e-Journal Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan / National Institute of Health Research and Development
Not a member yet
    4975 research outputs found

    Front matter jurnal Aspirator Vol 9 no.1 thn 2017

    No full text

    Keanekaragaman Anopheles spp. di Daerah Endemis Malaria Desa Siayuh [Trans] Kabupaten Kotabaru Provinsi Kalimantan Selatan

    No full text
    Abstract. The Health Research in 2010 informed that the prevalence of Malaria in Indonesia was 0.6%, and it was the sixth highest caused of death on infectious diseases. Malaria is transmitted by Anopheles spp..About 70 species of Anopheles have been identified as vectors of Malaria in the world, 24 species exist in Indonesia. The aim of this study was to determine the suspects of mosquito vectors and the density of mosquitoes in endemic areas, so we can establish the best interventions for vector control in the location. The research was held in Siayuh (Trans) village, Bungkukan Sub District of Kotabaru Regency in February 2015. The activities are mosquito’s collection (adult and larvae), mosquito identification, environmental survey and PCR test. Mosquito’s night collection was done by indoor and outdoor human landing collection method and rest collection in wall and cattle. The result of mosquito’s collection in Siayuh (Trans) village was 8 species of Anopheles spp.. The highest percentage was Anopheles tesselatus (56%) followed by An. vagus(14%), An. kochi (11%) and An. hyrcanus group (9%). Diverse species, abundance and high density of mosquitoes in Siayuh (Trans) village was due to the geographical conditions of the village, it surrounded by marsh and many limestone puddles as a breeding habitat of Anopheles spp.. Anopheles spp. were found in Siayuh (Trans) village and it tend to be zoophilic, bite and resting out of the house, especially in the cattle, itmakes the activities of people around the cattle at night cause a higher risk for Malaria transmission.Keywords: Anopheles, vector, Malaria, KotabaruAbstrak. Hasil Riset Kesehatan Dasar tahun 2010, prevalensi Malaria di Indonesia 0,6% dan merupakan penyebab kematian ke‐6 pada penyakit menular. Malaria ditularkan oleh nyamuk Anopheles spp, sekitar 70 spesies Anopheles spp. telah teridentifikasi sebagai vektor Malaria di dunia, 24 spesies di antaranya ada di Indonesia. Tujuan penelitian untuk mengetahui spesies dan kepadatan tersangka nyamuk vektor Malaria di daerah endemis Desa Siayuh (Trans) Kecamatan Bungkukan Kabupaten Kotabaru. Kegiatan dilakukan pada bulan Februari 2015 yaitu penangkapan nyamuk dewasa dan pradewasa, identifikasi nyamuk, survei lingkungan dan uji PCR. Kegiatan penangkapan nyamuk dilakukan sepanjang malam dengan metode Umpan Orang Dalam (UOD), Umpan Orang Luar (UOL), resting dinding dan kandang ternak. Hasil penelitian yaitu ditemukan 8 spesies Anopheles spp. dengan persentase tertinggi Anopheles tesselatus (61,51%) diikuti oleh An. vagus (11,36%), An. kochi (9,15%) dan An. hyrcanus gr (6,94%). Keanekaragaman spesies, kelimpahan dan kepadatan nyamuk yang tinggi di Desa Siayuh (Trans) akibat kondisi geografis desa yang dikelilingi rawa dan banyaknya genangan air akibat kobakan batu kapur yang menjadi tempat perkembangbiakan Anopheles spp. Nyamuk Anopheles spp. yang ditemukan di Desa Siayuh (Trans) cenderung bersifat zoofilik dan lebih banyak ditemukan menggigit dan istirahat di luar rumah khususnya kandang sehingga aktivitas warga di sekitar kandang ternak pada malam hari menjadi risiko bagi penularan Malaria.Kata Kunci: Anopheles, vektor, Malaria, Kotabar

    Analisis Spasial Sebaran Demam Berdarah Dengue di Kota Tasikmalaya Tahun 2011 – 2015

