Indonesian Journal of Oil Palm Research / Jurnal Penelitian Kelapa Sawit
Not a member yet
    150 research outputs found

    EVALUASI KARAKTER KOMPAK HASIL PENGUJIAN KETURUNAN SIKLUS KETIGA PROGRAM PEMULIAAN KELAPA SAWIT PUSAT PENELITIAN KELAPA SAWIT

    Full text link
    One of the secondary characters desired by oil palm planters is compact palm. Compact characters are characterized by slow height increment rate and short rachis length. Both characters are able to extend the economic life of oil palm and increase palm productivity. This paper will discuss the results of the evaluation of compact characters in several crosses of the third cycle progeny test of RRS (Reciprocal Recurrent Selection) program. The field trial was carried out on 21 crosses planted in 2008 at Dolok Sinumbah Estate. The observations showed that cross no. BJ62/05 and BJ05/05 have the potential to produce compact palm with the slowest height increment rates, the shortest rachis, and low LAI values. With these characters, these crosses can be planted at higher planting densities. Parents no. BJ5633D and 93-133-4T also have the potential to produce offspring with compact characters.Salah satu karakter sekunder yang diinginkan pekebun kelapa sawit adalah karakter tanaman kompak. Karakter tanaman kompak ditandai dengan laju pertumbuhan meninggi yang lambat dan rachis yang tidak terlalu panjang. Kedua karakter ini merupakan salah satu faktor yang dapat memperpanjang umur ekonomis kelapa sawit serta meningkatkan produktivitasnya. Tulisan ini akan membahas hasil evaluasi karakter kompak pada beberapa persilangan hasil pengujian keturunan siklus ketiga program RRS (Reciprocal Recurrent Selection). Pengujian dilakukan terhadap 21 persilangan yang ditanam pada 2008 di Kebun Dolok Sinumbah. Hasil pengamatan menunjukkan persilangan BJ62/05 dan BJ05/05 memiliki karakter tanaman kompak dengan laju pertumbuhan meninggi paling lambat, rachis paling pendek, serta nilai LAI yang rendah. Dengan karakter tersebut, persilangan ini dapat ditanam pada kerapatan tanam yang lebih tinggi. Tetua BJ5633D dan 93-133-4T merupakan tetua-tetua yang berpotensi menghasilkan keturunan dengan karakter tanaman kompak

    PENGARUH INSEKTISIDA TERHADAP AKTIVITAS DAN KEMUNCULAN KUMBANG BARU Elaeidobius kamerunicus FAUST (COLEOPTERA: CURCULIONIDAE) PADA BUNGA JANTAN KELAPA SAWIT (Elaeis guineensis Jacq.)

