Jurnal Puslitbang tekMira (Teknologi Mineral dan Batubara)
Not a member yet
1014 research outputs found
Sort by
ABU BATUBARA DAN PEMANFAATANNYA: TINJAUAN TEKNIS KARAKTERISTIK SECARA KIMIA DAN TOKSIKOLOGINYA
Pemenuhan kebutuhan energi di Indonesia masih didominasi oleh bahan bakar fosil seperti minyak, gas ataupun batubara. Sampai dengan 2050 diperkirakan kontribusi batubara sebagai sumber energi masih mencapai 31%. Pembangunan PLTU 35 GW merupakan salah satu solusi pemenuhan kebutuhan energi. Konsekuensinya abu batubara akan banyak terbentuk dan ditimbun apabila tidak bisa dimanfaatkan. Berdasarkan kondisi ini pemanfaatan abu batubara secara masif perlu diupayakan dengan tetap mempertimbangkan statusnya sebagai limbah B3. Penelitian terkait pemanfaatan abu batubara berikut penunjangnya sudah dilakukan di Puslitbang Teknologi Mineral dan Batubara sejak tahun 2000 namun penelitian ini masih dilakukan pada skala laboratorium karena percobaan di lapangan perlu waktu dan perizinan yang cukup lama. Berdasarkan karakterisasi percontoh yang diambil dari PLTU di Jawa Barat, Jawa Timur, Sumatera dan Kalimantan diketahui bahwa abu batubara ada yang bersifat asam dan basa serta memiliki kandungan logam berat seperti Fe, Mn, Pb, Cu, Zn, Ni, Cr, dan Co. Beberapa pengujian untuk melihat sifat keterlindian logam-logam berat dan sifat toksik secara kimia dan biologi menunjukkan bahwa percontoh abu batubara dapat dikategorikan sebagai bukan limbah B3 (kandungan logam-logam berat tersebut dalam lindiannya lebih kecil dari yang ditetapkan) dan bersifat hampir tidak toksik (dengan nilai 10.000< LC50 < 100.000 ppm) dan relatif tidak berbahaya (LD 50 > 15.000 ppm). Pengujian laboratorium menunjukkan tidak terjadi pelindian logam berat yang signifikan, terbukti bahwa logam-logam berat dalam abu batubara pada pengujian spesiasi terdistribusi pada fraksi oksida dan residu yang secara kimia menbuat logam-logam tersebut tidak mudah terlindi. Implementasi di lapangan dengan perencanaan pemantauan yang baik dan benar, kolaborasi dengan KLHK perlu dilakukan agar pemanfaatan limbah yang aman untuk lingkungan dapat direalisasikan
SUPPLY CHAIN ANALYSIS FOR INDONESIAN NICKEL
It is imperative to increase the value-added of mineral product, especially nickel, as mandated in Law Number 4 of 2009. This law forces government and industry to optimize the added value in this country. The importing countries that perform further processing obtain most benefit from this value added. This creates an opportunity to optimize the value-added products in this country. This research aims to map supply chains along with their product flows and their relation to problem identification, to analyze product development in the supply chain, to analyze the performance of the industrial chain and its impacts on the national economy. Thus, efforts to increase the backward and forward linkages of nickel industry through value-added improvement program, as mandated in the law can be run according to plan. The research approaches were undertaken through direct and indirect surveys. From the results, there is an interrelated success between the value-added improvement policy from the Ministry of Energy and Mineral Resources and the downstreaming policy from the Ministry of Industry. This is indicated by a continuous product flow. By 2020, an estimated 71.7 million tons of nickel ore will be absorbed entirely by smelter of processing and refining in the country. Then the products generated by these smelters will be absorbed by approximately 24% by the domestic stainless steel industry. The contribution to the national economy can boost Gross Domestic Product by approximately 0.526%
POTENSI BAHAN TAMBANG, PENATAAN WILAYAH USAHA PERTAMBANGAN (WUP) DAN WILAYAH PERTAMBANGAN RAKYAT (WPR) DI KEBUMEN
Potensi kelompok mineral logam Kebumen terdiri atas pasir besi, mangan, dan emas; sedangkan kelompok batubaranya berupa serpih bitumen; kelompok bukan logam meliputi kaolin, Ca-bentonit, fosfat guano, tras, felspar, asbes dan talk. Kelompok batuan meliputi batugamping, tanah liat, andesit, diabas, gabro, basal, marmer, pasir-batu (sirtu) dan tanah merah. WUP mineral logam tersebar pada tiga lokasi yaitu kawasan Pantai Selatan (11.640 ha), tinggian Karangbolong (5.680 ha) dan Kebumen Utara (5.709 ha). WUP bukan logam tersebar pada dua lokasi, yaitu tinggian Karangbolong (1.875 ha) dan Kebumen Utara (7.488 ha). WUP batuan tersebar di kawasan tinggian Karangbolong (5.680 ha), Rowokele (5.587 ha), Karanganyar (7.598 ha) dan Kutowinangun Utara (14.980 ha). WPR dengan komoditas pasir sungai tersebar di S. Pedegolan, S. Kedungbener, S. Luk Ulo, S. Karanganyar, S. Kemit, S. Sampang dan Muara S. Cincingguling, serta WPR batubara pada tinggian Karangbolong