    No full text
    Abstract. Tasikmalaya is one of the DHF endemic area in West Java. In 2012 Tasikmalaya Government set the status of DHF Outbreak. DHF cases spread across Sub District. The purpose of this research is to recognize the spread of DHF incident in Tasikmalaya, so it can be used by surveillance in reducing the number of dengue cases. Efforts to reduce the number of dengue fever cases are by increasing surveillance knowledge about analysis of surveillance data. This research used cross-sectional design and spatial analysis of dengue cases in Tasikmalaya (2011 – 2015) using autocorrelation method of Moran index and nearest neighbour analysis. The research was conducted in Tasikmalaya, West Java. Research is carried out for 3 months in 2016. The result showed that DHF distribution showed positive spatial autocorrelation in every year from 2011 to 2015. The pattern of spread of dengue cases is cluster (occurs in clumps). So the areas where cases clustered occured are areas that are susceptible to dengue disease.Keywords: Moran index, DHF, spatial distributionAbstrak. Kota Tasikmalaya merupakan salah satu wilayah endemis DBD di Provinsi Jawa Barat, pada tahun 2012 Pemerintah Kota Tasikmalaya menetapkan status Kejadian Luar Biasa (KLB) Demam Berdarah Dengue (DBD). Kasus DBD tersebar di seluruh kecamatan. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui persebaran kasus DBD di Kota Tasikmalaya, sehingga dapat dimanfaatkan oleh surveilans dalam menekan angka kasus DBD. Upaya untuk menekan angka kasus DBD diantaranya dengan peningkatan pengetahuan sumber daya manusia tentang analisis data surveilans. Desain penelitian menggunakan cross-sectional dan analisis spasial kasus DBD di Kota Tasikmalaya Tahun 2011 – 2015 menggunakan metode autokorelasi indeks Moran dan analisis nearest neighbour. Penelitian dilakukan di Kota Tasikmalaya Provinsi Jawa Barat. Penelitian dilakukan selama 3 bulan di tahun 2016. Hasil yang didapatkan yaitu persebaran DBD menunjukkan adanya autokorelasi spasial positif pada setiap tahun dari tahun 2011-2015. Pola sebaran kasus DBD adalah cluster (terjadi secara mengelompok). Sehingga wilayah-wilayah yang terjadi pengelompokan (cluster) kasus merupakan daerah yang rentan terhadap penyakit DBD.Kata Kunci: Indeks Moran, DBD, distribusi spasia

    Tingginya angka kecacingan pasca pengobatan massal filariasis (dec dan albendazole) di SDN Juku Eja Pagatan

    No full text
    Abstract.Helminthiasis considered as "neglected diseases" because it doesn’t induce mortality, but impact on the human resources that can lead to "lost generation. The results of the study in 2008, found the prevalence of worm infection in Sekolah Dasar Negeri Juku Eja > 50% where the study was conducted at 3 months post-mass drug administration in it. Required periodic inspections to determine the update status of worm infection in SDN Juku Eja. Descriptive study with cross sectional design was held in SDN Juku Eja Pagatan Kusan Hilir subdistrict in February 2016 (four months after mass drug administration of filariasis in Tanah Bumbu. Population were all students (grades 1-6) SDN Juku Eja Pagatan were given sample pot as many as 170 students and sample were 123 students who collected pots contained by stool samples and examined using direct/native method. 102 positive samples (82.93%) consists of Ascaris lumbricoides, Trichuris trichiura, Hookworm, Hymenolepis nana, Hymenolepis diminuta and Enterobius vermicularis. The high prevalence of helminthiasis in SDN Juku Eja riddling civil disobedience in consuming filariasis mass drug or albendazole dose is not able to heal helminthiasis due to the high intensity of helminthiasis.Keywords: helminthiasis, control program, mass drug administrationAbstrak.Kecacingan dianggap sebagai penyakit yang diabaikan karena tidak menyebabkan kematian, meskipun demikian kecacingan berdampak pada penurunan sumber daya manusia yang dapat menyebabkan hilangnya generasi. Hasil penelitian tahun 2008, menemukan angka prevalensi kecacingan di SDN Juku Eja > 50%, penelitian dilakukan pada 4 bulan pasca pemberian obat cacing massal di SD tersebut. Diperlukan pemeriksaan berkala untuk mengetahui status kecacingan di SDN Juku Eja saat ini. Penelitian deskriptif dengan desain cross sectional dilakukan di SDN Juku Eja Pagatan Kecamatan Kusan Hilir pada Februari 2016 (empat bulan pasca dilakukannya pembagian obat massal kecacingan (filariasis) di Kabupaten Tanah Bumbu. Kegiatan yang dilakukan yaitu pemeriksaan sampel kecacingan menggunakan metode direct/langsung. Populasi adalah seluruh siswa (kelas 1-6) SDN Juku Eja Pagatan yang dibagikan pot tinja sebanyak 170 siswa dan sampel sebanyak 123 siswa yang mengumpulkan pot berisi sampel tinja untuk diperiksa, 102 sampel positif kecacingan (82,93%) terdiri atas Ascaris lumbricoides, Trichuris trichiura, Hookworm, Hymenolepis nana, Hymenolepis diminuta dan Enterobius vermicularis. Tingginya prevalensi kecacingan di SDN Juku Eja memunculkan dugaan ketidakpatuhan masyarakat dalam mengkonsumsi obat massal filariasis atau dosis albendazole yang dikonsumsi tidak mampu menyembuhkan infeksi kecacingan dikarenakan tingginya intensitas dan tingkat infeksi cacing yang diderita selain kemungkinan terjadinya reinfeksi pasca pengobatan.Kata kunci: kecacingan, program pengendalian, pembagian obat massa

