Indonesian Journal of Oil Palm Research / Jurnal Penelitian Kelapa Sawit
Not a member yet
    150 research outputs found

    Evaluasi Pertumbuhan Asystasia gangetica (L.) T. Anderson Sebagai Tanaman Penutup Tanah di Perkebunan Kelapa Sawit Menghasilkan pada Jarak Tanam dan Jenis Setek Batang Berbeda

    Full text link
    Asystasia gangetica (L.) T. Anderson is an invasive weed that must be controlled in oil palm plantations. However, the results showed that previously in Semanjung Malaysia A. gangetica was used as a cover crop in oil palm plantations. The purpose of this study was to determine the best spacing and stem cuttings that produced the best growth of A. gangetica as a cover cover crop in mature oil palm plantations. The study used a factorial randomized block design with six replications at a plot size of 2 m x 2 m with plant spacing (10 cm x 10 cm, 20 cm x 20 cm, and 40 cm x 40 cm) and stem cuttings (top cuttings, middle cuttings, and bottom cuttings) as treatment. The results showed that the plant spacing of 10cm x 10cm is the optimum plant spacing for the growth of A. gangetica as cover crop as indicated by higher survived plant percentage and faster soil coverage than the spacing of 20cm x 20cm and 40cm x 40cm. Top cuttings are the best way to multiply A. gangetica to get optimal growth as cover crop.Asystasia gangetica merupakan gulma invasif yang harus dikendalikan di perkebunan kelapa sawit. Namun hasil penelitian menunjukkan bahwa dahulunya di Semanjung Malaysia A. gangetica digunakan sebagai tanaman penutup tanah di perkebunan kelapa sawit. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui jarak tanam dan stek batang terbaik yang menghasilkan pertumbuhan A. gangetica terbaik sebagai tanaman penutup tanah di perkebunan kelapa sawit menghasilkan. Penelitian menggunakan rancangan acak kelompok faktorial enam ulangan dengan ukuran plot 2 m x 2 m dengan jarak tanam (10 cm x 10 cm, 20 cm x 20 cm, dan 40 cm x 40 cm) dan setek batang (stek pucuk, stek batang tengah, dan stek pangkal batang sebagai perlakuan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jarak tanam 10 cm x 10 cm merupakan jarak tanam optimal untuk pertumbuhan A. gangetica sebagai tanaman penutup tanah di perkebunan kelapa sawit menghasilkan karena dengan jarak tanam tersebut persentase tumbuh A. gangetica lebih tinggi dan penutupan lahannya lebih cepat dibandingkan dengan jarak tanam lainnya. Stek pucuk merupakan cara perbanyakan A. gangetica terbaik untuk mendapatkan pertumbuhan yang optimal sebagai tanaman penutup tanah di perkebunan kelapa sawit

    Kajian Komparasi Kinerja Sludge Separator dan Dekanter 3 Fasa Pabrik Kelapa Sawit (PKS)

