e-Journal Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan / National Institute of Health Research and Development
Not a member yet
4975 research outputs found
Sort by
PERBANDINGAN IMT DAN INDIKATOR OBESITAS SENTRAL TERHADAP KEJADIAN DIABETES MELITUS TIPE 2 (DMT2) (Analisis data sekunder baseline studi kohor PTM di kelurahan Kebon Kalapa Bogor tahun 2011)
AbstractBackground: Several studies show that obesity is associated with risk of type 2 diabetes mellitus (T2DM). However, the most appropriate indicator of obesity measurement to predict the occurrence of T2DM is still varies.The purpose of the study is to identify whether indicator of general obesity or central obesity which has a more strong relationship to T2DM. Methods: Design of the study was a cross sectional using secondary data of the raw data of cohort study on non-communicable diseases risk factors, NIHRD 2011. The multivariate logistic regression is applied for analysis. Result:Statistical models show that there is no strength of correlations of BMI, WC and WHtR ratio with the occurrence of T2DM were not different. The Odds ratio values of BMI, LP, and LP/TB are 2.83, 2.70 and 2.49 respectively; with 95% CI value is coincided.Conclusion: The strength of association of the three indicators of obesity with T2DM after controlled by age, family history, hypertension, and physical activity are not much different. The use of appropriate indicators depends on the healthpractitioner’s decision based on the available resources.Keywords : T2DM, BMI, WC, WHtRAbstrakLatar belakang: Berbagai penelitian telah menunjukkan bahwa obesitas berkaitan dengan risiko terjadinya DM tipe 2 (DMT2). Namun indikator pengukuran obesitas yang paling tepat dalam memprediksi terjadinya DMT2 masih berbeda-beda. Tujuan penelitian untuk mengidentifikasiindikator pengukuran obesitas umum atau obesitas sentral yang lebih kuat hubungannya dengan kejadian DMT2. Metode : Desain penelitian ini potong lintang dengan menggunakan data sekunder dari data dasar studi kohor faktor risiko penyakit tidak menular (PTM) Badan Litbangkes RI tahun 2011. Analisis menggunakan regresi logistik ganda. Hasil : Kekuatan hubungan ketiga indikator obesitas yaitu IMT, LP dan rasio LP/TB terhadap terjadinya DMT2 tidak berbeda. Odds Ratio IMT 2,83 OR LP 2,70 dan OR LP/TB 2,49 dengan nilai 95 % CI yang berhimpitan. Kesimpulan : Kekuatan hubungan ketiga indikator obesitas terhadap terjadinya DMT2 setelah dikontrol faktor umur, riwayat keluarga, hipertensi dan aktifitas fisik tidak jauh berbeda. Maka dalam penggunaan indikator tersebut tergantung keputusan praktisi kesehatan sesuai sumber daya yang ada.Kata kunci : DMT2, IMT, LP, rasio LP/T
FAKTOR RISIKO KEJADIAN MALARIA PADA BALITA DI KECAMATAN LAURA KABUPATEN SUMBA BARAT DAYA
Kabupaten Sumba Barat Daya merupakan daerah dengan kasus malaria cukup tinggi dengan Annual Malaria Insidence (AMI) pada tahun 2007 sebesar 204,7‰ dan tahun 2008 sebesar 310‰. Malaria merupakan penyakit parasit yang ditularkan oleh nyamuk Anopheles sp dan dipengaruhi oleh kondisi lingkungan, hospes (manusia dan vektor), maupun agent. Malaria menyerang semua kelompok umur, salah satu kelompok umur yang rentan adalah balita. Tujuan penelitian untuk menganalisis faktor risiko kejadian malaria pada balita di Kecamatan Laura Kabupaten Sumba Barat Daya. Penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan desain cross sectional. Sampel penelitian adalah 95 orang tua balita yang positif malaria di Puskemas Rada Mata. Analisa meliputi Univariat, bivariat dan multivariate. Hasil menunjukkan lingkungan tidak berpengaruh terhadap kejadian malaria pada balita, faktor lingkungan terdiri dari keberadaan habitat perkembangbiakan, vegetasi dan kandang ternak di sekitar tempat tinggal responden dengan P ˃ 0,05. Sedangkan variabel yang berpengaruh terhadap kejadian malaria pada balita adalah Pengetahuan responden terhadap malaria pada balita dengan P = 0,000 (P ˂ 0.05) pada df 1, Sikap P = 0,008 (P ˂ 0,05) pada df 1 dan Perilaku P = 0,000 (P ˂ 0,05) pada df 1. Responden masih mempunyai kebiasaan yang beresiko untuk tertular nyamuk Anopheles seperti kebiasaan membersikan semak disekitar rumah, tidur menggunakan kelambu, penggunaan obat nyamuk bakar/oles dan kebiasaan menimbun genangan air serta kebiasaan bermain diluar rumah pada sore dan malam hari
