Sao Jurnal IAIN Parepare
Not a member yet
2676 research outputs found
Sort by
The Effectiveness of Problem-Based Learning in Improving Critical Thinking and Emotional Intelligence of Students at SMK Negeri 3 Barru
This study aims to find out: How the Problem-Based Learning (PBL) strategy is implemented by Islamic Religious Education (PAI) teachers at SMK Negeri 3 Barru; How to develop students' critical thinking skills and emotional intelligence after participating in PAI learning using PBL strategies; and the influence of PBL strategies on students' critical thinking skills and emotional intelligence. This study uses a quantitative approach with a quasi-experimental method. Data collection techniques include tests, questionnaires, and documentation. Data analysis was carried out through normality, homogeneity, t-test, and Multivariate Analysis of Variance (MANOVA) tests with the help of the SPSS for Windows version 26.0 program. The results of the study showed that: The Problem-Based Learning Strategy was implemented in three main stages, namely before, during, and after treatment. The stage before treatment includes instrument validity testing and pre-test implementation. The implementation stage includes context-based learning activities on authentic religious issues, collaborative group discussions, exploration of Islamic sources, presentation of results, and joint reflection, with teachers acting as facilitators. The average score of students' critical thinking skills increased from 53.10 to 69.10, while the average emotional intelligence increased from 53.10 to 67.75 after the implementation of the PBL strategy. The results of the multivariate test (MANOVA) showed a significance value of 0.000 on all indicators (Pillai's Trace, Wilks' Lambda, Hotelling's Trace, and Roy's Largest Root), which indicated a significant influence of the Problem-Based Learning strategy on improving the critical thinking skills and emotional intelligence of students at SMK Negeri 3 Barru. These findings confirm that the application of Problem-Based Learning strategies in PAI learning is not only effective in improving students' critical thinking skills, but also able to develop their emotional intelligence, which contributes to character formation and reflective thinking skills in the context of religious education in vocational schools
THE INFLUENCE OF DIGITAL AND FINANCIAL LITERACY BEHAVIOR TOWARDS CONSUMPTIVE SHOPPING BEHAVIOR ONLINE IN GENERATION Z IN PANANRANG VILLAGE
The purpose of this study is to describe whether digital financial literacy has an effect on consumptive spending behavior Online in Generation Z. describes whether Financial Behavior Affects Shopping Consumptive Behavior Online in generation Z.
This type of research uses quantitative methods. Saturated sampling is used to distribute questionnaires to Generation Z to obtain data. The two forms of data analysis used in this study are multiple regression analysis and descriptive analysis approach. The data processing in this study uses IBM SPSS Statistics 26.
The results of the study show that: First, the results of the t-test hypothesis test (Partial) show that the significance value for the X1 variable is 0.04 < 0.05 and the t-calculation value is -2.960 < t-table 1.985 so that it is stated that digital financial literacy has a significant effect on spending consumptive behavior Online with the direction of the negative relationship, the second based on the hypothesis test of the t-test (partial) shows a significant value for the variable X2 of 0.00 < 0.05 with a t-calculated value of 12.530 < t-table 1.985, so it can be stated that Financial Behavior Have a significant effect on consumptive shopping behavior Online with the direction of positive relationships. The F value is calculated as 78.929 > F table 3.09 so that it is stated that there is an influence of variable X on variable Y together (simultaneously). Conclude that the hypothesis in this study is accepted, namely that there is an influence of digital financial literacy variables and Financial Behavior on consumer spending behavior Online generation Z in Pananrang Village, Mattiro Bulu District, Pinrang Regency
Perlindungan Hak Kekayaan Intelektual (HKI) Musisi di Industri Musik Indonesia: Studi Yuridis Terhadap Tantangan Penegakan Hak Cipta dan Distribusi Royalti di Era Digital
This study examines the protection of Intellectual Property Rights (IPR) for musicians in Indonesia’s music industry, focusing on the challenges of copyright enforcement and royalty distribution in the digital era. The research employs a normative juridical method with statutory, conceptual, and case approaches, supported by library research. The findings reveal that copyright enforcement faces significant obstacles, including rampant digital piracy, limited law enforcement capacity, weak institutional coordination, and low public awareness of copyright compliance. Meanwhile, royalty distribution mechanisms remain ineffective due to lack of transparency, delayed payments, and the complex flow of digital revenues involving multiple stakeholders. These shortcomings undermine the effectiveness of IPR protection for musicians. Therefore, strategic measures are required, such as strengthening law enforcement capacity, enhancing the transparency and accountability of collective management organizations, and utilizing digital technologies such as fingerprinting, blockchain, and smart contracts. Synergy between law enforcement, royalty distribution governance, and technological innovation is essential to build a fair, transparent, and sustainable music ecosystem in Indonesia.
