UIN (Universitas Islam Negeri) Sunan Kalijaga, Yogyakarta: E-Journal Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam
UIN (Universitas Islam Negeri) Sunan Kalijaga, Yogyakarta: E-Journal Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran IslamNot a member yet
1356 research outputs found
Sort by
Hermeneutika Modern dan Implikasinya Terhadap Islamic-Studies
As a new perspective that brings great influence in the study of contemporary Religion, the presence of hermeneutics in turn also influences the study of Islam. The presence of hermeneutics in Islamic studies is of course originated from the character of Islamic thought, as almost all types of religious thought, which tend to be multi-interpreted. The following text is generally more likely to see the influence of hermeneutics on Islamic Studies and more specifically its influence on the interpretation of the Qur’an.[Sebagai sebuah perspektif baru yang membawa pengaruh besar dalam studi Agama kontemporer, kehadiran hermeneutika pada gilirannya juga berpengaruh terhadap kajian Islam. Kehadiran hermeneutika dalam kajian Islam ini tentu saja berawal dari karakter pemikiran Islam, sebagaimana hampir semua jenis pemikiran keagamaan, yang cenderung bernuansakan multi-interpretasi. Tulisan berikut secara umum lebih cenderung melihat pengaruh hermeneutika terhadap Islamic-Studies dan secara lebih khusus lagi pengaruhnya terhadap interpretasi kitab suci Al-Qur’an.
BEBERAPA ASPEK DIMENSI NILAI AKSIOLOGIS MAX SCHELER DAN RELEVANSINYA PADA PRAXIS INTER-FAITH
Based on what accentuated by Max Scheler on axiological dimension, thisarticle seeks to explore what aspects discussed in the axiological values and therelevance of the values on interfaith initiatives. The ever-present issues of conflict,radicalization and religiously-motivated violence has led the idea on how toapproach some ways toward the alternative solution. The queries are what isaxiological dimension of values in Scheler’s perspective? and what is the relevanceof the values on interfaith realm in religious studies perspective? The study showsthat the axiological dimension consisting of the values that needed to be foundobjectively as the ethical basis for human interaction in everyday life. In Scheler’sview, human without values is absurd; one needs moral values in order to live ameaningful life. The essence of values is present with or without human’s practice.The relevance of the value is profound in interfaith realm since it forms humanidentity and determines peaceful coexistence among people of different faiths
Orientasi Agama Para Samanera dan Atthasilani di Vihara Dhammadipa Arama, Mojorejo, Kota Batu, Malang, Jawa Timur
Adapun judul tulisan ini adalah Orientasi Agama para Samanera dan Atthasilani di Vihara Dhammadipa Arama, Mojorejo, Kota Batu, Malang, Jawa Timur. Penelitian ini bertujuan untuk meneliti motif yang mendorong dan tahapan menjadi Samanera, Atthasilani melalui pendekatan psikologi agama menggunakan metode analisis Gordon W. Allport tentang orientasi intrinsik, ekstrinsik dan teori pendukung yaitu motivasi menjadi Samanera dan Atthasilani dalam pandangan agama Buddha serta Lawrence Kohlberg tentang tahapan perkembangan moral.Jenis penelitian penulis menggunakan metode kualitatif yaitu penelitian lapangan. Untuk metode pengumpulan data penulis yaitu observasi, wawancara, dan dokumentasi. Dari segi pengumpulan data, penulis melakukan observasi dengan mengamati gejala yang ada dalam objek penelitian serta wawancara dengan Bhikkhu Khanthidaro selaku Kepala Vihara Dhammadipa Arama, Bhikkhu Santacito, Samanera, Atthasilani, dan dokumentasi berupa buku-buku yang terkait dengan penelitian. Sedangkan pengolahan data penulis menggunakan analisis data yaitu dengan metode deskriptif.Data yang dianalisis adalah orientasi agama bagi Samanera dan Atthasilani. Hasil penelitian menunjukkan dua