Indonesian Journal of Oil Palm Research / Jurnal Penelitian Kelapa Sawit
Not a member yet
150 research outputs found
Sort by
Evaluation of Indigenous Plant Growth-Promoting Bacteria (PGPB) From The Oil Palm Rhizosphere in Oil Palm Nursery
Achieving sustainability in oil palm cultivation depends on maintaining soil health. Various methods have been employed to improve soil productivity, including the use of plant growth-promoting bacteria (PGPB). Identifying and utilizing superior PGPB strains as biofertilizers can be a solution to enhance soil productivity. Four PGPB candidate strains – NT2, NT5, PD1, and PK1 – were isolated from the oil palm rhizosphere, identified as Azotobacter chroococcum, Azospirillum brasilense, Bacillus alkalicellulosilyticus, and Pseudomonas brassicacearum, respectively, and confirmed as multifunctional PGPB through qualitative and quantitative trait screening. Application of the PGPB consortium as biofertilizer in oil palm nurseries has shown effectively increase nutrient uptake, growth performance, biomass production, and reduce inorganic fertilizer usage by up to 50%. Furthermore, this biofertilizer was found to be 7-30% more efficient compared to 100% inorganic fertilizers.Kesehatan tanah merupakan salah satu aspek penting dalam mencapai pertanian atau kelapa sawit yang berkelanjutan. Berbagai upaya dapat dilakukan dengan meningkatkan produktivitas tanah baik untuk mendukung pertumbuhan maupun produktivitas tanaman. Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah dengan pemanfaatan bakteri pemacu pertumbuhan tanaman atau lebih dikenal sebagai plant growth-promoting bacteria (PGPB). Eksplorasi bakteri bermanfaat tersebut perlu dilakukan untuk mendapatkan isolat unggul yang nantinya dimanfaatkan sebagai pupuk hayati. Sebanyak empat strain kandidat bakteri pemacu pertumbuhan tanaman yaitu NT2, NT5, PD1, dan PK1 telah berhasil diisiolasi dari perakaran kelapa sawit. Keempat strain tersebut diidentifikasi sebagai Azotobacter chroococcum, Azospirillum brasilense, Bacillus alkalicellulosilyticus, dan Pseudomonas brassicacearum. Keempat strain tersebut dikonfirmasi sebagai multi fungsi bakteri pemacu pertumbuhan tanaman berdasarkan uji kualitatif dan uji kuantitatif. Aplikasi konsorsium keempat strain tersebut dalam bentuk biofertilizer pada bibit kelapa sawit dapat meningkatkan serapan hara, performa vegetatif tanaman yang lebih baik, biomassa bibit yang lebih tinggi, pengurangan dosis pupuk anorganik hingga 50%, dan 7-30% lebih efisien dibandingkan dengan penggunaan 100% pupuk anorganik
Accuracy Improvement of Basal Stem Rot Disease Identification in Oil Palm Plantation Using Unmanned Aerial Vehicle and Machine Learning
Penyakit busuk pangkal batang (BSR) yang disebabkan oleh jamur Ganoderma sp pada tanaman kelapa sawit masih menjadi penyakit utama dan belum ada tindakan pengendaliannya yang efektif. Perlakuan kultur teknis untuk memperpanjang umur tanaman masih menjadi tindakan utama dalam pengendalian penyakit BSR ini. Ketepatan identifikasi dan klasifikasi tanaman sehat dan terinfeksi penyakit BSR secara cepat dan tepat sangat diperlukan untuk mendukung perlakuan kultur teknis. Penelitian ini melanjutkan penelitian Santoso (2020) untuk identifikasi dan klasifikasi tanaman kelapa sawit sehat dan terinfeksi penyakit BSR dengan menggunakan pendekatan remote sensing dari image yang direkam oleh kamera multispektral tiga band dan machine learning. Tujuan utama dari penelitian ini adalah meningkatkan akurasi interpretasi tanaman sehat dan terinfeksi penyakit BSR dengan penambahan variabel berupa sepuluh indeks vegetasi yang memanfaatkan ketiga band dari kamera multispektral (merah, hijau, dan near infrared/NIR) dan penerapan enam belas machine learning classification model. Hasil penelitian menunjukkan model random forest dan stochastic gradient boosting mampu meningkatkan akurasi interpretasi menjadi 87.18 % dari 79.49 % dan kappa value menjadi 0.69 dari 0.48. Peningkatan akurasi ini tidak lepas dari