Indonesian Journal of Oil Palm Research / Jurnal Penelitian Kelapa Sawit
Not a member yet
150 research outputs found
Sort by
Pengaruh Komponen Neraca Air Terhadap Produktivitas Kelapa Sawit pada Berbagai Jenis Tanah:: Studi Kasus Kalimantan Tengah dan Barat
Different types of soil and the geographical areas of oil palm plantations generate variations in soil physical properties (e.g. texture and porosity). Differences in geographical location further result in variations in the amount of rainfall that affects the water balance. The response to diverse fluctuations in palm oil production due to variations in soil types and water balance can be assessed through correlation analysis between water balance parameters and oil palm productivity under varying soil types and regions. In this study, the water balance analysis was carried out at three locations of PT Bumitama Gunajaya Agro's oil palm plantations in Central Kalimantan and West Kalimantan provinces, using the Thornthwaite-Mather method. Analysis of the relationship between water balance components and oil palm fresh fruit bunch (FFB) yields is calculated based on monthly data for 8 years (2012 - 2019) using time series analysis and stepwise regression to find the best regression model. The water balance components that most influence the fresh fruit bunches (FFB) yield (tonnes/ha/month) are rainfall 7 months before harvest, rainy days 11 and 28 months before harvest, and water deficit 10 months before harvest. A decrease in FFB yield (tonnes/ha/month) occurs every time there is an increase in water deficit of 10 mm/month on Dystrudept, Paleudults, and Haplohumods soils in Area 3, respectively 11, 2, and 3%. In Area 5 the decline is 12, 4, and 5%. In Area 6 the decline is 5, 18, and 3%.Perbedaan jenis tanah dan letak geografis kebun kelapa sawit menyebabkan variasi sifat fisik tanah (terutama tekstur dan porositasnya). Perbedaan letak geografis juga menyebabkan variasi jumlah curah hujan yang mempengaruhi neraca air lahan. Respons fluktuasi produksi kelapa sawit yang berbeda akibat variasi jenis tanah dan neraca air lahan dapat dikaji dengan analisis hubungan neraca air lahan dan produktivitas kelapa sawit antar jenis tanah dan antar wilayah. Pada penelitian ini, analisis neraca air lahan dilakukan pada tiga lokasi area perkebunan kelapa sawit PT Bumitama Gunajaya Agro yang berada di provinsi Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat, menggunakan metode Thornthwaite-Mather. Analisis hubungan komponen neraca air dengan produksi TBS kelapa sawit dihitung berdasarkan data bulanan selama 8 tahun (2012 – 2019) menggunakan time series analysis dan untuk mencari model regresi terbaik digunakan stepwise regression. Komponen neraca air yang paling mempengaruhi produksi tandan buah segar (TBS) kelapa sawit (ton/ha/bulan) adalah curah hujan 7 bulan sebelum panen, hari hujan 11 dan 28 bulan sebelum panen, dan defisit air 10 bulan sebelum panen. Penurunan produksi TBS (ton/ha/bulan) terjadi setiap ada kenaikan defisit air senilai 10 mm/bulan pada tanah Dystrudept, Paleudults dan Haplohumods di Area 3 berturut-turut adalah 11, 2, dan 3%. Pada Area 5 penurunannya adalah 12, 4, dan 5%. Pada Area 6 penurunannya adalah 5, 18 dan 3%
Perbandingan Roundtable On Sustainable Palm Oil (RSPO), Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO), dan Malaysian Sustainable Palm Oil (MSPO)
The palm oil industry is an industry that has a role in a country's economic sector. The palm oil industry needs certification standards in strengthening industrial systems and steps to remain sustainable. Industrial systems that are strengthened based on economic, legal, social, and environmentally friendly. Implementing sustainable palm oil certification standards include the Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO), Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO), and Malaysian Sustainable Palm Oil (MSPO). This study aims to compare the three certification standards and find out the most comprehensive certification standards. This research method uses qualitative methods that are descriptive and comprehensively analyzed from each indicator. The results of this study indicate that the total RSPO, ISPO and