    Full text link
    Elaeidobius kamerunicus is the main pollinating insect in oil palm plantations in Indonesia which influences the oil palm fruit set. Theoil palm (Elaeis guineensis) male inflorescence is the only one of their breeding site. The application of insecticides, especially those directly to the male inflorescence, can affect the activity and breeding of pollinator insects. Various insecticides include Deltamethrin (2 mL/L), Lamda Sihalotrin (2 mL/L), Dimehipo (2 mL/L), Asefat (1.5 g/L), Fipronil (2.5 mL/L), Chlorantraniliprol (1 mL/L), Flubendiamide (0.5 mL/L) and B. Thuringiensis (2 mL/L) have been tested on E. kamerunicus weevils by in vivo trial and on anthesising male inflorescence at different levels of bloom (25 %, 50%, 75% and 100%) in the field. The weevils mortality observations were carried out for 5 days after the insecticides application in the laboratory while observations in the field included the number of weevils visit before and after insecticide application until the end of the male flower anthesis and the number of new emerged weevil in each spikelet after 21 days of incubation. The results showed that the chemical insecticides i.e. Deltametrin, Lamda Sihalotrin, Dimehipo, Asefat, and Fipronil were killed the weevil, affecting the weevil visit on anthesising male inflorescence 1-3 days later, and decreasing the number of new emerged weevil from each spikelet of male inflorescence after incubation for 21 days. Meanwhile, the treatment of Chlorantraniliprole and Flubendiamide and B. thuringiensis did not affect the development of E. kamerunicus both in the laboratory and in the field so that they were safe for oil palm pollinating naturally.Elaeidobius kamerunicus merupakan serangga penyerbuk dominan di perkebunan kelapa sawit di Indonesia yang paling mempengaruhi pembentukan fruit set. Serangga ini hanya spesifik dapat berkembangbiak pada bunga jantan kelapa sawit Elaeis guineensis. Aplikasi insektisida terutama yang bersinggungan langsung dengan bunga jantan tersebut dapat mempengaruhi aktivitas maupun perkembangbiakan serangga polinator. Pengujian berbagai insektisida meliputi Deltametrin (2 mL/L), Lamda Sihalotrin (2 mL/L), Dimehipo (2 mL/L), Asefat (1,5 g/L), Fipronil (2,5 mL/L), Klorantraniliprol (1 mL/L), Flubendiamida (0,5 mL/L) dan B. Thuringiensis (2 mL/L)telah dilakukan terhadap kumbang E. kamerunicus secara in vivo dan terhadap bunga jantan kelapa sawit pada berbagai tingkat kemekaran yang berbeda (25%, 50%, 75%, dan 100%) di lapangan. Pengamatan mortalitas kumbang dilakukan selama 5 hari setelah aplikasi insektisida di laboratorium sedangkan pengamatan di lapangan meliputi jumlah kunjungan kumbang sebelum dan sesudah aplikasi insektisida hingga akhir masa mekar bunga jantan dan kemunculan kumbang baru dalam setiap spikelet bunga setelah inkubasi selama 21 hari. Hasil pengujian menunjukkan bahwa insektisida kimia Deltametrin, Lamda Sihalotrin, Dimehipo, Asefat, dan Fipronil bersifat membunuh kumbang E. kamerunicus, mempengaruhi kunjungan kumbang pada bunga jantan mekar 1-3 hari kemudian, dan menurunkan jumlah kemunculan kumbang baru dari tiap spikelet bunga jantan setelah inkubasi selama 21 hari. Sementara, perlakuan insektisida kimia Klorantraniliprol dan Flubendiamida serta bioinsektisida B. thuringiensis tidak mempengaruhi perkembangan populasi E. kamerunicus baik di laboratorium maupun di lapangan sehingga bersifat aman bagi penyerbukan bunga kelapa sawit

