Jurnal Puslitbang tekMira (Teknologi Mineral dan Batubara)
Not a member yet
1014 research outputs found
Sort by
STRUCTURAL CHANGES OF POMALAA LATERITIC ORE DUE TO COAL-BASED MAGNETIZING ROASTING
Overburden of Indonesia’s laterite ore at Pomalaa is considered as an iron cap. It performs low iron grade (41.88%) and high silica and aluminum oxide contents (18.47% and 9.46%, respectively). Around 54.74% of size distribution belong to -325 mesh fraction. Limonite iron mineral dominates in the ore in the range of 80-90% with water content of about 40%. Proven deposits of laterite iron ore are about 222 million tons. As a significant resources iron ore to be used as raw material for iron and steel industries, the iron content must be upgraded to meet the requirement of iron making industry. Magnetizing roasting technique can be conducted to change the paramagnetic iron mineral (such as hema- tite, goethite, limonite or siderite) into magnetite one that has high magnetic intensity. Therefore, the changed iron mineral can be concentrated using low-intensity, magnetic separator. Coal, mixed in ore composite may also enhance the development of coal-based magnetizing roasting processes in order to reach the desired temperature. Recently, reduced iron products from many different processes have been used as the main feed mixed with steel scrap. On the other hand, iron ore resources is getting dominated by low grade lateritic iron ore with specific content of water crystal. The abundant deposits of low grade lateritic iron ore and low rank coal in Indonesia can be used as suitable resources for raw materials in the iron and steel- making industry. Iron structural changes during magnetizing roasting process using coal as reductant agent was observed. The result showed that the non-magnetic limonite ore has been changed in to metallic iron and the iron recovery in the magnetic product depended on the coal ratio in the pellet composite. The magnetic product can be used for the development of lateritic iron ore as one of the alternatives to metallized iron feed for iron making industry
ANALISIS TEKNOEKONOMI PENGEMBANGAN PABRIK PELEBURAN BIJIH BESI DALAM RANGKA MEMPERKUAT INDUSTRI BESI BAJA DI INDONESIA
Sejalan dengan amanat Undang-undang No 4 Tahun 2009, pembangunan pabrik peleburan berbahan baku bijih besi lokal telah dipelopori oleh PT Meratus Jaya Iron & Steel (PT MJIS) yang beroperasi pada akhir tahun 2012. PT MJIS memproduksi besi spons (sponge iron) untuk dipasok ke PT Krakatau Steel. Kemudian disusul oleh PT Delta Prima Steel yang juga memproduksi besi spons. Pada akhir tahun 2013, PT Sebuku Iron Lateritic Ores sudah memulai pengolahan bijih besi dengan produk konsentrat untuk diekspor. Pembangunan pabrik peleburan pasir besi dipelopori oleh Sumber Suryadaya Prima yang beroperasi mulai tahun 2013, dengan produk awal konsentrat pasir besi. Demikian pula, pada akhir tahun 2013, PT Krakatau Posco telah beroperasi dengan produk plat baja dan hot rolled coil yang sebagian besar untuk pasar dalam negeri. PT Krakatau Osaka Steel dijadwalkan akan mulai beroperasi pada tahun 2016 