Indonesian Journal of Oil Palm Research / Jurnal Penelitian Kelapa Sawit
Not a member yet
150 research outputs found
Sort by
Sifat Fisika Kimia Campuran Minyak dari Minyak Sawit Merah Murni dengan Minyak Zaitun, Minyak Jagung, Minyak Kedelai atau Minyak Bunga Matahari
Virgin red palm oil (VRPO) is an oil contains balanced saturated and unsaturated fatty acids and high bioactive compounds (such as carotene, tocopherol, and tocotrienol). Meanwhile, olive oil (OO), corn oil (CO), soybean oil (SBO), and sunflower oil (SFO) are oils contain high unsaturated fatty acids. Blending two or more types of oil can produce healthy oil with a desired fatty acid profile, oxidative stability, and bioactive compounds. This research was conducted to examine the characteristics of a mixture of VRPO with OO, CO, SBO, or SFO at a weight ratio of 100:0 - 0:100 including free fatty acid, carotene and vitamin E content, fatty acids composition, iodine value, melting point and solid fat content. Increasing the amount of VRPO increased palmitic acid, carotene and vitamin e content, melting point, and solid fat content. Enhancing the amount of OO, CO, SBO or SFO decreased free fatty acid content and increased iodine value. The mixture of VRPO with CO, SBO or SFO produced healthy oils with a ratio of saturated fatty acids: monosaturated fatty acids: polyunsaturated fatty acids close to 1:1.5:1. The mixture of VRPO with OO also produced healthy oil with a ratio of linoleic acid: linolenic acid of 5-10:1. The oil mixtures can be used as cooking oil, baking shortening and margarine that rich bioactive compounds.Minyak sawit merah murni (virgin red palm oil, VRPO) merupakan minyak mengandung asam lemak jenuh dan tak jenuh seimbang, serta senyawa bioaktif tinggi (seperti karoten, tokoferol dan tokotrienol). Sementara itu, minyak zaitun (olive oil, OO), minyak jagung (corn oil, CO), minyak kedelai (soybean oil, SBO) dan minyak bunga matahari (sunflower oil, SFO) merupakan minyak mengandung asam lemak tak jenuh tinggi. Pencampuran dua atau lebih jenis minyak dapat menghasilkan minyak sehat dengan profil asam lemak, stabilitas oksidatif dan senyawa bioaktif yang diinginkan. Penelitian ini dilakukan untuk mengkaji karakteristik campuran VRPO dengan OO, CO, SBO atau SFO pada rasio berat 100:0-0:100 meliputi kadar asam lemak bebas, karoten dan vitamin E, komposisi asam lemak, bilangan iodin, titik leleh, dan kandungan lemak padat. Peningkatan jumlah VRPO meningkatkan kadar asam palmitat, karoten dan vitamin e, titik leleh dan kandungan lemak padat. Peningkatan jumlah OO, CO, SBO atau SFO menurunkan kadar asam lemak bebas dan meningkatkan bilangan iodin. Campuran VRPO dengan CO, SBO atau SFO menghasilkan minyak sehat dengan rasio asam lemak jenuh: asam lemak tak jenuh tunggal: asam lemak tak jenuh ganda mendekati 1:1,5:1,0. Campuran VRPO dengan OO juga menghasilkan minyak sehat dengan rasio asam linoleat: asam linolenat sebesar 5-10:1. Campuran-campuran minyak tersebut dapat digunakan sebagai bahan baku untuk minyak goreng, baking shortening dan margarin yang kaya senyawa bioaktif
Pengaruh Penambahan Kalsium Karbonat (CaCO3) Pada Kandungan Asam Lemak Bebas pada Minyak Kelapa Sawit Restan
Free Fatty Acid (FFA) is one of the important parameters to determine CPO (Crude Palm Oil) quality. The restoration of palm oil allows the significant increment in the FFA content which leads to the reduction of CPO quality and declining the CPO price. Therefore, it needs the additional treatment to inhibit the increment of FFA content on the restored plam fruit. The purpose of this study is to investigate the effect of Calcium Carbonate (CaCO3) addition to the FFA content in restored palm fruit. The CaCO3 was sprayed evenly to the surface of restored palm fruitlets. The CaCO3 solution used for this treatment was 300 g/l, 350 g/l and, 400 g/l. The fruitlets were restored at 15, 23, and 28 hours. Two types of palm fruitlets used were the normal fruitlet and the surface-wounded fruitlets. The