    JARAK GENETIK 47 AKSESI PLASMA NUTFAH KELAPA SAWIT (Elaeis guineensis Jacq.) ASAL KAMERUN BERDASARKAN KARAKTER MORFOLOGI

    Full text link
    Oil palm (Elaeis guineensis Jacq.) is a plantation commodity that has an important role in various aspects of life in Indonesia, especially the domestic economy. This is supported by the increasing demand for world palm oil for food needs (edible oil), industrial (oleochemical), and alternative energy sources based on biodiesel. The development of the palm oil industry requires several efforts to achieve increased national productivity, one of which is the utilization of quality seeds supported by the availability of genetic resources (germplasm) that have a high level of genetic diversity. Efforts that can be made for the development of oil palm in Indonesia is through the characterization of oil palm intoduction from abroad. Considering this, further research on genetic distance analysis of palm oil accession introduced from Cameroon is based on morphological characters to produce parent elders that can produce heterosis properties. Research conducted at Seed Garden of Adolina PTPN IV and laboratory analysis of plant material of Palm Oil Research Center located on Jl. Brigjen Katamso No. 5, Medan, North Sumatera, which lasted from December 2017 to February 2018. Single observations were made on 47 accession palm oil from Cameroon planted on December 2010 and ten trees from PPKS 540 variety for compare. Data analysis used was a description of the plant to know the character of plant morphology as well as genetic distance analysis. Analysis of genetic distance using PCA analysis and cluster analysis. The results obtained are based on the results of PCA (Principal Component Analysis) reduce the observed character into six major components that have eigen value > 1 and able to explain the material diversity tested for 73.8%. Based on the cluster analysis obtained the genetic distance of 47 accessions of palm oil from Cameroon by 57%. It can be concluded that, when the genetic distance between accessions is further away, the larger the genetic variability between the observed characters. If the genetic diversity is wider the greater the chance for successful selection in increasing the desired gene frequency.Kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq.) merupakan komoditi perkebunan yang mempunyai peran penting dalam berbagai aspek kehidupan di Indonesia, khususnya aspek perekonomian dalam negeri. Hal tersebut ditunjang dengan meningkatnya permintaan minyak sawit dunia untuk kebutuhan pangan (edible oil), industri (oleochemical), dan sumber energi alternatif berbasis biodiesel. Pengembangan industri kelapa sawit memerlukan beberapa upaya untuk mencapai peningkatan produktivitas nasional, salah satunya adalah pemanfaatan benih unggul bermutu didukung oleh ketersediaan sumber daya genetik (plasma nutfah) yang mempunyai tingkat keragaman genetik yang tinggi. Upaya yang dapat dilakukan untuk pengembangan kelapa sawit di Indonesia adalah melalui karakterisasi kelapa sawit intoduksi dari luar negeri. Mengingat hal tersebut maka diperlukannya penelitian lebih lanjut mengenai analisis jarak genetik antar aksesi kelapa sawit introduksi asal Kamerun berdasarkan karakter morfologi untuk memperkaya genetik. Penelitian dilaksanakan Kebun Benih unit Adolina PTPN IV di Perbaungan, Serdang Bedagai dan laboraturium analisa bahan tanaman Pusat Penelitian Kelapa Sawit yang terletak di Jl. Brigjen Katamso No. 5, Medan, Sumatera Utara, yang berlangsung dari bulan Januari sampai dengan Maret 2018. Pengamatan tunggal dilakukan pada 47 aksesi kelapa sawit introduksi asal Kamerun yang ditanam pada Desember 2010 dan 10 tanaman kelapa sawit varietas PPKS 540 sebagai pembanding. Analisis data yang digunakan adalah  deskripsi tanaman untuk mengetahui karakter morfologi tanaman serta analisis jarak genetik. Analisis jarak genetik menggunakan analisis PCA dan analisis klaster. Adapun hasil yang diperoleh yaitu berdasarkan hasil PCA (Principal Componen Analysis) mereduksi karakter yang diamati menjadi enam komponen utama yang mempunyai eigen value > 1 dan mampu menjelaskan keragaman materi yang diuji sebesar 73,8%. Berdasarkan analisis kluster diperoleh  jarak genetik 47 aksesi kelapa sawit asal Kamerun sebesar 57%. Hasil tersebut lebih besar dibandingkan dengan hasil analisis data jarak genetik DxP PPKS 540 yaitu sebesar 16%. Hal ini membuktikan bahwa jarak genetik aksesi asal Kamerun lebih besar dibandingkan dengan varietas DxP PPKS 540. Perbedaan itu disebabkan karena aksesi Kamerun masih tanaman liar dan belum dilakukan seleksi. Berbeda dengan varietas DxP PPKS 540 yang merupakan hasil seleksi beberapa kali. Dapat disimpulkan bahwa, bila jarak genetik antar aksesi semakin jauh, maka semakin luas pula keragaman genetik antara karakter yang diamati. Bila keragaman genetik semakin luas maka semakin besar pula peluang untuk keberhasilan seleksi dalam meningkatkan frekuensi gen yang diinginkan

    KESUBURAN TANAH DAN LAJU FOTOSINTESIS TANAMAN KELAPA SAWIT YANG MENUNJUKKAN GEJALA WHITE STRIPE PADA LAHAN GAMBUT DI LABUHAN BATU