dengan produk baja profil, baja tulangan, dan flat bar, yang berorientasi pasar dalam negeri. Sementara ini industri baja nasional memproduksi sekitar 11,264 juta ton, yang sebagian besar masih menggunakan bahan baku impor. Di sisi lain, produksi pertambangan bijih besi nasional sekitar 12,5 juta ton sudah tidak boleh lagi diekspor dan harus diolah di dalam negeri. Tantangan ke depan adalah bagaimana pembangunan pabrik pengolahan (peleburan) yang mempunyai nilai tambah 5,2 kali dari bijih besi mampu berkembang untuk dapat mensubstitusi impor pellet/besi spons/pig iron dan scrap sebagai bahan baku industri baja nasional. Untuk itu perlu langkah-langkah strategis melalui analisis teknoekonomi pembangunan pabrik peleburanbesi dalam rangka memperkuat industri baja nasional. Metode yang digunakan dalam analisis ini adalah survei dan nonsurvei, dan modelnya adalah statistika deskriptif, analisis tren, model perhitungan nilai tambah dan analisis SWOT. Langkah-langkah strategis sebagai tindak lanjut pemberlakuan kebijakan peningkatan nilai tambah melalui pengolahan dan pemurnian, antara lain menyusun roadmap; pemilihan teknologi yang tepat untuk bijih besi yang berkadar rendah; mendorong investor untuk terus merealisasikan program pembangunan pabrik peleburan dan pembangunan/pengembangan industri hilir berbasis besi yang menjadi target pemerintah, antara lain melalui insentif fiskal; menjalin kemitraan investor lokal dengan investor asing untuk mendirikan perusahaan peleburan besi dan atau industri hilirnya, dengan memanfaatkan bahan baku lokal; menyediakan infrastruktur yang diperlukan seperti energi listrik dan prasarana jalan serta pelabuhan, regulasi pengutamaan pemasokan kebutuhan bahan baku untuk peleburan dan pengutamaan produk peleburan sebagai bahan baku industri baja nasional, untuk memperkuat mata rantai hulu-hilir
PEMBUATAN PAC CAIR DARI ALUMINA HIDRAT PADA SKALA LABORATORIUM
Poly Aluminum Chloride (PAC) dengan rumus umum Aln(OH)mCl(3n-m) adalah persenyawaan anorganik kompleks antara ion hidroksil (OH) dengan ion alumunium yang mengalami klorinasi bertahap. PAC mampu mengkoagulasi zat tersuspensi atau dispersi koloid menghasilkan floc yang mudah mengendap. Bahan baku yang digunakan dalam pembuatan PAC terdiri atas alumina hidrat Al(OH)3, asam khlorida (HCl), asam sulfat (H2SO4)dan kalsium karbonat (CaCO3). Percobaan dilakukan dengan mereaksikan Al(OH)3, HCl dan H2SO4pada suhu 90oC selama 1 jam. Hasil reaksinya dinetralisir dengan CaCO3. Produk PAC cair dihasilkan setelah gipsum sebagai produk samping dipisahkan dengan cara filtrasi. PAC berkualitas baik dihasilkan menggunakan Al(OH)3 kemurnian tinggi ( Al2O3>62%) dan komposisi bahan baku yang tepat. Kondisi percobaan terbaik diperoleh menggunakan perbandingan bahan baku sebagai berikut: Al(OH)3 : H2SO4 : HCl : CaCO3 = 1 : 1,27 : 1,8 : 1. PAC cair terbaik yang diperoleh memiliki komposisi Al2O3 = 10%, Cl-= 10% dan SO42-<5%, yang memiliki kemampuan baik sebagai flocculator atau menggumpalkan kotoran-kotoran yang ada pada proses penjernihan air. Kata kunci: alumina hidrat, poli aluminium khlorida, koagulan, floc.