variabel penting dalam fiting model yang digunakan dalam penelitian ini yang didominasi oleh variabel dari indeks vegetasi dan band merah. Model ini perlu diuji untuk mengidentifikasi tanaman sehat dan terinfeksi penyakit BSR dengan taraf insidensi rendah dan sedang.The basal stem rot disease caused by Ganoderma sp remains a majority disease in oil palm plantations, and there is no effective treatment. The technical culture becomes a majority treatment to prolong the oil palm life. The identification and classification accuracy of healthy and infected by BSR (unhealthy) oil palm is needed to support the technical culture of treatment. This study is based on Santoso's previous study (2020), which identifies and classifies healthy and unhealthy oil palms using remote sensing from an image of a multispectral camera with three bands and machine learning. This study aims to improve the interpretation accuracy of healthy and unhealthy oil palms by adding ten vegetation indexes from three bands (red, green, and near-infrared/NIR) of a multispectral camera and applying sixteen models of machine learning. The results showed that the random forest and stochastic gradient boosting had improved 87.18% of the interpretation accuracy by 79.49% in the previous research and 0.69 kappa value from 0.48 in the previous research. This study's accuracy and kappa value improvement may be caused by adding variables from the vegetation indexes that become variable importance besides the red band in the fitting model. The model in this study needs to validate for identifying and classifying healthy and unhealthy oil palm caused by BSR in the area with low and moderate incidence
Kuantifikasi Kontribusi Faktor Iklim Terhadap Variasi Produktivitas Tanaman Kelapa Sawit
The yield of oil palm is heavily influenced by various climatic conditions, including rainfall (RF), radiation (Qs), temperature, and humidity. To quantify the impact of these factors, a study was conducted on a 15-year-old palm located in an oil palm estate in Pangkalan Lima Puluh Kota, West Sumatra, Indonesia. The study used climate data from 2011-2019 and yield data from 2015 and 2019. To determine the contribution of RF, Qs, and VPD / vapour pressure deficit, which was estimated from temperature and humidity, a computer-intensive importance metric developed by Lindemann, Merenda, and Gold (LMG metric) was utilized. The results showed that RF, Qs, and VPD collectively accounted for 50.16% of yield fluctuations at the study site. Furthermore, the contribution of climate factors on yield followed the order of VPD > Qs > RF.Produktivitas tanaman kelapa sawit sangat dipengaruhi oleh beberapa kondisi iklim, termasuk curah hujan (RF), radiasi (Qs), suhu, dan kelembaban udara. Untuk mengkuantifikasikan pengaruh faktor-faktor produksi tersebut, sebuah kajian telah dilakukan pada tanaman umur 15 tahun di sebuah perkebunan kelapa sawit di Pangkalan Lima Puluh Kota, Sumatera Barat, Indonesia. Kajian ini menggunakan data iklim kurun waktu 2011-2019 dan data produktivitas dari tahun 2015-2019. Untuk mengetahui kontribusi dari RF, Qs, dan vapour pressure deficit / VPD, yang diestimasikan dari data suhu udara dan kelembaban udara, telah digunakan Metode LMG metric yang dikembangkan oleh Lindemann, Merenda, and Gold. Hasil kajian menunjukkan bahwa RF, Qs, dan VPD secara bersamaan mempengaruhi 50,16% fluktuasi produktivitas di lokasi kajian. Lebih lanjut, kontribusi faktor iklim terhadap produktivitas tanaman kelapa sawit mengikuti urutan sebagai berikut VPD > Qs > RF
Potassium Use Efficiency of Natural Zeolite-Based Potassium Fertilizer in Oil Palm Seedlings (Elaeis guineensis Jacq.) Using Peat Soil Media
