Sao Jurnal IAIN Parepare
Not a member yet
2676 research outputs found
Sort by
Key Factors Exacerbate Listening Outside EFL Classrooms: Insights from Papua Indonesia
This study aims to explain key factors exacerbating listening outside EFL classrooms based on the perception of English major students in a Papua university. To facilitate a comprehensive investigation into a specific real-life scenario and to enrich the researcher's understanding of the individual or incident under study, a qualitative case study design was employed. We involved thirty students majoring in English education in a university in Papua, Indonesia. Data collection was carried out using the triangulation method including reflective journals, Focus Group discussions, and semi-structured interviews. The findings show some factors promoting listening difficulties perceived by the Indonesian students: accent, tempo, dialect, and intonation. Additional factors may exist that were not raised during the data collection process. These may have been identified if more participants were interviewed. However, the sample size was limited due to time constraints. Then, measuring the impact of each factor in a quantitative study may also yield useful data
Taboo for Taboo Strategy in Indonesian-English Translation of Taboo Words in Inang Movie Subtitles
The present research aims to explore and describe the translation strategies of taboo words in the subtitles of the movie Inang, available on the Netflix platform. Using a descriptive qualitative approach, the study focuses on analyzing Indonesian taboo words translated into English, identifying the strategies applied, and investigating how subtitling can either preserve or alter their intensity and meaning in cross-linguistic and cross-cultural adaptation. The research data was gathered by watching Inang on Netflix, noting the use of taboo words in the Indonesian subtitles, along with their English translations. Data collection involved identifying 23 taboo words or phrases and recording their corresponding timestamps. The collected data was analyzed using interactive data analysis model, which includes data reduction, data presentation, and conclusion drawing. The analysis revealed two types of the taboo-for-taboo strategy: the first is the taboo for taboo strategy that maintains the same level of taboo as the source language, maintaining its intensity. While the second is the taboo for taboo strategy with a lower level of taboo compared to the source language. In conclusion, the study shows that the taboo-for-taboo strategy in Inang allows for a balanced adaptation of offensive expressions
Upholding Election Justice: The Election Supervisory Agency's Strategy to Monitor the Campaigns of Non-Candidate Regional Heads in Indonesia
Issues related to whether or not regional heads who are not candidates can participate in campaigning in elections and regional elections have become a separate discourse in the Indonesian electoral law system due to contradictory rules. Therefore, the government seeks to realize electoral justice through strengthening the duties and functions of The Election Supervisory Agency as an institution authorized to oversee all stages of elections and regional elections. In this case, The Election Supervisory Agency or Bawaslu is responsible for ensuring that there are no violations committed by regional heads who are not candidates in the context of elections and regional elections, especially in the campaign stage which is very prone to violations. This research uses a type of library research with a normative juridical research method that uses conceptual approaches and laws and regulations. The result of this study is that The Election Supervisory Agency needs to reform the supervision mechanism in terms of legal substance, legal structure, and legal culture in order to achieve electoral justice in elections and regional elections.Issues related to whether or not Regional Heads who are not candidates can participate in campaigning in elections and regional elections have become a separate discourse in the Indonesian electoral law system due to contradictory rules. Therefore, the