e-Journal Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan / National Institute of Health Research and Development
Not a member yet
4975 research outputs found
Sort by
Pengaruh Penyuluhan HIV/AIDS terhadap Pengetahuan dan Sikap Tentang HIV/ AIDS Mahasiswi Akademi Kebidanan Banjarbaru Tahun 2016
AbstractThe incidence of HIV/AIDS is a global problem that is still unresolved, including in Banjarbaru, Indonesia. The highest cases occurred in the age group of 20-49 years indicating they are already HIV positive adolescence (15-25 years). The cause of the high incidence of HIV/AIDS among adolescents is influenced by many things including their lack of knowledge about HIV/AIDS. This study aims to determine the effect of counseling to the knowledge and attitude on Banjarbaru Midwife Academy Students. This study uses a quantitative method with pre-experimental research design. A total sample of 40 people taken by quota sampling. The results show the number of students who have good knowledge increased after being given counseling, from 35% to 70%. In addition, the number of students who have a good attitude after being given counseling increased, from 87.5% to 100%. The conclusion of this study is counseling about HIV/AIDS can affect Banjarbaru Midwife Academy Students’ knowledge and attitude by 4.206 and 4.206 times, respectively.Keywords: HIV/AIDS, students, counselingAbstrakKejadian HIV/AIDS merupakan permasalahan global yang hingga saat ini masih belum terselesaikan, termasuk di Banjarbaru, Indonesia. Kasus tertinggi terjadi pada kelompok umur 20-49 tahun yang mengindikasikan pada usia remaja (15-25 tahun) mereka sudah mengidap HIV. Penyebab tingginya kejadian HIV/AIDS pada remaja dipengaruhi banyak hal diantaranya kurangnya pengetahuan mereka tentang HIV/AIDS. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penyuluhan terhadap pengetahuan dan sikap mahasiswi Akademi Kebidanan Banjarbaru. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain penelitian pre-eksperimental. Jumlah sampel sebanyak 40 orang yang diambil secara quota sampling. Hasil penelitian menunjukkan jumlah mahasiswi yang berpengetahuan baik meningkat setelah diberikan penyuluhan, dari 35% menjadi 70%. Selain itu, jumlah mahasiswi yang memiliki sikap yang baik meningkat setelah diberikan penyuluhan, dari 87,5% menjadi 100%. Kesimpulan dari penelitian ini adalah penyuluhan tentang HIV/AIDS dapat mempengaruhi pengetahuan mahasiswi Akademi Kebidanan Banjarbaru sebesar 4,206 kali dan sikap sebesar 4,206 kali.Kata kunci: HIV/AIDS, mahasiswi, penyuluha
Efek Beauveria bassiana pada Anopheles maculatus Fase Aquatik di Laboratorium
AbstractBeauveria bassiana can be used both as for controlling agricultural insect and protecting health. Thisstudy aims to examine the effects of aquatic phase of B. bassiana on An. maculatus in the laboratory.Samples were eggs and larvae of An. maculatus reared from Banjarnegara colony. Eggs and instarlarvae II, III and IV and their control which consisted of 10 larvae/eggs were replicated six times andcontacted to B. bassiana spores for 15 minutes and then transferred to aquades to be maintained forobservation, in every 24 hours as long as 192 hours (8 days). Probit analysis found that applicationof B. bassiana caused damage of external coat of eggs and inhibited >60% of unhatched eggs. Lethaldosage was dosage spores of 1,713x107 (16 days), whereas the lethal dose required to make 50% ofunperached eggs is a dose of spore concentration of 1,361x107 (11.6 days). Higher concentrationswill be needed to know the faster effects B bassiana on An. maculatus larvae or eggs.Key words: Beauveria bassiana, Anopheles maculatus, aquatic phase, laboratory AbstrakBeauveria bassiana dapat digunakan baik sebagai pengendali serangga pertanian maupun kesehatan.Penelitian ini bertujuan mengkaji efek B. bassiana terhadap An. maculatus pada fase akuatik dilaboratorium. Sampel uji berupa telur dan larva An. maculatus dari koloni Banjarnegara. Telur danlarva instar II,III