Keywords: Intellectual Property Rights, copyright, royalty distribution, music industry, digital eraPenelitian ini menganalisis perlindungan Hak Kekayaan Intelektual (HKI) musisi di industri musik Indonesia dengan fokus pada tantangan penegakan hak cipta dan mekanisme distribusi royalti di era digital. Metode yang digunakan adalah yuridis normatif dengan pendekatan perundang-undangan, konseptual, dan kasus, serta berbasis pada studi kepustakaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penegakan hak cipta menghadapi berbagai kendala, antara lain maraknya pembajakan digital, keterbatasan aparat penegak hukum, lemahnya koordinasi antar-institusi, serta rendahnya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya penghormatan hak cipta. Di sisi lain, mekanisme distribusi royalti belum berjalan efektif akibat kurangnya transparansi, keterlambatan pembayaran, dan kompleksitas aliran pendapatan digital yang melibatkan banyak pihak. Kelemahan pada kedua aspek tersebut menyebabkan efektivitas perlindungan HKI musisi belum optimal. Oleh karena itu, diperlukan langkah strategis berupa penguatan kapasitas penegakan hukum, transparansi dan akuntabilitas lembaga manajemen kolektif, serta pemanfaatan teknologi digital seperti fingerprinting, blockchain, dan smart contracts. Sinergi antara penegakan hukum, tata kelola distribusi royalti, dan inovasi teknologi menjadi kunci dalam membangun ekosistem musik yang adil, transparan, dan berkelanjutan di Indonesia.
Kata kunci: Hak Kekayaan Intelektual, hak cipta, distribusi royalti, industri musik, era digita
THE ROLE AND AUTHORITY OF THE IMMIGRATION OFFICE IN THE PERSPECTIVE OF IMMIGRATION LAW STUDY : PREVENTION OF ILLEGAL FOREIGN LABOR
Penelitian ini membahas tentang peran dan kewenangan Kantor Imigrasi dalam perspektif hukum keimigrasian, khususnya dalam upaya pencegahan tenaga kerja asing ilegal di Indonesia. Latar belakang penelitian ini adalah masih maraknya pelanggaran keimigrasian oleh tenaga kerja asing ilegal meskipun telah terdapat dasar hukum dan perangkat kelembagaan yang kuat. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan yuridis normatif, didukung oleh data primer hasil wawancara dan observasi di Kantor Imigrasi Kelas I Non-TPI Pati, serta data eksisting berupa studi dokumen kepustakaan, dan statistik nasional. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Kantor Imigrasi telah melakukan pengawasan secara bertahap melalui pemeriksaan dokumen, kunjungan lapangan, kerjasama lintas sektor melalui Tim Pengawasan Orang Asing, pelibatan Petugas Imigrasi Bina Desa, dan pemanfaatan aplikasi digital seperti Aplikasi Pengawasan Orang Asing. Namun, efektivitas pengawasan dan penindakan terhadap tenaga kerja asing ilegal masih terkendala oleh keterbatasan sumber daya manusia (SDM), lemahnya koordinasi antar instansi, dan belum optimalnya pembagian tugas. Data grafik nasional dan lokal untuk tahun 2024 dan 2005 menunjukkan bahwa wilayah dengan tingkat pengawasan yang tinggi merupakan wilayah yang rawan pelanggaran, sementara di wilayah dengan sumber daya manusia yang terbatas, tindakan administratif seperti penahanan dan deportasi belum optimal. Penguatan peran intelijen keimigrasian dan pelatihan berkelanjutan juga diidentifikasi sebagai kebutuhan mendesak untuk menangani modus pelanggaran yang semakin kompleks. Implikasi dari studi ini menekankan pentingnya penguatan sumber daya manusia, sinergi kelembagaan, dan optimalisasi teknologi informasi untuk meningkatkan efektivitas pengawasan dan penegakan hukum keimigrasian
Peluang Implementasi Sunset Clauses Legislation dalam Pembentukan Undang-Undang di Indonesia
This article discusses the potential for the sunset clauses legislation method to be applied in the formation of laws in Indonesia, which has previously been implemented in several countries (the United States, Switzerland, South Korea, Germany, and Australia) to address regulatory issues. This is interesting to study because the legal framework in Indonesia, particularly laws, is overlapping and unimplementable due to over regulation. Therefore, the author found three problem mappings to be discussed: the urgency of sunset clauses legislation in Indonesia, a comparative study of the application of sunset clauses legislation in other countries, and how sunset clauses legislation is regulated in the legal norm system when implemented in the formation of laws in Indonesia. The problem mapping will be studied comprehensively using normative methods with conceptual, statutory, case, and comparative approaches. The type of data used is secondary data obtained through literature studies which are then analyzed qualitatively.