Kalium merupakan hara makro yang paling banyak dibutuhkan kelapa sawit. Di sisi lain efisiensi pemupukan kalium pada lahan gambut rendah dikarenakan pencucian. Salah satu upaya meningkatkan efesiensi pemupukan kalium adalah melalui ameliorasi tanah gambut sekaligus merekayasa teknologi pupuk agar hara dapat diserap tanaman lebih efisien. Penelitian ini bertujuan menguji efisiensi pupuk kalium yang telah dimodifikasi menggunakan zeolit alam (pupuk zeka) pada bibit kelapa sawit menggunakan media tanam tanah gambut. Penelitian menggunakan rancangan acak lengkap 5 perlakuan dan 3 ulangan. Perlakuan yang dicobakan adalah (1) K0 = Kontrol/(tanpa pupuk); (2) K1 = pupuk standar (urea + TSP + KCl + dolomit); (3) K2 = urea + TSP + zeka-1 + dolomit; K3 = Urea + TSP + zeka-2 + Dolomit; dan K4 = urea + TSP + zeka-3 + dolomit. Hasil penelitian membuktikan bahwa secara umum pupuk zeka (K2-K4) menghasilkan pertumbuhan bibit, dan efisiensi penggunaan hara yang lebih tinggi dibanding perlakuan pemupukan standar (K1). Perlakuan terbaik (K3) menghasilkan pertumbuhan dan efisiensi hara paling tinggi. Tinggi dan diameter batang bibit, perlakuan K3 lebih besar dibanding K1, berturut-turut 7,7% dan 9,2% lebih tinggi. Selanjutnya, biomassa kering tajuk dan akar yang dihasilkan perlakuan K3 lebih tinggi berturut-turut 39,2% dan 33,9% dibanding perlakuan K1. Nilai agronomic efficiency, Apparent Recovery efficiency, Physiologycal efficiency dan Partial Faktor Productivity perlakuan K3 lebih tinggi berturut-turut 59,91%; 33,23%; 18,57% dan 39,16% dibanding K1.Potassium is the most needed macronutrient for oil palm. However, the efficiency of potassium fertilization on peatlands is low due to leaching. One of the exertions to improve this fertilization's efficiency is peat soil amelioration and engineering fertilizer technology so that plants can absorb nutrients more efficiently. This study aims to evaluate the effectiveness of zeka fertilizer, a modified potassium fertilizer made from natural zeolite, on oil palm seedlings in peat soil. The study used a completely randomized design with five treatments and three replications. The treatments were (1) K0 = Control/no fertilizer; (2) K1 = standard fertilizer, namely: urea + TSP + KCl + dolomite; (3) K2 = urea + TSP + zeka-1 + dolomite; K3 = urea + TSP + zeka-2 + dolomite; K4 = urea + TSP + zeka-3 + dolomite. The results proved that, in general, zeka fertilizer (K2, K3, and K4) produced better seedling growth and nutrient use efficiency than the standard fertilization treatment of oil palm seedlings (K1). The best treatment (K3) resulted in the highest growth and nutrient efficiency. K3 treatment resulted in seedling height and stem diameter by 7.7% and 9.2%, respectively, compared to K1. Furthermore, the dry biomass of the shoot and roots produced by the K3 treatment was 39.2% and 33.9% higher, respectively, than that produced by the K1 treatment. The agronomic efficiency, Apparent Recovery efficiency, Physiological efficiency, and Partial Factor Productivity of K3 treatment were 59.91%, 33.23%, 18.57%, and 39.16% higher than K1, respectively
Pengaruh Aplikasi Tandan Kosong Kelapa Sawit Terhadap Produksi Kelapa Sawit
Empty fruit bunch are one of palm oil mills waste. The goal of this study was to see how empty fruit bunch (EFB) treatment affected the yield of fresh fruit bunches in oil palm trees. This was a descriptive study by observing oil palm plantations treated with organic material obtained from research or experiments. The observation was on the production of fresh fruit bunch (FFB). The data obtained came from oil palm plants' production data. Statistical analysis of observation parameters with significant effect was performed using the least significant difference (LSD) test. Any usage of empty fruit bunches composted on oil palm plants which is applied to frond stack increased rachis nutrient level, particularly Ca, Mg, and B, all of which are important in oil palm productivity. In addition, It can also impact N, P, K, Ca, Mg, B, Zn, Cu, even Cl nutrient level on leaf tissues. EFB composting had no significant effect on FFB production. In this study, FFB production was highest with the control treatment, but FFB production with the EFB treatment was slightly lower, not significantly different from the control treatment.Tandan buah sawit yang telah dikosongkan, yang merupakan sampah dari pabrik kelapa sawit, merupakan salah satu komponen organik untuk pengomposan . Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melihat bagaimana perlakuan tandan kosong kelapa sawit (TKKS) mempengaruhi hasil tandan buah segar pada pohon kelapa sawit. Penelitian ini bersifat deskriptif dengan mengamati perkebunan kelapa sawit yang diberi perlakuan bahan organik yang diperoleh dari penelitian atau percobaan. Pengamatan dilakukan pada produksi tandan buah segar (TBS). Data yang diperoleh berasal dari data produksi tanaman kelapa sawit. Analisis statistik terhadap parameter pengamatan yang berpengaruh nyata dilakukan dengan menggunakan uji beda nyata terkecil (BNT). Setiap penggunaan limbah tandan kosong kelapa sawit yang dikomposkan pada tanaman kelapa sawit yang di aplikasi pada gawangan mati meningkatkan kadar hara rachis, terutama Ca, Mg, dan B, yang semuanya penting dalam produktivitas kelapa sawit. Selain itu juga dapat berdampak pada penyerapan nutrisi N, P, K, Ca, Mg, B, Zn, Cu, bahkan Cl pada jaringan daun. Pengomposan TKKS tidak berpengaruh nyata terhadap produksi TBS. Pada penelitian ini produksi TBS tertinggi dengan perlakuan kontrol, namun produksi TBS dengan perlakuan TKKS sedikit lebih rendah, dan tidak berbeda nyata dengan perlakuan control
Technique to Estimate Oil Palm Transpiration Using Heat Ratio Method
Salah satu metode yang digunakan untuk menentukan kebutuhan air tanaman adalah dengan menghitung transpirasi tanaman. Metode Heat Ratio Method (HRM) adalah metode yang dapat mengukur transpirasi langsung di lapangan dengan mengukur laju aliran sap di dalam tanaman. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengestimasikan kebutuhan air tanaman kelapa sawit berdasarkan pengukuran transpirasi tanaman kelapa sawit dengan HRM. Penelitian dilakukan pada tanaman kelapa sawit umur 5 tahun yang memiliki 48 pelepah di Medan, Sumatera Utara. Sebanyak 6 alat Sap Flow Meter dipasang pada pelepah no. 1, 9, 17, 25, 33, dan 41. Hasil penelitian menunjukkan bahwa laju aliran sap pada tiga pelepah teratas (no. 1, 9, dan 17) lebih tinggi dibandingkan tiga pelepah di bawahnya. Lebih lanjut, transpirasi tertinggi terjadi pada pelepah no. 1 yaitu sebesar 0,890 liter/hari, sedangkan transpirasi terendah teramati pada pelepah no. 41 yaitu 0,510 liter/hari. Laju transpirasi semakin menurun pada pelepah yang lebih bawah posisinya. Rerata transpirasi harian adalah sebesar 31,933 liter/hari/tanaman atau setara dengan 0,457 mm/hari/tanaman, dengan asumsi bahwa masing-masing pelepah yang dijadikan sampel mewakili pelepah pada tingkatan pelepah yang sama.The estimation of plant transpiration is one of many methods to determine plant water requirements. Heat Ratio Method (HRM) is a method that can estimate transpiration directly under field conditions by measuring sap flow rate. This research was conducted to estimate oil palm water requirements based on transpiration estimation using HRM. The study was located in Medan, North Sumatra, and was employed five years old palm with 48 fronds. A total of six Sap Flow Meter (SFM) were installed on the fronds no. 1, 9, 17, 25, 33, and 41. The results showed that the sap flow rate of the top three fronds (no. 1, 9, and 17) was higher than the lower fronds. The transpiration rate was decreased at the lower fronds position. Furthermore, the highest transpiration occurred in frond no. 1, 0.890 liters/day, while the lowest was observed in frond no. 41 i.e. 0.510 liters/day. Assuming that each frond sampled represents fronds at the same level, the average daily transpiration was 31.933 liters/day/palm or equivalent to 0.457 mm/day/palm
The Design of a Motorized Palm Portable Harvesting Tool using a Flexible Shaft