    Full text link
    The technology used to reduce oil loss at output sludge from underflow Continuous Settling Tank (CST) is a sludge separator and 3-phase decanter. In POM A, oil extraction is done manually with an oil loss rate of 0.36 tons/hour or 7.83 m3/day. The resulting oil loss figures indicate that extracting the oil using a sludge separator or 3-phase decanter is necessary. The research method used in this study is the comparison of primary data and secondary data on the working principle, the number of supporting equipment, electrical power requirements, operations, maintenance, investment costs, and waste quality. Primary data used oil content, flow rate, and temperature of CST underflow liquid; oil content and effluent flow rate from the final drab output; the amount of oil quoted and returned to the POM. Secondary data in the form of POM performance reports, waste production reports, and data on the specifications of the sludge separator and 3-phase decanter from producers. The working principle of the sludge separator and 3-phase decanter are particle size, bowl layout, bowl rotation direction, output type, sludge capacity, equipment capacity, and oil loss. The 3-phase decanter has 28 units of processing support equipment, more than the 22 units of sludge separator. The power requirement of the sludge separator is 45-60 kWh with a total of 3 units, and a 3-phase decanter requires an electrical power of 22-55 kWh with a capacity of 1 unit. Operationally there are supporting factors for sludge separator, including temperature, nozzle size, and bowl rotation, while supporting aspects for 3-phase decanter include flow rate and feed composition, centrifugal and differential speeds, depth of clarification zone, and weir liquid discharge opening. Maintenance of sludge separator and 3-phase decanter influenced by diluent water, operation, and damage factors. The range of investment costs in the procurement of sludge separators is IDR 0.863-1.837 billion, while the 3-phase decanter is IDR 3.804-5.825 billion. The quality of the 3-phase decanter waste is better than the sludge separator. These results indicate that the most effective tool for processing CST sludge output is a 3-phase decanter. Comparison of the working principle of 3-phase sludge separator and decanter.Teknologi yang digunakan dalam menurunkan persentase kehilangan minyak pada sludge keluaran dari underflow pada Continuous Settling Tank (CST) adalah dengan menggunakan sludge separator atau dekanter 3 fasa. Pada PKS A pengutipan minyak dilakukan secara manual dengan angka kehilangan minyak sebesar 0.36 ton/jam atau 7.83 m3/hari. Angka kehilangan minyak yang dihasilkan menunjukkan bahwa pengutipan minyak menggunakan sludge separator atau dekanter 3 fasa diperlukan. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode komparasi data primer dan data sekunder terhadap prinsip kerja, jumlah alat pendukung, kebutuhan daya listrik, operasional, pemeliharaan, biaya investasi dan kualitas limbah. Data primer yang digunakan kandungan minyak, laju alir dan suhu cairan underflow CST; kandungan minyak dan laju alir limbah cair dari keluaran drab akhir; jumlah minyak yang dikutip dan dikembalikan ke PKS. Data sekunder berupa laporan performa PKS, laporan produksi limbah serta data spesifikasi sludge separator dan decanter 3 fasa dari produsen. Prinsip kerja sludge separator dan dekanter 3 fasa yaitu ukuran partikel, layout bowl, arah putaran bowl, jenis keluaran, kapasitas sludge, kapasitas alat dan losis minyak. Dekanter 3 fasa memiliki jumlah unit alat pendukung pengolahan sebanyak 28 unit yang lebih banyak daripada menggunakan sludge separator sebanyak 22 unit. Kebutuhan daya sludge separator yaitu 45-60 kWh dengan jumlah 3 unit, dekanter 3 fasa membutuhkan daya listrik sebesar 22-55 kWh dengan jumlah 1 unit. Secara operasional terdapat faktor penunjang sludge separator meliputi suhu, ukuran nozzle, dan putaran bowl, sementara faktor penunjang dekanter 3 fasa meliputi laju alir dan komposisi umpan, kecepatan sentrifugal dan diferensial, kedalaman zona klarifikasi serta bukaan weir liquid discharge. Pemeliharaan pada sludge separator dan dekanter 3 fasa dipengaruhi oleh faktor air pengencer, operasional, dan kerusakan. Kisaran biaya investasi dalam pengadaan sludge separator sebesar Rp 0,863-1,837 Miliar sedangkan dekanter 3 fasa sebesar Rp 3,804-5,825 Miliar. Kualitas limbah dekanter 3 fasa lebih baik dibandingkan sludge separator. Hasil ini menunjukkan alat yang paling efektif dalam pengolahan sludge keluaran dari CST adalah dekanter 3 fasa

    Pengaruh Penggunaan Campuran Minyak Sawit dan Olein Sawit terhadap Sifat Fisikokimia dan Sensori Selai Cokelat