hal. Pertama, motif yang mendorong menjadi Samanera dan Atthasilani yaitu berasal dari kesadaran diri dan didorong dari keluarga, saudara, Guru, teman yang membuat semakin yakin menjalani kehidupan Samanera serta Atthasilani. Kedua, tahapan menjadi Samanera dan Atthasilani melalui tes yang diuji Bhikkhu dengan menghafal beberapa sila, lalu ditahbis menjadi Samanera dan Atthasilani dengan melalui prosesi cukur rambut dan pemakaian jubah. Pada saat menjalani kehidupan Samanera dan Atthasilani diberi penilaian dalam menerapkan 10 sila bagi Samanera ditambah 75 latihan tambahan dan 8 sila bagi Atthasilani untuk konsisten sampai lulus ke jenjang Bhikkhu maupun Atthasilani tetap.Kata kunci: Orientasi, agama, Samanera, Atthasilani
PERAN SOSIAL VIHARA BUDDHA PRABHA DALAM MEMELIHARA KERUKUNAN UMAT BERAGAMA DI YOGYAKARTA (STUDI PERAN ORGANISASI GENERASI MUDA CETIYA BUDDHA PRABHA [GMCBP] PERIODE 2016-2017)
Yogyakarta disebut dengan kota toleransi, tetapi saat ini justru tingkat intoleran di Yogyakarta semakin tinggi. Hal ini dapat dilihat melalui berbagai kasus di Yogyakarta yang berlatarbelakang SARA, seperti penyerangan rumah ibadah, penutupan rumah ibadah, dan lain-lain. Salah satu cara untuk memelihara kerukunan umat beragama di Yogyakarta yaitu melalui peran sosial rumah ibadah. Vihara Buddha Prabha merupakan salah satu rumah ibadah di Yogyakarta yang memiliki peran sosial. Peran sosial Vihara Buddha Prabha yaitu sebagai tempat untuk menumbuhkan keharmonisan antar pemeluk agama dan memfasilitasi terwujudnya kerukunan umat beragama melalui berbagai macam kegiatan sosial. Kegiatan sosial di Vihara Buddha Prabha terbuka untuk masyarakat di Yogyakarta tanpa membeda-bedakan agama, suku, ras, dan budaya. Peran Vihara juga menunjukkan pada keterlibatan organisasi dalam melakukan usaha-usaha menciptakan kerukunan antar umat beragama melalui kegiatan vihara. Kegitan sosial yang terdapat di vihara diantaranya yaitu membersihkan vihara, talk show kesehatan bagi mahasiswa, donor darah, pembagian sembako, perpustakaan, dan meditasi. Melalui berbagai macam kegiatan sosial yang berhubungan dengan masyarakat dengan tidak membeda-bedakan agama, maka vihara mempunyai peran sosial sebagai salah satu solusi untuk mengatasi permasalahan sosial seperti kerukunan, ekonomi, pendidikan, dan lain-lain. Teori yang digunakan dalam penelitian ini yaitu menggunakan teori fungsionalisme Emile Durkheim.Kata Kunci : peran sosial, vihara, organisasi, dan kerukunan umat beragam
Fungsi Performatif dan Informatif Living Hadis dalam Perspektif Sosiologi Reflektif
Studi sosial atas praktik beragama yang berazaskan al Quran dan Hadis memanfaatkan teori resepsi sosial, yaitu hasil pembacaan terhadap teks yang terjelma dalam bentuk penafsiran tertentu dan dilembagakan ke dalam praktik beragama. Teori resepsi membedakan antara tiga bentuk, resepsi eksegesis, resepsi aestetik dan resepsi fungsional. (Iser dalam Rafiq, 2014) Tulisan ini memfokuskan pada dua bentuk fungsi resepsi fungsional, yakni fungsi informative dan performatif. Keduanya akan dianalisa menggunakan gagasan refleksifitas yang menguji keterlibatan antara subyek penelitian dengan peneliti berdasarkan pada cara pandang sosiologi (Bourdieu, 2007). Sebagai bagian dari upaya pengembangan teori sosial untuk kajian studi living hadis, maka tulisan ini akan memanfaatkan berbagai penelitian living hadis di Indonesia terkini. Sebagai kesimpulan, tulisan ini menunjukkan dua bukti penting dalam berbagai penelitian living hadis, pertama, bahwa kedua fungsi, yakni informative dan performative termasuk ke dalam keilmuan sosial-kritis menurut Habermas, dimana dalam penelitian baik peneliti maupun subyek penelitian melakukan refleksi terhadap praktik yang ada. Refleksifitas merupakan fungsi antara penelitian yang bersifat obyektif (studi sosial kuantitatif) dengan kajian subyektif (kajian tekstual/tafsir). Kedua, berdasarkan obyek penelitian yang bersifat lokal kebudayaan/kelompok masyarakat tertentu, maka penelitian ini merupakan bagian dari representasi atas identitas kelompok atau praktik budaya tertentu