dan IV serta kontrol masing-masing sebanyak 10 ekor/butir dengan replikasi 6 kalidikontakkan dengan spora B. bassiana selama 15 menit dan selanjutnya dipindahkan ke aquadesuntuk dipelihara untuk dilakukan pengamatan, pengamatan dengan mikroskop compound terutamapada larva yang lemah/mati setiap 24 jam selama 192 jam (8 hari). Analisis probit membuktikanbahwa aplikasi B. bassiana pada telur menimbulkan efek kerusakan pada lapisan luar telur diketahuidari pengamatan dengan mikroskop serta mampu menghambat >60% telur tidak menetas. Simulasidengan análisis probit menunjukkan lethal dose yang dibutuhkan untuk membunuh 50% larva uji(instar II,III maupun IV) adalah dosis konsentrasi spora 1,713x107 (16 hari), sedangkan lethal doseyang dibutuhkan untuk membuat 50% telur tidak menetas adalah dosis konsentrasi spora 1,361x107(11,69 hari). Dibutuhkan konsentrasi yang lebih tinggi untuk mempercepat efek B. bassiana terhadaplarva maupun telur An. maculatus.Kata kunci : Beauveria bassiana, Anopheles maculatus, aquatik, laboratoriu
Antibiotik Golongan Fluorokuinolon: Manfaat dan Kerugian
Fluoroquinolones are broad spectrum antibiotics used widely to treat many infections, from urinary tractinfections to anthrax. In 2012 – 2014, ciprofloxacin, one of the family of fluoroquinolones was the thirdmost widely prescribed both in hospitals and Primary Health Cares in Indonesia. Fluoroquinolones aretoxic and have more side effects than other antibiotics, if they are not used accordingly. It can causepermanent injuries and even death.The aim of this study is to review the benefits and side effects offluoroquinolone antibiotics therefore it can give the information to people and relevant institution in the used of fluoroquinolone antibiotic. The method used is to review literatures of fluoroquinolone antbioticfrom national and international journal regarding the benefits and the side effects fluoroquinoloneantibiotic. The study describes list of fluoroquinolones antbiotic, use, mechanism, side effects, resistance.Results: Fluoroquinolones have very narrow safety profile, that is rarely obeyed. They are safe in thelow doses and short course but for long treatment or high doses, can cause the side effects. The sideeffects of fluoroquinolones are gastrointestinal disturbance, CNS toxicity, kidney injury, visual effects,skin reactions, liver injury, atrophy and tendinitis, cardiac toxicity, hematologic syndrome, immunereactions, metabolic syndrome, teratogenicity. Conclusion: Because of the side effects, fluoroquinolone,must be used carefully, it should only be perscribed for severe life-threatening, Multi Drug Resistanceor failed treatment with other antibiotics or to treat bacterial infection that has good response withfluoroquinolones.Keywords: antibiotic, fluoroquinolones, use, side effects AbstrakFluorokuinolon merupakan suatu antibiotik berspektrum lebar yang digunakan secara luas untuk terapi berbagai infeksi, mulai dari infeksi saluran urin hingga antraks. Selama tahun 2012 sampai 2014,siprofloksasin, salah satu golongan fluorokuinolon, merupakan antibiotik ketiga yang paling banyak diresepkan baik di Puskesmas maupun di Rumah Sakit di Indonesia. Fluorokuinolon bersifat toksik mempunyai efek samping yang lebih berat dari antibiotik lain, menimbulkan kerusakan permanen bahkan kematian jika tidak digunakan secara tepat. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengkaji manfaat dan kerugian antibiotik fluorokuinolon sehingga dapat memberikan informasi kepada masyarakat daninstansi terkait tentang penggunaan antibiotik ini. Metoda yang digunakan adalah melakukan kajian literatur dari jurnal nasional dan internasional tentang manfaat dan efek samping antibiotik fluorokinolon.Kajian ini menguraikan tentang jenis fluorokuinolon, penggunaan, mekanisme kerja, efek samping, dan resistensi. Hasil: Fluorokuinolon mempunyai rentang keamanan yang sangat sempit dan sering tidak dipatuhi. Obat ini aman dalam dosis rendah dan penggunaan singkat namun untuk dosis tinggi