Indonesian Journal of Oil Palm Research / Jurnal Penelitian Kelapa Sawit
Not a member yet
150 research outputs found
Sort by
KEANEKARAGAMAN SERANGGA PADA EKOSISTEM KELAPA SAWIT TERPAPAR INSEKTISIDA DALAM JANGKA PANJANG
Research on insect diversity includes information on species; the diversity and the richness of insect’s species had begun to be carried out in relation to insecticides application for controlling some pests in oil palm plantations. The long-term application of insecticides for 9 months in every two weeks has been implemented as a study of information about kind and diversity of insects in oil palm plantations. The insecticides used consisted of Fipronil as chemical insecticide, Bacillus thuringiensis (Bt) as biological insecticide and a combination of Chlorantraniliprol as green label chemical insecticide (1 times) and Bt (3 times). The insects were trapped using yellow trays trap, Malaise trap and insect nets. The result shows that the insects caught in treatment block were 7,943 individuals, divided into 80 families and 11 orders. The diversity index and number of individuals at the Fipronil block was lower than other treatments due to a decrease in the number of families and individuals, while the Bt application and their combination with Chlorantraniliprole did not affect the diversity index and insect distribution values.Penelitian keanekaragaman serangga meliputi informasi jenis, nilai keanekaragaman dan kekayaan jenis serangga mulai banyak dilakukan berkaitan dengan penggunaan insektisida dalam mengendalikan hama di perkebunan kelapa sawit. Aplikasi insektisida jangka panjang selama 9 bulan dengan rotasi aplikasi dua minggu sekali telah dilakukan sebagai kajian informasi tentang penurunan jenis dan keanekaragaman serangga di perkebunan kelapa sawit. Jenis insektisida yang digunakan terdiri dari insektisida Fipronil, insektisida biologis Bacillus thuringiensis (Bt) dan kombinasi insektisida Klorantraniliprol (1 kali) dan Bt (3 kali). Penangkapan serangga digunakan perangkap nampan kuning, Malaise trapdan jaring serangga. Berdasarkan hasil pengamatan, serangga yang tertangkap pada seluruh lokasi pengamatan sejumlah 7.943 individu, yang terdiri dari 80 Famili dan 11 Ordo. Nilai indeks keanekaragaman dan jumlah individu pada lokasi dengan aplikasi insektisidakimia Fipronillebih rendah daripada perlakuan lain yang disebabkan berkurangnya jumlah famili dan individu, sedangkan pada lahan dengan aplikasi insektisida biologisBt maupun kombinasinya dengan insektisida kimia Klorantraniliprol relatif tidak mempengaruhi indeks keanekaragaman dan nilai sebaran serangga
KARAKTERISTIK PERKEMBANGAN BUNGA DAN BUAH 35 AKSESI ANGOLA KOLEKSI PUSAT PENELITIAN KELAPA SAWIT DI KEBUN ADOLINA PT PERKEBUNAN NUSANTARA IV
Information of oil palm flower and fruit development is very important in the observation plant morphology. This observation was carried out to complete information on vegetative and generative developments which are very useful for oil palm breeding. The success of plant breeding is measured from new varieties with specific advantages. This research used collections of Angola germplasm exploration which were planted in December 2012 at Adolina Estate of PT Perkebunan Nusantara IV. A total of 35 accessions were planted with RCBD designs in 2 trials. Vegetative observation per tree was carried out every year, since the plants were 2 years old. Observation of flower development is done by selecting 2 sample trees per accession by purposive sampling. A total of 70 trees were observed for flower development to become fruit every 10 days for each frond. Data on flower development were grouped by BBCH (Biologische Bundesantalt Bundessortenamt und Chemische Industrie) scale. In addition to the morphological and flower developmental stages, this study also calculated the age between developmental phases from the appearance of one leaf to the mature harvesting bunches in all midrib and tree samples. The results showed that generative development of the 35 Angolan accessions can be arranged according to the BBCH scale, beginning with the appearance of the first leaf, the appearance of the flower, female / male flowers blooming (receptic / anthesis), bunches formation to mature ripe bunches. AGO038 accession only requires 