E-Journal Universitas Subang
Not a member yet
1292 research outputs found
Sort by
Perbandingan Pemerolehan Bahasa Kedua pada Anak Laki-laki dan Perempuan: Usia Anak Sekolah Dasar
Bahasa merupakan alat yang digunakan oleh manusia untuk melakukan komunikasi secara terorganisir dan teratur dalam bentuk satuan-satuan, seperti kata, kelompok kata, klausa, dan kalimat yang diungkapkan baik secara lisan maupun tulisan. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui pemerolehan bahasa kedua (B2), pemerolehan kosa kata, dan motivasidalam belajar bahasa kedua (B2) dari anak-anak usia sekolah dasar. Metode yang digunakan dalam penelitian ini berupa kualitatif deskriptif dengan menggunakan wawancara tertulis sebagai instrument-nya. Dalam proses untuk memperoleh data, peneliti memperoleh data dari subjek yaitu anak-anak usia sekolah dasar dengan rentang usia 10 sampai 11 tahun dengan satu orang laki-laki dan satu orang perempuan. Pada hasil penelitian ini menunjukan bahwa seorang anak laki-laki lebih unggul dari seorang anak perempuan dalam pemerolehan bahasa kedua (B2). Kesimpulan yang diperoleh peneliti dalam penelitian ini yaitu bahwa dalam proses pemerolehan bahasa kedua (B2) sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu faktor usia, faktor motivasi, dan faktor lingkungan sekita
The Analysis of Speech Delay In Children With ERLD Symptomps
This study aims to determine the analysis of speech delay in children with ERLD symptoms. The analysis of speech barriers of children with ERLD symptoms is the main focus of this study. For this study, 1 participant has participated. Data collection techniques using 2 ways. Participants were observed through observation and interviews. The results of the observation data showed that during the learning activities the participants showed delayed responses when digesting and answering some instructions. In the results of personal interviews, participants also showed a delayed response to speaking when answering some slightly complex questions. In addition, participants also find it difficult to respond and communicate in a normal way. Even body language is also often used as a way to answer, because participants experience delays in speaking and find it difficult to understand and express what is digested in minds
RANCANG BANGUN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS PERKEMBANGAN INDUSTRI KONVEKSI DI KABUPATEN SUBANG
Kabupaten Subang adalah sebuah kabupaten di provinsi Jawa Barat Ibukotanya adalah Subang. Kabupaten ini berbatasan dengan Laut Jawa di utara, Kabupaten Indramayu di timur, Kabupaten Sumedang di tenggara, Kabupaten Bandung Barat di selatan, serta Kabupaten Purwakarta dan Kabupaten Karawang di barat.
Seiring kemajuan zaman dari tahun ketahun banyak perusahaan besar dan sedang yang sudah beroperasi secara komersial di Kabupaten Subang. Perkembangan jumlah industri konveksi baik besar maupun sedang tersebut, selain karena letak geografis kabupaten Subang yang strategis, juga dikarenakan adanya berbagai kebijakan yang dilakukan oleh pemerintah kabupaten Subang yang berkenaan dengan jaminan kemudahan investasi.
Hambatan yang muncul dalam industri konveksi ini perlu adanya Sistem yang mudah untuk mendapatkan informasi yang baik untuk pendataan industri konveksi di Kabupaten Subang . Pemetaan lokasi industri konveksi merupakan penyajian informasi yang akurat terkait dengan keberadaan suatu usaha disuatu wilayah sangat diperlukan selain untuk memonitor peluang usaha dan kebutuhan tenaga kerja juga dapat dijadikan sebagai informasi untuk menyerap para investor untuk menanam modal. Solusi untuk mengatasi masalah tersebut diperlukan penyampaian informasi yang baik agar mempermudah penyampaian informasi perkembangan industri konveksi maka dibutuhkan suatu teknologi yang lebih mudah dipahami yaitu melalui Tabel dan gambar teknologi ini sering dikenal dengan Sistem Informasi Geografis (SIG). Metode perancangan yang digunakan menggunakan tools Unified Modelling Language (UML). Aplikasi SIG sangat berguna untuk studi pemilihan lokasi karena kemampuan yang sangat baik dalam menyimpan, menganalisis dan menampilkan data spasial sesuai dengan spesifikasi yang ditetapkan pengguna
Hybrid Culture in Indonesian EFL Textbooks: Policies and Pedagogical Implications
Hybrid Culture is a new term which reflects the diversity and complexity of the world culture existing today. The term hybrid culture refers to the mixture of several kinds of culture blended or integrated into one new culture which has the characteristics of the old and new culture it represents. In the context of EFL learning in Indonesia, many EFL textbooks do not really cover the hybridity of the culture which creates the pedagogical implications in the future of education. The majority of the textbooks either focus on the local or target culture. They do not emphasize the importance of the students to understand that culture is not single-handedly original in its nature but consists of many external factors. This study attempts to examine such a phenomenon. The data were taken from 3 (three) local EFL textbooks used in some high schools in Indonesia. The researcher uses the Content Analysis method with the cultural content evaluation by Byram and Morgan (1994) and Kilickaya (2004). They proposed a qualitative evaluation checklist with a list of criteria for examining the extent and methods of how culture is presented. There are nine categories from the checklist, namely- social identity and social groups, social interaction, belief and behavior, socio-political institutions, socialization and the life-cycle, national history, national geography, national cultural heritage, stereotypes and national identity (Byram & Morgan, 1994). Then the results were compared and it was found that the textbooks do not clearly represent the hybrid culture in their content.