FFA was extracted by soxhlet method, while FFA determination was conducted by titration technique. The Addition of CaCO3 was observed effective to decrease FFA content on normal fruitlets with the optimum CaCO3 concentration to reduce FFA content was of 400 g/l. The FFA reduction effectivity was 39.08%, 24.29% and 19,04 for 18 h, 23 h and 28 h restored time respectively. The addition of CaCO3 was observed to be in-effective to decrease the FFA content to the surface-wounded restored palm fruitlets. This research can trigger the more advance research for improvement of CPO production that leads to the improved CPO quality.Asam Lemak Bebas (ALB) merupakan salah satu parameter penting dalam penentuan kualitas CPO (Crude Palm Oil). Adanya perlakuan restan dapat memberikan peningkatan yang siginifikan kadar ALB pada CPO dapat berakibat pada penurunan kualitas CPO yang berkorelasi langsung pada turunnya harga CPO. Perlakuan tambahan diperlukan guna menahan kenaikan ALB yang signifikan pada saat kondisi restan. Penelitian ini bertujuan untuk menginvestigasi pengaruh pemberian larutan kalsium karbonat pada buah sawit restan. Berondolan Buah sawit restan disemprot secara merata pada permukaan buah dengan larutan Kalsium karbonat (CaCO3). Konsentrasi larutan CaCO3 yang digunakan yaitu 300 g/l, 350 g/l, dan 400 g/l. Variasi waktu restan yang diterapkan adalah 18 jam, 23 jam, dan 28 jam. Kondisi berondolan buah sawit yang digunakan adalah berondolan buah sawit yang luka dan tidak luka. ALB di ekstraksi dengan metode soxhlet sedangkan nilai ALB ditentukan dengan metode titrasi. Hasil penelitian menunjukan bahwa penambahan CaCO3 efektf untuk menurunkan nilai ALB pada buah sawit normal dengan konsentrasi optimum CaCO3 yang memberikan hasill penurunan FFA tertinggi adalah 400 g/l. Efektivitas penuruan ALB sebesar 39.08%, 24.29% dan 19.04% pada masing-masing waktu restan 18, 23 dan 28 jam. Penambahan CaCO3 kepada buah luka tidak efektif untuk menurunkan kadar ALB pada buah luka dengan perlakuan restan. Penelitian ini dapat digunakan sebagai langkah awal untuk penelitian lanjutan guna perbaikan tahapan proses guna meningkatkan kualitas CPO
Studi pendahuluan kandungan Vitamin E pada varietas kelapa sawit PPKS
An oil palm variety with high vitamin E has an added value because of its benefit as pharmaceutical and nutraceutical source. The measurement of the vitamin E content in CPO from eight varieties of oil palm is an effort to obtain high vitamin E varieties with the optimum oil yield. The varieties used in this experiment were DxP PPKS 718, DxP PPKS 239, DxP PPKS 540, DxP Yangambi, DxP Lame, DxP Avros, DxP Simalungun, and DxP Langkat, which were planted in a demonstration block, located at Kebun Adolina PTPN IV. The result showed that the average of the vitamin E from 8 varieties ranged from 477.36 ppm up to 582.78 ppm. The DxP Yangambi has the potency to be improved as the candidate of DxP variety with high vitamin E added value due to its highest vitamin E content. On the other hand, the DxP PPKS 540 is appropriate as candidate of ortets for high vitamin E clones regarding the vitamin E content; which is the highest over the whole samplesVarietas kelapa sawit dengan kandungan vitamin E yang tinggi memberi nilai tambah karena kelebihannya sebagai sumber bahan obat dan suplemen (pharmaceutical dan neutraceutical). Pemeriksaan kandungan vitamin E pada CPO dari delapan varietas kelapa sawit merupakan salah satu upaya untuk mendapatkan kandidat varietas yang memiliki vitamin E tinggi dengan tingkat produksi minyak yang optimal. Varietas yang digunakan adalah DxP PPKS 718, DxP PPKS 239, DxP PPKS 540, DxP Yangambi, DxP Lame, DxP Avros, DxP Simalungun, dan DxP Langkat yang keseluruhannya ditanam di demonstration block Kebun Adolina PTPN IV. Hasil penelitian menunjukkan rerata kandungan vitamin E dari 8 varietas berkisar antara 477,36 ppm hingga 582,78 ppm. Varietas DxP Yangambi memiliki rerata kandungan vitamin E yang tertinggi dibandingkan rerata varietas lainnya, sehingga dapat dikembangkan sebagai kandidat varietas dengan nilai tambah kandungan vitamin E tinggi. Pada varietas DxP PPKS 540, memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai sumber ortet dengan karakter tinggi vitamin E karena memiliki rerata vitamin E mencapai 1.000 ppm, melebihi rerata semua varietas yang diuji
