Jurnal Puslitbang tekMira (Teknologi Mineral dan Batubara)
Not a member yet
1014 research outputs found
Sort by
KAJIAN TEKNIS KESIAPAN ROM STOCKPILE UNTUK RENCANA PENINGKATAN PRODUKSI BATUBARA
Stockpile merupakan tempat penimbunan sementara batubara sebelum dijual ke konsumen yang harus diatur dengan baik agar kualitas batubara tetap terjaga. Pada studi kasus ini direncanakan bahwa pada November 2020 batubara yang akan masuk ke Loa Kulu Coal Terminal (LKCT) di PT Multi Harapan Utama akan mengalami peningkatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kesiapan LKCT untuk menghadapi rencana peningkatan produksi batubara. Penelitian ini dibagi menjadi dua keadaan, yakni saat penelitian dilaksanakan dan saat peningkatan produksi dilaksanakan. Parameter yang dilihat dari kesiapan LKCT adalah kapasitas stockpile, produktivitas crushing plant, performa heavy equipment, serta pencampuran batubara. Dari empat parameter ini dilakukan perbandingan antara rencana teoritis dengan aktualnya. Penelitian ini menggunakan data aktual bulan Agustus dan September 2020. Selanjutnya untuk rencana peningkatan produksi akan diatur rencana perubahan lokasi penimbunan batubara berdasarkan kualitas dan kuantitas. Berdasarkan hasil penelitian, diperoleh hasil produktivitas teoritis dari crushing plant sebesar 1.275 TPH, sedangkan untuk produktivitas aktualnya pada bulan Agustus sebesar 884,92 TPH dan bulan September sebesar 863,83 TPH. Hal ini berarti produktivitas aktual masih belum mencapai rencana teoritis. Begitu juga untuk performa heavy equipment dan pencampuran batubara yang masih mengalami perbedaan antara rencana dengan keadaan aktualnya sehingga ke depannya perlu ditingkatkan agar mampu mengimbangi peningkatan produksi
CHARACTERIZATION, BENEFICIATION, AND REES EXTRACTION OF COAL BOTTOM ASH
Rare earth elements are strategic materials. The elements have critical roles in meeting the needs of raw material for producing the modern industrial products. Most of the REE minerals is available in the form of associated minerals. One of them is coal. In terms of obtaining an overview regarding the possibility of coal to be a source of REEs, a research was carried out by beneficiating the bottom ash of the coal using a shaking table and a magnetic separator, and was followed by extracting the REEs using the alkaline fusion and leaching them using the nitric acid. The results showed that the bottom ash of gasified coal from the Palimanan pilot plant contained cerium, lanthanum, samarium, neodymium, praseodymium, europium, gadolinium, dysprosium, and yttrium, with a total content of 77.85 ppm. Concentrating the REEs using the shaking table and the magnetic separator result in a recovery of 32.96% and 50.5%, respectively. Extracting the REEs by alkaline fusion using NaOH as flux was not promising while leaching with nitric acid was able to extract the REEs with various percentage extraction values, and the highest extraction for Neodymium was 73.46% under conditions of 2M nitric acid leaching and heated at 80°C
LIFE CYCLE ASSESSMENT PROSES PENGADAAN BAHAN BAKU BATUBARA PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA UAP TIDORE
Penggunaan batubara dalam negeri didominasi oleh sektor pembangkit listrik tenaga uap (PLTU). Kegiatan pendistribusian batubara menuju PLTU merupakan salah satu kegiatan yang memberikan dampak adanya emisi dalam rantai pasokan batubara. Tujuan dari penelitian ini adalah mengidentifikasi aliran input-output pengadaan bahan baku batubara pembangkit listrik tenaga uap Tidore, menentukan besaran dampak emisi GRK dan asidifikasi proses pengadaan bahan baku batubara, serta menentukan upaya kegiatan untuk meminimalkan dampak emisi tersebut. Metode penelitian yang dilakukan menggunakan life cycle assessment yang terdiri dari tujuan dan ruang lingkup, analisis inventori, analisis dampak, dan interpretasi dampak. Penghitungan dampak emisi GRK dan asidifikas dilakukan berdasarkan unit fungsional jumlah batubara (ton) yang dipasok ke PLTU Tidore Kepulauan. Hasil dari penelitian ini mendapatkan potensi dampak emisi kegiatan pendistribusian dari tambang batubara ke jeti Bunati sebesar 46,40 kg-CO2eq/ton dan 4,52E-01kg-SO2eq/ton, jeti Bunati ke jeti Tidore sebesar 28944,40 kg-CO2eq/ton dan 462,41 kg-SO2eq/ton, jeti PLTU ke coal yard sebesar 1,29 kg-CO2eq/ton dan 1,26E-02 kg-SO2eq/ton. Rekomendasi yang diberikan untuk mereduksi emisi adalah substitusi bahan bakar yang lebih ramah lingkungan dengan cara cofiring serta meningkatkan efisiensi pada sistem transportasi laut dan menggantikan transportasi truk pengangkut batubara dengan overload conveyor
PENINGKATAN KUALITAS BATUBARA PERINGKAT RENDAH DENGAN CARA MENURUNKAN KADAR AIR MELALUI PROSES EVAPORASI