Dalam dunia industri perkebunan, untuk mendapatkan hasil panen yang maksimal, faktor utama yang perlu diperhatikan adalah cara pemanenannya. Proses pemanenan yang efisien, murah dan efektif menjadi hal utama yang harus dicapai. Indonesia sebagai salah satu Negara penghasil sawit dunia bersama dengan Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) terus mengembangkan cara untuk mengoptimalkan proses produksi sawitnya. Proses pemanenan saat ini masih banyak menggunakan cara manual menggunakan sabit dan dodos. Beberapa alat panen sawit juga ada yang sudah bermotor akan tetapi alat yang ada mempunyai kelemahan dari segi harga dan getaran pada shaft. Pada artikel ini dengan menggunakan metode Quality Function Deployment (QFD) penulis berhasil merancang alat pemanen sawit bermotor dimana getaran dari motor dapat dikurangi dengan memindahkan posisi motor menggunakan Flexible shaft. Selanjutnya memodifikasi gearbox dari material, bentuk roda gigi, dan beberapa element mesin proses itu membuat gearbox menjadi ringan dan memiliki getaran yang kecil. Penelitian ini bertujuan untuk membuat alat panen sawit bermotor yang dapat digunakan untuk memanen buah sawit secara cepat dan mudah. Hal lain yang dituju adalah mendapatkan mesin panen sawit bermotor yang murah karena semua part yang dirancang dan diproduksi pada mesin panen sawit ini dibuat secara mandiri dan memiliki getaran yang rendah. Percobaan yang dilakukan di Koperasi Jasa Profesi (KJP) Cipta Prima Sejahtera Banjarmasin mendapatkan mesin panen sawit yang sudah dirancang memiliki nilai percepatan getaran yang rendah, memiliki perawatan mudah., lebih ringan dibandingkan alat potong sawit bermotor yang sudah ada, dan kecepatan pemotongan dahan yang banyak dan cepat dibandingkan alat potong manual dodos.In the world of the plantation industry, to get a maximum harvest, the main factor that needs to be considered is the way of harvesting. An efficient, inexpensive, and effective harvesting process is the main thing that must be achieved. Indonesia as one of the world's palm oil-producing countries together with the Palm Oil Plantation Fund Management Agency (BPDPKS) continues to develop ways to optimize its palm oil production process. The harvesting process today still uses many manual methods using sickles and dodos. Some palm oil harvesting tools are already motorized, however, existing tools still have disadvantages in terms of price and vibration in the shaft. In this article, the author successfully applied the Quality Function Deployment (QFD) method and designed a motorized palm harvester where vibrations from the motor can be reduced by moving the motor's position using a Flexible shaft. Further modifying the gearbox from the material, gear shape, and some elements of the process engine makes the gearbox lightweight and have a small vibration. This study aims to make a motorized palm harvesting tool that can be used to harvest palm fruit quickly and easily. Another thing to aim for is to get a cheap motorized palm oil harvesting machine because all the parts are designed and produced independently and have low vibration. Experiments conducted at the Professional Services Cooperative (KJP) Cipta Prima Sejahtera Banjarmasin obtained a palm oil harvesting machine that had been designed to have a low vibration acceleration value, has easy maintenance, is lighter than existing motorized palm cutting tools, and the speed of cutting branches is many and fast compared to manual dodos cutting tools
Flood Mitigation of Peatlands on Oil Palm Plantation Based on HEC-RAS 2D Model
Pengembangan perkebunan kelapa sawit di areal rawa dengan tanah gambut semakin meluas dan merupakan tantangan terbesar dalam pengelolaannya. Drainase yang sangat terhambat menjadi salah satu faktor pembatas yang mempengaruhi kondisi hidrologi lahan. Kajian hidrologi ini dilakukan di salah satu perkebunan kelapa sawit Kabupaten Tapanuli Selatan Propinsi Sumatera Utara yang mengalami banjir secara periodik. Pemodelan hidrolika pada kajian ini dilakukan dalam dua skenario yaitu kondisi aktual dan redisain dengan parameter yang dibutuhkan antara lain topografi lahan, klimatologi, dan hidrologi sebagai