    Full text link
    Palm oil is a semi-solid vegetable oil that has the potential to be used as fat in the manufacture of chocolate spread. In addition, the liquid fraction of palm oil (such as super olein) can increase the spreadability of chocolate spread. This research was conducted to evaluated the physicochemical and sensory properties of chocolate spread using a mixture of palm oil and super olein at a ratio of 71.4: 28.6, 57.1: 42.9, 42.9: 57.1, and 28.6: 71.4. Formulation of chocolate spread made with 35% fat, 44.6% sugar, 10% cocoa powder, 10% milk powder, 0.32% lecithin, 0.03% salt, and 0.05% vanilla. Chocolate spread was characterized by particle size, fat content, melting point, fatty acid composition, triacylglycerol composition and solid fat content, and organoleptic tests. Particle size and fat content were not significantly different, while melting point, fatty acids composition, triacylglycerol composition, and solid fat content were significantly different in each formula. The organoleptic tests showed that the amount of 71.4% super olein was preferred by panelists. In this formula, chocolate spread had a particle size of 0.08 mm, fat content of 40.0%, melting point of 19.2°C, fatty acids composition (palmitic acid 38.3%, stearic acid 6.7%, oleic acid 42.2%, and linoleic acid 9.9%), triacylglycerol composition (POP 35.9%, PLP 10.0%, POS 7.7%, POO 25.2%, and PLO 7.3%), and solid fat content at temperatures 25°C and 30°C were 5.4% and 2.1%, respectively.Minyak sawit merupakan minyak nabati berbentuk semi padat yang berpotensi digunakan sebagai lemak dalam pembuatan selai cokelat. Di samping itu, fraksi cair minyak sawit berupa olein sawit (super olein) dapat meningkatkan daya oles selai cokelat. Penelitian ini dilakukan untuk mengkaji sifat fisiko kimia dan sensori selai cokelat menggunakan campuran minyak sawit dan olein super pada rasio 71,4:28,6, 57,1:42,9, 42,9:57,1 dan 28,6:71,4. Formula selai cokelat yang dibuat yaitu lemak 35%, gula 44,6%, kakao bubuk 10%, susu bubuk 10%, lesitin 0,32%, garam 0,03% dan vanilla 0,05%. Selai cokelat dikarakterisasi meliputi ukuran partikel, kadar lemak, titik leleh, komposisi asam lemak, komposisi triasilgliserol dan kandungan lemak padat serta uji organoleptik. Ukuran partikel dan kadar lemak tidak berbeda nyata sedangkan titik leleh lemak, komposisi asam lemak, komposisi triasilgliserol dan kandungan lemak padat berbeda nyata pada setiap formula. Dari hasil uji organoleptik menunjukkan bahwa jumlah olein super yang lebih banyak (71,4%) lebih disukai oleh panelis. Pada formula tersebut, selai cokelat memiliki ukuran partikel 0,08 mm, kadar lemak 40,0%, titik leleh lemak 19,2°C, komposisi asam lemak (asam palmitat 38,3%, asam stearat 6,7%, asam oleat 42,2%, dan asam linoleat 9,9%), komposisi triasilgliserol (POP 35,9%, PLP 10,0%, POS 7,7%, POO 25,2% dan PLO 7,3%), serta kandungan lemak padat pada suhu 25°C dan 30°C masing-masing sebesar 5,4% dan 2,1%

    Pemilihan Tetua Berdasarkan Nilai Pemuliaan Komponen Tandan Progeni Dura x Tenera

    Full text link
    Breeding value is the average effect of genes transmitted from parents to their offspring. It can be used as a selection criterion to select superior genotypes. The purpose of this study is to evaluate the performance of the parents through their progenies. The observations were conducted using 21 Dura x Tenera progenies planted in Dolok Sinumbah, PT. Perkebunan Nusantara IV, North Sumatra. Based on the dura’s breeding value, D5 and D6 have the potential to produce offspring that have thick mesocarp with high oil content. On the other hand, T1 tenera has the potential to produce F1 hybrids that have thick mesocarp to fruit with thin shells. The T5 and T6 teneras can be used to produce hybrids with high oil content.Nilai pemuliaan merupakan pengaruh rata-rata gen yang diwariskan dari tetua kepada turunannya. Nilai pemuliaan dapat digunakan sebagai kriteria seleksi untuk memilih genotipe unggul. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengevaluasi performa tetua yang mampu menghasilkan hibrida unggul. Pengamatan dilakukan pada progeni Dura x Tenera (DxT) yang ditanam di kebun percobaan Dolok Sinumbah, PT. Perkebunan Nusantara IV, Sumatera Utara. Berdasarkan nilai pemuliaan tetua dura, D5 dan D6 berpotensi untuk menghasilkan keturunan yang memiliki mesokarp yang tebal dengan kandungan minyak yang tinggi. Di sisi lain, tetua tenera T1 berpotensi untuk menghasilkan hibrida F1 yang memiliki mesokarp per buah yang tebal dengan cangkang tipis. Tetua tenera T5 dan T6 dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan keturunan yang memiliki kandungan minyak yang tinggi

    Komunitas Tikus, Serangan dan Upaya Pengendaliannya pada Perkebunan Kelapa Sawit Rakyat di Kuantan Singingi