Dampak aplikasi kumatetralil dan Sarcocystis singaporensis terhadap serangan hama tikus di perkebunan kelapa sawit
The management of rat attack in oil palm plantation is commonly achieved through rodenticide application as well as in combination with the utilization of natural enemies. In this study, field efficacy of two rodenticide active ingredients i.e. coumatetralyl and Sarcocystis singaporensis against Rattus tiomanicus was conducted in mature oil palm blocks. The experiment was carried out in a randomized complete block design consisting of 3 treatments and 6 blocks/replicates. The application of coumatetralyl was conducted at the dose of 1 block bait per palm, while S. singaporensis treatment was conducted at the dose of 2 pellets per palm. The rodenticide application was carried out four times at five days interval. The result showed that incidence of rat attack decreased in all experimental blocks. The incidence of rat attack on coumatetralyl treatment was significantly lower than the control block at 5 and 10 days after application (daa), where as S. singaporensis treatment only showed a significant reduction at 5 daa. The average rate of reduction in rat attack during application of coumatetralyl, S. singaporensis, and control treatments was 53.80%; 38.58%; and 21.86%, respectively. The intensity of rat attack on male flowers before application was ranged between 31.87% to 40.64%, while the intensity on fruit bunches was ranged from 4.85% - 7.52%. The decrease in the incidence and intensity of rat attack is in line with the decrease in rodenticide consumption. In coumatetralyl treatment, consumed bait decreased from 75.02% to 57.03%, while in S. singaporensis treatment it decreased from 61.38% to 47.20%. In general, the efficacy value of coumatetralyl was higher than that of S. singaporensis.Pengendalian hama tikus di perkebunan kelapa sawit dapat dilakukan secara kimiawi menggunakan rodentisida atau secara biologi dengan memanfaatkan musuh alami, maupun integrasi antar keduanya. Pada penelitian ini dilakukan efikasi dua jenis bahan aktif rodentisida yaitu kumatetralil dan Sarcocystis singaporensis terhadap serangan tikus pohon Rattus tiomanicus pada tanaman kelapa sawit menghasilkan. Percobaan dilakukan dengan Rancangan Acak Kelompok yang terdiri 3 perlakuan dan 6 blok/ulangan. Dosis perlakuan kumatetralil yaitu 1 blok per pohon sedangkan dosis perlakuan S. singaporensis yaitu 2 pelet per pohon. Aplikasi umpan rodentisida dilakukan dengan interval lima hari sekali 4 ulangan. Hasil pengujian menunjukkan bahwa persentase kejadian serangan tikus mengalami penurunan di seluruh blok percobaan. Kejadian serangan tikus pada blok aplikasi Kumatetralil secara nyata lebih rendah dibandingkan blok kontrol pada pengamatan 5 dan 10 hari setelah aplikasi (hsa), sedangkan pada blok aplikasi S. singaporensis hanya terlihat pada 5 hsa. Rerata laju penurunan serangan tikus selama aplikasi pada perlakuan Kumatetralil, S. singaporensis, dan kontrol adalah berturut-turut sebesar 53,80%; 38,58%; dan 21,86%. Intensitas serangan tikus pada bunga jantan sebelum aplikasi cukup tinggi yakni sebesar 31,87% - 40,64% sedangkan intensitas serangan tikus pada buah kelapa sawit hanya bekisar antara 4,85% - 7,52%. Penurunan kejadian dan intensitas serangan tikus selaras dengan penuruan umpan yang dimakan. Pada perlakuan kumatetralil umpan yang dimakan turun dari 75,02% menjadi 57,03%, sedangkan pada perlakuan S. singaporensis turun dari 61,38% menjadi 47,20%. Pada pengujian ini, nilai efikasi terbaik diperoleh pada perlakuan kumatetralil di 5 has sebesar 56,68%