input dalam simulasi. Pemodelan hidrolika ini untuk mensimulasikan kondisi aktual kanal dan penerapan mitigasi permasalahan banjir dengan pembuatan tanggul menggunakan HEC-RAS 2D. Hasil simulasi menunjukkan bahwa banjir terjadi sebagai akibat luapan air Aek Sibirong yang mempengaruhi kondisi kanal dalam kebun yang terkoneksi dengan sungai tersebut. Berdasarkan simulasi, penerapan tanggul setinggi 1.15 m - 3.45 m pada bagian hulu dan 1.10 m - 3 m pada bagian hilir mampu mengatasi luapan air sehingga dapat mencegah terjadinya banjir pada areal kebun.The development of oil palm plantations on peat swamp land is increasingly widespread and is the biggest challenge in its management. Severely obstructed drainage is one of the limiting factors affecting the hydrological conditions of the land. This hydrological study was conducted in one of the oil palm plantations in Muara Batang Toru districts, North Sumatra Province which experiences periodic flooding. The hydrological modeling was carried out in 2 scenarios: the existing condition and the redesign with the required parameters, including land topography, climate, and hydrology as input in the simulation. This hydrological modeling simulates the existing condition of drainage canals and the application of flood problem mitigation by making levee using HEC-RAS 2D. The simulation results show that flooding occurs due to the overflow of the Aek Sibirong River, which affects the condition of the drainage channel in plantation connected to the river. As Simulation, applying levee as high as 1.15 m to 3.45 m upstream and 1.10 m to 3 m downstream can overcome the overflow to prevent flooding in the plantation area
Analysis of Critical Point for Quality Assurance of Palm Oil Seed in Indonesia
Benih kelapa sawit merupakan elemen yang sangat penting dalam menentukan hasil produksi tanaman kelapa sawit. Penggunaan benih sawit berkualitas (unggul) akan memberikan produktifitas yang maksmimal. Namun, hingga saat ini masih banyak penggunaan benih kelapa sawit ilegitim (tidak berkualitas) khususnya pada pekebun di perkebunan rakyat. Standardisasi merupakan cara yang tepat dalam rangka penyediaan dan penjaminan benih sawit unggul melalui penentuan kriteria yang ketat dalam proses seleksi hingga jaminan sifat dan kualitas dari benih yang ditanam. Sebagai tahap awal dan dasar pengembangan standar diperlukan identifikasi tahapan krusial dalam rantai pasok benih kelapa sawit hingga ke tangan konsumen. Maka penelitian ini bertujuan untuk menganalisis titik kritis terhadap penjaminan kualitas benih kelapa sawit di Indonesia dalam rangka memberikan jaminan tersedianya benih kelapa sawit berkualitas. Penelitian ini menggunakan metode eksploratif secara kualitatif untuk memperoleh data dan informasi terkait titik kritis pada rantai proses penyediaan benih kelapa sawit dari para responden yang terdiri dari produsen, penangkar, Pemerintah dan ahli (expert) dalam bidang benih kelapa sawit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 5 (lima) titik kritis dalam penjaminan kualitas benih kelapa sawit di Indonesia, yaitu proses produksi khususnya pada tahapan polinasi, proses pembibitan (pembesaran), proses sertifikasi, proses pengawasan, dan pengetahuan dari pekebun khususnya pada perkebunan rakyat terhadap pentingnya penggunaan benih kelapa sawit berkualitas. Kelima titik kritis tersebut direkomendasikan sebagai dasar dalam pengembangan standar nasional dalam penjaminan benih kelapa sawit yang berkualitas demi terwujudnya program Pemerintah dalam peningkatan produktifitas perkebunan kelapa sawit di Indonesia.Oil palm seeds are a very important element in determining the yield of oil palm plantations. The use of quality oil palm seeds will provide maximum productivity. However, until now there is still a lot of use of llegitimate oil palm seeds, especially on smallholder plantations. Standardization is the right way to guarantee the quality of oil palm seeds through the determination of strict criteria