e-Journal Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan / National Institute of Health Research and Development
Not a member yet
    4975 research outputs found

    Peran Lingkungan Sosial Dalam Pencegahan Malaria Di Kecamatan Kisam Tinggi Kabupaten Ogan Komering Ulu Selatan

    No full text
    AbstractMalaria is still a public health problem in Ogan Komering Ulu Selatan. This is evident from the Annual Parasite Incidence (API) in the District OKUS of 0.16 per 1000 population in 2013. The physical and socio-cultural environment in the District Kisam Tinggi role in the distribution of malaria in the region, as well as people's behavior cannot be separated from social conditions, one of which social groups can influence a person's health behaviors in the prevention of malaria. This study aims to identify social environment factor that plays a dominant role in the prevention of malaria in Kisam Tinggi Sub District. This type of research is non-intervention research with descriptive design.The sample was head of the family or household members elected as many as 179 respondents. Data collection was carried out by interviews using structured questionnaire. The results of this study, the family is the most social environment plays a role in the prevention of malaria (36.9%), the family in question is the nuclear family and extended family. Neighbours also acts provide examples or information about malaria prevention to the respondents (5.6%), because of their attachment to ethnicity of respondents, is ethnic Kisam. Cleaning up the environment around the house, using mosquito nets or mosquito repellent, wearing protective clothingand taking malaria medicine are preventive methods thatinfluenced by the social environment surrounding and form respondents to behave according to what exemplified from the social environment.Keywords: Social environment, family, neighbours, malaria preventionAbstrakMalaria masih menjadi masalah kesehatan di Kabupaten Ogan Komering Ulu Selatan (OKUS). Hal ini terlihat dari Annual Parasite Incidence (API) di Kabupaten OKUS sebesar 0,16 per 1000 penduduk pada tahun 2013. Lingkungan fisik maupun sosiokultural yang ada di Kecamatan Kisam Tinggi berperan dalam distribusi malaria di wilayah ini, begitu juga perilaku masyarakatnya tidak bisa dipisahkan dari kondisi sosial, salah satunya kelompok sosial yang dapat mempengaruhi perilaku kesehatan seseorang dalam pencegahan malaria. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi lingkungan sosial yang dominan berperan dalam upaya pencegahan malaria di Kecamatan Kisam Tinggi Kabupaten OKUS. Jenis penelitian ini adalah penelitian non intervensi dengan desain deskriptif. Sampel penelitian ini adalah kepala keluarga atau anggota rumah tangga terpilih sebanyak 179 responden. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara menggunakan kuesioner terstruktur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keluarga merupakan lingkungan sosial yang paling berperan dalam upaya pencegahan malaria (36,9%), keluarga yang dimaksud adalah keluarga inti dan keluarga besar. Tetangga juga berperan memberikan contoh ataupun informasi mengenai pencegahan malaria kepada responden (5,6%), karena adanya keterikatan kesamaan suku/etnis responden, yaitu suku Kisam. Membersihkan lingkungan di sekitar rumah, menggunakan kelambu atau obat nyamuk, memakai baju panjang dan mengkonsumsi obat malaria merupakan cara pencegahan yang dipengaruhi oleh peran lingkungan sosial disekitar responden dan membentuk responden untuk berperilaku sesuai dengan apa yang dicontohkan dari lingkungan sosialnya.Kata Kunci: Lingkungan sosial, keluarga, tetangga, pencegahan malari

    Pengetahuan Sikap Perilaku Masyarakat di Desa Jambu Ilir Kecamatan Tanjung Lubuk Kabupaten Ogan Komering Ilir Provinsi Sumatera Selatan terhadap Filariasis

    No full text
    Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat pengetahuan, sikap dan perilaku masyarakat di Desa Jambu Ilir Kabupaten Ogan Komering Ilir terhadap filariasis. Penelitian ini telah dilakukan pada Juli 2008 dengan jumlah sampel 101 orang yang dipilih berdasarkan metode penarikan sampel acak sederhana. Umumnya responden berumur antata 15-64 tahun dengan tingkat pendidikan hanya tamat Sekolah Dasar hingga Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (32,7%) dan bekerja sebagai petani (69,3%). Meskipun sebagian besar responden memiliki sikap yang baik terhadap upaya pencegahan filariasis, tetapi rendahnya pengetahuan dan perilaku masyarakat di wilayah penelitian yang sering keluar di malam hari serta pergi ke sungai pada malam hari, dapat meningkatkan risiko infeksi cacing filaria