    No full text
    Rats are one of the animals that can cause damage to oil palm plants. The mature plants can be losses up to 50% of total CPO/ha/year and 80% damage to immature crops. Changes in the composition of forests to oil palm will affect the population and species of rats. Research about rat communities in smallholder oil pam plantations in Kuantan Singingi Regency was conducted in seven districts in Kuantan Singingi. This study used a survey method. Location for observations determined based on the area of smallholder oil palm plantations located in one stretch with a minimum of 10 ha. At each location, 20 rat traps have installed the size of 30 cm x 20 cm x 15 cm and using bait grilled salted fish and grilled coconut (10 for each). Trapping was carried out for 7 days per location. A total of 575 individual rats were caught and observed in this study with the average catch per location being 82,14 individual rats. Four type of rats were found, namely Rattus tiomanicus (56,34%), Rattus argentiventer (42,43%), Rattus rattus (0,70%) and Rattus exulans (0,53%). Generally, the sex ratio of rats at the site of the study was dominated by the sex of females with a value of 0,97. Meanwhile, the dominant preference for bait is grilled coconut which is caught by as many as 319 individual of rats, while-grilled salted fish by only 256 individuals rats. The percentage of oil palm attacked in these smallholder oil palm plantations is 37,19% while the efforts to control rat pests carried out by the oil palm farmer groups are by installing poison bait, installing traps, and hunting rats.Tikus merupakan salah satu hewan yang dapat menyebabkan kerusakan pada tanaman kelapa sawit sehingga juga mempengaruhi perekonomiannya. Pada tanaman menghasilkan, hama ini dapat menyebabkan kerugian hingga 5% dari total CPO/ha/tahun dan kerusakan sebesar 80% pada tanaman belum menghasilkan. Perubahan komposisi hutan menjadi kelapa sawit akan mempengaruhi populasi dan jenis tikus. Penelitian ini dilakukan pada 7 kecamatan di Kabupaten Kuantan Singingi. Penelitian ini menggunakan metode survey. Lokasi pengamatan ditentukan berdasarkan luas areal perkebunan kelapa sawit rakyat yang terletak dalam satu hamparan dengan minimal 10 ha. Pada masing-masing lokasi penelitian dipasang sebanyak 20 perangkap tikus dengan ukuran perangkap 30 cm x 20 cm x 15 cm dengan menggunakan umpan berupa ikan asin bakar dan kelapa bakar (masing masingnya 10 perangkap) pemasangan perangkap dilakukan selama 7 hari per lokasi penelitian. Sebanyak 575 individu tikus tertangkap dan teramati pada penelitian ini dengan rata-ata penangkapan per lokasi adalah 82,14 individu tikus. Ditemukan sebanyak empat jenis tikus yaitu Rattus tiomanicus (56,34%), Rattus argentiventer (42,43%), Rattus rattus (0,70%) dan Rattus exulans (0,53%). Rasio sex tikus secara umum dilokasi penelitian didominasi oleh jenis kelamin tikus betina dengan nilai 0,97. Sedangkan preferensi umpan yang lebih dominan adalah umpan kelapa bakar yaitu tertangkap sebanyak 319 individu tikus sedangkan umpan ikan asin bakar hanya 256 individu tikus. Persentase kelapa sawit terserang pada perkebunan kelapa sawit rakyat ini adalah sebesar 37,19% sedangkan upaya pengendalian hama tikus yang dilakukan oleh kelompok tani kelapa sawit di Kuantan Singingi adalah dengan cara pemasangan umpan beracun, pemasangan perangkap dan perburuan terhadap tikus

    Benarkah curah hujan mempengaruhi fase pematangan tandan kelapa sawit dan meningkatkan jumlah brondolan yang jatuh?