    PERIODISTAS NON PERIODIK Brugia Malayi DI KABUPATEN TABALONG

    No full text
    Filariasis (elephantiasis) is a chronic infectious disease caused by microfilaria worm.  The disease attacks tract and lymph nodes, generates the lymphatic system damage and leads to lifelong disability. Based on re-SDJ investigation in 2014 located in Bilas Village, Tabalong Regency that 24 people were positive for filariasis. Even though the mass treatment of filariasis has been conducted for 5 years, however the results remain ineffective. The aim of study was to observe the periodicity of the worm in order to anticipate filariasis. The periodicity study was performed to people with positive microfilaria. Blood sample was collected from at 09.00 am. to 08.00 pm. The Aikat and Das formula was used to analyse the periodicity of the worm. The results revealed that the highest density of microfilaria was 8,583 per 60 µl and the lowest density was 1,583 per 60 µl. The F count of four patients in Bilas Village was smaller than F theory, so that it was categorized as a non-periodic. In addition, the non-periodic features was also showed from the density variation of non circadian microfilaria (F). It can be concluded  that the awareness of mosquitoes vector attacking either day or night is fundamentally needed.     

    PENGARUH ETHYLENEDIAMINETETRAACETIC ACID (EDTA) TERHADAP PRODUKTIVITAS DAN PERKEMBANGAN Aedes aegypti DENGAN MEMBRAN BLOOD FEEDING

    No full text
    Membrane blood feeding is  an alternatif  of  mosquito blood feeding method to substiute guinea pig blood. Hemotex system is used for this method. Ethylenediaminetetraacetic Acid (EDTA) anticoagulant is chemical compound used to prevent the blood clotting process. The effectivity of EDTA applied in various doses  on the total egg, mortality rate of mosquito and remains a question. Mosquitoes were  fed with  various dose of cow’s blood i.e. 6, 7 and 8 mL / ml. The blood of guinea pig was used as a control. As mosquito control given guinea pig blood. Parameters measured were total egg, egg fertility, pupae appearance, mortality of larvae and pupae, , the metamorphosis failure from pupae to adult mosquitoes and mortality of adut mosquito. The results demonstrated that variation dose of EDTA had positive colleralition to total eggs produced. The total number of eggs produced was3210, 1310, 1437 and 1529 grains for  control,  6, 7 and 8 μl / ml of EDTA dose, respectively. . However, the variation of EDTA dose did not affect the fertility of eggs, mortality of larvae and pupae, the metamorphosis failure from pupae to adult mosquitoes and mortality of adult mosquitoes. Membran blood feeding merupakan salah satu aplikasi pemberian darah pada nyamuk sebagai ganti pemberian darah marmut. Dalam aplikasi membran blood feeding digunakan sistem hemotex. Ethylenediaminetetraacetic Acid (EDTA) merupakan salah satu antikoagulan yang dapat digunakan untuk proses pencegahan pembekuan darah. Belum banyak diketahui pengaruh variasi dosis EDTA terhadap total telur, kematian nyamuk dan perkembangan stadium pradewasa Ae. aegypti. Nyamuk diberi darah sapi yang telah diberi EDTA dengan dosis 6, 7 dan 8 µl/ml. Sebagai kontrol nyamuk yang diberikan darah marmut. Parameter yang diamati adalah total telur, fertilitas telur, kematian jentik, kematian pupa, kegagalan pupa jadi nyamuk dan kematian nyamuk. Berdasarkan analisa ada pengaruh variasi dosis EDTA terhadap total telur yang dihasilkan. Total telur yang dihasilkan pada kontrol dan dosis EDTA 6,7 dan 8 µl/ml adalah 3210, 1310, 1437 dan 1529 butir. Variasi dosis EDTA tidak berpengaruh terhadap fertilitas telur, kemunculan pupa, kematian jentik, kematian pupa, kegagalan pupa jadi nyamuk dan kematian nyamuk