Keywords: Sunset Clauses Legislation, Laws, Over regulation
Artikel ini membahas terkait peluang metode sunset clauses legislation untuk diterapkan dalam pembentukan Undang-undang di Indonesia, yang sebelumnya telah diterapkan di beberapa negara (Amerika Serikat, Swiss, Korea Selatan, Jerman dan Australia) dalam menghadapi permasalahan regulasi. Hal demikian pun menjadi menarik untuk dikaji dikarenakan keadaan kerangka hukum di Indonesia, terkhusus pada Undang-undang menjadi saling tumpang tindih dan tidak implementatif akibat over regulation yang terjadi. Sehingga penulis menemukan 3 (tiga) pemetaan permasalahan yang akan dibahas yaitu, terkait urgensi sunset clauses legislation di Indonesia, studi komparasi penerapan sunset clauses legislation pada negara lain, dan bagaimana pengaturan sunset clauses legislation dalam sistem norma hukum apabila diimplementasikan dalam pembentukan Undang-undang di Indonesia. Dimana, pemetaan masalah tersebut akan dikaji secara komprehensif menggunakan metode normatif dengan pendekatan konseptual, perundang-undangan, kasus dan komparatif. Jenis data yang digunakan berupa data sekunder yang diperoleh melalui studi kepustakaan yang kemudian dianalisis secara kualitatif.
Kata Kunci: Sunset Clauses Legislation, Undang-undang, Over regulatio
Analisis Konstitusional Larangan Rangkap Jabatan Wakil Menteri Di Indonesia
The phenomenon of Deputy Ministers holding concurrent positions as commissioners or supervisory board members in State-Owned Enterprises (SOEs) reveals a serious problem in Indonesian constitutional practice, namely the lack of synchronization between legal norms and political behavior. Various laws and regulations, such as Law No. 39 of 2008 on State Ministries, Law No. 25 of 2009 on Public Services, and Law No. 19 of 2003 on SOEs, explicitly and imperatively prohibit public officials, including Deputy Ministers, from holding positions that have the potential to cause conflicts of interest. This provision is reinforced by Constitutional Court Decisions No. 79/PUU-IX/2011 and No. 80/PUU-XVII/2019, which confirm that Deputy Ministers are part of the government cabinet and are therefore subject to the same restrictions on concurrent positions as Ministers. This study uses a normative juridical approach with legislative, conceptual, and case analysis to examine the clarity of the norm prohibiting concurrent positions and the direction of legal reform needed. The results of the study confirm that the prohibition on holding multiple positions is binding and must be enforced in accordance with the mandate of the law and the decision of the Constitutional Court. In addition, there is a tendency for a constitutional crisis to occur in the government. Therefore, regulatory reforms are needed to reinforce this prohibition at the legislative level and limit the executive's authority in determining public positions.
Keywords : Dual roles, Regulatory reform, Constitutional crisis.