Studi Asosiasi Genom (GWAS) Komponen Tandan Populasi Interspesifik Elaeis oleifera dan Elaeis guineensis
The oil palm breeding program for the species Elaeis guineensis and the backcross Elaeis oleifera is running slowly because oil palm is an annual plant. Therefore, it is necessary to have an alternative approach that can accelerate the oil palm breeding program. The SNP (single nucleotide polymorphism) genome-wide approach was then used to study the association between 18 phenotypes of bunch component in oil palm germplasm of E. oleifera from Suriname and Brazil Coari, some interspecific hybrids and some elite progeny of E. guineensis. The genotyping by sequencing (GBS) analysis produced a total of 459 million or approximately 798 thousand reads per sample and 3,252 SNPs were eligible for 456 genotypes. Using various association models, eleven normalized phenotypic data showed significant associations with 29 SNPs. Based on the annotations, 17 SNPs were related to genes wtih certain biological functions. Three SNPs were found to be at the exon of a gene, namely SNP4416, SNP349 and SNP3865, while the other 15 SNPs were at the intragenic to a gene. Four SNPs are common SNPs in phenotypes C16:0 and C18:1 as weel as in C20 0 and C20:1. This research shows the potential of SNPs that can be used as an alternative approach to E. oleifera backcross breeding, although further research is needed for validation purposes.Program pemuliaan kelapa sawit spesies Elaeis guineensis maupun backcross Elaeis oleifera berjalan lambat karena kelapa sawit merupakan tanaman tahunan. Oleh karena itu, sangat diperlukan alternatif pendekatan yang mampu mempercepat program pemuliaan kelapa sawit. Pendekatan genome-wide SNP (single nucleotide polymorphism) kemudian digunakan untuk mempelajari asosiasi antara 18 fenotipe komponen tandan pada plasma nutfah kelapa sawit spesies E. oleifera origin Suriname dan Brazil Coari, beberapa hibrida interspesifik dan turunan elit E. guineensis. Metode genotyping by sequencing (GBS) menghasilkan total 459 juta atau sekitar 798 ribu bacaan per sampel dan 3.252 SNP memenuhi syarat untuk 456 genotipe. Dengan menggunakan berbagai model asosiasi, sebelas data fenotipe yang dinormalisasi berhasil menunjukkan asosiasi nyata dengan 29 SNP. Berdasarkan anotasi, 17 SNP diantaranya terkait gen dengan fungsi biologi tertentu. Tiga SNP ditemukan berada pada exon sebuah gen, yaitu SNP4416, SNP349 dan SNP3865, sedangkan 15 SNP lainnya berada pada daerah intragenic sebuah gen. Sebanyak 4 SNP diantaranya merupakan common SNP pada fenotipe C16:0 dan C18:1 serta C20:0 dan C20:1. Penelitian ini menunjukkan potensi SNP yang dapat digunakan sebagai pendekatan alternatif pemuliaan backcross E. oleifera, walau diperlukan juga penelitian lanjutan dalam bentuk validasi
KADAR MINYAK DAN KERNEL PADA BUAH TERLUAR SELAMA PEMATANGAN TANDAN BUAH KELAPA SAWIT
This study aims to determine the composition of oil and kernel in the outer oil palm fruit during ripening of bunches from the Tenera oil palm species. The activities was carried out include: i) observation of loose fruit of bunches including the amount, weight, oil and kernel content, ii) observation of the effect of staying overnight in open and shaded spots (under palm trees) on the weight, oil content and kernel and iii) analysis of oil and kernel composition on variations in fruit maturity on lowland, highland and peat land. The results obtained from the first activity were loose fruit on the first day of 1-2 grains per bunch (average 1.3 ± 0.5 grains / bunch) and the number increased on the second up to sixth day as much as 3.2 ± 0.8 grains / bunches. Loose fruit on the first and second day tend to be heavier than the day after. Loose fruit on the first day has higher oil content than the day after. The oil content in dry mesocarp increased with increasing time of fruit release while the kernel content was same relatively. The results obtained from the second activity were the loose fruit weight decreased during staying overnight