    No full text
    The harvest time of oil palm bunches is generally determined based on the bunch color and the number of loose fruits on the weeding circle. The abscission process initiates fruit separation from the bunch. Endogenous plant conditions and environmental factors influence the abscission. The general opinion in the field is that bunches ripen more quickly and fruits fall out more during high rainfall periods. This study aimed to prove the opinion based on the Pearson correlation test between daily rainfall at lag-0 to lag-20 days and the number of loose fruit that fell per day. The study was conducted on five-year-old oil palm at the Sei Aek Pancur Research Station, Indonesian Oil Palm Research Institute (IOPRI), during five harvest periods (10-day harvest interval). The results showed that the value and pattern of the correlation coefficient between rainfall and the amount of loose fruit vary greatly. However, there is a tendency for optimal precipitation (no more than 40 mm/day) that occurs at the beginning (lag-17 to 20), mid (lag-9 to 12), or the end of the fruit ripening phase (1-3 days before the bunches are ready to harvest) can accelerate the ripening of bunches and increase the number of loose fruit. Therefore, the planters should applied good harvesting management, especially during the rainy season when bunch numbers and the chance of many bunches simultaneously ripening is higher.Waktu panen tandan kelapa sawit umumnya ditentukan berdasarkan warna tandan dan jumlah brondolan yang jatuh di piringan. Pembrondolan buah secara ilmiah disebut sebagai proses absisi yang dipengaruhi kondisi endogenous tanaman dan faktor lingkungan. Pendapat umum di lapangan menyatakan bahwa tandan matang lebih cepat dan brondolan lebih banyak ketika curah hujan tinggi. Penelitian ini dilakukan untuk menguji pendapat tersebut berdasarkan uji korelasi Pearson antara curah hujan harian pada lag-0 hingga lag-20 hari dengan jumlah brondolan yang jatuh per hari. Penelitian dilakukan pada tanaman umur lima tahun di Kebun Percobaan Sei Aek Pancur, Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) pada lima rotasi panen (interval panen 10 hari). Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai dan sifat korelasi antara curah hujan dengan jumlah brondolan sangat bervariasi. Namun demikian, terdapat kecenderungan bahwa curah hujan optimal yang terjadi pada awal (lag-17 s.d. 20), pertengahan (lag-9 s.d. 12), dan akhir fase pematangan buah (1-3 hari menjelang tandan siap panen) dapat mempercepat pematangan tandan dan meningkatkan jumlah buah yang membrondol. Oleh karena itu, praktisi perkebunan sebaiknya mempersiapkan sarana dan prasarana panen yang memadai khususnya pada musim hujan ketika cadangan buah cukup tinggi dan peluang banyak tandan matang secara bersamaan lebih tinggi

    Karakterisasi dan Analisis Sifat Mekanik Selulosa Ester dari Tandan Kosong Kelapa Sawit untuk Bahan Alternatif Filamen 3D Printing

    Full text link
    3D printing is a technology that is developing rapidly in recent times. Cellulose Esters, one of the derivatives of cellulose, can be used as alternative filament candidates for 3D printing. One source of cellulose that can be used for the synthesis of cellulose esters is oil palm empty fruit bunches (OPEFB). In order for cellulose ester from OPEFB to be used as an alternative filament material, it is necessary to observe the mechanical properties of cellulose ester and its derivative products. This study aims to determine the mechanical properties and characterization of cellulose ester and its derivative products as an alternative material for 3D printing. The results of this study indicate that from the results of the characterization using the Thermogravimetry Analysis method, it is known that the melting point of the cellulose ester produced is between the conventional filaments that are often used, namely polylactic acid and acrylonitrile butadiene styrene so that the cellulose ester produced from OPEFB has the potential to replace already available filaments. From the results of mechanical testing, in this experiment, it can be concluded that to obtain optimal mechanical strength from 3D printing using cellulose ester ink, the infill density of the product ranges from 100% - 80%. Meanwhile, to get a good 3D filament, the composition of the cellulose ester:polylactic acid mixture of the product is 20%:80%. Mechanical testing also shows that there are differences in the values ​​of Tensile Strength and Modulus of Elasticity. The value of Tensile Strength is higher in the estrification process at a higher temperature, but the value of the Modulus of Elasticity is higher at a lower temperature. Meanwhile, for the same processing temperature, there is no significant difference in the value of the Modulus of Elasticity.3D printing adalah teknologi yang berkembang pesat belakangan ini. Selusosa Ester, salah satu turunan dari selulosa dapat digunakan sebagai kandidat bahan altenatif filamen untuk 3D printing. Salah satu sumber selulosa yang dapat dimanfaatkan untuk sintesis selulosa ester adalah tandan kosong dari kelapa sawit. Agar selulosa ester dari tandan kosong dapat digunakan sebagai bahan filamen alternatif, dibutuhkan pengamatan pada sifat mekanik pada selulosa ester dan produk turunannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sifat mekanik dan karakterisasi selulosa ester dan produk turunannya sebagai bahan alternatif 3D printing. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa dari hasil karakterisasi menggunakan metode Thermogravimetry Analyisis diketahui bahwa titik leleh selulosa ester yang dihasilkan berada diantara filamen konvensional yang sering digunakan, yaitu  polylactic acid dan acrylonitrile butadiene styrene sehingga selulosa ester yang dihasilkan dari tandan kosong kelapa sawit berpotensi untuk menggantikan filamen yang sudah ada. Dari hasil pengujian mekanik, pada percobaan ini, dapat disimpulkan untuk mendapatkan kekuatan mekanik yang optimal dari hasil 3D printing menggunakan tinta dari selulosa ester, infill density dari produk berkisar pada 100% - 80%. Sedangkan untuk mendapatkan filamen 3D yang baik, komposisi campuran selulosa ester:polylactic acid dari produk adalah 20%:80%. Pengujian mekanik juga menunjukkan bahwa terdapat perbedaan nilai Tensile Strength dan Modulus of Elasticity. Nilai Tensile Strength lebih tinggi pada proses estrifikasi pada temperatur yang lebih tinggi, namun nilai Modulus of Elasticity lebih tinggi pada temperatur yang lebih rendah. Sedangkan untuk temperatur proses yang sama, tidak terdapat perbedaan nilai Modulus of Elasticity yang signifikan