    Full text link
    White stripe is the loss of green pigment with elongated shape on left and right side of the mid-rib.  White stripe is often associated with an imbalance in the N/K nutrient ratio in oil palm. This study aims to determine soil fertility, growth, and photosynthesis rate of oil palm that expressing white stripe symptoms on Fluvaquentic Haplosaprists in Labuhan Batu, North Sumatra. This research was conducted by observing the ecophysiology of 3 plant conditions consisting of a) healthy oil palms, b) oil palms expressing white stripe symptoms, and c) oil palms expressing Boron deficiency symptoms.  The results showed that peat soil at the research site has good fertility status. Soil fertility of all treatments are similar except its available nutrients, where the oil palms expressing white stripe symptoms have average P available, K, Ca, Na, and Mg exchanged lower than healthy oil palms as well as oil palms expressing Boron deficiency symptoms. Oil palms expressing white stripe symptoms have low leaf N/K rasio (2.19), and have no relation with Boron deficiency, with unsignificant leaf area indeks (LAI) compared to other treatments.  Low chlorophyll content of oil palms expressing white stripe and Boron deficiency symptoms have affected to low rate of photosynthetic rate and, If not corrected immediately, white stripe and also boron deficiency will affect to oil palm growth and productivity.White stripe merupakan hilangnya pigmen hijau dengan bentuk memanjang pada bagian sisi kiri dan kanan dekat lidi pada anak daun. White stripe sering dikaitkan dengan ketidakseimbangan rasio hara N/K pada tanaman kelapa sawit. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kesuburan tanah, pertumbuhan tanaman, dan laju fotosintesis tanaman kelapa sawit yang menunjukkan gejala white stripe pada lahan gambut Fluvaquentic Haplosaprists di Labuhan Batu. Penelitian ini dilakukan dengan cara mengamati ekofisiologi dari 3 kondisi tanaman yang terdiri dari: a) tanaman sehat tanpa gejala white stripe maupun gejala defisiensi Boron, b) tanaman dengan gejala white stripe, dan c) tanaman dengan gejala defisiensi Boron. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tanah pada areal percobaan memiliki status kesuburan yang cukup baik.  Kesuburan tanah dari 3 kondisi tanaman hampir tidak berbeda kecuali kadar hara tersedia, dimana tanaman dengan gejala white stripe memiliki rerata P tersedia, serta K, Ca, Na, dan Mg dapat ditukar yang lebih rendah dibanding tanaman sehat maupun tanaman yang menunjukkan gejala defisiensi Boron. Tanaman dengan gejala white stripe memiliki rasio N/K daun yang rendah (2,19), dan tidak menunjukkan kaitan dengan terjadinya defisiensi Boron, dengan indeks luas daun (ILD) yang tidak berbeda nyata dibanding perlakuan lainnya. Kandungan klorofil yang rendah pada daun tanaman dengan gejala white stripe maupun defisiensi Boron mengakibatkan rendahnya laju fotosintesis dan ILD. Jika gejala white stripe maupun defisiensi Boron ini tidak segera diatasi, maka hal ini akan berakibat menurunnya pertumbuhan dan produktivitas tanaman kelapa sawit

    EFEKTIVITAS HERBISIDA FLUROKSIPIR MHE 480 g/l SEBAGAI PENGENDALI GULMA Chromolaena odorata (L.) PADA LAHAN KELAPA SAWIT MENGHASILKAN (TM)

    Full text link
    Experiments have been carried out with the objective of knowing Fluroxypyr MHE 480 g/l  against weeds Chromolaena odorata L on mature oil palm. Experiments conducted in the oil palm Sagala Herang District of Subang Regency in West Java. The experimental design used was a randomized block design with four replications and seven treatments were then tested further by Duncan test at 95% confidence level. Herbicide treatments were tested , namely herbicides Fluroxypyr MHE 480 g/l  dose of 0.75 ml/l -  , of 3.0  ml/l, manual weeding and no treatment ( control ).  The research results show that the herbicide Fluroxypyr MHE 480 g/l with doses 1.5 ml / l effective and efficient pressing Chromolaena odorata weed growth of up to 12 weeks after application or three months after application. At all doses Herbicide Fluroxypyr MHE 480 g/l up to 3 MSA observations do not show symptoms of poisoning in mature oil palmPercobaan ini dilakukan dengan tujuan mengetahui   efektivitas herbisida Fluroxypyr MHE 480 g/L terhadap gulma Chromolaena odorata L pada tanaman kelapa sawit menghasilkan (TM). Percobaan dilakukan di  Perkebunan Sawit Sagala Herang Kecamatan Serang Panjang Kabupaten Subang Jawa Barat. Rancangan percobaan yang digunakan adalah rancangan acak kelompok  dengan 4 ulangan dan 7 perlakuan kemudian diuji lanjut dengan uji Duncan pada tingkat kepercayaan 95%. Perlakuan herbisida yang diuji  yaitu  herbisida Fluroxypyr MHE 480 g/L dengan dosis 0,75 ml/l - 3,0 ml/l, penyiangan manual dan tanpa perlakuan (kontrol).  Hasil penelitian menunjukkan bahwa Aplikasi herbisida Fluroxypyr MHE 480 g/L dengan dosis 1.5 ml/l efektif dan efisien  menekan pertumbuhan gulma Chromolaena odorata sampai 12 minggu setelah aplikasi atau tiga bulan setelah aplikasi. Aplikasi herbisida Fluroxypyr MHE 480 g/L pada semua taraf dosis tidak menunjukkan keracunan pada tanaman menghasilkan kelapa sawit