    Ekologi Nyamuk Anopheles spp. Di Kecamatan Lengkiti, Ogan Komering Ulu, Sumatera Selatan Tahun 2004-2015

    No full text
    Abstract Malaria still remains a public health problem in Indonesia. Lengkiti Subdistrict in Ogan Komering Ulu (OKU) is a malaria endemic area, has the highest malaria cases among other subdistricts in OKU Regency in 2010. The optimal malaria control requires local entomological data especially the species of Anopheles spp. and their behavior or vector bionomics. The method used in this article is to use the literature study through books, articles, and scientific journals from 2004 to 2015. The species of Anopheles spp. that found in Lengkiti subdistrict were Anopheles aconitus, An. annularis, An. barbirostris, An. kochi, An. nigerrimus, An. schueffneri, An. vagus, An. umbrosus, An. philippinensis, An. maculatus, An. minimus, An. flavirostris, An. leucosphyrus group, An. sinensis and An. barbumbrosus. The breeding habitats of Anopheles spp. were swamps, ponds, puddles, streams, and ditches or gutters. The puddles that found including household waste puddle, puddle on the road, puddle of abandoned soil excavation, and also puddle of tire ruts. The breeding habitats were found in 13 villages of Pajar Bulan, Bandar Jaya, Segara Kembang, Simpang Empat, Sundan, Umpam, Lubuk Dalam, Sukaraja, Way Heling, Tihang, Tanjung Lengkayap, Tanjung Agung, and Pagar Dewa. Keywords: Anopheles, bionomic, malaria, OKU AbstrakMalaria merupakan salah satu penyakit menular yang masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di Indonesia. Kecamatan Lengkiti di Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) merupakan daerah endemis malaria yang memiliki kasus malaria tertinggi dibandingkan dengan kecamatan lainnya di Kabupaten OKU pada tahun 2010. Pengendalian malaria yang optimal memerlukan data entomologi setempat terutama yang berkaitan dengan spesies nyamuk Anopheles spp. dan perilaku atau bionomik vektor. Metode yang digunakan dalam penulisan adalah dengan menggunakan penelusuran literatur melalui telaah buku, artikel, dan jurnal ilmiah dari tahun 2004 sampai dengan 2015. Spesies Anopheles spp. yang ditemukan di Kecamatan Lengkiti yaitu Anopheles aconitus, An. annularis, An. barbirostris, An. kochi, An. nigerrimus, An. schueffneri, An. vagus,  An. umbrosus, An. philippinensis, An. maculatus, An. minimus, An. flavirostris, An. leucosphyrus group, An. sinensis, dan An. barbumbrosus.  Habitat perkembangbiakan Anopheles spp. yang ditemukan di Kecamatan Lengkiti yaitu rawa, kolam, genangan air, sungai, dan parit atau selokan. Genangan air yang ditemukan berupa genangan limbah rumah tangga, genangan air di jalan, bekas galian, dan juga genangan bekas roda ban. Habitat perkembangbiakan ini ditemukan di 13 desa yaitu Pajar Bulan, Bandar Jaya, Segara Kembang, Simpang Empat, Sundan, Umpam, Lubuk Dalam, Sukaraja, Way Heling, Tihang, Tanjung Lengkayap, Tanjung Agung, dan Pagar Dewa. Kata Kunci : Anopheles, bionomik, malaria, OK

    Studi Sosial Budaya Masyarakat Suku Anak Dalam Tentang Malaria dan Cara Pemberantasannya