    The Role of Ortet Sources, Fronds and Incubation to Callus Production of Oil Palm (Elaeis guineensis Jacq.)

    No full text
    Hasil kalus merupakan tahapan penting dalam memperbanyak bahan tanam kelapa sawit melalui kultur jaringan karena merupakan salah satu faktor yang sangat menentukan jumlah klon yang akan dihasilkan. Selain media tanam, hasil kalus juga dipengaruhi oleh organ dan latar belakang genetik ortet yang digunakan sebagai sumber eksplan, serta lamanya inkubasi di ruang pembudidayaan. Daun dari empat individu yang berasal dari dua persilangan tetua (DS029D x LM002T dan BJ126D x LM002T) digunakan sebagai sumber eksplan untuk mengetahui pengaruh genetik sumber ortet, urutan daun, dan lamanya inkubasi eksplan terhadap jumlah kalus yang dihasilkan. Daun yang digunakan dalam penelitian ini adalah daun pada lapisan pelepah ke-4,-5, -6, -7 dan -8. Adapun peubah yang diamati adalah hasil kalus masing-masing sumber ortet setiap bulannya. Hasil penelitian menunjukkan sumber ortet persilangan BJ126D x LM002T memberikan hasil kalus yang lebih tinggi dan berbeda nyata dibandingkan dengan persilangan DS029D x LM002T. Jumlah kalus paling tinggi dihasilkan dari persilangan BJ126D x LM002T (MK 3) pada daun -4 dan waktu inkubasi 0-6 bulan.Callus production is an important key stage to reproduce oil palm through tissue culture in determining the number of produced clones. Callus production rate were affected by culture medium, organ, ortet genotypes and incubation time in the culture room. Leaf of four different individuals from two genotype: DS29D x LM2T dan BJ126D x LM2T were used as ortet on this study and only leaf number -4, -5, -6, -7 and -8 were used as an explant. Callus production of each ortet source was observed monthly and used as a parameter to determine the performance of each ortet. The result showed that BJ126D x LM2T as an ortet source had significantly higher callus production compared to DS29D x LM2T. Meanwhile the callus production from different leaf number were not significantly different. The first 6 months of explant incubation was the best time to produce callu

    Effect of Mycorrhizal Consortium Application on Plant Growth and the Development of Ganoderma Disease in Oil Palm Nursery