government seeks to realize electoral justice through strengthening the duties and functions of The Election Supervisory Agency as an institution authorized to oversee all stages of elections and regional elections. In this case, The Election Supervisory Agency or Bawaslu is responsible for ensuring that there are no violations committed by regional heads who are not candidates in the context of elections and regional elections, especially in the campaign stage which is very prone to violations. This research uses a type of library research with a normative juridical research method that uses conceptual approaches and laws and regulations. The result of this study is that The Election Supervisory Agency needs to reform the supervision mechanism in terms of legal substance, legal structure, and legal culture in order to achieve electoral justice in elections and regional elections
Penggunaan Media Pembelajaran Kahoot Untuk Meningkatkan Minat dan Motivasi Belajar IPA di SMPN 4 Parepare
Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan minat dan motivasi belajar siswa dalam pembelajaran IPA dengan menggunakan media pembelajaran berbasis permainan edukasi, yaitu Kahoot. Penelitian ini dilakukan di kelas VIII SMP Negeri 4 Parepare dengan pendekatan kualitatif melalui observasi. Penggunaan Kahoot sebagai media pembelajaran dilakukan dengan melibatkan siswa dalam kuis interaktif yang dirancang untuk memotivasi mereka belajar secara aktif dan menyenangkan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan Kahoot berhasil meningkatkan minat belajar siswa, ditandai dengan perhatian yang lebih besar terhadap materi pelajaran, ketepatan waktu pengumpulan tugas, dan keaktifan dalam bertanya di kelas. Selain itu, motivasi siswa meningkat karena adanya kompetisi sehat untuk meraih poin tertinggi dalam permainan. Kesimpulan dari penelitian ini bahwa media pembelajaran berbasis Kahoot mampu meningkatkan minat dan motivasi belajar siswa, serta dinilai efektif dalam menciptakan suasana belajar yang interaktif yang pada akhirnya mendukung pencapaian hasil belajar yang lebih baik
Agama Dalam Pembentukan Struktur Sosial Masyarakat Sidoarjo : The Religion in the Formation of Social Structure of Sidoarjo Society
The existence of religion is important in the daily life of humans as social beings, both in this world and in the next. Religious teachings influence the way people understand each other. Religion is present in human life to provide social glue, strengthen family relationships and create peace and do many other things to maintain social stability. The purpose of this research is to identify how religion affects the formation of social layers, such as how religion affects social status, power sharing and economic impact. In this research, the method used is a qualitative method and uses an ethnographic study approach, the ethnographic method is used to find out how religion shapes the social structure in Sidoarjo. The results show the significant role of religion in shaping the social structure of society in Sidoarjo. Through regular recitations, social activities at mosques and religious celebrations, religion strengthens solidarity and cohesion among residents. Mosques and other religious institutions serve as the main centers of social interaction, not only in the spiritual dimension but also in aspects of daily social interaction. Religion provides values and norms that direct people's behavior, as well as assisting in the formation of social identity and maintaining order in the community. The role of religious institutions in providing solutions to social changes induced by modern technology and globalization.Eksistensi agama penting dalam kehidupan sehari-hari manusia sebagai makhluk sosial, baik di dunia maupun diakhirat. Ajaran agama memengaruhi cara masyarakat saling memahami. Agama hadir dalam kehidupan manusia untuk memberikan perekat sosial, memperkuat hubungan keluarga dan menciptakan perdamaian dan melakukan banyak hal lain untuk menjaga stabilitas sosial. Tujuan penelitian ini guna mengidentifikasi bagaimana agama memengaruhi pembentukan lapisan sosial, seperti bagaimana agama memengaruhi