    No full text
    AbstractThe settlement of Suku Anak Dalam in remote areas was malaria endemic and related with geographic condition, temperature, economics and social culture. This study carried out for 7 months in Pagar Desa Village of Musi Banyuasin District of South Sumatera Province as Suku Anak Dalam settlement. The aims of this study was to find out social cultural aspect regarding malaria and preventive behaviour, and the result could give benefits for malaria’s elimination program. Data collected by indepth interview towards 16 informan and focus group discussion towards 3 groups of participant. The data collecting was documented by tape recorder and handycam. Results showed that peoples of Suku Anak Dalam was poor about knowledge, attitude and practices regarding malaria and protection behaviour. The attitude of respondents was good related with taking the information of malaria and expect promotion about malaria and other diseases, and they also hope to involve society and health officer actively.Keywords : Social cultural, Suku anak dalam, malariaAbstrakPemukiman Suku Anak Dalam yang berada di pedalaman menjadi salah satu daerah endemis malaria karena didukung oleh kondisi geografis, suhu udara, social ekonomi dan budaya masyarakat setempat..Penelitian dilakukanselama 7 bulan pada Masyarakat Suku Anak Dalam yang berada di Desa Pagar Desa, Kecamatan Bayung Lencir, Kabupaten Muba, Provinsi Sumatera Selatan. Penelitian ini melihat aspek sosial budaya masyarakat setempat tentang malaria dan cara pemberantasannnya. Manfaat penelitian diharapkan dapat menjadi masukan dalam program pemberantasan malaria. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara mendalam terhadap 16 informan, 3 kelompok diskusi terarah dan pengamatan dibantu alat perekam (tape recorder) dan handycam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengetahuan , sikap dan perilaku masyarakat tentang malaria dan cara pemberantasannya pada umumnya masih kurang/ tidak tahu. Sikap masyarakat cukup baik dalam menerima masukan dari luar serta sangat mengharapkan penyuluhan tentang malaria dan program kesehatan lainnya dengan melibatkan tokoh-tokoh masyarakat dan petugas kesehatan melalui tatap muka langsung dengan masyarakat.Kata Kunci : Sosial budaya, Suku anak dalam, malari

    ANALISIS ASUPAN MAKANAN DAN ESTIMASI RISIKO KESEHATAN PENDUDUK DI KAWASAN PERTAMBANGAN EMAS TRADISIONAL - GUNUNG PONGKOR, KABUPATEN BOGOR, PROVINSI JAWA BARAT

    No full text
    ABSTRACT Traditional gold mining activities can increase the concentration of mineral contaminants enter into the environment and into the food chain. In artisanal gold mining Gunung Pongkor, Bogor Regency, arsenic has been detected in food samples from local production. Intake rate of arsenic into human body can cause effects that are non-carcinogenic and carcinogenic. The aim of this study is to assess the risk estimates due to arsenic exposure in food samples, the health effect, and also to formulate risk management. This study was using data from Riset Khusus Pencemaran Lingkungan 2012 organized by National Institute of Health Research and Development, Ministry of Health. The results showed that non-carcinogen risk level (RQ) are 28,55 and lifetime excess cancer risk (ECR) are 5,49 x10-3. This levels are unacceptable (RQ>1 and ECR>10-4). Highly consumption of rice everyday and also high level arsenic contaminant in rice are the major of relative contributor sources. Potential health effects, especially skin lesions (keratosis and hyperpigmentation,) has occurred. Risk management options need to be done were decreasing exposure level and reducing consumption of local food products. Keywords: Public Health Assessment, arsenic, gold mining   ABSTRAK Aktivitas penambangan emas secara tradisional dapat meningkatkan konsentrasi kontaminan mineral ke dalam media lingkungan dan dapat masuk ke dalam rantai makanan. Di kawasan pertambangan emas Gunung Pongkor, Kabupaten Bogor telah terdeteksi konsentrasi metaloid arsen yang sangat tinggi pada bahan makanan hasil produksi setempat. Asupan arsen ke dalam tubuh manusia dapat menyebabkan efek kesehatan yang bersifat non karsinogenik dan karsinogenik. Tujuan penulisan artikel ini adalah menghitung estimasi risiko kesehatan akibat pajanan arsen pada penduduk yang mengkonsumsi bahan makanan produk lokal serta dampak terhadap kesehatan. Analisis dilakukan menggunakan data Riset Khusus Pencemaran Lingkungan, Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kementerian Kesehatan tahun 2012. Hasil analisis menunjukan tingkat risiko non karsinogenik (RQ) sebesar 28,55 dan risiko karsinogenik (ECR) sebesar 5,49 x10-3. Kesimpulan dari hasil analisis adalah nilai tingkat risiko unacceptable atau telah melebihi batas aman (RQ>1 dan nilai ECR>10-4). Beras merupakan kontributor utama. Dampak terhadap kesehatan menunjukkan munculnya penyakit kulit keratosis dan hiperpigmentasi. Perumusan manajemen risiko yang dapat dilakukan adalah menurunkan konsentrasi pajanan dan mengurangi konsumsi bahan makanan dari produk lokal. Kata kunci: Tingkat risiko, arsen, pertambangan ema

    Implementasi kebijakan pengandangan unggas untuk mencegah avian influenza di masyarakat Kabupaten Bogor

