Sao Jurnal IAIN Parepare
Not a member yet
2676 research outputs found
Sort by
Surah Al-Fajr Analisis Makna Kontekstual
This research is a library study, involving the selection, reading, examination, and analysis of books and other written sources relevant to the topic. By surveying the available literature, the researcher compiles and synthesizes the findings into a coherent scientific report. The results show that “contextual meaning” refers to the meaning of a word or lexeme as it appears within a particular sentence, and that it is influenced by four types of context: linguistic context, situational context, emotional context, and cultural context. In the case of Surah Al‑Fajr, the researcher identified several manifestations of contextual meaning within its verses. The linguistic context includes the use of oath formulas, warning rhetoric directed at rebellious peoples, and invitational language calling upon the obedient servants of God. Based on this analysis, the researcher concludes that Surah Al‑Fajr contains: (1) God’s oaths by various times of day, (2) admonitions to past nations who disobeyed and were subsequently punished by Allah, and (3) exhortations to those servants who submit to and are beloved by Allah
Dampak Komunikasi Politik Melalui Media Sosial Terhadap Paradigma Masyarakat
Media soial telah mengubah landskap komunikasi politik dengan menghadirkan ruang interaksi yang lebih terbuka antara pemerintah, politisi, da masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana komunikasi politik melalui media sosial memengaruhi paradigma masyarakat terhadap politik dan demokrasi. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah Pendekatan Kualitatif Deskriptif dengan teknik studi kepustakaan (library research), yaitu menelaah berbagai literatue, jurnal ilmiah, dan publikasi akademik yang relevan. Analisi dilakukan menggunakan kerangka teori Komunikasi Massa, Agenda Setting, Used And Gratifications, Spiral Keheningan, dan Interaksi Simbolik untuk memahami proses penyebaran pesan politik, partisipasi publik, serta pembentukan persepsi masyarakat di ruang digital. Hasil penelitian menunjukkan bahwa media sosial berperan penting dalam meningkatkan partisipasi politik dan literasi publik melalui penyebaran informasi yang cepat dan luas. Namun, di sisi lain, fenomena disinformasi, polarisasi, dan manipulasi opini publik masih menjadipermasalahan serius yang dapat membentuk paradigma masyarakat secara bias dan emosional, Oleh karena itu, diperlukan penerapan ettika komunikasi politik dan peningkatan literasi digital agar media sosial dapat berfungsi sebagai ruang demokratis yang sehat dan berintegritas
Studi Literatur: Peran Media Digital Dalam Meningkatkan Kembali Minat Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran PAI
Abstrak
Latar belakang: Penurunan minat belajar siswa terhadap mata pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) menjadi salah satu tantangan dalam dunia pendidikan, terutama di era digital saat ini. Kurangnya pendekatan yang relevan dengan perkembangan teknologi menyebabkan pembelajaran PAI terasa monoton dan kurang menarik bagi siswa.
Tujuan Penelitian: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran media digital dalam meningkatkan kembali minat belajar siswa terhadap mata pelajaran PAI serta mengidentifikasi media digital yang paling efektif dalam mendukung proses pembelajaran.
Metode: Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi literatur. Data dikumpulkan melalui penelusuran literatur dari jurnal dan sumber digital yang relevan dengan topik media digital dan pembelajaran PAI. Analisis data dilakukan dengan teknik analisis isi untuk mengidentifikasi pola dan kesimpulan dari berbagai hasil penelitian terdahulu.
Hasil: Hasil studi menunjukkan bahwa media digital berperan penting dalam meningkatkan kembali minat belajar siswa terhadap mata pelajaran PAI. Media seperti video edukasi, animasi interaktif, podcast Islami, dan platform pembelajaran daring mampu menciptakan suasana belajar yang lebih menarik, partisipatif, dan sesuai dengan karakteristik generasi digital. Media digital juga mendukung pendekatan visual dan audiovisual yang memudahkan siswa dalam memahami materi keislaman secara kontekstual dan aplikatif. Meski demikian, tantangan seperti keterbatasan infrastruktur, rendahnya literasi digital guru, dan kurangnya kurasi konten Islami yang tepat masih menjadi hambatan dalam implementasi media digital secara merata.