Abstrak
Fenomena rangkap jabatan Wakil Menteri sebagai komisaris atau dewan pengawas pada Badan Usaha Milik Negara (BUMN) menyingkap persoalan serius dalam praktik ketatanegaraan Indonesia, yakni ketidaksinkronan antara norma hukum dan perilaku politik. Berbagai peraturan perundang-undangan seperti Undang-Undang Nomor 39 Tahun 2008 tentang Kementerian Negara, Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2009 tentang Pelayanan Publik, dan Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2003 tentang BUMN, secara tegas dan imperatif melarang pejabat publik, termasuk Wakil Menteri, merangkap jabatan yang berpotensi menimbulkan konflik kepentingan. Ketentuan ini diperkuat melalui Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 79/PUU-IX/2011 dan Nomor 80/PUU-XVII/2019 yang menegaskan bahwa Wakil Menteri merupakan bagian dari kabinet pemerintahan, sehingga tunduk pada larangan rangkap jabatan sebagaimana berlaku bagi Menteri. Penelitian ini menggunakan pendekatan yuridis normatif dengan analisis perundang-undangan, konseptual, dan kasus untuk mengkaji kejelasan norma larangan rangkap jabatan serta arah reformasi hukum yang diperlukan. Hasil penelitian menegaskan bahwa larangan rangkap jabatan bersifat mengikat dan wajib ditegakkan sesuai amanat undang-undang dan putusan Mahkamah Konstitusi. Selain itu ada kecenderungan krisis konstitusi yang terjadi di pemerintahan. Oleh karena itu, diperlukan pembaruan regulasi yang mempertegas larangan tersebut pada tingkat undang-undang serta membatasi kewenangan eksekutif dalam menetapkan jabatan publik melalui peraturan presiden. Reformasi ini menjadi langkah strategis untuk memulihkan integritas sistem ketatanegaraan, memperkuat akuntabilitas pejabat publik, dan menegakkan prinsip konstitusionalisme dalam penyelenggaraan pemerintahan
Kata Kunci : Rangkap jabatan, Reformasi regulasi, Krisis konstitusi
Pengaruh Gaya Belajar Terhadap Motivasi Belajar Peserta Didik Pada Mata Pelajaran Ipa Kelas Viii Uptd Smp Negeri 10 Parepare
This study aims to examine the learning styles of eighth-grade students in the science subject at UPTD SMP Negeri 10 Parepare, determine the level of their learning motivation, and analyze whether students’ learning styles have a significant influence on their learning motivation in the science subject. This research uses a quantitative approach with an associative research design. The population consists of 163 students at UPTD SMP Negeri 10 Parepare, with a sample of 62 students selected using the Slovin formula. The data analysis techniques used in this study include descriptive analysis, normality test, linearity test, correlation coefficient test, and hypothesis testing using partial and simultaneous tests. The results show that the dominant learning style among eighth-grade students in the science subject at UPTD SMP Negeri 10 Parepare is the visual style, with a percentage of 84.7%. The level of students’ learning motivation for the science subject is 80%, and there is a significant influence of learning style on learning motivation, amounting to 39.7%.
Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji mengenai bagaimana gaya belajar peserta didik pada mata pelajaran IPA kelas VIII UPTD SMP Negeri 10 Parepare, seberapa tingkat motivasi belajar peserta didik pada mata pelajaran IPA kelas VIII UPTD SMP Negeri 10 Parepare dan menganalisis apakah gaya belajar peserta didik berpengaruh secara signifikan terhadap motivasi belajar peserta didik pada mata pelajaran IPA kelas VIII UPTD SMP Negeri 10 Parepare. Jenis penelitian ini adalah kuantitatif menggunakan desain penelitian kuantitaif asosiatif. Adapun populasi pada penelitian ini yaitu 163 peserta didik di UPTD SMP Negeri 10 Parepare dengan sampel 62 peserta didik yang dipilih menggunakan teknik solvin. Adapun teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu analisis deskriptif, uji normalitas, uji linearitas, uji koefisien korelasi, uji hipotesis dengan menggunakan uji parsial dan uji simultan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa gaya belajar dominan yang dimiliki oleh peserta didik pada mata pelajaran IPA kelas VIII UPTD SMP Negeri 10 Parepare adalah visual dengan presentase 84,7%, tingkat motivasi belajar peserta didik pada mata pelajaran IPA kelas VIII UPTD SMP Negeri 10 Parepare adalah 80%, dan terdapat pengaruh signifikan antara gaya belajar terhadap motivasi belajar peserta didik pada mata pelajaran IPA kelas VIII UPTD SMP Negeri 10 Parepare yaitu sebesar 39,7%
ANALISIS RESEPSI GEN Z TERHADAP WACANA CHILDFREE DALAM KONTEN INFLUENCER GITASAV (STUDI TEORI RESEPSI STUART HALL): ANALISIS RESEPSI GEN Z TERHADAP WACANA CHILDFREE DALAM KONTEN INFLUENCER GITASAV (STUDI TEORI RESEPSI STUART HALL)
The childfree phenomenon, defined as a conscious decision not to have children, has sparked public debate, especially after influencer Gita Savitri Devi (Gitasav) openly expressed her views on social media. Generation Z, who grew up in the digital era, represents an interesting group to study because they have extensive access to information and are accustomed to shaping opinions through social media platforms. This research aims to analyze Gen Z’s reception of the childfree discourse in Gitasav’s content using Stuart Hall’s reception theory, which categorizes audience responses into three positions: dominant hegemonic position, negotiated position, and oppositional position. The study employs a qualitative approach with the reception study method. Data were collected through in-depth interviews with five Gen Z informants who are students of Universitas Muhammadiyah Makassar. The results show that Gen Z’s reception is divided into three main positions: (1) full acceptance of the childfree perspective as a form of individual freedom (dominant position), (2) selective acceptance by aligning it with cultural and religious values (negotiated position), and (3) complete rejection based on religious norms and social traditions (oppositional position). Factors such as religious background, cultural values, personal experiences, and the intensity of social media exposure influence the formation of these receptions.