status sosial, pembagian kekuasaan, dan dampak ekonomi. Dalam penelitian ini, metode yang digunakan ialah metode kualitatif dan memakai pendekatan studi etnografi, metode etnografi digunakan untuk mengetahui bagaimana agama membentuk struktur sosial di Sidoarjo. Hasil pemnelitian menunjukkan peran signifikan agama dalam membentuk struktur sosial masyarakat di Sidoarjo. Melalui pengajian rutin, kegiatan sosial di masjid, dan perayaan keagamaan, agama memperkuat solidaritas dan keterikatan antarwarga. Masjid dan lembaga keagamaan lainnya berfungsi sebagai pusat utama interaksi sosial, tidak hanya dalam dimensi spiritual tetapi juga dalam aspek interaksi sosial sehari-hari. Agama memberikan nilai-nilai dan norma-norma yang mengarahkan perilaku masyarakat, serta membantu dalam pembentukan identitas sosial dan menjaga keteraturan dalam komunitas. Peran lembaga keagamaan dalam memberikan solusi terhadap perubahan sosial yang diinduksi oleh teknologi modern dan globalisasi. Meskipun terdapat tantangan dari pengaruh teknologi, globalisasi, dan sekularisme yang mempertanyakan relevansi agama dalam masyarakat modern, agama tetap memainkan peran krusial dalam mempertahankan stabilitas sosial
URGENSI ZAKAT PROFESI ERA KONTEMPORER DALAM PERSFKTIF ISLAM
Perubahan dan perkernbangan ekonomi dari sejak zaman Rasulullah SAW hingga kondisi saat ini berdampak pada pemikiran dan aplikasi konsep zakat dalam Islam Perkembangan zakat dalam konteks kekinian sering diistilahkan dengan kontemporer. Tulisan ini mengkaji zakat kontemporer dalam dua perspektif yaitu perluasan makna asnaf zakat khususnya fi sabilillah dan objek zakat. Metode pembahasan yang digunakan yaitu pendekatan literatur.Zakat profesi adalah zakat yang dikeluarkan dari penghasilan (hasil) profesi profesi/pekerjaan) jika sudah mencapai nishab. Terkait dengan kasus zakat profesi,Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengatur pendapatan zakat. MUI telah mengeluarkan fatwanya dengan “Keputusan Fatwa Majelis Ulama Indonesia” Nomor 3 Tahun 2003 tentang Penghasilan Zakat. Meski jumlahnya banyak ulama yang menyetujui penerapan zakat profesional di era kontemporer saat ini, namun di sisi lain ada juga yang kurang setuju implementasinya. Mereka mendasarkan pandangannya pada masalah zakat sepenuhnya soal 'ubudiyah. Jadi segala macam peraturan dan ketentuan ketentuan tersebut hanya dapat dilaksanakan apabila terdapat petunjuk atau petunjuk yang jelas dan tegas contoh langsung dari Rasulullah dan bila tidak ada maka tidak perlu membuat peraturan baru
DISORIENTASI MORAL SEBAGAI TANTANGAN ETIKA BISNIS DALAM TRANSFORMASI EKONOMI DIGITAL
Artikel ini mengkaji hubungan timbal balik antara disorientasi moral, etika bisnis Islam, dan evolusi ekonomi digital melalui tinjauan pustaka yang sistematis. Dengan mengacu pada 30 artikel ilmiah yang ditinjau sejawat, studi ini menggunakan metode penelitian pustaka kualitatif untuk mengidentifikasi pola tematik, perspektif yang kontras, dan sintesis konseptual di tiga area fokus. Temuan tersebut mengungkapkan bahwa disorientasi moral, yang sering dipandang negatif, dapat berfungsi sebagai kekuatan etika konstruktif yang menantang norma moral dominan dan struktur sosial-politik. Dalam ekonomi digital yang berkembang pesat, disorientasi etika muncul sebagai konsekuensi dari ketidaksetaraan, dehumanisasi, dan gangguan nilai. Etika bisnis Islam, yang didasarkan pada prinsip-prinsip maqashid syariah, menawarkan alternatif normatif yang menekankan keadilan, transparansi, dan perlindungan konsumen. Studi ini menggarisbawahi perlunya mengintegrasikan nilai-nilai etika ke dalam formulasi kebijakan dan praktik bisnis digital, serta pentingnya pendidikan etika dalam mempersiapkan pelaku bisnis dan masyarakat untuk menavigasi kompleksitas moral di era digital. Kerangka etika transdisipliner yang menjembatani refleksi filosofis, prinsip-prinsip normatif Islam, dan dinamika teknologi direkomendasikan.Artikel ini mengkaji keterkaitan antara disorientasi moral, etika bisnis syariah, dan perkembangan ekonomi digital melalui pendekatan studi literatur sistematis. Dengan menelaah 30 artikel ilmiah dari jurnal bereputasi nasional dan