385 days (12.8 months), calculated from the time the first leaf appears to the mature ripe bunches, but AGO049 produces faster harvested ripe bunches when calculated from receptive female flowers of 144 days (4.8 months).Informasi perkembangan bunga dan buah kelapa sawit sangat penting dalam pengamatan morfologi tanaman. Pengamatan ini dilakukan untuk melengkapi informasi perkembangan vegetatif dan generatif tanaman yang sangat bermanfaat dalam proses pemuliaan tanaman kelapa sawit. Pemuliaan tanaman berhasil jika varietas baru dengan keunggulan khusus. Penelitian ini menggunakan tanaman koleksi plasma nutfah hasil eksplorasi Angola dan ditanam pada Desember 2012 di Kebun Adolina PT Perkebunan Nusantara IV. Sebanyak 35 aksesi telah ditanam dengan rancangan RCBD pada 2 percobaan. Pengamatan vegetatif per pohon dilakukan sejak tanaman berumur 2 tahun dan dilakukan setiap tahun. Pengamatan perkembangan bunga dilakukan dengan memilih 2 pohon sampel per aksesi secara purposive sampling. Sebanyak 70 pohon sampel diamati perkembangan bunganya hingga menjadi buah setiap 10 hari sekali pada setiap pelepah. Data perkembangan bunga dikelompokkan berdasarkan skala BBCH (Biologische Bundesantalt Bundessortenamt und Chemische Industrie). Selain tahapan morfologi dan perkembangan bunga, penelitian ini juga menghitung umur antar fase perkembangan dari sejak munculnya daun satu hingga tandan matang panen pada semua sampel pelepah dan pohon. Hasil penelitian menunjukkan perkembangan generatif 35 Aksesi Angola dapat disusun menurut skala BBCH yaitu diawali dengan kemunculan daun ke-1, kemunculan bakal bunga, bunga betina/jantan mekar (reseptik/anthesis), tandan terbentuk hingga tandan matang panen. Aksesi AGO038 hanya membutuhkan 385 hari (12,8 bulan) dihitung dari sejak muncul daun ke-1 hingga tandan matang panen, tetetapi AGO049 lebih cepat menghasilkan tandan matang panen jika dihitung dari bunga betina reseptik yaitu 144 hari (4,8 bulan)
DAMPAK PEMBERIAN KALIUM DAN CEKAMAN KEKERINGAN TERHADAP SERAPAN HARA DAN PRODUKSI BIOMASSA BIBIT KELAPA SAWIT (Elaeis gueenensis Jacq.)
Droght stress is the main limiting factor on growth and production of oil palm. Beside used tolerance planting materials, increasing nutrient status especially potassium also influences increasing plant tolerance to drought stress. This research was a simulation study in a greenhouse to determine the effect of potassium and drought stress on oil palm seedling. The research was conducted in Desa Madurejo, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman, Region of Yogyakarta Indonesia by random complete block design. The treatment consists of two factors, first factor were potassium factor consist of 0%, 50%, 150%, and 200% standart dosage and second factor were drought stress consist of three levels, field capacity (FTSW 1), moderate drought stress (FTSW 0.35) and severe (FTSW 0.15) with three replications. The results showed that fertilizing potassium increased the content and uptake of K and Cl in plants, increased the uptake of Mg roots, reduce the N content of the roots and reduce the content of Ca and Mg in plant canopy. Drought stress had an impact on decreasing the content and uptake of N, P, and Cl in plants as well as decreasing the dry weight of plant biomass. The provision of Potassium has not affected the production of biomass of oil palm seedlings in drought conditions.Cekaman kekeringan merupakan faktor pembatas utama terhadap pertumbuhan dan produksi kelapa sawit. Selain menggunakan bahan tanaman yang toleran, peningkatan nutrisi tanaman terutama kalium juga berpengaruh meningkatkan toleransi tanaman terhadap cekaman kekeringan. Penelitian ini merupakan penelitian simulasi di rumah kaca untuk mengetahui pengaruh pemberian kalium dan cekaman kekeringan pada tanaman kelapa sawit. Penelitian ini dilaksanakan di Desa Madurejo, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman,Yogyakarta Menggunakan rancangan acak kelompok lengkap. Perlakuan yang dicobakan antara lain dosis kalium yang terdiri dari 5 taraf yaitu 0%, 50%, 100%, 150% dan 200% dosis standar dan cekaman kekeringan yang terdiri dari 3 level cekaman yaitu kapasitas lapang (FTSW 1), cekaman moderat (FTSW 0.35) dan cekaman berat (FTSW 0.15) dengan 3 ulangan.Hasil penelitian menunjukkan bahwa Pemberian kalium dapat meningkatkan kandungan dan serapan K dan Cl tanaman, meningkatkan serapan Mg akar, menurunkan kandungan N akar dan menurunkan kandungan Ca dan Mg pada tajuk tanaman. Cekaman kekeringan berdampak terhadap penurunan kandungan dan serapan N, P, dan Cl tanaman serta penurunan bobot biomassa kering tanaman. Pemberian Kalium belum berdampak terhadap produksi biomassa bibit kelapa sawit pada kondisi tercekam kekeringa
ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KINERJA PERDAGANGAN MINYAK INTI SAWIT INDONESIA DI NEGARA IMPORTIR UTAMA
As one of the largest producers in the world, Indonesia has an interest in increasing the share of palm kernel oil exports which are being faced with negative issues from vegetable oil producer countries towards the palm oil industry and its derivatives; on the other hand maintaining the availability of domestic PKO as industrial raw material. This study aims to analyze the factors that influence the performance of Indonesia's palm kernel oil trade. The study used dynamic simultaneous equations and consist of 18 behavioral and 25 identities equations using time series data from 1990 to 2017 . The estimation results indicate that changes in the supply of Indonesian palm kernel oil exports to the main export destination countries are responsive to changes in palm kernel oil mature area, technology improvement, and downstream dummy policies. Meanwhile, the demand of the main importers of palm kernel oil is responsive to changes in world palm oil prices, per capita income of the country's, and world crude oil prices. The downstream policy accompanied by improvements in technology, infrastructure, and the business climate is needed to improve the efficiency of the domestic palm kernel oil industry and reduce dependence on exports.Sebagai salah satu produsen terbesar di dunia, Indonesia memiliki kepentingan untuk meningkatkan pangsa ekspor minyak inti sawit di tengah isu negatif yang berasal dari negara produsen minyak nabati lainnya terhadap industri minyak sawit dan turunannya; di sisi lain menjaga ketersediaan PKO domestik sebagai bahan baku industri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja perdagangan minyak inti sawit Indonesia. Penelitian menggunakan model ekonometrik persamaan simultan yang terdiri dari 18 persamaan struktural dan 25 persamaan identitas yang diestimasi dengan metode 2SLS (Two Stage Least Squares) menggunakan data time series tahun 1990-2017. Hasil estimasi menunjukkan bahwa perubahan penawaran ekspor minyak inti sawit Indonesia ke negara tujuan ekspor utama responsif terhadap perubahan luas areal minyak inti sawit domestik, peningkatan teknologi, dan dummy kebijakan hilirisasi. Sementara itu, permintaan negara importir utama minyak inti sawit responsif terhadap perubahan harga minyak sawit dunia, pendapatan perkapita penduduk negara, dan harga minyak mentah dunia. Kebijakan hilirisasi yang diiringi dengan perbaikan teknologi, infrastruktur, maupun iklim usaha diperlukan untuk meningkatkan efisiensi industri minyak inti sawit domestik dan mengurangi ketergantungan terhadap ekspor
ANALISIS POSISI PASAR INDONESIA PADA PASAR REFINED PALM OIL (RPO) DI NEGARA IMPORTIR
Indonesia is one of the largest producer and exporter of palm oil in the world. The downstream policy of palm oil causes Indonesia’s export more derivative products in form of Refined Palm Oil (RPO) than Crude Palm Oil (CPO) . Indonesia also faced competition with Malaysia as an RPO’s exporter in several importing countries such as China, India, Russia and the United States. This study aims to analyze the competition between Indonesia and Malaysia in several RPO’s importing countries. The model used Almost Ideal Demand System (AIDS). Based on the results, Indonesia’s RPO prices are more elastic in the India and US markets, while Malaysia’s RPO prices are more elastic in Russian market. Although Indonesia’s and Malaysia’s RPO substitute each other, but Indonesia's position is more profitable than Malaysia if the importing countries increase spending on RPO imports because it will increase the import’s shares from Indonesia.Indonesia adalah salah satu negara produsen dan eksportir minyak kelapa sawit terbesar di dunia. Adanya kebijakan hilirisasi sawit menyebabkan Indonesia lebih banyak mengekspor produk turunan dalam bentuk Refined Palm Oil (RPO) dibandingkan Crude Palm Oil (CPO). Indonesia juga menghadapi kompetisi dengan Malaysia sebagai eksportir RPO di beberapa negara importir seperti China, India, Rusia dan Amerika Serikat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kompetisi antara Indonesia dan Malaysia di beberapa pasar negara importir RPO. Model yang digunakan adalah Almost Ideal Demand System (AIDS). Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan harga RPO Indonesia lebih elastis di pasar India dan Amerika Serikat, sedangkan harga RPO Malaysia lebih elastis di pasar Rusia. Meskipun RPO asal Indonesia dan Malaysia saling bersubstitusi, tetapi posisi Indonesia lebih diuntungkan dibandingkan Malaysia jika negara-negara importir tersebut meningkatkan pengeluaran untuk impor RPO karena akan meningkatkan share impor dari Indonesia
SIMULASI DAN ANALISIS SISTEM TATA KELOLA AIR DI LAHAN PASANG SURUT: STUDI AWAL PADA PERKEBUNAN KELAPA SAWIT DI KALIMANTAN SELATAN
Oil palm plantations on tidal swamp land are increasing with the potential of land reach 20.1 million hectares due to unavailable mineral land which can be used. The limitation of optimal land for oil palm in Indonesia is currently a factor that encourages the use of sub-optimal land, one of which is tidal land. The use of tidal land has certain constraints such as soil acidity, low soil fertility, poor soil drainage conditions, lack of water and increased pyrite oxidation during dry periods which have a negative impact on oil palm growth and productivity. This preliminary study examines the effects of existing water governance to get the right solution and can be applied in the future. Modeling on HEC-RAS 4.1 software produces a simulation of the physical phenomena of channels in the land. The overall results show that the condition of the water governance system in the observation block is not optimal so that the inundated areas range from 65% due to the lack of good water management systems such as the drainage of the canals, the lack of water buildings and even the sluices so that in an uncontrolled area. This obstacle can be overcome by improving water management, such as canal washing, construction of water buildings, including culverts, bridges, crop harvesting, stoplogs and sluice gates. Water management system plays an important role in controlling water in the garden area so that in the rainy season, water can be channeled to outlets and in the dry season, water can survive in the garden area.This study is expected to be a reference in improving the water management system in that location.Perkebunan kelapa sawit di lahan pasang surut semakin meningkat dengan potensi lahan mencapai 20.1 juta Ha disebabkan hampir tidak adanya lahan mineral baru yang dapat dipergunakan lagi. Keterbatasan lahan optimal untuk kelapa sawit di Indonesia saat ini menjadi faktor yang mendorong penggunaan lahan-lahan sub optimal, salah satunya lahan pasang surut. Penggunaan lahan pasang surut memiliki kendala tertentu seperti kemasaman tanah, rendahnya kesuburan tanah, kondisi drainase tanah yang buruk, kekurangan air dan meningkatnya oksidasi pirit selama periode kering yang berdampak negatif terhadap pertumbuhan dan produktivitas kelapa sawit. Penelitian awal ini mengkaji efek dari tata kelola air yang sudah ada untuk mendapatkan solusi yang tepat dan dapat diterapkan di masa mendatang. Pemodelan pada perangkat lunak HEC-RAS 4.1 menghasilkan simulasi fenomena fisik saluran di lahan. Hasil keseluruhan menunjukkan bahwa kondisi sistem tata kelola air pada blok pengamatan belum optimal sehingga diperoleh areal-areal tergenang berkisar 65% disebabkan sistem tata kelola air belum berjalan baik seperti adanya pendangkalan saluran, bangunan air yang masih kurang bahkan pintu air belum ada sehingga tinggi muka air dalam areal tidak terkontrol. Hambatan ini dapat diatasi dengan memperbaiki tata kelola air seperti pencucian kanal, pembangunan bangunan air antara lain gorong – gorong, jembatan, titi panen, stoplog dan pintu air. Sistem tata kelola air berperan penting dalam mengkontrol air di dalam areal kebun sehingga pada musim hujan, air dapat dialirkan ke outlet dan pada musim kemarau, air dapat bertahan di dalam areal kebun. Kajian ini diharapkan dapat menjadi acuan dalam peningkatan sistem tata kelola air di lokasi tersebut