ANALISIS TEKNOEKONOMI PENGEMBANGAN MINERAL TEMBAGA DI INDONESIA
UU No 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara, mewajibkan Kontrak Karya dan Pemegang IUP tembaga untuk melakukan peningkatan nilai tambah melalui pengolahan dan pemurnian di dalam negeri. Kegiatan pengolahan dan pemurnian dapat dilakukan sendiri atau bekerjasama dengan pihak lain. Untuk mendukung implementasi kebijakan tersebut, perlu analisis teknoekonomi pengembangan mineral tembaga di Indonesia. Tujuan dari analisis teknoekonomi ini adalah untuk mengetahui karakteristik pasar, nilai tambah dan strategi pengembangan mineral tembaga di Indonesia pada tataran global. Metode penelitian melalui cara survai dan analisis studio, menggunakan pendekatan statistika deskriptif, analisis trend, perhitungan nilai tambah dan analisis SWOT. Perkembangan produksi tembaga baik PT Freeport Indonesia maupun PT Newmont Nusa Tenggara cenderung menurun, hingga tahun 2014 total mencapai 1,684 juta ton. Dari jumlah tersebut 54,73% oleh PT Smelting Gresik diolah dan dimurnikan menjadi katoda tembaga sebanyak 246 ribu ton per tahun. Sekitar 42,97% produk tersebut diserap di dalam negeri. Gambaran dari pasar produk tembaga dan olahannya baik di dalam negeri maupun secara global cukup positif mendukung pengembangan smelter tembaga di Indonesia. Adapun nilai tambah smelter tembaga sekitar 1,74 kali lipat dari nilai bahan baku (konsentrat tembaga). Untuk mendorong bergulirnya program roadmap pembangunan smelter tembaga di dalam negeri, dibutuhkan kebijakan antara lain regulasi Domestic Market Obligation (DMO) Hulu dan DMO Hilir serta pembangunan infrastruktur antara lain pembangkit listrik. Kata kunci : teknoekonomi, kebijakan, pasar, nilai tambah, smeltertembaga.
PREDIKSI GERAKAN TANAH MENGGUNAKAN SEISMIK REFRAKSI DAN PERMODELAN NUMERIK DENGAN METODE SIRT DAN GAUSS-SEIDEL
Gerakan tanah merupakan salah satu jenis bencana alam yang sering terjadi di Indonesia dan bencana ini disamping berakibat rusaknya bentang alam, hilangnya harta juga menimbulkan korban jiwa. Penelitian ini bertujuan menganalisis sifat dan karakteristik batuan atau tanah serta bagaimana pengaruhnya terhadap potensi bencana gerakan tanah di sekitar lokasi penelitian. Penelitian yang dilakukan telah dapat memprediksi pergerakan batuan menggunakan korelasi data seismik refraksi dan permodelan numerik. Alasan dalam memilih metode ini selain cukup akurat juga mudah dalam pelaksanaan pengukurannya serta mampu memprediksi kondisi lapisan pembentuk batuan secara cepat. Jumlah lapisan batuan yang berhasil dideteksi sebanyak 3 lapisan. Lapisan pertama diinterpretasikan sebagai lapisan top soil berupa tanah lapukan lempung pasiran dengan ketebalan variasi antara 1.245 m – 3.180 m. Lapisan ke dua adalah lapisan claystone yang impermeable dan berperan sebagai bidang luncur longsoran dengan ketebalan variasi antara 2.5731 m – 7.501 m. Sedangkan lapisan ketiga mempunyai kecepatan gelombang 1143 – 2190 m/s di prediksi sebagai lapisan sandstone. Pada lokasi penelitian kedua hasil pengamatan pertama dan kedua hampir tidak terjadi perubahan kecepatan rambat gelombang, sehingga dapat dikatakan pada lapisan ini kondisi batuan relatif stabil, meskipun ada beberapa titik mengalami perlambatan namun sangat kecil. Hasil pengamatan lapangan dan permodelan, pergerakan tanah pada lokasi I diperkirakan 0.6 mm/hari atau 21.9 cm/tahun, sehingga bila tidak dilakukan penanganan yang benar, dikhawatirkan akan terjadi kelongsoran kembali. Sedangkan untuk kondisi pada lokasi II, relatif stabil dan dengan asumsi tidak terjadi perubahan bentang alam yang ekstrem pada sekitar lokasi tersebut, maka dapat disimpulkan tidak akan terjadi pergerakan tanah yang menyebabkan kerusakan fatal