MSPO assessments amounted to 77 points, 56 points, and 62 points respectively, so it can be concluded that the RSPO has a more comprehensive level of detail and requirements compared to ISPO and MSPO based on aspects of the certification system, supply chain system, social and environmental protection, treatment of smallholders/plasma, peatlands and land acquisition.Industri minyak sawit merupakan industri yang berperan dalam sektor perekonomian suatu negara. Industri kelapa sawit membutuhkan standar sertifikasi dalam memperkuat sistem industri dan langkah untuk tetap berkelanjutan. Sistem industri yang diperkuat berdasarkan ekonomis, hukum, sosial, dan ramah lingkungan. Penerapan standar sertifikasi kelapa sawit yang berkelanjutan antara lain Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO), Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO) dan Malaysian sustainable Palm Oil (MSPO). Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan tiga standar sertifikasi dan mengetahui standar sertifikasi yang paling komprehensif. Metode penelitian ini menggunakan metode kualitatif yang bersifat deskriftif dan dianalisa secara komprehensif dari setiap indikator. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa total penilaian RSPO, ISPO dan MSPO masing-masing sebesar 77 poin, 56 poin dan 62 poin, sehingga dapat disimpulkan RSPO memiliki tingkat kedetailan dan persyaratan yang lebih komprehensif dibandingkan ISPO dan MSPO berdasarkan aspek sistem sertifikasi, sistem rantai pasok, perlindungan sosial dan lingkungan, perlakuan petani kecil/plasma, lahan gambut dan pembebasan tanah
Konservasi Sumber Daya Genetik Pisifera: Kalogenesis Kelapa Sawit Keturunan SP540T yang berumur 41 tahun
Pisifera from SP540T descendants has been widely used for breeding purposes and commercial seed production due to their superior characteristics. However, the reproduction rate of this material was quite low. Therefore, genetic resource conservation of SP540T-derived Pisifera is very important. Tissue culture technology which enables to produce true to type clone is one of the conservation methods. The objective of this work was to know the best tissue culture medium to induce callogenesis of SP540T-derived Pisifera. This experiment used young leaves as the explants and MS medium in the form of MS+110,5 mg/l 2,4-D, MS+110,5 mg/l 2,4-D+activated charcoal, and MS modification of PPKS's Tissue Culture Protocol medium as a comparison. The results showed that MS+110,5 mg/l 2,4-D+activated charcoal produced 13.00% calli, which was the highest percentage of callogenesis and was significantly different than the other treatments. Based on the results, the medium can be used for multiplication and conservation of Pisifera from SP540T descendants.Kelapa sawit turunan SP540T telah banyak digunakan untuk tujuan pemuliaan maupun produksi komersial varietas unggul kelapa sawit. Oleh karena itu, konservasi sumber daya genetik SP540T sangat diperlukan, salah satunya melalui kultur jaringan yang dapat menghasilkan tanaman yang true to type. Media kultur jaringan yang digunakan dalam penelitian ini adalah modifikasi MS diantaranya media MS+110,5 mg/l 2,4-D, media MS+110,5 mg/l 2,4-D+karbon aktif, dan media MS modifikasi Protokol Kultur Jaringan PPKS sebagai pembanding. Hasil penelitian menunjukkan pembentukan kalus primer dan sekunder terbaik teramati pada perlakuan MS+110,5 mg/l 2,4D+karbon aktif yaitu sebesar 13,00% dan berbeda nyata dibandingkan perlakuan lainnya. Berdasarkan hasil penelitian ini, media tersebut dapat digunakan untuk perbanyakan maupun konservasi sumber daya genetik SP540T
Kajian Kerapatan dan Keragaman Organisme Tanah Gambut di Bawah Tegakan Tanaman Kelapa Sawit Menghasilkan