INTERAKSI ION Pb2+ PADA BIOMASSA FITOPLANKTON LAUT Tetraselmis chuii
Penelitian ini dilakukan untuk (1) menguji kelayakan biomassa Tetraselmis chuii dijadikan sebagai biosorben penyerap ion Pb2+ dalam lingkungan tercemar (2) menentukan kondisi interaksi optimum biosorpsi ion Pb2+ oleh biomassa T. chuii serta (3) menentukan pengaruh parameter seperti variasi waktu interaksi, pH dan konsentrasi ion Pb2+. Metode yang digunakan adalah Spektrofotometer Serapan Atom (SSA). Persamaan orde satu dan dua digunakan untuk penentuan kinetika biosorpsi ion Pb2+ oleh biomassa T. chuii. Hasil percobaan menunjukkan waktu interaksi ion Pb+2 oleh biomassa T. chuii adalah 5 menit. Mekanisme reaksi biosorpsi ion Pb2+ oleh biomassa fitoplankton laut T. chuii mengikuti reaksi orde dua. Persamaan isotermal Langmuir dan Freundlich digunakan untuk penentuan isotermal biosorpsi ion Pb2+ pada biosorben tersebut. Hasilnya menunjukkan bahwa biosorpsi ion Pb2+ oleh biomassa T.chuii memenuhi persamaan isotemal Freundlich. Harga kapasitas biosorpsi (k) adalah 6,9279 mg/g. Kapasitas biosorpsi ion Pb2+ paling tinggi diperoleh biomassa T.chuii pada pH 4. Gugus fungsi yang terlibat dalam biosorpsi ion Pb2+ oleh biomassa fitoplankton laut T. chui adalah: -OH, -CN, S=S, M-S dan M-N
PRA STUDI KELAYAKAN FINANSIAL PEMBANGUNAN COAL WATER MIXTURE DI INDONESIA (PROSES UPGRADING BERTEKNOLOGI HOT WATER DRYING)
Sesuai dengan Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara serta Peraturan Pemerintah Nomor 23 Tahun 2010 tentang Pelaksanaan Kegiatan Usaha Pertambangan Mineral dan Batubara, maka pemerintah perlu memaksimalkan pengolahan batubara di dalam negeri. Salah satu teknologi pengolahan batubara yang akan dikembangkan adalah coal water mixture (CWM). Pabrik demo CWM direncanakan akan dibangun oleh JGC Corporation dari Jepang bekerjasama dengan Puslitbang Teknologi Mineral dan Batubara (tekMIRA) dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral serta PT Sinar Mas pada tahun 2011 di Karawang, Jawa Barat, Indone- sia. Pabrik demo CWM ini akan menggunakan batubara peringkat rendah yang telah melalui proses upgrading teknologi hot water drying (HWD).Coal water mixture (CWM) adalah bahan bakar campuran antara batubara dan air serta bantuan zat aditif sehingga membentuk suspensi kental yang homogen dan stabil selama penyimpanan, pengangkutan dan pembakaran. CWM dapat menggantikan minyak bakar berat (heavy fuel oil) yang biasa digunakan di industri-industri yang menggunakan boiler sebagai penghasil uap untuk proses maupun untuk pembangkit listrik.Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji aspek finansial dari pembangunan pabrik komersial CWM di Indonesia. Analisis finansial dilakukan dengan menggunakan kriteria Net Present Value (NPV), Internal Rate of Return (IRR), Return on Investment (ROI), dan Pay Back Period (PBP). Metodologi yang digunakan adalah studi pustaka melalui laporan serta informasi dari pihak JGC Corporation. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembangunan pabrik komersial CWM secara finansial menguntungkan. Namun pra studi kelayakan finansial ini masih perlu ditindaklanjuti dengan studi kelayakannya.
PRODUKSI, KONSUMSI SEMEN DAN BAHAN BAKUNYA DI INDONESIA PERIODE 1997 – 2009 DAN PROSPEKNYA 2010 – 2015
Dalam strategi pembangunan nasional, industri semen di Indonesia mendapat prioritas untuk terus dikembangkan terutama dalam kaitannya dengan pembangunan infrastruktur di berbagai daerah. Setelah krisis global 2009, pertumbuhan industri semen di Indonesia mulai membaik dengan kapasitas produksi 46,1 uta ton/tahun. Memasuki periode 2010 – 2015, pabrik semen Indonesia menaikkan kapasitas produksinya untuk kepentingan dalam negeri, karena keuntungan dari penjualan di dalam negeri lebih baik dari pada penjualan ekspor, terutama berkurangnya biaya transportasi dan biaya kedatangan di pelabuhan. Angka produksi dan konsumsi semen Indonesia tahun 2010 masing-masing sekitar 40,71 – 41,29 juta ton dan 40,14 – 40,72 juta ton. Untuk tahun 2015 diperkirakan produksi dan konsumsi semen Indonesia sekitar 51,95 – 54,99 juta ton dan 51,47 – 54,49 juta ton.Untuk mendukung kenaikan produksi semen Indonesia dengan laju pertumbuhan sebesar 5 – 6% dalam periode 2010 – 2015 diperlukan bahan baku semen yang besar. Tahun 2015 diperkirakan kebutuhan bahan baku sekitar 91,5 juta ton yang terdiri atas batugamping sekitar 70,42 juta ton, tanah liat sekitar 16,16 juta ton, pasir kuarsa sekitar 1,22 juta ton. Sisanya sebesar 3,73 juta ton terdiri atas pasir besi, gipsum dan mineral lainnya