Jurnal Puslitbang tekMira (Teknologi Mineral dan Batubara)
Not a member yet
1014 research outputs found
Sort by
OPTIMALISASI PEMBERAIAN OVERBURDEN DENGAN METODE RIPPING DAN PELEDAKAN DI BANKO BARAT PT BUKIT ASAM TBK
Sistem penambangan batubara di Tambang Banko Pit 1 Utara adalah strip mining dengan sistem shovel-dump truck. Jenis material terdiri dari top soil, claystone, siltstone dengan strength 0,2 – 3 Mpa dan sebagian perlu diledakkan. Untuk menunjang kinerja excavator perlu dilakukan pemberaian overburden terlebih dahulu menggunakan ripper Komatsu D375A-5. Berdasarkan nilai kuat tekan (strength) material, spesifikasi ripper dan excavator yang digunakan, produktivitas excavator PC-2000 masih belum optimal karena kedalaman penggaruan hanya 1,2 m, sedangkan kedalaman garuk dari PC-2000 bisa mencapai 2,5 m, akibatnya bucket excavator masih mengambil material yang belum digaru. Untuk meningkatkan produktivitas excavator PC-2000 dalam pemberaian material, perlu dilakukan aktivitas peledakan terhadap overburden tersebut. Peledakan ini hanya untuk meretakkan overburden tersebut mengingat material termasuk kategori very soft strength rock. Tujuan penelitian ini untuk mengoptimalkan produktivitas excavator Komatsu PC-2000 dan melakukan evaluasi rancangan teknis peledakan sehingga tidak menimbulkan dampak negatif terhadap area pemukiman warga di sekitar tambang. Rekomendasi untuk optimalisasi ripping yaitu mengganti ripper yang lebih besar (Komatsu D475A-5) dengan penggaruan mencapai 2,5 m atau mengganti excavator yang lebih besar (PC-3000) dengan digging force yang lebih besar. Rekomendasi rancangan teknis peledakan untuk overburden adalah dengan sistem nonel, pengisian bahan peledak bottom air deck menggunakan bit diameter 200 mm dan geometri peledakan menggunakan burden 8 m, spacing 9 m, dan kedalaman lubang ledak 8 m
OVERVIEW ON AN OPEN PIT MINE PLANNING OF THE PICKSTONE PEERLESS IN A VOLATILE ENVIRONMENT
The prevailing mining climate is highly characterized by unstable consumables pricing systems, a volatile economy and skyrocketing operational costs, and exacerbated by a steady decline and intermittence in the availability of electricity. Zimbabwean mines need to extensively capitalize on the opportunity to improve productivity by emphasizing variables they can control, predominantly operational efficiency to avoid resizing of operations or facilitating downsizing by relatively insignificant factors. In this study, cycle times, rig penetration, utilization, availability and payloads were used to evaluate the mining cycles, operator costs and the information was compared against the life of mine plans with block models. Shifts were restructured to be concordant to the schedule provided by the utility company to save fuel that was being used to power metallurgical plant. Several challenges have been identified as the principal reasons behind discrepancies between the theoretical capabilities of equipment were proven to be achievable by a trial schedule which reduced the 7 days/month to less than 2 days a month. The new schedule reflects a theoretical improvement of close to 25% and significantly lower operational costs. The current mining fleet is capable of meeting the stipulated targets and even achieving more even within tough working environments characterized by harsh load shedding schedules and volatile inflation rates; however, this requires stringent monitoring and evaluation of unit process. By adopting the recommended short term production plans will avoid resizing of operations as it automatically reduces the operational costs by US $3 million annually whilst coercing both operators and management to improve their operational efficiency
PRESIPITASI BESI DARI LARUTAN HASIL PELINDIAN BIJIH NIKEL LATERIT
Presipitasi besi dari larutan hasil pelindian bijih nikel laterit merupakan tahapan yang harus dilakukan sebelum larutan diolah lebih lanjut. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh varibel proses terhadap presipitasi besi serta mempelajari kinetika proses presipitasi. Dalam penelitian ini, presipitasi besi dilakukan menggunakan senyawa natrium hidroksida (NaOH). Variabel yang diamati yaitu temperatur (25, 40, 55, 70, dan 85°C) konsentrasi NaOH (10, 20, 30, dan 40% w/v), dan waktu (15, 30, 45, 60, dan 75 menit). Studi kinetika mengacu pada persamaan reaksi homogenous irreversible orde I, orde II dan orde III. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peningkatan temperatur, konsentrasi NaOH, dan waktu meningkatkan persentase presipitasi besi. Persentase presipitasi besi tertinggi sebesar 84,868% dicapai pada pada temperatur 85°C, konsentrasi NaOH 40% w/v, dan waktu 75 menit. Studi kinetika menunjukkan bahwa reaksi presipitasi besi dari larutan hasil pelindian mengikuti reaksi irreversible orde III