atau pemakaian waktu lama dapat menimbulkan efek samping. Efek samping yang ditimbulkan adalah gangguan pencernaan, gangguan SSP, gangguan ginjal, gangguan penglihatan, gangguan kulit,gangguan hati, atropi dan tendinitis, gangguan kardiovaskular, gangguan hematologi, reaksi imunologi,gangguan metabolik, dan teratogenik. Kesimpulan: Oleh karena efek samping yang ditimbulkan,penggunaan fluorokuinolon harus dilakukan secara sangat hati-hati, hanya digunakan untuk infeksi berat yang mengancam kehidupan, Multi Drug Resistance atau gagal terapi dengan antibiotik lain atau infeksi bakteri yang mempunyai respons baik dengan fluorokuinolon.Kata kunci: antibiotik, fluorokuinolon, penggunaan, efek samping
Potensi Umbi Gadung (Dioscorea hispida) dan Daun Zodia (Euodia suaveolens) sebagai Insektisida Nabati
Dengue hemorrhagic fever (DHF) is a disease with a high rate incidence in Indonesia. In some areas of Aedes aegypti which is the vector of dengue is currently indicated resistance to insecticides. The development of technology requires industry and researchers to studying insecticide research utilizing natural materials, such as yam and zodia. Yam contains diascorin, while zodia contains evodiamine and rutaecarpine, all three off these substances can be used as an insecticide. The way to obtain such materials by extraction with maceration method used ethanol 70%. In this study conducted two tests, namely larvacide test and repellent test. The dose used to the test the repellent concentration of 100%, to test the concentration used for larvacide were 50%; 25%; 12.5%; 6.25%; 3.12%, and 1.56%. Based on the results of research: zodia as a repellent dose of 100 % able to reject 88.6% of mosquito bites of Aedes aegypti for about 1 hour, 88.2% for 2 hours; 84.5% for 3 hours; 80% for 4 hours; 77.1% for 5 hours; and 73.5% for 6 hours. Extract of yam repellent concentration of 100% able to reject 61.2% of mosquito bites for 1 hour; 42.2% for 2 hours; 39.2% for 3 hours; 31.2% for 4 hours; 28.4% for 5 hours; and 26.3% for 6 hours. Extract zodia as larvicides have LC50 LC90 0.194% and 0.628%, while the yam tuber extract LC50 0.585% and LC90 1.494%. It can be concluded yam tuber extract and zodia leaf extract has potential as nabati pesticide, namely as larvacide. However zodia extract more potential as a repellent than yam tuber. Abstrak Penyakit demam berdarah dengue (DBD) masih merupakan penyakit dengan incidence rate yang tinggi di Indonesia. Pada beberapa daerah, Aedes aegypti yang merupakan vektor DBD saat ini diindikasikan resisten dengan insektisida. Perkembangan teknologi menuntut industri dan peneliti mendalami riset insektisida yang lebih memanfaatkan bahan alam, diantaranya gadung dan zodia. Gadung mengandung diaskorin, sedangkan zodia mengandung evodiamine dan rutaecarpine. Ketiga zat tersebut bisa dimanfaatkan sebagai insektisida. Cara memperoleh bahan tersebut dengan ekstraksi. Zodia dan gadung diekstrak dengan metode maserasi, pelarut etanol 70%. Pada penelitian ini dilakukan dua pengujian, yaitu uji larvasida dan uji daya tolak. Dosis yang digunakan untuk uji daya tolak konsentrasi 100%, untuk uji larvasida konsentrasi yang digunakan 50%; 25%; 12,5%; 6,25%; 3,12% dan 1,56%. Berdasarkan hasil penelitian: ekstrak Euvodia graveolens/zodia (daun) konsentrasi 100% sebagai repelan mampu menolak 88,6% gigitan nyamuk Aedes aegypti selama 1 jam; 88,2% selama 2 jam; 84,5% selama 3 jam; 80,0% selama 4 jam, 77,1% selama 5 jam; dan 73,5% selama 6 jam. Ekstrak umbi gadung untuk repelan konsentrasi 100% mampu menolak 61,2% gigitan nyamuk selama 1 jam; 42,2% selama 2 jam; 39,2% selama 3 jam; 31,2% selama 4 jam; 28,4% selama 5 jam, dan 26,3% selama 6 jam. Ekstrak zodia sebagai larvasida mempunyai LC50 0,194% dan LC90 0,628%, sedangkan ekstrak umbi gadung LC50 0,585% dan LC90 1,494%. Sehingga dapat disimpulkan ekstrak umbi gadung dan ekstrak daun zodia berpotensi sebagai insektisida nabati, yaitu sebagai larvasida. Namun ekstrak zodia lebih berpotensi sebagai repelan.