Kitab Hadis Sekunder: Perkembangan, Epistimologi, dan Relevansinya di Indonesia
Artikel ini menjelaskan tentang kitab/buku hadis sekunder, yakni kitab kreasi atas kitab hadis primer sebagai koleksi hadis yang tidak boleh dirubah. Telaah menunjukkan bahwa pasca dihimpunnya hadis-hadis dalam kitab sekunder, maka pada periode berikutnya hingga sekarang, mengalami dinamika format kitab yang berbeda dengan kitab primer. Kitab-kitab hadis sekunder terus mengalami perkembangan sesuai perubahan dan kebutuhan zaman, bahkan di Indonesia memiliki kekhasan utama yakni tambahan terjemahan dan penjelasan. Perkembangan tersebut tidak terlepas dari dimensi epistimologis yang merupakan prinsip-prinsip penting dalam proses penyusunan kitab. Aspek epistimologis dimaksud ialah (a) tujuan penulisan kitab untuk menyampaikan hadis Nabi yang bisa menjelaskan dan mudah diakses, (b) tema atau cakupan bahasan yang sesuai dengan kebutuhan dan perkembangan zaman, (c) sumber rujukan yang memadai dan mekanisme pengambilan yang standar, (d) sistematisasi penyajian sehingga runtut dan mudah dipahami, dan (e) sifatnya yang jelas, mudah, dinamis, dan menarik. Prinsip-prinsip tersebut sangat signifikan dan relevan, sehingga memengaruhi perkembangan kitab-kitab hadis yang relatif lebih dinamis, fleksibel, beragam, menarik, dan efektif.Kata Kunci: Perkembangan, Kitab Hadis, Epistemolog
Filsafat Politik Ibnu Rusyd
During this time Ibn Rushd is known for his Aristotelian philosophy, he is also the greatest commentator on the works of Aristotle. In his political philosophy we will find different things, because in political philosophy he commented on the Republic rather than Aristotle’s Politics. In his political book which is a commentary of Plato’s Repub- lic namely a-arûri fi as-Siyâsah, Ibn Rushd has more in common with Plato than with Aristotle. Nevertheless, Ibn Rushd continued to use the demonstrative method he obtained from Aristotle as a guide in commenting on the Republic. In addition, Ibn Rushd’s political book is also born of the reality of government that he considered not good. This made Ibn Rushd’s political book not only an academic one, but a response to the political situation of his time. His great name as a Muslim philosopher and also a faqih is still clearly visible in his political work which has shari’ah nuances. His ability to make Shari’ah one of the foundations of good and right government made him different from the two Greek philosophers.[Selama ini Ibnu Rusyd dikenal dengan filsafatnya yang beraliran Aristotelian, Ia juga merupakan komentator terbesar atas karya-karya Aristoteles. Dalam filsafat politiknya kita akan menemukan hal berbeda, karena dalam filsafat politik ia mengomentari Re- public bukan Politics Aristoteles. Dalam kitab politiknya yang merupakan komentar dari Republic Plato yaitu a-arûri fi as-Siyâsah, Ibnu Rusyd memiliki lebih banyak kesamaan dengan Plato dibanding dengan Aristoteles. Walaupun demikian, Ibnu Rusyd tetap menggunakan metode demosntratif yang ia dapat dari Aristoteles sebagai pegangan dalam memberikan komentar terhadap Republic. Selain itu, buku politik Ibnu Rusyd juga terlahir dari realita pemerintahan yang ia anggap tidak baik. Hal tersebut menjadikan buku politik Ibnu Rusyd bukan hanya merupakan komentar yang bersifat akademik saja, tetapi merupakan sebuah respon dari keadaan politik pada masanya. Nama besarnya sebagai seorang filsuf muslim dan juga seorang faqih masih terlihat jelas dalam karya politiknya yang memiliki nuansa syari’at. Kemampuannya untuk menjadikan syari’at sebagai salah satu pondasi pemerintahan yang baik dan benar menjadikannya berbeda dengan kedua filsuf Yunani tersebut.