This study was conducted on peat land in Kebun Panai Jaya, PT Perkebunan Nusantara IV, North Sumatera province. The sampling method was Pit Fall Trap to trap ground level fauna, Barlese Tullgren to observe the active soil fauna in the soil, and making a soil hole to get the worms sample. The Pit Fall Trap could collect the highest number of the fauna. The soil fauna was positively correlated to temperature, soil moisture, and soil respiration, and it was negatively correlated to soil pH and C/ N ratio. This study showed that, among the soil fauna that found on the observed field, the dominated organisms are weaver ants and followed with earthworms. Both soil fauna (macro and mesofauna) and eukaryotic soil microorganism (fungi and bacteria) were highly found under the frond piles of oil palm plantation.Penelitian ini dilaksanakan di lahan gambut pada Kebun Panai Jaya, PT Perkebunan Nusantara IV, Provinsi Sumatera Utara. Metode pengambilan sampel yang digunakan dengan cara Pit Fall Trap (untuk menjebak fauna permukaan tanah), Barlese Tullgren (untuk melihat fauna tanah yang aktif di dalam tanah) dan membuat lubang (untuk mendapatkan cacing). Metode yang mendapatkan fauna terbanyak yaitu dengan cara Pit Fall Trap. Fauna tanah berkorelasi positif terhadap suhu, kadar air dan respirasi tanah, sedangkan terhadap pH dan C/N berkorelasi negatif. Hasil penelitian menunjukkan, diantara fauna tanah pada plot penelitian, diketahui bahwa jumlah fauna yang paling mendominasi adalah semut rangrang dan diikuti oleh cacing tanah. Baik fauna tanah (makrofauna dan mesofauna) dan mikroorganisme eukariotik tanah (jamur dan bakteri) ditemukan paling banyak pada areal rumpukan kebun kelapa sawit
Identifikasi SNP genom pada populasi Elaeis guineensis x Elaeis oleifera
Efforts in finding DNA markers for favorable characters of Elaeis oleifera introgressed into Elaeis guineensis genome requires polymorphic DNA markers. To generate high number of polymorphic DNA markers, a genome-wide SNP identification was done by resequencing 12 individual samples using next generation sequencing (NGS) from an E. guineensis x E. oleifera (OxG hybrid) population comprising wild E. oleifera species, interspesific F1 hybrids, pseudo-backcrosses, and advanced E. guineensis samples. The reads generated from the 12 samples have good qualities and 96% of total filtered reads could be demultiplexed and assigned to the corresponding samples. After filtering and trimming, 84% of reads were retained for genome mapping and produced 5.7X to 10.42X genome coverage. Among the 34,410,224 identified SNPs, 98.7% of them were non-coding variants, and based on their location 69.1% of the total SNPs were intergenic SNPs. There were 5,618 SNPs out of the total generated SNPs that were validated using targeted genotyping by sequencing on 500 individuals, and 74% of the SNPs produced high quality calls in at least 95% of the samples. Principal component analysis using the SNPs correctly identified each sample's genetic background. Thus, the SNPs had high quality and could be used to develop marker-assisted selection of the E. guineensis x E. oleifera breeding population.Usaha pencarian marka DNA yang berhubungan dengan sifat yang diinginkan pada Elaeis oleifera guna introgresi sifat tersebut ke genome Elaeis guineensis memerlukan marka DNA yang polimorfik. Untuk menghasilkan marka DNA yang polimorfik dengan jumlah banyak, identifikasi SNP genom dilakukan melalui pengurutan kembali (resequencing) 12 individu contoh populasi hibrida E. guineensis x E. oleifera (hibrida OxG), yaitu E. oleifera tipe liar, F1 hibrida interspesifik, pseudo-backcross dan material maju E. guineensis, menggunakan next generation sequencing (NGS). Read (urutan basa yang “dibaca”/merupakan keluaran mesin NGS) dari 12 contoh memiliki mutu yang baik dan 96% total read yang disaring dapat dilakukan demultipleks dan ditentukan pada contoh yang sesuai. Setelah proses penyaringan dan pemotongan, 84% read dapat digunakan untuk pemetaan genom dan menghasilkan 5,7X hingga 10,42X cakupan genom. Dari 34.410.224 SNP yang teridentifikasi, 98,7% diantaranya adalah varian non-coding, dan berdasarkan lokasi, 69,1% total SNP adalah SNP intergenic. Sebanyak 5.618 SNP dari total SNP yang dihasilkan dibuktikan menggunakan targeted genotyping by sequencing pada 500 individu contoh. Sebanyak 74% SNP yang digunakan bermutu tinggi yang dibaca pada setidaknya 95% contoh. Principal component analysis menggunakan SNP tersebut mampu mengidentifikasi setiap latar belakang genetik contoh. Pembuktian tersebut menyimpulkan bahwa identifikasi SNP yang dilakukan melalui pengurutan kembali menghasilkan SNP bermutu tinggi yang dapat digunakan untuk pengembangan marka DNA yang dapat diperbantukan pada seleksi populasi pemuliaan E. guineensis x E. oleifera