in the open space (days 1-10 by 4.8-27.1%) higher than in the shade (2.1-17.2%). The oil content on loose fruit increased with increasing of staying overnight time. During the tenth day, the oil content of the loose fruit placed in the open spot increased significantly and differed significantly at the level of p≤0.05 compared to the previous time due to the weight of the loose fruit decreased significantly. Meanwhile, kernel content per fruit during lodging was not significantly different until the tenth day in both places. The results obtained from the third activity were the oil content increased in unripe to overripe fruit and not differed significantly at the 5% level in ripe and overripe. The kernel content increased but not differed significantly at the level of 5% in unripe to overripe fruit. The water content of unripe fruit decreased with increasing fruit maturity. The oil content of fruit in the lowland was higher than the highland and peat land. Fruit has oil and kernel content optimum was the fruit that has loose fruit a minimum of 1 grain per bunches.Penelitian ini bertujuan untuk menentukan komposisi minyak dan kernel pada buah sawit terluar selama pematangan tandan dari tanaman kelapa sawit jenis Tenera. Kegiatan yang dilakukan meliputi: i) pengamatan buah terlepas (berondolan) dari tandan meliputi jumlah, berat, kadar minyak dan kernel, ii) pengamatan pengaruh penginapan berondolan di tempat terbuka dan teduh (di bawah pohon sawit) terhadap berat, kadar minyak dan kernel dan iii) analisa komposisi minyak dan kernel pada variasi kematangan buah di lahan dataran rendah, dataran tinggi dan gambut. Hasil yang diperoleh dari kegiatan pertama adalah berondolan pada hari pertama sebanyak 1-2 butir per tandan (rerata 1,3± 0,5 butir/tandan) dan jumlahnya meningkat pada hari kedua hingga hari keenam sebanyak 3,2 ± 0,8 butir/tandan. Berondolan pada hari pertama dan kedua cenderung lebih berat dibandingkan hari setelahnya. Berondolan pada hari pertama memiliki kadar minyak lebih tinggi dibandingkan hari setelahnya. Kadar minyak pada mesokarp kering meningkat seiring dengan meningkatnya waktu terlepasnya buah sedangkan kadar kernel relatif sama. Hasil yang diperoleh dari kegiatan kedua adalah penurunan berat berondolan selama penginapan di tempat terbuka (hari 1-10 sebesar 4,8-27,1%) lebih tinggi dibandingkan di tempat teduh (2,1-17,2%). Kadar minyak pada berondolan meningkat seiring dengan meningkatnya waktu penginapan. Selama waktu 10 hari, kadar minyak pada berondolan yang diinapkan di tempat terbuka meningkat signifikan dan berbeda nyata pada level p≤0,05 dibandingkan waktu sebelumnya yang disebabkan oleh berat berondolan menurun secara signifikan. Sementara itu, kadar kernel per buah selama penginapan tidak berbeda nyata hingga hari kesepuluh di kedua tempat tersebut. Hasil yang diperoleh dari kegiatan ketiga adalah kadar minyak meningkat pada buah mentah hingga lewat matang dan tidak berbeda nyata pada taraf 5% pada buah matang dan lewat matang. Kadar kernel meningkat namun tidak berbeda nyata pada taraf 5% pada buah mentah hingga lewat matang. Kadar air buah mentah menurun dengan meningkatnya kematangan buah. Kadar minyak buah di dataran rendah lebih tinggi dibandingkan di dataran tinggi dan gambut. Buah yang memiliki kadar minyak dan kernel optimum adalah buah yang telah memberondol minimum 1 butir per tandan
Kesuburan Tanah, Pertumbuhan dan Produktivitas Tanaman Kelapa Sawit (Elaeis guineensis) pada Tiga Kedalaman Mineral Pirit