    ANALISIS FINANSIAL DAN EKONOMI TANAMAN SELA JAGUNG DAN KEDELAI PADA TANAMAN KELAPA SAWIT BELUM MENGHASILKAN

    No full text
    Maize and soybean can be planted for intercropping on immature oil palm, however its  financial and economycal aspects have not been widely studied. This study was aimed to analyze the financial and economic aspects of intercropping of maize and soybean on immature oil palm, level of land use efficiency, and comparison of efficiency between monolculture and intercropping system.  The study located in Sorolangun Experimental Station, District of Sorolangun, Jambi. Methods used in the study were farming business analysis, Revenue Cost Ratio (RCR), Return on Investments (ROI), Land Equivalent Ratio (LER), and Land Equivalent Optimize Ratio (LOER). The results showed that maize had a profit level of Rp 9,676,564/ha/growing season, RCR 1.76; ROI 188.28% (three growing seasons per year), while soybean had a profit level of Rp 4,059,352/ha/growing season, RCR 1.51 and ROI 75.22% (three growing seasons per year). Based on these results,  intercropping of maize and soybean on immature oil palm are economically and financially feasible. For the land use efficiency, corn LER value for corn and soybean was 0.95 and 0.85, respectively, showing that yield of maize and soybean from intercropping system (effective land area of ​​7,200 m2 per ha of oil palm area) was 95% and 85% when compared to monoculture system. The LOER value of corn and soybeans per ha was 1.32 and 1.18, respectively, which showed that corn and soybeans growing on intercropping system with immature oil palm were more efficient than monoculture system at the same size of  land. Based on those comparative analysis of economic values, financial, and land use efficiency, corn was a better alternative crop for intercorpping on immature oil palm than soybean.Jagung dan kedelai secara teknis dapat dijadikan tanaman sela pada areal tanaman belum menghasilkan (TBM) kelapa sawit, namun aspek finansial ekonomi tumpangsari ini belum banyak dikaji. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji analisis finansial dan ekonomi  jagung dan kedelai sebagai tanaman sela pada TBM kelapa sawit, mengetahui tingkat efisiensi penggunaan lahan, dan mengkaji komparasi efisiensi tanaman monokultur kelapa sawit dan kombinasi usaha tani tanaman sela jagung dan kedelai pada TBM kelapa sawit. Penelitian dilakukan di Kebun Percobaan Sorolangun, Kabupaten Sorolangun, Jambi. Metode penelitian yang digunakan meliputi analisis usaha tani, Revenue Cost Ratio (RCR), Return on Investment (ROI), Land Equivalent Ratio (LER), dan Land Equivalent Optimize Ratio (LOER). Hasil penelitian menunjukan bahwa jagung memiliki tingkat keuntungan sebesar Rp 9.676.564,-/ha/musim tanam, RCR 1,76; ROI 188,28% (tiga musim tanam per tahun), sedangkan kedelai memiliki tingkat keuntungan sebesar Rp 4.059.352,-/ha/musim tanam, RCR 1,51 dan ROI 75,22% (tiga musim tanam per tahun). Dengan demikian secara ekonomi dan finansial tanaman sela jagung dan kedelai layak diusahakan. Dari aspek efisiensi penggunaan lahan, nilai LER jagung dan kedelai sebesar 0,95 dan 0,85 yang menunjukan bahwa penanaman jagung dan kedelai (luas lahan efektif 7.200 m2 per ha sawit) memiliki produktivitas 95% dan 85% jika dibandingkan dengan tanaman monokultur. Namun nilai LOER jagung dan kedelai per ha sebesar 1,32 dan 1,18 yang menunjukan bahwa jagung dan kedelai sebagai  tanaman sela pada TBM kelapa sawit lebih efisien dibanding sistem tanam monokultur pada luasan yang sama. Berdasarkan analisis komparasi nilai ekonomi, finansial, dan efisiensi penggunaan lahan tersebut,  jagung memberikan hasil yang lebih sebagai tanaman sela pada TBM kelapa sawit dibandingkan dengan kedelai