BIOREMEDIASI AIR ASAM TAMBANG BATUBARA DENGAN PENGAYAAN BAKTERI PEREDUKSI SULFAT DAN PENAMBAHAN SUBSTRAT ORGANIK
Air asam tambang (AAT) memiliki dampak negatif yang harus dikelola karena dapat menyebabkan pencemaran lingkungan dan mengganggu operasional pertambangan. Air asam tambang mengandung logam-logam berat terlarut yang berbahaya bagi ekosistem. Bakteri pereduksi sulfat (BPS) dapat digunakan dalam bioremediasi air asam tambang. Penelitian ini menganalisis pH, C-organik dan BPS yang tumbuh di sedimen air asam tambang batubara dan beberapa ekosistem lain, serta menganalisis C/N rasio dan pH dari substrat organik potensial. Tujuan penelitian adalah pemulihan AAT dengan pengayaan BPS indigenous dan penambahan substrat organik. Ekosistem yang diamati adalah sedimen AAT, lumpur sawah, sedimen mangrove, sedimen situ, sedimen selokan, dan tanah rhizosfer. Substrat organik yang diujikan berupa kompos eceng gondok, campuran lumpur sawah dengan serbuk gergajian kayu, kompos tandan kosong kelapa sawit (TKS), pupuk kandang ayam, pupuk kandang sapi, limbah pabrik susu, serta campurannya. Hasil penelitian menunjukkan BPS dapat ditemukan di semua ekosistem yang diteliti pada kisaran 5,85E+2 – 1,26E+5 MPN-unit/BKT. Nilai C/N rasio dengan variasi 9,23 - 89,5 memiliki korelasi negatif terhadap peningkatan pH. Pemberian substrat organik dengan konsentrasi 3, 5, 7 dan 10% membantu BPS dalam meningkatkan pH AAT hingga melebihi 6 dan menurunkan Fe sebesar 88,18 – 97,27%. Populasi BPRS tertinggi diperoleh pada perlakuan campuran TKS dan kotoran ayam dengan populasi 2,41E+12 MPN-unit/BKT
INOKULASI AZOTOBACTER DAN APLIKASI KOMPOS UNTUK BIOREMEDIASI TAILING TERKONTAMINASI MERKURI
Kadar merkuri (Hg) yang tinggi pada tailing tambang emas adalah sumber pencemaran lingkungan termasuk lahan pertanian. Penurunan kadar Hg di tailing dengan metode bioremediasi adalah strategi yang efektif, murah dan mudah. Azotobacter adalah rizobakteri pemfiksasi nitrogen dan penghasil eksopolisakarida yang mengubah mobilitas logam berat serta memicu pertumbuhan tanaman dengan optimal jika terdapat bahan organik. Penelitian ini dilakukan untuk mengevaluasi pengaruh dosis bahan organik dan Azotobacter strain resisten Hg terhadap perubahan kadar Hg di tailing dan tanaman jagung. Percobaan rumah kaca dirancang dalam Rancangan Petak Terbagi dengan tiga ulangan. Petak utama adalah dosis bahan organik yang terdiri atas 22,5; 30 dan 37,5 g/polibeg. Anak petak adalah strain bakteri terdiri atas tanpa inokulan, Azotobacter indigen, A. chroococcum, dan konsorsium kedua bakteri. Hasil penelitian menunjukkan bahwa inokulasi Azotobacter meningkatkan tinggi dan bobot kering tanaman jagung umur 3 minggu. Aplikasi kompos kotoran sapi 30 g/polibeg disertai inokulasi A. chroococcum maupun konsorsium Azotobacter menurunkan kadar Hg tanah dan meningkatkan serapan Hg di tanaman. Penelitian ini menjelaskan bahwa inokulasi Azotobacter menginduksi serapan Hg oleh tanaman sehingga berpotensi digunakan untuk bioremediasi tailing terkontaminasi Hg dengan tanaman fitoakumulator
ANALISIS PELEBARAN PUNCAK DIFRAKSI SINAR-X PADA PASIR BESI TITAN YOGYAKARTA: UKURAN KRISTALIT, REGANGAN KISI DAN PROBABILITAS MINERAL
Pasir besi titan Yogyakarta mengandung berbagai jenis mineral baik berupa mineral bijih (mengandung Fe dan Ti) maupun mineral non-bijih (tidak mengandung Fe dan Ti). Mineral-mineral tersebut dapat diidentifikasi menggunakan difraksi sinar-x (XRD). Namun, karakterisasi XRD memiliki kesulitan tersendiri dalam analisis mineral karena selalu muncul ambiguitas fasa mineral dalam satu puncak difraksi yang sama. Hal ini dapat menimbulkan ketidakpastian dalam identifikasi mineral pada pasir besi titan. Untuk menghindari hal tersebut, diperlukan suatu metode analisis XRD yang lebih khusus. Tujuan studi ini adalah memperkenalkan metode tersebut yaitu metode analisis pelebaran puncak difraksi Willimason-Hall. Percontoh yang digunakan pada studi ini adalah serbuk pasir besi titan Yogyakarta. Percontoh tersebut dikarakterisasi dengan difraktometer sinar-x (XRD) untuk dianalisis pelebaran puncak difraksinya berdasarkan nilai lebar setengah puncak difraksi (FWHM). Hasil analisis pelebaran puncak ini digunakan untuk menentukan regangan kisi, ukuran kristalit dan probabilitas mineralnya. Dari hasil analisis pelebaran puncak difraksi menunjukkan terdapat empat variasi regangan kisi yaitu 0,0061; 0,0045; 0,0006; dan 0,006 serta tiga variasi ukuran kristalit yaitu 2703, 568, dan 124 nm. Dari keempat variasi regangan kisi dan tiga variasi ukuran kristalit tersebut, didapatkan dua probabilitas mineral bijih (magnetit dan ilmenit) serta tiga probabilitas mineral non-bijih (nefelin, lueneburgit dan albit tingkat tinggi)