    No full text
    Abstract.The publication of the Regulation of Bogor Regent no 16 year 2007 point on poultry caging in backyard was made as an attempt to limit human contact for prevention against Avian Influenza. The aim of this study was to know the implementation of the regulation among the society of Bogor. The research method was qualitative methods to construct a concept map. Result of research indicated that the society not yet penned their poultry indeed, the community. In conclusion, regulation of Bogor District no 16 year 2007 have not been implemented by the society. The society have to improve their health behaviors to prevent Avian Influenza.Keywords : Implementation, Poultry caging, Regulation of Bogor Regent No 16 Year 2007Abstrak.Untuk mencegah Avian Influenza, dibuat Peraturan Bupati Bogor No 16 Tahun 2007, dimana salah satu poin mengenai pengandangan unggas peliharaan masyarakat untuk membatasi kontak antara unggas dengan manusia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui implementasi peraturan pengandangan unggas di dalam pemukiman masyarakat. Metode penelitian adalah kualitatif yang menghasilkan peta konsep. Hasil penelitian menunjukkan sebagian besar masyarakat belum mengandangkan unggas peliharaannya. Kesimpulan penelitian adalah Peraturan Bupati Bogor No 16 Tahun 2007 belum diimplementasikan di tingkat masyarakat. Untuk mencegah Avian Influenza membutuhkan perbaikan perilaku sehat masyarakat.Kata kunci : Implementasi, Pengandangan Unggas, Peraturan Bupati Bogor No 16 tahun 200

    KARAKTERISTIK PENDERITA HIPERTENSI PADA MASYARAKAT MISKIN DI DESA CEURIH KECAMATAN ULEE KARENG KOTA BANDA ACEH CHARACTERISTICS OF HIPERTENSION PATIENT AMONG POOR COMMUNITIES IN VILLAGE OF CEURIH ULEE KARENG DISTRICT BANDA ACEH

    No full text
    ABSTRAK Hipertensi masih menjadi masalah kesehatan di dunia. Menurut Riskesdas 2007, prevalensi hipertensi di Indonesia adalah 31, 7 %, prevalensi hipertensidi Aceh 30,2 %, sebesar 46,1% ditemukan di Kabupaten Bener Meriah dimana prevalensinya melebihi angka nasional. Mengingat data tentang hipertensi pada masyarakat miskin di Aceh belum ada, maka penelitian ini perlu dilakukan. Penelitian yang telah dilakukan di Desa Ceurih, Kecamatan Ulee Kareng Kota Banda Aceh selama 8 bulan bertujuan untuk mengungkapkan karakteristik penderita hipertensi pada masyarakat miskin yang ada di desa tersebut. Penelitian menggunakan desain cross sectional study dengan penarikan sampel secara purposive, dengan responden yang menjadi sampel berumur diatas 18 tahun. Pengumpulan data secara wawancara, mengukur berat badan,tinggi badan,tekanan darah, dan kadar kolesterol total.Data dianalisis dengan regresi Cox. Karakteristik masyarakat yang berhubungan dengan hipertensi adalah umur55-90 tahun (RR = 3,97 P = 0,000; 95% CI 2,17– 7,26), Pendidikanrendah (RR = 5,6 P = 0,09: 95% CI 0,76 – 41,06), sering makan makanan berlemak (RR = 0,48 P = 0,14; 95% CI 0,18 – 1,29) dan kolesterol totalabnormal (RR = 1,64 P = 0,11; 95 % CI 0,89- 3,02). ABSTRACT Hypertension is still a health problem in the world. Prevalence of hypertension in Indonesia based on Riskesdas 2007 datas reached about 31.7%, in the Aceh province the average accounted for 30.2% where the highest one was found in Bener Meriah district is 46.1%, which exceeds the national average. Given data on hypertension occurring in poor communities in Aceh does not exist, this research needs to be done. The research has been done in village of Ceurih Ulee Kareng District Banda Aceh as long 8 month , get the data of the characteristcs of hypertension in poor communities. As a cross sectional study with purposive sampling, this study get the poor communities from above 18 years old respondents. Data collection with interview, measuring weight,height, blood pressure, andtotal cholesterol. Data conducted by utilizing  Cox regression analysis. Characteristics of the population with hypertension is significantly associated with age 55-90 years old (RR = 3.97 P = 0.000; 95% CI 2.17 to 7.26), low education (RR = 5.6 P = 0.09: 95% CI 0.76 to 41.06), eating fatty food (RR = 0.48 P = 0.14; 95% CI 0.18 to 1.29) and total cholesterol abnormal (RR = 1.64 P = 0.11; 95 % CI 0.89 to 3.02)