    PENGENDALIAN GULMA UMUM DENGAN HERBISIDA CAMPURAN (Amonium Glufosinat 150 g/l dan Metil Metsulfuron 5 g/l) PADA TANAMAN KELAPA SAWIT TBM

    Full text link
    This experiment was carried out with the  objecti ve of knowing the effectiveness of mixed herbicides with the active ingredients Ammonium Glufosinat 150 g/l and Methyl Metsulfuron 5 g/l for controlling common weeds in unproduced palm crops. The experiment was conducted at Sagala Herang Plantation in Serang Panjang Sub-district, West Java. The experimental design used was a randomized block design with four replicates and six treatments then tested further with Duncan test at 95% confidence level. The mixed herbicide treatments tested were -1 Ammonium Glufosinate 150 g/lg L and Methyl - 1 - 1 Metsulfuron 5 g L dose 193. 75 l Ha, mixed ammonium Ammonium Glufosinate 150 g L and -1 - 1 - 1 Methyl Metsulfuron 5 g L doses 387. 5 l Ha, Ammonium Glufosinat 150 g/l mixed herbicide and -1 -1 Methyl Metsulfuron 5 g L dose 581.25 l Ha , and herbicide mixture of active ingredient  Ammonium -1 -1 Glufosinat 150 g L and Methyl Metsulfuron 5 g L dose  -1 775 l Ha , manual weeding and without treatment (control). The results showed that Herbicide herbicide mixture of active ingredient Ammonium Glufosinat 150  -1 -1 g L and Methyl Metsulfuron 5 g L with dose 193.75 -1 775 l Ha is an effective herbicide controlling weed grass such as Ottochloa nodosa L, Imperata cylindrica L, and wide leaf weeds Ageratum conyzoides L and total weeds on oil palm cultivation aged 2 - 4 years until age of observation 12 MSA and did not cause poisoning in palm oil plant TBM until observation three weeks afterapplication.Percobaan ini dilakukan dengan tujuan mengetahui efektivitas herbisida campuran dengan bahan aktif Amonium Glufosinat 150 g/l dan Metil Metsulfuron 5 g/l untuk mengendalikan gulma umum pada tanaman kelapa sawit belum menghasilkan. Percobaan dilakukan di Perkebunan Sawit Sagala Herang Kecamatan Serang Panjang Kabupaten Subang Jawa Barat. Rancangan percobaan yang digunakan adalah rancangan acak kelompok dengan empat ulangan dan enam perlakuan kemudian diuji lanjut dengan uji Duncan pada tingkat kepercayaan 95%. Perlakuan herbisida campuran yang diuji yaitu -1 Amonium Glufosinat 150 g/l g L dan Metil -1 Metsulfuron 5 g L dengan dosis 193.75 l Ha-1, dosis -1 -1 -1 387.5 l Ha , dosis 581.25 l Ha , dan dosis 775 l Ha , penyiangan manual dan tanpa perlakuan (kontrol). Hasil penelitian menunjukkan bahwa herbisida campuran dengan dosis 193.75 – 775 l Ha merupakan herbisida yang efektif mengendalikan gulma rumput seperti Ottochloa nodosa L, Imperata cylindrica L, dan gulma daun lebar Ageratum conyzoides L serta gulma total pada budi daya kelapa sawit umur 2 – 4 tahun sampai umur pengamatan 12 MSA dan tidak menimbulkan keracunan pada tanaman kelapa sawit TBM sampai pengamatan tiga minggu setelah aplikasi