in the selection process for the seeds planted. As the initial stage and the basis for developing standards, it is necessary to identify the critical point in the supply chain of oil palm seeds to consumers. So, this study aims to analyze the critical point of guaranteeing the quality of oil palm seeds in Indonesia, to guarantee the availability of quality oil palm seeds. This study uses a qualitative exploratory method to obtain data and information related to critical points in the supply chain of oil palm seeds from respondents consisting of producer, breeder, Government, and expert in the field of oil palm seeds. The results showed there were 5 (five) critical points in ensuring the quality of oil palm seeds in Indonesia, namely the production process, especially at the pollination stage, the breeding process, the certification process, the supervision process, and the knowledge of the planters, especially in smallholder plantations. The critical points are recommended as the basis for developing national standards in guaranteeing quality oil palm seeds for the realization of the Government's program to increase the productivity of oil palm plantations in Indonesia
Determinasi Nilai RGB dan Grayscale pada Citra Tandan Buah Segar (TBS) Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq.) Menggunakan MATLAB
The Color and appearance are the most important indicators for a farmer to determine the condition of oil palm fresh fruit bunches (FFB) in the harvesting process. As the main attributes, the color and appearance become the guidelines for the initial assessment of fresh fruit bunches (FFB) of oil palm condition that is suitable or not for harvesting. In Facts, the FFB assessment activities are still carried out manually by utilizing the farmers visual, which is it will be prone to errors during the assessment. Due to this problem, it is important to automate the assessment of the color characteristics of oil palm FFB in order to minimize errors by farmers. The purpose of this study was to determine the efficiency of RGB color imaging techniques on oil palm FFB. The method used is processing and color analysis on 30 FFB images based on smartphone cameras to find the correlations for each color. Each color channel R, G and B in the FFB images was extracted and converted into grayscale using MATLAB R2021 software. The results show that the correlation value of R channel and grayscale has the highest value with R2 = 0.9569. This correlation is expected to be an initial study and suitable alternative for automating the assessment of the condition of oil palm FFB.Warna dan tampilan adalah indikator terpenting bagi pemanen kebun sawit untuk menentukan kondisi tandan buah segar (TBS) kelapa sawit pada proses panen. Sebagai atribut utama, maka warna dan tampilan menjadi acuan standar untuk penilaian kondisi TBS kelapa sawit layak atau tidak layak dipanen. Fakta dilapangan, kegiatan penilaian TBS masih dilakukan secara manual dengan memanfaatkan visual (penglihatan) dari para pekerja kebun, dimana akan rentan terhadap kesalahan dalam penilaian TBS. Adanya permasalahan ini, maka otomatisasi penilaian karakteristik warna TBS kelapa sawit menjadi sangat penting guna meminimalisir kesalahan pemanen kebun sawit. Tujuan dari studi ini adalah untuk mengetahui efisiensi teknik pencitraan warna RGB pada TBS kelapa sawit. Metode yang digunakan diajukan adalah pengolahan dan analisa warna pada 90 citra TBS berbasis kamera smartphone, kemudian mencari nilai korelasi antar channel warna. Setiap channel warna R, G dan B pada citra TBS diekstraksi dan dikonversikan ke dalam bentuk keabuan (grayscale) menggunakan software MATLAB R2021. Hasil menunjukkan bahwa dengan perlakuan yang sama pada pengambilan citra TBS, maka nilai korelasi channel R dan grayscale (GS) memiliki nilai tertinggi dengan R2 = 0.9569. Capaian nilai korelasi ini dapat menjadi studi inisial dan alternatif yang baik dan sesuai untuk otomatisasi penilaian kondisi TBS kelapa sawit