Studi Preferensi Pemilihan Merek Dekanter 3 Fasa pada Pabrik Kelapa Sawit menggunakan Analytic Hierarcy Process
Decanter is used to separate oil phase from underflow sludge of continuous settling tank (CST) in Palm Oil Mills (POM). The most commonly type of decanter is 3-phase decanter. This paper describes the brand preferences in 3-phase decanter selection by using the Analytical Hierarchy Process (AHP) method. Before the AHP was done, expert correspondent prepared a list of criteria and sub-criteria for 3-phase decanter brand selection. AHP was conducted in 3 steps, which were: i) criteria classification, ii) pair-wise comparison of criteria and sub-criteria, that did by user correspondent, and iii) evaluation on the 3-phase decanter selection based on the brand comparison, that did by user correspondent. AHP simulation was carried out using Expertchoice® version 11. The first step of AHP generated: i) a question list arranged in questionnaire form, regarding criteria and sub-criteria concerning the brand of the decanter, and ii) weight value for each question. The second step of AHP revealed that technical criteria are preferable to economic than technical criteria. The spare part availability has the highest preference value amongst the economic sub-criteria, while oil losses has the highest preference in the technical sub-criteria. The third step of AHP showed that the decanter of Brand B is on the top ranking, with an economic and a technical preference value of 0.148 and 0.130, respectively. These results indicated that preference values can change if a complex analysis of criteria, sub-criteria, and decanter brands is involved in the one system analysis. Results of sensitivity analysis shows that both the decanter of Brand B and Brand E get the first rank in preference, which Brand E is on third rank before the sensitivity analysis is deducted.Dekanter digunakan untuk memisahkan fasa minyak dari sludge underflow continuous settling tank (CST) pada unit klarifikasi di Pabrik Kelapa Sawit (PKS). Jenis dekanter yang umum digunakan di PKS adalah dekanter 3 fasa. Tulisan ini membahas tentang preferensi pemilihan merek dekanter 3 fasa dengan menggunakan metode analisis Analytic Hierarchy Process (AHP). Sebelum dilakukan analisis AHP, koresponden ahli membuat daftar kriteria dan sub-kriteria pemilihan dekanter. Analisis AHP dilakukan tiga tahap, yaitu: i) pengelompokan kriteria, ii) penilaian perbandingan silang kriteria dan sub-kriteria oleh koresponden user, dan iii) penilaian perbandingan kriteria dan sub-kriteria terhadap merek dekanter oleh koresponden user. Analisis AHP menggunakan software Expertchoice® versi 11. Hasil analisis tahap pertama AHP berupa: i) daftar pertanyaan hubungan kriteria dan sub kriteria terhadap merek dekanter yang tersusun dalam kuesioner, dan ii) bobot nilai untuk setiap pertanyaan. Sebanyak 10 orang koresponden user diwawancara untuk menjawab pertanyaan kuisioner. Seluruh data dari kuisioner diinput ke dalam platform analisis. Hasil analisis tahap kedua AHP menunjukkan bahwa kriteria teknis menjadi preferensi utama konsumen dibandingkan kriteria ekonomi. Nilai preferensi tertinggi sub-kriteria ekonomi adalah ketersediaan spare part (KSP), nilai preferensi tertinggi sub-kriteria teknis adalah losis minyak (LM). Hasil analisis tahap ketiga AHP adalah dekanter Merek B berada pada peringkat pertama, dengan nilai preferensi ekonomi 0,148 dan teknis 0,130. Hasil ini menunjukkan bahwa nilai preferensi dapat berubah jika melibatkan analisis yang kompleks antara kriteria, sub-kriteria dan merek dekanter. Hasil analisis sensitifitas menunjukkan bahwa dekanter Merek B dan Merek E menjadi peringkat pertama preferensi, dimana Merek E berada pada rangking ketiga sebelum analisis sensitifitas
Produksi dan karakterisasi selulosa mikrokristalin dari limbah batang kelapa sawit (Elaeis Guineensis Jacq.) hasil replanting perkebunan