EFIKASI Bacillus thuringiensis H-14 ISOLAT SALATIGA SEDIAAN BUBUK DAN CAIR TERHADAP JENTIK Culex quinquefasciatus
AbstrakFilariasis merupakan salah satu penyakit tular vektor yang masih menjadi masalah di Indonesia dengan prevalensi19%padatahun2009.SalahsatunyamukyangmenjadivektorfilariasisadalahCulexquinquefasciatus.Pengendalian nyamuk vektor dengan Bacillus thuringiensis H14 (Bt H14) isolat Salatiga sediaan cair dan bubukmerupakansalahsatucaramengendalikanfilariasissecarahayati.PenelitianinibertujuanuntukmenentukanefikasiBtH-14isolatSalatigasediaancairdanbubukterhadapCxquinquefasciatus.Penelitiandilakukan dengan membuat Bt H14 isolat Salatiga sediaan cair dan bubuk, menghitung jumlah sel dan spora pada masingmasing sediaan serta mengujikan pada jentik Cx. quinquefasciatus hasil pemeliharaan insektarium B2P2VRP Salatiga. Nilai kematian kemudian dianalisis menggunakan analisis Probit Hasil penelitian menunjukkan sediaan cair memiliki jumlah sel 1,55x108 sel/ml sedangkan sediaan bubuk 1,72x106 sel/g. Nilai LC90 Bt H14 sediaan cair dan bubuk terhadap Cx. quinquefasciatus berturutturut 0,056 ppm dan 10,94 ppm. Hal ini menunjukkan potensi keduanya dalam membunuh jentik Cx. quinquefasciatus sebagai vektorfilariasis.Kata kunci:Bacillusthuringiensis,cair,bubuk,efikasi,Culexquinquefasciatus,AbstractFilariasis as a vectorborne disease become a problem in Indonesia with prevalence of 19% in 2009. Culex quinquefasciatus is one of its vectors. Larvae control using Salatiga isolate of Bacillus thuringiensis H14 liquid andpowderpreparationsarefilariasismosquitocontrolmethod.Thisstudyaimedtodeterminetheefficacyof Bt H14 isolates Salatiga liquid and powder preparations against Cx. quinquefasciatus. The study was conducted by formulating Salatiga isolate Bt H14 liquid and powder preparation, cells and spores counting of Bt H14 in each preparation, and conducting the toxicity assay on Cx. quinquefasciatus larvae. The mortality was analyzed using Probit analysis. The results showed that liquid preparations had 1,55x108 cells/ml while the powder preparation had 1,72x106 cells/g. LC90 value of Bt H14 liquid and powder preparations against Cx. quinquefasciatus were respectively 0.056 ppm and 10.94 ppm. This shows the potential of both preparations in killing Cx. quinquefasciatuslarvaeasvectorsoffilariasis.Keywords: Bacillus thuringiensis,liquid,powder,efficacy,Culex quinquefasciatu
PERILAKU BERISIKO DAN PERMASALAHAN KESEHATAN REPRODUKSI PADA REMAJA
Latar belakang. Penelitian ini untuk mengetahui gambaran umum tentang perilaku remaja terkait dengan kesehatan reproduksi dan permasalahannya di Kota Makassar tahun 2009. Metode. Lokasi penelitian dilakukan di Kota Makassar, dengan sampel dipilih secara purposive oleh petugas puskesmas setempat yaitu remaja laki-laki dan perempuan berusia antara 10-24 tahun yang memiliki masalah kesehatan, sudah menikah atau pun belum menikah yang berada di wilayah kerja 4 puskesmas terpilih. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dalam pengumpulan data, yaitu dengan diskusi kelompok terarah (Focus Group Discussion) dan wawancara mendalam (indepth interview) terhadap 30 remaja yang terpilih menjadi sampel. Hasil. Ditemukan bahwa remaja menikah di usia muda disebabkan karena hamil sebelum menikah, sudah tidak bersekolah dan adanya adat istiadat dan budaya salah satu suku yang menjodohkan dalam satu suku tersebut untuk mempertahankan harta kekayaan keturunan. Sebagian remaja menganggap perilaku seksual pranikah adalah biasa walaupun di sisi yang lain mereka mengakui bahwa hal tersebut adalah tidak benar, berdosa atau dilarang agama. Sebagian besar remaja mengetahui cara menghindari kehamilan yaitu dengan menggunakan alat kontrasepsi dan mengakhiri kehamilan dengan cara tradisional. Banyak remaja pria mengaku sudah biasa melakukan hubungan seksual dengan beberapa orang dengan alasan untuk mencari kesenangan. Perilaku menonton video atau melihat situs khusus dewasa melalui internet sudah dianggap biasa oleh remaja. Kesimpulan. Masih rendahnya pengetahuan remaja tentang kesehatan reproduksi termasuk penyakit menular seksual. Sebaliknya mereka mengetahui tentang penggunaan alat kontrasepsi dan cara-cara pengguguran kehamilan secara tradisional. Dalam berpacaran remaja mengaku biasa melakukan kontak fisik langsung seperti berpegangan tangan, berpelukan, berciuman dan aktivitas yang dapat mendorong kepada tindakan yang lebih jauh, seperti hubungan seksual. Penyuluhan dan konseling tentang kesehatan reproduksi sangat penting untuk mengurangi masalah pada remaja. Keywords: perilaku berisiko, kesehatan reproduksi, remaj
POLA PENYEBAB KEMATIAN USIA PRODUKTIF (15-54 TAHUN) (Analisis lanjut dari “Pengembangan Registrasi Kematian dan Penyebab Kematian di Kabupaten/Kota di Indonesia Tahun 2012”)
Pendahuluan: Formulasi kebijakan, perencanaan serta evaluasi program kesehatan sangat memerlukan adanya data penyebab kematian sehingga bisa ditetapkan prioritas program kesehatan. Tujuan: Tujuan dari penulisan artikel ini adalah untuk memberikan gambaran pola penyebab kematian di 12 kabupaten/kota tahun 2012 pada kelompok umur produktif 15-54 tahun. Metode: Metode sistem pelaporan penyebab kematian yang dipakai tergantung dimana kematian terjadi. Kejadian kematian di Rumah Sakit dilaporkan melalui surat keterangan penyebab kematian (SKPK) yang bersumber dari catatan medis oleh dokter yang merawat. Kejadian kematian di luar rumah sakit melalui pendekatan autopsi verbal (AV) menggunakan kuesioner semi-terstruktur yang diisi oleh paramedis. Dokter puskesmas melengkapi keterangan medis penyebab dasar kematian (Underlying Cause of Death) berdasarkan International Statistical Classification of Deseases-10 (ICD-10), dikelompokkan berdasarkan tabular list volume 1 ICD-10. Hasil: Pola penyebab kematian pada kelompok umur 15-34 tahun adalah kecelakaan lalu lintas dan Tuberculosis paru (TB paru), kelompok umur 35-44 tahun adalah, penyakit degeneratif dan kecelakaan lalu lintas, dan pada kelompok umur 45-54 tahun yaitu Cerebrovaskular, Diabetus Mellitus, dan Jantung Iskemik. Kesimpulan: Penyebab kematian menurut kelompok umur berbeda. Seyogyanya perencanaan intervensi progam berlandaskan data tersebut. Kata kunci: Penyebab kematian, Usia produktif, Registras
MATERNAL BEHAVIOUR IN SELECTING TRADITIONAL BIRTH ATTENDANTS TO ASSIST THE DELIVERY IN KELINJAU ULU VILLAGE MUARA ANCALONG EAST KUTAI EAST KALIMANTAN
Latar Belakang: Rendahnya pertolongan persalinan yang dibantu oleh tenaga kesehatan merupakan salah satu penyebab utama kematian ibu, di sisi lain peran dukun bayi masih dominan terutama di daerah pedesaan. Tujuan: Mengidentifikasi perilaku ibu dan budaya yang mempengaruhi ibu dalam memilih dukun bayi. Metode: Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Wawancara mendalam dilakukan terhadap 10 ibu yang memiliki pengalaman persalinan dibantu oleh dukun bayi, 2 dukun bayi, dan 1 tenaga kesehatan. Hasil: Dukun bayi memenuhi kebutuhan masyarakat yang mendasar dengan mendukung wanita selama kehamilan, persalinan, dan periode postpartum. Dukun bayi membantu persalinan sebagai perbuatan sukarela dan tidak akan dibayar, tetapi menerima bahan makanan