Biochemical characterization of insecticide resistance and exposure in Aedes aegypti population from Wonosobo (a new highland Dengue endemic area), Central Java, Indonesia
Latar Belakang: Resistensi terhadap insektisida terutama terjadi karena adanya perubahan pada enzim metabolik serangga. Enzim metabolik yang sering berperan dalam kejadian resistensi antara lain adalah esterase dan monooksigenase. Metode: Uji kerentanan dan uji biokimia untuk mendeteksi resistensi terhadap malation dan cypermetrin dilakukan pada Aedes aegypti dari Wonosobo (daerah endemis baru infeksi Dengue di dataran tinggi). Uji coba yang dilakukan pada generasi F1 nyamuk Ae.aegypti yang tertangkap di lapangan bertujuan untuk mengetahui mekanisme resistensi berdasarkan aktivitas dua enzim detoksifikasi yaitu esterase dan monooksigenase. Wawancara dengan menggunakan kuesioner terstruktur dilakukan untuk mengetahui penggunaan insektisida oleh masyarakat dan pemerintah daerah. Hasil: Uji kerentanan menunjukkan mortalitas sebesar 23,4% setelah terpapar malathion 0,8% dan 46,7% setelah terpapar cypermethrin 0,05%. Hasil uji biokimia menunjukkan bahwa aktivitas esterase dan monooksigenase cenderung meningkat pada Ae.aegypti di Wonosobo. Wawancara dan kuesioner menyimpulkan bahwa cypermetrin adalah satu-satunya golongan insektisida yang digunakan dalam program pengendalian vektor oleh Dinas Kesehatan Wonosobo dan merupakan tipe insektisida yang paling sering digunakan di rumah tangga oleh masyarakat Wonosobo untuk mengendalikan populasi Ae.aegypti. Kesimpulan: Ditemukan nyamuk Ae. aegypti yang mengalami peningkatan aktivitas enzim esterase dan monooksigenase pada populasi Ae. aegypti di Kabupaten Wonosobo. Hal ini selaras dengan status resistensi populasi nyamuk tersebut yang resisten terhadap Malation dan Cypermetrin. Kata kunci: Ae.aegypti Wonosobo, biokimia, paparan insektisida, resistensi Abstract Background: Resistance to insecticides mainly occurs due to changes in insect metabolic enzyme. A metabolic enzyme which was often involved in insecticide resistance is esterase and monooxygenase. Methods: Susceptibility test and biochemical assay to detect malathion and cypermethrin resistance were conducted on Aedes aegypti from Wonosobo (new highland Dengue endemic area). The test was performed on F1 generation of Ae.aegypti field caught mosquitoes which aimed to determine the resistance mechanisms regarding two detoxifying enzymes i.e. esterase and monooxygenase. Interview using structured questionnaires was conducted to investigate the usage of insecticide by the society and local government. Results: Susceptibility test showed 23.4 and 46.7% mortalities after exposure to 0.8% malathion and 0.05% cypermethrin. The biochemical assay result suggested that esterase, and monooxygenase activity tend to increase in Ae.aegypti in Wonosobo. Interview and questionnaires conclude that synthetic pyrethroid was the only insecticide type used in vector control program by Wonosobo Health Office and was the most frequent insecticide type to be used in household by Wonosobo society to control Ae.aegypti population.Conclusion: Aedes aegypti with increased esterase and monooxygenase activity were found in Wonosobo. This result was in line with the resistance status of Ae. aegypti population in Wonosobo which resistant to Malathion and Cypermethrin. Keywords: Ae.aegypti Wonosobo, biochemical, insecticide exposure, resistanc