    POTENSI BEBERAPA GULMA SEBAGAI TANAMAN PENUTUP TANAH DI AREA TANAMAN KELAPA SAWIT MENGHASILKAN

    Full text link
    Cover crop management in oil palm plantation is one of techniques to conserve soil and water in oil palm plantation. This research was aimed to study potential of several weeds as cover crops on mature oil palm plantation area. The research was conducted in an 20 year-old oil palm plantation in Namorambe, Deli Serdang, North Sumatra from March to June 2017. The research was arranged using non factorial Randomized Block Design. Four species of weeds (N. biserrata, A. gangetica, P. conjugatum, and A. conyzoides) were employed as treatments, every treatment was replicated three times. The results showed that N. biserrata, A. gangetica, P. conjugatum, and A. conyzoides were potential to be used as cover crops on mature oil palm area. These species were easily propagated, covered area rapidly (8-12 weeks after planting), produced abundant leaves and branches, and contained nutrients in the plant tissues. The highest content of N, P, K, and organic C was identified in N. biserrata (4,02% N), P. conjugatum (0,31% P), A. gangetica (2,41% K), dan A. conyzoides  (37,23% organic C).Pengelolaan tanaman penutup tanah merupakan salah satu merupakan salah satu teknik konservasi tanah dan air di perkebunan kelapa sawit. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari potensi beberapa gulma sebagai tanaman penutup tanah di perkebunan kelapa sawit menghasilkan. Penelitian dilaksanakan di perkebunan kelapa sawit rakyat umur 20 tahun di Desa Namorambe Kecamatan Namorambe, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara dari Maret sampai Juni 2017. Penelitian disusun menggunakan rancangan acak kelompok satu faktor. Empat spesies gulma (N. biserrata, A. gangetica, P. conjugatum, dan A. conyzoides) dijadikan sebagai perlakuan, setiap perlakuan diulang tiga kali.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa N. biserrata, A. gangetica, P. conjugatum, dan A. conyzoides berpotensi digunakan sebagai tanaman penutup tanah di area kelapa sawit menghasilkan. Keempat spesies tersebut mudah diperbanyak, cepat menutup lahan (8-12 minggu setelah tanam), memproduksi daun dan cabang cukup banyak, dan cukup mengandung unsur hara di dalam jaringan tanamannya. Kandungan N, P, K, dan C organik  tertinggi berturut-turut terdapat pada N. biserrata (4,02% N), P. conjugatum (0,31% P), A. gangetica (2,41% K), dan A. conyzoides  (37,23% C-organik)

    PENGGUNAAN MODEL JARINGAN SARAF TIRUAN (ARTIFICIAL NEURON NETWORK) UNTUK MEMPREDIKSI HASIL TANDAN BUAH SEGAR (TBS) KELAPA SAWIT BERDASAR CURAH HUJAN DAN HASIL TBS SEBELUMNYA

    Full text link
    Abstract. To predict oil palm yield in 2018 at 4 Indonesian Oil Palm Research Institue field Trial Plantation (Padang Mandarsah, Dalu-dalu, Bukit Sentang, and Aek Pancur), then it was built an Artificial Neuron Network (ANN) model. The data used were monthly yield and rainfall during 2013-2017. The model output taking by the relation of non-linear Autoregressive to  the rainfall external input (NARX). The model built processing including training using the data 2013-2015, validation using the data 2016, testing using the data 2017. From the testing model result, were taken a good fit model architecture n-d-h-o (variable input,n ; d-tapped delayed , d, node hidden, h; output layer, o) and correlation coefficient (r) between output model and actual data for each plantation. Padang Mandarsah 2-3-4-1 with r= 0,84 ; Dalu-dalu 2-24-5-1 with r = 0,74; Bukit Sentang 2-24-10-1 with r = 0,84, and Aek Pancur 2-3-5-1 with r = 0,86.Abstrak. Untuk memprediksi hasil kelapa sawit 2018 di 4 kebun percobaan Pusat Penelitian Kelapa Sawit (Padang Mandarsah, Dalu-dalu, Bukit Sentang, dan Aek Pancur), maka disusun model jaringan saraf tiruan (JST). Data yang digunakan untuk menyusun model ini adalah  hasil dan curah hujan bulanan pada 2013-2017. Keluaran model diperolah dari hubungan non-linear Autoregressive dengan masukkan eksternal (External/Exogenous  input, NARX) yaitu curah hujan bulanan. Proses pemodelan meliputi training model menggunakan data 2013-2015, validasi model menggunakan data 2016, dan pengujian model menggunakan data 2017. Dari hasil pengujian model diperolah arsitektur model JST  n-d-h-o (peubah input,n ; d-tapped delayed , d, node tersembunyi, h; lapisan keluaran, o) yang sesuai untuk kebun Padang Mandarsah , Dalu-dalu, Bukit Sentang, dan Aek Pancur berturut-turut adalah 2-3-4-1, 2-24-5-1, 2-24-10-1, dan 2-3-5-1 dengan hubungan keeratan  (r) antara keluaran model dengan data aktual berturut-turut 0,84; 0,74; 0,84; dan 0,86. &nbsp