    Kontribusi pekerja hutan terhadap kejadian malaria di Desa Temunih Kecamatan Kusan Hulu Kabupaten Tanah Bumbu Provinsi Kalimantan Selatan

    No full text
    Abstract.Malaria remain as health problem in Indonesia and therefore sustainable prevention program from Tanah Bumbu Government was still undergoing in Kusan Hulu subdistrict (Temunih village) which are remote and malaria endemic area. People in those village are Dayak and Banjar. This research aimed to identify the contribution of forest worker to malaria incident and correlation between KAP (knowledge, attitude, and practice) of the village’s people to malaria. This was an analitic research done using cross sectional design. Our respondents were 107 local people ranged from 0 to 100 years old. Result from interview suggested that knowledge was related to malaria incident, less educated respondentswere 0,1 times higher risk to be infected by malaria compared to good educated respondent. Neither good attitude nor good practice can pledge the people to be avoided from malaria. Infection of malaria in Temunih village caused by environment condition such as unused mine hole and house construction which allow mosquitoes entering the house. Forest worker were 0,9 times higher risk for malaria infection compared to those who were not working in the forest. Forest worker were contributed to 14% of malaria incident in the sampling area, while those who are not were contributed as much as 3,7%. We suggested local health official to increase malaria surveilance and for the people in endemic area should use impregnated bed-net, repellant and consume prophylaxis drug. Additionally, adjusting house contruction can also help to minimize mosquito bite.Keywords: contribution, knowledge, attitude, practice, malariaAbstrak.Malaria masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di Indonesia dan upaya pencegahan masih terus diupayakan oleh pemerintah daerah Kabupaten Tanah Bumbu antara lain di Kecamatan Kusan Hulu Desa Temunih yang merupakan daerah terpencil dan endemis malaria. Masyarakat desa tersebut adalah suku Dayak dan Banjar. Penelitian dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui konstribusi pekerja hutan terhadap kejadian malaria dan untuk mengetahui hubungan pengetahuan, sikap dan perilaku masyarakat terhadap kejadian malaria di Desa Temunih terhadap malaria. Penelitian ini adalah penelitian analitik dengan desain cross sectional. Sampel yang diambil adalah 107 responden yang bersedia ikut serta tanpa paksaan. Hasil wawancara terhadap seluruh responden didapatkan bahwa pengetahuan berpengaruh terhadap kejadian malaria, responden dengan pengetahuan yang kurang memiliki risiko 0,1 kali terkena malaria dibanding dengan responden yang berpengetahuan baik. Sikap dan perilaku yang baik tidak menjamin seseorang untuk terhindar dari malaria. Penularan malaria di Desa Temunih dipengaruhi juga oleh kondisi lingkungan berupa bekas galian tambang dan konstruksi rumah yang memungkinkan nyamuk masuk ke dalam rumah. Pekerja hutan mempunyai risiko untuk terkena malaria sebesar 0,9 kali dibandingkan dengan bukan pekerja hutan. Pekerja hutan berkonstribusi terhadap kejadian malaria sebesar 14%, sedangkan bukan pekerja hutan ikut berkonstribusi sebesar 3,7% di Desa Temunih wilayah kerja Puskesmas Teluk Kepayang Kecamatan Kusan Hulu Kabupaten Tanah Bumbu Provinsi Kalimantan Selatan. Disarankan kepada dinas kesehatan setempat untuk meningkatkan surveilans malaria dan bagi masyarakat yang tinggal di daerah endemis malaria hendaknya memakai kelambu berinsektisida pada saat tidur malam hari, memakai repellant dan mengkonsumsi obat propilaksis, serta memperbaiki kontruksi tempat tinggal guna meminimalisir penularan gigitan nyamuk.Kata kunci: Konstribusi, Pengetahuan, Sikap, Perilaku, Malari