internasional, penelitian ini menggunakan metode kualitatif untuk mengidentifikasi pola tematik, pendekatan teoritik, dan potensi sintesis konseptual. Temuan menunjukkan bahwa disorientasi moral, yang selama ini dianggap negatif, memiliki potensi sebagai kekuatan etis dalam menantang norma dominan dan struktur sosial-politik. Dalam ekonomi digital yang berkembang pesat, disorientasi mencerminkan gejala ketimpangan, dehumanisasi, dan disrupsi nilai. Etika bisnis syariah, berdasarkan prinsip maqashid syariah, menawarkan kerangka normatif alternatif yang menekankan keadilan, transparansi, dan perlindungan konsumen. Studi ini mengadakan acara integrasi nilai etika dalam kebijakan digital serta urgensi pendidikan etika untuk menyiapkan pelaku usaha menghadapi kompleksitas moral era digital. Sebuah kerangka etika transdisipliner yang menggabungkan refleksi filosofis, nilai Islam, dan dinamika teknologi yang direkomendasikan
Collaborative Governance in Village-Owned Enterprises: A Case Study of Traditional Rice Field-Based BUMDes in Tubo Selatan
Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) or Village -Owned Enterprises have emerged as a strategic policy instrument for empowering rural communities through participatory economic management. This study examined collaborative arrangements between the village government and community members in managing traditional rice fields (sawah adat) under the BUMDes framework in Tubo Selatan Village, and explored how these arrangements fostered social solidarity. Historically, sawah adat functioned as a non-monetary compensation mechanism for village officials; however, it has evolved into a collective economic initiative that redistributes benefits and strengthens community welfare. By using a qualitative case study design , the research investigates interaction patterns, collaborat ive roles, and solidarity values embedded in the sawah adat –based BUMDes model. Twelve informants were selected purposively from government actors, BUMDes administrators, and farming communities. Data were gathered through observation, semi-structured interviews, and document analysis, and were examined using a structured process of data reduction, data display, and conclusion drawing within the framework of collaborative governance theory. Findings indicate that collaboration is institutionalized through transparent registration mechanisms, shared decision -making, and a proportional distribution of harvest yields between farmers and the BUMDes. The governance model ensures fair benefit - sharing, reinforces mutual responsibility, and sustains the cultural value of gotong royong. Moreover, deliberative processes grounded in accountability enhance trust, reduce conflict, and facilitate sustained cooperation. The management of traditional rice fields therefore functions not only as an economic driver but also as a catalyst for strengthening collective identity and social cohesion within the rural community. Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) telah muncul sebagai instrumen kebijakan strategis untuk memberdayakan masyarakat pedesaan melalui pengelolaan ekonomi partisipatif. Studi ini mengkaji pengaturan kolaboratif antara pemerintah desa dan anggota masyarakat dalam mengelola sawah adat dalam kerangka BUMDes di Desa Tubo Selatan, dan mengeksplorasi bagaimana pengaturan ini mendorong solidaritas sosial. Secara historis, sawah adat berfungsi sebagai mekanisme kompensasi non-moneter bagi pejabat desa; namun, telah berkembang menjadi inisiatif ekonomi kolektif yang mendistribusikan kembali manfaat dan memperkuat kesejahteraan masyarakat. Dengan menggunakan desain kualitatif studi kasus
, penelitian ini menyelidiki pola interaksi, peran kolaboratif, dan nilai -nilai solidaritas yang tertanam dalam model BUMDes berbasis sawah adat. Dua belas informan dipilih secara purposif dari para pelaku pemerintah, pengurus BUMDes, dan masyarakat petani. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara semi - terstruktur, dan analisis dokumen, serta dikaji menggunakan proses terstruktur reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan dalam kerangka teori tata kelola kolaboratif.