An Analysis of Children Vs Adults in Second Language Acquisition
This study aims to find out more about the topic of whether children are better than adults at learning a second language. Data collection in this study uses the method of analyzing two YouTube videos about whether children are better than adults in second language acquisition. It was found that both of them were able to acquire a second language well, because in learning a second language, no matter how old a person is, as long as he finds a suitable learning method and has a strong desire, of course, anything is possible
Assessing Student’ Product of The Use of The Google Translate Application In EFL Writing Classroom (A Case in One of the English Education Program in Garut)
As a product of technological developments, Google translate is widely used by students as one of the supports in the learning process. Therefore, this study aims to assess student product in using Google Translate in EFL writing classroom. This research employed a case study design by using document analysis. This research took place at a university in Garut with eight purposive English education students as the research participants. The instrument used in this study was students' writing documents. The obtained data were analyzed with reference to the genre move theory of the thesis abstract. The findings show that Google translate only is not sufficient to use in translating since there are some elements to consider such as the aspects of cohesion and coherence of the text
Problem-Based Learning Model in EFL Classroom: Eyes of Teacher and Students
Problem-based learning is important because it helps students develop critical thinking skills, learn in a relevant way, develop collaborative skills, encourage deep understanding, and increase intrinsic motivation. PBL is very relevant when used in current learning, or more precisely, in the Merdeka curriculum. However, the discussion regarding how PBL is perceived as one of the evaluations has not been widely studied. Therefore, this study aims to investigate teacher and student perceptions of the PBL model in the EFL classroom. This research method uses a qualitative case study design by using semi-structured interviews with one selected teacher and four selected students at a junior high school in Garut, West Java. In general, teachers and students had positive perceptions of PBL, but there were still some problems. First, teachers still lacked of the knowledge to implement PBL. Second, teachers had barriers in engaging students in class. Third, students felt that the teacher could not control the group work in class. Therefore, it is noted that in implementing PBL, teachers have to pay attention to classroom management, especially student engagement, and teachers also need to improve their skills in PBL by following some trainings
PENGARUH SYMMETRICAL COMMUNICATION TERHADAP EMPLOYEE COMMUNICATION BEHAVIORS YANG DIMEDIASI OLEH EMPLOYEE ENGAGEMENT PADA PT. PUTRATAMA BHAKTI SATRIA
Saat ini hubungan karyawan dengan perusahaan sangat penting dalam berkomunikasi. Hal tensebut dibutuhkan untuk medukung untuk kepentingan sebuah perusahaan atau organisasi. Karyawan yang baik dilihat dari cara berkomunikasi dan perilaku menjadikan karyawan berkualitas. Komunikasi internal dalam perusahan akan menjadikannya karyawan menjadi baik atau tidak berkualitas karena komunikasi adalah factor yang penting. Pada penelitian ini perusahaan yang diteliti adalah PT. Putratama Bhakti Satria (PROTECOM) yang berdiri sejak tahun 1999, PROTECOM memiliki pengalaman dalam bidang jasa keamanan yang memiliki lebih dari 1000 personel. Tujuan serta rumusan masalah di studi ini ialah guna melihat seberapa berpengaruhnya symmetrical communication terhadap employee communication behaviour yang dimediasi oleh employee engagement. Referensi yang digunakan pada penelitian ini sebanyak tiga artikel ilmiah. Symmetrical communication merupakan hubungan antar karyawan yang perlu ada dalam sebuah organisasi untuk keinginan dan kepentingan pemangku perusahaan. Employee engagement berupa perilaku dalam komitmen di setiap karyawan terhadap tujuan sebuah perusahaan. ECB menghasilkan adanya interaksi karyawan yang memiliki komunikasi dengan publik. Dalam penelitian ini menggunakan metode kuantitaif sebagai cara untuk mendapatkan data dengan pendekatan deskritif. Sebaran kuesioner pada responden adalah teknik penghimpunan data yang digunakan. Karyawan PT. Putratama Bhakti Satria sebagai responden terpilih untuk dijadikan sebuah data. Jumlah 40 responden yang didapat dari sampel. Data yang digunakan pada hasil pembahasan yakni uji validitas dan uji reliabilitas, uji asumsi klasik, uji t parsial, dan uji analisis regresi linier berganda. Hasil penelitian terdapat pengaruh antara symmetrical communication terhadap employee communication behaviors yang dimediasi oleh employee engagement pada PT. Putratama Bhakti Satria, sementara pada hubungan antara Employee Engagement terhadap ECB (H2b) dan hubungan Symmetrical Communication terhadap ECB yang dimediasi oleh Employee Engagement (H3) memiliki hubungan yang berlawanan arah (tidak berpengaruh)