Microcrystalline cellulose is a derivative of cellulose or cellulose that is modified on a micro scale with a length of about 10-200 µm which is crystalline. Oil palm trunks can be used as an alternative for the production of microcrystalline cellulose. This study aims to obtain microcrystalline cellulose from oil palm trunks and determine the characteristics of each stage of treatment. The obtained microcrystalline cellulose with cellulose content was successfully increased from 31.11 ± 2.01% to 84.35 ± 1.04%, this was in accordance with the FTIR absorption peak group and along with the decrease in lignin and hemicellulose content. XRD analysis showed an increase in the crystallinity of MCC up to 78% after going through the chemical treatment stage. The SEM results obtained MCC with a length and width of 43.2 ± 19.6 m and 11.4 ± 8.1 m and showed the breakdown of complex components in the raw fiber of oil palm trunk which was described by the structure of the surface becoming smoother and shaped. regular fibrils. Based on the results of this study, the process of delignification, bleaching, and acid hydrolysis gradually succeeded in producing microcrystalline cellulose from oil palm trunks.Selulosa mikrokristalin merupakan turunan dari selulosa atau selulosa yang dimodifikasi dalam skala mikro dengan ukuran panjang sekitar 10-200 µm yang bersifat kristalin. Batang kelapa sawit dapat digunakan sebagai salah satu alternatif produksi selulosa mikrokristalin. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan selulosa mikrokristalin dari batang kelapa sawit dan mengetahui karakteristik setiap tahapan perlakuannya. Diperoleh selulosa mikrokristalin dengan kandungan selulosa yang berhasil ditingkatkan dari 31,11 ± 2,01% menjadi 84,35 ± 1,04%, hal ini sesuai dengan gugus puncak serapan FTIR dan seiring dengan penurunan kandungan lignin dan hemiselulosa. Analisa XRD menunjukkan terjadinya peningkatan kristalinitas dari MCC hingga 78% setelah melalui tahapan perlakuan kimia. Hasil SEM didapatkan MCC dengan panjang dan lebar sebesar 43,2 ± 19,6 µm dan 11,4 ± 8,1 µm dan menunjukkan terjadinya pemecahan komponen kompleks pada serat Raw batang kelapa sawit yang digambarkan dengan struktur dari permukaan yang menjadi lebih halus dan berbentuk fibril yang teratur. Berdasarkan hasil penelitian ini, proses delignifikasi, pemutihan, dan hidrolisis asam secara bertahap berhasil memproduksi selulosa mikrokristalin dari batang kelapa sawit
Eksplorasi Pendugaan Hara Daun Tanaman Kelapa Sawit Menggunakan Pesawat Tanpa Awak dan Kamera Multispektral
Fertilizer recommendation is yearly activities for oil palm nutrient requirement correction by fertilization activities. Oil palm leaf nutrients content in fertilization recommendation activities is a small part of several parameters used. In a row of the remote sensing gains, the researchers have been studying the oil palm leaf nutrients content prediction from multispectral satellite data and field spectral from spectroradiometer and they have a variance of results. According to the existing research of the oil palm leaf nutrients content prediction, the unmanned aerial vehicle (UAV) assembled by the multispectral camera does not yet use for oil palm leaf nutrients. Therefore, this research is necessary to do. The objectives of this research were to compare the model predictor of oil palm leaf nutrient contents with several variations of variables from three bands of the multispectral camera and several vegetation indices and also to determine the best model predictors from them. The image from the multispectral camera of Mapir Survey 3 that consists of green, red, and near-infrared, and also simple ratio, normalized difference vegetation index, as well as green NDVI were used as the independent variable of regression analysis included simple regression, polynomial regression, multivariant regression with selected variables from linear regression and random forest methods of recursive feature elimination technic, and polynomial multivariant regression. The responses were the leaf nutrient analysis of N, P, K, Ca, Mg, and B from twenty samples. The results showed the best model predictor was the regression model from polynomial multivariant regression with variables from RF method of RFE technique. The model just predicted the N, P, K, and Mg oil palm leaf nutrients with 0.9415 to 0.9991 R2 value, 0.7223 to 0.9837 adjusted R2 value, and 0.0045 to 0.0340 residual