APLIKASI COCOA BUTTER SUBSTITUTE (CBS) DARI MINYAK INTI SAWIT DALAM FORMULASI MINUMAN INSTAN KOPI, COKELAT DAN CAMPURANNYA
Instant coffee, chocolate and mix of coffee with chocolate drinks are quite popular with consumers because it has a good taste, easy and fast in preparation, relatively. Besides sugar, milk and/or creamer are commonly added in preparation of instant drinks. Creamer or milk substitute powder is a fat emulsion in water. One of the fats that can be used for creamer is hydrogenated palm kernel oil or it is called cocoa butter substitute (CBS). This study was conducted to formulate instant coffee, chocolate and mix of coffee and chocolate drinks by adding CBS as an additional ingredient and assessing its effects on physico chemicals, the stability of fat in water and the organoleptic test of formulated instant drinks by panelist. The results showed that CBS can be used in instant coffee, chocolate and mix of coffee and chocolate with a maximum amount of 4 %. Increasing the amount of CBS decreased the stability of fat in water. Increasing the amount of emulsifier also causes increased the separation between the sediment and water and the optimum amount of emulsifier of 0.5%. The optimum time for mixing of instant drinks was about 30 to 45 minutes. Both, CBS from fully hydrogenated of palm kernel stearin and a mixture of palm kernel oil with palm stearin produce instant beverages that have physico chemical and acceptance properties by panelist were relatively equal.Minuman instan kopi, cokelat dan campurannya cukup digemari oleh konsumen karena memiliki rasa yang enak dan penyajiannya relatif mudah dan cepat. Selain gula, dalam pembuatan minuman instan ditambahkan susu dan atau creamer. Creamer atau bubuk pengganti susu merupakan produk emulsi lemak dalam air. Salah satu lemak yang dapat digunakan untuk creamer adalah minyak inti sawit terhidrogenasi atau disebut dengan cocoa butter substitute (CBS). Penelitian ini dilakukan untuk memformulasi minuman instan kopi, cokelat dan campurannya dengan menambahkan CBS sebagai bahan tambahan dan mengkaji pengaruhnya terhadap sifat fisika kimia, kestabilan lemak dalam air dan penerimaan minuman instan oleh panelis. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa CBS dapat digunakan dalam campuran minuman instan kopi, cokelat dan campurannya dengan jumlah maksimum sebanyak 4 %. Semakin banyak CBS yang ditambahkan menyebabkan kestabilan lemak dalam air semakin rendah. Semakin banyak jumlah emulsifier juga menyebabkan pemisahan antara endapan dengan air semakin besar dan jumlah optimum yang dapat ditambahkan sebesar 0,5 %. Waktu optimum untuk pencampuran bahan minuman instan selama 30 - 45 menit. Lemak CBS dari stearin minyak inti sawit terhidrogenasi penuh dan campuran antara minyak inti sawit dengan stearin sawit menghasilkan minuman instan yang memiliki sifat fisika kimia dan penerimaan oleh panelis yang relatif sama
PENGAMATAN FENOLOGI PADA DELAPAN VARIETAS KELAPA SAWIT (Elaeis guineensis Jacq.) MENGGUNAKAN KONSEP THERMAL UNIT
Plant growth and development depends on environmental conditions (including air temperature). Effect of environmental conditions on plant development and growth is known as phenology. The general concept used to determine the effect of temperature on plant development and growth quantitatively is thermal units. This study was conducted to observe the phenology of eight oil palm varieties released by the Indonesian Palm Oil Research Institute (IOPRI) based on the thermal units concept. This study also explained the implications of the phenology characteristics from each variety in the selection of agro-climate-specific oil palm varieties. The research was conducted at the demonstration plot of Adolina Seed Garden PT. Perkebunan Nusantara IV, Serdang Bedagai Regency, North Sumatra with an altitude of 10 m asl during September 11th, 2014 until June 30th, 2018. The results showed that the appearance of the first leaf until bunch was ripened and harvested from DxP Avros, DyP Dumpy, DxP LaMe, DxP Langkat, DxP PPKS 540, DxP PPKS 718, DxP Simalungun and DxP Yangambi require thermal units (oC days) and duration (days) respectively 5.785 and 457; 5,756 and 454; 6,050 