Batubara peringkat rendah umumnya memiliki kadar air yang tinggi dan nilai kalori yang rendah, sehingga batubara jenis ini disebut juga dengan batubara kalori rendah. Penggunaan batubara kalori rendah saat ini masih terbatas, karena karakteristiknya yang kurang menguntungkan jika digunakan sebagai bahan bakar langsung. Penurunan kadar air dengan metoda evaporasi melalui proses pemanasan yang diikuti dengan pelapisan menggunakan residu minyak bumi, merupakan salah satu cara untuk menigkatkan kualitas batubara kalori rendah. Percobaan dilakukan pada skala laboratorium menggunakan oven dan otoklav pada suhu 100, 125 dan 150°C selama 30, 60 dan 90 menit. Pemanasan dengan oven batubara dipanaskan tanpa tekanan, sedangkan pemanasan dengan otoklav batubara dicampur dengan kerosin dan residu pada tekanan maksimal 3 Bar. Hasil menunjukkan bahwa pemanasan menggunakan oven mampu menurunkan kadar air total (air bawaan + air bebas) sebear 95,16% sedangkan dengan menggunakan otoklav sebesar 95,12% pada suhu dan waktu yang sama, yaitu suhu 150°C selama 90 menit. Pemanasan dengan otoklav memberikan hasil yang lebih baik dibandingkan dengan pemanasan menggunakan oven pada kondisi suhu dan waktu yang sama. Pada suhu 125°C selama 60 menit, batubara kalori rendah (<5.100 kkal/kg) yang dipanaskan dalam oven naik menjadi batubara dengan peringkat kalori sedang (5.100-6.100 kkal/kg), sedangkan pemanasan dengan menggunakan otoklav batubara tersebut naik menjadi batubara kalori tinggi (> 6.100 kkal/kg) dalam air direid basis (adb)
IMPACT OF ILLEGAL GOLD MINING IN JAMBI, INDONESIA
Illegal gold mining caused various environmental damages in the world. Indonesia is one of the countries with abundant mineral reserves, especially Jambi Province. Jambi has much of natural resources, such as coal and gold. Unfortunately, the management of these natural resources has not been appropriately managed, which has resulted in much illegal gold mining. Illegal mining activities have caused environmental damage, mainly decreased water quality and changed landscapes. This paper explains the illegal mining activities at Jambi Province, including its history, socio-economic and environmental impacts, as well as recent technologies to reduce the environmental damage. Quantitative and qualitative methods were used in this research, including interviews, questionnaires, and laboratory measurements. The results showed that the people of Sarolangun, Bungo, and Tebo were aware that their illegal gold mining activities caused environmental damage. However, economic conditions and insufficient employment opportunities made unlawful gold miners have no other choice. Illegal gold mining activities have also shifted people's livelihoods who previously worked as farmers
THE EFFECT OF USING CACO3 AND LIME GLASS IN THE PROBABILITY OF PORE STRUCTURE FORMING ON A CERAMIC GLASS BASED ON SCORIA BASALT ROCKS
With the development of technology lately, the technology for making lightweight materials is also growing, where the goal is to reduce the total weight of the material without reducing its mechanical strength. Several parameters that influence the manufacture of lightweight materials are the number of pores, materials weight, and physical resistance. One commonly used method is mixing ceramic glass with a foaming agent. In this study, basalt rock from East Lampung, Indonesia, and lime glass was used as a ceramic glass material mixed with CaCO3, which melted down at a temperature of 1200 0C. Variations in composition were carried out by mass comparison between basalt and lime glass, namely A sample (100:0), B sample (70:30), C sample (50:50), and D sample (30:70) with 50%wt CaCO3 added for each sample and heated up to 1200 0C. Treatment variations (annealed and normalized) are also applied to see the phenomena occur. Based on the characterization results, the best sample obtained is in B sample with normalized treatment, whose has porosity value of 53.2% and density value of 1.08 gr/cm3. Based on the results of the SEM test, the pores with a size ≤ 0.5µm are 95%, and ≥ 0.5µm are 5%, where the crystals formed are pyroxene and calcite with the compositions of CaO and SiO2, respectively 39.46% and 41.90%
BIO-ORGANO MINERAL EFFECT ON SOIL FERTILITY, NUTRIENT UPTAKE, AND SWEET CORN (Zea mays L. saccharata) GROWTH PLANTED IN INCEPTISOLS SOILS
Sweet corn (Zea mays L. saccharata) is a horticultural product widely consumed by Indonesian people because of its sweetness. Corn requires sufficient nutrients to grow and produce the optimal yield so that the fertilization is a determining factor in corn cultivation. Bio-organomineral fertilizer (BIOM) is a fertilizer that combines mineral, organic, and biological elements (microorganisms). This study aims to examine the effect of BIOM on growth of sweet corn, nutrient uptake, and soil fertility. Experimental design used in this research was Randomized Block Design (RBD) with nine treatments and three replications which consist of treatments control; 1 NPK; ½ BIOM; 1 BIOM; 1 NPK + ½ BIOM; 1 NPK + ¾BIOM; 1 NPK + 1 BIOM; ¾NPK + 1¼BIOM; and ¾NPK + 1½BIOM. Effect of BIOM fertilizer at 100% dosage significantly increased the plant height, stem diameter, and canopy diameter compared to the control. BIOM fertilizer had a significant effect on the N uptake, total N, P-potential, P-available, K-potential, and K- exchangeable. The fertilizer is able to provide positive results on the growth of sweet corn, so it’s more effective for the availability of nutrients needed by sweet corn plants