UPAYA MENINGKATKAN KINERJA MELALUI SUPERVISI INDIVIDUAL TERHADAP GURU KELAS VI
Tujuan Penelitian ini adalah bagaimana upaya meningkatkan kinerja guru kelas VI dalam pengelolaan pembelajaran, dan meningkatkan hasil belajar mata pelajaran hasil belajar pada mata pelajaran yang diajarkan oleh guru kelas VI binaan Kecamatan Cipunagara Kabupaten Subang. Penelitian ini menggunakan disain penelitian tindakan (action research) sekolah (PTS) dengan rancangan dua siklus melalui prosedur: (1) perencanaan (planning), (2) pelaksanaan tindakan (action), (3) pengamatan (observation), (4) refleksi (reflecsion) dalam tiap-tiap siklus. Tempat penelitian dilakukan di SD Binaan di wilayah Kecamatan Kecamatan Cipunagara. Objek penelitiannya adalah guru kelas VI Binaan di wilayah Kecamatan Kecamatan Cipunagara Pada tahun pelajaran 2019/2020, yang berjumlah 6 (enam) orang Guru Kelas VI. Teknik pengumpulan data meliputi panduan observasi, panduan wawancara, jurnal kegiatan Guru Kelas VI dan siswa, tes kinerja Guru Kelas VI, dan tes pengukuran hasil belajar siswa. Instrumen pengumpul data meliputi: 1). Pedoman observasi dan pengamatan (observasi), 2). Instrumen penilaian kinerja Guru Kelas VI, 3). Instrumen penilaian hasil belajar siswa, 4). Instrumen validasi soal. Teknik Analisis Data. Data yang terkumpul dalam penelitian ini dianalisis secara kualitatif dan kuantitatif. Hasil penelitiannya adalah bahwa terdapat peningkatan yang lebih jelas kinerja Guru Kelas VI dari mulai tes awal, siklus I, dan siklus II. Peningkatan kinerja Guru Kelas VI dari awal sebelum tindakan sebesar 58,2%, setelah tindakan siklus I menjadi 70,1%, dan setelah tindakan siklus II meningkat lagi menjadi 83,7%. Data tersebut memperlihatkan bahwa terjadi peningkatan yang cukup tajam dari awal, setelah siklus I, sampai dengan setelah tindakan siklus II. Hasil penelitian tindakan supervisi inidivual terhadap Guru Kelas VI terbukti memberikan peningkatan kinerja Guru Kelas VI yang selanjutnya berdampak pada peningkatan hasil belajar peserta didik. Hal ini dapat dPKnhami karena jika Guru Kelas VI meningkat kinerjanya maka jelas akan terjadi pembelajaran yang efektif dengan kualitas belajar yang optimal, sehingga peserta didik memiliki daya serap terhadap leajarannya yang tinggi pula dan pada akhirnya hasil belajar PKn peserta didik menjadi lebih optimal. Perencanaan Guru Kelas VI yang matang dalam mempersiapkan proses belajar mengajar merupakan salah satu kunci keberhasilan peningkatan kualitas pembelajaran
MENINGKATKAN DISIPLIN GURU DALAM KEHADIRAN MENGAJAR DI KELAS MELALUI REWARD AND PUNISHMENT : (Penerapan di SDN Bojongloa Kecamatan Kasomalang Kabupaten Subang Tahun Ajaran 2019/ 2020)
Tujuan penelitian ini adalah mencari alternatif pemecahan masalah sebagai upaya meningkatkan disiplin guru dalam kehadiran mengajar di kelas melalui penerapan Reward and Punishment. Penelitian Tindakan Sekolah (PTS) ini, dicobakan tindakan berupa penerapan Reward and Punishment untuk para guru di SD Bojongloa Kecamatan Kasomalang Kabupaten Subang. Metode dalam penelitian ini adalah metode Penelitian Tindakan Sekolah (PTS), suatu prosedur penelitian yang diadaptasi dari Penelitian Tindakan Kelas (PTK). PTS bersifat partisipatoris dengan menekankan tindakan dan refleksi, memperdalam pemahaman tindakan dan memperbaiki situasi pembelajaran secara praktis. Penelitian ini dilaksanakan dalam dua siklus, karena pada siklus kedua, kedisiplinan guru dalam kehadiran dikelas pada proses belajar mengajar meningkat dan memenuhi indikator yang telah ditetapkan sebesar 75%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan Reward dan Punishment efektif untuk meningkatkan disiplin kehadiran guru dikelas pada kegiatan belajar mengajar. Data yang diperoleh menunjukan bahwa setelah diadakan penerapan tindakan berupa Reward dan Punishment, guru yang terlambat lebih dari 6 menit adalah 0, dan guru yang terlambat kurang dari 10 menit sebanyak 2 orang guru. Penerapan Reward dan Punishment dapat meningkatkan disiplin guru hadir di kelas pada kegiatan belajar mengajar di SDN Bojongloa. Penerapan dalam penelitian melalui Reward dan Punishment untuk meningkatkan disiplin guru hadir di dalam kelas pada kegiatan belajar mengajar, dan guru melaksanakan tugas dengan disiplin dalam kehadiran dikelas sebagai bentuk pelayanan