and 476; 5,903 and 467; 5,775 and 452; 6.164 and 484; 6,105 and 478; and 6,084 and 479. DxP PPKS 540 tends to be more suitable for areas with low daily average temperature conditions (18-23oC). In areas with an average temperature of 24-32oC, all oil palm varieties released by IOPRI will grow optimally. Meanwhile, for areas with an average temperature varies between 30-32oC, varieties should be chosen is varieties which potentially produce more bunch such as DxP Avros, DxP LaMe, DxP Langkat, DxP PPKS 540, DxP Simalungun or DxP Yangambi.Pertumbuhan dan perkembangan tanaman bergantung pada pengaruh kondisi lingkungan (termasuk di dalamnya suhu udara). Pengaruh kondisi lingkungan terhadap periode fase-fase perkembangan tanaman dikenal dengan istilah fenologi. Konsep umum yang digunakan untuk mengetahui pengaruh suhu terhadap kondisi fenologi secara kuantitatif adalah thermal units. Penelitian ini bertujuan untuk mengamati karakter fenologi perkembangan tandan buah segar pada delapan varietas yang dirilis Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) berdasarkan konsep thermal units. Penelitian ini juga membahas implikasi dari karakteristik masing-masing varietas terhadap pemilihan varietas kelapa sawit spesifik lokasi agroklimat. Penelitian dilakukan di Demonstrasi Plot (Demplot) Varietas Kebun Benih Adolina PT Perkebunan Nusantara IV, Kabupaten Serdang Bedagai, Sumatera Utara dengan ketinggian 10 mdpl pada 11 September 2014 – 30 Juni 2018. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemunculan daun pertama hingga tandan siap dipanen pada varietas DxP Avros, DyP Dumpy, DxP LaMe, DxP Langkat, DxP PPKS 540, DxP PPKS 718, DxP Simalungun serta DxP Yangambi memerlukan jumlah thermal units (oC hari) dan durasi (hari) berturut-turut adalah 5.785 dan 457; 5.756 dan 454; 6.050 dan 476; 5.903 dan 467; 5.775 dan 452; 6.164 dan 484; 6.105 dan 478; serta 6.084 dan 479. Varietas DxP PPKS 540 cenderung lebih sesuai untuk digunakan pada wilayah dengan kondisi suhu rata-rata harian yang rendah (18-23oC). Pada wilayah dengan suhu rata-rata 24-32oC, semua varietas kelapa sawit yang dirilis PPKS akan dapat tumbuh dengan optimal. Sementara itu, khusus untuk wilayah dengan suhu rata-rata 30-32oC, sebaiknya dipilih varietas yang memiliki potensi jumlah tandan yang lebih banyak seperti DxP Avros, DxP LaMe, DxP Langkat, DxP PPKS 540, DxP Simalungun dan DxP Yangambi
PERTUMBUHAN KELAPA SAWIT DENGAN PEMBERIAN PUPUK ORGANIK ASAL PELEPAH KELAPA SAWIT DENGAN ASAM HUMAT
Increased productivity of oil palm is a major challenge in Indonesia's oil palm plantations. The application of inorganic fertilizers is still ongoing and requires consideration to reduce its use, given the excessive application can reduce the physical and chemical conditions of the soil. The action that can be done is by utilizing palm oil stem waste and humic acid. This research aims to observe the influence of oil palm midrib organic fertilizer and humic acid with various compositions to the young oil palm. The experiment was conducted from December 2017 to March 2018 in Experimental Station of Ciparanje, Faculty of Agriculture, Universitas Padjadjaran, Sumedang. Experiment used a randomized block design with 9 treatments and 3 replications. The treatments consisted of inorganic fertilizer NPKMg 500 gram/plant, 1600 gram/plant of oil palm midrib compost, 3200 gram/plant of oil palm midrib compost, combination of 1600 gram/plant of oil palm midrib compost and humic acid 15 ml/plant, 20 ml/plant and 45 ml/plant, and the combination of 3200 gram/plant of oil palm midrib compost and humic acid 15 ml/plant, 30 ml/plant and 45 ml/plant. The results of this experiment showed that 3200 gram of oil palm midrib compost and 30 ml of humic acid gave the best influence towards the height plant and chlorophyll content in 4 months after treatment.Peningkatan produktivitas kelapa sawit merupakan tantangan utama di perkebunan kelapa sawit Indonesia. Aplikasi pupuk anorganik masih terus dilakukan dan memerlukan pertimbangan untuk menekan penggunaannya, mengingat aplikasi secara berlebihan dapat menurunkan kondisi fisik dan kimia tanah. Langkah yang dapat dilakukan yaitu dengan memanfaatkan limbah pelepah kelapa sawit dan asam humat. Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian pupuk organik asal pelepah kelapa sawit dan asam humat terhadap pertumbuhan tanaman kelapa sawit pada fase TBM. Penelitian dilakukan bulan Desember 2017 - Maret 2018 di Kebun Percobaan Ciparanje, Fakultas Pertanian, Universitas Padjadjaran, Kabupan Sumedang. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok dengan 9 perlakuan dan 3 ulangan. Perlakuan meliputi pemberian pupuk NPKMg 500 gram/tanaman, 1600 gram/tanaman pupuk organik asal pelepah kelapa sawit, 3200 gram/tanaman pupuk organik asal pelepah kelapa sawit/tanaman, kombinasi 1600 gram/tanaman pupuk organik asal pelepah kelapa sawit dan asam humat sebanyak 15 ml/tanaman, 30 ml/tanaman dan 45 ml/tanaman dan kombinasi 3200 gram/tanaman pupuk organik asal pelepah kelapa sawit dan asam humat sebanyak 15 ml/tanaman, 30 ml/tanaman dan 45 ml/tanaman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian 3200 gram pupuk organik asal pelepah kelapa sawit dan 30 ml asam humat menghasilkan pertumbuhan terbaik pada parameter tinggi tanaman dan kandungan klorofil daun pada 4 bulan setelah perlakuan
NILAI EKONOMI NIRA SAWIT SEBAGAI POTENSI PEMBIAYAAN PEREMAJAAN KEBUN KELAPA SAWIT RAKYAT
Oil palm smallholder currently are more than 25 years old and have to be replanted. However, many smallholders have facing difficulties in replanting especially related to investment and loss of income during the period of immatature. Palm trunks from replanted plants have potential economic value by utilizing sap obtained by tapping inflorescences of oil palm to make brown sugar. This study aims to assess the economic value of oil palm brown sugar as a potential financing of oil palm plantation peremajaan. The study was conducted in the village of Lau Tador, Sei Suka District, Batu Baral Regency North Sumatra. The research method used was on farm participatory research survey and focus group discussions were carried out farm business analysis. Research shows that oil palm trunks have considerable economic value potential. The economic value of 1 palm trunk for oil palm brown sugar (not yet processed/straightened before being cut) is IDR. 15,813 (IDR 1,897,500 per ha). Whereas if processed into oil palm brown sugar has a potential net income per ha of IDR 18,421,500 to IDR 22,866,325 with financial analysis carried out. This potential can help smallholders living costs and up keep costs as long as immatature. To optimize the economic potential of production, it is carried out on a wide scale through the development of farmer groups or cooperatives. Through cooperatives will be managed in an organized manner including funding, technical, production, and marketing. The utilization oil palm brown sugar can be used as one of the activities in the oil palm smallholder replanting program (PSR) which is the government's main program.Sebagian besar dari perkebunan kelapa sawit rakyat saat ini telah memerlukan peremajaan. Namun banyak pekebun rakyat mengalami kesulitan, terutama karena besarnya biaya yang dibutuhkan dan hilangnya pendapatan selama masa tanaman belum menghasilkan. Batang sawit yang ditumbangkan pada saat peremajaan memiliki potensi nilai ekonomi sehingga dapat dijadikan sebagai alternatif sumber pendapatan selama tanaman belum menghasilkan. Untuk menganalisis hal tersebut penelitian ini dilakukan di Desa Lau Tador Kecamatan Sei Suka Kabupaten Batu Bara Sumatera Utara. Metode penelitian yang digunakan adalah on farm participatory research survey dan focus group discussion serta dilakukan analisis usaha gula merah sawit. Penelitian menunjukkan nilai ekonomi batang sawit yang belum diolah adalah sebesar Rp. 15.813. atau sebesar Rp. 1.897.500 per ha, sedangkan yang sudah diolah menjadi gula sawit memiliki potensi pendapatan bersih per ha nya sebesar Rp. 18.421.500 sampai dengan Rp. 22.866.325. Potensi ini dapat membantu biaya hidup petani dan biaya perawatan selama sawit masih dalam masa belum menghasilkan. Untuk mengoptimalkan potensi ekonomi produksi gula merah sawit dilakukan dengan skala luas melalui pembentukan kelompok tani ataupun koperasi. Melalui koperasi akan dikelola secara terorganisir baik pendanaan, teknis, produksi, maupun pemasaran. Pemanfaatan nira sawit ini dapat dijadikan salah satu kegiatan dalam program peremajaan sawit rakyat (PSR) yang menjadi program utama pemerintah