka tawarkan danmemperlihatkan reaksi terhadap agama resmi.Kata kunci: Humanisme religius, humanism