    No full text
    Penelitian untuk mengetahui dampak aplikasi konsorsium mikoriza terhadap pertumbuhan vegetatif tanaman dan tingkat kejadian penyakit Ganoderma dilakukan pada fase pembibitan kelapa sawit. Percobaan disusun dalam rancangan acak lengkap faktorial dengan dua faktor (dosis mikoriza dan waktu inokulasi Ganoderma) dan tiga taraf perlakuan pada masing-masing faktor utama yaitu dosis mikoriza sebanyak 0 g, 30 g di pre-nursery (PN) ditambah 40 g di main nursery (MN), atau 40 g di PN ditambah 50 g di MN, dengan waktu inokulasi Ganoderma pada 3 atau 6 bulan setelah tanam dan perlakuan tanpa inokulasi sebagai pembanding. Hasil penelitian menunjukkan bahwa isolat mikoriza yang digunakan dapat bersimbiosis dengan perakaran bibit kelapa sawit dengan tingkat kolonisasi antara 39,13% dan 45,74%. Aplikasi mikoriza tidak memberikan pengaruh positif terhadap pertumbuhan meninggi dan jumlah daun bibit kelapa sawit, namun berdampak signifikan terhadap perkembangan diameter bonggol yang lebih lebar. Kejadian dan intensitas penyakit Ganoderma pada tanaman dengan aplikasi mikoriza secara signifikan lebih rendah dibandingkan dengan perlakuan tanpa mikoriza. Aplikasi mikoriza mampu menekan perkembangan penyakit hingga lebih dari 50% pada seluruh dosis yang digunakan.A study was conducted to determine the effect of mycorrhizal consortium application on plant growth and the development of Ganoderma disease in an oil palm nursery. The experiment was conducted following a factorial design with two main factors (doses of mycorrhizal application and inoculation time of Ganoderma), each with three level of treatments i.e. application doses of 0, 30 g in pre-nursery (PN) followed by 40 g in main nursery (MN), or 40 g in PN followed by 50 g in MN; inoculation time at 3 or 6 month after planting, and treatment without Ganoderma inoculation as a control. The result showed that mycorrhizal isolates used in this study were capable of creating a symbiotic relationship with oil palm roots with a colonization rate between 39,13% and 45,74%. Mycorrhizal application did not show a positive effect on seedling's vertical growth and total leaves production, but had a significant impact on the increase of bole's diameter. The incidence and severity of Ganoderma disease on seedlings with mycorrhiza were significantly lower than those without mycorrhiza. Mycorrhizal application was able to suppress disease development by more than 50% at all doses used in this study

    Comparison of Crude Palm Oil (CPO) Competitiveness Between Indonesia and Malaysia in The International Market

    No full text
    Indonesia dan Malaysia merupakan dua negara pemain utama di pasar internasional Crude Palm Oil (CPO). Seiring dengan meningkatnya permintaan global terhadap CPO, kedua negara tersebut memiliki peluang yang besar dalam pengembangan industri CPO baik bagi pertumbuhan ekonomi domestik maupun global. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perbandingan daya saing ekspor CPO antara Indonesia dan Malaysia di pasar internasional selama periode tahun 1999 hingga 2019. Perbandingan daya saing tersebut dianalisis dengan merujuk pada pendekatan Revealed Comparative Advantage (RCA), Export Competitiveness Index (ECI), dan Indeks Spesialisasi Perdagangan (ISP). Selain itu, secara kualitatif daya saing CPO Indonesia juga dijelaskan melalui pendekatan Berlian Porter. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara umum CPO Indonesia dan Malaysia memiliki tren daya saing yang meningkat. Dilihat dari nilai RCA, ECI dan ISP, Indonesia memiliki keunggulan komparatif yang lebih tinggi dibandingkan Malaysia. Berdasarkan posisi daya saing, Indonesia berada pada tahap pematangan. Sementara, Malaysia masih berada pada tahap pertumbuhan.Indonesia and Malaysia are two major players in the international Crude Palm Oil (CPO) market. Along with the increasing global demand for CPO, the two countries have great opportunities in developing the CPO industry for both domestic and global economic growth. This study aims to analyze the comparison of the competitiveness of CPO exports between Indonesia and Malaysia in the international market during the period 1999 to 2019. The comparison of competitiveness is analyzed by referring to the Revealed Comparative Advantage (RCA), Export Competitiveness Index (ECI) and Trading Specialization Index (ISP) approaches. In addition, qualitatively the competitiveness of Indonesian CPO is also explained through the Berlian Porter approach. The results showed that in general, Indonesian and Malaysian CPO had an increasing trend of competitiveness. Based on the value of RCA, ECI and ISP scores, Indonesia has a higher comparative advantage than Malaysia. Based on the position of competitiveness, Indonesia is at the stage of maturation. Meanwhile, Malaysia is still in the growth stage

    135

    full texts

    150

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Indonesian Journal of Oil Palm Research / Jurnal Penelitian Kelapa Sawit
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