Temuan menunjukkan bahwa kolaborasi dilembagakan melalui mekanisme pendaftaran yang transparan, pengambilan keputusan bersama, dan distribusi hasil panen yang proporsional antara petani dan BUMDes. Model tata kelola memastikan pembagian keuntungan yang adil, memperkuat tanggung jawab bersama, dan melestarikan nilai budaya gotong royong. Lebih lanjut, proses musyawarah yang dilandasi akuntabilitas meningkatkan kepercayaan, mengurangi konflik, dan memfasilitasi kerja sama yang berkelanjutan. Oleh karena itu, pengelolaan sawah tradisional tidak hanya berfungsi sebagai penggerak ekonomi tetapi juga sebagai katalisator untuk memperkuat identitas kolektif dan kohesi sosial dalam masyarakat pedesaan. 
Optimalisasi Peran Pasukan Amal Sholeh (PASKAS): Strategi Sosialisasi Gerakan Infak Beras di Kota Parepare
Pasukan Amal Sholeh (PASKAS) is a humanitarian social movement focused on assisting the underprivileged, orphans, Quran memorizers, and those in need of support in the path of Allah (fii sabilillah), with its rice donation program being one of its main initiatives. This study aims to analyze the strategies used by PASKAS to socialize the rice donation movement, as well as to identify the supporting and inhibiting factors in its implementation. Using personal communication theory, Max Weber's social action movement theory, and dakwah bil hall, this qualitative research employs observation, interviews, and documentation methods, with data analysis techniques including data reduction, presentation, and conclusion drawing. The results show that PASKAS' socialization strategy in Parepare City has been successful, with an approach targeting institutions, schools, religious study groups (majelis taklim), and crowded places. Supporting factors include the openness of institutions to cooperate, while inhibiting factors involve the limited number of PASKAS members. The impact of this socialization is an increase in the number of foster parents joining the movementPasukan Amal Sholeh (PASKAS) adalah gerakan sosial kemanusiaan yang fokus pada penyantunan kaum dhuafa, anak yatim, penghafal Al-Qur’an, dan fii sabilillah, dengan program gerakan infak beras sebagai salah satu inisiatif utamanya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis strategi sosialisasi PASKAS dalam mengajak orang tua asuh untuk berinfak, serta mengidentifikasi faktor pendukung dan penghambat dalam pelaksanaannya. Menggunakan teori komunikasi personal, gerakan tindakan sosial Max Weber, dan dakwah bil hall, penelitian ini menggunakan metode kualitatif melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi, dengan teknik analisis data berupa reduksi, penyajian, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi sosialisasi PASKAS di Kota Parepare berhasil, dengan pendekatan yang menargetkan lembaga, sekolah, majelis taklim, dan tempat keramaian. Faktor pendukungnya adalah keterbukaan lembaga-lembaga untuk bekerja sama, sementara faktor penghambatnya adalah keterbatasan jumlah anggota PASKAS. Dampak dari sosialisasi ini adalah meningkatnya jumlah orang tua asuh yang bergabung dalam gerakan ini
Penerapan Model Pembelajaran Aktif Berbantuan Card Sort (CS) dalam Pembelajaran PAI dan Budi Pekerti di SMK Al-Falah Moga Pemalang Pada Tahun Pelajaran 2024/2025
This study investigates the implementation of the Card Sort active learning model in Islamic Religious Education (PAI) and Character Education at SMK Al-Falah Moga during the 2024/2025 academic year. Using a qualitative descriptive approach, the research explores students’ learning experiences, classroom interactions, and teachers’ strategies in applying the Card Sort technique. Data were collected through in-depth interviews, classroom observations, and documentation, and analyzed using the Miles & Huberman flow model—data reduction, display, and verification. The findings show that Card Sort enhances student engagement, collaboration, and conceptual understanding of Al-Kulliyatul Khamsah. Despite several obstacles such as varied reading abilities and inconsistent student focus, the model was effective in improving active participation and learning outcomes. This research provides practical insights for educators seeking to design student-centered learning experiences.
Keywords: Card Sort, Active Learning, Islamic Education, Student Engagement