Diskursus Mengenai Tuhan Di Dalam dan Di Luar Metafisika (God Is Being and God Without Being)
“God” is often identified with “exist”. Theologians often identify “God” with essence, substance, or identity. The following illustrations provide interesting examples of theo- logical alignment and metaphysics. But the philosophical way of speaking about God is perceived to be inadequate. This paper would like to discuss the matter of God in the perspective of metaphysics and theology and its comparison with other anti-meta- physical opinions. What theology needs, according to Jean-Luc Marion, is ‘God with- out Being’. This phase does not mean that God is not to be, but that God must be freed from all the categories and conditions that bind the existence as we are, as human beings, we must be (to be) before we can do all our activities.[“Tuhan” yang seringkali diidentikkan dengan “ada”. Teolog kerap kali mengidentikkan “Tuhan” dengan esensi, substansi, atau identitas. Ilustrasi-ilustrasi berikut ini memberikan contoh menarik kesejajaran teologi dan metafisika. Namun cara filsafat berbicara mengenai Tuhan yang dirasa sudah tidak memadai. Tulisan ini ingin membicarakan masalah ketuhanan dalam perspektif metafisika dan teologi dan perbandingannya dengan pendapat-pendapat lain yang anti metafisika. Yang dibutuhkan teologi, menurut Jean-Luc Marion, adalah ‘Tuhan-tanpa-Ada’ (God without Being). Fase ini tidaklah berarti bahwa Tuhan tidak ada (to be), melainkan bahwa Tuhan harus dibebaskan dari segala kategori dan kondisi yang mengikat eksistensi sebagaimana kita alami sebagai manusia, kita harus ada (to be) dulu, baru dapat melakukan segala kegiatan kita.
Uli al-Amr dalam Alquran: Sebuah Aplikasi Teori Kontekstual Abdullah Saeed
Artikel ini membahas tentang persoalan makna dari u>li al-amr dalam Alqur’an. Sejauh ini, pemaknaan terhadap u>li@ al-amr masih menuai perdebatan. Sebut saja seperti persoalan penetapan Syawal dan persoalan nikah sirri (baca: nikah secara samar atau tanpa pengakuan negara). Perbedaan tersebut disebabkan karena terdapat pemaknaan yang berbeda terhadap kata u>li@ al-amr ini. Penelitian ini menggunakan teori kontekstual Abdullah Saeed. Abdullah Saeed menawarkan sistem interpretasi kontekstual yang meliputi, pertama, analisis linguistik dan telaah asba>b an-nuzul mikro-makro. Kedua, penafsiran ulama dari generasi ke generasi. Ketiga, yakni kontekstualisasi. Ketiganya akan digunakan untuk melihat makna historis dan makna kontemporer u>lil al-amr.Kata Kunci: u>li@ al-amr, kontemporer, Abdullah Saeed
Sunnah Nabi dalam Babad Jaka Tingkir
Paper ini berasal dari penelitian yang berusaha menyingkap tentang nilai-nilai Sunnah Nabi yang hidup dalam budaya masyarakat Jawa abad ke-16 M sebagaimana tersirat dalam naskah Babad Jaka Tingkir. Metode yang dipakai adalah penelitian kepustakaan (library research), sementara pendekatan yang digunakan adalah pendekatan filosofis. Dengan menggunakan teori Koentjaraningrat yang menempatkan nilai sebagai pusat atau fondasi paling mendasar dalam sebuah kebudayaan. Penelitian ini mengungkap bahwa nilai-nilai sunnah Nabi sudah terinternalisasi dalam budaya masyarakat Islam Jawa abad ke-16 M