Kesimpulan: Pemanfaatan media digital dapat menjadi solusi strategis untuk mengatasi penurunan minat belajar siswa terhadap PAI, asalkan didukung oleh kesiapan guru, akses teknologi yang merata, serta ketersediaan konten yang sesuai nilai-nilai Islam. Penelitian lanjutan berbasis data empiris diharapkan dapat menguji lebih dalam efektivitas media digital tertentu terhadap peningkatan motivasi dan pemahaman keagamaan siswa di berbagai jenjang pendidikan
Reconstructing the Integrative Paradigm of Islamic Education: A Critical Analysis of Integrated Islamic Schools in Indonesia: Merekonstruksi Paradigma Integratif Pendidikan Islam: Analisis Kritis terhadap Sekolah Islam Terpadu di Indonesia
The persistent dichotomy between religious and secular knowledge remains a critical issue in Islamic education in Indonesia. Integrated Islamic Schools (SIT) emerged as an alternative solution to bridge this divide by offering a holistic educational model. However, in practice, their integrative efforts often remain superficial, symbolic, and lack epistemological coherence. This study aims to critically reconstruct the paradigm of knowledge integration in SIT by employing library research and content analysis of foundational works by key Islamic scholars such as Ismail Raji al-Faruqi, Syed Muhammad Naquib al-Attas, and M. Amin Abdullah. The findings indicate that SIT’s integration model lacks a conceptual framework grounded in Islamic epistemology, fails to develop context-based Islamic science, and predominantly relies on ritualistic practices without substantive engagement. To address these gaps, the study introduces the Tauhidic Paradigm, consisting of three pillars: tauhid as an epistemological foundation, adab and ethics as educational orientation, and knowledge interconnectivity as a contextual pedagogical strategy. This paradigm contributes theoretically to Islamic educational discourse by offering a coherent epistemological model and practically by informing curriculum reform and pedagogical practices in SIT. Unlike previous descriptive studies, this article offers a critical and reconstructive approach tha
Undak Usuk Basa as a Reflection of Social Hierarchy in Sundanese Communication
Background: Undak Usuk Basa, the system of speech levels in Sundanese society, functions not only as a medium of communication but also as a representation of social hierarchy and politeness. This study contributes by highlighting the socio-pragmatic functions of Undak Usuk Basa in the modern context, an aspect often overlooked in previous research that has predominantly focused on its decline.Purpose: The purpose of this research is to analyze how Undak Usuk Basa encodes social hierarchy and how modern social changes influence its patterns of use.Method: The method employed is a literature study, analyzing 25 selected articles out of an initial 45 obtained from databases such as ScienceDirect, Garuda, Google Scholar, Sinta, and DOAJ, covering publications from the past decade. The selection process was based on criteria of topical relevance, credibility, and both theoretical and empirical foundations.Results: The findings reveal that Undak Usuk Basa regulates language choice based on age, social status, and interpersonal relations, making it an essential instrument for maintaining social harmony. However, globalization, urbanization, and the penetration of digital media have fostered more egalitarian and practical communication patterns, particularly among younger generations, leading to a decline in the use of speech levels.Theoretical implication: The study affirms that linguistic hierarchy functions as cultural capital, reflecting and sustaining social structures.Practical implication: The findings suggest the need for preservation through education, digital media, and cultural programs.Background: Undak Usuk Basa, the system of speech levels in Sundanese society, functions not only as a medium of communication but also as a representation of social hierarchy and politeness. This study contributes by highlighting the socio-pragmatic functions of Undak Usuk Basa in the modern context, an aspect often overlooked in previous research that has predominantly focused on its decline.Purpose: The purpose of this research is to analyze how Undak Usuk Basa encodes social hierarchy and how modern social changes influence its patterns of use.Method: The method employed is a literature study, analyzing 25 selected articles out of an initial 45 obtained from databases such as ScienceDirect, Garuda, Google Scholar, Sinta, and DOAJ, covering publications from the past decade. The selection process was based on criteria of topical relevance, credibility, and both theoretical and empirical foundations.Results: The findings reveal that Undak Usuk Basa regulates language choice based on age, social status, and interpersonal relations, making it an essential instrument for maintaining social harmony. However, globalization, urbanization, and the penetration of digital media have fostered more egalitarian and practical communication patterns, particularly among younger generations, leading to a decline in the use of speech levels.Theoretical implication: The study affirms that linguistic hierarchy functions as cultural capital, reflecting and sustaining social structures.Practical implication: The findings suggest the need for preservation through education, digital media, and cultural programs