    Pemeriksaan Malaria Sebelum dan Sesudah Pemasangan Kelambu LLIN di Desa Sendangsari dan Desa Kalitapas, Kecamatan Bener, Kabupaten Purworejo, Provinsi Jawa Tengah

    No full text
    AbstractPurworejo regency was the only district in Central Java, which has areas of Middle Case Incidence (MCI) of malaria. The objectives of the descriptive study were to know the type and stage of malaria parasites, occurrence of indigenous transmission and effect of Long Lasting Insecticides Nets (LLIN)on malaria cases in Sendangsari and Kalitapas village, from May to October 2015. Blood samples of malaria patients were examined before and after using the LLIN and the blood samples were tested by conventional methods of blood thick and thin smear of blood fingertip. The results showed that slide positivity rate, was 7.69% before using insecticide mosquito nets and 1.5% after using insecticide mosquito nets and the stage of malaria parasite was gametocytes in children aged 2-4 years old. Based on parasite stage in young patient, a local transmission had occurred. Although the number of cases before and after usage of LLIN was declined, but it could be influenced by other vector control instead of LLIN,which were distributed by Purworejo District Health Service.Keywords: Malaria, Mass Blood Survey, LLIN, PurworejoAbstrakKabupaten Purworejo merupakan satu-satunya kabupaten di Jawa Tengah yang memiliki daerah MCI malaria. Adapun penelitian deskriptif ini bertujuan untuk mengetahui jenis dan stadium parasit malaria, adanya penularan lokal, serta dampak kelambu berinsektisida pada kasus malaria di Desa Sendangsari dan Kalitapas dari bulan Mei sampai dengan Oktober 2015. Pengambilan darah penduduk penderita malaria telah dilakukan sebelum dan sesudah pemasangan kelambu LLIN. Pemeriksaan dan pengambilan darah Mass Blood Survey, dilakukan dengan metode konvensional darah tebal dan darah apus tipis yang diambil dari ujung jari. Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa Slide Positivity Rate sebesar 7,69% sebelum dilakukan pemasangan kelambu LLIN dan 1,50% setelah dilakukan pemasangan kelambu LLIN. Parasit malaria yang ditemukan adalah Plasmodium falciparum, dan parasit malaria stadium gametosit pada anak umur 2-4 tahun, sebelum dilakukan pemasangan kelambu berinsektisida. Berdasarkan stadium parasit dan umur penderita yang masih muda (belum beraktivitas keluar rumah) telah terjadi penularan lokal. Apabila dilihat dari jumlah kasus sebelum dan setelah pemasangan kelambu LLIN terjadi penurunan. Tetapi tidak menutup kemungkinan pengaruh pengendalian vektor lain selain kelambu LLIN yang dilakukan Dinas Kesehatan setempat, mendukung terjadinya penurunan kasus.Kata kunci : Malaria, Pemeriksaan Darah Masal, LLI

    Ekspresi IFN-Γ oleh Sel T CD4+ dan CD8+ Setelah Stimulasi Antigen Fusi ESAT-6- CFP-10 pada Pasien Tuberkulosis Paru Aktif