    Keragaman Vektor Plasmodium knowlesi

    No full text
    Abstract.Plasmodium knowlesi is the fifth Plasmodium that can cause malaria in humans. Malaria knowlesi has quotidian cycle, consequently the parasite increases faster and can cause death. The purpose of this systematic review is to provide a description of the diversity of the P. knowlesi vectors. The method used was the search of articles indexed by Pubmed with keywords Vector Knowlesi and Malaria Knowlesi. A total of 948 articles were obtained from search results. After the selection, we obtained five articles for further analysis. The results of a systematic study show that vector P. knowlesi is recorded in two countries, namely Malaysia and Vietnam. In Malaysia, vectors are found in Kapit Serawak (An latens), in Kuala Lipis Pahang (An cracens), in Hulu Selangor (An introlatus), and in Kudat Sabah (An. balabacensis). In Vietnam, vectors are found in Khanh Phu (An. dirus). For each region, there were different species of mosquito leucosphyrus detected infected with P. knowlesi. The more dominant a species, the more likely it is to act as a vector.Keywords : Plasmodium knowlesi, vector, leucosphyrusAbstrak. Plasmodium knowlesi merupakan Plasmodium kelima yang dapat menyebabkan penyakit malaria pada manusia. Malaria knowlesi memiliki siklus quotidian, akibatnya pertambahan parasit lebih cepat dan dapat berakibat fatal bagi penderitanya. Tujuan telaah sistematik ini adalah untuk memberikan gambaran keragaman vektor penular P. knowlesi. Metode yang digunakan adalah penelusuran artikel yang diindeks oleh Pubmed dengan kata kunci Vektor Knowlesi dan Malaria Knowlesi. Sebanyak 948 artikel didapat dari hasil penelusuran dan setelah dilakukan seleksi diperoleh lima artikel untuk dianalisis lebih lanjut. Hasil telaah sistematik menunjukkan bahwa vektor P. knowlesi tercatat di dua negara, yaitu Malaysia dan Vietnam. Di Malaysia, yaitu di Kapit Serawak (An. latens), di Kuala Lipis Pahang (An. cracens), dan di Hulu Selangor (An. introlatus), dan di Kudat Sabah (An. balabacensis). Sedangkan di Vietnam, vektor ditemukan di Khanh Phu (An. dirus). Untuk setiap wilayah, spesies nyamuk leucosphyrus yang terdeteksi positif P. knowlesi berbeda. Semakin banyak jumlahnya, semakin besar kemungkinan berperan sebagai vektor.Kata kunci : Plasmodium knowlesi, vektor, leucosphyru

    Penyelenggaraan Upaya Kesehatan Masyarakat (UKM) Esensial di Puskesmas Terpencil dan Sangat Terpencil

    No full text
    Setiap puskesmas harus menyelenggarakan upaya kesehatan masyarakat (UKM) esensial tanpa melihat krteria puskesmas. UKM esensial meliputi 5 jenis pelayanan, yaitu promosi kesehatan; kesehatan lingkungan; kesehatan ibu, anak dan keluarga berencana; pelayanan gizi; dan pencegahan dan pengendalian penyakit.Tujuan dari penelitian ini dilakukan untuk memberikan gambaran pelaksanaan UKM esensial di puskesmas terpencil dan sangat terpencil di wilayah Indonesia. Data diperoleh dari survei lokasi calon penempatan tim Nusantara Sehat tahun 2016 sebanyak 131 unit puskesmas terdiri dari 74 puskesmas terpencil dan 57 puskesmas sangat terpencil.Hasil penelitian menunjukkan terdapat 87,0 persen puskesmas melaksanakan 5 jenis pelayanan esensial dan masih terdapat puskesmas yang hanya melaksanakan 3 jenis pelayanan yaitu sebesar 1,5 persen. Pelayanan kesehatan lingkungan merupakan jenis UKM esensial uang paling banyak tidak dapat diselenggarakan oleh puskesmas. Belum semua jenis tenaga kesehatan ada di Puskesmas terpencil dan sangat terpencil. Terkait dengan pelaksanaan UKM esensial jenis tenaga yang masih kurang di daerah terpencil dan sangat terpencil yaitu dokter, tenaga kesling, tenaga pelaksana gizi dan tenaga kesehatan masyarakat. Peningkatan kemampuan puskesmas untuk menyelenggarakan UKM esensial secara menyeluruh baik di puskesmas terpencil maupun puskesmas sangat terpencil, perlu didukung dengan tenaga yang memiliki kompetensi sesuai dengan jenis UKM esnsial.Kata Kunci: Puskesmas, Upaya Kesehatan Esensial, Nusantara Seha

    439

    full texts

    4,975

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    e-Journal Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan / National Institute of Health Research and Development
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