standard error value (RSE).Rekomendasi pemupukan umumnya disusun setiap tahun untuk mengkoreksi kebutuhan hara tanaman melalui kegiatan pemupukan. Hara daun dalam penyusunan rekomendasi pemupukan merupakan bagian kecil dari beberapa parameter yang digunakan. Beberapa peneliti telah melakukan prediksi hara daun tanaman kelapa sawit memanfaatkan data satelit multispektral dan pengukuran spectroradiometer dengan hasil yang bervariasi. Penelitian prediksi hara daun kelapa sawit dengan pesawat tanpa awak dan kamera multispektral ini dilakukan karena belum ada kajian mengenai penggunaan teknologi tersebut untuk prediksi hara daun kelapa sawit. Tujuan penelitian ini adalah membandingkan performa pendugaan hara daun dari berbagai variasi komposisi variabel berupa 3 saluran dan beberapa indeks vegetasi, serta untuk menentukan analisis regresi terbaik. Band hijau, merah, dan inframerah dekat dari kamera multispektral Mapir Survey 3, serta indeks vegetasi simple ratio, normalized difference vegetation index, dan green NDVI digunakan sebagai variabel bebas dalam analisis regresi sederhana, regresi polinomial, regresi berganda dari variabel terseleksi dengan teknik recursive feature elimination dengan metode regresi linear dan random forest, dan regresi berganda polinomial dengan variabel tidak bebas (respons) berupa analisis daun dari 20 sampel yang meliputi hara N, P, K, Ca, Mg, dan B. Model penduga terbaik dari penelitian ini adalah model regresi berganda polinomial dari variabel terseleksi menggunakan teknik RFE metode random forest. Variabel bebas hanya mampu menduga hara daun N, P, K, dan Mg dengan nilai R2 sebesar 0,9415 hingga 0,9991, Adjusted R2 sebesar 0,7223 hingga 0,9837, serta nilai residual standard error (RSE) sebesar 0,0045 hingga 0,0340
Pengamatan Karakteristik Strain Cordyceps militaris (L) tipe liar alam dari lima perkebunan kelapa sawit di Muara Wahau Kalimantan Timur
Cordycep militaris (L) is known in oil palm plantations as a natural enemy of nettle caterpillars. This fungus infects the caterpillars that descend down to become pupae around the palm circle, so that the pupae do not develop into imago and the pest's life cycle will be interrupted. This fungus is one of the 3 main entomopathogenic fungi used as bioinsecticides to control pests in oil palm plantations. In this study, the characteristics of C. militaris were observed from 5 oil palm plantations cultured in vitro using two types of media and two incubation methods. The results showed that there were mycelium pigmentation in nutrient-rich media Sabouraud Dextrose Agar plus Yeast extract (SDAY) when incubated with lighting. Only one of five mycelium cultures using SDAY media showed pigmentation on the no-light incubation method. Pigmentation did not occur in nutrient-poor media such as agar (WA), either incubated with lighting or with no-light. The growth of isolates was generally higher on SDAY media than on WA media. This study showed that C. militaris is a facultative phagotrophic fungus. The highest growth of isolates cultured on SDAY media incubated with lighting was found in isolates A and C, with colony diameter 90 mm, high mycelium density (+++) and hairy texture like cotton at the end of the 3rd week after inoculation. In the no-light incubation method, the highest growth was found in isolates B and C with colony diameter 90 mm, high mycelium density (+++) and hairy texture like cotton at the end of the 3rd week after inoculation. Isolates A and C showed high virulence potential to be used as bioinsecticides.Jamur Cordycep militaris (L) dikenal di dunia perkebunan kelapa sawit sebagai musuh alami hama ulat api. Jamur ini menginfeksi ulat api yang turun ke bawah untuk menjadi pupa di sekitar piringan, sehingga pupa tidak berkembang menjadi imago dan siklus hidup hama akan terputus. Jamur ini merupakan salah satu dari 3 jamur entomopatogen utama yang digunakan sebagai bioinsektisida untuk mengendalikan hama di perkebunan kelapa sawit. Pada penelitian ini, dilakukan pengamatan karakteristik C. militaris yang diperoleh dari 5 perkebunan kelapa sawit yang dikultur secara in vitro menggunakan dua jenis media dan dua metode inkubasi. Hasil penelitian menunjukkan adanya pigmentasi miselium