    No full text
    AbstractTuberculosis (TB) remains a major global health problem. T-cells mediated immunity contribute to protection from Mycobacterium tuberculosis infection. CD4+ and CD8+ T-cells secreted interferon gamma (IFN-γ) to stimulate fusion of phagolyzosome and produce free radicals for killing mycobacteria. Early secretory antigenic target 6 kD(ESAT-6) and culture filtrate protein 10(CFP-10) are dominant M. tuberculosis antigens in inducing IFN-γ. This study compared CD4+ and CD8+T-cells expressing IFN-γ with and without ESAT-6- CFP-10 fusion antigen stimulation in active tuberculosis patients. Peripheral blood mononuclear cellsfrom active TB patients were cultured with and without ESAT-6-CFP-10 fusion antigen. CD4+ and CD8+ T-cells expressing IFN-γ were examined using flow cytometry.CD4+ T-cells expressing IFN-γ after antigen stimulation compare to controls(1.51%±1.7 vs 1.23%±0.86; p=0.08),and CD8+ T-cells (1.58%±0,99 vs 1.92%±1.13; p=0.86).CD4+ and CD8+T-cells expressing IFN-γ after antigen stimulation (1.51%±1.7 vs 1.58%±0,99; p=0.94).There were no significant differences of CD4+ and CD8+T-cells expressing IFN-γ after ESAT-6-CFP-10 fusion antigen stimulation in active pulmonary tuberculosis patients.Key word: CD4+, CD8+, IFN-γ, ESAT-6-CFP-10 fusion antigenAbstrakTuberkulosis masih menjadi masalah kesehatan di dunia. Imunitas yang diperantarai sel T berperan penting dalam perlindungan terhadap infeksi Mycobacterium tuberculosis. SelTCD4+ dan CD8+ mensekresi IFN-γ yang menstimulasi fusi fagolisosom dan pembentukan radikal bebas untuk menghancurkan M. tuberculosis. ESAT-6 dan CFP-10 merupakan antigen M. tuberculosis yang dominan menginduksi IFN-γ. Penelitian membandingkan selT CD4+ dan CD8+ yang mengekspresikan IFN-γ setelah stimulasi antigen fusi ESAT-6-CFP-10 pada TB aktif.Sampel PBMC pasien TB aktif dikultur dengan dan tanpa stimulasi antigen fusi ESAT-6-CFP-10. Persentase sel TCD4+ dan CD8+ yang mengekspresikan IFN-γ diperiksa dengan flow cytometry. Sel TCD4+ yang mengekspresikan IFN-γ setelah stimulasi antigen dibandingkan dengan kontrol (1,51%±1,7 vs 1,23%±0,86; p=0,08) dan sel TCD8+ yang mengekspresikan IFN-γ(1,58%±0,99 vs 1.92%±1.13; p=0,86). Tidak terdapat perbedaan yang signifikan dalam ekspresi IFN-γ antara sel T CD4+ dan sel T CD8+ setelah stimulasi antigen fusi ESAT6-CFP10 pada pasien TB paru aktif.Kata kunci: Sel T, CD4+, CD8+, IFN-γ, antigen fusi ESAT-6 dan CFP-1

    Back Metter

    No full text

    Faktor yang Berhubungan dengan Kejadian Malaria pada Ibu Hamil di Indonesia

    No full text
    Malaria is an infectious disease caused by a parasite called Plasmodium. It has been the main concern of health problem in Indonesia, especially to the high-risk groups; the infants, under-five-years-old children and pregnant women. If a pregnant woman is infected to malaria, it might affect the pregnancy and cause abnormalities to the baby. This analysis is aimed to determine the factors associated with malaria among pregnant women in Indonesia. The data which used for this research is taken from National Basic Health research (Riskesdas) 2013 and the samples are all of pregnant women who’schosen as the respondents in Riskesdas 2013. The data was analyzed using binary logistic regression analysis and backward elimination method. The result shows that the factors associated with malaria among pregnant women in Indonesia are health monitoring of pregnant women by midwives which implemented in the possessing of KIA book, the usage of electric/coil mosquito repellent when sleeping in the night, the economic status, and the presence of midwives/maternity hospital. The lower the economic status of pregnant women, the higher the risk they tend to get infected with malaria. Pregnant women are advised to check their health status routinely and avoid contact with the vectors of malaria, by using mosquito repellent at night. Abstrak Malaria merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh parasit Plasmodium dan menjadi masalah kesehatan di Indonesia terutama pada kelompok risiko tinggi, yaitu bayi, anak balita, dan ibu hamil. Ibu hamil yang terinfeksi malaria akan berpengaruh pada proses kehamilan dan kelainan pada bayi yang dilahirkan. Analisis ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian malaria pada ibu hamil di Indonesia. Data yang digunakan adalah data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2013. Sampel dalam analisis ini adalah seluruh ibu hamil yang terpilih menjadi responden Riskesdas 2013. Data dianalisis dengan menggunakan analisis regresi logistik biner dengan metode backward elimination. Hasil analisis menunjukkan bahwa faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian malaria pada ibu hamil di Indonesia yaitu pemantauan kesehatan ibu hamil oleh bidan yang diwujudkan dalam kepemilikan buku Kesehatan Ibu Anak (KIA), pemakaian obat nyamuk bakar/elektrik ketika tidur malam, status ekonomi ibu hamil, dan kemudahan akses ibu hamil ke praktik bidan/rumah sakit bersalin. Semakin rendah status ekonomi ibu hamil cenderung memiliki risiko yang lebih besar untuk terkena malaria. Ibu hamil disarankan memeriksakan kesehatannya secara rutin dan menghindari kontak dengan vektor penyebab malaria seperti dengan menggunakan obat nyamuk ketika tidur malam.

    439

    full texts

    4,975

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    e-Journal Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan / National Institute of Health Research and Development
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