Acid sulfidic land is one of the marginal land that has been used for oil palm development. Low soil acidity (pH) and high content of Al and Fe are limiting factors for oil palm development in this area. Oil palm yield in this area was very limited and could not reach the standard of oil palm productivity in mineral soils. The objectives of this study were mapping the pyritic depth distribution, and observing the soil fertility on three pyritic depth (40 – 60 cm, 60 - 90 cm, and >90 cm). The results of this study showed that Paya Rambe plantation had varied pyritic depths, between 40-110 cm. The shallow pyritic depth was found along the river to the sea estuary. Shallow pyritic depth soil has lower soil fertility than the deeper one. Soil with shallow pyritic layer has high acidity, Fe, S, and Al contents, also contain low macro nutrients (N, P, K, and Mg) availability. Furthermore, shallow pyritic depth reduced the oil palm growth, nutrients uptake and oil palm productivity.Lahan sulfat masam merupakan salah satu lahan marginal yang digunakan untuk pengembangan kelapa sawit. Rendahnya pH tanah dan tingginya kadar Al maupun Fe menjadi pembatas pemanfaatan lahan ini. Produktivitas tanaman yang dikelola pada lahan sulfat masam di kebun Paya Rambe di Aceh Tamiang, belum dapat menyamai produktivitas lahan mineral lainnya. Untuk itu penelitian dilakukan untuk memetakan sebaran kedalaman mineral pirit, dan pengamatan kesuburan tanah pada tiga kedalaman mineral pirit (40 – 60 cm, 60 – 90 cm, dan >90 cm). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kedalaman pirit di kebun Paya Rambe bervariasi antara 40 – 110 cm, dimana lapisan pirit dangkal dijumpai di sepanjang sungai yang bermuara ke laut. Tanah dengan pirit dangkal memiliki kesuburan tanah yang lebih rendah dibanding tanah dengan lapisan pirit dalam, yang tercermin dari semakin tingginya kemasaman tanah, Fe, S, dan Al-dd, serta rendahnya kandungan hara makro N total, P, K dan Mg tersedia dengan semakin dangkalnya lapisan pirit. Lebih lanjut adanya mineral pirit dangkal menyebabkan pertumbuhan tanaman, serapan hara dan produktivitas tanaman yang lebih rendah dibanding pada areal dengan lapisan pirit dalam
Pengaruh Waktu Paparan Zat Pengatur Tumbuh Terhadap Tingkat Abnormalitas Klon Kelapa Sawit
One of components frequently found in plant culture media is plant growth regulator (PGR), which is needed to stimulate plant culture growth. Excessive PGR addition can induce clone abnormality. It is needed comprehensive study to understand the effect of time exposure of PGR to oil palm clone abnormality in the field. This research aims to study the effect of total exposure time of PGR as well as exposure time of each medium containing different PGRs to abnormality rate of oil palm clones in the field. Four lines of oil palm clones with aged 4 years (P,Q, R, and S) were used for tracking the incubation time in the laboratory and abnormality rate in the field. The relation between variables was analyzed by using correlation, multiple linear regression and simple linear regression analysis. The results showed that length of PGRs exposure time significantly affected the clone abnormality in the field. Longer the exposure time (more than 171 days), higher the abnormality rate. From the three media containing PGR, medium containing 2,4-D and 2,4,5-TCPP significantly affected and had high significant positive correlation to clone abnormality than medium containing 2,4-D and BAP. Medium containing NAA did not show any correlation with clone abnormality rate. On the contrary, the results showed that length of incubation time in media without any PGR did not affect rate of abnormality significantly and it also had negative correlation. Linear model can be used to estimate the clone abnormality rate in the field, based on exposure time of PGR during the in vitro process.Salah satu komponen yang sering terdapat dalam media kultur jaringan tanaman adalah Zat Pengatur Tumbuh (ZPT), yang diperlukan untuk merangsang pertumbuhan kultur tanaman. Pemberian ZPT yang berlebihan dapat memberikan dampak abnormalitas pada tanaman klon hasil kultur jaringan. Diperlukan kajian untuk mengetahui pengaruh waktu paparan ZPT terhadap tingkat abnormalitas klon secara komprehensif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh total waktu paparan ZPT serta waktu paparan beberapa media dengan kandungan ZPT yang berbeda terhadap tingkat abnormalitas tanaman klon kelapa sawit di lapangan. Empat galur