atau uang sebagai tanda penghargaan. Dukun bayi juga memiliki peran penting pada upacara kelahiran. Ibu juga memiliki pendapat bahwa persalinan oleh tenaga kesehatan cenderung menyakitkan, mereka merasa takut dan malu untuk membuka vagina mereka saat melahirkan dengan bidan. Selain itu, tidak adanya tenaga kesehatan akibat kendala geografis membuat ibu melahirkan dengan dukun bayi. Kesimpulan: Disarankan untuk mempromosikan manfaat kelahiran di fasilitas kesehatan atau dibantu dengan petugas kesehatan ketika ibu memiliki perawatan antenatal. Pada pelatihan dukun bayi, tenaga kesehatan harus mengarahkan peran dukun bayi hanya sebagai seorang pembantu yang memberikan dukungan emosional dan sosial bagi perempuan selama persalinan dan melahirkan. Kata kunci: Dukun bayi, persalinan, perilaku ib
PERAN KELUARGA, MASYARAKAT DAN MEDIA SEBAGAI SUMBER INFORMASI KESEHATAN REPRODUKSI PADA MAHASISWA
Latar Belakang: Banyak permasalahan kesehatan yang dialami oleh remaja seperti seks bebas, minum minuman keras dan penggunaan obat-obatan terlarang. Berbagai faktor yang melatarbelakangi kasus tersebut seperti pengetahuan, pola asuh orang tua, paparan media cetak dan elektronik. Tujuan: Untuk mengetahui gambaran peran keluarga, masyarakat dan media dalam menyediakan informasi mengenai kesehatan reproduksi pada mahasiswa FKIK UIN Jakarta Metode: Penelitian ini menggunakan desain cross sectional dengan pendekatan kuantitatif. Sampel adalah mahasiswa FKIK UIN Jakarta dengan jumlah 136 responden. Hasil: Responden melakukan konsultasi mengenai kesehatan reproduksi kepada teman, ibu, bapak, saudara kandung, keluarga, petugas kesehatan, pemuka agama dan guru atau dosen. Mayoritas responden menanyakan hal tersebut kepada teman dibanding dengan yang lain. Sebanyak 40,4 persen responden telah mengunjungi pertemuan masarakat mengenai kesehatan reproduksi.Dari seluruh responden, hanya21 responden (15,4%) yang tahu mengenai organisasi yang fokus pada kesehatan reproduksi, 14responden (10,3%) tahu keberadaan organisasi dan 6responden (4,4%) yang telah mengunjunginya. Penyebaran informasi mengenai kesehatan reproduksi juga terdapat pada media cetak maupun elektronik.Namun hanya sedikit responden yang memanfaatkan. Kesimpulan: Terdapat peran keluarga, masyarakat dan media dalam penyediaan informasi kesehatan reproduksi walaupun peran teman lebih dominan daripada informan lainnya. Kata kunci: Informasi kesehatan reproduksi, keluarga, masyarakat, media, mahasisw
KEJADIAN DEMAM BERDARAH DENGUE (DBD) DAN FAKTOR IKLIM DI KOTA BATAM, PROVINSI KEPULAUAN RIAU
Demam Berdarah Dengue (DBD) atau Dengue Haemorrhagic Fever (DHF) merupakan penyakit akut, bersifat endemik dan secara periodik dapat mendatangkan Kejadian Luar Biasa (KLB). Sejak pertama kali ditemukan tahun 1968 di Indonesia, penyebaran penyakit ini dengan cepat terjadi ke berbagai daerah. Peningkatan jumlah kasus di Indonesia selama ini terjadi pada saat musim hujan dikarenakan temperatur bumi yang semakin meningkat. Perubahan pola suhu dan curah hujan dapat menyebabkan nyamuk memperluas tempat perkembiakannya, hal ini disebabkan karena nyamuk berkembang biak dengan cepat. Kejadian DBD di Kota Batam pada tahun 2007 sebesar 157,9 per 100.000 penduduk, 153,5 per 100,000 penduduk pada tahun 2008; 136,2 per 100,000 penduduk pada tahun 2009: 29,5 per 100,000 penduduk tahun 2010 and 59,43 per 100,000 penduduk pada tahun 2011. Faktor iklim yaitu faktor iklim yaitu curah hujan, suhu, hari hujan dan kelembaban terhadap kejadian DBD di Kota Batam, Propinsi Kepulauan Riau. Disain studi ini merupakan studi retrospektif. Data iklim dikumpulkan dari kantor BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika), sedangkan data kejadian DBD didapat dari Dinas Kesehatan Kota Batam selama tahun 2001-2011. Data dianalisis dengan analisis regresi linier menurut Colton. Hasil analisis menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara kejadian DBD dengan suhu dan curah hujan walaupun tidak terlalu kuat. Nilai r antara kejadian DBD dan suhu udara adalah 0,31, sedangkan curah hujan sebesar 0,26. Hasil analisis antara kejadian DBD terhadap hari hujan dan kelembaban didapatkan nilai r = 0,07 dan r = 0,11 artinya tidak terdapat hubungan dengan kejadian DBD di Kota Batam