PENANAMAN NILAI – NILAI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM PADA ANAK USIA DINI
Islamic Religious Education (PAI) plays an important role in shaping the character and morals of the younger generation, especially in early childhood. This education includes the teaching of the values of aqidah, worship, and morals, which aims to cultivate strong Islamic character from an early age, as well as equip children with the ability to face challenges in the modern era, research shows that the role of educators and parents is very significant in this process, where their contribution in teaching and applying religious values through various methods such as memorization of the Qur'an, Storytelling, daily routines, and the integration of religious values in daily activities are key factors. The method in this study is a literature study by analyzing as a source of good from books, journals and various other reference sources. The results of this study are about the challenges in the implementation of religious values in early childhood. Covering media influencePendidikan Agama Islam (PAI) memegang peranan penting dalam membentuk karakter dan moral generasi muda, terutama pada anak usia dini. Pendidikan ini mencakup pengajaran nilai – nilai aqidah, ibadah, dan akhlaq, yang bertujuan untuk menumbuhkan karakter islami yang kuat sejak dini, serta membekali anak dengan kemampuan untuk menghadapi tantangan di era modern, penelitian menunjukkan bahwa peran pendidik dan orang tua sangat signifikan dalam proses ini, di mana kontribusi mereka dalam mengajarkan dan menerapkan nilai – nilai agama melalui metode yang bervariasi seperti hafalan Al – Qur’an, bercerita, rutinitas harian, dan integrasi nilai – nilai agama dalam kegiatan sehari – hari menjadi faktor kunci. Metode dalam penelitian ini adalah study pustakaan dengan menganalisis sebagai sumber baik dari buku, jurnal dan berbagai sumber yang relefen lainya. Hasil dari penelitian ini adalah tentang tantangan dalam implementasi nilai – nilai agama pada anak – anak usia dini. mencakup pengaruh media massa, kurangnya program parenting, serta linkungan yang tidak mendukung. Namun, dengan dukungan orang tua, profesionalisme guru, serta strategi yang tepat dalam pembelajaran, proses penanaman karakter islami dapat berlangsung secara efektif. Penelitian ini menyoroti pentingnya pendekatan yang holistik dan terintegrasi dalam pendidikan agama untuk memastikan perkembangan moral dan spiritual anak di era modern
Optimalisasi Zakat Profesi Guru ASN: Peran UPZ, Pemotongan Langsung, dan Sosialisasi BAZNAS Parepare
This study explores the optimization of professional zakat collection among civil servant teachers (ASN) in Parepare City, focusing on the roles of Zakat Collecting Units (UPZ), direct salary deductions, and BAZNAS socialization programs. Using a qualitative field study approach, data were gathered through observation, interviews, and documentation at BAZNAS Parepare. The findings reveal a substantial zakat potential from ASN teachers, estimated at IDR 2,706,480,000 annually, yet the actual collection in 2022 only reached about IDR 600,000,000. The gap is attributed to limited knowledge regarding zakat obligations, economic constraints, and the distribution of zakat funds to various amil zakat institutions. BAZNAS Parepare has implemented strategic measures, including establishing UPZ in government agencies, direct zakat deductions from salaries, and intensive socialization to increase awareness and compliance. The collected zakat is allocated to eight eligible groups (asnaf), with a focus on economic empowerment programs such as business capital assistance and productive facilities for mustahik. These initiatives have shown positive impacts, enabling some mustahik to become muzakki. The study concludes that optimizing professional zakat, especially from ASN teachers, can significantly contribute to poverty alleviation and economic empowerment in Parepare. Further efforts are needed to enhance zakat literacy, strengthen regulations, and innovate collection methods for maximum impact.Penelitian ini membahas optimalisasi pengumpulan zakat profesi di kalangan guru Aparatur Sipil Negara (ASN) di Kota Parepare, dengan menyoroti peran Unit Pengumpul Zakat (UPZ), pemotongan zakat secara langsung dari gaji, dan program sosialisasi BAZNAS. Pendekatan penelitian menggunakan studi kualitatif lapangan dengan teknik observasi, wawancara, dan dokumentasi di BAZNAS Parepare. Hasil penelitian menunjukkan potensi zakat profesi guru ASN sangat besar, diperkirakan mencapai Rp2.706.480.000 per tahun, namun realisasi pada tahun 2022 hanya sekitar Rp600.000.000. Kesenjangan ini disebabkan oleh kurangnya pengetahuan tentang kewajiban zakat, kendala ekonomi, serta tersebarnya dana zakat ke berbagai lembaga amil zakat. BAZNAS Parepare telah melakukan langkah strategis, seperti pembentukan UPZ di instansi pemerintah, pemotongan zakat langsung dari gaji, dan sosialisasi intensif untuk meningkatkan kesadaran dan kepatuhan. Dana zakat yang terkumpul disalurkan kepada delapan golongan penerima (asnaf), dengan fokus pada program pemberdayaan ekonomi seperti bantuan modal usaha dan sarana produktif bagi mustahik. Program ini terbukti berdampak positif, di mana sebagian mustahik berhasil menjadi muzakki. Penelitian menyimpulkan bahwa optimalisasi zakat profesi, khususnya dari guru ASN, dapat berkontribusi signifikan dalam pengentasan kemiskinan dan pemberdayaan ekonomi di Parepare. Diperlukan upaya lanjutan untuk meningkatkan literasi zakat, memperkuat regulasi, dan inovasi metode penghimpunan zakat agar dampaknya semakin optimal