tanaman hasil kultur jaringan (klon) kelapa sawit yakni P, Q, R, dan S yang berumur 4 tahun digunakan untuk penelusuran waktu inkubasi kultur di laboratorium dan pengamatan tingkat abnormalitas di lapangan. Hubungan antara peubah dianalisis menggunakan analisis korelasi dan analisis regresi linier berganda serta analisis regresi linier sederhana. Hasil menunjukkan bahwa total waktu paparan kultur pada media yang mengandung ZPT berpengaruh secara nyata pada tingkat abnormalitas klon di lapangan. Semakin lama waktu paparan (lebih dari 171 hari), semakin tinggi tingkat abnormalitas klon. Dari ketiga jenis media kultur yang mengandung ZPT, media yang mengandung 2,4-D dan 2,4,5-TCPP memiliki pengaruh yang signifikan dan hubungan positif yang sangat erat terhadap kejadian abnormalitas klon dibandingkan media yang mengandung 2,4-D dan BAP. Lama waktu paparan dengan NAA tidak berpengaruh nyata terhadap tingkat abnormalitas klon di lapangan. Sebaliknya, total waktu inkubasi media kultur yang tidak mengandung ZPT tidak mempengaruhi tingkat abnormalitas klon di lapangan dan hubungannya negatif. Model linier dapat digunakan untuk memperkirakan tingkat abnormalitas klon yang dihasilkan berdasarkan waktu paparan ZPT pada proses in vitro
Aplikasi Kotoran Sapi untuk Perbaikan Sifat Kimia Tanah dan Pertumbuhan Vegetatif Bibit Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq.) pada Media Sub Soil
Standard media for oil palm seedling is top soil with sufficient content of organic matter. However, in certain locations such as mineral marginal land where the top soil has been heavily eroded, top soil will be scarcely available. Under these con-ditions, sub soil might be used for seedling media. Physical, chemical, and biological characters of sub soil usually are not suitable for seedling media, but it might be corrected by applying soil amendment. The aim of this study is to identify the effects of combination of soil amendment in the form of cow manure (notated as “O”, in the level of 0 and 5%) and the standard of inorganic fertilization (notated as “S”, in the level of 0, 25, 50, 75, and 100%) on the changes of chemical properties of sub soil media and vegetative growth of oil palm seedlings. The experiment was arranged in a Randomized Completely Block Design employing 7 treatments i.e. control (O0S0), standard inorganic fertilizers (O0S100), and 5 treatments which were the combination of 5% (by weight of the soil media) of cow manures and several levels of inorganic standard fertilizing (O5S0, O5S25, O5S50, O5S75, and O5S100). The results revealed that, application of 5% cow manures has improved the organic matter content, cation exchange capacity, and available nutrients in the sub soil seedling media. Though O5S50 (combination of 5% cow manure and 50% standard inorganic fertilizing) resulted in Relative Agronomic Effectiveness (RAE) which was higher than 100%, the best performance of oil palm seedlings growth was under treatment of O5S50 (the combination of 5% cow manure and 100% standard inorganic fertilizing).Standar media tanam untuk bibit kelapa sawit adalah top soil dengan kan-dungan bahan organik yang cukup. Meskipun demikian, pada kondisi tertentu seperti di lahan mineral marjinal dimana top soil sudah tererosi berat, sehingga top soil sulit didapat. Pada kondisi demikian maka sub soil digunakan sebagai media tanam. Sifat fisik, kimia, dan biologi sub soil umumnya kurang memenuhi syarat untuk digunakan sebagai media tanam, namun sifat tersebut masih mungkin diperbaiki dengan me-nambahkan bahan pembenah tanah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kombinasi bahan pem-benah tanah dalam bentuk kotoran sapi (notasi O, taraf 0 dan 5%) dan pemupukan anorganik standar (notasi S, taraf 0; 25; 50; 75; dan 100%) terhadap perubahan sifat kimia media sub soil dan pertumbuhan bibit kelapa sawit. Penelitian disusun meng-gunakan rancangan acak kelompok dengan 7 perlakuan yaitu kontrol (O0S0), standar pupuk anorganik (O0S100), dan 