DAMPAK PERTAMBANGAN BATUBARA TERHADAP KESEHATAN MASYARAKAT SEKITAR PERTAMBANGAN BATUBARA (KAJIAN JASA LINGKUNGAN SEBAGAI PENYERAP KARBON)
Ekosistem memiliki nilai manfaat melalui fungsi-fungsi yang dimilikinya. Jasa lingkungan merupakan sebuah produk dari ekosistem. Kegiatan alih fungsi kawasan hutan seperti pertambangan batubara yang menyebabkan hutan tidak bervegetasi dan terlepasnya karbon ke udara dapat menyebabkan hilangnya fungsi tersebut. Dampak terhadap hilangnya nilai jasa lingkungan dan manfaat lingkungan bagi masyarakat. Dampak lanjutan yang timbul adalah terhadap gangguan kesehatan dan biaya eksternal masyarakat khususnya yang bermukim sekitar pertambangan batubara. Dampak yang timbul merupakan ekternalitas negatif kegiatan pertambangan terhadap masyarakat. Penelitian yang dilakukan di PTBA Tanjung Enim tahun 2011 secara survey bertujuan untuk mengidentifikasi jenis gangguan dan upaya yang dilakukan untuk mengatasi gangguan kesehatan yang dialami masyarakat serta biaya yang dikeluarkan untuk mengatasi gangguan tersebut. Hasil penelitian ditemukan adanya berbagai jenis gangguan kesehatan masyarakat , dan ISPA merupakan jenis gangguan kesehatan yang paling banyak dialami masyarakat. Biaya eksternal kesehatan masyarakat rata-rata per responden yang bermukim sekitar pertambangan batubara TAL PTBA sebesar Rp 20.794.- Hasil penelitian gangguan dan biaya kesehatan masyarakat yang timbul sebagai eksternalitas negatif kegiatan pertambangan batubara terhadap masyarakat yang bermukim sekitar TAL PTBA menjadi keterbaruan novelty dari study ini, dapat digunakan oleh pemerintah, stakeholders, dan investor tambang untuk menentukan jenis gangguan kesehatan masyarakat dan biaya kesehatan masyarakat yang timbul sebagai eksternalitas negatif kegiatan pertambangan batubara secara terbuka
HUBUNGAN PEMBERIAN INSENTIF DETEKSI BUMIL RISTI DENGAN UPAYA PENURUNAN KEMATIAN IBU DI KABUPATEN KAMPAR 2012
Latar belakang: Angka kematian ibu (AKI) di Indonesia masih tinggi jika dibandingkan dengan target Millenium Development Goals (MDGs) tahun 2015. Berbagai upaya memang telah dilakukan untuk menurunkan kematian ibu, salah satunya pemberian insentif bagi bidan desa untuk mendeteksi seluruh ibu hamil berisiko tinggi. Tujuan: Melihat penurunan AKI dengan adanya pemberian insentif dalam mendeteksi ibu hamil risti. Metode: Jenis penelitian adalah observasional analitik komparatif, dengan desain cross sectional. Sumber data yaitu Profil Dinas Kesehatan Kabupaten Kampar selama 5 (lima) tahun dari tahun 2007 hingga 2011. Hasil: K1 dan K4 tidak berkorelasi dengan kematian ibu (r<0,5). Cakupan deteksi bumil risti dan cakupan bumil risti tertangani memiliki korelasi yang cukup kuat dengan kematian ibu (nilai r masing-masing 0,8333 dan 0,8253). Kedua variabel tersebut memiliki arah negatif, artinya semakin tinggi cakupannya maka semakin rendah kematian ibu. Cakupan bumil risti tertangani memiliki hubungan bermakna dengan kematian ibu (nilai p<0,05). Cakupan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan memiliki korelasi dengan kematian ibu (nilai r=0,6732). Arah hubungan negatif menunjukkan semakin tinggi cakupan pertolongan persalinan oleh nakes maka semakin rendah kematian ibu. Kesimpulan: Hasil analisis memperlihatkan tidak ada hubungan antara insentif bidan desa untuk mendeteksi ibu hamil risiko tinggi dengan kematian ibu. Kata kunci: Insentif deteksi bumil risti, kematian ib