ANALISIS SWOT PENGEMBANGAN USAHA PENGOLAHAN PASIR ZIRKON
Pemasaran pasir zirkon Indonesia untuk memenuhi kebutuhan industri di dalam negeri belum optimal hingga saat ini. Akibatnya, bahan mentah ini diekspor ke berbagai negara. Namun, sejak terbitnya UU Minerba Nomor 4 Tahun 2009 tentang larangan ekspor bahan mentah mineral, produksi pasir zirkon Indonesia cenderung mengalami penurunan yang berdampak pula pada menurunnya penerimaan negara bukan pajak bidang pertambangan yang bersumber dari royalti dan iuran tetap (dead rent), iuran produksi, iuran eksplorasi dan eksploitasi, pendapatan dari biaya reklamasi, pendapatan dari pajak penghasilan usaha dari pendapatan kena pajak dan pendapatan dari ekspor. Juga berakibat pemutusan hubungan kerja dan hilangnya sektor usaha lain di sekitar lokasi pertambangan yang selama ini menunjang kebutuhan bagi perusahaan pertambangan dan karyawannya. Menghadapi permasalahan tersebut , perlu dirumuskan strategi pengembangan yang tepat dan sesuai dengan posisi strategis keberadaan pertambangan pasir zirkon saat ini dan kondisi idealnya dengan mempertimbangkan faktor internal dan eksternal industri pengolahan. Hal ini untuk memetakan strategi kebijakan dan arah pengembangan yang akan dicapai serta langkah strategis mencapai kondisi tersebut. Dalam rangka mengidentifikasi posisi strategis pabrik zirkonium silikat lebih akurat dilakukan analisis strengths (kekuatan), weaknesses (kelemahan), opportunities (peluang) dan threats (ancaman). Indikator internal sistem digambarkan melalui kekuatan dan kelemahan, sedangkan indikator eksternal sistem digambarkan melalui peluang dan ancaman. Kata kunci : pasir zirkon, zirkonium silikat, analisis strengths, weaknesses, opportunities, threats, harga.
PENGARUH WAKTU TINGGAL TERHADAP PRODUK FERROMANGAN HASIL SMELTING DALAM TANUR BUSUR LISTRIK MINI
Mangan merupakan elemen strategis yang memiliki beberapa aplikasi penting dalam dunia industri. Sampai saat ini 90% produksi mangan di dunia dikonsumsi oleh industri baja dalam bentuk ferromangan. Mangan sebagai unsur pemadu ditambahkan dengan tujuan untuk meningkatkan kekuatan, keuletan, kekerasan, mampu kerja dan ketahanan dari produk, khususnya baja. Kebutuhan ferromangan untuk pembuatan baja kasar adalah 10,6 kg FeMn/ton baja kasar. Sebagian besar dari kebutuhan ferromangan Indonesia dipenuhi melalui impor. Indonesia memiliki potensi cadangan mangan cukup besar tetapi berupa bijih mangan kadar rendah. Oleh karena itu, pada penelitian ini dipelajari proses pembuatan ferromangan dari bijih mangan lokal dengan reduktor kokas. Percobaan pendahuluan dilakukan untuk mempelajari pengaruh waktu tinggal terhadap proses pembuatan ferromangan dengan variasi waktu tinggal yaitu 40, 50, dan 60 menit dengan variabel tetap kokas 5,5 kg, batu kapur 7,5 kg dan bijih mangan 30 kg. Hasil terbaik dari percobaan pendahuluan diperoleh pada waktu proses 60 menit dengan produk ferromangan 4,5kg dan kadar 69,69%Mn. Pengaruh waktu tinggal dipelajari lebih lanjut dengan varibel tetap kokas 8 kg, batu kapur 7 kg dan bijih mangan 30 kg untuk setiap variasi waktu 60, 70 dan 90 menit. Produk dan terak hasil percobaan kemudian dianalisis menggunakan AAS dan OES. Hasil terbaik untuk variasi waktu tinggal yaitu 70 menit dengan hasil 6,95 kg FeMn, kadar 77,42%Mn dan % ekstraksi mangan 53,83%. Hasil yang diperoleh menunjukan ferromangan dengan kadar Mn ≥ 60% dapat dibuat dari bijh mangan kadar rendah Indonesia dalam tanur busur listrik mini pada tekanan atmosfer. Kata kunci : Ferromangan, kokas, waktu tinggal, tanur busur listrik mini.