    PEMANFAATAN BAKTERI ENDOFIT UNTUK MENINGKATKAN KERAGAAN BIBIT KELAPA SAWIT (Elaeis guineensis Jacq.)

    Full text link
    Endophyte bacteria are microorganisms that live within plant tissue, harmless to the host plants, and usually contribute to plant health. Some of the endophytes are proved to be able to enhance plant growth by nitrogen fixation, phytohormones production such as indole acetic acid (IAA) and cytokines. This study aims to observe the influence of endophytic bacteria on the oil palm seedlings growth, nutrient absorption, and its potential on reducing the use of chemical fertilizer. The study was carried out in oil palm nursery at Aek Pancur substation since 3-monthsold until 9-monthsold. Treatments were arranged by using randomized completely block design (RCBD) with six treatments and repeated four times. The treatments are: (1) control; (2) 100% chemical fertilizer (standard); (3) 25% of urea dosage + inoculation of endophyte bacteria (B1N25); (4) 50% of urea dosage + inoculation of endophyte bacteria (B1N50); (5) 75% of urea dosage + inoculation of endophyte bacteria (B1N75); and (6) 100% of urea dosage + inoculation of endophyte bacteria (B1N100). The result showed that B1N75 was the best treatment indicated by higher relative agronomy effectiveness (RAE) up to 5.5% compared to standard.  On the other hand, its growth and biomass production were also equal to standard treatment. It means that application of endophyte bacteria could reduce the use of inorganic nitrogen fertilizer (Urea) up to 25%.Bakteri endofit merupakan mikroorganisme yang hidup di dalam jaringan tanaman, tidak berbahaya bagi tanaman inang, dan berasosiasi dengan tanaman untuk mendukung kesehatan tanaman. Peran bakteri endofit diantaranya adalah penambat nitrogen bebas udara, menghasilkan fitohormon yang dapat merangsang pertumbuhan tanaman seperti IAA dan sitokinin. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui pengaruh inokulasi bakteri endofit dalam meningkatkan pertumbuhan bibit kelapa sawit, serapan hara, dan potensi pengurangan dosis urea. Penelitian ini dilaksanakan di pembibitan kelapa sawit Kebun Aek Pancur pada tahap main nursery sejak umur 3 bulan hingga 9 bulan. Perlakuan disusun menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan enam perlakuan dan diulang sebanyak empat kali. Perlakuan terdiri dari (1) kontrol; (2) 100% pupuk standar; (3) 25% pupuk urea + inokulasi bakteri endofit (B1N25); (4) 50% pupuk urea + inokulasi bakteri endofit (B1N50); (5) 75% pupuk urea + inokulasi bakteri endofit (B1N75); dan (6) 100% pupuk urea + inokulasi bakteri endofit (B1N100). Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan B1N75 merupakan kombinasi perlakuan terbaik yang ditunjukkan dengan tingginya nilai efektif agronomi nisbi (EAN) 5,5% lebih tinggi dari standard dan memiliki performa keragaan serta produksi biomassa kering yang setara dengan 100% pemupukan nitrogen anorganik. Hal ini menunjukkan bahwa aplikasi bakteri endofit dalam penelitian ini mampu menurunkan penggunaan pupuk urea hingga 25%

    135

    full texts

    150

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Indonesian Journal of Oil Palm Research / Jurnal Penelitian Kelapa Sawit
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