pada media kaya nutrisi Sabouraud Dextrose Agar plus Yeast extract (SDAY), dan sebagian besar pada metode inkubasi dengan pencahayaan. Hanya satu dari lima isolat yang dikultur di media SDAY yang menunjukkan pigmentasi pada metode inkubasi tanpa cahaya. Tidak terjadi pigmentasi di media miskin nutrisi seperti media agar (WA), baik yang diinkubasi dengan pencahayaan maupun tanpa cahaya. Pertumbuhan isolat secara umum lebih tinggi pada media SDAY dibandingkan dengan media WA. Penelitian ini menunjukkan bahwa C. militaris merupakan fungi yang bersifat fakultatif fagotrofik. Diameter koloni tertinggi pada metode inkubasi dengan pencahayaan di media SDAY terdapat pada isolat A dan C sebesar 90 mm dengan kategori kepadatan miselium tinggi (+++) dan tekstur berbulu seperti kapas di akhir minggu ke-3 setelah inokulasi. Pada metode inkubasi tanpa cahaya, diameter koloni tertinggi terdapat pada isolat B dan C sebesar 90 mm dengan kategori kepadatan miselium tinggi (+++) dan tekstur berbulu seperti kapas di akhir minggu ke-3 setelah inokulasi. Isolat A dan C menunjukkan potensi virulensi yang tinggi untuk digunakan sebagai bioinsektisida
Penggunaan Alkohol dan Sodium Hipoklorit sebagai Sterilan Tunggal untuk Sterilisasi Eksplan Kelapa Sawit
Oil palm micropropagation through tissue culture is initiated with explants sterilization. Sterilization is a crucial stage because it determines the production rate of sterile plant cultures. Concentration and exposure time of sterilizing agents must be determined empirically to gain effective method which produces explants with low mortality. This research aimed to obtain effective protocols for unopened-leaves sterilization of oil palm using single sterilizing agents. Alcohol and sodium hypochlorite (NaOCl) at certain concentrations and duration of exposure were used as sterilization treatments. Treatments of alcohol did not show any significant differences on contamination, browning, and growth response rate based on analysis of variance (ANOVA) as well as sodium hypochlorite. The best results were shown by 70% alcohol for 5 minutes and 10% NaOCl for ten minutes. These treatments were sufficiently effective in reducing contamination with the lowest percentage of browning explants and high growth response rate. Application with higher concentration of alcohol (80% and 90%) caused death of explants, while higher concentration of sodium hypochlorite increased browning explants. The type of contamination found in culture were bacteria and fungi. Domination of bacteria was found in alcohol treatment while fungi contamination dominated in NaOCl treatment.Perbanyakan kelapa sawit melalui teknik kultur jaringan diawali dengan proses sterilisasi eksplan. Sterilisasi merupakan tahapan yang krusial karena menentukan jumlah produksi tanaman kultur yang bebas mikroba. Konsentrasi dan durasi paparan sterilan harus ditentukan secara empiris agar diperoleh prosedur sterilisasi eksplan yang efektif namun tidak menyebabkan kematian eksplan. Penelitian ini bertujuan memperoleh protokol sterilisasi yang tepat untuk eksplan daun muda kelapa sawit menggunakan sterilan tunggal. Dua jenis sterilan yakni alkohol dan sodium hipoklorit pada konsentrasi dan durasi paparan tertentu digunakan dalam perlakuan sterilisasi. Perlakuan alkohol yang diberikan tidak menunjukkan perbedaan tingkat kontaminasi, browning, dan respon pertumbuhan eksplan yang signifikan melalui uji sidik ragam (ANOVA), begitupun perlakuan dengan sodium hipoklorit (NaOCl). Perlakuan terbaik ditunjukkan pada perlakuan alkohol 70% dengan durasi paparan selama 5 menit dan sodium hipoklorit 10% selama 10 menit. Perlakuan tersebut cukup efektif menekan kontaminasi eksplan dengan persentase eksplan yang mengalami browning paling rendah, serta respon pertumbuhan berupa pembengkakan jaringan paling baik. Alkohol dengan konsentrasi tinggi yaitu 80% dan 90% menyebabkan kematian jaringan, sedangkan penggunaan sodium hipoklorit dalam konsentrasi tinggi meningkatkan risiko eksplan browning. Jenis kontaminasi yang ditemukan dalam kultur adalah bakteri dan jamur. Dominasi kontaminan bakteri ditemukan pada perlakukan alkohol, sedangkan pada perlakuan sodium hipoklorit kontaminasi didominasi oleh jamur