Polymorphism Analysis of the Coagulase Gene in Isolates of Methicillin-Resistant Staphylococcus aureus with AluI Restriction Sites
Latar belakang: Analisis polimorfisme suatu gen penting dilakukan untuk memperoleh informasi lebih awal dalam identifikasi penanda genetik yang berhubungan dengan sifat yang ingin dilihat. Metode RFLP menjadi salah satu metode yang dipilih karena dapat melihat polimorfisme urutan DNA yang dapat dideteksi melalui adanya perbedaan fragmen DNA setelah dipotong dengan menggunakan enzim endonuclease tertentu sehingga mampu menggambarkan polimorfisme dari suatu gen. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui adanya polimorfisme gen coagulase S. aureus resisten methicillin. Metode: Penelitian yang dilakukan secara deskriptif pada 25 sampel. Isolatbakteri MRSA diidentifikasi menggunakan pemeriksaan bakteriologis dan PCR gen mecA dan coagulase dengan menggunakan primer spesifik. Analisis polimorfisme gen coagulase dengan situs restriksi AluI isolat S. aureus resisten methicillin dilakukan dengan menggunakan metoda PCR-RFLP. Hasil: Amplifikasi menunjukkan produk PCR (amplicon) gen mecA dan coagulase dengan primer spesifik ke 25 isolate bakteri MRSA mempunyai positivitas sebesar 100%. Hasil dari PCR-RFLP menunjukkan empat pola RFLP dengan situs restriksi AluI pada 25 isolat. Proposi terbesar (64%) pada pola RFLP I (pola yang tidak terdigesti enzim restriksi AluI). Kesimpulan: Terdapat polimorfisme isolate S. aureus resisten methicillin berdasarkan analisis gen coagulase. Kata kunci: Staphylococcus aureus,gen coagulase, PCR-RFLP, AluIBackground: Analysis of the polymorphism of a gene is important to obtain early information in identifying genetic markers related to the characteristics to be seen.The RFLP method becomes one of the chosen methods because it can see polymorphism that can be detected by using the different fragments of DNA that have been cut by using certain endonuclease enzyme so that it is possible to describe the polymorphism of a gene.The aim of the study is to discover the gene polymorphism of methicillin-resistant Staphylococcus aureus. Methods: This was a descriptive study using 25 isolates. Isolates of MRSA tested bybacteriological examination and PCR of mecA and coagulase gene using specific primers.Polymorphism analysis of the coagulase gene in isolates of methicillin-resistant Staphylococcusaureus with AluI Restriction Sites tested by PCR-RFLP. Results: The Amplification showed that PCR product (amplicon) of mecA and coagulase gene from specific primers of all 25 isolate samples, had a positivity of 100%.The PCR-RFLP of coagulase gene showed that all 25 samples underwent polymorphism into four RFLP patterns with AluI restriction sites. The largest proportion (64%) was found polymorphism in clinical samples MRSA with RFLP I pattern (un-digested pattern of AluI restriction enzyme). Conclusion: There is polymorphism in the samples MRSA from the analysis of the coagulase gene. Keywords: Staphylococcus aureus, coagulase gene, PCR-RFLP, AluI