5 perlakuan lainnya yang merupakan kombinasi antara 5% kotoran sapi dengan berbagai taraf standar pupuk anorganik (O5S0, O5S25, O5S50, O5S75, dan O5S100). Hasil penelitian menunjukkan bahwa aplikasi 5% kotoran sapi meningkatkan ketersediaan bahan organik, kapasitas tukar kation, dan hara tersedia di media sub soil. Meskipun O5S50 (kombinasi aplikasi 5% kotoran sapi dan 50% pupuk anorganik standar telah menghasilkan nilai Efektivitas Agronomi Nisbi (EAN) di atas 100%, pertumbuhan vegetatif bibit kelapa sawit terbaik diperoleh pada per-lakuan O5S100 (kombinasi aplikasi 5% kotoran sapi dan 100% dosis pupuk anorganik standar)
Penentuan Rendemen, Mutu dan Komposisi Kimia Minyak Sawit dan Minyak Inti Sawit Tandan Buah Segar Bervariasi Kematangan sebagai Dasar untuk Penetapan Standar Kematangan Panen
Fresh fruit bunches (FFB) maturity greatly affects the yield and quality of crude palm oil (CPO), kernel, and palm kernel oil (PKO). Conventional criteria for mature harvest are still used for determining production targets. These criteria are also used as a basis for developing mechanized and digitalized harvesting technologies. This research was conducted to determine the optimum harvest FFB maturity criteria based on the number of loose fruit from bunches before harvesting, related to the yield, quality, and chemical characteristics of CPO and PKO. Samples used were Tenera type FFBs with the variety of maturity including unripe (reddish black fruit), under-ripe (red fruit but no loose fruit), ripe (loose fruit of 1-3 grains), ripe (loose fruit of 5-10 grains), and overripe (loose fruit of 20-40 grains). The yield of CPO, kernel and PKO increased with increasing fruit maturity. The riper fruit, free fatty acid content and peroxide value of CPO increased. It was also the same for carotene content and deterioration of the bleachability index (DOBI) but the value of both decreased in overripe fruit. The iodine value and fatty acids composition differed of each fruit maturity. Generally, in some Tenera varieties, the average of yield of CPO and kernel, and quality of CPO in ripe fruits (1-3 grains) were relatively same to ripe fruit (loose fruit 5-10 grains). Thus, the optimal yield and quality of CPO, kernel and PKO can be obtained by harvesting of FFB on the mature criteria with a number of loose fruit 1-3 grains.Kematangan tandan buah segar (TBS) sangat memengaruhi rendemen dan kualitas minyak sawit (crude palm oil, CPO), kernel dan minyak inti sawit (palm kernel oil, PKO). Kriteria matang panen secara konvensional masih digunakan dalam penentuan target produksi. Kriteria tersebut juga digunakan sebagai dasar dalam pengembangan teknologi pemanenan secara mekanisasi dan digitalisasi. Penelitian ini dilakukan untuk menentukan kriteria matang panen optimum TBS berdasarkan jumlah berondolan dari tandan sebelum dipanen, terkait dengan rendemen, mutu, dan karakteristik kimia pada CPO dan PKO. Sampel yang digunakan adalah TBS berjenis Tenera dengan variasi kematangan meliputi mentah (buah berwarna hitam kemerahan), mengkal (buah berwarna merah namun belum ada berondolan), matang (berondolan 1-3 butir), matang (berondolan 5-10 butir) dan lewat matang (berondolan 20-40 butir). Rendemen CPO, kernel dan PKO semakin meningkat dengan meningkatnya kematangan buah. Semakin matang buah, kadar asam lemak bebas dan bilangan peroksida pada CPO semakin meningkat. Hal yang sama juga pada kadar karoten dan nilai deterioration of the bleachability index (DOBI) namun nilai keduanya menurun pada buah lewat matang. Bilangan iodin dan komposisi asam lemak berbeda pada setiap kematangan buah. Secara umum, pada beberapa varietas Tenera, rata-rata rendemen CPO dan kernel, dan mutu CPO pada buah matang dengan berondolan 1-3 butir relatif sama dengan buah matang dengan berondolan 5-10 butir. Dengan demikian, rendemen dan mutu CPO, kernel dan PKO yang optimal dapat diperoleh dengan melakukan pemanenan TBS pada kriteria matang dengan jumlah berondolan 1-3 butir di piringan