KRISIS INTEGRITAS KEPEMIMPINAN: ANALISIS ETIKA MANAJERIAL DALAM INDUSTRI PERBANKAN SYARIAH MODERN
Artikel ini bertujuan untuk mengkaji krisis integritas dalam kepemimpinan manajerial pada industri perbankan syariah modern, dengan menitikberatkan pada analisis etika manajerial sebagai landasan evaluatif terhadap praktik kepemimpinan yang seharusnya sesuai dengan prinsip-prinsip syariah. Metode yang digunakan dalam penulisan ini adalah studi kepustakaan dengan pendekatan kualitatif, melalui analisis kritis terhadap literatur akademik, laporan industri, serta prinsip etika Islam dan teori kepemimpinan etis. Hasil analisis menunjukkan bahwa terdapat kesenjangan signifikan antara nilai-nilai etika Islam yang seharusnya mendasari kepemimpinan di perbankan syariah dengan realitas praktik manajerial yang terjadi, terutama dalam aspek transparansi, keadilan, dan tanggung jawab sosial. Krisis integritas ini tidak hanya melemahkan kepercayaan publik, tetapi juga berpotensi mengancam keberlanjutan industri perbankan syariah itu sendiri. Implikasi dari temuan ini menunjukkan urgensi perumusan kerangka etika kepemimpinan yang lebih aplikatif dan kontekstual, serta pentingnya pembinaan karakter dan akuntabilitas spiritual bagi para pemimpin di sektor ini. Rekomendasi utama artikel ini adalah perlunya reposisi paradigma kepemimpinan berbasis maqashid syariah yang menekankan integritas sebagai inti dari kepemimpinan Islami.
Artikel ini mengkaji krisis integritas dalam kepemimpinan perbankan syariah modern sebagai tantangan struktural dan kultural yang melemahkan nilai-nilai Islam seperti keadilan, amanah, dan tanggung jawab sosial. Melalui pendekatan Systematic Literature Review terhadap 30 artikel ilmiah, penelitian ini mengidentifikasi kesenjangan antara idealisme syariah dan praktik manajerial aktual, serta menawarkan strategi reformasi seperti penguatan pelatihan etika, pemberdayaan Dewan Pengawas Syariah, dan penerapan indikator maqashid syariah dalam tata kelola organisasi. Temuan ini memberikan kontribusi konseptual dan praktis untuk membangun kepemimpinan syariah yang berintegritas, adaptif, dan berkelanjutan.This article aims to examine the integrity crisis in managerial leadership within the modern Islamic banking industry, with an emphasis on managerial ethics analysis as an evaluative foundation for leadership practices that should align with Sharia principles. The method used in this writing is literature review with a qualitative approach, through critical analysis of academic literature, industry reports, as well as Islamic ethical principles and theories of ethical leadership. The analysis results indicate that there is a significant gap between the Islamic ethical values that should underpin leadership in Islamic banking and the reality of managerial practices that occur, especially regarding transparency, fairness, and social responsibility. This integrity crisis not only weakens public trust but also potentially threatens the sustainability of the Islamic banking industry itself. The implications of these findings highlight the urgency of formulating a more applicable and contextual ethical framework for leadership, as well as the importance of character building and spiritual accountability for leaders in this sector. The main recommendation of this article is the necessity of repositioning the maqashid shariah-based leadership paradigm that emphasizes integrity as the core of Islamic leadership. This article examines the integrity crisis in modern Islamic banking leadership as a structural and cultural challenge that undermines Islamic values such as justice, trustworthiness, and social responsibility. Through a Systematic Literature Review approach to 30 scientific articles, this research identifies the gap between shariah idealism and actual managerial practices, and offers reform strategies such as strengthening ethics training, empowering the Sharia Supervisory Board, and implementing maqashid shariah indicators in organizational governance. These findings contribute conceptually and practically to building Islamic leadership integrity, adaptive, and sustainable
TRANFORMASI REGULASI TERHADAP WAQAF UANG DALAM SISTEM PERBANKAN SYARIAH DI ERA DIGITALISASI
Cash waqf, as an Islamic social finance instrument, has experienced substantial growth in line with digital technology advancement. The integration of cash waqf into the Islamic banking system has fostered various innovations, including Islamic crowdfunding platforms and blockchain-based waqf management. However, this digital transformation has not been fully accompanied by adequate regulatory frameworks, posing challenges in terms of legality, governance, and legal protection.