Keywords: Childfree, Generation Z, Reception, Gitasav, Stuart HallFenomena childfree sebagai keputusan sadar untuk tidak memiliki anak menimbulkan perdebatan publik, terutama setelah influencer Gita Savitri Devi (Gitasav) mengungkap pandangannya secara terbuka melalui media sosial. Generasi Z yang tumbuh di era digital menjadi kelompok yang menarik untuk dikaji karena mereka memiliki akses luas terhadap informasi dan terbiasa membentuk opini melalui media sosial. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis resepsi Gen Z terhadap wacana childfree dalam konten Gitasav dengan menggunakan teori resepsi Stuart Hall yang membagi posisi audiens ke dalam tiga kategori: dominant hegemonic position, negotiated position, dan oppositional position. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi resepsi. Data diperoleh melalui wawancara mendalam terhadap lima informan Gen Z mahasiswa Universitas Muhammadiyah Makassar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa resepsi Gen Z terbagi ke dalam tiga posisi utama: (1) penerimaan penuh terhadap pandangan childfree sebagai bentuk kebebasan individu (dominant position), (2) penerimaan selektif dengan menyesuaikan nilai budaya dan agama (negotiated position), dan (3) penolakan penuh berdasarkan norma agama dan tradisi sosial (oppositional position). Faktor-faktor seperti latar belakang agama, nilai budaya, pengalaman pribadi, dan intensitas paparan media sosial turut memengaruhi pembentukan resepsi tersebut
Kata kunci: Childfree, Generasi Z, Resepsi, Gitasav, Stuart Hal
COMMUNITY PERCEPTIONS OF RIVER DEVELOPMENT INITIATIVES IN CORA HAMLET, PADAELO VILLAGE, MATTIRO BULU DISTRICT, PINRANG REGENCY.: Persepsi Masyarakat Terhadap Pembangunan Sungai di Dusun Cora Desa Padaelo Kecamatan Mattiro Bulu Kabupaten Pinrang
Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi dan menganalisis persepsi masyarakat terhadap proses pembangunan sungai di Dusun Cora Desa Padaelo, Kecamatan Mattiro Bulu Kabupaten Pinrang. Metode Penelitian yang digunakan meliputi survei, wawamcara, dan analisis data untuk memahami pandangan kebutuhan ,serta reaksi masyarakat terhadap proyek pembangunan sungai. Fokus penelitian adalah memahami sejauh mana peran partisipasi masyarakat dalam perencanaan dan pelaksanaan proyek tersebut serta dampak sosial, ekonomi,dan lingkungan yang dihasilkan dapat memberi wawasan yang lebih baik bagi pihak terkait dalam merencanakan pembangunan sungai diwilayah tersebut, dengan mempertimbangkan aspirasi dan pandangan masyarakat secara lebih komprehensif.
 
Manajemen Pendistribusian Zakat Infak Sedekah Produktif untuk Usaha Kecil di Lazismu Kota Parepare
Kewajiban zakat dalam Islam memiliki makna yang sangat fundamental, tidak hanya berkaitan dengan aspek ketuhanan tetapi juga menyangkut dimensi ekonomi dan sosial. Penelitian ini bertujuan untuk memahami implementasi dan efektivitas pengelolaan zakat, infak, dan sedekah produktif dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi, sedangkan analisis data dilakukan melalui tahapan reduksi, penyajian data, dan verifikasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat kesadaran masyarakat dalam membayar zakat masih sangat rendah, terlihat dari minimnya dana yang berhasil dihimpun serta kurang efisiennya tata cara pengumpulan. Dalam pendistribusian dana zakat, infak, dan sedekah produktif, Lazismu menerapkan sistem pengembalian dana bagi penerima modal usaha kecil dengan metode penitipan kaleng untuk menyisihkan sebagian pendapatan setiap hari tanpa ketetapan jumlah. Meskipun demikian, hasil pendistribusian dana ini menunjukkan dampak positif, di mana penerima bantuan merasakan peningkatan kesejahteraan dan perubahan kehidupan ke arah yang lebih baik melalui usaha yang dijalankan