This study aims to review the literature related to regulatory transformation of cash waqf within the context of digital Islamic banking. A total of 20 relevant academic articles were systematically examined to identify key issues, policy approaches, and research gaps concerning digital cash waqf regulation. The study finds that misalignment between technological innovation and regulatory clarity results in legal uncertainty, weak institutional coordination, and low public participation.
The findings show that the successful implementation of digital cash waqf depends heavily on a regulatory framework that is inclusive, responsive to technological changes, and based on Sharia principles. This article proposes a conceptual framework as a foundation for policy development that supports sustainability, accountability, and transparency in modern Islamic financial systems.Wakaf uang sebagai instrumen keuangan sosial Islam telah mengalami perkembangan signifikan seiring dengan kemajuan teknologi digital. Integrasi antara wakaf uang dan sistem perbankan syariah memunculkan berbagai inovasi, seperti platform crowdfunding syariah dan penggunaan teknologi blockchain. Namun, transformasi digital ini belum sepenuhnya diikuti oleh kerangka regulasi yang memadai, sehingga menimbulkan tantangan dalam aspek legalitas, tata kelola, dan perlindungan hukum.
Studi ini bertujuan untuk mengkaji literatur terkait transformasi regulasi wakaf uang pada konteks perbankan syariah digital. Sebanyak 20 artikel ilmiah yang relevan ditelaah secara sistematis untuk mengidentifikasi isu utama, pendekatan kebijakan, serta celah penelitian terkait regulasi wakaf uang digital. Artikel ini menemukan bahwa ketidaksesuaian antara inovasi teknologi dan kejelasan regulasi menyebabkan kurangnya kepastian hukum, lemahnya koordinasi kelembagaan, serta rendahnya partisipasi publik.
Hasil studi ini menunjukkan bahwa keberhasilan implementasi wakaf uang digital sangat bergantung pada kerangka regulasi yang inklusif, adaptif terhadap perubahan teknologi, dan tetap menjunjung tinggi prinsip-prinsip syariah. Artikel ini menawarkan kerangka pemikiran konseptual sebagai landasan bagi pengembangan kebijakan yang mendukung keberlanjutan, akuntabilitas, dan transparansi wakaf uang dalam sistem keuangan Islam modern
Transformative Da’wah and Wasathiyah Islam: A Contextual Analysis of TGH. L. Muhammad Turmudzi Badaruddin’s Communicative Strategy: Dakwah Transformatif dan Islam Wasathiyah di Lombok: Analisis Kontekstual atas Strategi Komunikasi TGH. L. Muhammad Turmudzi Badaruddin”
This study examines the da’wah communication strategies of TGH. L. Muhammad Turmudzi Badaruddin in Lombok, Indonesia, a region facing religious polarization and growing challenges of intolerance. Using a qualitative case study design, data were collected through in-depth interviews, participant observation, and document analysis at Pondok Pesantren Qamarul Huda Bagu. The findings reveal a multimodal da’wah approach that integrates bil-lisan (oral preaching), bil-hal (exemplary conduct), and bil-kitabah (written texts), institutionalized through pesantren-based education and community initiatives. These strategies not only foster tolerance and social cohesion but also embed wasathiyah Islam into local socio-economic structures such as pesantren cooperatives. Theoretically, this study extends da’wah communication theory by situating it within contemporary frameworks of mediatized and contextual religion, demonstrating how pesantren leadership functions as communicative authority in multicultural societies. Practically, the study highlights the potential of pesantren-based leaders to institutionalize Islamic moderation as a sustainable model for peacebuilding and civic engagement beyond individual charisma